Tetapi Memang Sudah Semestinya untuk Adil …

adil

Pertama:

 

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ كَانَ يَقُولُ: اللَّهُمَّ أَمَّا قَلْبِي فَلَا أَمْلِكُ! وَأَمَّا سِوَى ذَلِكَ ، فَأَرْجُو أَنْ أَعْدِلَ

 

Bahwasanya ‘Umar bin al-Khaththab berkata, “Ya Allah, adapun (mengenai hal yang berkaitan dengan) hatiku, maka tidaklah aku berkuasa atasnya. Adapun selain hati, maka aku berharap mampu berbuat adil.”atsar ini dha’if (lemah)

 

Kedua:

 

أنَّ النَّبيَّ صلَّى اللَّهُ عَليهِ وسلَّم كانَ يقسمُ بينَ نسائهِ فيعدلُ ويقولُ: اللَّهُمَّ! هذهِ قسمتي فيما أملكُ، فلا تَلُمني فيما تملكُ ولا أملكُ

 

Bahwasanya Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– biasa membagi (giliran bermalam dan juga nafkah) secara adil di antara para istrinya, dan beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun mengatakan, “Ya Allah, inilah pembagianku dalam hal yang kumiliki (yakni dalam hal yang mampu kulakukan). Maka janganlah Kau mencelaku dalam hal yang Kau miliki tetapi tak kumiliki (yakni hati –pent).” -Hadits dha’if (lemah)

 

*

**

 

Mengenai yang pertama, atsar ‘Umar bin al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhu– itu diriwayatkan oleh Ibn Jarir ath-Thabari –rahimahullah– di kitab tafsirnya sebagai berikut:

 

حَدَّثَنَا بِشْرٌ قَالَ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ قَالَ: حَدَّثَنَا سَعِيدٌ، عَنْ قَتَادَةَ وَحَدَّثَنَا ابْنُ بَشَّارٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الْأَعْلَى قَالَ: حَدَّثَنَا سَعِيدٌ، عَنْ قَتَادَةَ قَالَ :ذُكِرَ لَنَا أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ كَانَ يَقُولُ: اللَّهُمَّ أَمَّا قَلْبِي فَلَا أَمْلِكُ! وَأَمَّا سِوَى ذَلِكَ ، فَأَرْجُو أَنْ أَعْدِلَ

 

Telah bercerita kepada kami Bisyr, dia berkata: telah bercerita kepada kami Yazid (bin Abi ‘Arubah), dari Qatadah. Dan telah bercerita (pula) kepada kami Basysyar, dia berkata: telah bercerita kepada kami ’Abd al-A’la, dia berkata: telah bercerita kepada kami Sa’id (bin Abi ‘Arubah), dari Qatadah, dia berkata:

Disebutkan kepada kami bahwa ‘Umar bin al-Khaththab pernah berkata, “Ya Allah, adapun (mengenai hal yang berkaitan dengan) hatiku, maka tidaklah aku berkuasa atasnya. Adapun selain hati, maka aku berharap mampu berbuat adil.” –SELESAI …

 

Atsar tersebut dha’if (lemah). Qatadah tidaklah mendengar dan bertemu dengan ‘Umar bin al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhu. Memang benar bahwa di situ Qatadah mengatakan, “Disebutkan kepada kami bahwa …,” maka tidaklah diketahui orang yang mengatakan itu kepada Qatadah karena Qatadah sendiri tidak menyebutkannya. Seandainya yang memberi kabar itu adalah Anas bin Malik –radhiyallahu ‘anhu– yang memang bertemu dengan ‘Umar bin al-Khaththab dan juga Qatadah, tentulah Qatadah akan menegaskan penyebutannya … wallahu a’lamu

 

Mengenai yang kedua, maka para pemilik kitab Sunan, juga para imam hadits lainnya seperti Imam Ahmad di kitab Musnad, al-Hakim di kitab al-Mustadrak, Ibn Abi Syaibah di kitab al-Mushannaf, dan banyak lagi selain mereka, telah meriwayatkannya dari jalan Hammad bin Salamah, dari Ayyub, dari Abu Qilabah, dari ‘Abdullah bin Yazid, dari ‘Aisyah, dia berkata:

 

أنَّ النَّبيَّ صلَّى اللَّهُ عَليهِ وسلَّم كانَ يقسمُ بينَ نسائهِ فيعدلُ ويقولُ: اللَّهُمَّ! هذهِ قسمتي فيما أملكُ، فلا تَلُمني فيما تملكُ ولا أملكُ

 

Bahwasanya Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– biasa membagi (giliran bermalam dan juga nafkah) secara adil di antara para istrinya, dan beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun mengatakan, “Ya Allah, inilah pembagianku dalam hal yang kumiliki (yakni dalam hal yang mampu kulakukan). Maka janganlah Kau mencelaku dalam hal yang Kau miliki tetapi tak kumiliki (yakni hati –pent).” -Hadits dha’if (lemah)

 

Secara zhahir, sanad hadits tersebut memang sahih. Hammad bin Salamah meriwayatkannya dengan sanad yang maushul (tersambung) sampai kepada ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha. Akan tetapi, sebetulnya sanad Hammad bin Salamah tersebut tidaklah kukuh dan terbilang cacat. Hammad bin Salamah telah keliru dalam me-maushul-kan sanad tersebut. Dia telah berbeda dengan tiga orang lain yang meriwayatkan hadits tersebut secara mursal, yakni tidak sampai kepada ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha– melainkan hanya sampai kepada Abu Qilabah saja. Ketiga orang yang me-mursal-kan riwayat itu adalah (1) Hammad bin Zaid, (2) Isma’il bin ‘Ulayyah, dan (3) ‘Abd al-Wahhab ats-Tsaqafi, semuanya dari Ayyub, dari Abu Qilabah secara mursal, sementara ketiga orang itu lebih kuat dari Hammad bin Salamah. Dengan demikian, yang benar, berdasarkan periwayatan yang lebih kuat, hadits tersebut dha’if (lemah) karena mursal, yakni hanya merupakan perkataan Abu Qilabah saja …

Syaikh al-Albani –rahimahullah– pun menyatakan bahwa hadits tersebut dha’if (lemah), dan beliau berkata:

 

لكن المحققين من الأئمة قد أعلوه فقال النسائي عقبه: (أرسله حماد بن زيد) .وقال الترمذي: (هكذا رواه غير واحد عن حماد بن سلمة عن أيوب عن أبى قلابة عن عبد الله بن يزيد عن عائشة أن النبي صلى الله عليه وسلم. ورواه حماد بن زيد وغير واحد عن أيوب عن أبى قلابة مرسلا: أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقسم وهذا أصح من حديث حماد بن سلمة). وأورده ابن أبي حاتم في (اللعلل) (١/٤۲٥) من طريق حماد بن سلمة ثم قال: (فسمعت أبا زرعة يقول: (لا أعلم أحدا تابع حمادا على هذا). وأيده ابن أبي حاتم بقوله: (قلت: روى ابن علية عن أيوب عن أبى قلابة قال: كان رسول الله يقسم بين نسائه. الحديث مرسل). قلت: وصله إبن أبى شيبة. فقد اتفق حماد بن زيد وإسماعيل بن علية على إرساله. وكل منهما أحفظ وأضبط من حماد بن سلمة فروايتهما أرجح عند المخالفة لا سيما إذا اجتمعا عليها

 

Akan tetapi, para peneliti dari kalangan imam-imam hadits telah menganggap cacat riwayat tersebut. Imam an-Nasa-i berkomentar, “Hammad bin Zaid telah memursalkannya,” Imam at-Tirmidzi berkata, “Demikianlah diriwayatkan oleh lebih dari satu orang dari Hammad bin Salamah, dari Ayyub, dari Abu Qilabah, dari ‘Abdullah bin Yazid, dari ‘Aisyah, ‘Bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ (Akan tetapi), telah diriwayatkan oleh Hammad bin Zaid dan beberapa orang lainnya dari Ayyub dari Abu Qilabah secara mursal, ‘Bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- biasa membagi (giliran bermalam dan juga nafkah),’ dan riwayat yang mursal ini lebih sahih daripada hadits Hammad bin Salamah.” Dan Ibn Abi Hatim menyebutkan pula di kitab al-‘Ilal (1/425) dari jalan Hammad bin Salamah, kemudian Ibn Abi Hatim berkata, “Aku mendengar Abu Zur’ah mengatakan, ‘Aku tak mengetahui adanya penyerta bagi Hammad bin Salamah atas riwayat ini.’” Ibn Abi Hatim sendiri menguatkan ucapan Abu Zur’ah itu dengan ucapan, “Kukatakan, Ibn ‘Ulayyah meriwayatkan dari Ayyub, dari Abu Qilabah, dia berkata, ‘Bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- biasa membagi (giliran bermalam dan juga nafkah) secara adil di antara para istrinya,’ dan hadits tersebut mursal.” Aku (Syaikh al-Albani) katakan, “Ibn Abi Syaibah me-maushul-kannya, sementara Hammad bin Zaid dan Isma’il bin ‘Ulayyah telah bersepakat atas kemursalannya, dan kedua orang tersebut lebih hafal dan kuat daripada Hammad bin Salamah sehingga masing-masing riwayat mereka lebih rajih ketika ada pertentangan, apalagi jika keduanya berkumpul dalam hal tersebut.” –SELESAI …

 

Imam az-Zaila’i berkata di kitab Nashb ar-Rayyah fi Takhrij Ahadits al-Hidayah:

 

وقال في علله الكبرى وسألت محمدا عن هذا الحديث، فقال: رواه حماد بن زيد عن أيوب عن أبي قلابة مرسلا

 

Dan Imam at-Tirmidzi berkata di kitab al-‘Ilal al-Kubra, “Dan aku bertanya kepada Muhammad (yakni Imam al-Bukhari -pent) tentang hadits tersebut, lalu dia mengatakan, ‘Hadits itu diriwayatkan oleh Hammad bin Zaid dari Ayyub dari Abu Qilabah secara mursal.’” –SELESAI …

 

Imam az-Zaila’i juga menukil perkataan Imam ad-Daraquthni yang berkata di kitab al-‘Ilal mengenai hadits tersebut:

 

وقد رواه عبد الوهاب الثقفي، وابن علية عن أيوب عن أبي قلابة أن النبي صلى الله عليه وسلم كان، الحديث، والمرسل أقرب إلى الصواب

 

‘Abd al-Wahhab ats-Tsaqafi dan (Isma’il) bin ‘Ulayyah meriwayatkannya dari Ayyub dari Abu Qilabah, “Bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- biasa …,” dan riwayat yang mursal lebih dekat kepada kebenaran … -SELESAI …

 

Bandung, 16 Februari 2015

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

6 comments on “Tetapi Memang Sudah Semestinya untuk Adil …

  1. jaraway says:

    jadiiiiii itu dha’if? hu woooooow…
    aselii baru tauuuu

  2. jampang says:

    sering denger bahasan kalau Nabi tidak bisa adil dalam soal hati kepada istri2nya… itu gimana, kang?

    • tipongtuktuk says:

      wallahu a’lamu, tampaknya masalah keadilan hati itu memang benar seperti itu … para ulama pun menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan, “Kau tak bisa adil,” itu adalah dalam permasalahan hati dan cinta …

  3. Saya selalu memakai pendekatan begini, bila sang Nabi saja masih diberdebatkan soal bisa adil tidaknya terhadap istri2nya, bagaimana dengan pria-pria di zaman ini, hehehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s