Kekeliruan Ibn Katsir –rahimahullah …

keliru

Imam Ibn Katsir berkata di kitab al-Bidayah wa an-Nihayah sebagai berikut:

 

وفيها توفي عبدة بن عبد الرحيم قبحه الله. ذكر ابن الجوزي أن هذا الشقي كان من المجاهدين كثيرا في بلاد الروم، فلما كان في بعض الغزوات والمسلمون محاصروا بلدة من بلاد الروم إذ نظر إلى امرأة من نساء الروم في ذلك الحصن فهويها فراسلها ما السبيل إلى الوصول إليك ؟ فقالت أن تتنصر وتصعد إلي، فأجابها إلى ذلك، فما راع المسلمين إلا وهو عندها، فاغتم المسلمون بسبب ذلك غما شديدا، وشق عليهم مشقة عظيمة، فلما كان بعد مدة مروا عليه وهو مع تلك المرأة في ذلك الحصن فقالوا: يا فلان ما فعل قرآنك؟ ما فعل علمك؟ ما فعل صيامك؟ ما فعل جهادك؟ ما فعلت صلاتك ؟ فقال: اعلموا أني أنسيت القرآن كله إلا قوله (ربما يود الذين كفروا لو كانوا مسلمين ذرهم يأكلوا ويتمتعوا ويلهيهم الامل فسوف يعلمون) (الحجر: ٢-٣ )

 

Pada tahun tersebut, Abdah bin Abd ar-Rahim wafat, semoga Allah memburukkannya. Ibnul Jauzi telah menyebutkan bahwa orang celaka ini dulunya termasuk kalangan mujahidin yang banyak berjihad di negeri Romawi. Suatu waktu, dalam beberapa ekspedisi perang yang diikutinya, kaum Muslimin mengepung sebuah wilayah yang berada di bawah kekuasan Romawi. Kala itu dia melihat seorang perempuan dari kalangan perempuan-perempuan Romawi di benteng itu. Dia pun jatuh cinta dan menginginkan perempuan tersebut, lalu menyurati perempuan itu (yang isinya), “Jalan apa yang bisa menyampaikanku kepadamu?” Perempuan itu membalas, “Kau masuk agama Nasrani lalu naiklah untuk menemuiku.” Dia pun menerima ajakan perempuan itu (yakni masuk agama Nasrani –pent). Maka ketika kaum Muslimin melakukan penyerangan, dia malah bersama dengan perempuan itu. Tentu saja hal itu membuat sedih dan susah kaum Muslimin dengan kesedihan dan kesusahan yang berat. Beberapa waktu berlalu, kaum Muslimin melewati lagi (benteng tersebut) dan dia terlihat sedang bersama dengan si perempuan di benteng itu. Maka mereka (kaum Muslimin) berkata kepadanya, “Wahai Fulan, apa yang diperbuat oleh bacaan al-Quranmu? Apa yang diperbuat oleh ilmumu? Apa yang diperbuat oleh shaummu? Apa yang diperbuat oleh jihadmu? Apa yang diperbuat oleh shalatmu?” Dia pun menjawab, “Ketahuilah oleh kalian! Sesungguhnya aku telah lupa al-Quran seluruhnya kecuali firman-Nya ini: Orang-orang yang kafir itu sering kali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (QS. al-Hijr: 2-3) … -SELESAI …

 

Demikian itu ucapan Ibn Katsir –rahimahullah- di kitab al-Bidayah wa an-Nihayah, dan beliau telah keliru karena menganggap bahwa ‘Abdah bin ‘Abd ar-Rahim telah murtad lantaran jatuh cinta kepada seorang perempuan Romawi. Di situ beliau –rahimahullah– mengatakan, Pada tahun tersebut, Abdah bin Abd ar-Rahim wafat, semoga Allah memburukkannya. Ibnul Jauzi telah menyebutkan bahwa orang celaka ini dulunya …,” dan seterusnya sebagaimana disebutkan di atas …

Jelas bahwa Ibn Katsir telah keliru menukil kisah tersebut dari Ibn al-Jauzi karena dalam riwayat yang disebutkan oleh Ibn al-Jauzi, orang yang murtad itu bukanlah ‘Abdah bin ‘Abd ar-Rahim melainkan orang lain. Adapun ‘Abdah bin ‘Abd ar-Rahim, dia adalah orang yang turut serta dalam peperangan tersebut sekaligus orang yang menceritakan perihal kemurtadan orang lain tersebut …

Imam Ibn al-Jauzi meriwayatkan di kitab Muntazham fi Tarikh Muluk wa al-Umam melalui jalan Imam al-Baihaqi … -sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi di kitab Syu’ab al-Iman sebagai berikut:

 

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا الْحُسَيْنِ بْنَ أَبِي الْقَاسِمِ الْمُذَكِّرَ، يَقُولُ: سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ أَحْمَدَ بْنِ عَلِيٍّ الْجَوْهَرِيَّ، يَقُولُ: أَخْبَرَنِي أَبِي أَبُو الْعَبَّاسِ أَحْمَدُ بْنُ علي الْجَوْهَرِيِّ، قَالَ :قَالَ عَبْدَةُ بْنُ عَبْدِ الرَّحِيمِ: خَرَجْنَا فِي سَرِيَّةٍ إِلَى أَرْضِ الرُّومِ، فَصَحِبَنَا شَابٌّ لَمْ يَكُنْ فِينَا أَقْرَأُ الْقُرْآنِ مِنْهُ، وَلا أَفْقَهُ مِنْهُ وَلا أَفْرَضُ، صَائِمٌ النَّهَارَ، قَائِمٌ اللَّيْلَ، فَمَرَرْنَا بِحِصْنٍ لَمْ نُؤْمَرْ أَنْ نَقِفَ عَلَى ذَلِكَ الْحِصْنِ، فَمَالَ الرَّجُلُ مِنَّا عَنِ الْعَسْكَرِ، وَنَزَلَ بِقُرْبِ الْحِصْنِ فَظَنَنَّا أَنَّهُ يَبُولُ، فَنَظَرَ إِلَى امْرَأَةٍ مِنَ النَّصَارَى تَنْظُرُ مِنْ وَرَاءِ الْحِصْنِ فَعَشِقَهَا، فَقَالَ لَهَا بِالرُّومِيَّةِ: كَيْفَ السَّبِيلُ إِلَيْكِ؟ قَالَتْ: حِينَ تَتَنَصَّرُ، وَنَفْتَحُ لَكَ الْبَابَ وَأَنَا لَكَ، قَالَ: فَفَعَلَ، فَأُدْخِلَ الْحِصْنَ، قَالَ :فَقَضَيْنَا غَزَاتَنَا فِي أَشَدِّ مَا يَكُونُ مِنَ الْغَمِّ، كَانَ كُلُّ رَجُلٍ مِنَّا يَرَى ذَلِكَ بِوَلَدِهِ مِنْ صُلْبِهِ، ثُمَّ عُدْنَا فِي سَرِيَّةٍ أُخْرَى فَمَرَرْنَا بِهِ يَنْظُرُ مِنْ فَوْقِ الْحِصْنِ مَعَ النَّصَارَى، فَقُلْنَا: يَا فُلانُ، مَا فَعَلَ قِرَاءَتُكَ؟ مَا فَعَلَ عِلْمُكَ؟ مَا فَعَلَ صَلاتُكَ وَصِيَامُكَ؟ قَالَ: اعْلَمُوا أَنِّي نَسِيتُ الْقُرْآنَ كُلَّهُ، مَا أَذْكُرُ مِنْهُ إِلا هَذِهِ الآيَةَ رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ {٢} ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ {٣} سورة الحجر آية ٢-٣

 

Telah berkabar kepada kami Abu ‘Abdillah al-Hafizh, dia berkata: aku mendengar Abu al-Husain bin Abi al-Qasim al-Mudzakkir berkata: aku mendengar ‘Umar bin Ahmad bin ‘Ali al-Jauhari berkata: telah berkabar kepadaku Abu al-‘Abbas Ahmad bin ‘Ali, dia berkata: ‘Abdah bin ‘Abd ar-Rahim berkata:

Kami keluar dalam suatu ekspedisi perang ke wilayah Romawi. Bersama kami ada seorang pemuda yang tak seorang pun di antara kami yang lebih banyak membaca al-Quran dari padanya, tidak ada pula dari kami yang lebih faqih darinya, dia melakukan shaum pada siang hari dan melaksanakan shalat malam. Ketika kami melewati sebuah benteng yang kami tak diperintah untuk berhenti di sana, pemuda tersebut menyimpang dari pasukan dan berhenti di dekat benteng tersebut. Kami menduga pemuda itu hendak buang air. Lalu pemuda itu memandangi seorang perempuan Nasrani yang juga sedang memandang kepadanya dari balik benteng. Pemuda itu lantas jatuh cinta kepada perempuan Nasrani itu dan berkata kepada si perempuan dengan menggunakan bahasa Romawi, “Bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkanmu?” Perempuan Nasrani itu menjawab, “Saat kau masuk ke dalam agama Nasrani, maka kami akan membukakan pintu benteng untukmu dan aku menjadi milikmu.” Maka pemuda itu pun melakukannya (yakni murtad dan memeluk agama Nasrani) lalu dibawa masuk ke dalam benteng. Maka kami pun menjalani peperangan (di tempat lain –pent) dengan hati yang berselimut kesedihan. Seakan-akan masing-masing orang di antara kami memandang musibah ini (yakni kemurtadan pemuda itu) sebagai musibah yang menimpa anak sendiri (hal itu dikarenakan mereka begitu mencintai pemuda tersebut sehingga merasa sedih atas kemurtadannya –pent). Kemudian (pada waktu yang lain), kami kembali melakukan ekspedisi perang. Lagi-lagi kami melewati benteng tersebut, sementara pemuda itu memandang kami dari atas benteng bersama kaum Nasrani. Maka kami pun berkata kepadanya, “Wahai Fulan, apa yang diperbuat oleh bacaan al-Quranmu? Apa yang diperbuat oleh ilmumu? Apa yang diperbuat oleh shalat dan shaummu?” Pemuda itu menjawab, “Ketahuilah oleh kalian! Sesungguhnya aku telah lupa al-Quran seluruhnya! Tak ada yang kuingat darinya selain ayat ini: Orang-orang yang kafir itu sering kali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (QS. al-Hijr: 2-3) … -SELESAI …

Imam al-Baihaqi berkata setelah meriwayatkan kisah tersebut:

 

قَالَ الشَّيْخُ أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللَّهُ: هَكَذَا يَكُونُ حَالُ مَنْ تُدْرِكُهُ الشَّقَاوَةُ وَالْعِيَاذُ بِاللَّهِ، وَكَمَا تَقَدَّمَ ذِكْرُهُ يَكُونُ حَالُ مَنْ تُدْرِكُهُ السَّعَادَةُ، نَسْأَلُ اللَّهَ التَّوْفِيقَ وَالْعِصْمَةَ بِفَضْلِهِ

 

Syaikh Ahmad –rahimahullah– berkata, “Demikianlah keadaan orang yang mendapati kemalangan, wal ‘iyadzu billah, dan sebagaimana pula telah berlalu penyebutan tentang keadaan orang yang memperoleh kemujuran, kami memohon taufiq kepada Allah dan penjagaan dengan karunia-Nya.” … –SELESAI …

Dengan demikian, dengan melihat kisah yang disebutkan oleh Imam Ibn al-Jauzi –dan juga Imam al-Baihaqi, jelaslah bahwa ‘Abdah bin ‘Abd ar-Rahim bukanlah orang yang murtad karena jatuh cinta kepada perempuan Romawi sebagaimana anggapan Ibn Katsir –rahimahullah, dan Ibn Katsir telah keliru dalam penukilannya dari Ibn al-Jauzi –rahimahullah

Adapun perihal ‘Abdah bin ‘Abd ar-Rahim, Ibn Hajar berkata di kitab Tahdzib at-Tahdzib:

 

عبدة بن عبد الرحيم بن حسان أبو سعيد المروزي روى عن بقية والنضر بن شميل وأبي معاوية والمحاربي والفضل بن موسى السيناني … وعنه البخاري في كتاب الأدب والنسائي وأبو حاتم وأبو زرعة الدمشقي وعبد الله بن أحمد بن حنبل وابن أبي عاصم وموسى بن إسحاق الأنصاري وحرب بن إسماعيل وابن أبي الدنيا … قال أبو حاتم صدوق وقال عبد الله بن أحمد بن حنبل شيخ صالح وقال النسائي ثقة وقال في موضع آخر صدوق لا بأس به وقال أبو داود لا أحدث عنه وذكره بن حبان في الثقات وقال بن يونس قدم مصر وحدث بها ثم خرج إلي دمشق فمات بها سنة أربع وأربعين ومائتين قلت ووثقه مسلمة وذكر بن السمعاني أنه يقال له الباباني بموحدتين وبنون نسبة إلي موضع بمرو

 

‘Abdah bin ‘Abd ar-Rahim bin Hassan Abu Sa’id al-Marwazi, meriwayatkan dari Baqiyyah, an-Nadhr bin Syumail, Abu Mu’awiyah, al-Muharibi, al-Fadhl bin Musa as-Siyanani … dan yang meriwayatkan darinya adalah al-Bukhari di kitab al-Adab al-Mufrad, an-Nasa-i, Abu Hatim, Abu Zur’ah ad-Dimasyqi, ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, Ibn Abi ‘Ashim, Musa bin Ishaq al-Anshari, Harb bin Isma’il, Ibn Abi ad-Dunya … Abu Hatim berkata, “Shaduq,” dan ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata, “Syaikh Shalih,” dan an-Nasa-i berkata, “Tsiqah,” dan berkata pula di tempat lain, “Shaduq, tidak apa-apa dengannya,” dan Abu Dawud berkata, “Aku tak meriwayatkan darinya,” dan Ibn Hibban menyebutkannya di kitab ats-Tsiqat. Ibn Yunus berkata, “Datang ke Mesir dan meriwayatkan hadits di sana, kemudian pergi menuju Damaskus lalu wafat di sana pada tahun 244 Hijriyah.” Aku katakan, Maslamah menganggapnya tsiqah, dan Ibn as-Sam’ani menyebutkan bahwa dia diebut juga al-Babani, nisbat kepada suatu tempat di Marwa … -SELESAI …

 

Bandung, 12 Februari 2015

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

4 comments on “Kekeliruan Ibn Katsir –rahimahullah …

  1. jampang says:

    beliau sempat meralatnya kah?

  2. jaraway says:

    berarti kisah tentang seseorang yang murtadnya shahih hanya bukan tentang ‘Abdah bin ‘Abd ar-Rahim begitu bang?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s