Dua Anggapan Tentang ad-Daraquthni …

dua anggapan-

Katanya, di antara hal yang membuat Imam ad-Daraquthni dituduh kesyi’ah-syi’ahan adalah sebagaimana yang disebutkan oleh al-Khathib al-Baghdadi berikut:

 

وسمعتُ حمزة بن محمد بن طاهر الدقاق يقول: كان أبو الحسن الدارقطني يحفظُ ديوان السيِّـد الحِمْيري في جملة ما يحفظُ من الشعر ؛ فنُسِبَ إلى التشيُّـع بذلك

 

Aku mendengar Hamzah bin Muhammad bin Thahir ad-Daqqaq berkata, “Abu al-Hasan ad-Daraquthni itu hafal sejumlah besar syair-syair yang terdapat dalam diwan as-Sayyid al-Himyari sehingga dengan hal itu dinisbatkanlah sikap kesyi’ah-syi’ahan kepadanya.” – kitab Tarikh Baghdad (12/35) …

 

Memang benar bahwa pujangga as-Sayyid al-Himyari itu seorang Rafidhah. Namanya adalah Isma’il bin Muhammad bin Yazid sebagaimana disebutkan di kitab Lisan al-Mizan. Akan tetapi, seseorang yang menghafal kitab syair seorang pujangga, tidaklah menjadi bukti bahwa sang penghafal itu berpijak di atas keyakinan dan jalan hidup pujangga tersebut. Imam ad-Daraquthni, selain ‘alim di bidang hadits dan cacat-cacatnya, juga ‘alim di bidang lughah, sehingga sangatlah lumrah jika beliau –rahimahullah– membaca dan menghafal diwan karya seorang pujangga berbakat yang syair-syairnya telah tersebar luas di kalangan penduduk Baghdad. Dengan demikian, Imam ad-Daraquthni sama sekali bukanlah seorang Syi’ah atau bersikap kesyi’ah-syi’ahan …

 

Imam ad-Daraquthni sendiri mengatakan:

 

كان يسب السلف في شعره ويمدح عليا

 

“Dia (as-Sayyid al-Himyari) mencela para salaf dan memuji-muji ‘Ali.”Lisan al-Mizan

 

Imam ad-Daraquthni berkata:

 

اختلف قوم من أهل بغداد، فقال قوم :عثمان أفضل، وقال قوم :علي أفضل، فتحاكموا إلي، فأمسكت، وقلت: الإمساك خير، ثم لم أر لديني السكوت، وقلت للذي استفتاني: ارجع إليهم، وقل لهم :أبو الحسن يقول :عثمان أفضل من علي باتفاق جماعة أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم

 

Penduduk Baghdad berbeda pendapat. Sebagian kalangan mengatakan, “’Utsman bin ‘Affan lebih utama,” sedangkan sebagian lainnya mengatakan, “’Ali bin Abi Thalib lebih utama.” Mereka mencari kejelasan mengenai perkara itu kepadaku. Aku menahan diri, lalu kukatakan, “Menahan diri (dari membicarakan hal itu) merupakan sikap yang lebih baik.” Akan tetapi kemudian aku tak memandang adanya alasan untuk diam, maka kukatakan kepada seseorang yang meminta fatwa kepadaku, “Kembalilah kepada mereka, dan katakan kepada mereka bahwa Abu al-Hasan ad-Daraquthni mengatakan bahwa ‘Utsman lebih utama daripada ‘Ali menurut kesepakatan jama’ah shahabat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Siyar A’lam an-Nubala’

 

Selain dituduh dengan sikap kesyi’ah-syi’ahan oleh sebagian kalangan, Imam ad-Daraquthni pun diklaim oleh sebagian kalangan lainnya sebagai seorang asya’irah (pengikut mazhab Abu al-Hasan al-Asy’ari). Hal itu dikarenakan, menurut mereka, Imam ad-Daraquthni pernah memuji dan mencium seorang ulama dari kalangan asya’irah sebagaimana disebutkan oleh adz-Dzahabi di kitab Siyar A’lam an-Nubala’ berikut:

 

قال أبو الوليد الباجي في كتاب اختصار فرق الفقهاء من تأليفه في ذكر القاضي ابن الباقلاني: قد أخبرني الشيخ أبو ذر وكان يميل إلى مذهبه، فسألته: من أين لك هذا؟ قال: إني كنت ماشيا ببغداد مع الحافظ الدارقطني، فلقينا أبا بكر بن الطيب فالتزمه الشيخ أبو الحسن، وقبل وجهه وعينيه، فلما فارقناه، قلت له: من هذا الذي صنعت به ما لم أعتقد أنك تصنعه وأنت إمام وقتك؟ فقال: هذا إمام المسلمين، والذاب عن الدين، هذا القاضي أبو بكر محمد بن الطيب. قال أبو ذر: فمن ذلك الوقت تكررت إليه مع أبي، كل بلد دخلته من بلاد خراسان وغيرها لا يشار فيها إلى أحد من أهل السنة إلا من كان على مذهبه وطريقه

 

Abu al-Walid al-Baji berkata di kitab Ikhtishar Firaq al-Fuqaha’ saat menyebutkan al-Qadhi Ibn al-Baqilani: telah mengabarkan kepadaku Syaikh Abu Dzarr al-Harawi –dan dia seorang yang cenderung kepada mazhab yang dianut oleh al-Qadhi ibn al-Baqilani (yakni asya’irah). Maka aku pun bertanya kepada Abu Dzarr al-Harawi itu, “Dari siapa kau membawa mazhab ini?” Abu Dzarr al-Harawi pun menjawab, “Sesungguhnya dulu aku pernah berjalan berdua dengan al-Hafizh ad-Daraquthni di kota Baghdad. Di perjalanan, kami bertemu dengan Abu Bakr bin ath-Thayyib (yakni al-Qadhi Ibn al-Baqilani), lalu Imam ad-Daraquthni pun memeluknya, juga mencium wajah dan kedua matanya. Setelah kami berdua berpisah dengannya, kutanyakan kepada imam ad-Daraquthni, ‘Siapa orang tadi? Tak kuduga kau akan berbuat seperti itu terhadapnya sementara kau adalah seorang imam pada zamanmu.’ Imam ad-Daraquthni menjawab, ‘Dia adalah imamnya kaum Muslimin, seorang pembela agama. Dia adalah al-Qadhi Abu Bakr Muhammad bin ath-Thayyib.’” Abu Dzarr al-Harawi juga berkata, “Semenjak itu, seringkali aku mendatangi al-Qadhi Ibn al-Baqilani bersama ayahku. Setiap negeri yang kumasuki, baik Khurasan maupun selainnya, tak seorang pun yang dituju di dalamnya dari kangan ahli sunnah kecuali orang yang berdiri di atas mazhab dan jalannya.

 

Disebutkan pula oleh Imam ad-Dzahabi bahwa Abu Dzarr al-Harawi ditanya:

 

أنت هروي فمن أين تمذهبت بمذهب مالك ورأي أبي الحسن ؟ قال : قدمت بغداد . فذكر نحوا مما تقدم في ابن الطيب . قال : فاقتديت بمذهبه

 

Kau orang Harah, dari siapa kau mengambil mazhab Malik dan berpemahaman dengan pemahaman Abu al-Hasan al-Asy’ari?” Maka Abu Dzarr al-Harawi pun menjawab, “Aku datang ke kota Baghdad …,” lalu dia menceritakan kisah seperti di atas (saat berjalan bersama imam ad-Daraquthni dan bertemu dengan) Abu Bakr bin ath-Thayyib (al-Qadhi Ibn al-Baqilani), kemudian mengatakan, “Lalu aku mengikuti mazhab yang ditempuh olehnya (yakni mazhab asy’ari).”Siyar A’lamu an-Nubala’

 

Sejatinya Imam ad-Daraquthni adalah seorang ahli hadits yang berpijak di atas jalan salaf. Beliau adalah seorang Ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah dan sama sekali bukan asya’irah. Beliau pernah mengatakan:

 

ما شيء أبغض إلي من علم الكلام

 

“Tiada sesuatu pun yang lebih kubenci daripada ilmu kalam.”Siyar A’lamu an-Nubala’

 

Adapun sikap beliau yang santun terhadap Abu Bakr al-Baqilani, ulama yang mendalami ilmu kalam dari mazhab asy’ari, tidaklah menunjukkan bahwa beliau pun bermazhab asy’ari. Itu hanyalah sikap beliau terhadap ahli ilmu, sikap yang justru menunjukkan kerendahan hati dan ketinggian akhlak beliau karena sekali pun al-Qadhi Ibn al-Baqilani itu mendalami ilmu kalam dan berpijak di atas pemahaman asy’ari, namun al-Qadhi al-Baqilani memiliki andil yang besar pula terhadap umat Islam dalam membantah kesesatan-kesesatan Mu’tazilah, Rafidhah, Khawarij, Jahmiyyah, dan Karamiyyah. Barangkali itulah yang membuat Imam ad-Daraquthni mengatakan, “Dia imamnya kaum Muslimin dan pembela agama.”

 

Berkata adz-Dzahabi di kitab Siyar A’lam an-Nubala’:

 

الإمام العلامة، أوحد المتكلمين، مقدم الأصوليين … وكان ثقة إماما بارعا، صنَّف في الرد على الرافضة والمعتزلة , والخوارج والجهمية والكرامية … وقد ذكره القاضي عِياض في “طبقات المالكية” فقال: هو الملقب بسيف السنة , ولسان الأمة المتكلِّم على لسان أهل الحديث , وطريق أبي الحسن

 

“Dia (al-Qadhi Abu Bakr bin ath-Thayyib al-Baqilani) seorang imam, sangat berpengetahuan, ahli kalam yang unggul dan teolog terkemuka … seorang yang tepercaya, imam yang sangat pandai. Beliau menyusun tulisan-tulisan yang membantah Rafidhah, Mu’tazilah, Khawarij, Jahmiyah, dan juga Karamiyyah … dan al-Qadhi ‘Iyyadh menyebutkannya di kitab Thabaqat al-Malikiyyah seraya mengatakan, ‘Dia dijuluki si pedang sunnah, juru bicara umat yang berkata-kata dengan lisan ahli hadits dan jalan tempuh Abu al-Hasan al-Asy’ari.’”

 

Pada salah satu kitab karyanya, yakni kitab al-Ibanah, al-Qadhi Ibn al-Baqilani bahkan memiliki pendapat yang bersesuaian dengan kaum salaf dalam masalah Asma’ wa Shifat Allah –subhanahu wa ta’ala. Beliau (al-Qadhi Ibn al-Baqilani ) mengatakan:

 

فإن قيل: فما الدليل على أن لله وجها ويدا؟ قال: قوله :ويبقى وجه ربك وقوله :ما منعك أن تسجد لما خلقت بيدي فأثبت تعالى لنفسه وجها ويدا … إلى أن قال: فإن قيل: فهل تقولون: إنه في كل مكان ؟ قيل: معاذ الله! بل هو مستو على عرشه كما أخبر في كتابه

 

Apabila ada orang yang mengatakan, “Apa dalilnya bahwa Allah memiliki wajah dan tangan?” Maka (hendaklah) dia menjawab, “Dalilnya adalah ucapan Allah (QS. ar-Rahman: 27), “Dan tetap kekal Wajah Rabb-mu,” juga ucapan Allah (QS. Shad: 75), “Hai iblis, apa yang menghalangimu untuk sujud kepada yang telah Kuciptakan dengan kedua tangan-Ku?” Allah –ta’ala– menetapkan shifat wajah dan tangan bagi diri-Nya … -sampai pada ucapan al-Qadhi al-Baqilani- apabila ada orang yang mengatakan, “Apakah kalian mengatakan bahwa Allah berada pada semua tempat?” Maka hendaklah dia menjawab, “Aku berlindung kepada Allah (dari ucapan dan keyakinan tersebut). Bahkan Allah itu istiwa di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana yang Dia kabarkan sendiri di dalam kitab-Nya.”Siyar A’lam an-Nubala’

 

Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah berkata mengenai al-Qadhi al-Baqilani:

 

وهو من أفضل المتكلمين المنتسبين إلى الأشعري، ليس فيهم مثله لا قبله ولا بعده

 

“Dia (al-Qadhi Abu Bakr bin ath-Thayyib al-Baqilani) termasuk ahli kalam yang paling utama yang menisbatkan diri kepada asy’ari. Tidak ada di kalangan mereka orang yang semisal dirinya, baik sebelumnya maupun sesudahnya.” al-Fatwa al-Hamawiyyah

 

Wallahu a’lamu

 

Bandung, 24 November 2014

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

Awal Kata dari ad-Daraquthni …

daraquthni

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا حَرَجَ وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّار

 

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, Sampaikanlah (yang datang) dariku meski hanya satu ayat, dan ceritakanlah (kabar-kabar) dari Bani Israil tanpa harus merasa berat. Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” (HR. al-Bukhari)

 

وقال الدار قطني في مقدمة كتاب الضعفاء والمتروكين :

توعد -صلى الله عليه وسلم- بالنار من كذب عليه بعد أمره بالتبليغ عنه، ففي ذلك دليل على أنه إنما أمرَ أن يُبلَّغ عنه الصحيح دون السقيم، والحق دون الباطل، لا أن يُبلَّغ عنه جميع ما رُوي، لأنه قال -صلى الله عليه وسلم-: كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ أخرجه مسلم من حديث أبي هريرة.

فمن حدث بجميع ما سمع من الأخبار المروية عن النبي -صلى الله عليه وسلم- ولم يميز صحيحها وسقيمها، وحقها من باطلها؛ باء بالإثم، وخيف عليه أن يدخل في جملة الكاذبين على رسول الله -صلى الله عليه وسلم-، بحكم رسول الله -صلى الله عليه وسلم- أنه منهم في قوله: مَنْ حَدَّثَ عَنِّي بِحَديثٍ يَرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الكاذبين فظاهر هذا الخبر دال على أن كل من روى عن النبي -صلى الله عليه وسلم- حديثاً وهو شاك فيه أصحيح أو غير صحيح يكون كأحد الكاذبين لأنه -صلى الله عليه وسلم- قال:” مَنْ حَدَّثَ عَنِّي بِحَديثٍ يَرَى أَنَّهُ كَذِبٌ .. » ولم يقل: وهو يستيقن أنه كذب” . اهـ

 

Imam ad-Daraquthni berkata dalam mukadimah kitab adh-Dhu’afa wa al-Matrukin:

 

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– memberi ancaman neraka kepada orang yang berdusta atas nama beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– setelah beliau memerintah untuk menyampaikan (kabar) dari beliau. Maka di dalam hal tersebut terdapat dalil bahwa beliau hanya memerintahkan (kepada seseorang) untuk menyampaikan kabar yang sahih dari beliau dan bukan kabar yang berpenyakit, juga menyampaikan kabar yang benar bukan yang batil. (Artinya), bukan menyampaikan semua kabar yang (katanya) diriwayatkan dari beliau karena beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sendiri telah mengatakan, Cukuplah seseorang dikatakan pendusta jika dia menceritakan setiap hal yang didengarnya.” –dikeluarkan oleh Muslim dari hadits Abu Hurairah …

Maka siapa pun yang menceritakan semua yang didengarnya berupa kabar-kabar yang diriwayatkan dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tanpa memilah antara yang sahih dan yang berpenyakit, juga yang benar dari yang batil, niscaya dia memikul dosa. Selain itu, ditakutkan pula bahwa dirinya termasuk di antara orang-orang yang berdusta atas nama Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berdasarkan penghukuman Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bahwasanya dia termasuk di antara mereka yang disebutkan dalam sabdanya, Siapa yang menceritakan dariku suatu hadits yang menurut dugaannya hadits tersebut dusta, maka dia termasuk salah seorang di antara para pendusta.” Secara zahir, kabar ini menunjukkan bahwa semua yang meriwayatkan hadits dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara dirinya merasa syak (sangsi) atas kesahihan atau ketidaksahihannya, maka tak ubahnya dia seperti salah seorang di antara para pendusta. Hal itu dikarenakan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– telah mengatakan, Siapa yang menceritakan dariku suatu hadits yang menurut dugaannya hadits tersebut dusta, maka dia termasuk salah seorang di antara para pendusta,” dan beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tidak mengatakan, “Siapa yang menceritakan dariku suatu hadits sementara dia merasa yakin bahwa hadits tersebut dusta, maka dia termasuk salah seorang di antara para pendusta.” –SELESAI … -kitab adh-Dhu’afa’ wa al-Matrukin, dengan tahqiq: Syaikh Muhammad bin Luthfi ash-Shabagh (9) …

 

Bandung, 21 November 2014

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Melukiskan Rasa Kematian …

melukiskan rasa kematian

Ibn Sa’d al-Baghdadi –rahimahullah– berkata di kitab ath-Thabaqat al-Kubra:


أَخْبَرَنَا أَخْبَرَنَا هِشَامُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ السَّائِبِ الْكَلْبِيُّ، عَنْ عَوَانَةَ بْنِ الْحَكَمِ، قَالَ :عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ يَقُولُ: عَجَبًا لِمَنْ نَزَلَ بِهِ الْمَوْتُ وَعَقْلُهُ مَعَهُ كَيْفَ لا يَصِفُهُ، فَلَمَّا نَزَلَ بِهِ، قَالَ لَهُ ابْنُهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو: يَا أَبَتِ إِنَّكَ كُنْتَ تَقُولُ: عَجَبًا لِمَنْ نَزَلَ بِهِ الْمَوْتُ وَعَقْلُهُ مَعَهُ كَيْفَ لا يَصِفُهُ، فَصِفْ لَنَا الْمَوْتَ وَعَقْلُكُ مَعَكَ، فَقَالَ: يَا بُنَيَّ الْمَوْتُ أَجَلُّ مِنْ أَنْ يُوصَفَ، وَلَكِنِّي سَأَصِفُ لَكَ مِنْهُ شَيْئًا، أَجِدُنِي كَأَنَّ عَلَى عُنُقِي جِبَالُ رَضْوَى، وَأَجِدُنِي كَأَنَّ فِي جَوْفِي شَوْكَ السِّلاءِ، وَأَجِدُنِي كَأَنَّ نَفَسِي يَخْرُجُ مِنْ ثَقْبِ إِبْرَةٍ

 

Telah berkabar kepada kami Hisyam bin Muhammad bin as-Sa-ib al-Kalbi, dari ‘Awanah bin al-Hakam, dia berkata:

‘Amr bin al-‘Ash berkata, “Aku heran terhadap orang yang didatangi oleh kematian dan akalnya masih bersamanya, kenapa dia tak memerikan bagaimana rasa kematian itu.” (Hingga) ketika kematian menghampiri ‘Amr bin al-Ash, berkatalah putranya, ‘Abdullah bin ‘Amr, kepadanya, “Wahai ayah, sesungguhnya dulu kau pernah mengatakan, ‘Aku heran terhadap orang yang didatangi oleh kematian dan akalnya masih bersamanya, kenapa dia tak memerikan bagaimana rasa kematian itu.’ Maka (sekarang), lukiskanlah kepada kami rasa kematian itu selagi akalmu masih membersamaimu.” ‘Amr bin al-‘Ash pun berkata, “Wahai anakku, kematian itu terlalu sulit untuk diperikan. Akan tetapi, sekurang-kurangnya akan kuperikan jua itu kepadamu. Aku merasa seakan-akan pada leherku ada gunung Radhwa. Kurasakan pula seakan-akan pada rongga tubuhku ada duri-duri yang tajam, juga seakan-akan nafas (yang kuhela) keluar melalui lubang jarum.” –SELESAI …

 

Kisah tersebut diriwayatkan pula oleh Imam al-Hakim di kitab al-Mustadrak, juga Ibn ‘Asakir di kitab Tarikh Dimasyq

ATSAR tersebut PALSU

(1) Hisyam bin Muhammad bin as-Sa-ib al-Kalbi, seorang perawi matruk. Imam ad-Daraquthni menyebutkannya di kitab adh-Dhu’afa’ wa al-Matrukin. Imam Ibn Hibban berkata di kitab al-Majruhin:

 

هشام بن محمد بن السائب أبو المنذر الكلبي من أهل الكوفة يروي عن العراقيين العجائب والأخبار التي لا أصول لها، وكان غاليًا في التشيع

 

“Hisyam bin Muhammad bin as-Sa-ib, Abu al-Mundzir al-Kalbi, dari kalangan ahli Kufah. Dia meriwayatkan dari penduduk Irak keajaiban-keajaiban dan kabar-kabar yang tak ada asal usulnya, dan dia seorang yang ghuluw dalam kesyi’ahannya.”

 

Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan:

 

هشام بن محمد بن السائب الكلبي مَن يحدث عنه؟ إنما هو صاحب سمر ونسب وما ظننت أن أحدًا يحدث عنه

 

“Hisyam bin Muhammad bin as-Sa-ib al-Kalbi, siapa yang meriwayatkan darinya? Dia hanyalah tukang hikayat dan nasab. Aku tak mengira ada seseorang yang meriwayatkan darinya.”Dhu’afa’ al-Kabir karya al-‘Uqaili …

 

(2) ‘Awanah bin al-Hakam, dikatakan oleh Ibn ‘Iraq di kitab Tanzih asy-Syari’ah al-Marfu’ah ‘an al-Akhbar asy-Syani’ah al-Maudhu’ah:

 

عوانة بن الحكم قيل: كان عثمانيًّا وكان يضع الأخبار لبني أمية

 

“’Awanah bin al-Hakam, dikatakan dia seorang ‘Utsmaniy dan memalsukan kabar-kabar untuk Bani Umayyah.”

 

Ibn Hajar al-Asqalani berkata di Lisan al-Mizan:

 

أنه كان عثمانيا فكان يضع الأخبار لبني أمية مات سنة ثمان وخمسين ومائة

 

“Bahwasanya dia seorang utsmani, memalsukan kabar-kabar untuk Bani Umayyah. Dia mati pada tahun seratus lima puluh delapan.”

 

(3) ‘Amr bin al-‘Ash –radhiyallahu ‘anhu– wafat pada tahun 43 H, sementara sebagaimana disebutkan oleh Ibn Hajar, ‘Awanah bin al-Hakam wafat pada tahun 158 H, suatu jarak waktu yang sangat jauh di antara keduanya sehingga tak mungkin keduanya bertemu … wallahu ‘alamu

-rujukan: al-Qashash al-Wahiyah (1/159), karya Syaikh ‘Ali Hasyisy al-Mishri –hafizhahullah

 

Bandung, 18 November 2014

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–