Ditulis Semalam Penuh jika Bersamanya

tarawih

Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi –hafizhahullah

http://alhalaby.com/play.php?catsmktba=2841

 

سئل فضيلة الشيخ علي الحلبي -حفظه الله-:

ما حُكم تأخير صلاةِ التَّراويح للسَّاعة الواحدة ليلًا -مثلًا-، مع العِلم أنَّ إمام المسجد يُصلِّي مع النَّاس بعد العشاء؟

Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi –hafizhahullah– ditanya:

Apa hukum (seseorang) mengakhirkan shalat tarawih, misalnya ke pukul satu malam, sementara diketahui bahwa imam masjid melaksanakannya secara berjamaah bersama manusia selepas isya?

الجواب:

مَن أراد وحَرصَ على الأجرِ الكامِل؛ فلْيتذكَّر قولَ النبي -صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم-: «إنَّه مَن قام مَع إمامِهِ حتَّى يَنصَرِفَ كُتِبَ له قِيامُ لَيلَةٍ».

لذلك: بعض الناس إذا قام الإمامُ إلى الوتر -في الرَّكعة العاشرة-؛ فإنَّه ينصرف، فإذا سألتَه: لماذا تنصرف؟ يقول لك: أريد أن أصلِّي قيامَ اللَّيل، أريد أن أصلِّيَ في جوفِ اللَّيل؛ نقول: لو صلَّيتَ في جوف الليلِ مائة ركعةٍ؛ لن تُدركَ أجرَ قِيام اللَّيل كلِّهِ -الذي يكون لك أجره وثوابُه إذا صليتَ مع إمامك حتى ينصرِف-.

قد يقول قائل، أو يسأل سائل:

بعض الأئمة -بعد العشرين الأوائل، وفي العشر الأواخر- يقسم صلاتَه قِسمَين: فيُصلِّي -مثلًا- أربعَ ركعاتٍ بعد العشاء، ثم يختم بِسَبعِ ركعات بعد نصفِ الليل، أو قبل السحور.

نقول: إذا تواطأ المسلمون على ذلك -الإمام وعامة الناس-؛ فلا بأس بذلك.

أمَّا أن تفترق كلمةُ المسلمين، وأن تختلف جماعتُهم -في مسجدٍ من مساجد الرَّحمن-جلَّ وعلا-؛ فهذا لا ينبغي -والحالة هذه-.

 

Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi –hafizhahullah– menjawab:

Siapa yang menghendaki dan antusias terhadap pahala yang sempurna, hendaklah dia mengingat ucapan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bahwasanya siapa yang shalat bersama imamnya sampai selesai, niscaya dicatat baginya pahala shalat semalam penuh.”

Sebagian orang, tatkala imam hendak memimpin shalat witir –selepas rakaat kesepuluh, maka dia berpaling (tidak ikut shalat witir dengan imam). Apabila kautanyakan kepadanya, “Kenapa kau tak ikut shalat witir bersama imam?” Dia pun memberi jawaban kepadamu, “Aku bermaksud untuk melaksanakan shalat malam, aku bermaksud melaksanakan shalat pada tengah malam nanti.”

Kami katakan, “Meskipun pada tengah malam itu kau mengerjakan shalat sampai seratus rakaat, tidaklah akan pernah kaucapai pahala shalat malam seluruhnya. Pahala dan ganjaran itu akan kaudapatkan jika kau shalat bersama imam sampai selesai.”

Ada orang yang berkata –atau bertanya, “Beberapa ulama, selepas hari kedua puluh, yaitu pada sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), membagi shalat menjadi dua bagian, yaitu misalnya shalat dulu empat rakaat selepas isya kemudian disempurnkan dengan tujuh rakaat berikutnya setelah pertengahan malam atau sebelum sahur.” Kami katakan, “Kalau memang kaum muslimin bersepakat untuk melakukannya, yakni imam dan masyarakat manusia, maka hal itu tidak mengapa dilakukan. Akan tetapi kalau hal itu akan merusak kalimat kaum muslimin dan memecah belah jama’ah mereka di suatu masjid di antara masjid-masjid ar-Rahman Jalla wa ‘Ala, maka tak seharusnya itu dilakukan jika memang keadaannya demikian …

Bandung, 8 Juli 2014

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

2 comments on “Ditulis Semalam Penuh jika Bersamanya

  1. jaraway says:

    kalau perempuan, baiknya di masjid atau di rumah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s