Takbir Adzan Itu Takbiratain Kemudian Takbiratain …

adzan

Seringkali saya dengar, adzan dikumandangkan dengan jazm di antara dua takbir, yakni:

“Allaahu Akbar, Allaahu akbar,” pada dua kalimat takbir yang pertama … 

Kemudian dilanjutkan dengan membaca dua kalimat takbir kedua:

“Allaahu Akbar, Allaahu akbar,” yakni dengan jazm pula di antara kedua takbir itu …

Seperti itulah pengucapan kalimat takbir dalam adzan yang sering saya dengar, yakni terdapat jeda di antara dua kalimat takbir; tidak menyambungkan atau menggabungkan kedua kalimat takbir itu melainkan memisahkannya …

Padahal Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

 إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ فَقَالَ أَحَدُكُمْ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ

Jika muadzin berucap, “Allaahu Akbarullaahu Akbar,” maka jawablah oleh masing-masing kamu, “Allaahu Akbarullaahu Akbar!” (HR. Muslim)

Berdasarkan hadits Muslim tersebut, jelas bahwa pengucapan kalimat takbir dalam adzan itu bukanlah, “Allaahu Akbar, Allaahu Akbar,” yang kemudian dilanjutkan dengan, “Allaahu Akbar, Allaahu Akbar.” Bukan, bukan seperti itu. Akan tetapi seharusnya dibaca takbiratain kemudian takbiratain, yakni Allaahu Akbarullaahu Akbar,” yang kemudian dilanjutkan dengan, “Allaahu Akbarullaahu Akbar.”

Wallahu a’lamu …

 *
**

Dalam Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah wa al-Maudhu’ah, Syaikh al-Albani –rahimahullah– menyebutkan hadits nomor (71) sebagai berikut:

 

التَّكْبِيْرُ جَزْمٌ

“Takbir itu jazm (yakni dengan sukun di huruf akhir).”

Selanjutnya Syaikh al-Albani –rahimahullah– mengomentari hadits tersebut sebagai berikut:

 

لا أصل له كما قال الحافظ ابن حجر والسخاوي وكذا السيوطي وله رسالة خاصة في الحديث في كتابه الحاوي للفتاوي، وقد بين فيها أنه من قول إبراهيم النخعي، وأن معنى قوله جزم لا يمد، ثم ذكر قول من فسره بأنه لا يعرب بل يسكن آخره، ثم رده من وجوه ثلاثة أوردها فليراجعها من شاء …

ثم إن الحديث مع كونه لا أصل له مرفوعاً، وإنما هو من قول إبراهيم، فإنما يريد به التكبير في الصلاة كما يستفاد من كلام السيوطي في الرسالة المشار إليها، فلا علاقة له بالأذان كما توهم بعضهم، فإن هناك طائفة من المنتسبين للسنة في مصر وغيرها تؤذن كل تكبيرة على حدة (الله أكبر، الله أكبر) عملاً بهذا الحديث والتأذين على هذه الصفة مما لا أعلم له أصلاً في السنة، بل ظاهر الحديث الصحيح خلافه، فقد روى مسلم في صحيحه من حديث عمر بن الخطاب مرفوعاً إذا قال المؤذن: الله أكبر الله أكبر، فقال أحدكم: الله أكبر الله أكبر، ثم قال: أشهد أن لا إله إلا الله، قال: أشهد أن لا إله إلا الله … الحديث …

ففيه إشارة ظاهرة إلى أن المؤذن يجمع بين كل تكبيرتين، وأن السامع يجيبه كذلك، وفي شرح صحيح مسلم للنووي ما يؤيد هذا٬ فليراجعه من شاء. ومما يؤيد ذلك ما ورد في بعض الأحاديث أن الأذان كان شفعا شفعا … انتهى

 

Hadits tersebut tidak ada asalnya sebagaimana dikatakan oleh al-Hafizh Ibn Hajar dan as-Sakhawi. Begitu pula as-Suyuthi yang mempunyai risalah khusus mengenai hadits tersebut dalam kitabnya al-Hawi li al-Fatawi. Di situ as-Suyuthi menjelaskan bahwa sebetulnya hadits itu merupakan perkataan an-Nakha’i (bukan sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam), dan bahwa makna dari perkataan an-Nakha’i, “Jazm,” maksudnya adalah, “Tidak memanjangkan.” Kemudian as-Suyuthi juga menyebutkan ucapan orang yang menafsirkan bahwa pengertian dari, “Jazm, maksudnya adalah, “Tidak meng-i’rab huruf akhirnya, bahkan mensukunkannya.” Kemudian as-Suyuthi memberikan bantahan dari tiga sisi, maka hendaklah orang yang ingin tahu merujuk ke sana …

Kemudian sesungguhnya hadits tersebut, yang pada kenyataan memang tidak ada asalnya secara marfu’ (yakni bukan ucapan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam), sebetulnya hanya merupakan ucapan Ibrahim an-Nakha’i saja. Dan yang diinginkan oleh Ibrahim an-Nakha’i dengan ucapannya itu, yakni ucapan, “Takbir itu jazm,” maksudnya adalah takbir dalam shalat sebagaimana tersimpulkan dari ucapan as-Suyuthi di dalam risalah yang telah ditunjukkan. Dengan demikian, ucapan Ibrahim an-Nakha’i, “Takbir itu jazm,” sama sekali tidak ada kaitannya dengan adzan sebagaimana persangkaan sebagian orang. Sesungguhnya ada sebagian kelompok yang menisbatkan diri kepada Sunnah di negeri Mesir dan selainnya, mereka melakukan adzan dengan menyerukan satu takbir satu takbir, yakni mengucapkan, “Allaahu Akbar, Allaahu Akbar,” sebagai pengamalan dari hadits (yang sebetulnya merupakan ucapan Ibrahim an-Nakha’i) tersebut. Mereka mengumandangkan adzan dengan sifat tersebut, yakni sifat yang tak kuketahui asalnya dari Sunnah. Bahkan secara jelas menyelisihi tata cara menurut hadits yang shahih. Imam Muslim telah meriwayatkan di kitab Shahih-nya dari hadits ‘Umar bin al-Khaththab secara marfu’, (yang menyebutkan bahwa) jika muadzin mengucapkan, “Allaahu Akbarullaahu Akbar,” maka hendaklah masing-masing kalian mengucapkan, “Allaahu Akbarullaahu Akbar,” kemudian jika muadzin mengucapkan, “Asy-hadu an laa ilaaha illallaah,” hendaklah masing-masing kalian mengucapkan, “Asy-hadu an laa ilaaha illallaah,” … al-Hadits …

Maka di dalam hadits Muslim tersebut terdapat petunjuk agar muadzin menggabungkan dua takbir dalam masing-masing pengucapan, yakni, “Allaahu Akbarullahu Akbar,” kemudian, “Allaahu Akbarullaahu Akbar.” Demikian juga dengan orang yang mendengar adzan tersebut, hendaklah mengucapkan pula seperti itu. Dan dalam Syarh Shahih Muslim karya an-Nawawi terdapat hal yang menguatkan perkara tersebut, maka hendaklah orang yang ingin tahu merujuk ke sana. Dan di antara hal yang menguatkan perkara tersebut, disebutkan dalam beberapa hadits bahwa adzan biasanya diucapkan dua kali dua kali … SELESAI …

 
*
**

Syaikh al-Albani –rahimahullah– juga berkata di kitab Shahih at-Targhib wa at-Tarhib (1/221) sebagai berikut:

 

وفي الحديث إشارة إلى أن المؤذن يؤذن تكبيرتين تكبيرتين، وليس تكبيرة تكبيرة كما يفعله بعض المؤذ نون في بعض البلاد ، فتنبه. وأما حديث: (التكبير جزم) فلا اصل له،وعلى وأنه لا علاقة له بالأذان، وليس هذا مجال البيان

 

Di dalam hadits tersebut (yakni hadits Muslim) terdapat isyarat bahwa muadzin itu mengumandangkan takbiratain takbiratain (yakni mengucapkan, Allaahu Akbarullaahu Akbar,” kemudian mengucapkan, “Allaahu Akbarullaahu Akbar.”), bukan mengucapkan takbirah takbirah (yakni bukan mengucapkan, “Allaahu Akbar, Allaahu Akbar,” kemudian mengucapkan, “Allaahu Akbar, Allaahu Akbar,”) sebagaimana biasa dilakukan oleh para muadzin di banyak negeri. Maka perhatikanlah hal ini. Adapun hadits, “At-Takbir jazm (takbir itu dengan men-sukun-kan setiap ujung takbir),” maka sama sekali hadits tersebut tidak ada asalnya. Lagi pula ucapan tersebut tidak ada kaitannya dengan adzan, namun bukan di sini tempat untuk menjelaskannya … -SELESAI …

 *
**

Imam at-Tirmidzi –rahimahullah– di kitab Sunan berkata:

 وروي عن إبراهيم النخعي أنه قال التكبير جزم والسلام جزم

Dan diriwayatkan dari Ibrahim an-Nakha’i bahwasanya dia berkata, “Takbir itu jazm dan salam itu jazm.” –SELESAI …

Di kitab Tuhfah al-Ahwadzi, al-Mubarakfuri berkata sebagai berikut:

 قوله : (التكبير جزم والسلام جزم) أي لا يمدان ولا يعرب أواخر حروفهما بل يسكن ، فيقال الله أكبر ، السلام عليكم ورحمة الله، والجزم :القطع، منه سمي جزم الإعراب، وهو السكون كذا في النهاية لابن الأثير الجزري …

Ucapan Ibrahim an-Nakha’i, “Takbir itu jazm dan salam itu jazm,” yakni tidak memanjangkan pengucapan keduanya (dalam shalat –pent), juga tidak meng-i’rab akhir kedua huruf (yakni akhir huruf takbir dan akhir huruf salam), bahkan men-sukun-kan keduanya. Maka diucapkanlah, “Allaahu Akbar,” dan, “Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullah.” Dan yang dimaksud dengan al-jazm adalah al-qath’u (memutus), daripadanya jazm dinamai al-i’rab, yaitu sukun. Demikianlah tersebut dalam an-Nihayah karya Ibn al-Atsir al-Jazari … SELESAI …

 

Bandung, 3 Juli 2015

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

2 comments on “Takbir Adzan Itu Takbiratain Kemudian Takbiratain …

  1. jampang says:

    terima kasih sharingnya, kang.
    saya sering juga dengar muadzin menajazmkan takbir. seharusnya tidak demikian ya kang berdasarkan hadits di atas

    • tipongtuktuk says:

      iya, jika melihat hadits di atas, seharusnya, “Allaahu Akbarullahu Akbar.”

      Begitu juga dengan pendengar adzan. Kebanyakan orang menjawab takbir muadzin itu hanya mengucapkan, “Allahu Akbar,” saja. Padahal semestinya dua takbir sebagaimana sang muadzin …

      wallahu a’lamu … 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s