Tetapi Memang Sudah Semestinya untuk Adil …

adil

Pertama:

 

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ كَانَ يَقُولُ: اللَّهُمَّ أَمَّا قَلْبِي فَلَا أَمْلِكُ! وَأَمَّا سِوَى ذَلِكَ ، فَأَرْجُو أَنْ أَعْدِلَ

 

Bahwasanya ‘Umar bin al-Khaththab berkata, “Ya Allah, adapun (mengenai hal yang berkaitan dengan) hatiku, maka tidaklah aku berkuasa atasnya. Adapun selain hati, maka aku berharap mampu berbuat adil.”atsar ini dha’if (lemah)

 

Kedua:

 

أنَّ النَّبيَّ صلَّى اللَّهُ عَليهِ وسلَّم كانَ يقسمُ بينَ نسائهِ فيعدلُ ويقولُ: اللَّهُمَّ! هذهِ قسمتي فيما أملكُ، فلا تَلُمني فيما تملكُ ولا أملكُ

 

Bahwasanya Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– biasa membagi (giliran bermalam dan juga nafkah) secara adil di antara para istrinya, dan beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun mengatakan, “Ya Allah, inilah pembagianku dalam hal yang kumiliki (yakni dalam hal yang mampu kulakukan). Maka janganlah Kau mencelaku dalam hal yang Kau miliki tetapi tak kumiliki (yakni hati –pent).” -Hadits dha’if (lemah)

 

*

**

 

Mengenai yang pertama, atsar ‘Umar bin al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhu– itu diriwayatkan oleh Ibn Jarir ath-Thabari –rahimahullah– di kitab tafsirnya sebagai berikut:

 

حَدَّثَنَا بِشْرٌ قَالَ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ قَالَ: حَدَّثَنَا سَعِيدٌ، عَنْ قَتَادَةَ وَحَدَّثَنَا ابْنُ بَشَّارٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الْأَعْلَى قَالَ: حَدَّثَنَا سَعِيدٌ، عَنْ قَتَادَةَ قَالَ :ذُكِرَ لَنَا أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ كَانَ يَقُولُ: اللَّهُمَّ أَمَّا قَلْبِي فَلَا أَمْلِكُ! وَأَمَّا سِوَى ذَلِكَ ، فَأَرْجُو أَنْ أَعْدِلَ

 

Telah bercerita kepada kami Bisyr, dia berkata: telah bercerita kepada kami Yazid (bin Abi ‘Arubah), dari Qatadah. Dan telah bercerita (pula) kepada kami Basysyar, dia berkata: telah bercerita kepada kami ’Abd al-A’la, dia berkata: telah bercerita kepada kami Sa’id (bin Abi ‘Arubah), dari Qatadah, dia berkata:

Disebutkan kepada kami bahwa ‘Umar bin al-Khaththab pernah berkata, “Ya Allah, adapun (mengenai hal yang berkaitan dengan) hatiku, maka tidaklah aku berkuasa atasnya. Adapun selain hati, maka aku berharap mampu berbuat adil.” –SELESAI …

 

Atsar tersebut dha’if (lemah). Qatadah tidaklah mendengar dan bertemu dengan ‘Umar bin al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhu. Memang benar bahwa di situ Qatadah mengatakan, “Disebutkan kepada kami bahwa …,” maka tidaklah diketahui orang yang mengatakan itu kepada Qatadah karena Qatadah sendiri tidak menyebutkannya. Seandainya yang memberi kabar itu adalah Anas bin Malik –radhiyallahu ‘anhu– yang memang bertemu dengan ‘Umar bin al-Khaththab dan juga Qatadah, tentulah Qatadah akan menegaskan penyebutannya … wallahu a’lamu

 

Mengenai yang kedua, maka para pemilik kitab Sunan, juga para imam hadits lainnya seperti Imam Ahmad di kitab Musnad, al-Hakim di kitab al-Mustadrak, Ibn Abi Syaibah di kitab al-Mushannaf, dan banyak lagi selain mereka, telah meriwayatkannya dari jalan Hammad bin Salamah, dari Ayyub, dari Abu Qilabah, dari ‘Abdullah bin Yazid, dari ‘Aisyah, dia berkata:

 

أنَّ النَّبيَّ صلَّى اللَّهُ عَليهِ وسلَّم كانَ يقسمُ بينَ نسائهِ فيعدلُ ويقولُ: اللَّهُمَّ! هذهِ قسمتي فيما أملكُ، فلا تَلُمني فيما تملكُ ولا أملكُ

 

Bahwasanya Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– biasa membagi (giliran bermalam dan juga nafkah) secara adil di antara para istrinya, dan beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun mengatakan, “Ya Allah, inilah pembagianku dalam hal yang kumiliki (yakni dalam hal yang mampu kulakukan). Maka janganlah Kau mencelaku dalam hal yang Kau miliki tetapi tak kumiliki (yakni hati –pent).” -Hadits dha’if (lemah)

 

Secara zhahir, sanad hadits tersebut memang sahih. Hammad bin Salamah meriwayatkannya dengan sanad yang maushul (tersambung) sampai kepada ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha. Akan tetapi, sebetulnya sanad Hammad bin Salamah tersebut tidaklah kukuh dan terbilang cacat. Hammad bin Salamah telah keliru dalam me-maushul-kan sanad tersebut. Dia telah berbeda dengan tiga orang lain yang meriwayatkan hadits tersebut secara mursal, yakni tidak sampai kepada ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha– melainkan hanya sampai kepada Abu Qilabah saja. Ketiga orang yang me-mursal-kan riwayat itu adalah (1) Hammad bin Zaid, (2) Isma’il bin ‘Ulayyah, dan (3) ‘Abd al-Wahhab ats-Tsaqafi, semuanya dari Ayyub, dari Abu Qilabah secara mursal, sementara ketiga orang itu lebih kuat dari Hammad bin Salamah. Dengan demikian, yang benar, berdasarkan periwayatan yang lebih kuat, hadits tersebut dha’if (lemah) karena mursal, yakni hanya merupakan perkataan Abu Qilabah saja …

Syaikh al-Albani –rahimahullah– pun menyatakan bahwa hadits tersebut dha’if (lemah), dan beliau berkata:

 

لكن المحققين من الأئمة قد أعلوه فقال النسائي عقبه: (أرسله حماد بن زيد) .وقال الترمذي: (هكذا رواه غير واحد عن حماد بن سلمة عن أيوب عن أبى قلابة عن عبد الله بن يزيد عن عائشة أن النبي صلى الله عليه وسلم. ورواه حماد بن زيد وغير واحد عن أيوب عن أبى قلابة مرسلا: أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقسم وهذا أصح من حديث حماد بن سلمة). وأورده ابن أبي حاتم في (اللعلل) (١/٤۲٥) من طريق حماد بن سلمة ثم قال: (فسمعت أبا زرعة يقول: (لا أعلم أحدا تابع حمادا على هذا). وأيده ابن أبي حاتم بقوله: (قلت: روى ابن علية عن أيوب عن أبى قلابة قال: كان رسول الله يقسم بين نسائه. الحديث مرسل). قلت: وصله إبن أبى شيبة. فقد اتفق حماد بن زيد وإسماعيل بن علية على إرساله. وكل منهما أحفظ وأضبط من حماد بن سلمة فروايتهما أرجح عند المخالفة لا سيما إذا اجتمعا عليها

 

Akan tetapi, para peneliti dari kalangan imam-imam hadits telah menganggap cacat riwayat tersebut. Imam an-Nasa-i berkomentar, “Hammad bin Zaid telah memursalkannya,” Imam at-Tirmidzi berkata, “Demikianlah diriwayatkan oleh lebih dari satu orang dari Hammad bin Salamah, dari Ayyub, dari Abu Qilabah, dari ‘Abdullah bin Yazid, dari ‘Aisyah, ‘Bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ (Akan tetapi), telah diriwayatkan oleh Hammad bin Zaid dan beberapa orang lainnya dari Ayyub dari Abu Qilabah secara mursal, ‘Bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- biasa membagi (giliran bermalam dan juga nafkah),’ dan riwayat yang mursal ini lebih sahih daripada hadits Hammad bin Salamah.” Dan Ibn Abi Hatim menyebutkan pula di kitab al-‘Ilal (1/425) dari jalan Hammad bin Salamah, kemudian Ibn Abi Hatim berkata, “Aku mendengar Abu Zur’ah mengatakan, ‘Aku tak mengetahui adanya penyerta bagi Hammad bin Salamah atas riwayat ini.’” Ibn Abi Hatim sendiri menguatkan ucapan Abu Zur’ah itu dengan ucapan, “Kukatakan, Ibn ‘Ulayyah meriwayatkan dari Ayyub, dari Abu Qilabah, dia berkata, ‘Bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- biasa membagi (giliran bermalam dan juga nafkah) secara adil di antara para istrinya,’ dan hadits tersebut mursal.” Aku (Syaikh al-Albani) katakan, “Ibn Abi Syaibah me-maushul-kannya, sementara Hammad bin Zaid dan Isma’il bin ‘Ulayyah telah bersepakat atas kemursalannya, dan kedua orang tersebut lebih hafal dan kuat daripada Hammad bin Salamah sehingga masing-masing riwayat mereka lebih rajih ketika ada pertentangan, apalagi jika keduanya berkumpul dalam hal tersebut.” –SELESAI …

 

Imam az-Zaila’i berkata di kitab Nashb ar-Rayyah fi Takhrij Ahadits al-Hidayah:

 

وقال في علله الكبرى وسألت محمدا عن هذا الحديث، فقال: رواه حماد بن زيد عن أيوب عن أبي قلابة مرسلا

 

Dan Imam at-Tirmidzi berkata di kitab al-‘Ilal al-Kubra, “Dan aku bertanya kepada Muhammad (yakni Imam al-Bukhari -pent) tentang hadits tersebut, lalu dia mengatakan, ‘Hadits itu diriwayatkan oleh Hammad bin Zaid dari Ayyub dari Abu Qilabah secara mursal.’” –SELESAI …

 

Imam az-Zaila’i juga menukil perkataan Imam ad-Daraquthni yang berkata di kitab al-‘Ilal mengenai hadits tersebut:

 

وقد رواه عبد الوهاب الثقفي، وابن علية عن أيوب عن أبي قلابة أن النبي صلى الله عليه وسلم كان، الحديث، والمرسل أقرب إلى الصواب

 

‘Abd al-Wahhab ats-Tsaqafi dan (Isma’il) bin ‘Ulayyah meriwayatkannya dari Ayyub dari Abu Qilabah, “Bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- biasa …,” dan riwayat yang mursal lebih dekat kepada kebenaran … -SELESAI …

 

Bandung, 16 Februari 2015

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Kekeliruan Ibn Katsir –rahimahullah …

keliru

Imam Ibn Katsir berkata di kitab al-Bidayah wa an-Nihayah sebagai berikut:

 

وفيها توفي عبدة بن عبد الرحيم قبحه الله. ذكر ابن الجوزي أن هذا الشقي كان من المجاهدين كثيرا في بلاد الروم، فلما كان في بعض الغزوات والمسلمون محاصروا بلدة من بلاد الروم إذ نظر إلى امرأة من نساء الروم في ذلك الحصن فهويها فراسلها ما السبيل إلى الوصول إليك ؟ فقالت أن تتنصر وتصعد إلي، فأجابها إلى ذلك، فما راع المسلمين إلا وهو عندها، فاغتم المسلمون بسبب ذلك غما شديدا، وشق عليهم مشقة عظيمة، فلما كان بعد مدة مروا عليه وهو مع تلك المرأة في ذلك الحصن فقالوا: يا فلان ما فعل قرآنك؟ ما فعل علمك؟ ما فعل صيامك؟ ما فعل جهادك؟ ما فعلت صلاتك ؟ فقال: اعلموا أني أنسيت القرآن كله إلا قوله (ربما يود الذين كفروا لو كانوا مسلمين ذرهم يأكلوا ويتمتعوا ويلهيهم الامل فسوف يعلمون) (الحجر: ٢-٣ )

 

Pada tahun tersebut, Abdah bin Abd ar-Rahim wafat, semoga Allah memburukkannya. Ibnul Jauzi telah menyebutkan bahwa orang celaka ini dulunya termasuk kalangan mujahidin yang banyak berjihad di negeri Romawi. Suatu waktu, dalam beberapa ekspedisi perang yang diikutinya, kaum Muslimin mengepung sebuah wilayah yang berada di bawah kekuasan Romawi. Kala itu dia melihat seorang perempuan dari kalangan perempuan-perempuan Romawi di benteng itu. Dia pun jatuh cinta dan menginginkan perempuan tersebut, lalu menyurati perempuan itu (yang isinya), “Jalan apa yang bisa menyampaikanku kepadamu?” Perempuan itu membalas, “Kau masuk agama Nasrani lalu naiklah untuk menemuiku.” Dia pun menerima ajakan perempuan itu (yakni masuk agama Nasrani –pent). Maka ketika kaum Muslimin melakukan penyerangan, dia malah bersama dengan perempuan itu. Tentu saja hal itu membuat sedih dan susah kaum Muslimin dengan kesedihan dan kesusahan yang berat. Beberapa waktu berlalu, kaum Muslimin melewati lagi (benteng tersebut) dan dia terlihat sedang bersama dengan si perempuan di benteng itu. Maka mereka (kaum Muslimin) berkata kepadanya, “Wahai Fulan, apa yang diperbuat oleh bacaan al-Quranmu? Apa yang diperbuat oleh ilmumu? Apa yang diperbuat oleh shaummu? Apa yang diperbuat oleh jihadmu? Apa yang diperbuat oleh shalatmu?” Dia pun menjawab, “Ketahuilah oleh kalian! Sesungguhnya aku telah lupa al-Quran seluruhnya kecuali firman-Nya ini: Orang-orang yang kafir itu sering kali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (QS. al-Hijr: 2-3) … -SELESAI …

 

Demikian itu ucapan Ibn Katsir –rahimahullah- di kitab al-Bidayah wa an-Nihayah, dan beliau telah keliru karena menganggap bahwa ‘Abdah bin ‘Abd ar-Rahim telah murtad lantaran jatuh cinta kepada seorang perempuan Romawi. Di situ beliau –rahimahullah– mengatakan, Pada tahun tersebut, Abdah bin Abd ar-Rahim wafat, semoga Allah memburukkannya. Ibnul Jauzi telah menyebutkan bahwa orang celaka ini dulunya …,” dan seterusnya sebagaimana disebutkan di atas …

Jelas bahwa Ibn Katsir telah keliru menukil kisah tersebut dari Ibn al-Jauzi karena dalam riwayat yang disebutkan oleh Ibn al-Jauzi, orang yang murtad itu bukanlah ‘Abdah bin ‘Abd ar-Rahim melainkan orang lain. Adapun ‘Abdah bin ‘Abd ar-Rahim, dia adalah orang yang turut serta dalam peperangan tersebut sekaligus orang yang menceritakan perihal kemurtadan orang lain tersebut …

Imam Ibn al-Jauzi meriwayatkan di kitab Muntazham fi Tarikh Muluk wa al-Umam melalui jalan Imam al-Baihaqi … -sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi di kitab Syu’ab al-Iman sebagai berikut:

 

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا الْحُسَيْنِ بْنَ أَبِي الْقَاسِمِ الْمُذَكِّرَ، يَقُولُ: سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ أَحْمَدَ بْنِ عَلِيٍّ الْجَوْهَرِيَّ، يَقُولُ: أَخْبَرَنِي أَبِي أَبُو الْعَبَّاسِ أَحْمَدُ بْنُ علي الْجَوْهَرِيِّ، قَالَ :قَالَ عَبْدَةُ بْنُ عَبْدِ الرَّحِيمِ: خَرَجْنَا فِي سَرِيَّةٍ إِلَى أَرْضِ الرُّومِ، فَصَحِبَنَا شَابٌّ لَمْ يَكُنْ فِينَا أَقْرَأُ الْقُرْآنِ مِنْهُ، وَلا أَفْقَهُ مِنْهُ وَلا أَفْرَضُ، صَائِمٌ النَّهَارَ، قَائِمٌ اللَّيْلَ، فَمَرَرْنَا بِحِصْنٍ لَمْ نُؤْمَرْ أَنْ نَقِفَ عَلَى ذَلِكَ الْحِصْنِ، فَمَالَ الرَّجُلُ مِنَّا عَنِ الْعَسْكَرِ، وَنَزَلَ بِقُرْبِ الْحِصْنِ فَظَنَنَّا أَنَّهُ يَبُولُ، فَنَظَرَ إِلَى امْرَأَةٍ مِنَ النَّصَارَى تَنْظُرُ مِنْ وَرَاءِ الْحِصْنِ فَعَشِقَهَا، فَقَالَ لَهَا بِالرُّومِيَّةِ: كَيْفَ السَّبِيلُ إِلَيْكِ؟ قَالَتْ: حِينَ تَتَنَصَّرُ، وَنَفْتَحُ لَكَ الْبَابَ وَأَنَا لَكَ، قَالَ: فَفَعَلَ، فَأُدْخِلَ الْحِصْنَ، قَالَ :فَقَضَيْنَا غَزَاتَنَا فِي أَشَدِّ مَا يَكُونُ مِنَ الْغَمِّ، كَانَ كُلُّ رَجُلٍ مِنَّا يَرَى ذَلِكَ بِوَلَدِهِ مِنْ صُلْبِهِ، ثُمَّ عُدْنَا فِي سَرِيَّةٍ أُخْرَى فَمَرَرْنَا بِهِ يَنْظُرُ مِنْ فَوْقِ الْحِصْنِ مَعَ النَّصَارَى، فَقُلْنَا: يَا فُلانُ، مَا فَعَلَ قِرَاءَتُكَ؟ مَا فَعَلَ عِلْمُكَ؟ مَا فَعَلَ صَلاتُكَ وَصِيَامُكَ؟ قَالَ: اعْلَمُوا أَنِّي نَسِيتُ الْقُرْآنَ كُلَّهُ، مَا أَذْكُرُ مِنْهُ إِلا هَذِهِ الآيَةَ رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ {٢} ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ {٣} سورة الحجر آية ٢-٣

 

Telah berkabar kepada kami Abu ‘Abdillah al-Hafizh, dia berkata: aku mendengar Abu al-Husain bin Abi al-Qasim al-Mudzakkir berkata: aku mendengar ‘Umar bin Ahmad bin ‘Ali al-Jauhari berkata: telah berkabar kepadaku Abu al-‘Abbas Ahmad bin ‘Ali, dia berkata: ‘Abdah bin ‘Abd ar-Rahim berkata:

Kami keluar dalam suatu ekspedisi perang ke wilayah Romawi. Bersama kami ada seorang pemuda yang tak seorang pun di antara kami yang lebih banyak membaca al-Quran dari padanya, tidak ada pula dari kami yang lebih faqih darinya, dia melakukan shaum pada siang hari dan melaksanakan shalat malam. Ketika kami melewati sebuah benteng yang kami tak diperintah untuk berhenti di sana, pemuda tersebut menyimpang dari pasukan dan berhenti di dekat benteng tersebut. Kami menduga pemuda itu hendak buang air. Lalu pemuda itu memandangi seorang perempuan Nasrani yang juga sedang memandang kepadanya dari balik benteng. Pemuda itu lantas jatuh cinta kepada perempuan Nasrani itu dan berkata kepada si perempuan dengan menggunakan bahasa Romawi, “Bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkanmu?” Perempuan Nasrani itu menjawab, “Saat kau masuk ke dalam agama Nasrani, maka kami akan membukakan pintu benteng untukmu dan aku menjadi milikmu.” Maka pemuda itu pun melakukannya (yakni murtad dan memeluk agama Nasrani) lalu dibawa masuk ke dalam benteng. Maka kami pun menjalani peperangan (di tempat lain –pent) dengan hati yang berselimut kesedihan. Seakan-akan masing-masing orang di antara kami memandang musibah ini (yakni kemurtadan pemuda itu) sebagai musibah yang menimpa anak sendiri (hal itu dikarenakan mereka begitu mencintai pemuda tersebut sehingga merasa sedih atas kemurtadannya –pent). Kemudian (pada waktu yang lain), kami kembali melakukan ekspedisi perang. Lagi-lagi kami melewati benteng tersebut, sementara pemuda itu memandang kami dari atas benteng bersama kaum Nasrani. Maka kami pun berkata kepadanya, “Wahai Fulan, apa yang diperbuat oleh bacaan al-Quranmu? Apa yang diperbuat oleh ilmumu? Apa yang diperbuat oleh shalat dan shaummu?” Pemuda itu menjawab, “Ketahuilah oleh kalian! Sesungguhnya aku telah lupa al-Quran seluruhnya! Tak ada yang kuingat darinya selain ayat ini: Orang-orang yang kafir itu sering kali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (QS. al-Hijr: 2-3) … -SELESAI …

Imam al-Baihaqi berkata setelah meriwayatkan kisah tersebut:

 

قَالَ الشَّيْخُ أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللَّهُ: هَكَذَا يَكُونُ حَالُ مَنْ تُدْرِكُهُ الشَّقَاوَةُ وَالْعِيَاذُ بِاللَّهِ، وَكَمَا تَقَدَّمَ ذِكْرُهُ يَكُونُ حَالُ مَنْ تُدْرِكُهُ السَّعَادَةُ، نَسْأَلُ اللَّهَ التَّوْفِيقَ وَالْعِصْمَةَ بِفَضْلِهِ

 

Syaikh Ahmad –rahimahullah– berkata, “Demikianlah keadaan orang yang mendapati kemalangan, wal ‘iyadzu billah, dan sebagaimana pula telah berlalu penyebutan tentang keadaan orang yang memperoleh kemujuran, kami memohon taufiq kepada Allah dan penjagaan dengan karunia-Nya.” … –SELESAI …

Dengan demikian, dengan melihat kisah yang disebutkan oleh Imam Ibn al-Jauzi –dan juga Imam al-Baihaqi, jelaslah bahwa ‘Abdah bin ‘Abd ar-Rahim bukanlah orang yang murtad karena jatuh cinta kepada perempuan Romawi sebagaimana anggapan Ibn Katsir –rahimahullah, dan Ibn Katsir telah keliru dalam penukilannya dari Ibn al-Jauzi –rahimahullah

Adapun perihal ‘Abdah bin ‘Abd ar-Rahim, Ibn Hajar berkata di kitab Tahdzib at-Tahdzib:

 

عبدة بن عبد الرحيم بن حسان أبو سعيد المروزي روى عن بقية والنضر بن شميل وأبي معاوية والمحاربي والفضل بن موسى السيناني … وعنه البخاري في كتاب الأدب والنسائي وأبو حاتم وأبو زرعة الدمشقي وعبد الله بن أحمد بن حنبل وابن أبي عاصم وموسى بن إسحاق الأنصاري وحرب بن إسماعيل وابن أبي الدنيا … قال أبو حاتم صدوق وقال عبد الله بن أحمد بن حنبل شيخ صالح وقال النسائي ثقة وقال في موضع آخر صدوق لا بأس به وقال أبو داود لا أحدث عنه وذكره بن حبان في الثقات وقال بن يونس قدم مصر وحدث بها ثم خرج إلي دمشق فمات بها سنة أربع وأربعين ومائتين قلت ووثقه مسلمة وذكر بن السمعاني أنه يقال له الباباني بموحدتين وبنون نسبة إلي موضع بمرو

 

‘Abdah bin ‘Abd ar-Rahim bin Hassan Abu Sa’id al-Marwazi, meriwayatkan dari Baqiyyah, an-Nadhr bin Syumail, Abu Mu’awiyah, al-Muharibi, al-Fadhl bin Musa as-Siyanani … dan yang meriwayatkan darinya adalah al-Bukhari di kitab al-Adab al-Mufrad, an-Nasa-i, Abu Hatim, Abu Zur’ah ad-Dimasyqi, ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, Ibn Abi ‘Ashim, Musa bin Ishaq al-Anshari, Harb bin Isma’il, Ibn Abi ad-Dunya … Abu Hatim berkata, “Shaduq,” dan ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata, “Syaikh Shalih,” dan an-Nasa-i berkata, “Tsiqah,” dan berkata pula di tempat lain, “Shaduq, tidak apa-apa dengannya,” dan Abu Dawud berkata, “Aku tak meriwayatkan darinya,” dan Ibn Hibban menyebutkannya di kitab ats-Tsiqat. Ibn Yunus berkata, “Datang ke Mesir dan meriwayatkan hadits di sana, kemudian pergi menuju Damaskus lalu wafat di sana pada tahun 244 Hijriyah.” Aku katakan, Maslamah menganggapnya tsiqah, dan Ibn as-Sam’ani menyebutkan bahwa dia diebut juga al-Babani, nisbat kepada suatu tempat di Marwa … -SELESAI …

 

Bandung, 12 Februari 2015

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Tentang Pintu yang Terkunci dan Orang Pertama yang Menumpahkan Darah di Muka Bumi …

pintu

Ibn Abi ad-Dunya –rahimahullah– berkata di kitab Man ‘Asya Ba’da al-Maut:

 

حَدَّثَنِي أَبُو يَعْقُوبَ التَّمِيمِيُّ يُوسُفُ بْنُ يَعْقُوبَ قَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ أَخِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ، وَابْنُ أَبِي نَاجِيَةَ، جَمِيعًا قَالا: حَدَّثَنَا زِيَادُ بْنُ يُونُسَ الْحَضْرَمِيُّ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ قُدَامَةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ، عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْيَمَانِيِّ، عَنْ رَجُلٍ مِنْ قَوْمِهِ يُقَالُ لَهُ :عَبْدُ اللَّهِ أَنَّهُ وَنَفَرٌ مِنْ قَوْمِهِ رَكِبُوا الْبَحْرَ، وَأَنَّ الْبَحْرَ أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ أَيَّامًا، ثُمَّ انْجَلَتْ عَنْهُمْ تِلْكَ الظُّلْمَةُ وَهُمْ قُرْبَ قَرْيَةٍ، قَالَ عَبْدُ اللَّهِ: فَخَرَجْتُ أَلْتَمِسُ الْمَاءَ فَإِذَا الأَبْوَابُ مُغْلَقَةٌ تُجَأْجَأُ فِيهَا الرِّيحُ، فَهَتَفْتُ فِيهَا فَلَمْ يُجِبْنِي أَحَدٌ، فَبَيْنَا أَنَا عَلَى ذَلِكَ إِذْ طَلَعَ عَلَيَّ فَارِسَانِ تَحْتَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا قَطِيفَةٌ بَيْضَاءُ، فَسَأَلانِي عَنْ أَمْرِيِ فَأَخْبَرْتُهُمَا الَّذِي أَصَابَنَا فِي الْبَحْرِ وَأَنِّي خَرَجْتُ أَطْلُبُ الْمَاءَ، فَقَالا لِي: يَا عَبْدَ اللَّهِ اسْلُكْ فِي هَذِهِ السِّكَّةِ فَإِنَّهَا سَتَنْتَهِي بِكَ إِلَى بِرْكَةٍ فِيهَا مَاءٌ فَاسْتَقِ مِنْهَا وَلا يَهُولَنَّكَ مَا تَرَى فِيهَا، قَالَ :فَسَأَلْتُهُمَا عَنْ تِلْكَ الْبُيُوتِ الْمُغْلَقَةِ الَّتِي تُجَأْجَأُ فِيهَا الرِّيحُ، فَقَالا: هَذِهِ بُيُوتٌ فِيهَا أَرْوَاحُ الْمَوْتَى، قَالَ فَخَرَجْتُ حَتَّى انْتَهَيْتُ إِلَى الْبِرْكَةِ، فَإِذَا فِيهَا رَجُلٌ مُعَلَّقٌ مُصَوِّبُ عَلَيَّ رَأْسَهُ يُرِيدُ أَنْ يَتَنَاوَلَ الْمَاءَ بِيَدِهِ وَهُوَ لا يَنَالُهُ، فَلَمَّا رَآنِي هَتَفَ بِي، وَقَالَ: يَا عَبْدَ اللَّهِ اسْقِنِي، قَالَ: فَغَرَفْتُ بِالْقَدَحِ لأُنَاوِلَهُ إِيَّاهُ فَقُبِضَتْ يَدِي، فَقَالَ لِي: بُلَّ الْعِمَامَةَ ثُمَّ ارْمِ بِهَا إِلَيَّ، فَبَلَلْتُ الْعِمَامَةَ لأَرْمِيَ بِهَا إِلَيْهِ فَقُبِضَتْ يَدِي، فَقُلْتُ يَا عَبْدَ اللَّهِ :قَدْ رَأَيْتَ مَا صَنَعْتُ، غَرَفْتُ بِالْقَدَحِ لأُنَاوِلَكَ فَقُبِضَتْ يَدِي، وَبَلَلْتُ الْعِمَامَةَ لأَرْمِيَ بِهَا إِلَيْكَ فَقُبِضَتْ يَدِي، فَأَخْبِرْنِي مَا أَنْتَ؟ قَالَ: أَنَا ابْنُ آدَمَ، أَنَا أَوَّلُ مَنْ سَفَكَ دَمًا فِي الأَرْضِ

 

Telah bercerita kepada kami Abu Ya’qub at-Tamimi Yusuf bin Ya’qub, dia berkata: telah bercerita kepada kami putra saudaraku, ‘Abdullah bin Wahb dan Ibn Abi Najiyah, keduanya berkata: telah bercerita kepada kami: Ziyad bin Yunus al-Hadhrami, dari ‘Abd al-Malik bin Qudamah, dari ‘Abdullah bin Dinar, dari Abu Ayyub al-Yamani, dari seorang lelaki di kalangan kaumnya yang bernama ‘Abdullah, bahwasanya dia dan beberapa orang dari kaumnya mengarungi samudra. Tiba-tiba lautan itu berselimut kegelapan selama beberapa hari. Kemudian ketika kegelapan itu sirna, ternyata (kapal) mereka telah berada di dekat sebuah kampung. ‘Abdullah berkata:

Maka aku pun keluar (turun dari kapal) untuk mencari air. Saat mencari air, aku menampak pintu-pintu yang terkunci dan mengeluarkan suara angin dari dalamnya. Aku berteriak (memanggil penghuninya) tetapi tak seorang pun yang menjawabku. Saat aku melakukan itu, tiba-tiba muncullah dua orang penunggang kuda yang bergerak ke arahku. Kedua penunggang kuda itu memakai pelana dari beledu berwarna putih. Kedua orang itu bertanya kepadaku tentang urusanku, lalu aku pun memberitahu mereka tentang peristiwa yang menimpa kami di samudra, dan bahwasanya aku turun dari kapal untuk mencari air. Kedua orang itu berkata kepadaku, “Wahai ‘Abdullah, kau ikutilah jalan ini! Jalan itu akan menyampaikanmu ke sebuah kolam yang berisi air. Ambillah air minum dari kolam itu dan janganlah kau merasa takut dengan hal yang kau lihat di sana.” Lalu aku bertanya kepada keduanya tentang rumah-rumah dengan pintu-pintu yang terkunci dan mengeluarkan suara angin dari dalamnya. Maka kedua orang itu menjawab, “Rumah-rumah ini berisi arwah orang-orang mati.” Kemudian aku pun berjalan menapaki jalan itu hingga sampai ke kolam tersebut. Ternyata di situ ada seorang lelaki yang tergantung dengan kepala berada di bawah. Lelaki itu ingin mengambil air dengan tangannya tetapi tangannya tak bisa mencapai air. Tatkala lelaki itu melihatku, dia pun berteriak memanggilku dan berkata, “Wahai ‘Abdullah, beri aku minum.” Maka aku pun menciduk air kolam dengan gelas untuk kuberikan kepadanya, tetapi lelaki itu malah menahan tanganku seraya berkata kepadaku, “Basahi ikat kepala itu lalu lemparkanlah kepadaku!” Maka aku pun membasahkan ikat kepala itu untuk kulemparkan kepadanya, tetapi lagi-lagi lelaki itu menahan tanganku. Maka aku pun berkata, “Wahai hamba Allah, kau sendiri tahu apa yang kulakukan. Aku menciduk air dengan gelas untuk kuberikan kepadamu, tetapi kau malah menahan tanganku. Aku juga membasahkan ikat kepala untuk kulemparkan kepadamu, tetapi kau malah menahan tanganku. Beritahukanlah kepadaku, siapa kau sebenarnya?” Lelaki itu menjawab, “Aku adalah putra Adam. Akulah orang pertama yang menumpahkan darah di muka bumi.” –SELESAI …

 

Menurut saya, kisah ini sangat ganjil lagi mungkar. Sanadnya pun sangat dha’if

Setidaknya, pada rangkaian sanadnya ada dua orang yang tak diketahui perihalnya, yaitu Abu Ayyub al-Yamani dan ‘Abdullah, orang yang mengalami peristiwa itu dan menceritakannya. Selain itu, ada juga ‘Abd al-Malik bin Qudamah, seorang perawi yang dilemahkan oleh para ulama. Ibn bi Hatim berkata di kitab al-Jarh wa at-Ta’dil:

 

سألت أبي عن عبد الملك بن قدامة؟ فقال: ليس بالقوي، ضعيف الحديث، يحدّث بالمنكر عن الثقات.

 

Aku bertanya kepada ayahku tentang ‘Abd al-Malik bin Qudamah, lalu ayahku berkata, “Dia bukan perawi yang kuat, dha’if al-hadits. Dia meriwayatkan riwayat-riwayat munkar dari orang-orang tepercaya.”

 

Imam al-Bukhari berkata:

 

يعرف وينكر

 

“Diketahui dan diingkari.”

 

Imam an-Nasa-i berkata di kitab adh-Dhu’afa wa al-Matrukin:

 

عبد الملك بن قدامة الجمحي: مدني ليس بالقوي

 

“’Abd al-Malik bin Qudamah al-Jumahi, dari Madinah, bukan perawi yang kuat.”

 

Abu Zur’ah berkata:

 

عبد الملك بن قدامة: منكر الحديث

 

“’Abd al-Malik bin Qudamah munkar al-hadits.”

 

Imam al-Barqani berkata:

 

سمعته يقول: عبد الملك بن قدامة الجمحي: مدني يُترك

 

Aku mendengar ad-Daraquthni berkata, “’Abd al-Malik bin Qudamah al-Jumahi, orang Madinah, ditinggalkan.”

 

Bandung, 7 Februari 2015

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–