Tentang Tenggelam di Ngarai Pendapat dan Akal …

ngarai pendapat

Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali al-Halabi al-Atsari –hafizhahullah

Majalah al-Ashalah, edisi pertama, 15 Rabi’ ats-Tsani 1413 Hijriyah …

 

 

كثر من الناس يعيشون حياتهم مرضى٬ تائهين ضائعين٬ يبحثون عن دواء لأدوائهم فلا يجدون٬ وينظرون إلى سبيل منها يمرّون٬ فلا يُميِّزون! والدواء أمامهم٬ والعلاج بين أيديهم٬ إنه العلم …

 

Kebanyakan manusia merenangi kehidupan dalam keadaan sakit. Mereka tersesat dan kehilangan arah. Mereka mencari obat untuk penyakit yang mereka derita tetapi tak jua mendapatinya. Mereka memandang jalan yang mereka tapaki tetapi tak mampu membedakan. Padahal obat yang mereka cari itu ada di depan mereka, Obat itu ada di hadapan mereka. Obat itu adalah ilmu …

 

قال الإمام الذهبي المتوفى سنة (٧٤٨ه): ((من مرض قلبه بشكوك ووساوس لا تزول إلا بسؤال أهل العلم؛ فليتعلّم من الحق ما يدفع عنه ذلك٬ ولا يُمعِن. وأكبر أدويته الإفتقار إلى الله٬ والإستغاثة به٬ فليكرّر هذا الدعاء٬ وليكثر منه:

 

Imam adz-Dzahabi -wafat tahun 748 H- berkata:

Barang siapa yang kalbunya tertimpa sakit oleh keraguan dan kebimbangan, tidaklah semua itu bisa hilang kecuali dengan bertanya kepada ahli ilmu. Hendaklah dia mempelajari kebenaran yang dapat menghilangankan penyakitnya itu dan janganlah dia mengingkarinya. Dan sebesar-besar obat baginya adalah berendah diri sebagai orang yang sangat butuh kepada Allah, meminta pertolongan Nya, dan senantiasa mengulang-ulang doa berikut:

 

اللهم رب جبريل٬ وميكائيل٬ وإسرافيل٬ مُنزِّلَ التوراة والإنجيل٬ اهدني لما اخْتُلِفَ فيه من الحق بإذنك٬ إنّك تهدي من تشاء إلى صراط المستقيم – وقد روى مسلم (٧٧٠) نحوه مرفوعاً.

 

Ya Allah, Rabb Jibril, Mikail, dan Israfil. Rabb yang menurunkan Taurat dan Injil. Tunjukilah aku kepada kebenaran dengan izin-Mu dalam hal yang diperselisihkan. Sesungguhnya Kau memberi petunjuk kepada siapa pun yang Kau kehendaki kepada jalan yang lurus.” –Imam Muslim meriwayatkan pula yang seperti ini di kitab Shahih (770) …

 

وليجدّد التوبة والإستغفار٬ وليسأل الله تعالى اليقين والعافية٬ فإنه –إن شاء الله- لا ينقضي عنه أيام إلا وقد عوفي –إن شاء الله- من المرضه٬ وسلم له توحيده٬ واستراح من الدخول في علم الكلام٬ الذي –والله العظيم- تُعَلُّمُه لِدَرءِ دائه مُوَلِّدُ له أدواء عديدة ربّما قتلته!! بل لا تقع كثرة الشكوك إلا لمن اشتغل بعلم الكلام والحكمة –والحكمة هنا باب من أبواب الفلسفة وليست الحكمة المحمودة في الكتاب والسنة.

 

Juga hendaknya dia memperbarui taubat, senantiasa memohon ampunan, dan meminta keyakinan dan kesehatan kepada Allah –ta’ala. Dengan hal itu, insya Allah, tidaklah hari-harinya akan berlalu melainkan dirinya dalam keadaan sehat dari penyakit yang dideritanya, insya Allah. Allah pun akan menyelamatkan ketauhidannya, menyelamatkannya dari keterjerumusan ke dalam ilmu kalam (filsafat), yaitu ilmu yang –demi Allah yang Maha Agung- apabila dipelajari untuk mengobati penyakitnya, justru hal itu akan melahirkan beragam penyakit lain yang boleh jadi malah membinasakannya. Bahkan sejatinya, tidaklah kebanyakan keraguan-raguan itu akan menimpa kecuali terhadap orang yang sibuk dengan ilmu kalam dan hikmah … –dan hikmah yang dimaksud di sini oleh Imam adz-Dzahabi adalah salah satu bab di antara bab-bab dalam ilmu filsafat, bukan hikmah terpuji dalam al-Quran dan as-Sunnah …

 

فدواء هذه: رمي هذه الأشياء المهلكة٬ والإعراض عنها بالكليّة٬ والإقبال على كثرة التلاوة والصلاة والدعاء والخوف. فأنا الزعيم –أي كفيل– له بأن يخلص له توحيده٬ ويعافيه مولاه. وإن لم يستعمل هذا الدواء٬ والداوى الداء بالداء٬ وغرق في أودية الآراء والعقول٬ فقد يسلم٬ وقد يهلك! وقد يتعلّل إلى أن يموت –مسائل في طلب العلم (ص ٢٠٢-٢٠٣)

 

Maka dalam hal ini, obat adalah melemparkan perkara-perkara yang membinasakan ini (yakni ilmu kalam –pent), berpaling dari semua itu secara menyeluruh seraya memperbanyak membaca al-Quran, shalat, berdoa, juga takut kepada-Nya. Maka aku menanggung –yakni menjamin– baginya bahwa Maula-nya (Allah) akam memurnikan tauhidnya dan mengaruniakan kesehatan kepadanya. (Sebaliknya), jika dia tidak mempergunakan obat ini, dan malah mengobati penyakitnya dengan penyakit, tenggelam di ngarai pendapat dan akal, maka bisa jadi dia selamat, bisa jadi binasa, dan bisa jadi pula sibuk dengan penyakitnya hingga mati … Masa-il fi Thalab al-‘Ilm li adz-Dzahabi (halaman 202-203) …

 

وعن أبي الدرداء رضي الله عنه٬ قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((إن العلماء ورثة الأنبياء٬ إن الأنبياء لم يُوَرِّثوا ديناراً ولا درهماً٬ وأورثوا العلم٬ فمن أخذه أخد بحظ وافر –رواه أبو داود (٣٦٤١) و (٣٦٤٢)٬ من طريقين يقوي أحدهما الآخر.

 

Dan dari Abu ad-Darda’ –radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam– berkata, Sesungguhnya para ulama itu orang-orang yang mewarisi para nabi, sedangkan para nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham. Namun, para nabi itu mewariskan ilmu. Maka barang siapa mengambilnya, sungguh dia memperoleh kemakmuran melimpah-limpah.” –diriwayatkan oleh Abu dawud (3641) dan (3642), dari dua jalan yang keduanya saling menguatkan yang lainnya …

 

قال الإمام ابن حبان المتوفي سنة (٣٥٤ه): في هذا الحديث بيان واضح أن العلماء الذين لهم الفضل الذي ذكرناه٬ هم الذين يعلّمون علم النبي صلى الله عليه وسلم٬ دون غيره من سائر العلوم. ألا تراه يقول: (العلماء ورثة الأنبياء)٬ والأنبياء لم يورّثوا إلا العلم٬ وعلم نبينا صلى الله عليه وسلم سنّته٬ فمن تعرّى عن معرفتها لم يكن من ورثة الأنبياء –الإحسان في تقريب صحيح ابن حبّان (١/٢٩١).

 

Imam Ibn Hibban -wafat tahun 354 Hijriyah- berkata:

Dalam hadits ini terdapat penjelasan yang terang bahwa para ulama -yaitu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang telah kami sebutkan, mereka itu mengajarkan ilmu Nabi –shallallahu alahi wa sallam, bukan ilmu-ilmu lainnya. Tidakkah kau lihat, beliau –shallallahu alahi wa sallam– mengatakan, Para ulama itu orang-orang yang mewarisi para nabi, sementara para nabi itu tidaklah mewariskan apa pun selain ilmu, dan ilmu Nabi kita –shallallahu ‘alaihi wa sallam– adalah sunnahnya. Maka barang siapa tidak mengetahui Sunnah, tidaklah dia termasuk orang yang mewarisi para nabi … al-Ihsan fi Taqrib Shahih Ibn Hibban (1/291) …

 

ومن أجمال ما قيل: العلم ميراث النبي كذا أتى بالنص والعلماء هم وراثه ما خلَّف المختار غير حديثه فينا فذاك متاعه وأثاثه –مجلة الأصالة العدد الأول ١٥ ربيع الثاني ١٤١٣ه

 

dan di antara ucapan yang indah adalah perkataan berikut:

Ilmu adalah warisan nabi. Demikianlah yang terdapat di dalam dalil. Adapun para ulama, merekalah orang-orang yang mewarisinya. Tidaklah al-Mukhtar meninggalkan bagi kita selain haditsnya, dan itulah harta bendanya … -SELESAI …

 

Bandung, 18 Desember 2014

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

Luka Ibn ‘Umar di Tengah Kezaliman …

ibn 'umar

Imam al-Bukhari –rahimahullah– berkata di kitab Shahih:

حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ بْنُ يَحْيَى أَبُو السُّكَيْنِ، قَالَ: حَدَّثَنَا المُحَارِبِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سُوقَةَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، قَالَ: كُنْتُ مَعَ ابْنِ عُمَرَ حِينَ أَصَابَهُ سِنَانُ الرُّمْحِ فِي أَخْمَصِ قَدَمِهِ، فَلَزِقَتْ قَدَمُهُ بِالرِّكَابِ، فَنَزَلْتُ، فَنَزَعْتُهَا وَذَلِكَ بِمِنًى، فَبَلَغَ الحَجَّاجَ فَجَعَلَ يَعُودُهُ، فَقَالَ الحَجَّاجُ: لَوْ نَعْلَمُ مَنْ أَصَابَكَ، فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ: «أَنْتَ أَصَبْتَنِي» قَالَ: وَكَيْفَ؟ قَالَ: «حَمَلْتَ السِّلاَحَ فِي يَوْمٍ لَمْ يَكُنْ يُحْمَلُ فِيهِ، وَأَدْخَلْتَ السِّلاَحَ الحَرَمَ وَلَمْ يَكُنِ السِّلاَحُ يُدْخَلُ الحَرَمَ

Telah bercerita kepada kami Zakariya’ bin Yahya Abu as-Sukain, dia berkata: telah bercerita kepada kami al-Muharibi, dia berkata: telah bercerita kepada kami Muhammad bin Suqah, dari Sa’id bin Jubair, dia berkata:

Aku tengah bersama Ibn ‘Umar tatkala sebilah sinan (mata lembing) mengenai lekuk telapak kakinya sampai-sampai kakinya itu menempel pada sanggurdi hewan tunggangannya. Aku pun turun dari tungganganku, lalu mencabutnya (yakni mencabut potongan besi mata lembing itu dari kakinya –pent). Peristiwa itu terjadi di Mina. Kemudian sampailah kabar tersebut ke telinga al-Hajjaj (bin Yusuf ats-Tsaqafi) sehingga dia pun menjenguk Ibn ‘Umar. Al-Hajjaj berkata, “Seandainya saja kami tahu orang yang melukaimu?” Lalu Ibn ‘Umar berkata, “Kaulah yang melukaiku!” Al-Hajjaj berkata, “Bagaimana bisa?” Ibn ‘Umar berkata, “Kau (memerintahkan pasukanmu) untuk membawa senjata di hari yang tidak diperbolehkan untuk membawa senjata. Kau juga memasukkan senjata ke tanah haram (Mekkah), padahal tidaklah diperbolehkan membawa masuk senjata ke tanah haram.” –SELESAI …

Ibn Hajar al-Asqalani –rahimahullah– berkata:

قَوْلُهُ: (فَنَزَعْتُهَا (ذَكَرَ الضَّمِيرَ مُؤَنَّثًا مَعَ أَنَّهُ أَعَادَهُ عَلَى السِّنَانِ وَهُوَ مُذَكَّرٌ لِأَنَّهُ أَرَادَ الْحَدِيدَةَ، وَيُحْتَمَلُ أَنَّهُ أَرَادَ الْقَدَمَ

Ucapan Sa’id bin Jubair, “… lalu mencabutnya. Dia menyebutkan kata ganti mu-annats (kata ganti feminin) bersamaan dengan dikembalikannya kata ganti itu kepada sinan (mata lembing) yang mudzakkar (maskulin). Hal itu dikarenakan yang dimaksud olehnya adalah al-hadidah (potongan besi dari mata lembing itu), atau bisa juga diartikan bahwa maksudnya adalah kaki (yang juga mu-annats sehingga maksudnya adalah menarik kaki Ibn ‘Umar dari mata lembing yang menancap –pent) … –SELESAI …

Imam al-Bukhari –rahimahullah– juga berkata di kitab Shahih:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يَعْقُوبَ قَالَ حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ سَعِيدِ بْنِ الْعَاصِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ دَخَلَ الْحَجَّاجُ عَلَى ابْنِ عُمَرَ وَأَنَا عِنْدَهُ فَقَالَ كَيْفَ هُوَ فَقَالَ صَالِحٌ فَقَالَ مَنْ أَصَابَكَ قَالَ أَصَابَنِي مَنْ أَمَرَ بِحَمْلِ السِّلَاحِ فِي يَوْمٍ لَا يَحِلُّ فِيهِ حَمْلُهُ يَعْنِي الْحَجَّاجَ

Telah bercerita kepada kami Ahmad bin Ya’qub, dia berkata: telah bercerita kepadaku Ishaq bin Sa’id bin ‘Amr bin Sa’id bin al-‘Ash, dari ayahnya, dia berkata:

Al-Hajjaj (bin Yusuf ats-Tsaqafi) masuk menemui Ibn ‘Umar. Saat itu aku sedang bersama Ibn ‘Umar. Berkatalah al-Hajjaj, “Bagaimana keadaannya?” Ibn ‘Umar menjawab, “Baik.” Al-Hajjaj berkata lagi, “Siapa yang melukaimu? Ibn ‘Umar menjawab, “Telah melukaiku orang yang memerintahkan untuk membawa senjata pada hari yang tidak diperbolehkan untuk membawa senjata.” Yakni al-Hajjaj … -SELESAI …

Ibn Hajar al-Asqalani berkata di kitab al-Fath al-Bari:

قَوْلُهُ: (أَصَابَنِي مَنْ أَمَرَ) هَذَا فِيهِ تَعْرِيضٌ بِالْحَجَّاجِ، وَرِوَايَةُ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ الَّتِي قَبْلَهَا مُصَرِّحَةٌ بِأَنَّهُ الَّذِي فَعَلَ ذَلِكَ، وَيُجْمَعُ بَيْنَهُمَا بِتَعَدُّدِ الْوَاقِعَةِ أَوِ السُّؤَالِ، فَلَعَلَّهُ عَرَّضَ بِهِ أَوَّلًا، فَلَمَّا أَعَادَ عَلَيْهِ السُّؤَالَ صَرَّحَ. وَقَدْ رَوَى ابْنُ سَعْدٍ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ رِجَالُهُ لَا بَأْسَ بِهِمْ أَنَّ الْحَجَّاجَ دَخَلَ عَلَى ابْنِ عُمَرَ يَعُودُهُ لَمَّا أُصِيبَتْ رِجْلُهُ فَقَالَ لَهُ: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ هَلْ تَدْرِي مَنْ أَصَابَ رِجْلَكَ؟ قَالَ: لَا. قَالَ: أَمَا وَاللَّهِ لَوْ عَلِمْتُ مَنْ أَصَابَكَ لَقَتَلْتُهُ. قَالَ فَأَطْرَقَ ابْنُ عُمَرَ فَجَعَلَ لَا يُكَلِّمُهُ وَلَا يَلْتَفِتُ إِلَيْهِ، فَوَثَبَ كَالْمُغْضَبِ .وَهَذَا مَحْمُولٌ عَلَى أَمْرٍ ثَالِثٍ كَأَنَّهُ عَرَّضَ بِهِ، ثُمَّ عَاوَدَهُ فَصَرَّحَ، ثُمَّ عَاوَدَهُ فَأَعْرَضَ عَنْهُ

Ucapan Ibn ‘Umar, “Telah melukaiku orang yang memerintahkan …,” ini adalah ucapan ta’ridh (sindiran/tidak terang-terangan) untuk menyebutkan al-Hajjaj. Pada riwayat sebelumnya, yakni riwayat Sa’id bin Jubair, disebutkan secara jelas dan terang-terangan bahwa dialah (al-Hajjaj) orang yang melakukannya. Dari gabungan kedua riwayat ini, (diambil kesimpulan) bahwa peristiwa atau pertanyaan yang diajukan oleh al-Hajjaj itu diajukan beberapa kali. Mungkin saja jawaban yang berupa sindiran itu diucapkan (untuk menjawab pertanyaan) yang pertama kali. Ketika al-Hajjaj bertanya untuk yang kedua kali, maka Ibn ‘Umar pun menjawab secara tegas dan terang-terangan bahwa pelakunya adalah al-Hajjaj. Ibn Sa’d pun telah meriwayatkan melalui jalur lain -dengan para perawi yang bisa diterima: bahwa al-Hajjaj masuk untuk menjenguk Ibn ‘Umar yang kakinya terluka (oleh mata lembing). Saat itu al-Hajjaj berkata, “Wahai Abu ‘Abd ar-Rahman, tahukah kau siapa yang telah melukai kakimu?” Ibn ‘Umar menjawab, “Tidak!” Al-Hajjaj berkata lagi, “Demi Allah, seandainya aku mengetahui pelakunya, niscaya akan kubunuh dia!” (Mendengar itu), Ibn ‘Umar pun diam seraya berpaling dan tak mau berbicara kepadanya. Dia terduduk marah di atas bantalnya. Maka riwayat ini diartikan sebagai jawaban untuk pertanyaan yang ketiga kalinya dari al-Hajjaj, sehingga seakan-akan Ibn ‘Umar menjawab secara sindiran pada pertanyaan pertama, “Telah melukaiku orang yang memerintahkan …,” lalu menjawab untuk pertanyaan kedua secara terang-terangan, “Kaulah yang melukaiku!” Kemudian menjawab untuk pertanyaan yang ketiga kalinya dengan jawaban, “Tidak!” seraya berpaling dari al-Hajjaj … -SELESAI …

Saya tak tahu, apakah al-Hajjaj bersengaja memerintahkan pasukannya untuk melukai (atau membunuh) Ibn ‘Umar ataukah tidak? Hanya saja saya dapati Ibn Hajar di kitab Fath al-Bari menukil suatu kisah -tanpa memberi komentar atas kesahihan kisah tersebut- sebagai berikut:

حَكَى الزُّبَيْرُ فِي الْأَنْسَابِ أَنَّ عَبْدَ الْمَلِكِ لَمَّا كَتَبَ إِلَى الْحَجَّاجِ أَنْ لَا يُخَالِفَ ابْنَ عُمَرَ شَقَّ عَلَيْهِ فَأَمَرَ رَجُلًا مَعَهُ حَرْبَةٌ يُقَالُ إِنَّهَا كَانَتْ مَسْمُومَةً فَلَصِقَ ذَلِكَ الرَّجُلُ بِهِ فَأَمَرَّ الْحَرْبَةَ عَلَى قَدَمِهِ فَمَرِضَ مِنْهَا أَيَّامًا ثُمَّ مَاتَ ، وَذَلِكَ فِي سَنَةِ أَرْبَعٍ وَسَبْعِينَ

“Az-Zubair menghikayatkan di kitab al-Ansab bahwa tatkala ‘Abd al-Malik menulis surat kepada al-Hajjaj untuk tidak menyelisihi Ibn ‘Umar, al-Hajjaj pun merasa berat untuk melakukan itu. Lalu dia memerintahkan salah seorang (dari pasukan) yang bersamanya untuk mengambil lembing –dikatakan bahwa lembing itu telah diberi racun. Lalu orang itu membubuhkan racun kepada lembing itu, lalu melemparkannya ke kaki Ibn ‘Umar. Setelah itu Ibn ‘Umar pun sakit beberapa hari karena racun itu, kemudian wafat. Itu terjadi pada tahun 74 Hijriyah.” –SELESAI …

Imam asy-Syaukani berkata di kitab Nail al-Authar setelah menyebutkan kisah yang tak dikomentari oleh Ibn Hajar itu:

وَقَدْ سَاقَ هَذِهِ الْقِصَّةَ فِي الْفَتْحِ وَلَمْ يَتَعَقَّبْهَا وَصُدُورُ مِثْلِهَا غَيْرُ بَعِيدٍ مِنْ الْحَجَّاجِ فَإِنَّهُ صَاحِبُ الْأَفَاعِيلِ الَّتِي تَبْكِي لَهَا عُيُونُ الْإِسْلَامِ وَأَهْلُهُ

Kisah ini disebutkan (oleh Ibn Hajar) di kitab al-Fath al-Bari, namun dia tidak berkomentar atasnya. Dan maksud-maksud hati seperti itu takkan jauh dari pribadi al-Hajjaj karena dia memang pelaku perbuatan-perbuatan yang membuat semua bola mata Islam dan kaum Muslimin menangis.” –SELESAI …

Ada riwayat sahih yang menyebutkan bahwa ‘Abd al-Malik memang menulis surat kepada al-Hajjaj untuk tidak menyelisihi Ibn ‘Umar. Imam al-Bukhari meriwayatkannya di kitab Shahih dengan mengatakan:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ سَالِمٍ، قَالَ كَتَبَ عَبْدُ الْمَلِكِ إِلَى الْحَجَّاجِ أَنْ لاَ يُخَالِفَ ابْنَ عُمَرَ فِي الْحَجِّ، فَجَاءَ ابْنُ عُمَرَ ـرضى الله عنهـ وَأَنَا مَعَهُ يَوْمَ عَرَفَةَ حِينَ زَالَتِ الشَّمْسُ، فَصَاحَ عِنْدَ سُرَادِقِ الْحَجَّاجِ، فَخَرَجَ وَعَلَيْهِ مِلْحَفَةٌ مُعَصْفَرَةٌ فَقَالَ مَا لَكَ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ فَقَالَ الرَّوَاحَ إِنْ كُنْتَ تُرِيدُ السُّنَّةَ‏.‏ قَالَ هَذِهِ السَّاعَةَ قَالَ نَعَمْ‏.‏ قَالَ فَأَنْظِرْنِي حَتَّى أُفِيضَ عَلَى رَأْسِي ثُمَّ أَخْرُجَ‏.‏ فَنَزَلَ حَتَّى خَرَجَ الْحَجَّاجُ، فَسَارَ بَيْنِي وَبَيْنَ أَبِي، فَقُلْتُ إِنْ كُنْتَ تُرِيدُ السُّنَّةَ فَاقْصُرِ الْخُطْبَةَ وَعَجِّلِ الْوُقُوفَ‏.‏ فَجَعَلَ يَنْظُرُ إِلَى عَبْدِ اللَّهِ، فَلَمَّا رَأَى ذَلِكَ عَبْدُ اللَّهِ قَالَ صَدَقَ‏.

Telah bercerita kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf, telah berkabar kepada kami Malik, dari Ibn Syihab, dari Salim, dia berkata: ‘Abd al-Malik menulis surat kepada al-Hajjaj untuk tidak menyelisihi Ibnu ‘Umar dalam masalah ibadah haji. Lalu Ibnu ‘Umar –radliallahu ‘anhu– datang, dan saat itu aku membersamainya pada hari ‘Arafah setelah matahari tergelincir. Ibn ‘Umar berteriak di dekat tenda al-Hajjaj. Al-Hajjaj pun keluar dengan berselubung mantel kuning. Al-Hajjaj berkata, Ada apa denganmu, wahai Abu Abd ar-Rahman? Ibn ‘Umar menjawab, “Bersegeralah bertolak jika kau ingin mengikuti Sunnah!” Al-Hajjaj berkata, “Saat inikah?” Ibn ‘Umar menjawab, “Iya, benar.” Al-Hajjaj berkata, “Tunggulah hingga kubasahi kepalaku kemudian kita berangkat.” Maka Ibn ‘Umar pun turun sampai al-Hajjaj keluar dari tendanya. Setelah itu al-Hajjaj berjalan di antara aku dan ayahku (yakni Ibn ‘Umar). Lantas aku berkata kepadanya al-Hajjaj, “Jika kau meninginkan Sunnah, maka persingkatlah khutbah dan segerakan wuquf.” Kemudian al-Hajjaj memandang ‘Abdullah (bin ‘Umar). Ketika ‘Abdullah (bin ‘Umar) melihat al-Hajjaj melihat kepadanya, dia pun berkata, “(Anakku berkata) benar.” –SELESAI …

Itulah ‘Abdullah bin ‘Umar, putra khalifah kedua, ‘Umar bin al-Khththab, dan shahabat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia melaksanakan ibadah haji bersama al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi, berwuquf bersamanya dan mendengarkan khutbah yang disampaikan oleh tiran itu. Imam adz-Dzahabi –rahimahullah– menulis tentang al-Hajjaj di kitab Siyar A’lam an-Nubala’ sebagai berikut:

أَهْلَكَهُ اللَّهُ فِي رَمَضَانَ سَنَةَ خَمْسٍ وَتِسْعِينَ. كَهْلًا، وَكَانَ ظَلُومًا، جَبَّارًا، نَاصِبِيًّا، خَبِيثًا، سَفَّاكًا لِلدِّمَاءِ، وَكَانَ ذَا شَجَاعَةٍ وَإِقْدَامٍ وَمَكْرٍ وَدَهَاءٍ، وَفَصَاحَةٍ وَبَلَاغَةٍ، وَتَعْظِيمٍ لِلْقُرْآنِ. قَدْ سُقْتُ مِنْ سُوءِ سِيرَتِهِ فِي تَارِيخِي الْكَبِيرِ، وَحِصَارَهُ لِابْنِ الزُّبَيْرِ بِالْكَعْبَةِ، وَرَمْيَهُ إِيَّاهَا بِالْمَنْجَنِيقِ، وَإِذْلَالَهُ لِأَهْلِ الْحَرَمَيْنِ، ثُمَّ وِلَايَتَهُ عَلَى الْعِرَاقِ وَالْمَشْرِقِ كُلِّهِ عِشْرِينَ سَنَةً ، وَحُرُوبَ ابْنِ الْأَشْعَثِ لَه، وَتَأْخِيرَهُ لِلصَّلَوَاتِ إِلَى أَنِ اسْتَأْصَلَهُ اللَّهُ .فَنَسُبُّهُ وَلَا نُحِبُّهُ، بَلْ نُبْغِضُهُ فِي اللَّهِ; فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ أَوْثَقِ عُرَى الْإِيمَانِ. وَلَهُ حَسَنَاتٌ مَغْمُورَةٌ فِي بَحْرِ ذُنُوبِهِ، وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ، وَلَهُ تَوْحِيدٌ فِي الْجُمْلَةِ، وَنُظَرَاءُ مِنْ ظَلَمَةِ الْجَبَابِرَةِ وَالْأُمَرَاءِ

“Allah membinasakan al-Hajjaj pada bulan Ramadhan tahun 95 Hijriyah dalam keadaan tua renta. Dia seorang yang sangat zalim lagi bengis, seorang nashibi (membenci Ahl al-Bait), seorang yang kejam lagi penumpah darah. Dia seorang berjiwa satria lagi berani, penuh tipu daya lagi cerdik. Dia seorang yang fasih, unggul dalam bahasa, juga mengangungkan al-Quran. Aku (Imam adz-Dzahabi) telah memuat sejarah hidupnya yang buruk di dalam kitabku, Tarikh al-Kabir, mengenai pengepungannya terhadap Ibn az-Zubair di Ka’bah, juga perbuatannya melempari Ka’bah dengan manjaniq (alat pelontar), penghinaannya terhadap penduduk dua tanah haram dan pengambilalihan negeri Irak dan wilayah Timur. Semua itu dilakukannya dalam rentang waktu dua puluh tahun. Selain itu, peperangannya dengan Ibn al-‘Asy’ats dan sikapnya dalam menunda-nunda shalat hingga Allah membinasakannya. Oleh karena itu, kami mencercanya dan tidak mencintainya. Bahkan kami membencinya karena Allah, karena sesungguhnya hal itu (yakni al-Wala wa al-Bara’ –pent) termasuk ikatan keimanan yang terkukuh. Al-Hajjaj memiliki kebaikan-kebaikan yang tenggelam dalam samudera dosanya -sedangkan perkaranya kembali kepada Allah, dan secara umum dia masih memiliki tauhid. Banyak lagi yang sebanding dengannya dari kalangan para pemimpin yang tiran.” –SELESAI …

Bandung, 17 Desember 2014

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Tentang Berputar Bersama al-Quran …

poros

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ :خُذُوا الْعَطَاءَ مَا دَامَ عَطَاءً، فَإِذَا صَارَ رِشْوَةً فِي الدِّينِ فَلا تَأْخُذُوهُ، وَلَسْتُمْ بِتَارِكِيهِ، يَمْنَعُكُمُ الْفَقْرَ وَالْحَاجَةَ، أَلا إِنَّ رَحَى الإِسْلامِ دَائِرَةٌ، فَدُورُوا مَعَ الْكِتَابِ حَيْثُ دَارَ، أَلا إِنَّ الْكِتَابَ وَالسُّلْطَانَ سَيَفْتَرِقَانِ، فَلا تُفَارِقُوا الْكِتَابَ، أَلا إِنَّهُ سَيَكُونُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ يَقْضُونَ لأَنْفُسِهِمْ مَا لا يَقْضُونَ لَكُمْ، إِنْ عَصَيْتُمُوهُمْ قَتَلُوكُمْ، وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ أَضَلُّوكُمْ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَيْفَ نَصْنَعُ؟ قَالَ: كَمَا صَنَعَ أَصْحَابُ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ، نُشِرُوا بِالْمَنَاشِيرِ، وَحُمِلُوا عَلَى الْخَشَبِ، مَوْتٌ فِي طَاعَةِ اللَّهِ خَيْرٌ مِنْ حَيَاةٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ

 

Dari Mu’adz bin Jabal, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Ambillah pemberian selama itu memang merupakan pemberian! Akan tetapi jika (sifat pemberian itu) telah menjadi risywah (suap/sogokan) menurut agama, janganlah kalian mengambilnya! Hanya saja dalam kenyataannya, kalian takkan bisa terlepas dari risywah. Kefaqiran dan kebutuhan membuat kalian terhalang untuk meninggalkan risywah. Ketahuilah, sesungguhnya poros Islam itu senantiasa berputar. Maka, berputarlah kalian bersama al-Quran ke arah mana pun dia berputar. Ketahuilah, sesungguhnya al-Quran dan penguasa akan terpisah. Maka, janganlah kalian terpisah dari al-Quran. Ketahuilah, sesungguhnya akan datang kepada kalian para pemimpin yang memutuskan perkara atas dasar kepentingan pribadi, bukan atas kepentingan kalian. Jika kalian tak menaati mereka, mereka akan membunuh kalian. Jika kalian menaati mereka, mereka akan menyesatkan kalian.” Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana kami harus berbuat ketika itu?” Beliau berkata, “Berbuatlah sebagaimana para sahabat ‘Isa bin Maryam berbuat (yakni menaati Allah –pent)! (Lantaran itu), mereka dipotong dengan gergaji dan diusung dengan kayu (salib). Mati dalam keadaan menaati Allah itu lebih baik daripada hidup dalam keadaan bermaksiat kepada Allah.” –SELESAI …

 

Hadits di atas merupakan hadits yang dha’if (lemah)

Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi al-Atsarihafizhahullah– berkata mengenai kelemahan hadits tersebut sebagai berikut:

 

من الأحاديث المشتهرة التي يكثر إيرادها في المواعظ والخطب،وفي المجالس والكتابات حديث: ألا إنّ رحى الإسلام دائرة،فدوروا مع الكتاب حيث دار، ألا إن الكتاب و السلطان سيفترقان،فلا تفارقوا الكتاب؟ فما هي درجة صحته وثبوته؟! فأقول: هذه قطعة من حديث رواه الطبراني (في المعجم الصغير) رقم:749، (والمعجم الكبير)20/90ــ وعنه أبو نعيم في (الحلية) 5/165ــ 166ــ، والخطيب في )تاريخه) 3/397، وأبو العلاء الهماذاني في ذكر الاعتقاد رقم 6 من طريق الوضين ابن عطاء، عن يزيد ابن مرثد، عن معاذ ابن جبل، عن النبيّ صلى الله عليه وسلم… فذكره مطولا وقال الهيثمي في (مجمع الزوائد ) 5/228و238: ويزيد ابن مرثد لم يسمع من معاذ، والوضين ابن عطاء وثقه ابن حبان وغيره، وبقية رجاله ثقات. قلت: يزيد ابن مرثد روى عنه جماعة وثقه ابن حبان،واختار ابن حجر توثيقه. لكنه لم يسمع من معاذ كما جزم به الحافظ العلائي في (جامع التحصيل) ص302 وغيره. أما الوضين ابن عطاء،فقد اختلفت فيه أقوال العلماء كما تراه في (تهذيب التهذيب) 11/120ــ121 واختاره ابن حجر أنه :(صدوق سيئ الحفظ). وإسنــاده ضعيــف

 

Di antara hadits-hadits yang telah dikenal luas dan banyak disampaikan dalam nasihat-nasihat dan ceramah-ceramah, juga disebutkan dalam majelis-majelis dan buku-buku, adalah hadits berikut, “Ketahuilah, sesungguhnya poros Islam itu senantiasa berputar. Maka, berputarlah kalian bersama al-Quran ke arah mana pun dia berputar. Ketahuilah, sesungguhnya al-Quran dan penguasa akan terpisah. Maka, janganlah kalian terpisah dari al-Quran.” Lantas bagaimana sebetulnya derajat kesahihan dan kekukuhan hadits tersebut? Maka kukatakan, ucapan itu merupakan penggalan dari hadits yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani di kitab Mu’jam ash-Shaghir (749) dan Mu’jam al-Kabir (20/90). Melalui jalan ath-Thabrani, Abu Nu’aim juga meriwayatkan hadits tersebut di kitab al-Hilyah (5/165-166). Imam al-Khathib al-Baghdadi pun meriwayatkan hadits tersebut di kitab Tarikh-nya (3/397), juga Abu al-‘Ala’ al-Hamadzani di kitab Futya wa Jawabuha fi Dzikr al-I’tiqad (6), (semua) dari jalan al-Wadhin bin ‘Atha’, dari Yazid bin Martsad, dari Mu’adz bin Jabal, dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam … -lantas disebutkan haditsnya secara panjang. Imam al-Haitsami berkata di kitab Majma’ az-Zawa-id (2/228 dan 2/238), “Yazid bin Martsad tidak mendengar dari Mu’adz bin Jabal. Al-Wadhin bin ‘Atha’ dianggap tsiqah oleh Ibn Hibban dan yang lainnya. Adapun perawi lainnya merupakan perawi yang tsiqah.” Aku (Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi) katakan, “Yazid bin Martsad itu, Jama’ah ahli hadits meriwayatkan hadits darinya, dan Ibn Hibban menganggapnya tsiqah. Ibn Hajar pun memilih untuk menganggapnya tsiqah. Akan tetapi, Yazid bin Martsad tidaklah mendengar dari Mu’adz bin Jabal sebagaimana yang ditetapkan oleh al-Hafizh al-‘Ala-iy di kitab Jami’ at-Tahshil (halaman 302), demikian juga menurut pendapat selainnya. Adapun perawi al-Wadhin bin ‘Atha’, maka para ulama berbeda pendapat mengenai perihalnya sebagaimana bisa kau lihat di kitab Tahdzib at-Tahdzib (11/120-121). Ibn Hajar memilih pendapat bahwa al-Wadhin bin ‘Atha’ itu merupakan perawi yang shaduq sayyi’ al-hifzh (jujur tetapi lemah hafalannya). (Dengan demikian), hadits tersebut LEMAH.” –SELESAI perkataan Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi al-Atsari –hafizhahullah

Dengan demikian, hadits tersebut dha’if (lemah) dikarenakan ada keterputusan di antara Yazid bin Martsad dengan Mu’adz bin Jabal –radhiyallahu ‘anhu. Juga karena adanya perawi al-Wadhin bin ‘Atha’ yang dikatakan oleh Ibn Hajar, “Jujur tetapi lemah hafalannya.”

Hadits tersebut disebutkan pula oleh Ibn Hajar al-Asqalani di kitab beliau al-Muthalib al-‘Aliyah. Beliau mengeluarkannya dari Musnad Ishaq bin Rahawaih sebagai berikut:

 

قَالَ إِسْحَاقُ، أنا سُوَيْدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ الدِّمَشْقِيُّ، ثنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ يَزِيدَ بْنِ جَابِرٍ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ مَرْثَدٍ، عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ :خُذُوا الْعَطَاءَ مَا دَامَ عَطَاءً فَإِذَا صَارَ رِشْوَةً عَلَى الدِّينِ، فَلَا تَأْخُذُوا وَلَسْتُمْ بِتَارِكِيهِ، يَمْنَعُكُمْ مِنْ ذَلِكَ الْمَخَافَةُ وَالْفَقْرُ، أَلَا وَإِنَّ رَحَى الْإِيمَانِ دَائِرَةٌ، فَدُورُوا مَعَ الْكِتَابِ حَيْثُ يَدُورُ، أَلَا وَإِنَّ السُّلْطَانَ وَالْكِتَابَ سَيَفْتَرِقَانِ، فَلَا تُفَارِقُوا الْكِتَابَ. أَلَا إِنَّهُ سَيَكُونُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ، إِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ أَضَلُّوكُمْ، وَإِنْ عَصَيْتُمُوهُمْ قَتَلُوكُمْ. قَالُوا: فَكَيْفَ نَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: كَمَا صَنَعَ أَصْحَابُ عِيسَى بْنِ مَرْيَمَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ حُمِلُوا عَلَى الْخَشَبِ، وَنُشِرُوا بِالْمَنَاشِيرِ، مَوْتٌ فِي طَاعَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، خَيْرٌ مِنْ حَيَاةٍ فِي مَعْصِيَتِهِ

 

Ishaq (bin Rahawaih) berkata: telah berkabar kepada kami Suwaid bin ‘Abd al-‘Aziz ad-Dimasyqi, telah bercerita kepada kami ‘Abd ar-Rahman bin Yazid bin Jabir, dari Yazid bin Martsad, dari Mu’adz bin Jabal –radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata, “Ambillah pemberian selama itu memang merupakan pemberian! Akan tetapi jika (sifat pemberian itu) telah menjadi risywah (suap/sogokan) menurut agama, janganlah kalian mengambilnya! Hanya saja dalam kenyataannya, kalian takkan bisa terlepas dari risywah. Rasa takut akan kefaqiran membuat kalian terhalang untuk meninggalkan risywah. Ketahuilah, sesungguhnya poros iman itu senantiasa berputar. Maka, berputarlah kalian bersama al-Quran ke arah mana pun dia berputar. Ketahuilah, sesungguhnya penguasa dan al-Quran akan terpisah. Maka, janganlah kalian terpisah dari al-Quran. Ketahuilah, sesungguhnya akan datang kepada kalian para pemimpin yang apabila kalian menaati mereka, mereka akan menyesatkan kalian. Sebaliknya jika kalian tak menaati mereka, mereka akan membunuh kalian.” Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana kami harus berbuat ketika itu?” Beliau berkata, “Berbuatlah sebagaimana para sahabat ‘Isa bin Maryam –‘alaihi ash-shalah wa as-salam- berbuat (yakni menaati Allah –pent)! (Lantaran itu), mereka diusung dengan kayu (salib) dan dipotong dengan gergaji. Mati dalam keadaan menaati Allah –‘Azza wa Jalla- itu lebih baik daripada hidup dalam keadaan bermaksiat kepada-Nya.” –SELESAI …

 

Sanad hadits ini tidaklah melalui al-Wadhin bin ‘Atha’ melainkan merupakan riwayat langsung dari ‘Abd ar-Rahman bin Yazid bin Jabir dari Yazid bin Martsad. Akan tetapi, meskipun demikian, hadits ini tetaplah lemah dikarenakan alasan yang sama, yaitu perawi Yazid bin Martsad tidak mendengar dari Mu’adz bin Jabal –radhiyallahu ‘anhu. Selain itu, pada sanadnya ada kelemahan lain, yaitu perawi Suwaid bin ‘Abd al-‘Aziz ad-Dimasyqi. Imam adz-Dzahabi berkata di kitab Mizan al-I’tidal (2/252):

 

وقال البخاري: في بعض حديثه نظر. وقال أحمد وغيره: ضعيف. وعن أحمد أيضا: متروك … قال النسائي: ليس بثقة. وقال أبو حاتم: لين. وقال الدارقطني: يعتبر به

 

Imam al-Bukhari mengatakan, “Pada sebagian haditsnya ada pertimbangan.” Imam Ahmad dan selainnya mengatakan, “Suwaid dha’if,” dan dari Imam Ahmad juga, dia mengatakan, “Suwaid matruk,” … an-Nasa-i mengatakan, “Tidak tsiqah,” Abu Hatim mengatakan, “Layyin (lemah),” dan ad-Daraquthni mengatakan, “Yu’tabar bihi (haditsnya bisa dijadikan i’tibar).” –SELESAI …

 

Bagian awal hadits di atas, senada dengan hadits yang diriwayat oleh Abu Dawud sebagai berikut:

 

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ أَبِي الْحَوَارِيِّ، حَدَّثَنَا سُلَيْمُ بْنُ مُطَيْرٍ شَيْخٌ مِنْ أَهْلِ وَادِي الْقُرَى، قَالَ :حَدَّثَنِي أَبِى مُطَيْرٌ، أَنَّهُ خَرَجَ حَاجًّا حَتَّى إِذَا كَانَ بِالسُّوَيْدَاءِ إِذَا بِرَجُلٍ، قَدْ جَاءَ كَأَنَّهُ يَطْلُبُ دَوَاءً وَحُضُضًا، فَقَالَ :أَخْبَرَنِي مَن سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ وَهُوَ يَعِظُ النَّاسَ وَيَأْمُرُهُمْ وَيَنْهَاهُمْ ؟ فَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ خُذُوا الْعَطَاءَ، مَا كَانَ عَطَاءً فَإِذَا تَجَاحَفَتْ قُرَيْشٌ عَلَى الْمُلْكِ وَكَانَ عَنْ دِينِ أَحَدِكُمْ فَدَعُوهُ

 

Telah bercerita kepada kami Ahmad bin Abi al-Hawari, telah bercerita kepada kami Sulaim bin Muthair, seorang Syaikh dari kalangan penduduk Wadi al-Qura, dia mengatakan: telah bercerita kepadaku ayahku, Muthair (bin Sulaim) bahwasanya dia keluar untuk melaksnakan ibadah haji. Tatkala dia sampai di (suatu tempat bernama) as-Suwaida’, dia bertemu dengan seorang lelaki. Lelaki itu datang seakan-akan mencari obat dan hu-dhudh (sejenis obat). Lelaki itu lantas berkata: telah berkabar kepadaku seseorang yang mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pada saat melaksanakan haji wada’. Saat itu Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sedang memberi nasihat kepada manusia seraya memerintahkan mereka kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Wahai manusia, ambillah pemberian selama itu memang merupakan pemberian! Apabila kaum Quraisy telah saling berebut kekuasaan dan pemberian penguasa itu membuat agamamu (terjual), maka tinggalkanlah pemberian itu.” –SELESAI …

 

Hadits Abu Dawud ini pun tidaklah sahih. Pada sanadnya ada Muthair bin Sulaim, seorang perawi yang majhul al-hal. Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi al-Atsari –hafizhahullah– berkata tentang riwayat Abu Dawud ini ketika membahas hadits Mu’adz bin Jabal di atas:

 

ولأوله شاهد :أخرجه أبوداود 2959 ،والبيهقي 6/359،والبخاري في (التاريخ الكبير)1/235،والطبراني في (الكبير)4239،و22/294وفي سنده ضعف أيضا ،مطير ابن سليم،مجهول الحال. والحديث لا يصح

 

“Dan bagian awal hadits Mu’adz bin Jabal ini mempunyai syahid yang dikeluarkan oleh Abu Dawud (2959), al-Baihaqi (6/359), al-Bukhari di kitab at-Tarikh al-Kabir (1/235), dan ath-Thabrani di kitab Mu’jam al-Kabir (4239) dan (22/294), namun sanadnya lemah juga. Muthair bin Sulaim merupakan perawi yang majhul al-hal. Dengan demikian hadits ini tidak sahih.” –SELESAI perkataan Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi al-Atsari –hafizhahullah

 

Di kitab Taqrib at-Tahdzib, Ibn Hajar berkata sebagai berikut:

 

مطير بالتصغير ابن سليم الوادي مجهول الحال من الثالثة

 

“Muthair –dibaca dengan tashghir- Ibn Sulaim al-Wadiy seorang yang majhul al-hal, termasuk thabaqah ketiga.”

 

Wallahu a’lamu

 

Bandung, 16 Desember 2014

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–