Kawin Cina Buta …

nikah tahlil-

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid –hafizhahullah

http://islamqa.info/ar/222367

 

السؤال:

ما هو نكاح التحليل؟

 

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid –hafizhahullah– ditanya:

Apakah nikah tahlil (kawin cina buta) itu?

 

الجواب:

الحمد لله

أولاً:

فُسح للزوج المجال لإرجاع زوجته إن هو طلقها مرَّتين، ويسمَّى هذا “طلاقاً رجعيّاً”، قال تعالى: (الطَّلاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ) البقرة/ 229 .

فإن طلَّقها الثالثة: فإنها تحرُم عليه، ولا يحل له التزوج بها بعقد ومهر جديدين إلا أن تتزوج من آخر غيره نكاحاً صحيحاً، نكاح رغبة، فيدخل بها، ثم يطلقها، أو يموت عنها، قال تعالى: (فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجاً غَيْرَهُ فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يَتَرَاجَعَا إِنْ ظَنَّا أَنْ يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ) البقرة/ 230 .

 

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid –hafizhahullah– menjawab:

Alhamdulillah …

PERTAMA: diluaskan kesempatan bagi seorang suami untuk rujuk (kembali kepada) istrinya jika dia telah menalak istrinya sebanyak dua kali, dan talak ini dinamakan thalaq raj’iy (talak yang masih bisa kembali). Allah –ta’ala– mengatakan:

 

الطَّلاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ

 

Talak (yang dapat dirujuk itu) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.(QS. al-Bqarah: 229)

 

Apabila si suami menalak istrinya untuk yang ketiga kali, maka si istri itu menjadi haram baginya (tidak bisa dirujuki lagi) dan tidak halal pula bagi si suami untuk menikahinya lagi melalui akad nikah yang baru dan pemberian mahar yang baru, kecuali apabila mantan istrinya itu telah dinikahi oleh orang lain dengan pernikahan yang sahih, yaitu pernikahan yang dilandasi oleh rasa suka (keinginan menikah yang benar) lalu lelaki yang menikahinya itu menggaulinya kemudian menceraikannya atau wafat meninggalkan istrinya. Allah –ta’ala– berkata:

 

فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجاً غَيْرَهُ فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يَتَرَاجَعَا إِنْ ظَنَّا أَنْ يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

 

Kemudian jika si suami menalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan istri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui.(QS. al-Baqarah: 230)

 

وعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: “أَنَّ رِفَاعَةَ الْقُرَظِيَّ تَزَوَّجَ امْرَأَةً ثُمَّ طَلَّقَهَا الطلقة الثالثة فَتَزَوَّجَتْ آخَرَ فَأَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَتْ لَهُ أَنَّهُ لَا يَأْتِيهَا [ أي : لا يجامعها ، وفهم الرسول صلى الله عليه وسلم أنها تريد أن تعود لرفاعة ] فقال صلى الله عليه وسلم: (لَا، حَتَّى تَذُوقِي عُسَيْلَتَهُ وَيَذُوقَ عُسَيْلَتَكِ [ كناية عن الدخول بها والجماع ]) رواه البخاري (5011) ، ومسلم (1433).

 

Dan dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha– bahwasanya Rifa’ah al-Qurazhi menikahi seorang perempuan kemudian menalaknya untuk yang ketiga kalinya, lalu istri yang ditalaknya itu menikah dengan lelaki lain. Mantan istrinya itu lalu mendatangi Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dan mengatakan kepada beliau bahwa suaminya yang baru itu tidak mendatanginya (yakni: tidak menggaulinya; dan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– memahami bahwa si perempuan itu ingin kembali kepada Rifa’ah), maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun berkata, “Tidak, (tidak boleh kembali kepada Rifa’ah) sampai kau mengecap kelezatan persetubuhan dengannya dan dia pun mengecap kelezatan persetubuhan denganmu.” –hadits diriwayatkan oleh al-Bukhari (5011) dan Muslim (1433)

 

ثانياً:

ولا يحل للمطلِّق، ولا للمرأة أن يحتالا على شرع الله للرجوع لبعضهما بما يسمى” نكاح التحليل”، وهو عقد له صور متعددة ، منها :

– 1أن يقوم الزوج المطلِّق أو الزوجة أو وليها باستئجار ” تيس” من البشر، فيشترط عليه أن يتزوج مطلَّقته ، ويدخل بها ، ثم يطلقها ، مع إعطائه مبلغاً من المال ! .

2 – أن يتزوج رجل تلك المطلقة بدون اتفاق منه مع أحد ، وقصده : أن يحلها للأول ، ثم يطلقها.
ونكاح “التحليل” عقد محرَّم فاسد، ويستحق فاعله اللعن .

قال الحافظ ابن حجر رحمه الله :

“وصححه ابن القطان، وابن دقيق العيد على شرط البخاري “.

انتهى من “التلخيص الحبير” (3/372) .

 

KEDUA: tidak halal bagi muthalliq (lelaki yang menceraikan istrinya) dan tidak halal pula bagi al-muthallaqah (istri yang diceraikan) itu untuk berbuat tipu muslihat menyiasati syariat Allah agar mereka bisa rujuk kembali, yaitu dengan siasat yang disebut nikah at-tahlil (kawin cina buta); dan kawin cina buta ini ada beberapa macam, di antaranya sebagai berikut:

(1) al-muthalliq (suami yang menceraikan) atau al-muthallaqah (istri yang diceraikan) atau wali dari al-muthallaqah itu (bersiasat dengan) mengupah seorang “kambing pejantan” seraya menetapkan syarat kepada si kambing pejantan upahan itu untuk menikahi al-muthallaqah lalu menggaulinya dan kemudian menceraikannya, (dan pihak yang mengupah) itu memberikan sejumlah harta (sebagai pembayaran atas jasa) kambing pejantan upahan itu.

(2) Seorang lelaki menikahi al-muthallaqah itu tanpa adanya kesepakatan dengan seorang pun (dari pihak-pihak yang bercerai), namun dia memaksudkan pernikahan (yang dilakukannya) itu untuk menjadikan al-muthallaqah tersebut halal bagi suaminya yang pertama kemudian barulah dia menceraikannya.

 

فعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: “لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُحِلَّ وَالْمُحَلَّلَ لَهُ” رواه الترمذي (1120) وصححه، والنسائي (3416) .

 

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, dia berkata, “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- melaknat al-muhilla (atau al-muhallil) dan al-muhallal lahu (*).” –hadits diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (1120) dan di mensahihkannya, juga diriwayatkan oleh an-Nasa-i (3416)

Al-Hafizh Ibn Hajar –rahimahullah– berkata, “Ibn al-Qaththan mensahihkannya, juga Ibn Daqiq al-‘Ied menurut syarat al-Bukhari.” –SELESAI; dari at-Talkhis al-Habir (3/372)

 

(*) catatan dari saya (Hendra Wibawa Ibn Tato Wangsa Widjaja): al-muhilla atau al-muhallil adalah pelaku kawin cina buta, yaitu laki-laki yang menikahi seorang perempuan yang telah ditalak tiga oleh suaminya dengan tujuan agar si perempuan itu bisa dinikahi kembali oleh suami yang menceraikannya. Adapun al-muhallal lahu, yaitu laki-laki yang telah menalak tiga istrinya lalu menyuruh laki-laki lain untuk melakukan kawin cina buta dengan mantan istrinya dengan tujuan menghalalkan mantan istrinya itu bagi dirinya.

 

وقال ابن القيم رحمه الله:

ولعنه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لهما: إما خَبَر عن الله تعالى بوقوع لعنته عليهما، أو دُعاء عليهما باللعنة، وهذا يدلُّ على تحريمه، وأنه من الكبائر ” انتهى من ” زاد المعاد في هدي خير العباد ” (5/672).

 

Ibn al-Qayyim –rahimahullah– berkata, “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- melaknat keduanya (yaitu al-muhallil dan al-muhallal lahu) bisa jadi memang merupakan kabar dari Allah -ta’ala- atas jatuhnya laknat terhadap kedua pelaku perbuatan itu atau bisa jadi merupakan doa laknat (dari beliau) atas kedua pelaku tersebut. Dan ini menunjukkan atas haramnya (kawin cina buta) tersebut, dan bahwasanya perbuatan tersebut termasuk di antara dosa-dosa besar.” –SELESAI; dari kitab Zad al-Ma’ad fi Hadyi Khair al-‘Ibad (5/672)

 

عن عُقْبَة بْنِ عَامِرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِالتَّيْسِ الْمُسْتَعَارِ؟) قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: (هُوَ الْمُحَلِّلُ، لَعَنَ اللَّهُ الْمُحَلِّلَ وَالْمُحَلَّلَ لَهُ) رواه ابن ماجه (1936)، وحسنه الألباني في “صحيح ابن ماجه.”

فهذه الأحاديث تدل على تحريم نكاح التحليل، وأنه من كبائر الذنوب، وتدل أيضا على عدم صحته .

 

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir, dia berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Maukah kukabarkan kepada kalian tentang at-tais al-musta’ar (kambing pejantan sewaan)?” Para shahabat berkata, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau menjawab, “Dia adalah al-muhallil. Allah melaknat al-muhallil dan al-muhallal lahu.” –hadits diriwayatkan oleh Ibn Majah (1936); Syaikh al-Albani menghasankannya di kitab Shahih Ibn Majah.

 

Hadits-hadits ini menunjukkan akan keharaman nikah tahlil (kawin cina buta), dan bahwasanya perbuatan tersebut termasuk di antara dosa-dosa besar. Selain itu, hadits-hadits tersebut menunjukkan pula akan ketidakabsahan kawin cina buta.

 

جاء في “الموسوعة الفقهية” (10/256، 257):

“وقد صرح الجمهور – المالكية والشافعية والحنابلة وأبو يوسف من الحنفية – بفساد هذا النكاح؛ للحديثين السابقين، ولأن النكاح بشرط الإحلال في معنى النكاح المؤقت، وشرط التأقيت في النكاح يفسده، وما دام النكاح فاسداً: فلا يقع به التحليل، ويؤيد هذا قول عمر رضي الله عنه: (والله لا أوتى بمحلل ومحلل له إلا رجمتهما) ” انتهى .

 

Disebutkan dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyah (10/256-257):

Jumhur ulama –al-Malikiyah, asy-Syafi’iyah, al-Hanbilah, dan Abu Yusuf dari kalangan al-Hanafiyah- telah menjelaskan tentang ketidakabsahan kawin cina buta ini berdasarkan dua hadits yang telah lalu. Juga karena nikah dengan syarat ihlal (penghalalal) tiada lain nikah temporer dengan batasan waktu, sedangkan syarat pembatasan waktu di dalam nikah itu menjadikan nikah rusak (tidak absah), dan selama pernikahan itu rusak maka tidaklah hal itu menjadikan halal. Hal ini ditopang oleh ucapan ‘Umar –radhiyallahu ‘anhu, “Tidaklah didatangkan kepadaku muhallil dan muhallal lahu kecuali kurajam kedua-duanya.” –SELESAI …

 

وقال الشيخ عبد العزيز بن باز رحمه الله :

“وهذا من أقبح الباطل، ومن أعظم الفساد، وهو زانٍ في المعنى؛ لأنه ما تزوجها لتكون زوجة، لتعفه ولتبقى لديه لتحصنه، ليرجو منها وجود الذرية، لا، إنما جاء تيساً مستعاراً، ليحللها لمَن قبله، بوطء مرة واحدة، ثم يفارقها وينتهي منها، هذا هو المحلل، ونكاحه باطل، وليس بشرعي، ولا تحل للزوج الأول ما دام نكحها بهذه النية، وبهذا القصد؛ فإنه نكاح فاسد، ولا تحل له، ولا تحل للزوج الأول؛ لأن هذا ليس بزواج، والله قال: (حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ)، وهذا تيس مستعار، وليس بزوج شرعي، فلا يحللها للزوج الأول” انتهى من ” فتاوى الشيخ ابن باز ” (20/277،278 ) .

 

Syaikh ‘Abd al-‘Aziz bin Baz –rahimahullah– berkata:

Ini termasuk seburuk-buruk kebatilan dan sebesar-besar kerusakan, dan dia tiada lain adalah orang yang berbuat zina karena dia tidak menikahi perempuan itu untuk dijadikan istri, tidak untuk menjaga kesucian dirinya, tidak untuk bersamanya secara berkekalan, dan tidak pula untuk mengharapkan keturunan darinya. Tidak, dia hanyalah datang sebagai kambing pejantan sewaan dengan maksud untuk menghalalkan pernikahan bagi mantan suami dari perempuan yang dinikahinya dengan sekali hubungan badan kemudin mencerikannya lagi dan selesai dengannya. Dia inilah al-muhallil, dan pernikahannya batil, tidak sesuai dengan syariat dan tidak menjadikannya halal bagi suami (yang dulu menceraikan) selama (lelaki kedua itu) menikahi sang perempuan dengan niat dan tujuan seperti ini. Sesungguhnya ini adalah pernikahan yang rusak (tidak absah), pernikahan yang tidak menjadikan si perempuan halal bagi lelaki kedua dan tidak juga menjadikannya halal bagi suaminya yang pertama karena hal yang seperti ini bukanlah pernikahan, dan Allah berfirman (QS. Al-Baqrah: 230), “… hingga dia kawin dengan suami yang lain.” Inilah at-tais al-musta’ar (kambing pejantan sewaan), bukan suami menurut syariat sehingga dia tidak bisa menghalalkan si perempuan (dengan pernikahan seperti ini) bagi suami yang pertama … –Fatawa asy-Syaik Ibn Baz (20/277-278)

 

ولا فرق في تحريم نكاح التحليل وفساده بين أن يكون شرط التحليل قد ذكر في العقد نصا، وبين أن يكون قد تم الاتفاق عليه من قبل ولم يذكر عند العقد، أو يكون قد قصده الزوج الثاني ولم يشترطه أحد، ولا اتفق معه أحد، فكل ذلك نكاح تحليل حرام .

 

Tak ada bedanya keharaman dan ketidakabsahan kawin cina buta ini antara (1) disebutkannya syarat tahlil ini dalam akad nikah, atau antara (2) disepakatinya kawin cina buta sebelum akad tanpa menyebutkannya dalam akad nikah, atau antara (3) lelaki kedua itu memang bertujuan melakukan kawin cina buta meskipun tidak ada seorang pun yang menyaratkan itu kepadanya dan tidak ada pula yang bersepakat dengannya untuk melakukan itu. Maka masing-masing dari (ketiga macam) kawin cina buta ini haram.

 

قال ابن القيم رحمه الله :

“ولا فرقَ عند أهل المدينة، وأهلِ الحديث، وفُقهائهم، بين اشتراط ذلك بالقول، أو بالتواطؤ، والقصدِ، فإن القُصود في العُقود عندهم معتبرة، والأعمالُ بالنيَّات، والشرطُ المتواطَأُ عليه الذي دخل عليه المتعاقدان: كالملفوظِ عندهم، والألفاظُ لا تُراد لعينها، بل لِلدلالَة على المعاني، فإذا ظهرت المعاني والمقاصدُ: فلا عِبْرَة بالألفاظ؛ لأنها وسائل، وقد تحقَّقت غاياتُها، فترتَّبَتْ عليها أحكامُها.”

انتهى من “زاد المعاد في هدي خير العباد” (5/110) .

 

Ibn al-Qayyim –rahimahullah– berkata, Tidak ada perbedaan menurut ahli Madinah, ahli hadits, dan juga para fuqaha’ mereka, antara mensyaratkan hal itu dengan ucapan atau dengan kesepakatan atau dengan niat karena sesungguhnya niat-niat itu teranggap menurut mereka -dan amal-amal itu berdasarkan niat, juga syarat yang disepakati oleh kedua belah pihak dalam akad-akad seperti lafaz-lafaz yang diucapkan menurut mereka, sementara lafaz-lafaz itu tidak selalu dimaksudkan secara tekstual saja melainkan dari penunjukkan kandungannya. Apabila telah jelas kandungan dan tujuan-tujuannya, maka lafaz-lafaz tekstual tidak dianggap karena hal itu hanyalah sarana saja, dan tujuan pun tercapai sehingga berkonsekuensi pada hukum-hukumnya.” –SELESAI; dari kitab Zad al-Ma’ad fi Hadyi Khair al-‘Ibad (5/110)

 

وقال علماء اللجنة الدائمة للإفتاء :

“إذا تزوج الرجل المرأة بشرط التحليل، أو نواه، أو اتفقا عليه: فالعقد باطل، والنكاح غير صحيح”.

انتهى من “فتاوى اللجنة الدائمة” (18/439) .

 

Ulama al-Lajnah ad-Da-imah li al-Ifta’ berkata, “Jika lelaki menikahi perempuan dengan syarat tahlil atau yang semacam itu atau bersepakat untuk itu, maka akadnya batil dan pernikahannya tidak sah.” –SELESAI; dari Fatawa al-Lajnah ad-Da-imah (18/439)

 

وروى البيهقي في “السنن الكبرى” (7/208): عن نافع أنه قال: “جاء رجل إلى ابن عمر رضي الله عنه فسأله عن رجل طلَّق امرأته ثلاثاً، فتزوجها أخٌ له عن غير مؤامرة منه ليحلها لأخيه: هل تحل للأول؟ قال: لا، إلا نكاح رغبة، كنَّا نعد هذا سفاحاً على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم “.

 

Imam al-Baihaqi meriwayatkan dalam as-Sunan al-Kubra (7/208), dari Nafi’ bahwasanya dia berkata: seseorang datang kepada Ibn ‘Umar –radhiyallahu ‘anhu lalu bertanya tentang lelaki yang telah menalak tiga istrinya, lalu saudara dari lelaki itu menikahi mantan istri lelaki itu tanpa adanya pembicaraan dengan lelaki itu dengan tujuan menghalalkan kembali mantan istrinya itu. “Apakah (dengan begitu) mantan istrinya itu menjadi halal bagi suaminya yang pertama?” Ibn ‘Umar menjawab, “Tidak, kecuali pernikahan yang dilandasi oleh keinginan (untuk menikah). Dulu di masa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- kami menganggap perbuatan tersebut sebagai perzinaan.”

 

وقال الشيخ محمد بن صالح العثيمين رحمه الله :

“إذا نوى الزوج الثاني أنه متى حلَّلها للأول طلقها: فإنها لا تحل للأول، والنكاح باطل، والدليل: أن هذا نوى التحليل، فيكون داخلاً في اللعن، وقد قال النبي عليه الصلاة والسلام: (إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى) ” انتهى من “الشرح الممتع على زاد المستقنع” (12/176، 177) .

 

Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin –rahimahullah– berkata:

Jika suami yang kedua berniat bahwa saat dia telah menghalalkan si perempuan bagi suaminya yang pertama, dia pun menceraikannya, maka sesungguhnya perempuan tersebut tidak menjadi halal bagi suami yang pertama, dan pernikahannya pun batil. Dan dalilnya, bahwa ini merupakan niat penghalalan sehingga masuk ke dalam laknat, dan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Hanyalah amal-amal itu tergantung kepada niat-niat, dan hanyalah bagi setiap orang itu apa yang diniatkannya.” –SELESAI; dari kitab Syarh al-Mumti’ ‘ala Zad al-Mustaqni’ (12/176-177)

 

وقد جمع شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله الصور كلها في سياق واحد، وجعلها جميعها من “نكاح التحليل” المحرًم الباطل .

قال رحمه الله :

“نكاح المحلل حرام باطل لا يفيد الحل وصورته: أن الرجل إذا طلق امرأته ثلاثاً :فإنها تحرم عليه حتى تنكح زوجاً غيره، كما ذكره الله تعالى في كتابه، وكما جاءت به سنَّة نبيه صلى الله عليه وسلم، وأجمعت عليه أمَّته، فإذا تزوجها رجل بنية أن يطلقها لتحل لزوجها الأول: كان هذا النكاح حراماً، باطلاً، سواء عزم بعد ذلك على إمساكها، أو فارقها، وسواء شرط عليه ذلك في عقد النكاح، أو شُرط عليه قبل العقد، أو لم يُشرط عليه لفظاً … أو لم يكن شيء من ذلك، بل أراد الرجل أن يتزوجها ثم يطلقها لتحل للمطلق ثلاثا من غير أن تعلم المرأة ولا وليها شيئا من ذلك، سواء علم الزوج المطلق ثلاثا أو لم يعلم، مثل أن يظن المحلل أن هذا فعل خير ومعروف مع المطلق وامرأته بإعادتها إليه لما رأى أن الطلاق أضر بهما وبأولادهما وعشيرتهما ونحو ذلك .

بل لا يحل للمطلق ثلاثا أن يتزوجها حتى ينكحها رجل مرتغبا لنفسه نكاح رغبة لا نكاح دلسة ويدخل بها بحيث تذوق عسيلته ويذوق عسيلتها ثم بعد هذا إذا حدث بينهما فرقة بموت أو طلاق أو فسخ جاز للأول أن يتزوجها … هذا هو الذي دل عليه الكتاب والسنة، وهو المأثور عن أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم وعامة التابعين لهم بإحسان وعامة فقهاء الإسلام … وهو مذهب مالك بن أنس وجميع أصحابه والأوزاعي والليث بن سعد، وسفيان الثوري، وهو مذهب الإمام أحمد بن حنبل في فقهاء الحديث، منهم :إسحاق بن راهويه، وأبو عبيد القاسم بن سلام، وسليمان بن داود الهاشمي وأبو خيثمة زهير بن حرب، وأبو بكر بن أبي شيبة، وأبو إسحاق الجوزجاني وغيرهم، وهو قولٌ للشافعي”

انتهى من “إقامة الدليل على إبطال التحليل” (ص 6–8) وساق أقوالاً كثيرة لأئمة الدين في التحريم.

والله أعلم .

 

Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah –rahimahullah– telah mengumpulkan ragam-ragamnya dalam satu konteks pembicaraan mengenai kawin cina buta yang haram lagi batil. Beliau –rahimahullah– mengatakan, “Kawin cina buta itu haram lagi batil serta tidak menjadikan halal, bentuknya adalah: seorang lelaki apabila telah menalak tiga istrinya, maka mantan istrinya itu haram baginya hingga mantan istrinya tersebut menikah dengan suami yang lain sebagaimana yang disebutkan oleh Allah –ta’ala- dalam kitab-Nya, juga sebagaimana yang terdapat dalam Sunnah nabi-Nya –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan umat telah sepakat atas hal tersebut. Apabila lelaki menikahinya dengan niat untuk menceraikannya dan menjadikan halal bagi mantan suaminya, maka nikah ini haram lagi batil. Sama saja apakah setelah itu dia bermaksud untuk menahannya ataukah menceraikannya. Juga sama saja apakah dia menetapkan syarat terhadapnya dalam akad nikah atau mensyaratkannya dari sebelum akad nikah, atau tidak menetapkan syarat terhadap hal itu secara lafaz … atau tidak ada sesuatu pun dari hal itu, tetapi lelaki itu berniat untuk menikahinya kemudian menceraikannya untuk menjadikannya halal bagi mantan suaminya yang dulu telah menalak tiganya tanpa sepengetahuan si perempuan atau pihak walinya sama sekali tentang maksudnya itu, sama saja apakah mantan suami yang telah menalak tiga itu mengetahuinya atau tidak. Misalnya si muhallil itu menganggap bahwa perbuatan tersebut merupakan hal yang baik lagi ma’ruf bagi suami yang menalak tiga dan mantan istrinya dengan kembalinya si mantan istri kepada mantan suaminya di samping pula menurutnya perceraian itu lebih memudaratkan bagi keduanya, juga bagi anak-anak dan kerabat keduanya atau yang semisal itu. Bahkan tidak halal bagi suami yang telah menalak tiga untuk menikahi mantan istrinya sampai ada lelaki lain yang menikahinya sebagai orang yang memang menginginkannya untuk dirinya dan menikah dengan landasan keinginan bukan pernikahan siasat tipu daya, lalu dia menggauli perempuan itu hingga si perempuan itu mengecap kelezatan persetubuhan dengannya dan dia pun mengecap kelezatan persetubuhan dengan si perempuan, kemudian setelah itu, apabila terjadi perpisahan di antara keduanya dengan sebab kematian atau perceraian atau faskh, maka boleh bagi suami yang pertama (yang telah menalak tiga) untuk menikah lagi dengannya … inilah yang ditunjukkan oleh al-Kitab dan as-Sunnah, dan ini juga yang ma’tsur dari para shahabat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, umumnya tabi’in yang mengikuti para shahabat dengan baik, juga umumnya para ahli fiqh Islam … dan ini merupakan pendapat Imam Malik bin Anas beserta semua sahabatnya, juga merupakan pendapat al-Auza’i, al-Laits bin Sa’d, dan Sufyan ats-Tsauri. Ini pula yang menjadi mazhab Imam Ahmad bin Hanbal di kalangan fuqaha’ hadits, di antara mereka adalah Ishaq bin Rahawaih, Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam, Sulaiman bin Dawud al-Hasyimi, Abu Khaitsamah Zuhair bin Harb, Abu Bakr bin Abi Syaibah, Abu Ishaq al-Jauzajani, dan lain-lain. Ini juga merupakan pendapat imam asy-Syafi’i.” –SELESAI; dari kitab Iqamah ad-Dalil ‘ala Ibthal at-Tahlil (halaman 6-8), dan beliau menyebutkan banyak ucapan para ulama mengenai pengharamannya …

Wallahu ‘alamu

 

Bandung, 30 Juli 2014

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

Dengan Tangan-Nya Ayah Dicipta, dengan Tangan-Nya pula Taurat Ditulis …

dengan tangan-Nya

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid –hafizhahullah

http://islamqa.info/ar/117279

السؤال :يروي الإمام الذهبي رحمه الله عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما قال :(خلق الله أربعة أشياء بيده: العرش، والقلم، وآدم، وجنة عدن، ثم قال لسائر الخلق: كن فكان) تفسير ابن جابر (23/185)، الدارمي في رد على المريسي (ص90)، الأسماء والصفات للبيهقى (ص233)فأرجو توضيح هذا الأمر .

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid –hafizhahullah– ditanya:

Imam adz-Dzahabi –rahimahullah– mewartakan kabar dari ‘Abdullah bin ‘Umar –radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Allah menciptakan empat hal dengan tangan-Nya, yaitu (1) al-‘Arsy, (2) al-Qalam (pena), (3) Adam, dan (4) surga ‘Adn, kemudian Allah berkata (terhadap penciptaan) seluruh makhluk, “Kun (Jadilah)!” Maka jadilah (makhluk itu).

Aku mengharapkan penjelasan mengenai masalah ini …

الجواب :

الحمد لله

الذي ثبت لنا –بعد الجمع والدراسة– أن الله سبحانه وتعالى قد خص أشياء معينة بأنه خلقها أو عملها بـ “يده” سبحانه وتعالى دون سائر المخلوقات، وهذه الأمور هي :

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid –hafizhahullah– menjawab:

Alhamdulillah …

Perkara yang kukuh bagi kami –setelah mengumpulkan dan mempelajarinya- bahwasanya Allah –subhanahu wa ta’ala– telah mengkhususkan beberapa hal tertentu dengan menciptakan hal-hal tertentu itu atau mengerjakan hal-hal tertentu itu (langsung) dengan tangan-Nya –subhanahu wa ta’ala, sementara terhadap seluruh makhluk lainnya tidaklah seperti itu. Adapun hal-hal tertentu yang Allah khususkan itu adalah sebagai berikut:

أولاً: خلق آدم .

دليل ذلك قوله عز وجل: (قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ)ص/75 .

PERTAMA: Allah menciptakan Adam dengan tangan-Nya, dalilnya adalah ucapan Allah –‘Azza wa Jalla– berikut:

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ

Allah berfirman, “Hai iblis, apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada yang telah Kuciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?” (QS. Shad: 75)

ثانياً: غرس جنة عدن بيده سبحانه.

دليله ما ورد عن المغيرة بن شعبة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال :(أُولَئِكَ الَّذِينَ أَرَدْتُ: غَرَسْتُ كَرَامَتَهُمْ بِيَدِي، وَخَتَمْتُ عَلَيْهَا، فَلَمْ تَرَ عَيْنٌ، وَلَمْ تَسْمَعْ أُذُنٌ، وَلَمْ يَخْطُرْ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ) رواه مسلم برقم (312)

KEDUA: Allah menanam (tanaman) surga ‘Adn dengan tangan-Nyasubhanahu, dalilnya adalah hadits yang berasal dari al-Mughirah bin Syu’bah –radhiyallahu ‘anhu– bahwasanya Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Allah berkata: mereka itulah orang-orang yang Aku berkenan (memilih mereka), Aku menanam kemuliaan mereka (yaitu balasan di surga) dengan tangan-Ku dan menutupinya sehingga tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia.” –Diriwayatkan oleh Muslim (312)

ثالثاً: كتب الألواح لموسى عليه السلام بيده .

دليله ما رواه أبو هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال :(احْتَجَّ آدَمُ وَمُوسَى، فَقَالَ مُوسَى: يَا آدَمُ! أَنْتَ أَبُونَا، خَيَّبْتَنَا وَأَخْرَجْتَنَا مِنْ الْجَنَّةِ.فَقَالَ لَهُ آدَمُ: أَنْتَ مُوسَى، اصْطَفَاكَ اللَّهُ بِكَلَامِهِ، وَخَطَّ لَكَ بِيَدِهِ، أَتَلُومُنِي عَلَى أَمْرٍ قَدَّرَهُ اللَّهُ عَلَيَّ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَنِي بِأَرْبَعِينَ سَنَةً.فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَحَجَّ آدَمُ مُوسَى، فَحَجَّ آدَمُ مُوسَى .

وَفِي حَدِيثِ ابْنِ أَبِي عُمَرَ وَابْنِ عَبْدَةَ قَالَ أَحَدُهُمَا: خَطَّ، وقَالَ الْآخَرُ: كَتَبَ لَكَ التَّوْرَاةَ بِيَدِهِ. رواه مسلم برقم (2652)

KETIGA: Allah menulis (kitab Taurah) untuk Musa –‘alaihi as-salam– dengan tangan-Nya(*), dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu– bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata: Adam dan Musa berdebat. Musa berkata, “Wahai Adam, kaulah ayah kami. Kau telah mengecewakan kami dan mengeluarkan kami dari surga.” Adam pun berkata kepada Musa, “Kau Musa, Allah telah memilihmu untuk berbicara langsung dengan-Nya, dan Allah pun menulisuntukmu dengan tangan-Nya. Apakah kau mencelaku atas perkara yang telah Allah tetapkan bagiku dari semenjak empat puluh tahun sebelum menciptakanku?” Maka Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Maka Adam pun mengalahkan argumentasi Musa.” Dan dalam hadits Ibn Abi ‘Umar dan Ibn ‘Abdah, salah seorang dari keduanya berkata, “Dia menulis,” sedangkan yang seorang lagi mengatakan, “Dia menulis kitab Taurah untukmu dengan tangan-Nya.” –Diriwayatkan oleh Muslim (2652)

(*) disebutkan menulis Taurat, bukan menciptakan Taurat, sebab Taurat adalah kalam Allah bukan makhluk, dan Allah berkenan menuliskan kalam-Nya untuk Musa –‘alaihi as-salam … –HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA …

رابعاً : القلم.

دليله أثر مروي عن ابن عمر رضي الله عنهما من قوله موقوفا عليه – وهو الأثر الوارد في السؤال – قال: (خلق الله أربعة أشياء بيده: العرش، والقلم، وآدم، وجنة عدن، ثم قال لسائر الخلق: كن فكان) رواه الطبري في “جامع البيان” (20/145)، والدارمي في “نقضه على المريسي” (ص/261)، وأبو الشيخ الأصفهاني في “العظمة” (2/579)، والآجري في “الشريعة” (رقم/750)، والحاكم في “المستدرك” (2/349)، والبيهقي في “الأسماء والصفات” (2/126).

جميعهم من طرق عن عُبيد المكْتِب عن مجاهد عن ابن عمر رضي الله عنهما به .

وهذا إسناد صحيح، عبيد هو ابن مهران المكتب الكوفي وثقه النسائي وابن معين، انظر “تهذيب التهذيب” (7/68).

لذلك قال الحاكم بعد إخراجه للأثر: “هذا حديث صحيح الإسناد ولم يخرجاه “انتهى. ووافقه الذهبي .وجاء نحوه أيضا عن ابن عباس رضي الله عنهما، وعن ميسرة ووردان بن خالد وغيرهم من التابعين .انظر “الدر المنثور” للسيوطي (3/549)(7/207) ، فقد جمع كثيراً من هذه الآثار المتعلقة بالموضوع نفسه

KEEMPAT: Allah menciptakan al-Qalam (pena) dengan tangan-Nya, dalilnya adalah atsar yang diriwayatkan dari Ibn ‘Umar –radhiyallahu ‘anhuma– dari perkataannya secara mauquf, yaitu atsar yang disebutkan dalam pertanyaan di atas. Ibn ‘Umar berkata:

Allah menciptakan empat hal dengan tangan-Nya, yaitu (1) al-‘Arsy, (2) al-Qalam (pena), (3) Adam, dan (4) surga ‘Adn. Kemudian Allah berkata (terhadap penciptaan) seluruh makhluk, “Kun (jadilah)!” Maka jadilah (makhluk itu).

Atsar Ibn ‘Umar tersebut diriwayatkan oleh ath-Thabari di kitab Jami’ al-Bayan (20/145), ad-Darimi dalam Naqdh-nya terhadap al-Marisi (halaman 261), Abu asy-Syaikh al-Ashfahani di kitab al-‘Azhamah (2/579), al-Ajurry di kitab asy-Syari’ah (750), al-Hakim di kitab al-Mustadrak (2/349), dan al-Baihaqi di kitab al-Asma’ wa ash-Shifat (2/162); semuanya dari jalan ‘Ubaid al-Muktib, dari Mujahid, dari Ibn ‘Umar –radhiyallahu ‘anhuma– dengan riwayat tersebut. Dan isnad riwayat ini sahih, ‘Ubaid adalah Ibn Mihran al-Muktib al-Kufi. Imam an-Nasa-i dan Ibn Ma’in menganggapnya tsiqah; lihat Tahdzib at-Tahdzib (7/68). Oleh karena itu Imam al-Hakim berkata setelah mengeluarkan atsar tersebut, “Ini hadits yang sahih isnadnya namun al-Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya,” dan adz-Dzahabi menyetujuinya. Terdapat pula riwayat seperti itu dari Ibn ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma, juga dari Maisarah dan Wardan bin Khalid serta selain mereka dari kalangan tabi’in; lihat ad-Durr al-Mantsur karya as-Suyuthi (3/549) (7/207), dia telah mengumpulkan banyak dari atsar-atsar ini yang berkaitan dengan tema yang sama …

 

وقد تلقى أهل السنة هذا الأثر بالقبول وأوردوه في مصنفاتهم، وردوا به على الجهمية في إنكارهم صفة اليد لله سبحانه .قال الإمام عثمان بن سعيد الدارمي رحمه الله، بعد روايته للأثر: “أفلا ترى أيها المريسي كيف ميز ابن عمر وفرق بين آدم وسائر الخلق في خلقه اليد أفأنت أعلم من ابن عمر بتأويل القرآن وقد شهد التنزيل وعاين التأويل وكان بلغات العرب غير جهول.”

“نقض الدارمي على بشر المريسي” (35)

Kalangan Ahl as-Sunnah telah menerima atsar ini dan mengemukakannya dalam kitab-kitab mereka. Dengan atsar ini mereka membantah kelompok al-Jahmiyah atas pengingkarannya terhadap sifat tangan bagi Allah –subhanahu. Imam ‘Utsman bin Sa’id ad-Darimi –rahimahullah– berkata setelah mengemukakan atsar ini, “Tidakkah kau melihat, wahai al-Marisi, bagaimana Ibn ‘Umar membedakan dan memperlainkan antara Adam dengan semua makhluk dalam penciptaannya dengan tangan? Apakah kau lebih tahu dari Ibn ‘Umar mengenai takwil al-Quran padahal dia menyaksikan turunnya al-Quran dan melihat langsung penjelasannya, sementara dia tidaklah bodoh terhadap bahasa Arab.” –kitab Naqdh ad-Darimi ‘ala Bisyr al-Marisi (35) …

وقال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله: “ثبوت ما أثبته الدليل من هذه الصفات لم يوجب حاجة الرب إليها، فإن الله سبحانه قادر أن يخلق ما يخلقه بيديه وقادر أن يخلق ما يخلقه بغير يديه وقد وردت الأثارة من العلم بأنه خلق بعض الأشياء بيديه وخلق بعض الأشياء بغير يديه ….، ثم نقل رحمه الله – أي: شيخ الإسلام – أثر الدارمي ” انتهى .

بيان تلبيس الجهمية” (1/513)

Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah –rahimahullah– berkata, “Kepastian yang ditetapkan oleh dalil dari sifat-sifat ini tidaklah serta-merta mengharuskan bahwa Rabb butuh kepada semua itu karena Allah –subhanahu- itu mampu menciptakan makhluk dengan kedua tangan-Nya maupun menciptakan makhluk tanpa menggunakan kedua tangan-Nya. Terdapat atsar ilmu (peninggalan pengetahuan dari salaf) bahwasanya Allah menciptakan beberapa hal dengan kedua tangan-Nya dan menciptakan hal-hal lainnya bukan dengan kedua tangan-Nya …,” kemudian Syaikh al-Islam –rahimahullah– menukil atsar yang diriwayatkan oleh imam ad-Darimi tersebut … –SELESAI; kitab Bayan Talbis al-Jahmiyah (1/513) …

ومما ينبغي التنبيه عليه ههنا أمران :

1- ورد في ذكر هذه الأشياء التي خلقها الله بيده أحاديث مرفوعة تجمعها في سياق واحد، ولكنها أحاديث ضعيفة ، فلا حاجة لذكرها هنا .

2- المفهوم المتفق عليه من هذا التخصيص أنه لمزيد تكريم وتشريف وتعظيم، لحكمة يعلمها سبحانه وتعالى، خص هذه الأربعة بأنه خلقها بيده ولم يجعل خلقها بكلمة كن كسائر المخلوقات، فلا يجوز الخوض في تفصيل معاني هذا التخصيص، وكيفيته، بل يجب التسليم به، مع تنزيه الله تعالى عن كل نقص وعيب وتشبيه .

Ada dua hal yang seyogianya diberitahukan di sini yaitu:

(1) (Memang) terdapat hadits-hadits marfu’ dalam konteks yang sama yang menyebutkan tentang beberapa hal yang diciptakan oleh Allah dengan tangan-Nya namun semua hadits marfu’ itu lemah sehingga tidak perlu disebutkan di sini.

(2) Telah sama dimaklumi dari pengkhususan ini, yaitu bahwasanya pengkhususan tersebut merupakan bentuk pemuliaan, penghormatan, dan pengagungan lebih (terhadap hal yang dikhususkan). Berdasarkan hikmah yang diketahui oleh Allah –subhanahu wa ta’ala, Dia mengkhususkan keempat hal tersebut dengan menciptakan mereka dengan tangan-Nya dan bukan menciptakan mereka dengan kalimat, “Kun (jadilah),” sebagaimana terhadap semua makhluk selain mereka. Tidaklah boleh menceburkan diri mencari makna-makna yang terperinci dari pengkhususan tersebut, juga mengenai kaifiyah-nya, tetapi hendaklah dia taslim terhadap kabar tersebut seraya menyucikan Allah –ta’ala– dari segala kekurangan dan aib, juga menyucikan-Nya dari keserupaan dengan makhluk.

قال الإمام عثمان بن سعيد الدارمي رحمه الله: “ثم إنا ما عرفنا لآدم من ذريته ابنا أعق ولا أحسد منه؛ إذ ينفي عنه أفضل فضائله وأشرف مناقبه، فيسويه في ذلك بأخس خلق الله لأنه ليس لآدم فضيلة أفضل من أن الله خلقه بيده من بين خلائقه، ففضله بها على جميع الأنبياء والرسل والملائكة؛ ألا ترون موسى حين التقى مع آدم في المحاورة: احتج عليه بأشرف مناقبه فقال: أنت الذي خلقك الله بيده، ولو لم تكن هذه مخصوصة لآدم دون من سواه ما كان يخصه بها فضيلة دون نفسه “انتهى

“نقض الدارمي على بشر المريسي” (1/255)

والله أعلم .

Imam ‘Utsman bin Sa’id ad-Darimi –rahimahullah– berkata:

Kemudian sesungguhnya kami tidak mengetahui dari keturunan Adam orang yang lebih durhaka dan lebih hasad dari al-Marisi, ketika dia menafikan seutama-utamanya keutamaan Adam dan semulia-mulia perihalnya lalu mempersamakannya dalam (masalah penciptaannya) itu dengan serendah-rendah makhluk Allah. Sesungguhnya tidak ada keutamaan yang lebih utama bagi Adam daripada (kenyataan) bahwa Allah menciptakannya dengan tangan-Nya. Maka Allah mengutamakan Adam dengan penciptaan itu atas seluruh nabi, rasul, dan malaikat. Tidakkah kau memerhatikan (perihal) Musa ketika dia berhadapan dengan Adam dalam suatu perdebatan? Musa mendebat Adam seraya mengemukakan kemuliaan Adam yang paling mulia, yaitu dengan mengatakan, “(Wahai Adam), kaulah orang yang Allah menciptakanmu dengan tangan-Nya!” Kalaulah keutamaan ini tidak dikhususkan bagi Adam tanpa selainnya, tidaklah Musa akan mengemukakan pengkhususan ini kepada Adam (dalam perdebatan) tanpa menyertakan dirinya … –SELESAI; Naqdh ad-Darimi ‘ala Bisyr al-Marisi (1/255) …

Wallahu a’lamu

Bandung, 21 Juli 2014

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Kata ‘Umar, Adakah Ibn Mas’ud di Antara Kalian?

adakh ibn mas'ud

Berikut ini sebuah kisah yang dha’if jiddan (sangat lemah) sehingga tidak bisa dijadikan sandaran. Kisah ini bertutur tentang ‘Umar bin al-Khaththab dan ‘Abdullah bin Mas’ud yang bertemu dan berbincang di kegelapan malam tanpa bisa saling melihat dan mengenal …

 

أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عَلِيٍّ الْبَغْدَادِيُّ بِمِصْرَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ دُرَيْدٍ، حَدَّثَنَا الْعُكْلِيُّ، عَنِ ابْنِ أَبِي خَالِدٍ، عَنِ الْهَيْثَمِ، عَنْ مُجَالِدٍ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، قَالَ :لَقِيَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ رَكْبًا فِي سَفَرٍ لَهُ لَيْلا فِيهِمْ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ، فَأَمَرَ عُمَرُ رَجُلا يُنَادِيهِمْ مِنْ أَيْنَ الْقَوْمُ؟ فَأَجَابَهُ عَبْدُ اللَّهِ: أَقْبَلْنَا مِنَ الْفَجِّ الْعَمِيقِ، فَقَالَ: أَيْنَ تُرِيدُونَ؟ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ: الْبَيْتَ الْعَتِيقَ، فَقَالَ عُمَرُ: إِنَّ فِيهِمْ لَعَالِمًا، فَأَمَرَ رَجُلا يُنَادِيهِمْ: أَيُّ الْقُرْآنِ أَعْظَمُ؟ فَأَجَابَهُ عَبْدُ اللَّهِ :اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ سورة البقرة آية 255 حَتَّى خَتَمَ الآيَةَ، قَالَ: نَادِهِمْ: أَيُّ الْقُرْآنِ أَحْكَمُ؟ فَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ :إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ سورة النحل آية 90 فَقَالَ عُمَرُ: نَادِهِمْ: أَيُّ الْقُرْآنِ أَجْمَعُ؟ فَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ: فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ { 7 } وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ { 8 } سورة الزلزلة آية 7-8 الآيَةَ، فَقَالَ عُمَرُ: نَادِهِمْ: أَيُّ الْقُرْآنِ أَحْزَنُ؟ فَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ :لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ سورة النساء آية 123 الآيَةَ، فَقَالَ عُمَرُ: نَادِهِمْ أَيُّ الْقُرْآنِ أَرْجَى؟ فَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ :يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ سورة الزمر آية 53 الآيَةَ، فَقَالَ عُمَرُ: نَادِهِمْ: أَفِيكُمْ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ؟ فَقَالُوا: اللَّهُمَّ نَعَمْ

 

Abu Thahir bin Abi Ahmad as-Silafi –rahimahullah– berkata di kitab ath-Thuyuriyat (173):

Telah berkabar kepada kami Ahmad, telah bercerita kepada kami Muhammad bin Ahmad bin ‘Ali al-Baghdadi di Mesir, telah bercerita kepada kami Muhammad bin al-Hasan bin Duraid, telah bercerita kepada kami al-‘Ukliy, dari Ibn Abi Khalid, dari al-Haitsam (bin ‘Adi), dari Mujalid (bin Sa’id), dari as-Sa’bi, dia berkata:

‘Umar bin al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhu– bertemu dengan serombongan orang dalam suatu perjalanan malam. Dalam rombongan itu terdapat ‘Abdullah bin Mas’ud. Lantas ‘Umar memerintahkan seseorang untuk menanyakan kepada rombongan itu, “Berasal dari mana kalian, wahai rombongan?” ‘Abdullah bin Mas’ud menjawab, “Kami datang dari perjalanan yang panjang. Orang itu bertanya lagi, “Ke mana tujuan kalian?‘Abdullah bin Mas’ud menjawab, Ke Bait al-‘Atiq (rumah tua; yakni ka’bah). ‘Umar bin al-Khaththab berkata, “Sesungguhnya di antara mereka (rombongan tersebut) ada seseorang yang berilmu. Lalu ‘Umar bin al-Khaththab pun memerintahkan seseorang untuk bertanya kepada mereka, Ayat manakah yang paling agung dalam al-Quran? ‘Abdullah bin Mas’ud menjawab, Allah, tidak ada yang berhak untuk diibadahi selain Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya, tidak mengantuk dan tidak tidur … -hingga akhir ayat- (QS. al-Baqarah: 255).” Umar bin al-Khaththab berkata, Tanyakan kepada mereka, ayat manakah yang paling hikmah dalam al-Quran? ‘Abdullah bin Mas’ud menjawab, Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan (QS. an-Nahl: 90).”  ‘Umar bin al-Khaththab berkata, Tanyakan kepada mereka, ayat manakah yang paling mencakup isinya dalam al-Quran? ‘Abdullah bin Mas’ud menjawab, Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat balasannya, dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah, niscaya dia akan melihat balasannya (QS. al-Zalzalah: 7-8).” ‘Umar bin al-Khaththab berkata, Tanyakan kepada mereka, ayat manakah yang paling mengharukan dalam al-Quran? ‘Abdullah bin Mas’ud menjawab, (Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah. (QS. an-Nisa: 123).” ‘Umar bin al-Khaththab berkata, Tanyakan kepada mereka, ayat manakah yang paling memberikan harapan dalam al-Quran? ‘Abdullah bin Mas’ud menjawab, Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. az-Zumar: 53).” ‘Umar bin al-Khaththab berkata, Tanyakan kepada mereka, apakah di antara kalian adaAbdullah bin Mas’ud?Maka mereka pun menjawab,“Iya, ada!” –SELESAI-

 

Sisi kelemahan pada riwayat ini adalah sebagai berikut:

PERTAMA: pada sanadnya ada al-Haitsam bin ‘Adi, seorang perawi yang matruk

Imam adz-Dzahabi berkata di Siyar A’lam n-Nubala:

 

وقال ابن معين وأبو داود: كذاب .وقال البخاري: سكتوا عنه .وقال النسائي وغيره: متروك الحديث

 

Ibn Ma’in dan Abu Dawud sama berkata, “Dia pendusta.” Imam al-Bukhari mengatakan, “Para ulama geming darinya.” Imam an-Nasa-i dan selainnya sama berkata, “Matruk al-hadits.”

 

KEDUA: pada sanadnya ada Mujalid bin Sa’id, seorang perawi yang dilemahkan oleh banyak ulama seperti Yahya bin Sa’id al-Qaththan, Ahmad bin Hanbal, ad-Daruquthni, dan lain-lain …

Imam adz-Dzahabi berkata di Siyar A’lam an-Nubala’:

 

قال البخاري: كان يحيى بن سعيد يضعفه. وكان عبد الرحمن بن مهدي لا يروي له شيئا. وكان أحمد بن حنبل لا يراه شيئا … وقال أبو حاتم : لا يحتج به … وقال الدارقطني: ضعيف

 

Imam al-Bukhari berkata, “Yahya bin Sa’id melemahkannya, dan ‘Abd ar-Rahman bin Mahdi tak mau meriwayatkan haditsnya sedikit pun, sementara Ahmad bin Hanbal tak memandangnya sama sekali.” … Abu Hatim berkata, “Tidak bisa dijadikan sandaran.” … Imam ad-Daraquthni mengatakan, “Dia lemah.”

 

KETIGA: pada sanadnya ada inqitha’ (keterputusan), yaitu antara asy-Sya’bi dengan ‘Umar bin al-Khaththab dan atau dengan ‘Abdullah bin Mas’ud. Asy-Sya’bi adalah seorang perawi tsiqah (tepercaya), namanya adalah ‘Amir bin Syarahil asy-Sya’bi. Tidak benar bahwa ‘Amir bin Syarahil asy-Sya’bi mendengar dari ‘Umar bin al-Khaththab dan ‘Abdullah bin Mas’ud sebagaimana dikatakan oleh para ulama.

 

Di kitab al-Marasil, Ibn Abi Hatim berkata:

 

سمعت أبي، يقول :لم يسمع الشعبي من عبد الله بن مسعود

 

Aku mendengar ayahku mengatakan, “sy-Sya’bi tidak mendengar hadits dari ‘Abdullah bin Mas’ud.”

 

Tidak juga asy-Sya’bi mendengar dari ‘Umar bin al-Khaththab karena pada waktu ‘Umar bin al-Khaththab wafat, usia asy-Sya’bi baru tiga tahun –kurang lebih. Ibn Hajar di kitab at-Tahdzib menukil ucapan Ibn Hibban yang berbicara tentang asy-Sya’bi:

 

وقال ابن حبان في ثقات التابعين كان فقيها شاعرا مولده سنة (20) ومات سنة (109)

 

Ibn Hibban berkata di kitab ats-Tsiqat, “Asy-Sya’bi tabi’in, dia seorang yang faqih sekaligus penyair, dilahirkan pada tahun 20 hijriyah dan wafat pad tahun 109 hijriyah.”

 

Adapun mengenai ‘Umar bin al-Khaththab, Ibn Hajar berkata:

 

عمر بن الخطاب بن نُفَيل … القرشي أمير المؤمنين مشهور، جم المناقب استشهد في ذي الحجة سنة ثلاث وعشرين

 

“‘Umar bin al-Khaththab bin Nufail … al-Qurasyi, Amir al-Mu’minin yang terkenal, berbudi pekerti agung, mati syahid pada bulan Dzul Hijjah tahun 23 hijriyah.”

 

Bandung, 18 Juli 2014

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–