Perempuan yang Cemburu Takkan Melihat Dasar Lembah dari Puncaknya …

kecemburuan perempuan

Abu Syaikh al-Ashbahani –rahimahullah– berkata di kitab al-Amtsal fi al-Hadits:

 

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَارِثِ، ثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عُمَرَ بْنِ شَقِيقٍ، ثَنَا سَلَمَةُ بْنُ الْفَضْلِ، عَنِ ابْنِ إِسْحَاقَ، عَنْ يَحْيَى بْنِ عَبَّادِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ :خَرَجْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ، فَأَخْرَجَ مَعَهُ نِسَاءَهُ، وَكَانَ مَتَاعِي فِيهِ خِفٌّ، فَكُنْتُ عَلَى جَمَلٍ نَاجٍ، وَكَانَ مَتَاعُ صَفِيَّةَ بِنْتِ حُيَيٍّ فِيهِ ثِقَلٌ، وَكَانَتْ عَلَى جَمَلٍ بَطِيءٍ فَتَبَاطَأْنَا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: حَوِّلُوا مَتَاعَ عَائِشَةَ عَلَى جَمَلِ صَفِيَّةَ، وَحَوِّلُوا مَتَاعَ صَفِيَّةَ عَلَى جَمَلِ عَائِشَةَ لِيَمْضِيَ الرَّكْبُ، فَلَمَّا رَأَيْتُ ذَلِكَ، قُلْتُ: يَا لَعِبَادِ اللَّهِ، غَلَبَتْنَا هَذِهِ الْيَهُودِيَّةُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا أُمَّ عَبْدِ اللَّهِ إِنَّ مَتَاعَكِ كَانَ فِيهِ خِفٌّ، وَمَتَاعُ صَفِيَّةَ كَانَ فِيهِ ثِقَلٌ فَبَطَّأَ بِالرَّكْبِ، فَحَوَّلْنَا مَتَاعَكِ عَلَى بَعِيرِهَا، وَحَوَّلْنَا مَتَاعَهَا عَلَى بَعِيرِكِ، قُلْتُ: أَلَسْتَ تَزْعُمُ أَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ؟ قَالَ: فَتَبَسَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: أَفِي شَكٍّ أَنْتِ يَا أُمَّ عَبْدِ اللَّهِ؟ قُلْتُ :أَلَسْتَ تَزْعُمُ إِنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ؟ فَهَلا عَدَلْتَ؟ فَسَمِعَنِي أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَكَانَ فِيهِ ضَرْبٌ مِنْ حِدَّةٍ فَأَقْبَلَ عَلَيَّ يَلْطِمُ وَجْهِي، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَهْلا يَا أَبَا بَكْرٍ، قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَمَا سَمِعْتَ مَا قَالَتْ؟، قَالَ :إِنَّ الْغَيْرَى لا تُبْصِرُ أَسْفَلَ الْوَادِي مِنْ أَعْلاهُ

 

Telah bercerita kepada kami Muhammad bin al-Harits, telah bercerita kepada kami al-Hasan bin ‘Umar bin Syaqiq, telah bercerita kepada kami Salamah bin al-Fadhl, dari Ibn Ishaq, dari Yahya bin ‘Abbad bin ‘Abdillah bin az-Zubair, dari ayahnya, dari kakeknya, dari ‘Aisyah, dia berkata:

Aku keluar bersama Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dalam perjalanan Haji al-Wada’. Ikut keluar juga para istri beliau bersama beliau. Barang-barang bawaanku ringan dan aku berada di atas unta yang kuat, sedangkan barang-barang bawaan Shafiyyah binti Huyay berat, dan dia menunggangi unta yang lemah dan lambat sehingga memperlambat perjalanan kami. Lalu Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Pindahkan barang-barang bawaan ‘Aisyah ke atas unta Shafiyyah dan pindahkan pula barang-barang bawaan Shafiyyah ke atas unta ‘Aisyah agar kafilah bisa melanjutkan perjalanan!” Tatkala aku mengetahui hal itu, aku pun berkata, “Wahai para hamba Allah, perempuan Yahudi ini telah mengalahkan kita atas Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Maka Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Wahai Ummu ‘Abdillah (yakni ‘Aisyah –pent), barang bawaanmu ringan bagi untamu sedangkan barang bawaan Shafiyyah berat bagi untanya sehingga melambatkan laju kafilah. Oleh karena itu, kami memindahkan barang bawaannya ke atas untamu dan memindahkan bawang bawaanmu ke atas untanya.” Maka aku berkata, “Bukankah kau mengaku bahwa kau itu utusan Allah?” Maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun tersenyum (mendengar ucapanku). Beliau berkata, “Apakah kau dalam keraguan, wahai Ummu ‘Abdillah?” Aku berkata, “Bukankah kau mengaku bahwa kau itu utusan Allah? Mengapa tidak berbuat adil?” Dan Abu Bakr –radhiyallahu ‘anhu– mendengar ucapanku. Ada kemarahan pada dirinya, lalu dia mendatangiku dan menampar wajahku. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Tenanglah, wahai Abu Bakr.” Abu Bakr berkata, “Wahai Rasulullah, apakah kau tak mendengar apa yang dikatakannya?” Maka Rsulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Sesungguhnya perempuan yang cemburu takkan melihat dasar lembah dari puncaknya.” –SELESAI …

 

Abu Ya’la al-Maushili –rahimahullah– berkata di kitab Musnad-nya:

 

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عُمَرَ بْنِ شَقِيقِ بْنِ أَسْمَاءَ الْجَرْمِيُّ الْبَصْرِيُّ، حَدَّثَنَا سَلَمَةُ بْنُ الْفَضْلِ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ، عَنْ يَحْيَى بْنِ عَبَّادِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّهَا قَالَتْ: وَكَانَ مَتَاعِي فِيهِ خَفٌّ، وَكَانَ عَلَى جَمَلٍ نَاجٍ، وَكَانَ مَتَاعُ صَفِيَّةَ فِيهِ ثِقَلٌ، وَكَانَ عَلَى جَمَلٍ ثَقَالٍ بَطِيءٍ يَتَبَطَّأُ بِالرَّكْبِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: حَوِّلُوا مَتَاعَ عَائِشَةَ عَلَى جَمَلِ صَفِيَّةَ، وَحَوِّلُوا مَتَاعَ صَفِيَّةَ عَلَى جَمَلِ عَائِشَةَ حَتَّى يَمْضِيَ الرَّكْبُ، قَالَتْ عَائِشَةُ: فَلَمَّا رَأَيْتُ ذَلِكَ، قُلْتُ: يَا لَعِبَادِ اللَّهِ! غَلَبَتْنَا هَذِهِ الْيَهُودِيَّةُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَتْ: فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :يَا أُمَّ عَبْدِ اللَّهِ، إِنَّ مَتَاعَكِ كَانَ فِيهِ خَفٌّ وَكَانَ مَتَاعُ صَفِيَّةَ فِيهِ ثِقَلٌ، فَأَبْطَأَ بِالرَّكْبِ، فَحَوَّلْنَا مَتَاعَهَا عَلَى بَعِيرِكِ، وَحَوَّلْنَا مَتَاعَكِ عَلَى بَعِيرِهَا، قَالَتْ: فَقُلْتُ: أَلَسْتَ تَزْعُمُ أَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ؟ قَالَتْ: فَتَبَسَّمَ، قَالَ: أَوَ فِي شَكٍّ أَنْتِ يَا أُمَّ عَبْدِ اللَّهِ؟، قَالَتْ: قُلْتُ: أَلَسْتَ تَزْعُمُ أَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ؟ أَفَهلا عَدَلْتَ؟ وَسَمِعَنِي أَبُو بَكْرٍ وَكَانَ فِيهِ غَرْبٌ، أَيْ حِدَّةٌ، فَأَقْبَلَ عَلَيَّ فَلَطَمَ وَجْهِي، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَهْلا يَا أَبَا بَكْرٍ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَمَا سَمِعْتَ مَا قَالَتْ؟، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ الْغَيْرَى لا تُبْصِرُ أَسْفَلَ الْوَادِي مِنْ أَعْلاهُ

 

Telah bercerita kepada kami al-Hasan bin ‘Umar bin Syaqiq bin Asma’ al-Jarmi al-Bashri, telah bercerita kepada kami Salamah bin al-Fadhl, dari Muhammad bin Ishaq, dari Yahya bin ‘Abbad bin ‘Abdillah bin az-Zubair, dari ayahnya, dari ‘Aisyah, bahwasanya dia berkata:

Barang-barang bawaanku ringan dan itu berada di atas unta yang kuat, sementara barang-barang bawaan Shafiyyah berat dan itu ada di atas unta yang lemah dan lambat. Maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Pindahkan barang-barang bawaan ‘Aisyah ke atas unta Shafiyyah dan pindahkan pula barang-barang bawaan Shafiyyah ke atas unta ‘Aisyah agar kafilah bisa melanjutkan perjalanan!” Tatkala aku mengetahui hal itu, aku pun berkata, “Wahai para hamba Allah, perempuan Yahudi ini telah mengalahkan kita atas Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Wahai Ummu ‘Abdillah (yakni ‘Aisyah –pent), barang bawaanmu ringan bagi untamu sedangkan barang bawaan Shafiyyah berat bagi untanya sehingga melambatkan laju kafilah. Oleh karena itu, kami memindahkan barang bawaannya ke atas untamu dan memindahkan bawang bawaanmu ke atas untanya.” Maka aku berkata, “Bukankah kau mengaku bahwa kau itu utusan Allah?” Maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun tersenyum (mendengar ucapanku). Beliau berkata, “Apakah kau dalam keraguan, wahai Ummu ‘Abdillah?” Aku berkata, “Bukankah kau mengaku bahwa kau itu utusan Allah? Mengapa tidak berbuat adil?” Dan Abu Bakr mendengar ucapanku. Ada sikap keras pada dirinya, yakni kemarahan, lalu dia mendatangiku dan menampar wajahku. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Tenanglah, wahai Abu Bakr.” Abu Bakr berkata, “Wahai Rasulullah, apakah kau tak mendengar apa yang dikatakannya?” Maka Rsulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Sesungguhnya perempuan yang cemburu takkan melihat dasar lembah dari puncaknya.” –SELESAI …

 

Kedua hadits di atas sebetulnya hanya satu riwayat saja karena sanad Abu Syaikh itu sama dengan sanad Abu Ya’la. Gurunya Abu Syaikh al-Ashbahani menyertai gurunya Abu Ya’la al-Maushili dalam meriwayatkan hadits ini dari al-Hasan bin ‘Amr bin Syaqiq dengan sanadnya …

Hadits tersebut dha’if (lemah) karena pada sanadnya ada Salamah bin al-Fadhl dan Muhammad bin Ishaq …

Syaikh al-Albani –rahimahullah– berkata di kitab Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah (2985):

 

وهذا سند ضعيف؛ وفيه علتان:

الأولى: عنعنة ابن إسحاق؛ فقد كان يدلس.

والأخرى: ضعف سلمة بن الفضل – وهو الأبرش – قال الحافظ في التقريب: صدوق كثير الخطأ

 

Sanad hadits tersebut dha’if (lemah). Ada dua penyakit di dalamnya, yaitu (pertama): ‘an’anah Ibn Ishaq, dan dia adalah seorang perawi mudallis (suka menyamarkan periwayatan hadits), dan (kedua): kelemahan Salamah bin al-Fadhl al-Abrasy. Al-Hafizh Ibn Hajar –rahimahullah– berkata di kitab at-Taqrib, “Dia jujur tetapi sering salah.” –SELESAI …

Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini –hafizhahullah– menyatakan bahwa hadits tersebut mungkar. Beliau berkata di al-Fatwa al-Haditsiyah:

 

حديث منكر … وهذا سند ضعيف، وسلمة بن الفضل ضعّفه النسائي وغيره، وقال البخاري: (في حديثه بعض المناكير)، ومشَّاه غيرهم، وابن إسحاق مدلس، وقد عنعنه، وفي المتن نكارة ظاهرة من جهة قول عائشة: (ألست تزعم أنك رسول اللَّه …)، والحديث ضعفه البوصيري …

 

Hadits mungkar … dan sanad hadits tersebut dha’if (lemah). Salamah bin al-Fadhl dilemahkan oleh an-Nasa-i dan selainnya. Imam al-Bukhari berkata, “Dalam haditsnya ada hal-hal yang diingkari,” sedangkan Ibn Ishaq, dia perawi mudallis (suka menyamarkan periwayatan hadits), dan dalam riwayat ini dia ber-‘an-‘anah. Adapun dalam redaksi hadits, terdapat keganjilan yang jelas dari sisi ucapan ‘Aisyah, “Bukankah kau mengaku bahwa kau itu utusan Allah?” Hadits ini pun dilemahkan juga oleh al-Bushiri … -SELESAI …

Lantaran kedua penyakit itu, jelaslah bahwa hadits di atas dha’if (lemah) dan terdapat kemungkaran yang jelas dalam redaksinya. Adapun ucapan Ibn Hajar di kitab Fath al-Bari:

 

وقد أخرج أبو يعلى بسند لا بأس به عن عائشة مرفوعا أن الغيراء لا تبصر أسفل الوادي من أعلاه

 

Abu Ya’la telah mengeluarkan hadits dengan sanad yang tak ada masalah di dalamnya dari ‘Aisyah secara marfu’ bahwa, “Sesungguhnya perempuan yang cemburu takkan melihat dasar lembah dari puncaknya.” –SELESAI …

Maka dalam hal ini, Ibn Hajar telah keliru karena pada kenyataannya, sanad itu bermasalah. Oleh karena itu, Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini –hafizhahullah– berkata:

 

أما الحافظ ابن حجر فقال في الفتح (٩/٣٢٥): (إسناده لا بأس به)، وقد عرفناك ما فيه من البأس

 

Adapun al-Hafizh Ibn Hajar, dia berkata di kitab al-Fath al-Bari (9/325), “Sanadnya tidak ada masalah,” dan telah kami tunjukkan kepada kalian masalah yang terdapat dalam sanadnya … -SELESAI …

Adapun mengenai perkataan Imam al-Haitsami di kitab Majma’ az-Zaw-id:

 

وقد رواه أبو الشيخ ابن حيان في كتاب الأمثال، وليس فيه غير أسامة ابن زيد الليثي؛ وهو من رجال الصحيح؛ وفيه ضعف، وبقية رجاله ثقات

 

Abu Syaikh bin Hayyan meriwayatkan di kitab al-Amtsal, dan tidaklah di dalamnya melainkan melalui Usamah bin Zaid al-Laitsi, dan dia termasuk para perawi ash-Shahih, dan pada dirinya ada kelemahan, sedangkan para perawi lainnya adalah para perawi tepercaya … -SELESAI …

 

Perkataan al-Haitsami tersebut seolah-olah menunjukkan keberadaan sanad lain bagi riwayat tersebut (yang berbeda dengan sanad yang melalui al-Fadhl bin Salamah dari Muhammad bin Ishaq). Padahal pada kenyataannya, tidak ada dalam kitab al-Amtsal karya Abu Syaikh itu, sanad yang melalui Usamah bin Zaid al-Laitsi bagi hadits tersebut. Dan yang benar, sanad bagi riwayat di atas dalam kitab al-Amtsal itu sama dengan sanad Abu Ya’la di kitab Musnad-nya. Oleh karena itu, Syaikh al-Albani –rahimahullah– pernah berkata dalam kaitannya dengan ucapan al-Haitsami tersebut (al-Ahadits adh-Dha’ifah: 2985:

 

فأنت ترى أن إسناد أبي الشيخ هو عين إسناد أبي يعلى، بل هو رواه بالواسطة عن شيخ أبي يعلى نفسه

 

“Dan kau pun melihat bahwa sanad Abu Syaikh itu adalah sanad yang sama dengan sanad Abu Ya’la. Bahkan Abu Syaikh meriwayatkannya melalui perantaraan (gurunya) dari guru Abu Ya’la sendiri.” –SELESAI …

 

Bandung, 21 Januari 2015

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

Tentang Rakyat ‘Ali bin Abi Thalib –radhiyallahu ‘anhu …

IMG-20130816-00400

Berikut ini adalah ucapan terkenal yang disandarkan kepada ‘Ali bin Abi Thalib –radhiyallahu ‘anhutetapi sama sekali tak bertopang sanad

Ibn al-‘Imad al-‘Akari berkata di kitab Syadarat adz-Dzahab (Juz 1, halaman 226; tahqiq ‘Abd al-Qadir al-Arna-uth):

 

وروي أن رجلا قال لعلي: ما بال خلافة أبي بكر وعمر كانت صافية، وحلافتك أنت وعثمان متكدّرة؟ فقال: إن أبا بكر وعمر، كنت أنا وعثمان من أعوانهما، وكنت أنت وأمثالك من أعواني وأعوان عثمان

 

Diriwayatkan bahwa seorang lelaki berkata kepada ‘Ali bin Abi Thalib, “Kenapa pada masa kekhalifahan Abu Bakr dan ‘Umar keadaan begitu jernih, sedangkan pada masa kekhalifahanmu dan kekhalifahan ‘Utsman keadaan begitu keruh?” ‘Ali bin Abi Thalib menjawab, “Sesungguhnya pada masa kekhalifahan Abu Bakr dan ‘Umar, mereka didukung oleh orang seperti aku dan ‘Utsman, sedangkan masa kekhalifahanku dan kekhalifahan ‘Utsman, kamu dan orang sepertimulah yang menjadi pendukung kami berdua.”

 

Ibn al-‘Imad menyebutkan riwayat tersebut tanpa sanad dan sumber periwayatan

 

Dalam kitab yang lebih tua, yaitu kitab Siraj al-Muluk, Imam ath-Thurthusi menyebutkan pula kisah tersebut dengan redaksi sebagai berikut:

 

وقال عبيدة السلماني لعلي بن أبي طالب رضي الله عنه: يا أمير المؤمنين ما بال أبي بكر وعمر انطاع الناس لهما، والدنيا عليهما أضيق من شبر فاتسعت عليهما ووليت أنت وعثمان الخلافة ولم ينطاعوا لكما، وقد اتسعت فصارت عليكما أضيق من شبر؟ فقال: لأن رعية أبي بكر وعمر كانوا مثلي ومثل عثمان، ورعيتي أنا اليوم مثلك وشبهك

 

‘Ubaidah as-Salmani berkata kepada ‘Ali bin Abi Thalib –radhiyallahu ‘anhu, “Wahai Amir al-Mu’minin, kenapa pada masa kekhalifahan Abu Bakr dan ‘Umar orang-orang pada tunduk kepada mereka berdua, padahal dunia pada masa itu lebih sempit dari jengkal tangan bagi mereka berdua lalu menjadi luas, sedangkan pada saat kau dan ‘Utsman memegang tampuk kekhalifahan, orang-orang tidak tunduk kepada kalian berdua, dan dunia yang telah luas menjadi lebih sempit dari jengkal tangan?” ‘Ali bin Abi Thalib menjawab, “Karena rakyat yang dipimpin oleh Abu Bakr dan ‘Umar itu adalah orang-orang seperti aku dan ‘Utsman, sedangkan rakyat yang kupimpin saat ini adalah orang-orang semisal kamu dan yang sepertimu.”

 

Imam ath-Thurthusi pun tidak menyebutkan sanad bagi kisah tersebut, padahal jarak antara Imam ath-Thurthusi dengan masa ‘Ali bin Abi Thalib sangatlah jauh. Selain itu, sangat janggal jika ‘Ali bin Abi Thalib –radhiyallahu ‘anhu– mengatakan, “… sedangkan rakyat yang kupimpin saat ini adalah orang-orang semisal kamu dan yang sepertimu,” sementara ucapan itu ditujukan kepada ‘Ubaidah as-Salmani yang sejatinya pernah pula mengalami masa kekhalifahan Abu Bakr dan ‘Umar (yakni pernah pula menjadi rakyat pada masa kepemimpinan Abu Bakr dan ‘Umar). ‘Ubaidah as-Salmani itu masuk Islam pada masa Nubuwah tetapi belum pernah bertemu dengan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam. Imam adz-Dzahabi berkata di kitab Siyar A’lamu an-Nubala:

 

أسلم عبيدة في عام فتح مكة بأرض اليمن ، ولا صحبة له

 

“’Ubaidah masuk Islam di negeri Yaman pada tahun penaklukan kota Mekah, tetapi dia tidak memiliki shuhbah (yakni tidak termasuk shahabat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- karena tidak pernah berjumpa -pent)”

 

Ada juga beberapa redaksi penceritaan lain bagi kisah dan ungkapan tersebut, tetapi sama-sama tanpa sanad dan sumber periwayatan. Di antaranya adalah sebagai berikut:

 

سأل رجل من الخوارج علياً رضي الله عنه فقال: يا أمير المؤمنين ما لك اختلف الناس عليك وعلى عثمان واتفقوا على أبي بكر وعمر؟ فقال اتفق الناس على أبي بكر وعمر حين كان الناس أنا وعثمان، واختلف الناس علي وعلى عثمان حين كان الناس أنت وأمثالك

 

Seorang lelaki dari kalangan Khawarij bertanya kepada ‘Ali bin Abi Thalib –radhiyallahu ‘anhu, “Wahai Amir al-Mu’minin, ada apa denganmu? Kenapa manusia pada menyalahimu dan menyalahi ‘Utsman padahal mereka selalu menyepakati Abu Bakr dan ‘Umar?” ‘Ali bin Abi Thalib menjawab, “Manusia menyepakati Abu Bakr dan ‘Umar karena orang-orang (yang mereka pimpin) adalah aku dan ‘Utsman, sedangkan manusia menyalahi aku dan ‘Utsman karena orang-orang (yang kami pimpin) adalah kamu dan orang-orang seperti kamu.”

 

جاء أعرابي إلى علي رضي الله تعالى عنه فقال: ما بالك وبال أصحابك من قبلك، اختلف الناس عليك ولم يختلفوا على من كان قبلك؟ قال: لأنهم كانوا يتأمرون على أمثالي وأنا أتأمر على أمثالك

 

Seorang lelaki Badui mendatangi ‘Ali bin Abi Thalib –radhiyallahu ‘anhu– lalu berkata, “Ada apa denganmu dan dengan para sahabat sebelummu? Manusia menyalahimu padahal mereka tidak pernah menyalahi orang-orang sebelummu?” ‘Ali bin Abi Thalib menjawab, “Karena para sahabatku itu memimpin orang-orang seperti aku, sedangkan aku memimpin orang-orang sepertimu.”

 

Dengan demikian, kisah dan ucapan yang terkenal tersebut, tidak bisa dikatakan sebagai ucapan yang berasal dari ‘Ali bin Abi Thalib –radhiyallahu ‘anhu

 

Bandung, 20 Januari 2015

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–