Tentang ‘Umar dan Kedurhakaan Seorang Ayah kepada Anaknya …

kedurhakaan ayah

Kisah berikut tidaklah memiliki asal dan sumber periwayatan, namun banyak tersebar dan disandarkan kepada ‘Umar bin al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhu– tanpa sanad sama sekali …

Abu Laits as-Samarqandi berkata di kitab Tanbih al-Ghafilin sebagai berikut:

وروي عن عمر رضي الله تعالى عنه أن رجلا جاء إليه بابنه فقال: إن ابني هذا يعقِي.

فقال عمر رضي الله عنه للابن: أما تخاف الله في عقوق والدك، فإن من حقّ الوالد كذا، ومن حقّ الوالد كذا، فقال الابن: يا أمير المُؤمنين :أما للابن على والده حقّ؟ قال: نعم حقّه عليه أن يستنجب أمه.

يعني لا يتزوّج امرأة دنيئة لكيلا يكون للابن تعيير بها. قال: وحسن اسمه ويعلّمه الكتاب. فقال الابن، فوالله ما يكون للابن تعيير بها. فقال الابن، فوالله ما استنجب أمّي، وما هي إلّا سنديّة اشتراها بأربع مائة درهم، ولا حسّن اسمي. سمّاني جُعلا ذكر الْخفّاش. ولا علّمني من كتاب الله آية واحدة. فالتفت عمر رضي الله عنه إلى الأب وقال: تقول ابني يعقّني! فقد عققته قبل أن يعقّك

Diriwayatkan dari ‘Umar –radhiyallhu ‘anhu– bahwa seorang lelaki datang kepadanya bersama anaknya.

Lelaki itu berkata, “Sesungguhnya anakku ini telah mendurhakaiku.”

‘Umar –radhiyallahu ‘anhu– berkata kepada anak dari lelaki itu, “Tidakkah kau merasa takut kepada Allah atas kedurhakaanmu kepada ayahmu? Sesungguhnya seorang ayah itu memiliki hak ini dan itu dari anaknya.”

Si anak berkata, “Wahai Amir al-Mu’minin, apakah seorang anak memiliki hak yang harus dipenuhi oleh ayahnya?”

‘Umar –radhiyallhu ‘anhu– berkata, “Tentu saja. Hak anak dari ayahnya adalah dipilihkan bakal ibu yang mulia baginya, yakni janganlah si ayah itu menikahi perempuan yang buruk perangai dan agamanya supaya tidak menjadi cela bagi anaknya. Si anak juga memiliki hak untuk dinamai dengan nama yang baik serta diajarkan pula al-Quran.”

Si anak berkata, “Demi Allah, tak seharusnya menjadikan cela bagi anak. Demi Allah, tidaklah ayah memilihkanku ibu yang mulia. Ibuku hanyalah seorang budak Sindiyah yang dibelinya seharga empat ratus dirham. Tidak pula ayahku menamaiku dengan nama yang baik. Ayah telah menamaiku dengan nama Ju’lan, yakni al-khuffasy (kelelawar). Ayahku juga tidak mengajarkan satu ayat pun dari al-Quran kepadaku.”

Maka ‘Umar –radhiyallahu ‘anhu– pun berpaling kepada si ayah seraya mengatakan, “Kaubilang anakmu durhaka kepadamu, padahal sungguh kau telah lebih dulu mendurhakai anakmu sebelum dia mendurhakaimu!” –SELESAI-

Ada juga yang membawakan kisah ini dengan memberikan pengertian bahwa Ju’lan adalah khunfusa’:

وقد سماني جُعلاً أي خنفساء

Si anak berkata, “Dia telah menamaiku dengan nama Ju’lan,” yakni khunfusa’ (kumbang) …

Dan yang pasti, kisah tak bersanad ini tidak ada asalnya sehingga tidaklah benar jika kisah ini disandarkan kepada ‘Umar bin al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhu

Entah mengapa banyak sekali kisah -yang tak memiliki validitas- disandarkan kepada shahabat mulia ‘Umar bin al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhu

Bandung, 20 Juni 2014

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

4 comments on “Tentang ‘Umar dan Kedurhakaan Seorang Ayah kepada Anaknya …

  1. jaraway says:

    fajar kemarin dioleh2i kitab tanbih al-ghafilin coba… hehe =D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s