Dan Beliau Memang Buta Aksara …

Buta huruf

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid –hafizhahullah

http://islamqa.info/ar/218079

السؤال:

كان النبي صلى الله عليه وسلم أمياً لا يكتب، ولذلك كان له خاتم يلبسه ويختم به مراسلاته، ولكن كيف يمكن التوفيق بين ذلك وبين ما جاء في صحيح البخاري عن سعيد بن جبير عن ابن عباس (رضي الله عنه) أنه قال: “يوم الخميس، وما يوم الخميس، ثم بكى حتى خضب دمعه الحصباء، فقال: اشتد برسول الله صلى الله عليه وسلم وجعه يوم الخميس فقال: (ائتوني بكتاب أكتب لكم كتابا لن تضلوا بعده أبدا)، فتنازعوا، ولا ينبغي عند نبي تنازع، فقالوا: هجر رسول الله صلى الله عليه وسلم، قال: (دعوني فالذي أنا فيه خير مما تدعونني إليه)، وأوصى عند موته بثلاث أخرجوا المشركين من جزيرة العرب، وأجيزوا الوفد بنحو ما كنت أجيزهم، ونسيت الثالثة “قال يعقوب بن محمد: سألت المغيرة بن عبد الرحمن، عن جزيرة العرب، فقال: “مكة والمدينة واليمامة واليمن”، وقال يعقوب، والعرج: أول تهامة” (4.228)، وكتابة الرسول صلى الله عليه وسلم لعقد زواجه على عائشة رضي الله عنها (صحيح البخاري 7.88) ؟

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid –hafizhahullah– ditanya:

Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– adalah seorang yang buta aksara, tak bisa menulis. Oleh karena itu beliau mengenakan cincin untuk membubuh tera pada surat-surat yang beliau kirimkan. Akan tetapi bagaimana mungkin memadukan hal tersebut dengan kabar yang terdapat di dalam Shahih al-Bukhari dari Sa’id bin Jubair, dari Ibn ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya dia berkata, “Hari kamis. Peristiwa apa yang terjadi pada hari kamis?” Kemudian Ibn ‘Abbas menangis sampai-sampai air matanya membasahi pasir, lalu berkata lagi: Pada hari kamis itu sakit Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– semakin berat, lalu beliau bersabda, “Ambilkan aku alat tulis agar kutuliskan untuk kalian suatu catatan yang setelahnya kalian tidak akan pernah tersesat selamanya!” Lalu para shahabat berselisih padahal tak selayaknya ada perselisihan di depan Nabi. Mereka mengatakan, “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengigau (dalam sakitnya).” Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun bersabda, “Tinggalkan aku! Apa yang aku berketetapan padanya itu lebih baik dari hal yang kalian serukan kepadaku!” Menjelang wafatnya, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– mewasiatkan tiga hal, yaitu, “Keluarkan kaum musyrikin dari jazirah Arab, berikan hadiah kepada utusan sebagaimana yang biasa kulakukan terhadap mereka.” Ibn ‘Abbas berkata, “Aku lupa wasiat beliau yang ketiga.” Ya’qub bin Muhammad berkata, “Aku bertanya kepada al-Mughirah bin ‘Abd ar-Rahman tentang jazirah Arab, lalu dia mengatakan: Makkah, al-Madinah, al-Yamamah, dan al-Yaman,” dan Ya’qub berkata, “Juga al-‘Arj, yaitu permulaan Tihamah.”

Juga (memadukannya dengan kabar) penulisan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– untuk mengikat pernikahan dengan ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha?

الجواب :
الحمد لله

أولا :
اتخاذ النبي صلى الله عليه وسلم الخاتم ليس لأنه أمي لا يكتب؛ ولكن ليختم كتبه ورسائله التي كان يرسل بها إلى ملوك الأرض، وقد كانت عادتهم في ذلك الوقت أن لا يقبلوا كتابا إلا مختوما من صاحبه.

روى البخاري (2938) عن أنس رضي الله عنه قال: “لَمَّا أَرَادَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَكْتُبَ إِلَى الرُّومِ، قِيلَ لَهُ: إِنَّهُمْ لاَ يَقْرَءُونَ كِتَابًا إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَخْتُومًا، فَاتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ فِضَّةٍ، وَنَقَشَ فِيهِ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ.”

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid –hafizhahullah– menjawab:

Alhamdulillah …

Pertama: Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menggunakan cincin itu bukanlah karena beliau buta aksara dan tak bisa menulis. Beliau menggunakan cincin itu untuk membubuh tera pada tulisan-tulisan dan surat-surat yang beliau kirimkan kepada para raja di dunia karena memang telah menjadi kebiasaan di kalangan para raja pada waktu itu bahwa mereka tidak mau menerima surat (yang ditujukan kepada mereka) selain surat yang telah dibubuhi tera oleh pengirimnya. Imam al-Bukhari meriwayatkan (2938) dari Anas –radhiyallahu ‘anhu– yang mengatakan:

Ketika Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bermaksud menulis surat untuk (kaisar) Romawi, dikatakanlah kepada beliau, “Sesungguhnya mereka tidak mau membaca surat kecuali jika surat itu telah dibubuhi tera,” maka beliau pun membuat cincin dari perak dan memahat tulisan Muhammad Rasulullah pada cincin itu.

ثانيا :
كان نبينا محمد صلى الله عليه وسلم رسولا أميا، لا يقرأ ولا يكتب؛ كما وصفه ربه عز وجل بقوله: (فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ) الأعراف158/

وقال تعالى: (وَمَا كُنْتَ تَتْلُو مِنْ قَبْلِهِ مِنْ كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ إِذًا لَارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ) العنكبوت/48

فلم يكن النبي صلى الله عليه وسلم يقرأ كتابا أو يكتب شيئا قبل نزول الوحي.

Kedua: Nabi kita –shallallahu ‘alaihi wa sallam– adalah seorang rasul yang ummiy (buta aksara), tidak bisa membaca dan tidak pula bisa menulis sebagaimana Rabb-nya ‘Azza wa Jalla memerikan beliau dengan firman-Nya:

(فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ)

“… maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummiy yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS. al-A’raf: 158)

Juga firman-Nya ta’ala:

(وَمَا كُنْتَ تَتْلُو مِنْ قَبْلِهِ مِنْ كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ إِذًا لَارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ)

“Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya sesuatu kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu). (QS. al-Ankabut: 48)

Maka Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– belum pernah membaca kitab atau menulis sesuatu pun sebelum turunnya wahyu.

وقد اختلف أهل العلم: هل تعلم النبي صلى الله عليه وسلم القراءة والكتابة بعد نزول الوحي أم لا ؟

فذهبت طائفة من أهل العلم إلى أنه كتب صلى الله عليه وسلم، يوم الحديبية وغيره؛ فقد روى البخاري (4251) في خبر الحديبية: (… فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الكِتَابَ، وَلَيْسَ يُحْسِنُ يَكْتُبُ، فَكَتَبَ: هَذَا مَا قَاضَى عَلَيْهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ …)

وكذلك الحديث الذي رواه البخاري (3053)، ومسلم (1637) وهو الحديث الذي ذكره السائل في سؤاله.

وأكثر العلماء على أنه صلى الله عليه وسلم ما قرأ ولا كتب شيئا حتى مات.

Para ulama berbeda pendapat, apakah Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– belajar membaca dan menulis setelah turun wahyu atau tidak? Sebagian ulama berpendapat bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menulis pada hari Hudaibiyah dan selainnya. Imam al-Bukhari meriwayatkan (4251) tentang kisah al-Hudaibiyah, “… lalu Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengambil surat (perjanjian) itu, dan beliau tidaklah mengenal tulis-menulis, lalu beliau menulis: Ini merupakan ketetapan Muhammad bin ‘Abdillah ….”

Demikian juga (yang terdapat dalam) hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari (3053) dan Muslim (1637), yaitu hadits yang disebutkan oleh penanya dalam soal di atas.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tidak membaca dan tidak pula menulis sesuatu pun hingga wafat.

قال ابن كثير رحمه الله: “وَهَكَذَا كَانَ، صَلَوَاتُ اللَّهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ دَائِمًا أَبَدًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، لَا يُحْسِنُ الْكِتَابَةَ وَلَا يَخُطُّ سَطْرًا وَلَا حَرْفًا بِيَدِهِ، بَلْ كَانَ لَهُ كُتَّابٌ يَكْتُبُونَ بَيْنَ يَدَيْهِ الْوَحْيَ وَالرَّسَائِلَ إِلَى الْأَقَالِيمِ، وَمَنْ زَعَمَ مِنْ مُتَأَخَّرِي الْفُقَهَاءِ، كَالْقَاضِي أَبِي الْوَلِيدِ الْبَاجِيِّ وَمَنْ تَابَعَهُ أَنَّهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ، كَتَبَ يَوْمَ الْحُدَيْبِيَةِ: “هَذَا مَا قَاضَى عَلَيْهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ” فَإِنَّمَا حَمَلَهُ عَلَى ذَلِكَ رِوَايَةٌ فِي صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ: (ثُمَّ أَخَذَ فَكَتَبَ): وَهَذِهِ مَحْمُولَةٌ عَلَى الرِّوَايَةِ الْأُخْرَى: ( ثُمَّ أَمَرَ فَكَتَبَ)، وَلِهَذَا اشْتَدَّ النَّكِيرُ بَيْنَ فُقَهَاءِ الْمَغْرِبِ وَالْمَشْرِقِ على من قال بقول الباجي، وتبرؤوا مِنْهُ، وَأَنْشَدُوا فِي ذَلِكَ أَقْوَالًا وَخَطَبُوا بِهِ فِي مَحَافِلِهِمْ: وَإِنَّمَا أَرَادَ الرَّجُلُ -أَعْنِي الْبَاجِيَّ، فِيمَا يَظْهَرُ عَنْهُ -أَنَّهُ كَتَبَ ذَلِكَ عَلَى وَجْهِ الْمُعْجِزَةِ، لَا أَنَّهُ كَانَ يُحْسِنُ الْكِتَابَةَ، وَمَا أَوْرَدَهُ بَعْضُهُمْ مِنَ الْحَدِيثِ أَنَّهُ لَمْ يَمُتْ ، عَلَيْهِ السَّلَامُ حَتَّى تَعَلَّمَ الْكِتَابَةَ ، فَضَعِيفٌ لَا أَصْلَ لَهُ.”

انتهى من “تفسير ابن كثير” (6/ 285-286)

Ibn Katsir –rahimahullah– berkata:

Demikianlah senantiasa keadaan beliau –shalawatullah wa salamuhu ‘alaih– hingga hari kiamat. Beliau tidak mengenal tulisan, tidak bisa membuat sebaris kalimatdan tidak juga satu huruf dengan tangannya. Akan tetapi beliau mempunyai beberapa tulisan yang ditulis oleh (para shahabat) di hadapan beliau berupa wahyu maupun surat-surat yang dikirim ke beberapa daerah. Orang yang beranggapan -dari kalangan fuqaha’ muta-akhir seperti al-Qadhi Abu Walid al-Baji dan orang-orang yang mengikutinya- bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menulis pada hari al-Hudaibiyah, “Ini merupakan ketetapan Muhammad bin ‘Abdillah …,” hanyalah yang membuatnya menyimpulkan itu adalah sebuah riwayat di Shahih al-Bukhari, “… kemudian beliau mengambil (surat perjanjian itu) lalu menulis,” padahal maksudnya terkandung dalam riwayat yang lain, “… kemudian beliau memerintahkan, lalu (orang itu) menulis.” Oleh karena itu, hal ini menyulut penentangan keras dari kalangan fuqaha’ barat dan timur terhadap orang yang berkata dengan pendapat al-Baji. Mereka pun berlepas diri dari pendapat tersebut seraya mengingkari dan menjelaskannya dalam pertemuan (kajian-kajian) mereka bahwa, “Hanyalah yang dimaksud oleh orang tersebut –yakni al-Baji, menurut yang zahir dari pendapatnya yaitu bahwa beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam- menulis hal itu sebagai suatu mukjizat, dan bukan karena beliau bisa menulis. Adapun hadits yang disebutkan oleh sebagian mereka bahwasanya beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidak wafat hingga belajar menulis, itu adalah hadits yang dha’if, tidak ada asalnya.” –SELESAI; dari Tafsir Ibn Katsir (6/285-286) …

وقال الحافظ ابن حجر رحمه الله:

“وَقَدْ تَمَسَّكَ بِظَاهِرِ هَذِهِ الرِّوَايَةِ -يعني رواية يوم الحديبية-أَبُو الْوَلِيدِ الْبَاجِيُّ فَادَّعَى أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَتَبَ بِيَدِهِ بَعْدَ أَنْ لَمْ يَكُنْ يُحْسِنُ يَكْتُبُ، فَشَنَّعَ عَلَيْهِ عُلَمَاءُ الْأَنْدَلُسِ فِي زَمَانِهِ وَأَنَّ الَّذِي قَالَه مُخَالف الْقُرْآنَ … وَذكر ابن دِحْيَةَ أَنَّ جَمَاعَةً مِنَ الْعُلَمَاءِ وَافَقُوا الْبَاجِيَّ فِي ذَلِكَ، وَاحْتج بَعضهم لذَلِك بأحاديث، وَأَجَابَ الْجُمْهُورُ عنها بضعفها، وَعَنْ قِصَّةِ الْحُدَيْبِيَةِ بِأَنَّ الْقِصَّةَ وَاحِدَةٌ وَالْكَاتِبُ فِيهَا عَلِيٌّ، وَقَدْ صَرَّحَ فِي حَدِيثِ الْمِسْوَرِ بِأَنَّ عَلِيًّا هُوَ الَّذِي كَتَبَ، فمعنى (كتب) أي: (أَمَرَ بِالْكِتَابَةِ)، وَاللَّهُ أَعْلَمُ. انتهى باختصار من “فتح الباري” (7/ 503-504).

Imam al-Hafizh Ibn Hajar –rahimahullah– berkata:

Abu al-Walid al-Baji telah berpegang dengan zahir riwayat ini –yakni riwayat hari al-Hudaibiyah- seraya menyatakan bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menulis dengan tangannya setelah sebelumnya beliau tidak bisa menulis. Para ulama Andalusia pada zamannya pun mencela (pendapat) al-Baji. (Mereka mengatakan) bahwa apa yang dikatakannya itu bertentangan dengan al-Quran … dan Ibn Dihyah telah menyebutkan bahwa sekelompok ulama menyepakati pendapat al-Baji mengenai hal itu, dan sebagian mereka berhujjah dengan beberapa hadits. Akan tetapi mayoritas ulama menjawab pendapat itu dengan mengemukakan bahwa hadits-hadits itu lemah. Adapun tentang kisah al-Hudaibiyah, maka mayoritas ulama mengatakan bahwa yang menjadi juru tulis dalam peristiwa itu adalah ‘Ali, dan itu jelas dalam hadits al-Miswar bahwa ‘Ali adalah orang yang menulisnya. Oleh karena itu, makna, “Beliau menulis,” adalah, “Beliau memerintahkan untuk menulis,” wallahu a’lam … –SELESAI secara ringkas; dari Fath al-Bari (7/503-504) …

فالراجح -والله أعلم- أن النبي صلى الله عليه وسلم لم يكتب ولم يقرأ حتى مات، وما ورد من كونه كتب -كما في حديث الحديبية-، فإنما معناه : أمر عليا رضي الله عنه أن يكتب.

وعلى ذلك فقوله في حديث ابن عباس: (ائْتُونِي بِكِتَابٍ أَكْتُبْ لَكُمْ كِتَابًا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ أَبَدًا) إنما يعني: آمر من يكتب لكم، لا أنه صلى الله عليه وسلم كان سيكتب بنفسه، وخاصة أنه في مرض الموت، وقد أصابه من التعب والضعف ما أصابه، فالمناسب -ولو كان يحسن الكتابة- أن يأمر أحدا ممن بحضرته أن يكتب.

Maka yang rajih (pendapat yang unggul), wallahu a’lam, bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tidak bisa menulis dan tidak pula membaca hingga beliau wafat. Riwayat yang menyebutkan tentang keadaan beliau menulis –sebagaimana dalam hadits al-Hudaibiyah- maka maksudnya adalah beliau memerintahkan ‘Ali –radhiyallahu ‘anhu– untuk menulis. Dengan begitu, maka ucapan beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dalam hadits Ibn ‘Abbas, “Ambilkan aku alat tulis agar kutuliskan untuk kalian suatu catatan yang setelahnya kalian tidak akan pernah tersesat selamanya!” maknanya adalah perintah kepada seseorang yang akan menuliskan untuk kalian, bukan berarti beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sendiri yang akan menuliskannya. Apalagi dalam keadaan sakit menjelang wafatnya, saat beliau terserang kepayahan dan kelemahan, sudah barang tentu hal yang tepat (dalam kondisi sakit begitu) –seandainya pun beliau bisa menulis- adalah memerintahkan salah seorang yang berada di situ untuk menulis …

ثالثا :
قول السائل: ” وكتابة الرسول صلى الله عليه وسلم لعقد زواجه على عائشة رضي الله عنها ” غير صحيح؛ فلم تكن العقود تكتب وتوثق في زمن النبي صلى الله عليه وسلم.

وكتابة عقد النكاح وتوثيقه إنما يقصد به ضمان الحقوق، وليست كتابة العقد ركنا من أركان النكاح أو شرطا في صحته.

Ketiga: ucapan penanya, Juga penulisan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- untuk mengikat pernikahan dengan ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha? bukanlah kabar yang sahih, dan tidaklah pada zaman Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– akad-akad itu ditulis.

Adapun tentang pencatatan ikatan pernikahan serta perjanjian pernikahan, maka penulisan itu maksudnya hanyalah mengenai jaminan-jaminan hak, bukan penulisan akad nikah sebagai salah satu rukun di antara rukun-rukun nikah atau syarat sahnya nikah.

Bandung, 7 Juli 2014

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

Tentang Orang yang Memakan Kurma dengan Bijinya …

kurma-

Kisah canda di bawah ini merupakan kedustaan yang disandarkan kepada Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dan atau disandarkan kepada ‘Ali bin Abi Thalib –radhiyallahu ‘anhu. Redaksi penceritaannya memang berbeda-beda namun intinya adalah kelakar yang sama. Berikut ini salah satu bentuk penuturan yang saya dapati di belantara dunia maya:

 

كان الرسول الكريم صلي الله عليه وسلم يأكل التمر هو وسيدنا علي بن أبي طالب رضي الله عنه
وكان علي عندما يأكل التمره يضع نواة التمره مع نواة التمر التي أكلها رسولنا الكريم حتي ما أذا انتهوا من الاكل فقال علي رضي الله عنه هل أكلت كل هذا التمر يا سيدي رسول الله؟ فرد عليه رسولنا الكريم وهل أكلت انت التمر بنواه ياعلي؟ -انتهى

 

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pernah memakan kurma bersama sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib –radhiyallhu ‘anhu. Adalah ‘Ali, setiap kali memakan kurmanya, dia lantas meletakkan biji kurmanya di tumpukkan biji-biji kurma Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika mereka telah selesai makan, berkatalah ‘Ali –radhiyallahu ‘anhu, “Apakah kau memakan semua kurma ini, wahai sayyidina Rasulullah?” Lalu Rasulullah –shallallahu ‘laihi wa sallam– pun menjawab, “Kau sendiri wahai ‘Ali, apakah kau memakan kurma sekaligus dengan bijinya?” –SELESAI-

Berkaitan dengan kisah tersebut, Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid –hafizhahullah– memberikan penjelasan sebagai berikut:

http://islamqa.info/ar/144326

 

السؤال:الحديث: كان علي رضي الله عنه والرسول صلى الله عليه وسلم يأكل التمر، فجعل علي يأكل التمر ويرمي النواة أمام الرسول صلى الله عليه وسلم، فقال علي: يا رسول الله! هل أكلت التمر كله؟ فقال النبي: وهل أكلت التمر بنواه؟ ما صحة هذا الحديث، وما درجته؟؟ جزاكم الله خيرًا.

 

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid –hafizhahullah– ditanya:

Ada hadits, katanya dulu ‘Ali –radhiyallahu ‘anhu– pernah makan kurma bersama Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam. ‘Ali memakan kurma itu dan meletakkan biji kurma di depan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam. ‘Ali berkata, “Wahai Rasulullah, apakah kau memakan semua kurma?” Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menjawab, “Kau sendiri, apakah kau memakan kurma dengan bijinya?”

Apakah hadits tersebut sahih? Dan bagaimanakah derajatnya? Jazakumullah khairan

 

الجواب :

الحمد لله

هذه القصة في مزاح النبي صلى الله عليه وسلم غير ثابتة، بل لم ينسبها أحد من أهل العلم– فيما اطلعنا– إليه صلى الله عليه وسلم، وإنما تنقل في بعض كتب الأخبار والآداب عن بعض أصحاب الفكاهة والأدب .

 

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid –hafizhahullah– menjawab:

Kisah mengenai kelakar Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– ini tidaklah kukuh (tidak benar penyandarannya kepada Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam). Bahkan tidak ada satu orang pun dari ahli ilmu –sejauh penelaahan kami- yang menyandarkan kisah ini kepada beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kisah kelakar ini hanyalah berpindah salin saja pada beberapa kitab cerita dan adab mengenai para tukang kelakar dan sastra …

 

جاء في كتاب ” أنساب الأشراف ” ليحيى البلاذري (12/113-114 دار الفكر ) ما يلي :

” ثم إن الصمة – واسمه مالك بن بكر – أتى عكاظ بعد ما شاء الله، وحرب بن أمية بعكاظ يطعم الناس، فدخل وثعلبة بن الحارث اليربوعي عليه، فأكلا، وقدم إليهما تمرا، فجعل الصمة يأكل ويلقي النوى بين يدي ثعلبة، فلما فرغا قال ثعلبة للصمة: إنه لا نوى بين يديك أفكنت تبلغ النوى؟ إنك لكبير البطن ” انتهى باختصار.

 

Terdapat dalam kitab Ansab al-Asyraf karya Yahya al-Baladzuri (12/113-114; terbitan Dar al-Fikr) cerita sebagai berikut:

Kemudian ash-Shimmah–namanya adalah Malik bin Bakr- mendatangi pasar ‘Ukazh selepas apa yang dikehendaki Allah. Pada saat itu Harb bin ‘Umayyah sedang mengadakan perjamuan untuk manusia di pasar ‘Ukazh. Maka ash-Shimmah pun memasuki tempat perjamuan itu, begitu juga dengan Tsa’labah bin al-Harits al-Yarbu’iy, lalu keduanya ikut makan, dan keduanya disuguhi kurma. Ash-Shimmah memakan kurma itu dan menjatuhkan biji-bijinya ke depan Tsa’labah. Setelah keduanya selesai makan, berkatalah Tsa’labah kepada ash-Shimmah, “Sesungguhnya tidak ada biji-biji kurma di depanmu. Apakah kau memakan bijinya juga? Sungguh kau benar-benar berperut besar.” –SELESAI secara ringkas-

 

وجاء في كتاب ” آداب المؤاكلة ” لأبي البركات الغزي (ص/1) ما يلي :

” المُشنِّع: وهو الذي يجعل ما ينفيه عن طعامه من عظام أو نوى تمر وغيره بين يدي جاره تشنيعاً عليه بكثرة الأكل .

حكي أن متلاحيين حضرا على مائدة بعض الرؤساء، فقدم لهما رطبا ، فجعل أحدهما كلما أكل جعل النوى بين يدي الآخر حتى اجتمع بين يديه ما ليس بين يدي أحد من الحاضرين مثله؛ فالتفت الأول إلى رب المنزل ، وقال : ألا ترى يا سيدنا ما أكثر أكل فلان الرطب ! فإن بين يديه من النوى ما يفضل به الجماعة ، فالتفت إليه صاحبه ، وقال : أما أنا أصلحك الله فقد أكلت كما قال رطباً كثيراً، ولكن هذا الأحمق قد أكل الرطب بنواه ، فضحك الجماعة وخجل المشنع ” انتهى.

 

Ada juga yang terdapat di kitab Adab al-Mu-akalah karya Abu al-Barakat al-Ghazzi (halaman 1) sebagai berikut:

Al-Musyanni’: dan dia orang yang membuang sampah dari makanannya semisal tulang-tulang atau biji kurma dan yang lainnya ke (tempat) temannya dengan maksud untuk melemparkan aib kepada temannya (sehingga temannya itu dianggap) sebagai orang yang banyak makan.

Dihikayatkan bahwa dua orang (musuh) yang saling mencela sama-sama menghadiri perjamuan makan dari pemimpin. Dihidangkanlah kurma kepada kedua orang itu. Salah seorang dari kedua orang itu, setiap kali dia memakan kurma, dia membuang biji-biji kurmanya ke depan musuhnya hingga terkumpullah di depan musuhnya itu sejumlah biji yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah biji yang berada di depan setiap orang yang hadir di tempat itu. Orang yang membuang biji kurma ke depan musuhnya itu menghadap kepada tuan rumah seraya mengatakan, “Wahai pemimpin kami, tidakkah kau lihat betapa banyak si fulan itu memakan kurma. Sungguh di hadapannya penuh dengan biji kurma yang banyaknya tak tertandingi oleh orang-orang yang hadir.” Kemudian orang yang dibicarakan itu pun menghadap ke arah tuan rumah seraya berkata, “Adapun aku, semoga Allah memperbaiki keadaanmu, aku memang sungguh telah memakan banyak kurma sebagaimana yang dikatakan olehnya. Akan tetapi orang pandir ini justru benar-benar memakan kurma dengan bijinya!” (Mendengar itu), tertawalah orang-orang yang berada di sana sampai-sampai membuat malu perasaan hati orang yang (awalnya) mencemarkan (musuhnya) itu. –SELESAI-

 

والحاصل أن الحديث الوارد في السؤال ليس له أصل في كتب السنة والآثار، فلا يجوز التحديث به، ولا روايته ونقله إلا على سبيل بيان حكمه .

 

Walhasil, hadits yang disebutkan dalam pertanyaan di atas tidaklah memiliki asal dan sumber periwayatan dari kitab-kitab Sunnah dan Atsar. Oleh karena itu tidak boleh menceritakan dan menukilkan kisah itu kecuali untuk menjelaskan perihal keadaan yang sebenarnya.

 

Bandung, 7 Juli 2014

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–