Ketika Mereka Bertakbir Mengitari Hewan Kurban …

rujak

Kitab Silsilah al-Fatwa asy-Syar’iyyah (1/182) …

Syaikh Abu al-Hasan Musthafa as-Sulaimani hafizhahullah …

 

السؤال (١٨٢): هناك عادة في بعض البلاد، وهي: أن يجتمع أهل البيت عند أضحيتهم، وأحيانًا يكبرون ويهللون فوقها، قبل ذبحها، وقد يُغَسِّلها بعضهم أو يوضئها قبل الذبح، أو يطوف حولها مع تكبير وتهليل، فما حكم ذلك؟

 

Syaikh Abu al-Hasan Musthafa as-Sulaimani hafizhahullah ditanya:

Ada kebiasaan yang berlaku di sebagian negeri, yaitu berkumpulnya anggota keluarga di dekat hewan kurban (yang akan disembelih). Terkadang mereka bertakbir dan bertahlil di sekitar hewan kurban sebelum disembelih. Sebagian di antara mereka memandikan atau mencuci terlebih dahulu hewan kurban itu sebelum disembelih. Atau mereka thawaf (berjalan mengitari) hewan kurban itu seraya bertakbir dan bertahlil. Bagaimanakah hukum mengenai hal itu?

 

الجواب: أما الغسل والوضوء، فلا أعلم فيه أثرًا لا صحيحًا ولا ضعيفًا، والظاهر: أنه من البدع التي نشأ عليها العوام لجهلهم بسماحة ويُسْرِ شريعة الإسلام، وهذه الأحوال من آثار الجهل، وتَصَدُّرِ الجهلاء للفتوى , فإنا لله وإنا إليه راجعون.

 

Syaikh Abu al-Hasan Musthafa as-Sulaimani hafizhahullah menjawab:

(Pertama): Adapun perkara memandikan atau mencuci hewan kurban itu sebelum disembelih, maka aku tak mengetahui adanya atsar (hadits) mengenai hal itu, baik yang sahih maupun yang dha’if. Yang tampak, itu termasuk di antara bid’ah-bid’ah yang berkembang di kalangan awam lantaran kejahilan mereka akan kelapangan dan kemudahan syariat Islam. Keadaan ini merupakan dampak dari kejahilan, dampak dari mengemukanya orang-orang bodoh untuk berfatwa, fa inna lillahi wa inna ilaihi raji’un

 

وأما حضور أهل البيت عند الذبح، فرُوي في ذلك حديث علي أن رسول الله – صلى الله عليه وعلى آله وسلم – قال: “يا فاطمة! قومي فاشهدي أضحيتك؛ فإن لك بكل قطرة تقطر من دمها مغفرة لكل ذنب، أما إنها تُجاء بدمها ولحمها، فيوضع في ميزانك سبعين ضعفاً”. فقال أبو سعيد: يا رسول الله، هذا لآل محمد خاصة، فأنت أهل لما اختصوا به من خير، أو للمسلمين عامة؟ فقال – صلى الله عليه وعلى آله وسلم – : “لآل محمد خاصة، والمسلمين عامة ” أخرجه عبد بن حميد في “المنتخب” برقم (٧٨) وغيره، وفي سنده عمرو بن خالد، وهو متروك.

 

(Kedua): Adapun mengenai kehadiran anggota keluarga di dekat hewan sembelihan, maka diriwayatkan mengenai hal itu hadits dari ‘Ali bahwasanya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Wahai Fathimah, pergi dan saksikanlah penyembelihan hewan kurbanmu! Sesungguhnya bagimu, pada setiap tetes darahnya terdapat ampunan bagi tiap-tiap dosamu. Sesungguhnya kelak, hewan kurbanmu itu akan didatangkan bersama darah dan dagingnya, lalu diletakkan di atas timbanganmu sebagai kebaikan yang dilipatgandakan hingga tujuh puluh kali.” (Mendengar itu), berkatalah Abu Sa’id, “Wahai Rasulullah, apakah itu khusus untuk keluarga Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- saja sehingga kau (dan keluargamu) yang berhak mendapatkan kekhususan dari kebaikan ini? Ataukah mencakup juga kaum Muslimin seluruhnya?” Maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun menjawab, “Untuk keluarga Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- secara khusus, dan untuk kaum Muslimin secara umum.”

Hadits tersebut dikeluarkan oleh ‘Abd bin Humaid di kitab al-Muntakhab (78) dan selainnya. Akan tetapi, pada sanadnya ada ‘Amr bin Khalid, seorang perawi yang matruk (ditinggalkan haditsnya) …

 

وروي بنحوه من حديث عمران بن حصين عند الحاكم (٤/٢٢٢) وابن عدي في “الكامل” (٧/٢٤٩٢) والطبراني في “الكبير” برقم (٦۰۰) وغيره. وفي سنده أبو حمزة الثمالي، ضعيف جدًّا.

 

Dan diriwayatkan pula yang senada dengan hadits itu oleh Imam al-Hakim (4/222) dari ‘Imran bin Hushain, juga dikeluarkan oleh Ibn ‘Adi di kitab al-Kamil (7/2492), ath-Thabarani di kitab al-Kabir (600), dan lain-lain. Akan tetapi, pada sanadnya ada Abu Hamzah ats-Tsamali, seorang perawi yang dha’if jiddan (sangat lemah) …

 

فإذا كانت الآثار في ذلك لا تصح؛ فلا نذهب إلى استحباب حضور أهل البيت، والأمر على الإباحة، ما لم يعتقد الناس استحباب ذلك، فيترك الحضور أصلاً، والله أعلم .

 

Oleh karena itu, lantaran hadits-hadits mengenai hal itu tidak sahih, maka kami tak berpendapat bahwa kehadiran anggota keluarga (dalam penyembelihan hewan kurban) itu sebagai sesuatu yang istihbab (anjuran), melainkan hukumnya hanyalah ibahah (boleh) saja selama orang-orang tidak berkeyakinan bahwa hal itu dianjurkan. Maka pada asalnya, anggota keluarga itu tidak hadir dalam acara penyembelihan. Wallahu a’lamu

 

وأما الطواف مع التهليل حول الأضحية قبل ذبحها؛ فمن البدع المنكرة القبيحة، والعلم عند الله تعالى.

 

(Ketiga): Adapun perkara thawaf (berjalan mengitari) hewan kurban seraya bertahlil (dan bertakbir) di sekeliling hewan kurban sebelum disembelih, maka hal itu termasuk di antara bid’ah-bid’ah yang mungkar dan buruk, wa al-‘ilm ‘inda Allah ta’ala … –SELESAI

 

*

**

 

Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah wa al-Maudhu’ah (528):

Syaikh al-Albani –rahimahullah

 

يا فاطمة! قومي إلى أضحيتك فاشهديها، فإنه يغفر لك عند أول قطرة من دمها كل ذنب عملتيه، وقولي: (قل إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين لا شريك له وبذلك أمرت وأنا من المسلمين) . قال عمران بن حصين: قلت: يا رسول الله! هذا لك ولأهل بيتك خاصة وأهل ذاك أنتم – أم للمسلمين عامة؟ قال: لا، بل للمسلمين عامة.”

 

“Wahai Fathimah, pergilah menuju tempat penyembelihan hewan kurbanmu dan saksikanlah! Sesungguhnya setiap dosa yang telah kauperbuat akan diampuni bersamaan dengan awal tetes darah hewan kurbanmu. Dan ucapkanlah olehmu, ‘Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadah kurbanku, juga hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya, dan dengan hal itulah aku diperintahkan, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri.’” (Mendengar itu), berkatalah ‘Imran bin Hushain, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah hal itu hanyalah khusus bagimu dan juga keluargamu ataukah mencakup kaum Muslimin semuanya?’” Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menjawab, “Tidak begitu. Bahkan hal itu umum mencakup semua kaum Muslimin.”

 

Mengenai hadits tersebut, Syaikh al-Albani –rahimahullah– berkata di kitab Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah (528) sebagai berikut:

 

منكر.
أخرجه الحاكم (٤/٢٢٢ ( من طريق النضر بن إسماعيل البجلي: حدثنا أبو حمزة الثمالي عن سعيد بن جبير عن عمران بن حصين مرفوعا. وقال: “صحيح الإسناد”! فرده الذهبي بقوله: ” قلت: بل أبو حمزة ضعيف جدا، و[ابن] إسماعيل ليس بذاك.”

 

Hadits tersebut MUNKAR. Dikeluarkan oleh al-Hakim (4/222) dari jalan an-Nadhr bin Isma’il al-Bajali: telah bercerita kepada kami Abu Hamzah ats-Tsamali, dari Sa’id bin Jubair, dari ‘Imran bin Hushain secara marfu’, dan al-Hakim mengatakan, “Shahih sanadnya.” Lantas Imam adz-Dzahabi membantahnya seraya berucap, “Kukatakan, bahkan Abu Hamzah itu dha’if jiddan (sangat lemah), sementara Ibn Isma’il itu tidak kuat.”

 

ومن طريق أبي حمزة واسمه ثابت بن أبي صفية رواه الطبراني في “الكبير” و”الأوسط” كما في “المجمع” (٤/١٧ (ثم ساق له الحاكم شاهدا من طريق عطية عن أبي سعيد الخدري مرفوعا دون قوله: “وقولي…. ” وجعل: “قلت: يا رسول الله هذا لك… ” من قول فاطمة، ورده الذهبي أيضا بقوله: “قلت: عطية واه “.

 

Dan dari jalan Abu Hamzah –namanya Tsabit bin Abi Shafiyah- ini, Imam ath-Thabarani meriwayatkannya di kitab al-Kabir dan al-Ausath sebagaimana tertera dalam kitab al-Majma’ (4/17). Kemudian al-Hakim menyebutkan syahid dari jalan ‘Athiyyah dari Abu Sa’id al-Khudhri secara marfu’ tanpa redaksi berupa ucapan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berikut, “Dan ucapkanlah olehmu.” Selain itu, redaksi yang dikatakan oleh ‘Imran bin Hushain berikut, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah hal itu hanyalah khusus bagimu dan juga keluargamu ataukah mencakup kaum Muslimin semuanya?’” menjadi redaksi yang diucapkan oleh Fathimah. Dan riwayat al-Hakim tersebut dibantah pula oleh Imam adz-Dzahabi dengan ucapan, “Kukatakan, ‘Athiyyah itu rapuh.’”

 

ومن طريقه رواه البزاز وأبو الشيخ ابن حيان في ” كتاب الضحايا ” كما في ” الترغيب ” (٢/١۰٢ (وقال ابن أبي حاتم في “العلل” (٢/٣٨-٣٩ ( “سمعت أبي يقول: هو حديث منكر “.ورواه أبو قاسم الأصبهاني عن علي نحوه كما في ” الترغيب “. وقال: ” وقد حسن بعض مشايخنا حديث علي هذا، والله أعلم “.

 

Dan dari jalannya, diriwayatkan pula oleh Imam al-Bazzar, begitu juga Abu asy-Syaikh Ibn Hayyan di kitab adh-Dhahaya sebagaimana disebutkan dalam at-Targhib (2/102). Dan Ibn Abi Hatim berkata di kitab al-‘Ilal (2/38-39), “Aku mendengar ayahku mengatakan, dia itu hadits munkar.” Dan diriwayatkan pula oleh Abu Qasim al-Ashbahani, dari ‘Ali seperti itu sebagaimana terdapat dalam at-Targhib, dan dia (al-Mundziri) mengatakan, “Dan sebagian di antara guru-guru kami telah menghasankan hadits ‘Ali ini, wallahu a’lamu.”

 

Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah wa al-Maudhu’ah (6828):

 

(٦٨٢٨) يا فاطمة! قومي إلى أضحيتك فاشهديها، فإن لك بكل قطرة تقطر من دمها أن يغفر لك ما سلف لك من ذنوبك. قالت: يا رسول الله! ألنا خاصة أهل البيت، أو لنا وللمسلمين ]عامة[ ؟ قال: بل لنا وللمسلمين ]عامة[

“Wahai Fathimah, pergilah menuju tempat penyembelihan dan saksikanlah hewan kurbanmu! Sesungguhnya bagimu dari setiap tetes darah hewan kurbanmu terdapat ampunan atas semua dosamu yang telah lalu. Fathimah berkata, “Wahai Rasulullah, apakah hal itu khusus bagi kita, ahli bait, ataukah untuk kita dan kaum Muslimin secara umum?” Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menjawab, “Bahkan hal itu umum bagi kita dan kaum Muslimin secara umum.”

 

Syaikh al-Albani –rahimahullah– berkata di kitab Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah (6828):

 

ضعيف.
أخرجه الحاكم (٤/٢٢٢)، والعقيلي في الضعفاء (٢/٣٧) -والزيادتان لهما-، والبزار في مسنده (٢/٥٩/١٢۰٢) – كشف الأستار، والقاضي أبو يعلى في الخامس من الأمالي (ق ٣۰/١) من طريق داود بن عبد الحميد: ثنا عمرو بن قيس الملائي عن عطية عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه مرفوعاً. وقال البزار: “لا نعلم له طريقاً عن أبي سعيد أحسن من هذا، وعمرو بن قيس كان من عباد أهل الكوفة وأفاضلهم، ممن يجمع حديثه وكلامه .”

 

DHA’IF. Dikeluarkan oleh al-Hakim (4/222), al-‘Uqaili di kitab adh-Dhu’afa’ (2/37) –dan tambahan dalam kurung ini dari keduanya-, al-Bazzar dalam Musnad-nya (2/59/1202) –Kasyf al-Astar, al-Qadhi Abu Ya’la pada bagian kelima dari kitab al-Amali (1/30), dari jalan Dawud bin ‘Abd al-Humaid: telah bercerita kepada kami ‘Amr bin Qais al-Mula-i, dari ‘Athiyah, dari Abu Sa’id al-Khudri –radhiyallahu ‘anhu– secara marfu’. Imam al-Bazzar berkata, “Kami tak mengetahui baginya jalan dari Abu Sa’id yang lebih baik dari ini, dan ‘Amr bin Qais itu termasuk ahli ibadah penduduk Kufah dan orang yang paling utama dari kalangan mereka, orang yang hadits dan ucapannya dikumpulkan (dicari dan diharapkan).”

 

قلت: لكن الشأن فيمن دونه، ومن فوقه؛ فقد أورده العقيلي في ترجمة داود ابن عبد الحميد، وقال: “عن عمرو بن قيس الملائي بأحاديث لا يتابع عليها”. وقال ابن أبي حاتم: “سكت أبي عنه، وعرضت عليه حديثه؟ قال: لا أعرفه، وهو ضعيف الحديث، يدل حديثه على ضعفه.” وقال الأزدي: منكر الحديث.” وعطية – هو: ابن سعد العوفي، وهو -: ضعيف مدلس، ذكره الحاكم شاهداً لحديث عمران بن حصين نحوه وسكت عنه، وتعقبه الذهبي بقوله: قلت: عطية واه.”

 

Aku (Syaikh al-Albani) katakan, akan tetapi permasalahannya terletak pada rawi sebelum dan sesudah ‘Amr bin Qais. Imam al-‘Uqaili menyebutkan dalam tarjamah Dawud bin ‘Abd al-Humaid dengan mengatakan, “Meriwayatkan dari ‘Amr bin Qais al-Mula-i dengan hadits-hadits yang tak memiliki penyerta.” Ibn Abi Hatim berkata, “Ayahku diam tentangnya. Kutunjukkan haditnya kepada ayahku, lalu ayahku mengatakan tak mengenalnya, dia dha’if al-hadits, hadistnya sendiri yang menunjukkan akan kedha’ifannya.” Imam al-Azdi berkata, “Munkar al-Hadits.” Adapun ‘Athiyah, dia adalah Ibn Sa’d al-‘Aufi, seorang yang dha’if lagi mudallis. Imam al-Hakim menyebutkannya sebagai syahid bagi hadits ‘Imran bin Hushain seperti tersebut dan dia diam tak memberi komentar, sedangkan Imam adz-Dzahabi berkomentar dengan ucapan, “’Athiyah itu rapuh.”

وقد التبس على المنذري براو آخر؛ فقال في الترغيب (٢/١۰٢/٣): “رواه البزار، وأبو الشيخ بن حيان في كتاب الضحايا وغيره، وفي إسناده عطية بن قيس: وثق، وفيه كلام.” وهذا وهم عجيب؛ فليس لـ (عطية بن قيس) ذكر في هذا الإسناد – كما ترى -، وأعجب منه أن يقلده الهيثمي فيقول (٤/١٧): رواه البزار، وفيه (عطية بن قيس) ، وفيه كلام كثير، وقد وثق.” وعطية بن قيس – وهو: الكلابي الحمصي، وهو -: ثقة لا كلام فيه؛ فهما يعنيان به عطية بن سعد العوفي ولكنهما وُهِما في اسم أبيه. والمعصوم من عصمه الله تبارك وتعالى. وأما حديث عمران فقد أشار إليه العقيلي بقوله عقب حديث الترجمة: “وله رواية أخرى من غير هذا الوجه، لينة أيضاً.”

 

Imam al-Mundziri mengalami kesamaran dengan rawi lainnya, lalu dia mengatakan di kitab at-Targhib (2/102/3), “Diriwayatkan oleh al-Bazzar dan Abu asy-Syaikh di kitab adh-Dhahaya’ serta yang lainnya, sedangkan di dalam sanadnya ada ‘Athiyah bin Qais yang dianggap tsiqah meskipun ada pembicaraan terhadapnya.” Dan ini merupakan kekeliruan yang mengherankan. Padahal ‘Athiyah bin Qais tidak disebut di dalam sanad ini sebagaimana yang kaulihat. Dan yang lebih mengherankan lagi adalah abhwa al-Haitsami mengikutinya seraya mengatakan (4/17), “Diriwayatkan oleh al-Bazzar, dan pada sanadnya ada ‘Athiyah bin Qais yang banyak dibicarakan tetapi dia dianggap tsiqah.” Padahal ‘Athiyah bin Qais adalah al-Kilabi al-Himshi, seorang yang tsiqah dan tak ada pembicaraan mengenainya. Maka maksud dari al-Mundziri dan al-Haitsami adalah ‘Athiyah bin Sa’d al-‘Aufi, tetapi keduanya keliru dalam menyebut ayahnya. Dan yang ma’shum itu hanyalah orang yang Allah jaga saja. Adapun hadits ‘Imran (bin Hushain), maka al-‘Uqaili telah berisyarat akan kelemahannya melalui ucapannya mengikuti hadits yang disebutkannya, “Dan baginya terdapat riwayat lain selain sanad ini, tetapi lemah juga.”

وقد كنت خرجته قديماً في المجلد الثاني برقم (٥٢٨) من رواية الحاكم بإسناد ضعيف جداً. والآن وقد توفرت عندي مصادر أخرى؛ فقد رأيت أن أذكرها؛ لكي لا يغتر أحد بها أو ببعضها، ويتوهم أنها من طريق أخرى والأمر على خلافه: فأخرجه الطبراني في المعجم الكبير (١٨/٢٨٩/٦۰۰) وفي الأوسط (٣/٢٤٧/٢٥٣۰)، والروياني في مسنده (١/١٣٤/١٣٨)، والخطيب في الموضح (٢/١٣) وفي الأمالي في مسجد دمشق (ق ٤/٢/٢) ، والبيهقي في السنن (٩/٢٨٣)، وفي شعب الإيمان (٥/٤٨٣/٧٣٣٨)؛ كلهم من طريق النضر بن إسماعيل البجلي عن أبي حمزة الثمالي عن سعيد بن جبير عنه. وقال الطبراني: “تفرد به أبو حمزة الثمالي.”

 

Sebelumnya, aku telah mengeluarkan hadits tersebut dalam kitab ini, jilid kedua nomor (528) dari riwayat al-Hakim dengan sanad dha’if jiddan. Dan sekarang telah semakin lengkap padaku rujukan-rujukan lain, dan aku memandang perlu untuk menyebutkannya agar orang tidak tertipu dengannya atau dengan sebagiannya dan menganggap bahwa hadits tersebut berasal dari jalan lain padahal kenyataannya tidaklah begitu. Hadits-hadits tersebut dikeluarkan oleh al-Hakim di kitab al-Mu’jam al-Kabir (18289/7600), juga dalam al-Ausath (3/247/2530), ar-Ruyani dalam Musnad-nya (1/134/138), al-Khathib di kitab al-Muwadhdhih (2/13) dan dalam al-Amali fi Masjid Dimasq (4/2/2), al-baihaqi di kitab Sunan (9/283) dan dalam Syu’ab al-Iman (5/483/7338), semuanya dari jalan an-Nadhr bin Isma’il al-Bajali, dari Abu hamzah ats-Tsamali, dari Sa’id bin Jubair, darinya. Imam ath-Thabarani berkata, “Abu Hamzah ats-Tsamali tafarrud dengan hadits ini.”

 

قلت: وهو ضعيف جداً – كما تقدم هناك. وقد روي الحديث بنحوه من طريق أهل البيت رضي الله عنهم بإسناد أوهى منه، وقد حسنه بعضهم؛ فوجب بيانه، وهو التالي:

 

Aku katakan, hadits tersebut dha’if jiddan sebagaimana telah berlalu penjelasannya di sana. Diriwayatkan pula hadits semisal itu dari jalan Ahl al-bait –radhiyallahu ‘anhum– dengan sanad yang lebih rapuh lagi meskipun sebagian dari mereka menganggapnya hasan, maka wajib untuk menjelaskan kelemahannya sebagai berikut:

 

Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah wa al-Maudhu’ah (6829):

 

(٦٨٢٩( يا فاطمة! قومي فاشهدي أضحيتك، اما إن لك بأول قطرة تقطر من دمها مغفرة لكل ذنب، اما إنه يجاء بها يوم القيامة بلحومها ودمائها سبعين ضعفا حتى توضع في ميزانك. فقال أبو سعيد الخدرى رضى الله عنه: يارسول الله! أهذه لآل محمد خاصة – فهم أهل لما خصوا به من خير – أو لآل محمد والناس عامة؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: بل هي لآل محمد والناس عامة

 

“Wahai Fathimah, pergilah menuju tempat penyembelihan dan saksikanlah hewan kurbanmu! Sesungguhnya bagimu dengan awal tetes darah hewan kurbanmu ampunan atas semua dosa. Dan sesungguhnya dia akan didatangkan pada hari kiamat dengan daging dan darahnya sebanyak tujuh puluh kali lipat hingga diletakkan pada timbanganmu.” Maka berkatalah Abu Sa’id al-Khudri –radhiyallahu ‘anhu, “Wahai Rasulullah, apakah hal itu hanyalah khusus bagi keluargamu saja yang memang mereka itu berhak atas kebaikan yang khusus tersebut ataukah mencakup bagi keluarga Muhammad dan semua manusia?” Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menjawab, “Bahkan hal itu umum bagi keluarga Muhammad dan semua manusia.”

 

Syaikh al-Albani –rahimahullah– berkata di kitab Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah (6829):

 

موضوع.
أخرجه عبد بن حميد في ” المنتخب من المسند (١/١٢٨/٧٨(، والبيهقي في السنن) ٩/٢٨٣(، والأصبهاني في الترغيب (١/٣٤٨/١٧٥( من طريق سعيد بن زيد: ثنا عمرو بن خالد عن محمد بن علي عن أبائه عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه مرفوعاً. وقال البيهقي: ” عمرو بن خالد ضعيف. كذا قال، فتساهل معه؛ فإنه مجمع على تركه، فقد كذبه جماعة منهم ابن معين، وقال إسحاق بن راهويه وأبو زرعة: كان يضع الحديث”. وقال أحمد: “كذاب، يروي عن زيد بن علي عن آبائه أحاديث موضوعة، يكذب”. وقال ابن عدي: ” عامة ما يرويه موضوعات.”

 

PALSU. Dikeluarkan oleh ‘Abd bin Humaid di kitab al-Muntakhab min al-Musnad (1/128/78), al-Baihaqi di kitab Sunan (9/283), dan al-Ashbahani di kitab at-Targhib (1/348/175), dari jalan Sa’id bin Zaid: telah bercerita kepada kami Khalid, dari Muhammad bin ‘Ali, dari ayahnya, dari ‘Ali bin Abi Thalib –radhiyallahu ‘anhu secara marfu’. Dan Imam al-Baihaqi berkata, “‘Amr bin Khalid dha’if.” Demikianlah ucapan al-Baihaqi, dan dia telah bermudah-mudah karena sesungguhnya para ulama telah sepakat meninggalkan ‘Amr bin Khalid (yakni matruk). Sebagian jama’ah, di antaranya Ibn Ma’in, bahkan menganggapnya dusta, sementara Ishaq bin Rahawaih dan Abu Zur’ah mengatakan, “Dia memalsukan hadits.” Imam Ahmad berkata, “Dia pendusta, meriwayatkan dari Zaid bin ‘Ali dari ayahnya hadits-hadits palsu, dia berdusta.” Ibn ‘Adi berkata, “Secara umum, hadits-hadits yang diriwayatkannya palsu.”

 

إذا عرفت أقوال هؤلاء الأئمة الحفاظ؛ فاعجب من ذاك التساهل قول المنذري عقب الحديث (٢/١۰٢/٣(:
“وقد حسّن بعض مشايخنا حديث علي هذا. والله أعلم!” فأقره ولم يرده! بل وأشار إلى تقويته بتصديره إياه تحت حديث أبي سعيد الذي قبله بقوله: ” وعن … “!!

 

Jika kau telah mengetahui ucapan para imam dan huffazh tersebut, maka sungguh mengherankan sikap bermudah-mudah dalam ucapan al-Mundziri dalam mengomentari hadits (2/102/3), ““Dan sebagian di antara guru-guru kami telah menghasankan hadits ‘Ali ini, wallahu a’lamu.” Dia menetapkan hadits tersebut tanpa membantahnya, bahkan mengisyaratkan kepada penguatan hadits tersebut dengan ungkapannya di bawah hadits Abu Sa’id sebelumnya dengan ucapan, “Dan dari ….”

 

 

Bandung, 30 November 2015

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

4 comments on “Ketika Mereka Bertakbir Mengitari Hewan Kurban …

  1. nuhunnn kang telah berbagi

  2. jampang says:

    saya nggak suka ngelihat kambing kurban dipotong…. soalnya sudah penuh sesak dengan orang 😀
    mending di rumah aja

    jambu dan sambal rujaknya enak tuh, kang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s