Purwarupa Waktu …

purwarupa

Kau menggugu kata hati untuk mengajakku memandang rupa sang waktu. Katamu, ia bernama Kala meski kerap disebut Zaman oleh citraleka dan sejarah. Kau pun meyakinkanku bahwa ia memiliki wajah yang lestari dan seelok purwarupanya yang semula …

Kaubilang, waktu lebih unik dari jarak yang ditempuh oleh lelah dalam perjalanan siang dan malam. Seakan-akan ia bagimu jauh lebih tak tergambarkan dari cinta yang senantiasa kuisyaratkan lewat klimis rambutku di depan sinar matamu. Mungkin saja ia lebih dingin dari beku menurutmu, atau barangkali lebih menyendiri dari kesendirian itu sendiri …

Sesaat kudengar kau bergumam seraya menyimpan telunjuk pada lengkung kantung matamu, “Waktu terus menuai usiaku tanpa bisa kuhalangi.” Aku lantas tertawa sebelum mengatakan apa yang hampir tak kukatakan. Kau tetap cantik meski menua. Aku tahu itu dengan mata hatiku yang terbelalak. Adapun waktu, ia tak punya kuasa atas gerak dan perubahan. Dia tercipta bukan mencipta meski kaum Zahiri dan lelaki Andalus telah menyematkan nama Waktu kepada Tuhan … –dan mereka telah keliru sebenar-benar keliru …

*untuk perempuan-perempuan yang kucintai; ibu, kakak, dan juga istriku …

Bandung, 8 Oktober 2015

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements