Awal Kata dari ad-Daraquthni …

daraquthni

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا حَرَجَ وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّار

 

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, Sampaikanlah (yang datang) dariku meski hanya satu ayat, dan ceritakanlah (kabar-kabar) dari Bani Israil tanpa harus merasa berat. Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” (HR. al-Bukhari)

 

وقال الدار قطني في مقدمة كتاب الضعفاء والمتروكين :

توعد -صلى الله عليه وسلم- بالنار من كذب عليه بعد أمره بالتبليغ عنه، ففي ذلك دليل على أنه إنما أمرَ أن يُبلَّغ عنه الصحيح دون السقيم، والحق دون الباطل، لا أن يُبلَّغ عنه جميع ما رُوي، لأنه قال -صلى الله عليه وسلم-: كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ أخرجه مسلم من حديث أبي هريرة.

فمن حدث بجميع ما سمع من الأخبار المروية عن النبي -صلى الله عليه وسلم- ولم يميز صحيحها وسقيمها، وحقها من باطلها؛ باء بالإثم، وخيف عليه أن يدخل في جملة الكاذبين على رسول الله -صلى الله عليه وسلم-، بحكم رسول الله -صلى الله عليه وسلم- أنه منهم في قوله: مَنْ حَدَّثَ عَنِّي بِحَديثٍ يَرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الكاذبين فظاهر هذا الخبر دال على أن كل من روى عن النبي -صلى الله عليه وسلم- حديثاً وهو شاك فيه أصحيح أو غير صحيح يكون كأحد الكاذبين لأنه -صلى الله عليه وسلم- قال:” مَنْ حَدَّثَ عَنِّي بِحَديثٍ يَرَى أَنَّهُ كَذِبٌ .. » ولم يقل: وهو يستيقن أنه كذب” . اهـ

 

Imam ad-Daraquthni berkata dalam mukadimah kitab adh-Dhu’afa wa al-Matrukin:

 

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– memberi ancaman neraka kepada orang yang berdusta atas nama beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– setelah beliau memerintah untuk menyampaikan (kabar) dari beliau. Maka di dalam hal tersebut terdapat dalil bahwa beliau hanya memerintahkan (kepada seseorang) untuk menyampaikan kabar yang sahih dari beliau dan bukan kabar yang berpenyakit, juga menyampaikan kabar yang benar bukan yang batil. (Artinya), bukan menyampaikan semua kabar yang (katanya) diriwayatkan dari beliau karena beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sendiri telah mengatakan, Cukuplah seseorang dikatakan pendusta jika dia menceritakan setiap hal yang didengarnya.” –dikeluarkan oleh Muslim dari hadits Abu Hurairah …

Maka siapa pun yang menceritakan semua yang didengarnya berupa kabar-kabar yang diriwayatkan dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tanpa memilah antara yang sahih dan yang berpenyakit, juga yang benar dari yang batil, niscaya dia memikul dosa. Selain itu, ditakutkan pula bahwa dirinya termasuk di antara orang-orang yang berdusta atas nama Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berdasarkan penghukuman Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bahwasanya dia termasuk di antara mereka yang disebutkan dalam sabdanya, Siapa yang menceritakan dariku suatu hadits yang menurut dugaannya hadits tersebut dusta, maka dia termasuk salah seorang di antara para pendusta.” Secara zahir, kabar ini menunjukkan bahwa semua yang meriwayatkan hadits dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara dirinya merasa syak (sangsi) atas kesahihan atau ketidaksahihannya, maka tak ubahnya dia seperti salah seorang di antara para pendusta. Hal itu dikarenakan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– telah mengatakan, Siapa yang menceritakan dariku suatu hadits yang menurut dugaannya hadits tersebut dusta, maka dia termasuk salah seorang di antara para pendusta,” dan beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tidak mengatakan, “Siapa yang menceritakan dariku suatu hadits sementara dia merasa yakin bahwa hadits tersebut dusta, maka dia termasuk salah seorang di antara para pendusta.” –SELESAI … -kitab adh-Dhu’afa’ wa al-Matrukin, dengan tahqiq: Syaikh Muhammad bin Luthfi ash-Shabagh (9) …

 

Bandung, 21 November 2014

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements