Luka Ibn ‘Umar di Tengah Kezaliman …

ibn 'umar

Imam al-Bukhari –rahimahullah– berkata di kitab Shahih:

حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ بْنُ يَحْيَى أَبُو السُّكَيْنِ، قَالَ: حَدَّثَنَا المُحَارِبِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سُوقَةَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، قَالَ: كُنْتُ مَعَ ابْنِ عُمَرَ حِينَ أَصَابَهُ سِنَانُ الرُّمْحِ فِي أَخْمَصِ قَدَمِهِ، فَلَزِقَتْ قَدَمُهُ بِالرِّكَابِ، فَنَزَلْتُ، فَنَزَعْتُهَا وَذَلِكَ بِمِنًى، فَبَلَغَ الحَجَّاجَ فَجَعَلَ يَعُودُهُ، فَقَالَ الحَجَّاجُ: لَوْ نَعْلَمُ مَنْ أَصَابَكَ، فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ: «أَنْتَ أَصَبْتَنِي» قَالَ: وَكَيْفَ؟ قَالَ: «حَمَلْتَ السِّلاَحَ فِي يَوْمٍ لَمْ يَكُنْ يُحْمَلُ فِيهِ، وَأَدْخَلْتَ السِّلاَحَ الحَرَمَ وَلَمْ يَكُنِ السِّلاَحُ يُدْخَلُ الحَرَمَ

Telah bercerita kepada kami Zakariya’ bin Yahya Abu as-Sukain, dia berkata: telah bercerita kepada kami al-Muharibi, dia berkata: telah bercerita kepada kami Muhammad bin Suqah, dari Sa’id bin Jubair, dia berkata:

Aku tengah bersama Ibn ‘Umar tatkala sebilah sinan (mata lembing) mengenai lekuk telapak kakinya sampai-sampai kakinya itu menempel pada sanggurdi hewan tunggangannya. Aku pun turun dari tungganganku, lalu mencabutnya (yakni mencabut potongan besi mata lembing itu dari kakinya –pent). Peristiwa itu terjadi di Mina. Kemudian sampailah kabar tersebut ke telinga al-Hajjaj (bin Yusuf ats-Tsaqafi) sehingga dia pun menjenguk Ibn ‘Umar. Al-Hajjaj berkata, “Seandainya saja kami tahu orang yang melukaimu?” Lalu Ibn ‘Umar berkata, “Kaulah yang melukaiku!” Al-Hajjaj berkata, “Bagaimana bisa?” Ibn ‘Umar berkata, “Kau (memerintahkan pasukanmu) untuk membawa senjata di hari yang tidak diperbolehkan untuk membawa senjata. Kau juga memasukkan senjata ke tanah haram (Mekkah), padahal tidaklah diperbolehkan membawa masuk senjata ke tanah haram.” –SELESAI …

Ibn Hajar al-Asqalani –rahimahullah– berkata:

قَوْلُهُ: (فَنَزَعْتُهَا (ذَكَرَ الضَّمِيرَ مُؤَنَّثًا مَعَ أَنَّهُ أَعَادَهُ عَلَى السِّنَانِ وَهُوَ مُذَكَّرٌ لِأَنَّهُ أَرَادَ الْحَدِيدَةَ، وَيُحْتَمَلُ أَنَّهُ أَرَادَ الْقَدَمَ

Ucapan Sa’id bin Jubair, “… lalu mencabutnya. Dia menyebutkan kata ganti mu-annats (kata ganti feminin) bersamaan dengan dikembalikannya kata ganti itu kepada sinan (mata lembing) yang mudzakkar (maskulin). Hal itu dikarenakan yang dimaksud olehnya adalah al-hadidah (potongan besi dari mata lembing itu), atau bisa juga diartikan bahwa maksudnya adalah kaki (yang juga mu-annats sehingga maksudnya adalah menarik kaki Ibn ‘Umar dari mata lembing yang menancap –pent) … –SELESAI …

Imam al-Bukhari –rahimahullah– juga berkata di kitab Shahih:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يَعْقُوبَ قَالَ حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ سَعِيدِ بْنِ الْعَاصِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ دَخَلَ الْحَجَّاجُ عَلَى ابْنِ عُمَرَ وَأَنَا عِنْدَهُ فَقَالَ كَيْفَ هُوَ فَقَالَ صَالِحٌ فَقَالَ مَنْ أَصَابَكَ قَالَ أَصَابَنِي مَنْ أَمَرَ بِحَمْلِ السِّلَاحِ فِي يَوْمٍ لَا يَحِلُّ فِيهِ حَمْلُهُ يَعْنِي الْحَجَّاجَ

Telah bercerita kepada kami Ahmad bin Ya’qub, dia berkata: telah bercerita kepadaku Ishaq bin Sa’id bin ‘Amr bin Sa’id bin al-‘Ash, dari ayahnya, dia berkata:

Al-Hajjaj (bin Yusuf ats-Tsaqafi) masuk menemui Ibn ‘Umar. Saat itu aku sedang bersama Ibn ‘Umar. Berkatalah al-Hajjaj, “Bagaimana keadaannya?” Ibn ‘Umar menjawab, “Baik.” Al-Hajjaj berkata lagi, “Siapa yang melukaimu? Ibn ‘Umar menjawab, “Telah melukaiku orang yang memerintahkan untuk membawa senjata pada hari yang tidak diperbolehkan untuk membawa senjata.” Yakni al-Hajjaj … -SELESAI …

Ibn Hajar al-Asqalani berkata di kitab al-Fath al-Bari:

قَوْلُهُ: (أَصَابَنِي مَنْ أَمَرَ) هَذَا فِيهِ تَعْرِيضٌ بِالْحَجَّاجِ، وَرِوَايَةُ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ الَّتِي قَبْلَهَا مُصَرِّحَةٌ بِأَنَّهُ الَّذِي فَعَلَ ذَلِكَ، وَيُجْمَعُ بَيْنَهُمَا بِتَعَدُّدِ الْوَاقِعَةِ أَوِ السُّؤَالِ، فَلَعَلَّهُ عَرَّضَ بِهِ أَوَّلًا، فَلَمَّا أَعَادَ عَلَيْهِ السُّؤَالَ صَرَّحَ. وَقَدْ رَوَى ابْنُ سَعْدٍ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ رِجَالُهُ لَا بَأْسَ بِهِمْ أَنَّ الْحَجَّاجَ دَخَلَ عَلَى ابْنِ عُمَرَ يَعُودُهُ لَمَّا أُصِيبَتْ رِجْلُهُ فَقَالَ لَهُ: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ هَلْ تَدْرِي مَنْ أَصَابَ رِجْلَكَ؟ قَالَ: لَا. قَالَ: أَمَا وَاللَّهِ لَوْ عَلِمْتُ مَنْ أَصَابَكَ لَقَتَلْتُهُ. قَالَ فَأَطْرَقَ ابْنُ عُمَرَ فَجَعَلَ لَا يُكَلِّمُهُ وَلَا يَلْتَفِتُ إِلَيْهِ، فَوَثَبَ كَالْمُغْضَبِ .وَهَذَا مَحْمُولٌ عَلَى أَمْرٍ ثَالِثٍ كَأَنَّهُ عَرَّضَ بِهِ، ثُمَّ عَاوَدَهُ فَصَرَّحَ، ثُمَّ عَاوَدَهُ فَأَعْرَضَ عَنْهُ

Ucapan Ibn ‘Umar, “Telah melukaiku orang yang memerintahkan …,” ini adalah ucapan ta’ridh (sindiran/tidak terang-terangan) untuk menyebutkan al-Hajjaj. Pada riwayat sebelumnya, yakni riwayat Sa’id bin Jubair, disebutkan secara jelas dan terang-terangan bahwa dialah (al-Hajjaj) orang yang melakukannya. Dari gabungan kedua riwayat ini, (diambil kesimpulan) bahwa peristiwa atau pertanyaan yang diajukan oleh al-Hajjaj itu diajukan beberapa kali. Mungkin saja jawaban yang berupa sindiran itu diucapkan (untuk menjawab pertanyaan) yang pertama kali. Ketika al-Hajjaj bertanya untuk yang kedua kali, maka Ibn ‘Umar pun menjawab secara tegas dan terang-terangan bahwa pelakunya adalah al-Hajjaj. Ibn Sa’d pun telah meriwayatkan melalui jalur lain -dengan para perawi yang bisa diterima: bahwa al-Hajjaj masuk untuk menjenguk Ibn ‘Umar yang kakinya terluka (oleh mata lembing). Saat itu al-Hajjaj berkata, “Wahai Abu ‘Abd ar-Rahman, tahukah kau siapa yang telah melukai kakimu?” Ibn ‘Umar menjawab, “Tidak!” Al-Hajjaj berkata lagi, “Demi Allah, seandainya aku mengetahui pelakunya, niscaya akan kubunuh dia!” (Mendengar itu), Ibn ‘Umar pun diam seraya berpaling dan tak mau berbicara kepadanya. Dia terduduk marah di atas bantalnya. Maka riwayat ini diartikan sebagai jawaban untuk pertanyaan yang ketiga kalinya dari al-Hajjaj, sehingga seakan-akan Ibn ‘Umar menjawab secara sindiran pada pertanyaan pertama, “Telah melukaiku orang yang memerintahkan …,” lalu menjawab untuk pertanyaan kedua secara terang-terangan, “Kaulah yang melukaiku!” Kemudian menjawab untuk pertanyaan yang ketiga kalinya dengan jawaban, “Tidak!” seraya berpaling dari al-Hajjaj … -SELESAI …

Saya tak tahu, apakah al-Hajjaj bersengaja memerintahkan pasukannya untuk melukai (atau membunuh) Ibn ‘Umar ataukah tidak? Hanya saja saya dapati Ibn Hajar di kitab Fath al-Bari menukil suatu kisah -tanpa memberi komentar atas kesahihan kisah tersebut- sebagai berikut:

حَكَى الزُّبَيْرُ فِي الْأَنْسَابِ أَنَّ عَبْدَ الْمَلِكِ لَمَّا كَتَبَ إِلَى الْحَجَّاجِ أَنْ لَا يُخَالِفَ ابْنَ عُمَرَ شَقَّ عَلَيْهِ فَأَمَرَ رَجُلًا مَعَهُ حَرْبَةٌ يُقَالُ إِنَّهَا كَانَتْ مَسْمُومَةً فَلَصِقَ ذَلِكَ الرَّجُلُ بِهِ فَأَمَرَّ الْحَرْبَةَ عَلَى قَدَمِهِ فَمَرِضَ مِنْهَا أَيَّامًا ثُمَّ مَاتَ ، وَذَلِكَ فِي سَنَةِ أَرْبَعٍ وَسَبْعِينَ

“Az-Zubair menghikayatkan di kitab al-Ansab bahwa tatkala ‘Abd al-Malik menulis surat kepada al-Hajjaj untuk tidak menyelisihi Ibn ‘Umar, al-Hajjaj pun merasa berat untuk melakukan itu. Lalu dia memerintahkan salah seorang (dari pasukan) yang bersamanya untuk mengambil lembing –dikatakan bahwa lembing itu telah diberi racun. Lalu orang itu membubuhkan racun kepada lembing itu, lalu melemparkannya ke kaki Ibn ‘Umar. Setelah itu Ibn ‘Umar pun sakit beberapa hari karena racun itu, kemudian wafat. Itu terjadi pada tahun 74 Hijriyah.” –SELESAI …

Imam asy-Syaukani berkata di kitab Nail al-Authar setelah menyebutkan kisah yang tak dikomentari oleh Ibn Hajar itu:

وَقَدْ سَاقَ هَذِهِ الْقِصَّةَ فِي الْفَتْحِ وَلَمْ يَتَعَقَّبْهَا وَصُدُورُ مِثْلِهَا غَيْرُ بَعِيدٍ مِنْ الْحَجَّاجِ فَإِنَّهُ صَاحِبُ الْأَفَاعِيلِ الَّتِي تَبْكِي لَهَا عُيُونُ الْإِسْلَامِ وَأَهْلُهُ

Kisah ini disebutkan (oleh Ibn Hajar) di kitab al-Fath al-Bari, namun dia tidak berkomentar atasnya. Dan maksud-maksud hati seperti itu takkan jauh dari pribadi al-Hajjaj karena dia memang pelaku perbuatan-perbuatan yang membuat semua bola mata Islam dan kaum Muslimin menangis.” –SELESAI …

Ada riwayat sahih yang menyebutkan bahwa ‘Abd al-Malik memang menulis surat kepada al-Hajjaj untuk tidak menyelisihi Ibn ‘Umar. Imam al-Bukhari meriwayatkannya di kitab Shahih dengan mengatakan:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ سَالِمٍ، قَالَ كَتَبَ عَبْدُ الْمَلِكِ إِلَى الْحَجَّاجِ أَنْ لاَ يُخَالِفَ ابْنَ عُمَرَ فِي الْحَجِّ، فَجَاءَ ابْنُ عُمَرَ ـرضى الله عنهـ وَأَنَا مَعَهُ يَوْمَ عَرَفَةَ حِينَ زَالَتِ الشَّمْسُ، فَصَاحَ عِنْدَ سُرَادِقِ الْحَجَّاجِ، فَخَرَجَ وَعَلَيْهِ مِلْحَفَةٌ مُعَصْفَرَةٌ فَقَالَ مَا لَكَ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ فَقَالَ الرَّوَاحَ إِنْ كُنْتَ تُرِيدُ السُّنَّةَ‏.‏ قَالَ هَذِهِ السَّاعَةَ قَالَ نَعَمْ‏.‏ قَالَ فَأَنْظِرْنِي حَتَّى أُفِيضَ عَلَى رَأْسِي ثُمَّ أَخْرُجَ‏.‏ فَنَزَلَ حَتَّى خَرَجَ الْحَجَّاجُ، فَسَارَ بَيْنِي وَبَيْنَ أَبِي، فَقُلْتُ إِنْ كُنْتَ تُرِيدُ السُّنَّةَ فَاقْصُرِ الْخُطْبَةَ وَعَجِّلِ الْوُقُوفَ‏.‏ فَجَعَلَ يَنْظُرُ إِلَى عَبْدِ اللَّهِ، فَلَمَّا رَأَى ذَلِكَ عَبْدُ اللَّهِ قَالَ صَدَقَ‏.

Telah bercerita kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf, telah berkabar kepada kami Malik, dari Ibn Syihab, dari Salim, dia berkata: ‘Abd al-Malik menulis surat kepada al-Hajjaj untuk tidak menyelisihi Ibnu ‘Umar dalam masalah ibadah haji. Lalu Ibnu ‘Umar –radliallahu ‘anhu– datang, dan saat itu aku membersamainya pada hari ‘Arafah setelah matahari tergelincir. Ibn ‘Umar berteriak di dekat tenda al-Hajjaj. Al-Hajjaj pun keluar dengan berselubung mantel kuning. Al-Hajjaj berkata, Ada apa denganmu, wahai Abu Abd ar-Rahman? Ibn ‘Umar menjawab, “Bersegeralah bertolak jika kau ingin mengikuti Sunnah!” Al-Hajjaj berkata, “Saat inikah?” Ibn ‘Umar menjawab, “Iya, benar.” Al-Hajjaj berkata, “Tunggulah hingga kubasahi kepalaku kemudian kita berangkat.” Maka Ibn ‘Umar pun turun sampai al-Hajjaj keluar dari tendanya. Setelah itu al-Hajjaj berjalan di antara aku dan ayahku (yakni Ibn ‘Umar). Lantas aku berkata kepadanya al-Hajjaj, “Jika kau meninginkan Sunnah, maka persingkatlah khutbah dan segerakan wuquf.” Kemudian al-Hajjaj memandang ‘Abdullah (bin ‘Umar). Ketika ‘Abdullah (bin ‘Umar) melihat al-Hajjaj melihat kepadanya, dia pun berkata, “(Anakku berkata) benar.” –SELESAI …

Itulah ‘Abdullah bin ‘Umar, putra khalifah kedua, ‘Umar bin al-Khththab, dan shahabat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia melaksanakan ibadah haji bersama al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi, berwuquf bersamanya dan mendengarkan khutbah yang disampaikan oleh tiran itu. Imam adz-Dzahabi –rahimahullah– menulis tentang al-Hajjaj di kitab Siyar A’lam an-Nubala’ sebagai berikut:

أَهْلَكَهُ اللَّهُ فِي رَمَضَانَ سَنَةَ خَمْسٍ وَتِسْعِينَ. كَهْلًا، وَكَانَ ظَلُومًا، جَبَّارًا، نَاصِبِيًّا، خَبِيثًا، سَفَّاكًا لِلدِّمَاءِ، وَكَانَ ذَا شَجَاعَةٍ وَإِقْدَامٍ وَمَكْرٍ وَدَهَاءٍ، وَفَصَاحَةٍ وَبَلَاغَةٍ، وَتَعْظِيمٍ لِلْقُرْآنِ. قَدْ سُقْتُ مِنْ سُوءِ سِيرَتِهِ فِي تَارِيخِي الْكَبِيرِ، وَحِصَارَهُ لِابْنِ الزُّبَيْرِ بِالْكَعْبَةِ، وَرَمْيَهُ إِيَّاهَا بِالْمَنْجَنِيقِ، وَإِذْلَالَهُ لِأَهْلِ الْحَرَمَيْنِ، ثُمَّ وِلَايَتَهُ عَلَى الْعِرَاقِ وَالْمَشْرِقِ كُلِّهِ عِشْرِينَ سَنَةً ، وَحُرُوبَ ابْنِ الْأَشْعَثِ لَه، وَتَأْخِيرَهُ لِلصَّلَوَاتِ إِلَى أَنِ اسْتَأْصَلَهُ اللَّهُ .فَنَسُبُّهُ وَلَا نُحِبُّهُ، بَلْ نُبْغِضُهُ فِي اللَّهِ; فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ أَوْثَقِ عُرَى الْإِيمَانِ. وَلَهُ حَسَنَاتٌ مَغْمُورَةٌ فِي بَحْرِ ذُنُوبِهِ، وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ، وَلَهُ تَوْحِيدٌ فِي الْجُمْلَةِ، وَنُظَرَاءُ مِنْ ظَلَمَةِ الْجَبَابِرَةِ وَالْأُمَرَاءِ

“Allah membinasakan al-Hajjaj pada bulan Ramadhan tahun 95 Hijriyah dalam keadaan tua renta. Dia seorang yang sangat zalim lagi bengis, seorang nashibi (membenci Ahl al-Bait), seorang yang kejam lagi penumpah darah. Dia seorang berjiwa satria lagi berani, penuh tipu daya lagi cerdik. Dia seorang yang fasih, unggul dalam bahasa, juga mengangungkan al-Quran. Aku (Imam adz-Dzahabi) telah memuat sejarah hidupnya yang buruk di dalam kitabku, Tarikh al-Kabir, mengenai pengepungannya terhadap Ibn az-Zubair di Ka’bah, juga perbuatannya melempari Ka’bah dengan manjaniq (alat pelontar), penghinaannya terhadap penduduk dua tanah haram dan pengambilalihan negeri Irak dan wilayah Timur. Semua itu dilakukannya dalam rentang waktu dua puluh tahun. Selain itu, peperangannya dengan Ibn al-‘Asy’ats dan sikapnya dalam menunda-nunda shalat hingga Allah membinasakannya. Oleh karena itu, kami mencercanya dan tidak mencintainya. Bahkan kami membencinya karena Allah, karena sesungguhnya hal itu (yakni al-Wala wa al-Bara’ –pent) termasuk ikatan keimanan yang terkukuh. Al-Hajjaj memiliki kebaikan-kebaikan yang tenggelam dalam samudera dosanya -sedangkan perkaranya kembali kepada Allah, dan secara umum dia masih memiliki tauhid. Banyak lagi yang sebanding dengannya dari kalangan para pemimpin yang tiran.” –SELESAI …

Bandung, 17 Desember 2014

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

4 comments on “Luka Ibn ‘Umar di Tengah Kezaliman …

  1. jampang says:

    terima kasih ilmunya, kang

  2. pergipagi says:

    suka banget dengan tulisan kang Hendra yang mengalir, Masya Allah.. mbok yaa dibukukan mas, gaya bahasanya dengan notasi kisah serta hikmah mengajak saya mencitrai Ustadz Ahmad Zaerofi pada dua bukunya Hidup Tak Mengenal Siaran Tunda dan Lelaki Hitam Jelek…

    satu lagi usulan boleh kang, tolong ada Glossary-nya diakhir tulisan sebagai penambah kumpulan aksara yang barangkali kita tak mengerti..

    salam kenal kembali kang yang mungkin sebelumnya kita pernah kenal sebagai bentk menghangatkan perkenalan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s