Kawin Cina Buta …

nikah tahlil-

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid –hafizhahullah

http://islamqa.info/ar/222367

 

السؤال:

ما هو نكاح التحليل؟

 

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid –hafizhahullah– ditanya:

Apakah nikah tahlil (kawin cina buta) itu?

 

الجواب:

الحمد لله

أولاً:

فُسح للزوج المجال لإرجاع زوجته إن هو طلقها مرَّتين، ويسمَّى هذا “طلاقاً رجعيّاً”، قال تعالى: (الطَّلاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ) البقرة/ 229 .

فإن طلَّقها الثالثة: فإنها تحرُم عليه، ولا يحل له التزوج بها بعقد ومهر جديدين إلا أن تتزوج من آخر غيره نكاحاً صحيحاً، نكاح رغبة، فيدخل بها، ثم يطلقها، أو يموت عنها، قال تعالى: (فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجاً غَيْرَهُ فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يَتَرَاجَعَا إِنْ ظَنَّا أَنْ يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ) البقرة/ 230 .

 

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid –hafizhahullah– menjawab:

Alhamdulillah …

PERTAMA: diluaskan kesempatan bagi seorang suami untuk rujuk (kembali kepada) istrinya jika dia telah menalak istrinya sebanyak dua kali, dan talak ini dinamakan thalaq raj’iy (talak yang masih bisa kembali). Allah –ta’ala– mengatakan:

 

الطَّلاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ

 

Talak (yang dapat dirujuk itu) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.(QS. al-Bqarah: 229)

 

Apabila si suami menalak istrinya untuk yang ketiga kali, maka si istri itu menjadi haram baginya (tidak bisa dirujuki lagi) dan tidak halal pula bagi si suami untuk menikahinya lagi melalui akad nikah yang baru dan pemberian mahar yang baru, kecuali apabila mantan istrinya itu telah dinikahi oleh orang lain dengan pernikahan yang sahih, yaitu pernikahan yang dilandasi oleh rasa suka (keinginan menikah yang benar) lalu lelaki yang menikahinya itu menggaulinya kemudian menceraikannya atau wafat meninggalkan istrinya. Allah –ta’ala– berkata:

 

فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجاً غَيْرَهُ فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يَتَرَاجَعَا إِنْ ظَنَّا أَنْ يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

 

Kemudian jika si suami menalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan istri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui.(QS. al-Baqarah: 230)

 

وعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: “أَنَّ رِفَاعَةَ الْقُرَظِيَّ تَزَوَّجَ امْرَأَةً ثُمَّ طَلَّقَهَا الطلقة الثالثة فَتَزَوَّجَتْ آخَرَ فَأَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَتْ لَهُ أَنَّهُ لَا يَأْتِيهَا [ أي : لا يجامعها ، وفهم الرسول صلى الله عليه وسلم أنها تريد أن تعود لرفاعة ] فقال صلى الله عليه وسلم: (لَا، حَتَّى تَذُوقِي عُسَيْلَتَهُ وَيَذُوقَ عُسَيْلَتَكِ [ كناية عن الدخول بها والجماع ]) رواه البخاري (5011) ، ومسلم (1433).

 

Dan dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha– bahwasanya Rifa’ah al-Qurazhi menikahi seorang perempuan kemudian menalaknya untuk yang ketiga kalinya, lalu istri yang ditalaknya itu menikah dengan lelaki lain. Mantan istrinya itu lalu mendatangi Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dan mengatakan kepada beliau bahwa suaminya yang baru itu tidak mendatanginya (yakni: tidak menggaulinya; dan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– memahami bahwa si perempuan itu ingin kembali kepada Rifa’ah), maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun berkata, “Tidak, (tidak boleh kembali kepada Rifa’ah) sampai kau mengecap kelezatan persetubuhan dengannya dan dia pun mengecap kelezatan persetubuhan denganmu.” –hadits diriwayatkan oleh al-Bukhari (5011) dan Muslim (1433)

 

ثانياً:

ولا يحل للمطلِّق، ولا للمرأة أن يحتالا على شرع الله للرجوع لبعضهما بما يسمى” نكاح التحليل”، وهو عقد له صور متعددة ، منها :

– 1أن يقوم الزوج المطلِّق أو الزوجة أو وليها باستئجار ” تيس” من البشر، فيشترط عليه أن يتزوج مطلَّقته ، ويدخل بها ، ثم يطلقها ، مع إعطائه مبلغاً من المال ! .

2 – أن يتزوج رجل تلك المطلقة بدون اتفاق منه مع أحد ، وقصده : أن يحلها للأول ، ثم يطلقها.
ونكاح “التحليل” عقد محرَّم فاسد، ويستحق فاعله اللعن .

قال الحافظ ابن حجر رحمه الله :

“وصححه ابن القطان، وابن دقيق العيد على شرط البخاري “.

انتهى من “التلخيص الحبير” (3/372) .

 

KEDUA: tidak halal bagi muthalliq (lelaki yang menceraikan istrinya) dan tidak halal pula bagi al-muthallaqah (istri yang diceraikan) itu untuk berbuat tipu muslihat menyiasati syariat Allah agar mereka bisa rujuk kembali, yaitu dengan siasat yang disebut nikah at-tahlil (kawin cina buta); dan kawin cina buta ini ada beberapa macam, di antaranya sebagai berikut:

(1) al-muthalliq (suami yang menceraikan) atau al-muthallaqah (istri yang diceraikan) atau wali dari al-muthallaqah itu (bersiasat dengan) mengupah seorang “kambing pejantan” seraya menetapkan syarat kepada si kambing pejantan upahan itu untuk menikahi al-muthallaqah lalu menggaulinya dan kemudian menceraikannya, (dan pihak yang mengupah) itu memberikan sejumlah harta (sebagai pembayaran atas jasa) kambing pejantan upahan itu.

(2) Seorang lelaki menikahi al-muthallaqah itu tanpa adanya kesepakatan dengan seorang pun (dari pihak-pihak yang bercerai), namun dia memaksudkan pernikahan (yang dilakukannya) itu untuk menjadikan al-muthallaqah tersebut halal bagi suaminya yang pertama kemudian barulah dia menceraikannya.

 

فعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: “لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُحِلَّ وَالْمُحَلَّلَ لَهُ” رواه الترمذي (1120) وصححه، والنسائي (3416) .

 

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, dia berkata, “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- melaknat al-muhilla (atau al-muhallil) dan al-muhallal lahu (*).” –hadits diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (1120) dan di mensahihkannya, juga diriwayatkan oleh an-Nasa-i (3416)

Al-Hafizh Ibn Hajar –rahimahullah– berkata, “Ibn al-Qaththan mensahihkannya, juga Ibn Daqiq al-‘Ied menurut syarat al-Bukhari.” –SELESAI; dari at-Talkhis al-Habir (3/372)

 

(*) catatan dari saya (Hendra Wibawa Ibn Tato Wangsa Widjaja): al-muhilla atau al-muhallil adalah pelaku kawin cina buta, yaitu laki-laki yang menikahi seorang perempuan yang telah ditalak tiga oleh suaminya dengan tujuan agar si perempuan itu bisa dinikahi kembali oleh suami yang menceraikannya. Adapun al-muhallal lahu, yaitu laki-laki yang telah menalak tiga istrinya lalu menyuruh laki-laki lain untuk melakukan kawin cina buta dengan mantan istrinya dengan tujuan menghalalkan mantan istrinya itu bagi dirinya.

 

وقال ابن القيم رحمه الله:

ولعنه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لهما: إما خَبَر عن الله تعالى بوقوع لعنته عليهما، أو دُعاء عليهما باللعنة، وهذا يدلُّ على تحريمه، وأنه من الكبائر ” انتهى من ” زاد المعاد في هدي خير العباد ” (5/672).

 

Ibn al-Qayyim –rahimahullah– berkata, “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- melaknat keduanya (yaitu al-muhallil dan al-muhallal lahu) bisa jadi memang merupakan kabar dari Allah -ta’ala- atas jatuhnya laknat terhadap kedua pelaku perbuatan itu atau bisa jadi merupakan doa laknat (dari beliau) atas kedua pelaku tersebut. Dan ini menunjukkan atas haramnya (kawin cina buta) tersebut, dan bahwasanya perbuatan tersebut termasuk di antara dosa-dosa besar.” –SELESAI; dari kitab Zad al-Ma’ad fi Hadyi Khair al-‘Ibad (5/672)

 

عن عُقْبَة بْنِ عَامِرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِالتَّيْسِ الْمُسْتَعَارِ؟) قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: (هُوَ الْمُحَلِّلُ، لَعَنَ اللَّهُ الْمُحَلِّلَ وَالْمُحَلَّلَ لَهُ) رواه ابن ماجه (1936)، وحسنه الألباني في “صحيح ابن ماجه.”

فهذه الأحاديث تدل على تحريم نكاح التحليل، وأنه من كبائر الذنوب، وتدل أيضا على عدم صحته .

 

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir, dia berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Maukah kukabarkan kepada kalian tentang at-tais al-musta’ar (kambing pejantan sewaan)?” Para shahabat berkata, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau menjawab, “Dia adalah al-muhallil. Allah melaknat al-muhallil dan al-muhallal lahu.” –hadits diriwayatkan oleh Ibn Majah (1936); Syaikh al-Albani menghasankannya di kitab Shahih Ibn Majah.

 

Hadits-hadits ini menunjukkan akan keharaman nikah tahlil (kawin cina buta), dan bahwasanya perbuatan tersebut termasuk di antara dosa-dosa besar. Selain itu, hadits-hadits tersebut menunjukkan pula akan ketidakabsahan kawin cina buta.

 

جاء في “الموسوعة الفقهية” (10/256، 257):

“وقد صرح الجمهور – المالكية والشافعية والحنابلة وأبو يوسف من الحنفية – بفساد هذا النكاح؛ للحديثين السابقين، ولأن النكاح بشرط الإحلال في معنى النكاح المؤقت، وشرط التأقيت في النكاح يفسده، وما دام النكاح فاسداً: فلا يقع به التحليل، ويؤيد هذا قول عمر رضي الله عنه: (والله لا أوتى بمحلل ومحلل له إلا رجمتهما) ” انتهى .

 

Disebutkan dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyah (10/256-257):

Jumhur ulama –al-Malikiyah, asy-Syafi’iyah, al-Hanbilah, dan Abu Yusuf dari kalangan al-Hanafiyah- telah menjelaskan tentang ketidakabsahan kawin cina buta ini berdasarkan dua hadits yang telah lalu. Juga karena nikah dengan syarat ihlal (penghalalal) tiada lain nikah temporer dengan batasan waktu, sedangkan syarat pembatasan waktu di dalam nikah itu menjadikan nikah rusak (tidak absah), dan selama pernikahan itu rusak maka tidaklah hal itu menjadikan halal. Hal ini ditopang oleh ucapan ‘Umar –radhiyallahu ‘anhu, “Tidaklah didatangkan kepadaku muhallil dan muhallal lahu kecuali kurajam kedua-duanya.” –SELESAI …

 

وقال الشيخ عبد العزيز بن باز رحمه الله :

“وهذا من أقبح الباطل، ومن أعظم الفساد، وهو زانٍ في المعنى؛ لأنه ما تزوجها لتكون زوجة، لتعفه ولتبقى لديه لتحصنه، ليرجو منها وجود الذرية، لا، إنما جاء تيساً مستعاراً، ليحللها لمَن قبله، بوطء مرة واحدة، ثم يفارقها وينتهي منها، هذا هو المحلل، ونكاحه باطل، وليس بشرعي، ولا تحل للزوج الأول ما دام نكحها بهذه النية، وبهذا القصد؛ فإنه نكاح فاسد، ولا تحل له، ولا تحل للزوج الأول؛ لأن هذا ليس بزواج، والله قال: (حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ)، وهذا تيس مستعار، وليس بزوج شرعي، فلا يحللها للزوج الأول” انتهى من ” فتاوى الشيخ ابن باز ” (20/277،278 ) .

 

Syaikh ‘Abd al-‘Aziz bin Baz –rahimahullah– berkata:

Ini termasuk seburuk-buruk kebatilan dan sebesar-besar kerusakan, dan dia tiada lain adalah orang yang berbuat zina karena dia tidak menikahi perempuan itu untuk dijadikan istri, tidak untuk menjaga kesucian dirinya, tidak untuk bersamanya secara berkekalan, dan tidak pula untuk mengharapkan keturunan darinya. Tidak, dia hanyalah datang sebagai kambing pejantan sewaan dengan maksud untuk menghalalkan pernikahan bagi mantan suami dari perempuan yang dinikahinya dengan sekali hubungan badan kemudin mencerikannya lagi dan selesai dengannya. Dia inilah al-muhallil, dan pernikahannya batil, tidak sesuai dengan syariat dan tidak menjadikannya halal bagi suami (yang dulu menceraikan) selama (lelaki kedua itu) menikahi sang perempuan dengan niat dan tujuan seperti ini. Sesungguhnya ini adalah pernikahan yang rusak (tidak absah), pernikahan yang tidak menjadikan si perempuan halal bagi lelaki kedua dan tidak juga menjadikannya halal bagi suaminya yang pertama karena hal yang seperti ini bukanlah pernikahan, dan Allah berfirman (QS. Al-Baqrah: 230), “… hingga dia kawin dengan suami yang lain.” Inilah at-tais al-musta’ar (kambing pejantan sewaan), bukan suami menurut syariat sehingga dia tidak bisa menghalalkan si perempuan (dengan pernikahan seperti ini) bagi suami yang pertama … –Fatawa asy-Syaik Ibn Baz (20/277-278)

 

ولا فرق في تحريم نكاح التحليل وفساده بين أن يكون شرط التحليل قد ذكر في العقد نصا، وبين أن يكون قد تم الاتفاق عليه من قبل ولم يذكر عند العقد، أو يكون قد قصده الزوج الثاني ولم يشترطه أحد، ولا اتفق معه أحد، فكل ذلك نكاح تحليل حرام .

 

Tak ada bedanya keharaman dan ketidakabsahan kawin cina buta ini antara (1) disebutkannya syarat tahlil ini dalam akad nikah, atau antara (2) disepakatinya kawin cina buta sebelum akad tanpa menyebutkannya dalam akad nikah, atau antara (3) lelaki kedua itu memang bertujuan melakukan kawin cina buta meskipun tidak ada seorang pun yang menyaratkan itu kepadanya dan tidak ada pula yang bersepakat dengannya untuk melakukan itu. Maka masing-masing dari (ketiga macam) kawin cina buta ini haram.

 

قال ابن القيم رحمه الله :

“ولا فرقَ عند أهل المدينة، وأهلِ الحديث، وفُقهائهم، بين اشتراط ذلك بالقول، أو بالتواطؤ، والقصدِ، فإن القُصود في العُقود عندهم معتبرة، والأعمالُ بالنيَّات، والشرطُ المتواطَأُ عليه الذي دخل عليه المتعاقدان: كالملفوظِ عندهم، والألفاظُ لا تُراد لعينها، بل لِلدلالَة على المعاني، فإذا ظهرت المعاني والمقاصدُ: فلا عِبْرَة بالألفاظ؛ لأنها وسائل، وقد تحقَّقت غاياتُها، فترتَّبَتْ عليها أحكامُها.”

انتهى من “زاد المعاد في هدي خير العباد” (5/110) .

 

Ibn al-Qayyim –rahimahullah– berkata, Tidak ada perbedaan menurut ahli Madinah, ahli hadits, dan juga para fuqaha’ mereka, antara mensyaratkan hal itu dengan ucapan atau dengan kesepakatan atau dengan niat karena sesungguhnya niat-niat itu teranggap menurut mereka -dan amal-amal itu berdasarkan niat, juga syarat yang disepakati oleh kedua belah pihak dalam akad-akad seperti lafaz-lafaz yang diucapkan menurut mereka, sementara lafaz-lafaz itu tidak selalu dimaksudkan secara tekstual saja melainkan dari penunjukkan kandungannya. Apabila telah jelas kandungan dan tujuan-tujuannya, maka lafaz-lafaz tekstual tidak dianggap karena hal itu hanyalah sarana saja, dan tujuan pun tercapai sehingga berkonsekuensi pada hukum-hukumnya.” –SELESAI; dari kitab Zad al-Ma’ad fi Hadyi Khair al-‘Ibad (5/110)

 

وقال علماء اللجنة الدائمة للإفتاء :

“إذا تزوج الرجل المرأة بشرط التحليل، أو نواه، أو اتفقا عليه: فالعقد باطل، والنكاح غير صحيح”.

انتهى من “فتاوى اللجنة الدائمة” (18/439) .

 

Ulama al-Lajnah ad-Da-imah li al-Ifta’ berkata, “Jika lelaki menikahi perempuan dengan syarat tahlil atau yang semacam itu atau bersepakat untuk itu, maka akadnya batil dan pernikahannya tidak sah.” –SELESAI; dari Fatawa al-Lajnah ad-Da-imah (18/439)

 

وروى البيهقي في “السنن الكبرى” (7/208): عن نافع أنه قال: “جاء رجل إلى ابن عمر رضي الله عنه فسأله عن رجل طلَّق امرأته ثلاثاً، فتزوجها أخٌ له عن غير مؤامرة منه ليحلها لأخيه: هل تحل للأول؟ قال: لا، إلا نكاح رغبة، كنَّا نعد هذا سفاحاً على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم “.

 

Imam al-Baihaqi meriwayatkan dalam as-Sunan al-Kubra (7/208), dari Nafi’ bahwasanya dia berkata: seseorang datang kepada Ibn ‘Umar –radhiyallahu ‘anhu lalu bertanya tentang lelaki yang telah menalak tiga istrinya, lalu saudara dari lelaki itu menikahi mantan istri lelaki itu tanpa adanya pembicaraan dengan lelaki itu dengan tujuan menghalalkan kembali mantan istrinya itu. “Apakah (dengan begitu) mantan istrinya itu menjadi halal bagi suaminya yang pertama?” Ibn ‘Umar menjawab, “Tidak, kecuali pernikahan yang dilandasi oleh keinginan (untuk menikah). Dulu di masa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- kami menganggap perbuatan tersebut sebagai perzinaan.”

 

وقال الشيخ محمد بن صالح العثيمين رحمه الله :

“إذا نوى الزوج الثاني أنه متى حلَّلها للأول طلقها: فإنها لا تحل للأول، والنكاح باطل، والدليل: أن هذا نوى التحليل، فيكون داخلاً في اللعن، وقد قال النبي عليه الصلاة والسلام: (إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى) ” انتهى من “الشرح الممتع على زاد المستقنع” (12/176، 177) .

 

Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin –rahimahullah– berkata:

Jika suami yang kedua berniat bahwa saat dia telah menghalalkan si perempuan bagi suaminya yang pertama, dia pun menceraikannya, maka sesungguhnya perempuan tersebut tidak menjadi halal bagi suami yang pertama, dan pernikahannya pun batil. Dan dalilnya, bahwa ini merupakan niat penghalalan sehingga masuk ke dalam laknat, dan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Hanyalah amal-amal itu tergantung kepada niat-niat, dan hanyalah bagi setiap orang itu apa yang diniatkannya.” –SELESAI; dari kitab Syarh al-Mumti’ ‘ala Zad al-Mustaqni’ (12/176-177)

 

وقد جمع شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله الصور كلها في سياق واحد، وجعلها جميعها من “نكاح التحليل” المحرًم الباطل .

قال رحمه الله :

“نكاح المحلل حرام باطل لا يفيد الحل وصورته: أن الرجل إذا طلق امرأته ثلاثاً :فإنها تحرم عليه حتى تنكح زوجاً غيره، كما ذكره الله تعالى في كتابه، وكما جاءت به سنَّة نبيه صلى الله عليه وسلم، وأجمعت عليه أمَّته، فإذا تزوجها رجل بنية أن يطلقها لتحل لزوجها الأول: كان هذا النكاح حراماً، باطلاً، سواء عزم بعد ذلك على إمساكها، أو فارقها، وسواء شرط عليه ذلك في عقد النكاح، أو شُرط عليه قبل العقد، أو لم يُشرط عليه لفظاً … أو لم يكن شيء من ذلك، بل أراد الرجل أن يتزوجها ثم يطلقها لتحل للمطلق ثلاثا من غير أن تعلم المرأة ولا وليها شيئا من ذلك، سواء علم الزوج المطلق ثلاثا أو لم يعلم، مثل أن يظن المحلل أن هذا فعل خير ومعروف مع المطلق وامرأته بإعادتها إليه لما رأى أن الطلاق أضر بهما وبأولادهما وعشيرتهما ونحو ذلك .

بل لا يحل للمطلق ثلاثا أن يتزوجها حتى ينكحها رجل مرتغبا لنفسه نكاح رغبة لا نكاح دلسة ويدخل بها بحيث تذوق عسيلته ويذوق عسيلتها ثم بعد هذا إذا حدث بينهما فرقة بموت أو طلاق أو فسخ جاز للأول أن يتزوجها … هذا هو الذي دل عليه الكتاب والسنة، وهو المأثور عن أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم وعامة التابعين لهم بإحسان وعامة فقهاء الإسلام … وهو مذهب مالك بن أنس وجميع أصحابه والأوزاعي والليث بن سعد، وسفيان الثوري، وهو مذهب الإمام أحمد بن حنبل في فقهاء الحديث، منهم :إسحاق بن راهويه، وأبو عبيد القاسم بن سلام، وسليمان بن داود الهاشمي وأبو خيثمة زهير بن حرب، وأبو بكر بن أبي شيبة، وأبو إسحاق الجوزجاني وغيرهم، وهو قولٌ للشافعي”

انتهى من “إقامة الدليل على إبطال التحليل” (ص 6–8) وساق أقوالاً كثيرة لأئمة الدين في التحريم.

والله أعلم .

 

Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah –rahimahullah– telah mengumpulkan ragam-ragamnya dalam satu konteks pembicaraan mengenai kawin cina buta yang haram lagi batil. Beliau –rahimahullah– mengatakan, “Kawin cina buta itu haram lagi batil serta tidak menjadikan halal, bentuknya adalah: seorang lelaki apabila telah menalak tiga istrinya, maka mantan istrinya itu haram baginya hingga mantan istrinya tersebut menikah dengan suami yang lain sebagaimana yang disebutkan oleh Allah –ta’ala- dalam kitab-Nya, juga sebagaimana yang terdapat dalam Sunnah nabi-Nya –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan umat telah sepakat atas hal tersebut. Apabila lelaki menikahinya dengan niat untuk menceraikannya dan menjadikan halal bagi mantan suaminya, maka nikah ini haram lagi batil. Sama saja apakah setelah itu dia bermaksud untuk menahannya ataukah menceraikannya. Juga sama saja apakah dia menetapkan syarat terhadapnya dalam akad nikah atau mensyaratkannya dari sebelum akad nikah, atau tidak menetapkan syarat terhadap hal itu secara lafaz … atau tidak ada sesuatu pun dari hal itu, tetapi lelaki itu berniat untuk menikahinya kemudian menceraikannya untuk menjadikannya halal bagi mantan suaminya yang dulu telah menalak tiganya tanpa sepengetahuan si perempuan atau pihak walinya sama sekali tentang maksudnya itu, sama saja apakah mantan suami yang telah menalak tiga itu mengetahuinya atau tidak. Misalnya si muhallil itu menganggap bahwa perbuatan tersebut merupakan hal yang baik lagi ma’ruf bagi suami yang menalak tiga dan mantan istrinya dengan kembalinya si mantan istri kepada mantan suaminya di samping pula menurutnya perceraian itu lebih memudaratkan bagi keduanya, juga bagi anak-anak dan kerabat keduanya atau yang semisal itu. Bahkan tidak halal bagi suami yang telah menalak tiga untuk menikahi mantan istrinya sampai ada lelaki lain yang menikahinya sebagai orang yang memang menginginkannya untuk dirinya dan menikah dengan landasan keinginan bukan pernikahan siasat tipu daya, lalu dia menggauli perempuan itu hingga si perempuan itu mengecap kelezatan persetubuhan dengannya dan dia pun mengecap kelezatan persetubuhan dengan si perempuan, kemudian setelah itu, apabila terjadi perpisahan di antara keduanya dengan sebab kematian atau perceraian atau faskh, maka boleh bagi suami yang pertama (yang telah menalak tiga) untuk menikah lagi dengannya … inilah yang ditunjukkan oleh al-Kitab dan as-Sunnah, dan ini juga yang ma’tsur dari para shahabat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, umumnya tabi’in yang mengikuti para shahabat dengan baik, juga umumnya para ahli fiqh Islam … dan ini merupakan pendapat Imam Malik bin Anas beserta semua sahabatnya, juga merupakan pendapat al-Auza’i, al-Laits bin Sa’d, dan Sufyan ats-Tsauri. Ini pula yang menjadi mazhab Imam Ahmad bin Hanbal di kalangan fuqaha’ hadits, di antara mereka adalah Ishaq bin Rahawaih, Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam, Sulaiman bin Dawud al-Hasyimi, Abu Khaitsamah Zuhair bin Harb, Abu Bakr bin Abi Syaibah, Abu Ishaq al-Jauzajani, dan lain-lain. Ini juga merupakan pendapat imam asy-Syafi’i.” –SELESAI; dari kitab Iqamah ad-Dalil ‘ala Ibthal at-Tahlil (halaman 6-8), dan beliau menyebutkan banyak ucapan para ulama mengenai pengharamannya …

Wallahu ‘alamu

 

Bandung, 30 Juli 2014

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

2 comments on “Kawin Cina Buta …

  1. jampang says:

    wah… baru tahu alau istilah bahasa indonesianya kawin cina buta, kang 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s