Ar-Ruba’i; Empat Shahabat dalam Satu Sanad …

ruba'i

Hadits Pertama:

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ أَخْبَرَنِي السَّائِبُ بْنُ يَزِيدَ ابْنُ أُخْتِ نَمِرٍ أَنَّ حُوَيْطِبَ بْنَ عَبْدِ الْعُزَّى أَخْبَرَهُ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ السَّعْدِيِّ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ قَدِمَ عَلَى عُمَرَ فِي خِلَافَتِهِ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ أَلَمْ أُحَدَّثْ أَنَّكَ تَلِيَ مِنْ أَعْمَالِ النَّاسِ أَعْمَالًا فَإِذَا أُعْطِيتَ الْعُمَالَةَ كَرِهْتَهَا فَقُلْتُ بَلَى فَقَالَ عُمَرُ فَمَا تُرِيدُ إِلَى ذَلِكَ قُلْتُ إِنَّ لِي أَفْرَاسًا وَأَعْبُدًا وَأَنَا بِخَيْرٍ وَأُرِيدُ أَنْ تَكُونَ عُمَالَتِي صَدَقَةً عَلَى الْمُسْلِمِينَ قَالَ عُمَرُ لَا تَفْعَلْ فَإِنِّي كُنْتُ أَرَدْتُ الَّذِي أَرَدْتَ فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْطِينِي الْعَطَاءَ فَأَقُولُ أَعْطِهِ أَفْقَرَ إِلَيْهِ مِنِّي حَتَّى أَعْطَانِي مَرَّةً مَالًا فَقُلْتُ أَعْطِهِ أَفْقَرَ إِلَيْهِ مِنِّي فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُذْهُ فَتَمَوَّلْهُ وَتَصَدَّقْ بِهِ فَمَا جَاءَكَ مِنْ هَذَا الْمَالِ وَأَنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ وَلَا سَائِلٍ فَخُذْهُ وَإِلَّا فَلَا تُتْبِعْهُ نَفْسَكَ

Imam al-Bukhari –rahimahullah– berkata:

Telah bercerita kepada kami Abu al-Yaman, telah berkabar kepada kami Syu’aib, dari az-Zuhri, telah berkabar kepadaku as-Sa-ib bin Yazid, anak saudara perempuan Namir, bahwa Huwaithib bin ‘Abd al-‘Uzza telah mengabarkan kepadanya bahwa ‘Abdullah bin as-Sa’di telah mengabarkan kepadanya bahwasanya dia mendatangi ‘Umar (bin al-Khaththab) pada masa kekhalifahannya, lalu ‘Umar berkata kepadanya, “Benarkah hal yang diberitakan kepadaku bahwa kau menangani urusan-urusan manusia tetapi ketika diberi imbalan untuk itu kau pun menolak untuk menerimanya?” Aku (‘Abdullah bin as-Sa’di) menjawab, “Benar.” ‘Umar berkata, “Apa maksudmu dengan hal itu” Aku menjawab, “Sesungguhnya aku mempunyai beberapa kuda dan beberapa budak. Aku juga berada dalam kehidupan yang baik sehingga aku memaksudkan agar upahku itu menjadi sedekah bagi kaum Muslimin.” ‘Umar berkata, “Jangan kau berbuat seperti itu. Sesungguhnya aku juga dulu memiliki maksud yang sama dengan maksudmu itu. Dulu Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- memberiku suatu pemberian, lalu kukatakan agar pemberian itu diberikan saja kepada orang yang lebih membutuhkannya daripadaku. Hingga suatu waktu, beliau memberiku bagian harta, lalu kukatakan lagi kepada beliau agar memberikannya kepada orang yang lebih membutuhkannya daripadaku. Akan tetapi, kemudian Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkata kepadaku, ‘Terimalah dan kembangkanlah itu, lalu kau bersedekah dengannya! Harta mana pun yang datang kepadamu sementara kau tak menginginkan dan tak memintanya, maka terimalah! Sebaliknya, jika harta itu tak datang kepadamu, maka janganlah kau mengikuti hawa nafsumu untuk memilikinya!’” -SELESAI …

Ada empat orang shahabat dalam sanad hadits tersebut, yaitu: (1) as-Sa’ib bin Yazid, (2) Huwaithib bin ‘Abd al-‘Uzza, (3) ‘Abdullah bin as-Sa’di, dan (4) ‘Umar bin al-Khaththab

Ibn Hajar al-‘Asqalani berkata di kitab Fath al-Bari:

والسائب فمن فوقه صحابة؛ ففيه أربعة من الصحابة في نسق

“Dan as-Sa-ib serta orang-orang di atasnya adalah shahabat, maka di dalam susunan sanad tersebut ada empat orang shahabat.” –SELESAI …

Hadits Kedua:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْمُعَلَّى الدِّمَشْقِيُّ، ثنا سُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، ثنا مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ الأَزْدِيُّ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ حَرْبٍ، عَنْ بَحِيرِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ، عَنْ كَثِيرِ بْنِ مُرَّةَ، عَنْ نُعَيْمِ بْنِ هَمَّارٍ، عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدي كَرِبَ، عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الأَنْصَارِيِّ، عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْهَاجِرَةِ وَهُوَ مَرْعُوبٌ ، فَقَالَ :أَطِيعُونِي مَا كُنْتُ بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ، وَعَلَيْكُمْ بِآيَاتِ اللَّهِ، أَحِلُّوا حَلالَهُ وَحَرِّمُوا حَرَامَهُ

Imam ath-Thabarani –rahimahullah– berkata dalam al-Kabir:

Telah bercerita kepada kami Ahmad bin al-Mu’alla ad-Dimasyqi, telah bercerita kepada kami Sulaiman bin ‘Abd ar-Rahman, telah bercerita kepada kami Mu’awiyah bin Shalih al-Azdi, telah bercerita kepada kami Muhammad bin Harb, dari Bahir bin Sa’d, dari Khalid bin Ma’dan, dari Katsir bin Murrah, dari Nu’aim bin Himyar, dari al-Miqdam bin Ma’di Karib, dari Abu Ayyub al-Anshari, dari ‘Auf bin Malik, dia berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– keluar menemui kami di tengah hari yang panas dengan wajah yang cemas, lalu berkata, “Taatilah aku selama aku masih berada di antara kalian, dan wajib bagi kalian untuk berpegang dengan kitab Allah. Halalkanlah apa yang dihalalkannya dan haramkanlah apa yang diharamkannya.” –SELESAI …

Ada empat orang shahabat dalam sanad hadits tersebut, yaitu: (1) Nu’aim bin Himyar, (2) al-Miqdam bin Ma’di Karib, (3) Abu Ayyub al-Anshari, dan (4) ‘Auf bin Malik

Syaikh al-Albani berkata di kitab Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah (3/459):

ومن لطائف إسناده أنه من رواية أربعة من الصحابة بعضهم عن بعض … رواه الطبراني في الكبير ورواته ثقات

“Di antara kehalusan sanadnya, bahwasanya hadits ini dari riwayat empat orang shahabat yang saling meriwayatkan satu sama lain … diriwayatkan oleh ath-Thabarani di dalam al-Kabir, dan para perawinya tepercaya.” –SELESAI …

Hadits Ketiga:

 حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمَخْزُومِيُّ وَأَبُو بَكْرِ بْنُ نَافِعٍ وَغَيْرُ وَاحِدٍ قَالُوا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ حَبِيبَةَ عَنْ أُمِّ حَبِيبَةَ عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ قَالَتْ اسْتَيْقَظَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ نَوْمٍ مُحْمَرًّا وَجْهُهُ وَهُوَ يَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يُرَدِّدُهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدْ اقْتَرَبَ فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مِثْلُ هَذِهِ وَعَقَدَ عَشْرًا قَالَتْ زَيْنَبُ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ قَالَ نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخُبْثُ

Imam at-Tirmidzi –rahimahullah– berkata di kitab Sunan:

Telah bercerita kepada kami Sa’id bin ‘Abd ar-Rahman al-Makhzumi, Abu Bakr bin Nafi’, dan lain-lain, mereka sama berkata: telah bercerita kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah, dari az-Zuhri, dari ‘Urwah bin az-Zubair, dari Zainab binti Abi Salamah, dari Habibah (binti ‘Ubaidillah bin Jahsy), dari Ummu Habibah (binti Abi Sufyan), dari Zainab binti Jahsy, dia berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– terjaga dari tidurnya dengan wajah yang memerah seraya berkata, “Laa ilaaha illallaahu,” tiga kali diucapkan, “Celakalah orang-orang Arab lantaran keburukan semakin dekat! Hari ini dinding Ya’juj dan Ma’juj telah terbuka seperti ini,” dan beliau membuat lingkaran dengan jari telunjuk dan ibu jarinya. Zainab binti Jahsy berkata, “Aku pun bertanya, ‘Wahai Rasulullah, akankah kita celaka sementara di antara kita ada orang-orang shalih?’” Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menjawab, “Ya, jika keburukan semakin banyak.” –SELESAI …

Imam Muslim mengeluarkan pula hadits ini di dalam Shahih-nya, kitab al-Fitan wa Asy-rath as-Sa’ah, bab Iqtirab al-Fitan wa Fath Radm Ya’juj wa Ma’juj (2880), dari riwayat ash-hab Sufyan bin ‘Uyainah, dari Sufyan bin ‘Uyainah dengan sanad seperti ini. Imam Muslim berkata:

حدّثنا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَ سَعِيدُ بْنُ عَمْرٍو الأَشْعَثِيّ وَ زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَ ابْنُ أَبِي عُمَرَ. قَالُوا: حَدّثَنَا سُفْيَانُ عَنِ الزّهْرِيّ بِهَذَا الإِسْنَادِ. وَزَادُوا فِي الإِسْنَادِ عَنْ سُفْيَانَ، فَقَالُوا: عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ أُمّ سَلَمَةَ، عَنْ حَبِيبَةَ، عَنْ أُمّ حَبِيبَةَ، عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ

Telah bercerita kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah, Sa’id bin ‘Amr al-‘Asy’atsi, Zuhair bin Harb, dan Ibn Abi ‘Umar, mereka sama berkata: telah bercerita kepada kami Sufyan dari az-Zuhri dengan sanad ini, tetapi mereka menambahkan dalam sanadnya dari Sufyan dengan mengatakan: dari Zainab binti Ummu Salamah, dari Habibah, dari Ummu Habibah, dari Zainab binti Jahsy … –SELESAI …

Ada empat orang shahabat dalam sanad hadits tersebut, yaitu: (1) Zainab binti Abi Salamah, (2) Habibah (binti ‘Ubaidillah bin Jahsy), (3) Ummu Habibah (binti Abi Sufyan), dan (4) Zainab binti Jahsy

Dari keempat shahabat itu, dua orang di antaranya merupakan istri-istri Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Ummu Habibah (binti Abi Sufyan) dan Zainab binti Jahsy, sedangkan dua orang lainnya merupakan putri-putri tiri beliaushallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Zainab binti Abi Salamah dan Habibah (binti ‘Ubaidillah bin Jahsy) …

Imam an-Nawawi –rahimahullah– berkata dalam Syarah-nya terhadap Shahih Muslim:

هذا الإسناد اجتمع فيه أربع صحابيات: زوجتان لرسول الله صلى الله عليه وسلم وربيبتان له بعضهن عن بعض

“Pada sanad ini terkumpul empat orang shahabat perempuan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu dua orang istri Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan dua orang putri tiri beliau. Mereka meriwayatkan satu sama lain.” –SELESAI …

Syaikh Abu Muhammad ‘Abd al-Ghani bin Sa’id –rahimahullah– berkata di kitab ar-Ruba’i fi al-Hadits:

اجتمع في هذا الحديث زوجتان من أزواج النبي صلى الله عليه وسلم وهما: أم حبيبة، وزينب بنت جحش وربيبتان من ربائب النبي صلى الله عليه وسلم ، وهما: زينب بنت أم سلمة هي بنت أبي سلمة عبدالله بن عبدالأسد المخزومي، والأخرى حبيبة بنت أم حبيبة وهي بنت عُبَيْدِالله جحش

“Dalam hadits ini terkumpul dua orang istri Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Ummu Habibah dan Zainab binti Jahsy, dan dua orang putri tiri Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Zainab binti Ummu Salamah, yaitu putri dari Abu Salamah ‘Abdullah bin ‘Abd al-Asad al-Makhzumi dan yang lain adalah Habibah binti Ummu Habibah, yaitu putri dari ‘Ubaidillah bin Jahsy.” –SELESAI …

Referensi:

(1) ar-Ruba’i fi al-Hadits karya Abu Muhammad ‘Abd al-Ghani bin Sa’id; tahqiq: Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi al-Atsari …

(2) Fath al-Bari, karya Ibn Hajar al-‘Asqalani …

(3) Mu’jam al-Kabir karya ath-Thabarani …

(4) Shahih Muslim

(5) Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah karya Syaikh al-Albani …

(6) Sunan at-Tirmidzi

(7) Syarh Shahih Muslim karya Imam an-Nawawi …

(8) Tuhfah al-Ahwadzi karya al-Mubarakfuri …

 

Bandung, 16 September 2015

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

Agar Kemengertian Itu Tak Menjadi Alasan yang Menyudutkan di Negeri Kekekalan …

IBN HAZM

Kitab at-Talkhis li Wujuh at-Takhlish (hal: 71-72 dan 146-147)
Karya: Ibn Hazm al-Andalusi …
Tahqiq: Syaikh ‘Abd al-Haq at-Turkmani …

قال الأمام ابن حزم الأندلسي –رحمه الله: أمّا بعد؛ فإن كتابكم ورد عليّ٬ وفي أوّله وصفكم لي بما لست أهله عند نفسي٬ ولكني أحدث بنعمة الله تعالى علي٬ مؤتمرا لأمره؛ إذ يقول عزّ وجلّ (وأما بنعمة ربك فحدث) (الضحى: ١١)٬ فأقول: بلى! إن لله تعالى عندي نعما؛ أنا أسأله٬ ثم أرغب إليكم بالأمانة التي عرضها الله تعالى: (على السموات والأرض والجبال فأبين أن يحملنها وأشفقن منها وحملها الإنسان إنه كان ظلوماً جهولاً) (الأحزاب: ٧٢) أن تسألوه تعالى لي ولكم إذ يخفف في سجودكم في أواخر ليلكم، أن لا يجعل ما وضع عندنا من مادة الفهم في دينه فتنة لنا في دينه، ولا حجة علينا في الآخرة، وأن يجعل ما أودعنا من ذلك عوناً على طاعته في هذه الدار، وزلفى لديه تعالى في دار القرار، آمين آمين

Imam Ibn Hazm al-Andalusi –rahimahullah– berkata:
Syahdan, sesungguhnya surat kalian telah sampai kepadaku, dan di awal surat, kalian memerikanku dengan sifat-sifat terpuji yang menurutku tidaklah diriku sebagaimana pujian yang kalian gambarkan itu. Akan tetapi, aku akan mengabarkan nikmat Allah –ta’ala– atasku, sebagai pengikutan terhadap perintah-Nya tatkala Allah –‘Azza wa Jalla– berkata (QS. adh-Dhuha: 11), “Dan adapun tentang nikmat Rabb-mu, maka kabarkanlah.” Maka kukatakan, benar. Sesungguhnya Allah –ta’ala– memiliki banyak nikmat yang diberikan-Nya kepadaku. Aku memohon kepada-Nya, kemudian aku meminta kepada kalian tentang amanah yang Allah –ta’ala– kemukakan, “Kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,” agar hendaknya kalian meminta kepada Allah –ta’ala– bagiku dan bagi kalian ketika kalian dimudahkan dalam sujud-sujud kalian di akhir malam, agar jangan sampai Allah menjadikan kemengertian yang kita miliki dalam hal agama sebagai fitnah bagi kita dalam agamanya dan tidak menjadi alasan yang menyudutkan diri kita di akhirat kelak, dan agar Allah menjadikan apa yang dipercayakan-Nya kepada kita sebagai pertolongan untuk menaati-Nya di negeri dunia ini dan sebagai hal yang mendekatkan kedudukan kita dengan-Nya di kediaman akhirat, aamiin aamiin

قال الأمام ابن حزم الأندلسي –رحمه الله: وأمّا ما سألتم عنه من أي الأمور أفضلُ في النَّوافل: الصلاة أم الصيام أم الصدقة؟
فقد جاءت الرغائب في كل ذلك٬ وكلّها فعل حسن٬ وما أحب للمؤمن أن يخلو من أن يضرب في هذه الثلاث بنصيب ولو بما قل، إلا أن الصدقة الجارية في الثمار في الأرضين أحب إلي من الصلاة والصوم في التنفل. وقد روينا عن ابن مسعود رضي الله عنه أنه قال: “إذا صمت ضعفت عن الصلاة. والصلاة أحب إلي من الصيام” (١)، ولسنا نقلد في ذلك ابن مسعود، ولا نقول أيضاً إن هذا ليس كما قال، ولكني أقول: والله أعلم، إذ لا نص في ذلك عن النبي عليه السلام؛ ولكني قد قلت: إني أحب للمؤمن أن يضرب في كل هذه الثلاثة بنصيب ويأخذ بحظه من كل واحد منها وإن قل، فلذلك إن شاء الله خير له بلا شك من أن يأخذ بإحداهن ولا يأخذ من الباقيين نصيباً. وبيان ذلك أنه قد صح عن النبي صلى الله عليه وسلم أن المصلين يدعون من باب الصلاة، والصائمين يدعون من باب الصيام، وأصحاب الصدقة يدعون من باب الصدقة، فقال أبو بكر رضي الله عنه: يا رسول الله، ما على من يدعى من تلك الأبواب من ضرورة، فهل يدعى أحد من تلك الأبواب كلها. فقال: نعم، وأرجو أن تكون منهم (٢). فإنما اخترنا ما بشر به النبي صلى الله عليه وسلم أبا بكر، وحسبك بهذا اختياراً فاضلاً، جعلنا الله وإياكم من أهله، آمين …
(١) صحيح: رواه عبدالرزاق في مصنف (٧٩۰٣)٬ وابن سعد في الطبقات الكبرى (٣/١٥٥)٬ والطبراني في المعجم الكبير (٨٨٦٨) – (٨٨٧٥)٬ والبيهقي في شعب الإمان (٢۰١٨)٬ (٢۰١٩)٬ من طريق عنه وفي أكثرها: أنه كان يقلّ الصوم؛ فإن صام٬ صام ثلاثا من الشهر …
(٢) رواه البخاري (١٨٩٧)٬ ومسلم (١۰٢٧) من حديث أبي هريرة –رضي الله عنه

Imam Ibn Hazm al-Andalusi –rahimahullah– berkata:
Adapun pertanyaan kalian mengenai hal yang paling utama dari perkara-perkara nawafil (sunnah tambahan), apakah yang lebih utama itu shalat, puasa, ataukah sedekah? Maka pada masing-masing perkara nafilah tersebut (baik shalat, puasa, maupun sedekah) terdapat ganjaran, dan masing-masing amal tersebut merupakan amal yang baik. Aku tak menyukai jika seorang mukmin tak mengambil bagian dalam melaksanakan ketiga amal nafilah tersebut meskipun sedikit. Hanya saja sedekah jariah berupa hasil tanaman itu (barangkali sedekah jenis inilah yang lebih dibutuhkan oleh masyarakat pada zaman beliau dibanding sedekah jenis lainnya –pent) lebih kusukai dibandingkan shalat dan puasa nafilah. Dan kami meriwayatkan dari Ibn Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya dia berkata, “Jika aku berpuasa (nafilah), aku menjadi lemah untuk menjalankan shalat, dan shalat lebih kusukai daripada puasa.” (1) Tidaklah kami dalam hal tersebut bertaklid kepada Ibn Mas’ud, tetapi tidak pula kami mengatakan bahwa hal tersebut tidak sebagaimana yang dikatakan oleh Ibn Mas’ud. Akan tetapi, aku katakan, wallahu a’lamu, ketika tidak terdapat nash mengenai hal itu dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi, kukatakan pula bahwa aku lebih menyukai bagi seorang mukmin untuk mengambil bagian dalam pengerjaan masing-masing dari ketiga perkara nafilah tersebut dan memperoleh balasan baiknya dari masing-masing amalan nafilah tersebut meskipun sedikit. Hal itu, insya’ Allah, lebih baik baginya tanpa keraguan daripada sekadar memperoleh ganjaran dari salah satunya saja tanpa yang lainnya. Penjelasan bagi hal tersebut, bahwasanya telah sahih dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bahwa orang-orang yang shalat kelak akan dipanggil dari pintu shalat, orang-orang yang puasa akan dipanggil dari pintu puasa (yakni pintu ar-Rayyan –pent), sedangkan orang-orang yang bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah. (Dulu, ketika mendengar sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tersebut), Abu Bakr –radhiyallahu ‘anhu– berkata, “Wahai Rasulullah, bukan hal yang penting bahwa seseorang itu dipanggil dari salah satu pintu. Adakah orang yang dipanggil dari semua pintu itu?” Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menjawab, “Ya, dan aku berharap kau termasuk di antara orang-orang yang dipanggil dari semua pintu.” (2) Hanyalah kami memilih apa yang dikabarkan oleh Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– kepada Abu Bakr. Cukup bagimu keutamaan dengan pilihan ini, semoga Allah menjadikan kami dan kalian sebagai orang-orang yang melaksanakannya, aamiin

(1) Sahih; diriwayatkan oleh ‘Abd ar-Razzaq di kitab Mushannaf (7903), Ibn Sa’d di kitab ath-Thabaqat al-Kubra (3/155), ath-Thabarani di kitab Mu’jam al-Kabir (8868) – (8875), dan al-Baihaqi di kitab Syu’ab al-Iman (2018) dan (2019); dalam mayoritas riwayat, disebutkan, “Ibn Mas’ud sedikit berpuasa nafilah. Jika pun berpuasa, dia berpuasa tiga hari dalam setiap bulan.”
(2) Diriwayatkal oleh al-Bukhari (1897) dan Muslim (1027), dari hadits Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu

Bandung, 9 September 2015
–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Tentang Kisah ‘Abdullah bin al-Mubarak dan si Tukang Sol Sepatu Negeri Damaskus …

Untitled

Ada sebuah kisah yang sering saya dengar dalam ceramah-ceramah -juga saya baca dalam beberapa tulisan, tetapi tak saya ketahui sumber pengambilan cerita itu dan tak saya temukan pula dalam kitab-kitab yang dimungkinkan memuat kisah tersebut …
Kisah tanpa sumber itu bertutur tentang mimpi ‘Abdullah bin al-Mubarak saat tertidur selepas melaksanakan ibadah haji. Dalam mimpinya, ‘Abdullah bin al-Mubarak melihat dua orang malaikat menyebutkan seorang tukang sol sepatu di negeri Damaskus yang bernama ‘Ali bin al-Muwaffaq. Kata malaikat, tukang sol sepatu itulah satu-satunya orang yang ibadah hajinya diterima oleh Allah padahal dia sama sekali tidak ikut melaksanakan ibadah haji …
Kemarin, akhirnya saya dapati juga sumber dari kisah tersebut, yakni kitab Tadzkirah al-Auliya’ karangan Farid ad-Din al’-Aththar an-Naisaburi, seorang sufi dari Persia. Dalam kitab tersebut, Farid ad-Din al-‘Aththar menuturkan kisah tersebut tanpa sanad. Patut diketahui pula bahwa Farid ad-Din al-‘Aththar menuliskan kitab tersebut dalam bahasa Persia, tetapi –seiring waktu- telah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Arab (yakni terdapat beberapa manuskrip berbahasa Arab sebagai terjemahan dari kitab tersebut) …
Kenyataan yang saya temukan itu, yakni sumber aslinya yang berbahasa Persia dan ketiadaan sanad, membuat saya semakin yakin bahwa kisah tersebut memang tidak ada asalnya dari ‘Abdullah bin al-Mubarak. Seindah apa pun atau seberkesan apa pun, tetap saja kisah tersebut tidak bisa dikatakan benar dan sahih
Berikut saya nukilkan kisah tersebut dari kitab berbahasa Arab dengan judul Tadzkirah al-Auliya’ halaman : 230 – 232 (alihbahasa ke dalam bahasa Arab oleh Muhammad al-Ashili al-Wasthani asy-Sayafi’I, tahqiq oleh Muhammad Adib al-Jadir, dan tashhih Ahmad Aram) …

نقل أنه قال: قد حججت في بعض أعوام٬ وأتممت المناسك٬ وكنت قاعذا في الحرم الشريف إذ غلبني النوم٬ فرأيت فيما يرى النائم أنه نزل من السماء ملكان٬ وسأل أحدهما من الآخر: كم من الناس اجتمع في هذه السنة؟ قال: ست مائة ألف. قال: فحج كم منهم مقبول؟ قال: ليس حج أحد منهم مقبولا. قال عبد الله: لمّا سمعت هذا الكلام حصل لي اضطراب وألم عظيم٬ قلت: هذه الخلائق اجتمعوا وتعبوا وجاؤوا من كل فج أميق٬ وقطعوا البوادي٬ وسعيهم يصير ضائعا عند الله! قال: رجل إسكاف في دمشق يسمّي عليا ]بن[ الموفق (١)٬ وهو ما حضر الموقف؛ ولكن الله تعالى كتب له ثواب حج كامل٬ وقبل حج هذه الخلائق ببركته. فانتبه عبد الله من نومه٬ وقال: قصدت دمشق٬ إذ ليس منهم أفضل من أن ألتقي بذلك الشخص٬ وأستخبر من أعماله٬ وأعلم أنه بأي استحوذ على هذه الدرجة حتى كتب له حج٬ وقبل ببركته حج ناس كثير من المسلمين٬ فبلغت دمشق٬ وانتهيت بلا دليل إلى باب دار٬ وقرعته٬ فطلع شخص٬ فسألت اسمه٬ فقال: اسمي علي ]بن[ الموفق. قلت: وما عملك؟ قال: إني رجل مشفع٬ وعملي وصنعتي التشفيع (٢). قلت: لي معك كلام. وكان هناك مسجد٬ فدخلناه٬ وأعلمته عما رأيت في المنام٬ وقلت: اسمي عبد الله بن المبارك. فشهق الرجل شهقة وأغمي عليه٬ فلما أفاق٬ قلت: أخبرني عن هذا الخال. قال: من ثلاثين سنة أقصد ويارة الكعبة٬ وتحصيل المناسك٬ وأهمني ذلك (٣)٬ وكنت أجمع قليلا من التشفيع حتى انجمع لي ثلاث مئة وخمسون درهما٬ وأردت الحج في سنتنا هذه٬ ثم رأيت الدراهم قليلة٬ قلت: اصبر هذه السنة إلى القابلة٬ عسى أن يحصل لي خمسون درهما آخر ليصيروا أربع مئة درهم٬ ثم أسافر إن شاء الله تعالى٬ وكانت امرأتي حاملة٬ واشتمّت رائحة طعام من بعض بيوت الجيران٬ وتغيرت عليها الحال٬ وطلبت مني لقمة من ذلك الطعام٬ فأتيت باب ذلك البيت٬ وطلبت مذقة من ذلك الطعام٬ وأعلمت الحال٬ وكانت صاحبة البيت امرأة٬ فبكت وقالت: لي أولاد صغار أيتام٬ وما أكلوا شيئا في هذه الأسبوع٬ فدخلت اليوم في خرابة٬ فصادفت فيها جيفة حمار٬ وأتيت منها بقطعة لحم٬ وهي هذه في القدر بعد٬ وهي علينا حلال٬ وعليكم حرام. فلما سمعت الحكاية احترق القلبي رأفة بهم وشفقة عليهم٬ فلما رجعت إلى البيت وأخذت الدراهم المعهودة٬ وهي ثلاث مئة وخمسون درهما٬ وأتيت بها إلى المرأة٬ وأعطيتها إياها لتنفق على نفسها وعلى أطفالها٬ واكتفيت بالبذل لوجه الله على الحج٬ وقلت: هذا يقوم لي بعناية الله عن الحج ومقامه. فقال عبد الله: صدقت٬ وصدق الملك الرؤيا٬ وعدل الملك في الحكم والقضاء٬ والله أعلم بحقائق الأشياء …

Dinukil bahwasanya ‘Abdullah bin al-Mubarak berkata:
Pada suatu tahun aku melaksanakan ibadah haji dan menyempurnakan manasiknya. Saat kududuk di masjid al-haram selepas melaksanakan rangkaian manasik haji, aku terserang kantuk dan tertidur. Dalam mimpiku, aku melihat dua orang malaikat yang turun dari langit. Salah seorang dari malaikat itu bertanya kepada malaikat lainnya, “Berapa orangkah yang melaksanakan ibadah haji pada tahun ini?” Malaikat yang ditanya menjawab, “Enam ratus ribu orang.” Malaikat pertama bertanya lagi, “Berapa orang dari mereka yang ibadah hajinya diterima?” Malaikat kedua menjawab, “Tak seorang pun dari mereka yang ibadah hajinya diterima.”
‘Abdullah bin al-Mubarak berkata lagi:
Mendengar ucapan malaikat tersebut, hatiku berguncang dan benar-benar merasa pedih. Aku berkata (dalam hati), “Orang-orang yang melaksanakan ibadah haji itu itu telah berkumpul dengan berlelah-lelah, dan mereka berdatangan dari seluruh penjuru yang jauh seraya membelah gurun, lantas mereka dianggap sia-sia di sisi Allah?!?” (Kudengar lagi) Malaikat kedua berkata, “Ada seorang lelaki tukang sol sepatu yang tinggal di Damaskus, namanya ‘Ali bin al-Muwaffaq (1). Dia tak ikut melaksanakan ibadah haji. Akan tetapi, Allah menuliskan baginya pahala ibadah haji secara sempurna, lalu dengan sebab keberkahan ‘Ali bin al-Muwaffaq ini, Allah pun berkenan menerima ibadah haji orang-orang yang melaksanakan ibadah haji ini.”
‘Abdullah bin al-Mubarak pun terbangun dari tidurnya, lalu berkata lagi:
Aku pun pergi menuju Damaskus lantaran tak ada yang lebih utama untuk kutemui selain orang tersebut. Aku akan mencari tahu darinya tentang amal-amal yang diperbuatnya sehingga aku pun mengetahui amal apa yang membawanya kepada derajat tersebut sampai-sampai dituliskan baginya pahala haji secara sempurna bahkan diterima pula ibadah haji kebanyakan kaum muslimin lantaran keberkahannya. Kemudian sampailah aku di Damaskus dan berhenti tanpa petunjuk di depan pintu sebuah rumah. Aku mengetuk pintu tersebut, lalu keluarlah seseorang dari dalam rumah. Aku pun menanyakan namanya, lalu dia menjawab, “Namaku ‘Ali bin al-Muwaffaq.” Aku bertanya lagi, “Apa pekerjaanmu?” ‘Ali bin al-Muwaffaq menjawab, “Aku seorang tukang sol sepatu. Pekerjaanku memperbaiki sepatu (2).” Aku berkata, “Aku ingin berbicara denganmu.” Kebetulan di situ ada masjid. Kami berdua pun memasuki masjid itu. Aku beritahukan kepadanya tentang mimpiku, dan kukatakan kepadanya, “Aku adalah ‘Abdullah bin al-Mubarak.” Begitu mendengar akan namaku, dia pun berteriak dan pingsan. Setelah dia sadar kembali, kukatakanlah kepadanya, “Beritahukanlah kepadaku tentang keadaanmu (sampai-sampai kau disebut dalam mimpiku).”
Lantas ‘Ali bin al-Muwaffaq pun bercerita:
Sejak dari tiga puluh tahun yang lalu, aku bertekad untuk mengunjungi Ka’bah dan melaksanakan ibadah haji. Aku benar-benar sangat mementingkan hal itu (3). Aku selalu menyisihkan sedikit uang dari hasil pekerjaanku memperbaiki sepatu hingga terkumpullah uang sejumlah tiga ratus lima puluh dirham. Aku bermaksud untuk berangkat haji pada tahun kita ini. Aku melihat dirhamku belumlah cukup. Kukatakan pada diriku, “Aku bersabar untuk tetap mengumpulkan dirham tahun ini, semoga saja bisa kudapatkan sebanyak lima puluh dirham lagi agar genaplah menjadi empat ratus dirham. Dengan demikian aku akan melaksanakan ibadah haji, insya Allah ta’ala.” Saat itu istriku sedang hamil. Suatu hari, istriku mencium bau masakan dari salah satu rumah tetanggaku. Istriku sangat ingin untuk bisa mencicipi makanan itu. Dia pun memintaku untuk mendapatkan makanan itu. Aku lantas mendatangi rumah yang mengeluarkan aroma masakan tersebut. Aku meminta sedikit dari makanan tersebut seraya memberitahu tentang keinginan istriku yang sedang hamil. Pemilik rumah yang kudatangi adalah seorang perempuan. Begitu mendengar permintaanku, dia lantas menangis dan berkata, “Aku mempunyai beberapa orang anak yang masih kecil. Mereka yatim tak lagi punya ayah. Sudah seminggu ini mereka tak makan. Tadi aku memasuki area puing-puing reruntuhan, lalu kutemukan di sana bangkai keledai. Aku pun mengambil sepotong dagingnya. Daging itulah yang ada di dalam periuk itu, dan itu halal bagi kami tetapi haram bagi kalian.” Setelah mendengar kisah perempuan tersebut, hatiku pun terbakar dan merasa iba dan kasihan terhadap mereka. Aku pun kembali ke rumah dan mengambil dirham simpananku yang berjumlah tiga ratus lima puluh dirham. Aku membawanya kepada perempuan itu dan memberikan semua kepadanya untuk nafkah dirinya dan anak-anaknya. Aku mencukupkan bagi diriku dengan berderma seraya mengharapkan wajah Allah atas ibadah haji yang tadinya ingin kulakukan. Kukatakan (pada diriku sendiri), “Dermaku inilah yang akan menunaikan bagiku kewajiban haji dan kedudukannya dengan pertolongan Allah.”
(Mendengar penuturan ‘Ali bin al-Muwaffaq) itu, berkatalah ‘Abdullah bin al-Mubarak, “Kau benar. Malaikat yang berbicara dalam mimpiku pun benar, dan yang Maha Kuasa berlaku adil dalam hukum dan keputusan. Sungguh Allah lebih mengetahui hakikat segala sesuatu.” –SELESAI …

*
**

Demikianlah kisah yang terdapat dalam kitab Tadzkirah al-Auliya’ tersebut, sama sekali tanpa sanad dan sumber pengambilan kisah dari kitab-kitab yang bisa dijadikan rujukan. Dengan demikian, saya meyakini, bahwa kisah tersebut sama sekali tidak bisa disandarkan kepada ‘Abdullah bin al-Mubarak dan sama sekali tak berasal darinya –rahimahullahwallahu a’lamu

Catatan kaki kitab:

(١) كذا في الأصول٬ وهو غير علي بن الموفق الزاهد الورع السخي الذي توفي سنة ٢٨٣ ه انظر ترجمته ومصادرها في طبقات الصوفية للمناوي (١/٦٧٩) ومن نافلة القول أن عبد الله بن المبارك توفي سنة ١٨١ ه …
(٢) التشفيع: أصلاح الأخذية انظر صفحة ١٨١ وفي الترجمة العربية صفحة ٤١١ صنعته الحياكة
(٣) في (أ): أتمني ذلك

(1) Demikian namanya di kitab sumber, dan ‘Ali bin al-Muwaffaq di sini bukanlah ‘Ali bin al-Muwaffaq yang zuhud, wara’, dan dermawan yang wafat pada tahun 283 Hijriyah … -lihat biografi dan sumber-sumbernya dalam Thabaqat ash-Shufiyah karya al-Munawi (1/679); adapun ‘Abdullah bin al-Mubarak wafat pada tahun 181 Hijriyah …
(2) at-Tasyfi’: maksudnya adalah memperbaiki sepatu … -lihat halaman 181 di kitab ini; sedangkan dalam manuskrip Arab terdapat di halaman 411 berupa catatan kaki yang dibuat oleh penyusun …
(3) sementara dalam manuskrip lain, redaksinya adalah, “Dan aku berangan-angan untuk melaksanakannya.”

Bandung, 01 September 2015
–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–