Tanda Kefaqihan Tak berpanjang Madah …

berpanjang madah

قال يحي بن سعيد القطان: لا تنظروا إلى الحديث، ولكن انظروا إلى الإسناد، فإن صح الإسناد، وإلا؛ فلا تغتروا بالحديث إذا لم يصح الإسناد

 

Yahya bin Sa’id al-Qaththan berkata, “Janganlah melihat kepada hadits sebelum kalian menelaah sanadnya. Jika sahih sanadnya, ambillah hadits itu. Namun jika tak sahih, tinggalkanlah. Janganlah kalian teperdaya oleh suatu hadits jika sanadnya tak sahih.”Siyar A’lam an-Nubala’

 

Berikut ini adalah hadits-hadits yang tidak sahih

 

Imam al-Khathib al-Baghdadi –rahimahullah– berkata di kitab al-Faqih wa al-Mutafaqqih:

 

أنا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْوَاحِدِ بْنِ أَحْمَدَ بْنِ أَحْمَدَ الطُّرَفِيُّ الْمُعَدِّلِ بِالْكَرَجِ، نا عُمَرُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مَرْدَوَيْهِ الْكَرَجِيُّ، نا أَبُو جَعْفَرِ بْنُ النَّجِيرَمِيُّ، نا أَحْمَدُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ عُمَرَ الثَّقَفِيُّ الْمُطَّوِّعِيُّ، نا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مَيْسَرَةَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :مِنْ فِقْهِ الرَّجُلِ قِلَّةُ الْكَلامِ فِيمَا لا يَعْنِيهِ

 

Telah memberitakan kepada kami Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘Abd al-Wahid bin Ahmad bin Ahmad ath-Thurafi al-Mu’addil di negeri Karaj, telah bercerita kepada kami ‘Umar bin Ibrahim bin Mardawaih al-Karaji, telah bercerita kepada kami Abu Ja’far bin an-Najirami, telah bercerita kepada kami Ahmad bin Sa’id bin ‘Umar ats-Tsaqafi al-Muthawwi’i, telah bercerita kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah, dari Ibrahim bin Maisarah, dari Anas bin Malik, dia berkata:

Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Termasuk di antara tanda kefaqihan seseorang adalah tak berpanjang kalam dalam hal-hal yang tak berfaidah baginya.”

 

HADITS tersebut PALSU

Abu Ja’far bin an-Najirami (nama yang benar adalah Aba bin Ja’far an-Najirami) adalah seorang pendusta dan dikatakan memalsukan hadits …

Kata Imam adz-Dzahabi:

 

كذاب كان بالبصرة

 

“Dia seorang pendusta, tinggal di Bashrah.”

 

Kata Imam Ibn Hibban:

 

رأيته وضع على أبي حنيفة أكثر من ثلاث مائة حديث مما لم يحدث به أبو حنيفة قط

 

“Aku melihatnya memalsukan hadits atas nama Abu Hanifah, sebanyak lebih dari tiga ratus hadits yang sama sekali tak diriwayatkan oleh Abu Hanifah.”

 

Adapun gurunya, yaitu Ahmad bin Sa’id bin ‘Umar ats-Tsaqafi al-Muthawwi’i, dia seorang perawi yang majhul

 

tentang perawi Aba bin Ja’far itu -juga gurunya, saya mengambil faidah dari tahqiq Syaikh al-Albani –rahimahullah– terhadap kitab Iqtidha’ al-‘Ilm al-‘Amal karya al-Khathib al-Baghdadi –rahimahullah (halaman 19) …

 

*

**

 

Imam at-Tirmidzi berkata di kitab Sunan-nya:

 

حَدَّثَنَا أحمدُ بنُ نصرٍ النَّيسابوريُّ وغيرُ واحدٍ قالوا أخبرنا أبو مُسهرٍ عن إسماعيلَ بنِ عبدِ اللهِ بنِ سماعَةَ عن الأوزاعيِّ عن قُرَّةَ عن الزُّهريِّ عن أبي سَلَمَةَ عن أبي هُرَيرَةَ قال: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلِيهِ وسَلَّم: من حُسنِ إسلامِ المرءِ تَركهُ ما لا يُعنيهِ

 

Telah bercerita kepada kami Ahmad bin Nashr an-Naisaburi dan selainnya, mereka sama mengatakan: telah berkabar kepada kami Abu Mushir dari Isma’il bin ‘Abdillah bin Sama’ah, dari al-Auza’i, dari Qurrah, dari az-Zuhri, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dia berkata:

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tak bermanfaat baginya.”

 

HADITS ini LEMAH

Cacatnya ada pada perawi Qurrah bin ‘Abd ar-Rahman yang memiliki kelemahan pada hafalannya …

 

Abu Hatim mengatakan:

 

ليس بقوي

 

“Bukan perawi yang kuat.”

 

Abu Zur’ah mengatakan:

 

الأحاديث التي يرويها مناكير

 

“Hadits-hadits yang diriwayatkannya mungkar.”

 

Yahya bin Ma’in mengatakan:

 

ضعيف الحديث

 

“Perawi yang lemah.”

 

Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan:

 

منكر الحديث جدًّا

 

“Haditsnya sangat mungkar.”

 

Ibn Hajar mengatakan:

 

صدوق له مناكير

 

“Jujur, memiliki hadits-hadits mungkar.”

 

Ibn Hibban menyebutkannya di kitab ats-Tsiqat, dan Imam al-Auza’i mengatakan:

 

ما أحد أعلم بالزهري من قرة بن عبد الرحمن

 

“Tidak ada seorang pun yang lebih mengetahui tentang az-Zuhri dibandingkan Qurrah bin ‘Abd ar-Rahman.”

 

Akan tetapi, bukanlah yang dimaksud oleh al-Auza’i itu bahwa Qurrah bin ‘Abd ar-Rahman paling mengetahui riwayat az-Zuhri, melainkan maksudnya adalah bahwa Qurrah bin ‘Abd ar-Rahman itu paling mengetahui perihal dan keadaan az-Zuhri … wallahu a’lamu

 

Selain itu, riwayat Qurrah bin ‘Abd ar-Rahman ini menyelisihi periwayatan ash-hab az-Zuhri lainnya seperti Malik, Ma’mar, ‘Ubaidullah bin ‘Umar, Ziyad bin Sa’d, dan lain-lain, yang semuanya memursalkan hadits ini, yakni meriwayatkan dari az-Zuhri, dari ‘Ali bin al-Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib (yakni Zain al-‘Abidin), bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam … –yakni secara mursal karena ‘Ali bin al-Husain tidak bertemu dengan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam

 

Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini –hafizhahullah– berkata:

 

هذا مرسل ، ولذلك صحح المرسل في هذا الحديث أئمة كبار مثل البخاري في التاريخ الكبير ، مثل الترمذي في سننه لما رواه ، كالعُقيلي في كتاب الضعفاء ، الدار قطني قي العلل ، البيهقي في شعب الإيمان … وغيرهم من أهل العلم الكبار من المتقدمين والمتأخرين ضعفوا هذا الحديث بالإرسال ، إنما الإسناد الموصول الذي قلت لكم عليه في الأول رواه قُرة بن عبد الرحمن عن الزُهري عن أبي سَلمة عن أبي هريرة هذا حديث معلٌ بالمخالفات

 

Ini adalah mursal. Oleh karena itu, para ulama besar menganggap bahwa yang benar adalah riwayat yang mursal, semisal al-Bukhari di kitab at-Tarikh al-Kabir, at-Tirmidzi di kitab Sunan-nya tatkala meriwayatkan hadits ini, juga seperti al-‘Uqaili di kitab adh-Dhu’afa’, ad-Daraquthni di kitab al-‘Illal, al-Baihaqi di kitab Syu’ab al-Iman … dan selain mereka dari kalangan ulama besar terdahulu maupun terkemudian. Mereka semua melemahkan hadits ini dikarenakan sanadnya mursal. Sanad yang bersambung sebagaimana yang kukatakan kepada kalian di awal pembahasan hanyalah diriwayatkan oleh Qurrah bin ‘Abd ar-Rahman, dari az-Zuhri, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dan hadits (dengan sanad bersambung ini) cacat karena menyelisihi periwayatan (ash-hab az-Zuhri lainnya).”

 

Bandung, 15 November 2014

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–