Tentang Tenggelam di Ngarai Pendapat dan Akal …

ngarai pendapat

Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali al-Halabi al-Atsari –hafizhahullah

Majalah al-Ashalah, edisi pertama, 15 Rabi’ ats-Tsani 1413 Hijriyah …

 

 

كثر من الناس يعيشون حياتهم مرضى٬ تائهين ضائعين٬ يبحثون عن دواء لأدوائهم فلا يجدون٬ وينظرون إلى سبيل منها يمرّون٬ فلا يُميِّزون! والدواء أمامهم٬ والعلاج بين أيديهم٬ إنه العلم …

 

Kebanyakan manusia merenangi kehidupan dalam keadaan sakit. Mereka tersesat dan kehilangan arah. Mereka mencari obat untuk penyakit yang mereka derita tetapi tak jua mendapatinya. Mereka memandang jalan yang mereka tapaki tetapi tak mampu membedakan. Padahal obat yang mereka cari itu ada di depan mereka, Obat itu ada di hadapan mereka. Obat itu adalah ilmu …

 

قال الإمام الذهبي المتوفى سنة (٧٤٨ه): ((من مرض قلبه بشكوك ووساوس لا تزول إلا بسؤال أهل العلم؛ فليتعلّم من الحق ما يدفع عنه ذلك٬ ولا يُمعِن. وأكبر أدويته الإفتقار إلى الله٬ والإستغاثة به٬ فليكرّر هذا الدعاء٬ وليكثر منه:

 

Imam adz-Dzahabi -wafat tahun 748 H- berkata:

Barang siapa yang kalbunya tertimpa sakit oleh keraguan dan kebimbangan, tidaklah semua itu bisa hilang kecuali dengan bertanya kepada ahli ilmu. Hendaklah dia mempelajari kebenaran yang dapat menghilangankan penyakitnya itu dan janganlah dia mengingkarinya. Dan sebesar-besar obat baginya adalah berendah diri sebagai orang yang sangat butuh kepada Allah, meminta pertolongan Nya, dan senantiasa mengulang-ulang doa berikut:

 

اللهم رب جبريل٬ وميكائيل٬ وإسرافيل٬ مُنزِّلَ التوراة والإنجيل٬ اهدني لما اخْتُلِفَ فيه من الحق بإذنك٬ إنّك تهدي من تشاء إلى صراط المستقيم – وقد روى مسلم (٧٧٠) نحوه مرفوعاً.

 

Ya Allah, Rabb Jibril, Mikail, dan Israfil. Rabb yang menurunkan Taurat dan Injil. Tunjukilah aku kepada kebenaran dengan izin-Mu dalam hal yang diperselisihkan. Sesungguhnya Kau memberi petunjuk kepada siapa pun yang Kau kehendaki kepada jalan yang lurus.” –Imam Muslim meriwayatkan pula yang seperti ini di kitab Shahih (770) …

 

وليجدّد التوبة والإستغفار٬ وليسأل الله تعالى اليقين والعافية٬ فإنه –إن شاء الله- لا ينقضي عنه أيام إلا وقد عوفي –إن شاء الله- من المرضه٬ وسلم له توحيده٬ واستراح من الدخول في علم الكلام٬ الذي –والله العظيم- تُعَلُّمُه لِدَرءِ دائه مُوَلِّدُ له أدواء عديدة ربّما قتلته!! بل لا تقع كثرة الشكوك إلا لمن اشتغل بعلم الكلام والحكمة –والحكمة هنا باب من أبواب الفلسفة وليست الحكمة المحمودة في الكتاب والسنة.

 

Juga hendaknya dia memperbarui taubat, senantiasa memohon ampunan, dan meminta keyakinan dan kesehatan kepada Allah –ta’ala. Dengan hal itu, insya Allah, tidaklah hari-harinya akan berlalu melainkan dirinya dalam keadaan sehat dari penyakit yang dideritanya, insya Allah. Allah pun akan menyelamatkan ketauhidannya, menyelamatkannya dari keterjerumusan ke dalam ilmu kalam (filsafat), yaitu ilmu yang –demi Allah yang Maha Agung- apabila dipelajari untuk mengobati penyakitnya, justru hal itu akan melahirkan beragam penyakit lain yang boleh jadi malah membinasakannya. Bahkan sejatinya, tidaklah kebanyakan keraguan-raguan itu akan menimpa kecuali terhadap orang yang sibuk dengan ilmu kalam dan hikmah … –dan hikmah yang dimaksud di sini oleh Imam adz-Dzahabi adalah salah satu bab di antara bab-bab dalam ilmu filsafat, bukan hikmah terpuji dalam al-Quran dan as-Sunnah …

 

فدواء هذه: رمي هذه الأشياء المهلكة٬ والإعراض عنها بالكليّة٬ والإقبال على كثرة التلاوة والصلاة والدعاء والخوف. فأنا الزعيم –أي كفيل– له بأن يخلص له توحيده٬ ويعافيه مولاه. وإن لم يستعمل هذا الدواء٬ والداوى الداء بالداء٬ وغرق في أودية الآراء والعقول٬ فقد يسلم٬ وقد يهلك! وقد يتعلّل إلى أن يموت –مسائل في طلب العلم (ص ٢٠٢-٢٠٣)

 

Maka dalam hal ini, obat adalah melemparkan perkara-perkara yang membinasakan ini (yakni ilmu kalam –pent), berpaling dari semua itu secara menyeluruh seraya memperbanyak membaca al-Quran, shalat, berdoa, juga takut kepada-Nya. Maka aku menanggung –yakni menjamin– baginya bahwa Maula-nya (Allah) akam memurnikan tauhidnya dan mengaruniakan kesehatan kepadanya. (Sebaliknya), jika dia tidak mempergunakan obat ini, dan malah mengobati penyakitnya dengan penyakit, tenggelam di ngarai pendapat dan akal, maka bisa jadi dia selamat, bisa jadi binasa, dan bisa jadi pula sibuk dengan penyakitnya hingga mati … Masa-il fi Thalab al-‘Ilm li adz-Dzahabi (halaman 202-203) …

 

وعن أبي الدرداء رضي الله عنه٬ قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((إن العلماء ورثة الأنبياء٬ إن الأنبياء لم يُوَرِّثوا ديناراً ولا درهماً٬ وأورثوا العلم٬ فمن أخذه أخد بحظ وافر –رواه أبو داود (٣٦٤١) و (٣٦٤٢)٬ من طريقين يقوي أحدهما الآخر.

 

Dan dari Abu ad-Darda’ –radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam– berkata, Sesungguhnya para ulama itu orang-orang yang mewarisi para nabi, sedangkan para nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham. Namun, para nabi itu mewariskan ilmu. Maka barang siapa mengambilnya, sungguh dia memperoleh kemakmuran melimpah-limpah.” –diriwayatkan oleh Abu dawud (3641) dan (3642), dari dua jalan yang keduanya saling menguatkan yang lainnya …

 

قال الإمام ابن حبان المتوفي سنة (٣٥٤ه): في هذا الحديث بيان واضح أن العلماء الذين لهم الفضل الذي ذكرناه٬ هم الذين يعلّمون علم النبي صلى الله عليه وسلم٬ دون غيره من سائر العلوم. ألا تراه يقول: (العلماء ورثة الأنبياء)٬ والأنبياء لم يورّثوا إلا العلم٬ وعلم نبينا صلى الله عليه وسلم سنّته٬ فمن تعرّى عن معرفتها لم يكن من ورثة الأنبياء –الإحسان في تقريب صحيح ابن حبّان (١/٢٩١).

 

Imam Ibn Hibban -wafat tahun 354 Hijriyah- berkata:

Dalam hadits ini terdapat penjelasan yang terang bahwa para ulama -yaitu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang telah kami sebutkan, mereka itu mengajarkan ilmu Nabi –shallallahu alahi wa sallam, bukan ilmu-ilmu lainnya. Tidakkah kau lihat, beliau –shallallahu alahi wa sallam– mengatakan, Para ulama itu orang-orang yang mewarisi para nabi, sementara para nabi itu tidaklah mewariskan apa pun selain ilmu, dan ilmu Nabi kita –shallallahu ‘alaihi wa sallam– adalah sunnahnya. Maka barang siapa tidak mengetahui Sunnah, tidaklah dia termasuk orang yang mewarisi para nabi … al-Ihsan fi Taqrib Shahih Ibn Hibban (1/291) …

 

ومن أجمال ما قيل: العلم ميراث النبي كذا أتى بالنص والعلماء هم وراثه ما خلَّف المختار غير حديثه فينا فذاك متاعه وأثاثه –مجلة الأصالة العدد الأول ١٥ ربيع الثاني ١٤١٣ه

 

dan di antara ucapan yang indah adalah perkataan berikut:

Ilmu adalah warisan nabi. Demikianlah yang terdapat di dalam dalil. Adapun para ulama, merekalah orang-orang yang mewarisinya. Tidaklah al-Mukhtar meninggalkan bagi kita selain haditsnya, dan itulah harta bendanya … -SELESAI …

 

Bandung, 18 Desember 2014

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

4 comments on “Tentang Tenggelam di Ngarai Pendapat dan Akal …

  1. jampang says:

    “Para ulama itu mewarisi para nabi,” —> bukannya “Para ulama itu ahli waris para nabi,” ya kang?
    kalau mewarisi kan artinya hidup lebih awal daripada ahli waris

    • tipongtuktuk says:

      “mewarisi” itu artinya “yang mendapat warisan dari,” …

      kalau “mewariskan” artinya “memberikan warisan kepada,” …

      hadits itu sering diartikan, “Ulama adalah pewaris para nabi,” ——-> ini salah karena arti pewaris adalah orang yang mewariskan atau orang yang memberikan/meninggalkan warisan …

      begitu, Bang …:D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s