Tentang Tabdil dan Keterjagaan …

terjaga

Syaikh ‘Ahmad bin ‘Umar Bazmul –hafizhahullah berkata di kitab Khuthurah Naqd al-Hadits (halaman 12-13):

 

قال الشاطبي (ت ٧٩٠ه):

إِنَّ هَذِهِ الشَّرِيعَةَ الْمُبَارَكَةَ مَعْصُومَةٌ كَمَا أَنَّ صَاحِبَهَا مَعْصُومٌ ، وَكَمَا كَانَتْ أُمَّتُهُ فِيمَا اجْتَمَعَتْ عَلَيْهِ مَعْصُومَةً

 

Imam asy-Syathibi (wafat 790 H) berkata (di kitab al-Muwafaqatpent):

Sesungguhnya syariat yang diberkahi ini ma’shum (terpelihara dan terjaga) sebagaimana pembawanya yang ma’shum. Demikian juga perihalnya dengan umat beliau dalam perkara-perkara yang mereka bersepakat di atasnya.

 

… الْأَدِلَّةُ الدَّالَّةُ عَلَى ذَلِكَ تَصْرِيحًا وَتَلْوِيحًا; كَقَوْلِهِ تَعَالَى : إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ ] الْحِجْرِ : 9 [ وَقَوْلِهِ : كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ] هُودٍ : 1 [

 

… dalil-dalil yang menunjukkan hal itu sangat jelas dan terang, sebagaimana ucapan Allah –ta’ala:

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. al-Hijr: 9)

Juga ucapan-Nya –ta’ala:

“Kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi.”* (QS. Hud: 1)

*(kata Qatadah: yakni sempurna tanpa cacat dan kebatilan di dalamnya -pent)

 

وَقَدْ قَالَ تَعَالَى : وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّى أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ فَيَنْسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللَّهُ آيَاتِهِ ] الْحَجِّ : [52 فَأَخْبَرَ أَنَّهُ يَحْفَظُ آيَاتِهِ وَيُحْكِمُهَا حَتَّى لَا يُخَالِطَهَا غَيْرُهَا وَلَا يُدَاخِلَهَا التَّغْيِيرُ وَلَا التَّبْدِيلُ، وَالسُّنَّةُ وَإِنْ لَمْ تُذْكَرْ، فَإِنَّهَا مُبَيِّنَةٌ لَهُ وَدَائِرَةٌ حَوْلَهُ، فَهِيَ مِنْهُ وَإِلَيْهِ تَرْجِعُ فِي مَعَانِيهَا، فَكُلُّ وَاحِدٍ مِنَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ يُعَضِّدُ بَعْضُهُ بَعْضًا، وَيَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا، وَقَالَ تَعَالَى :الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ]الْمَائِدَةِ : 3 [

 

Allah –ta’ala– berkata:

 

“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila dia mempunyai sesuatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu. Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh setan itu dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. (QS. al-Hajj: 52)

 

Allah mengabarkan bahwasanya Dia menjaga dan memelihara ayat-ayat-Nya, menetapkannya hingga tidak bercampur dengan selainnya dan tidak tersusupi perubahan dan penggantian di dalamnya. Adapun Sunnah, meskipun tidak disebutkan, dia merupakan penjelas bagi al-Quran dan beredar di sekitarnya. Dengan demikian, Sunnah itu bagian daripadanya dan kepadanya pula dia kembali dalam makna-maknanya. Maka masing-masing dari al-Quran dan Sunnah itu saling bergamit satu sama lain, juga saling menguatkan. Allah -ta’ala- berkata:

 

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. al-Maidah: 3)

 

حَكَى أَبُو عَمْرٍو الدَّانِيُّ فِي ” طَبَقَاتِ الْقُرَّاءِ ” لَهُ عَنْ أَبِي الْحَسَنِ بْنِ الْمُنْتَابِ; قَالَ :كُنْتُ يَوْمًا عِنْدَ الْقَاضِي أَبِي إِسْحَاقَ إِسْمَاعِيلَ بْنِ إِسْحَاقَ ، فَقِيلَ لَهُ : لِمَ جَازَ التَّبْدِيلُ عَلَى أَهْلِ التَّوْرَاةِ وَلَمْ يَجُزْ عَلَى أَهْلِ الْقُرْآنِ ؟ فَقَالَ الْقَاضِي : قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي أَهْلِ التَّوْرَاةِ : بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ ]الْمَائِدَةِ : 44] فَوَكَلَ الْحِفْظَ إِلَيْهِمْ; فَجَازَ التَّبْدِيلُ عَلَيْهِمْ ، وَقَالَ فِي الْقُرْآنِ : إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ [ الْحِجْرِ : 9 ] ; فَلَمْ يَجُزِ التَّبْدِيلُ عَلَيْهِمْ ، قَالَ عَلِيٌّ : فَمَضَيْتُ إِلَى أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الْمَحَامِلِيِّ ، فَذَكَرْتُ لَهُ الْحِكَايَةَ ، فَقَالَ : مَا سَمِعْتُ كَلَامًا أَحْسَنَ مِنْ هَذَا

 

Abu ‘Amr ad-Dani menghikayatkan di dalam kitabnya, Thabaqat al-Qura’, dari Abu al-Hasan bin al-Muntab, dia berkata:

Pada suatu hari aku membersamai al-Qadhi Abu Ishaq Isma’il bin Ishaq. Seseorang bertanya kepadanya, “Kenapa (Allah) berkenan atas terjadinya tabdil (perubahan kitab) di kalangan ahli Taurat, dan kenapa pula tidak di kalangan ahl al-Quran?” Maka al-Qadhi menjawab, “Allah –Azza wa jalla- berkata mengenai ahli Taurat (QS. al-Maidah: 44), ‘Disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah,’ maka Allah memercayakan penjagaan kitab kepada mereka dan memperkenankan terjadinya tabdil atas mereka. Adapun mengenai al-Quran, Allah berkata (QS. al-Hijr: 9), ‘Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Quran dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya,’ maka Allah tak memperkenankan tabdil atas mereka.” Lalu ‘Ali (Abu al-Hasan bin al-Muntab) berkata, “Lalu aku pun pergi menemui Abu ‘Abdillah al-Mahamili dan kuceritakan kepadanya hal tersebut, lalu dia berkata, ‘Aku belum pernah mendengar ucapan yang lebih baik dari ucapan ini.’”

 

Bandung, 27 Oktober 2014

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

2 comments on “Tentang Tabdil dan Keterjagaan …

  1. jampang says:

    terima kasih ilmunya, kang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s