Agar Kemengertian Itu Tak Menjadi Alasan yang Menyudutkan di Negeri Kekekalan …

IBN HAZM

Kitab at-Talkhis li Wujuh at-Takhlish (hal: 71-72 dan 146-147)
Karya: Ibn Hazm al-Andalusi …
Tahqiq: Syaikh ‘Abd al-Haq at-Turkmani …

قال الأمام ابن حزم الأندلسي –رحمه الله: أمّا بعد؛ فإن كتابكم ورد عليّ٬ وفي أوّله وصفكم لي بما لست أهله عند نفسي٬ ولكني أحدث بنعمة الله تعالى علي٬ مؤتمرا لأمره؛ إذ يقول عزّ وجلّ (وأما بنعمة ربك فحدث) (الضحى: ١١)٬ فأقول: بلى! إن لله تعالى عندي نعما؛ أنا أسأله٬ ثم أرغب إليكم بالأمانة التي عرضها الله تعالى: (على السموات والأرض والجبال فأبين أن يحملنها وأشفقن منها وحملها الإنسان إنه كان ظلوماً جهولاً) (الأحزاب: ٧٢) أن تسألوه تعالى لي ولكم إذ يخفف في سجودكم في أواخر ليلكم، أن لا يجعل ما وضع عندنا من مادة الفهم في دينه فتنة لنا في دينه، ولا حجة علينا في الآخرة، وأن يجعل ما أودعنا من ذلك عوناً على طاعته في هذه الدار، وزلفى لديه تعالى في دار القرار، آمين آمين

Imam Ibn Hazm al-Andalusi –rahimahullah– berkata:
Syahdan, sesungguhnya surat kalian telah sampai kepadaku, dan di awal surat, kalian memerikanku dengan sifat-sifat terpuji yang menurutku tidaklah diriku sebagaimana pujian yang kalian gambarkan itu. Akan tetapi, aku akan mengabarkan nikmat Allah –ta’ala– atasku, sebagai pengikutan terhadap perintah-Nya tatkala Allah –‘Azza wa Jalla– berkata (QS. adh-Dhuha: 11), “Dan adapun tentang nikmat Rabb-mu, maka kabarkanlah.” Maka kukatakan, benar. Sesungguhnya Allah –ta’ala– memiliki banyak nikmat yang diberikan-Nya kepadaku. Aku memohon kepada-Nya, kemudian aku meminta kepada kalian tentang amanah yang Allah –ta’ala– kemukakan, “Kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,” agar hendaknya kalian meminta kepada Allah –ta’ala– bagiku dan bagi kalian ketika kalian dimudahkan dalam sujud-sujud kalian di akhir malam, agar jangan sampai Allah menjadikan kemengertian yang kita miliki dalam hal agama sebagai fitnah bagi kita dalam agamanya dan tidak menjadi alasan yang menyudutkan diri kita di akhirat kelak, dan agar Allah menjadikan apa yang dipercayakan-Nya kepada kita sebagai pertolongan untuk menaati-Nya di negeri dunia ini dan sebagai hal yang mendekatkan kedudukan kita dengan-Nya di kediaman akhirat, aamiin aamiin

قال الأمام ابن حزم الأندلسي –رحمه الله: وأمّا ما سألتم عنه من أي الأمور أفضلُ في النَّوافل: الصلاة أم الصيام أم الصدقة؟
فقد جاءت الرغائب في كل ذلك٬ وكلّها فعل حسن٬ وما أحب للمؤمن أن يخلو من أن يضرب في هذه الثلاث بنصيب ولو بما قل، إلا أن الصدقة الجارية في الثمار في الأرضين أحب إلي من الصلاة والصوم في التنفل. وقد روينا عن ابن مسعود رضي الله عنه أنه قال: “إذا صمت ضعفت عن الصلاة. والصلاة أحب إلي من الصيام” (١)، ولسنا نقلد في ذلك ابن مسعود، ولا نقول أيضاً إن هذا ليس كما قال، ولكني أقول: والله أعلم، إذ لا نص في ذلك عن النبي عليه السلام؛ ولكني قد قلت: إني أحب للمؤمن أن يضرب في كل هذه الثلاثة بنصيب ويأخذ بحظه من كل واحد منها وإن قل، فلذلك إن شاء الله خير له بلا شك من أن يأخذ بإحداهن ولا يأخذ من الباقيين نصيباً. وبيان ذلك أنه قد صح عن النبي صلى الله عليه وسلم أن المصلين يدعون من باب الصلاة، والصائمين يدعون من باب الصيام، وأصحاب الصدقة يدعون من باب الصدقة، فقال أبو بكر رضي الله عنه: يا رسول الله، ما على من يدعى من تلك الأبواب من ضرورة، فهل يدعى أحد من تلك الأبواب كلها. فقال: نعم، وأرجو أن تكون منهم (٢). فإنما اخترنا ما بشر به النبي صلى الله عليه وسلم أبا بكر، وحسبك بهذا اختياراً فاضلاً، جعلنا الله وإياكم من أهله، آمين …
(١) صحيح: رواه عبدالرزاق في مصنف (٧٩۰٣)٬ وابن سعد في الطبقات الكبرى (٣/١٥٥)٬ والطبراني في المعجم الكبير (٨٨٦٨) – (٨٨٧٥)٬ والبيهقي في شعب الإمان (٢۰١٨)٬ (٢۰١٩)٬ من طريق عنه وفي أكثرها: أنه كان يقلّ الصوم؛ فإن صام٬ صام ثلاثا من الشهر …
(٢) رواه البخاري (١٨٩٧)٬ ومسلم (١۰٢٧) من حديث أبي هريرة –رضي الله عنه

Imam Ibn Hazm al-Andalusi –rahimahullah– berkata:
Adapun pertanyaan kalian mengenai hal yang paling utama dari perkara-perkara nawafil (sunnah tambahan), apakah yang lebih utama itu shalat, puasa, ataukah sedekah? Maka pada masing-masing perkara nafilah tersebut (baik shalat, puasa, maupun sedekah) terdapat ganjaran, dan masing-masing amal tersebut merupakan amal yang baik. Aku tak menyukai jika seorang mukmin tak mengambil bagian dalam melaksanakan ketiga amal nafilah tersebut meskipun sedikit. Hanya saja sedekah jariah berupa hasil tanaman itu (barangkali sedekah jenis inilah yang lebih dibutuhkan oleh masyarakat pada zaman beliau dibanding sedekah jenis lainnya –pent) lebih kusukai dibandingkan shalat dan puasa nafilah. Dan kami meriwayatkan dari Ibn Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya dia berkata, “Jika aku berpuasa (nafilah), aku menjadi lemah untuk menjalankan shalat, dan shalat lebih kusukai daripada puasa.” (1) Tidaklah kami dalam hal tersebut bertaklid kepada Ibn Mas’ud, tetapi tidak pula kami mengatakan bahwa hal tersebut tidak sebagaimana yang dikatakan oleh Ibn Mas’ud. Akan tetapi, aku katakan, wallahu a’lamu, ketika tidak terdapat nash mengenai hal itu dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi, kukatakan pula bahwa aku lebih menyukai bagi seorang mukmin untuk mengambil bagian dalam pengerjaan masing-masing dari ketiga perkara nafilah tersebut dan memperoleh balasan baiknya dari masing-masing amalan nafilah tersebut meskipun sedikit. Hal itu, insya’ Allah, lebih baik baginya tanpa keraguan daripada sekadar memperoleh ganjaran dari salah satunya saja tanpa yang lainnya. Penjelasan bagi hal tersebut, bahwasanya telah sahih dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bahwa orang-orang yang shalat kelak akan dipanggil dari pintu shalat, orang-orang yang puasa akan dipanggil dari pintu puasa (yakni pintu ar-Rayyan –pent), sedangkan orang-orang yang bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah. (Dulu, ketika mendengar sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tersebut), Abu Bakr –radhiyallahu ‘anhu– berkata, “Wahai Rasulullah, bukan hal yang penting bahwa seseorang itu dipanggil dari salah satu pintu. Adakah orang yang dipanggil dari semua pintu itu?” Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menjawab, “Ya, dan aku berharap kau termasuk di antara orang-orang yang dipanggil dari semua pintu.” (2) Hanyalah kami memilih apa yang dikabarkan oleh Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– kepada Abu Bakr. Cukup bagimu keutamaan dengan pilihan ini, semoga Allah menjadikan kami dan kalian sebagai orang-orang yang melaksanakannya, aamiin

(1) Sahih; diriwayatkan oleh ‘Abd ar-Razzaq di kitab Mushannaf (7903), Ibn Sa’d di kitab ath-Thabaqat al-Kubra (3/155), ath-Thabarani di kitab Mu’jam al-Kabir (8868) – (8875), dan al-Baihaqi di kitab Syu’ab al-Iman (2018) dan (2019); dalam mayoritas riwayat, disebutkan, “Ibn Mas’ud sedikit berpuasa nafilah. Jika pun berpuasa, dia berpuasa tiga hari dalam setiap bulan.”
(2) Diriwayatkal oleh al-Bukhari (1897) dan Muslim (1027), dari hadits Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu

Bandung, 9 September 2015
–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

2 comments on “Agar Kemengertian Itu Tak Menjadi Alasan yang Menyudutkan di Negeri Kekekalan …

  1. jampang says:

    kaitan antara judul sama tulisannya apa ya, kang? saya belum nemu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s