Tentang Bermudah-Mudah Membunuh Kafir di Negeri Muslim …

Untitled-

Syaikh Abu al-Hasan Musthafa bin Isma’il as-Sulaimany –hafizhahullah

Kitab: Fitnah at-Tafjirat wa al-Ightiyalat: al-Asbab wa al-Atsar wa al‘Ilaj (240-242) …

 

وقد يستدل بعضهم على جواز اغتيال بعض من دخل بلاد المسلمين من الكفار، دون الرجوع إلى وليّ الأمر، بما أخرجه أبو داود والنسائي وغيرهما([1]) من حديث ابن عباس – رضي الله عنهما  – أن أعمى كانت له أم ولد، تشتم النبي – صلى الله عليه وعلى آله وسلم- وتقع فيه، فينهاها؛ فلا تنتهي، ويزجرها؛ فلا تنـزجر، فلما كانت ذات ليلة، جعلتْ تقع فيه – أي: في النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم- وتشتمه، فأخذ – أي: الأعمى- المِغْول، ووضعه في بطنها، واتكأ عليها، فقتلها، فوقع بين رجليها  طفل، فلطخت ما هناك بالدم، فلما أصبح؛ ذُكر ذلك لرسول الله – صلى الله عليه وعلى آله وسلم- فجمع الناس، فقال: ((أُنْشِد الله رجلا، فعل ما  فعل، لي عليه حق؛ إلا قام)) فقام الأعمى يتخطى الناس ، وهو يتزلزل، حتى قعد بين يدي النبي – صلى الله عليه وعلى آله وسلم- فقال: يارسول الله، أنا صاحبها، كانت تشتمك، وتقع فيك، فأنهاها؛ فلا تنتهي، وأزجرها؛ فلا تنـزجر، ولي منها اثنان مثل اللؤلؤتين، وكانت بي رفيقة، فلما كانت البارحة، جعلت تشتمك، وتقع فيك، فأخذتُ المِغْول، فوضَعْتُه في بطنها، واتكأْتُ عليها، حتى قتلتها، فقال النبي – صلى الله عليه وعلى آله وسلم-: ((ألا اشهدوا أن دمها هدر)).اهـ.

 

Sebagian di antara mereka (yakni suatu kelompok –pent) menyatakan kebolehan untuk membunuh orang kafir yang masuk ke negeri kaum Muslimin tanpa menyerahkan urusan tersebut kepada pemerintah berdasarkan dalil yang dikeluarkan oleh Abu Dawud, an-Nasa-i, dan lain-lain [1] yang bersumber dari hadits Ibn ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhu– bahwasanya ada seorang lelaki buta yang memiliki Ummu Walad. Ummu Waladnya itu suka mencaci maki dan mencela Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tentu saja lelaki buta itu senantiasa melarang dan mencegah si Ummu Walad berbuat seperti itu, tetapi tetap saja ia tak mau berhenti dan tak bisa dicegah. Pada suatu malam, Ummu Walad itu kembali mencela dan mencaci maki Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu lelaki buta itu mengambil pedang dan menegakkan pedangnya di atas perut si Ummu Walad. Lelaki buta itu menekan pedang itu hingga terhunjam dan membunuh si Ummu Walad, lalu bayi yang dikandung si Ummu Walad pun terjatuh di antara kedua kakinya sehingga darah pun mengotori tempat tidur. Keesokan paginya, disebutkanlah peristiwa tersebut kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau pun mengumpulkan orang-orang, lalu berkata, “Aku bersumpah dengan nama Allah, hendaklah lelaki yang berbuat apa yang telah diperbuatnya berdiri! Aku mempunyai hak atasnya.” Maka berdirilah lelaki buta itu, lalu berjalan dengan gemetaran melangkahi orang-orang yang ada di sana hingga duduk di hadapan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lelaki buta itu berkata, “Wahai Rasulullah, akulah pemilik Ummu Walad tersebut. Dia selalu mencaci maki dan mencelamu. Aku telah melarang dan mencegahnya berbuat begitu, tetapi dia tak jua mau berhenti dan tak bisa dicegah. Aku memiliki dua orang anak darinya yang keduanya laksana dua buah mutiara. Ummu Walad itu adalah teman hidupku. Kemarin, dia kembali mencaci maki dan mencelamu, maka aku pun mengambil pedang dan kutegakkan di atas perutnya lalu kutekan hingga terhunjam dan membunuhnya.” Lalu Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Kalian saksikanlah bahwa darah perempuan tersebut terbuang dengan sia-sia!” –SELESAI …

قالوا: فهذا الأعمى قتلها لِسَبِّها رسولَ الله – صلى الله عليه وعلى آله وسلم- ولم ينكر عليه رسول الله – صلى الله عليه وعلى آله وسلم- ذلك، ونحن نرى أن كثيرًا ممن دخل بلاد المسلمين من هؤلاء؛ يضرُّ ببلادنا أكثر من ضرر هذه الأَمَة، فلماذا تنكرون علينا قتلهم، وتوجبون علينا إرجاع أمرهم إلى ولاة الأمور ؟!

 

Mereka (kelompok tersebut –pent) mengatakan, “Lelaki buta ini membunuh si Ummu Walad lantaran caci makinya terhadap Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Di sisi lain), Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidak mengingkari perbuatan si lelaki buta tersebut yang membunuh si Ummu Walad. Kami memandang bahwa mayoritas dari orang-orang yang memasuki negeri kaum Muslimin itu lebih membahayakan negeri kami dibandingkan bahaya yang ditimbulkan oleh si Ummu Walad ini. Maka, bagaimana bisa kalian mengingkari kami atas pembunuhan yang kami lakukan terhadap mereka? Bagaimana bisa kalian mewajibkan kami untuk mengembalikan (penanganan) urusan mereka kepada pemerintah?”

 

والجواب على ذلك من وجوه – إن شاء  الله تعالى –:

الأول: من المعلوم أن القاضي لا يقضي إلا بالبينة – لاسيما في الدماء – وفي هذه القصة قَبِلَ النبي – صلى الله عليه وعلى آله وسلم- قول الأعمى – مع كونه قاتلًا – وعمل به، وأهدر دم هذه الأَمَة، فهذا حكم خاص بالنبي – صلى الله عليه وعلى آله وسلم- وأنه يجوز له أن يقضي بعلمه، دون الرجوع إلى البينات – بخلاف القضاة – ولا يكون ذلك إلا بوحْي من الله عز وجل له – صلى الله عليه وعلى آله وسلم-.

وقد قال السندي في تعليقه على ((سنن النسائي))([2]):((ولعله – صلى الله عليه وعلى آله وسلم- علم بالوحي صِدْقَ قوله)).اهـ.

 

Dan jawaban atas pertanyaan mereka tersebut akan kami kemukakan dari beberapa segi, insya Allah –ta’ala:

(Pertama): Telah dimaklumi bahwa hakim tidaklah memutuskan perkara kecuali berdasarkan bayyinah (bukti-bukti yang jelas), terutama dalam masalah darah. Dalam kisah tersebut, Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menerima ucapan lelaki buta tersebut –bersama kenyataan bahwa dia membunuh Ummu Walad tersebut- dan beliau memutuskan sikap berdasarkan ucapan lelaki buta tersebut (bukan berdasarkan bayyinah yang disodorkan –pent). Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun menganggap halal darah Ummu Walad tersebut (darahnya dianggap sia-sia). Maka, (penetapan hukum tanpa bayyinah) ini merupakan hukum yang hanya dikhususkan bagi Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– saja, dan bahwasanya beliau itu diperbolehkan untuk memutuskan hukum berdasarkan ilmunya tanpa harus merujuk kepada bayyinah –dan tentu saja hal ini berbeda dengan hakim (yang harus berdasarkan bayyinah). Tak lain tak bukan, keputusan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– (dalam perkara) tersebut sudah tentu berdasarkan wahyu dari Allah –‘Azza wa Jalla– yang disampaikan kepada beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Imam as-Sindi berkata dalam ta’liq-nya terhadap Sunan an-Nasa-i [2], “Barangkali beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengetahui kejujuran ucapan lelaki buta itu berdasarkan wahyu.”

 

فإن قيل: هذا تخصيص للحديث دون مخصوص.

فالجواب: يُخَصِّص ذلك قول النبي – صلى الله عليه وعلى آله وسلم-: ((لو يُعطَى الناس بدعواهم؛ لادَّعى ناس دماء رجال وأموالهم، ولكن اليمين على المُدَّعَى عليه)) -أخرجه البخاري في ((صحيحه)) برقم (٤٥٥٢) و مسلم في ((صحيحه)) برقم (١٧١١) وانظر  زيادة: ((البينة على المدَّعي)) والكلام عنها في ((إرواء الغليل)) برقم (٤٢٦١). فهذا الحديث يدل على أن العبرة ليست بمجرد الدعوى.

وقد قال – صلى الله عليه وعلى آله وسلم-: ((إنكم تختصمون إلي، ولعل بعضكم  أن يكون ألحن بالحجة من بعض؛ فأقضي له...)) الحديث ([3])

وهذا يدل على أن النبي – صلى الله عليه وعلى آله وسلم-كان يقضي بين الناس بالبينات، وقد يقضي بعلمه أحيانا، وهذا من خصائصه – صلى الله عليه وعلى آله وسلم- وليس ذلك لغيره على الراجح من أقوال أهل العلم.

 

Jika ada yang mengatakan, “Ini (ucapan kalian tersebut) merupakan pembatasan terhadap hadits tanpa adanya (petunjuk) akan pengkhususannya.”

Maka jawabannya: hal itu dikhususkan oleh ucapan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sendiri (dalam hadits) berikut, Seandainya segala sesuatu yang didakwakan oleh manusia itu diberi perkenanan (diterima), niscaya setiap orang akan (seenaknya) menuntut darah dan harta orang lain. Akan tetapi, sumpah itu wajib bagi orang yang dituntut (jika ia mengingkari tuntutan yang dituduhkan kepadanya).” Hadits ini dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Shahih-nya (4552) dan Muslim dalam Shahih-nya (1711). Juga lihat redaksi tambahan, “Akan tetapi, menghadirkan bayyinah itu menjadi kewajiban atas penuntut, sedangkan sumpah itu wajib bagi orang yang dituntut (jika ia mengingkari tuntutan yang diajukan kepadanya).” Silakan untuk meneliti pembicaraan atas redaksi tambahan tersebut di kitab Irwa’ al-Ghalil (4261). Dengan demikian, hadits ini menunjukkan bahwa ibrah (yang diambil oleh Hakim) itu tidak semata berdasarkan tuntutan saja (melainkan berdasarkan bayyinah).

Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– juga berkata, “Sesungguhnya kalian membawa perkara kalian kepadaku, dan barangkali sebagian di antara kalian lebih handal berargumentasi dari sebagian yang lain sehingga aku memutuskan perkara dengan memenangkan (orang yang lebih fasih argumentasi)nya.” [3] Dan ini menunjukkan bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– biasa memutuskan perkara di antara manusia berdasarkan bayyinah. Akan tetapi, terkadang beliau memutuskan perkara berdasarkan ilmunya (wahyu dari Allah), dan ini merupakan kekhususan bagi beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– saja, bukan bagi selain beliau berdasarkan pendapat yang paling kuat dari ucapan ahli ilmu.

 

الثاني: مما يدل على أن النبي – صلى الله عليه وعلى آله وسلم- لم يكن مُرِّخِّصًا لآحاد الناس بقتل من استحق القتل: أن الأعمى قام يتخطى الناس، وهو يتزلزل، أي كان خائفًا من فعله، وفي رواية: ((يتدلدل)) أي يضطرب في مشيه، فلو كان الأعمى يعلم أنه مرَّخص له في فعله  هذا؛ لما خاف من عاقبة ذلك، ولما خشي من سخط النبي – صلى الله عليه وعلى آله وسلم-.

وأيضًا: فالأعمى لم يأت معترفًا بفِعْلِهِ ابتداءً، بل جلس مع من جلس، ولم يقم مُخْبرًا بفعله إلا بعد أن وعظ الرسول- صلى الله عليه وعلى آله وسلم- الناس بقوله: ((أُنْشِدُ اللهَ رجلًا، فَعَل ما فَعَل، لي عليه حق؛ إلا قام)) فهذا يدل على أن الأعمى كان يعلم أنه ليس مرخَّصًا له في ذلك.

 

(Kedua): Di antara hal-hal yang menunjukkan bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tidak memberi rukhshah (keringanan) terhadap siapa pun yang membunuh orang yang berhak untuk dijatuhkan hukuman bunuh, yaitu bahwasanya lelaki buta itu berdiri dan berjalan melangkahi orang-orang dengan tubuh yang gemetaran, yakni dia takut lantaran perbuatannya. Dalam riwayat lain, “Bergoyang-goyang,” yakni berjalan terhuyung-huyung. Seandainya lelaki buta itu memang mengetahui bahwa dirinya merupakan orang yang diberi keringanan atas perbuatannya, niscaya dia tidak akan merasa takut akan akibat dari karena perbuatannya tersebut, dan tidak pula dia akan bercemas akan kemarahan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selain itu, lelaki buta tersebut tidak mendatangi Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sebagai pengaku yang memulai sendiri kedatangannya untuk mengakui perbuatan yang dilakukannya. (kenyataannya), dia ikut duduk bersama orang-orang lainnya di sana bukan sebagai orang yang mengabarkan perbuatannya kecuali setelah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berucap kepada manusia dengan ucapan, “Aku bersumpah dengan nama Allah, hendaklah lelaki yang berbuat apa yang telah diperbuatnya berdiri! Aku mempunyai hak atasnya.” Maka, hal ini menunjukkan bahwa lelaki buta tersebut mengetahui bahwa dirinya bukanlah orang yang diberi keringanan dalam hal tersebut.

 

الثالث: لو سلمنا بضعف ما سبق؛ فالأعمى يرى أن هذه أم ولده، وأن السيد يجوز له – في نظره- أن يقتل جاريته إذا ارتكبتْ ما يوجب الحد، ومع كون هذا مرجوحًا بما سبق؛ فأنتم لستم بولاة أمر، ولا سادة لمن تقتلونه من المسلمين وغيرهم!!

 

(Ketiga): Kalaupun –misalnya- kami menerima bahwa hal-hal yang kami kemukakan di atas lemah, maka (kami memandang bahwa hal itu dilakukan oleh) lelaki buta tersebut karena dia beranggapan bahwa perempuan tersebut adalah Ummu Waladnya, sementara dia sendiri merupakan tuan (pemilik)nya yang boleh –menurut pandangannya- untuk membunuh budaknya jika si budak tersebut melakukan perbuatan yang berkonsekuensi hukuman had. (Akan tetapi), bersamaan dengan kenyataan bahwa pandangan seperti ini merupakan pandangan yang marjuh (tidak kuat) berdasarkan hal-hal yang telah kami kemukakan di atas, maka (kalaupun kalian berdiri di atas pandangan yang lemah ini), tetap saja kalian bukanlah pemerintah, bukan pula kalian itu tuan yang memiliki orang-orang yang kalian bunuh dari kalangan Muslimin dan selain Muslimin.

 

الرابع: لو سلمنا بأن هذا الحكم جائز لآحاد الناس؛ فلا شك أن ذلك يكون كذلك إذا لم يؤدِّ إلى مفسدة أكبر، والواقع بخلاف هذا، فإن قتل المعاهَدين من آحاد الرعية – لو سلمنا جدلا بجوازه – يؤدي إلى مفاسد عظيمة، والواقع أكبر شاهد على أنكم لا تقتصرون على قتل المسلمين وغيرهم، بل تقتلون أنفسكم أيضًا ! فأين الدليل، وأين الدعوى ؟! والله المستعان!!

 

(Keempat): Kalaupun –misalnya- kami menerima bahwa ini merupakan hukum yang boleh dilakukan oleh setiap orang, maka tidak syak lagi bahwa hal itu boleh dilakukan selama tidak mengantarkan kepada mafsadah (bahaya dan kerusakan) yang lebih besar. Sementara realitas yang terjadi sangat berkebalikan dengan hal itu (yakni dalam kenyataannya, hal tersebut justru mengantarkan kepada mafsadah yang lebih besar –pent) karena membunuh orang-orang kafir yang terikat perjanjian dengan anggota masyarakat –kalaupun –misalnya- kami terima bahwa hal tersebut boleh- ternyata malah mengantarkan kepada mafsadah-mafsadah yang sangat besar. Realitaslah yang menjadi sebesar-besar bukti bahwa sesungguhnya kalian bukan hanya sebatas membunuh kaum Muslimin dan selain Muslimin saja, bahkan membunuh diri kalian sendiri juga. Maka di mana dalil kalian? Di mana pula klaim kalian? Wallah al-musta’an

 

(تنبيـه): أصحاب هذه الأفكار إذا عجز الواحد منهم عن تحقيق مراده؛ فإنه يبادر بقتل نفسه، وقتل إخوانه المشاركين معه إن أمكن؛ خشية أن يُقْبض عليهم، ويتعرضَوا لما يفضي إلى إفشاء سرِّهم، فجمعوا في ذلك عددًا من الجرائم، وهذه عاقبة من ترك منهج العلماء، ولقَّط دينه من هنا وهناك، فنعوذ بالله من خاتمة السوء!!

 

(Peringatan): Orang-orang yang berpaham seperti ini, apabila salah seorang di antara mereka tak mampu mewujudkan tujuannya, maka dia pun segera membunuh dirinya sendiri, dan jika memungkinkan, dia pun membunuh juga saudara-saudaranya yang ikut serta dalam tugas bersamanya. Hal itu dilakukan karena khawatir jika sampai tertangkap (oleh musuh) dan mengakibatkan terbongkarnya rahasia mereka. Demikianlah, mereka menggabungkan sejumlah kejahatan dalam aksi mereka, dan ini merupakan akibat dari sikap dan tindakan meninggalkan manhaj ahli ilmu, lalu memungut agamanya dari sana sini. Kami memohon perlindungan Allah dari kesudahan yang buruk …

 

 

Bandung, 23 Desember 2015

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

[1] Dikeluarkan oleh Abu Dawud (4361) dan an-Nasa-i (4070). Lihat pula takhrij di kitabku Kasf al-Ghummah: Bayan Khasha-ish Rasul –shallallahu ‘alaihi wa ‘ala Alihi wa sallam- wa al-Ummah (halaman: 234), dan sanadnya shahih …

[2] (4/108), Penerbit Dar al-Fikr …

[3] Dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Shahih-nya (6967) dan Muslim dalam Shahih-nya (1713) …

Advertisements

Tentang Penisbatan al-Bada-u kepada Allah –‘Azza wa Jalla …

Untitled

عن أبي هريرة رضي الله عنه أنه سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: إن ثلاثة في بني إسرائيل أبرص وأقرع وأعمى بدا لله عز وجل أن يبتليهم … -البخاري

 

 

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu– behwasanya dia mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Sesungguhnya ada tiga orang dari kalangan Bani Isra-il, yang satu berpenyakit Kusta, yang satu berkepala botak, dan yang satu lagi buta. Tebersitlah ide pada diri Allah –‘Azza wa Jalla- untuk menguji ketiga orang itu.” (HR. al-Bukhari)

 

Pada hadits tersebut terdapat redaksi بدا (badaa) yang secara bahasa artinya adalah sebegai berikut:

 

البَدَاءُ: الظهور والإبانة بعد الخفاء

 

“Al-Bada-u adalah muncul dan tampak setelah sebelumnya tersembunyi.”

 

البَدَاءُ : ظهور الرأي بعد أن لم يكن

 

“Al-Bada-u adalah munculnya ide setelah sebelumnya tak ada.”

 

البَدَاءُ استصواب شيءٍ عُلِمَ بعد أنْ لم يُعْلَمْ

 

“Al-Bada-u adalah pembenaran terhadap sesuatu yang diketahui setelah sebelumnya tak tahu.”

 

Penisbatan sifat al-Bada-u kepada Allah tidaklah dibenarkan. Allah tidak layak untuk disifati dengan sifat tersebut karena sungguh Allah itu Maha Suci dari sifat mengetahui setelah sebelumnya tidak tahu …

 

Ibn al-Atsir berkata di kitab an-Nihayah fi Gharib al-Hadits wa al-Atsar:

 

والبَدَاءُ استصواب شيءٍ عُلِمَ بعد أنْ لم يُعْلَمْ٬ وذلك على اللّه عز وجل غير جائز

 

“Dan al-Bada-u itu adalah pembenaran terhadap sesuatu yang diketahui setelah sebelumnya tak tahu. Dan penyandaran sifat tersebut kepada Allah tidaklah diperbolehkan.”

 

Syaikh Zakariya bin Ghulam Qadir al-Bakistani berkata di kitab al-Ahadits adh-Dhi’af wa al-Maudhu’at fi al-Asma’ wa ash-Shifat (halaman 8):

 

ولفظ (بدا) أخرجها البخاري في صحيحه (٣٤٦٤) في هذا الحديث الطويل من طريق عبد الله بن رجاء الغداني أخبرنا همام عن إسحاق أخبرني عبد الرحمن بن أبي عمرة عن أبي هريرة به٬ وهي خطأ ليست بصواب لأن معنى (بدا) أي ظهور له بعد أن كان خافيا عليه٬ وهذا لا يجوز إطلاقه على الله عز وجل٬ ومما يؤكد خطأ هذه اللفظة أن الحديث أخرجه البخاري نفسه في صحيحه ومسلم بلفظ: (أراد الله). قال الألباني حفظه الله في حاشية مختصر صحيح البخاري (٢/٤٤٦) بعد أن ذكر لفظة (أراد الله): قلت: وهي رواية مسلم٬ وهذا هو المحفوظ٬ ثم قال: ونسبة البداء إلى الله لا يجوز٬ ومال الحافظ إلى أن الرواية الأولى من تغيير الرواة وظني أنه الغداني كما ألمحت إليه٬ والرواية المحفوظة لم يستحضرها الحافظ عند المصنف فعزاها لمسلم وحده …

 

Dan redaksi “badaa” dikeluarkan oleh al-Bukhari di kitab Shahih-nya (3464) dalam hadits yang panjang dari jalan ‘Abdullah bin Raja’ al-Ghudani: telah mengabarkan kepada kami Hammam, dari Ishaq: telah mengabarkan kepadaku ‘Abd ar-Rahman bin Abi ‘Amrah dari Abu Hurairah. Dan redaksi “badaa” tersebut keliru dan tidak benar karena makna “badaa” itu adalah, “Tampak bagi-Nya setelah sebelumnya tersembunyi dari-Nya,” dan ini tidak diperkenankan untuk diucapkan kepada Allah –‘Azza wa Jalla. Dan di antara hal yang menguatkan kekeliruan redaksi tersebut adalah bahwasanya Imam al-Bukhari sendiri mengeluarkan juga hadits tersebut dalam kitab Shahih-nya (pada bab lain yang bukan dari jalan ‘Abdullah bin Raja’ al-Ghudani –pent), juga Imam Muslim dengan redaksi, “Araadallah (Allah berkehendak untuk menguji.” Syaikh al-Albani –hafizhahullah– dalam catatan pinggir Mukhtashar Shahih al-Bukhari (2/446), setelah menyebutkan redaksi, “Araadallah (Allah berkehendak untuk menguji,” mengatakan sebagai berikut, “Aku (Syaikh al-Albani) katakan, ini adalah riwayat Muslim, dan inilah redaksi yang terjaga (benar).” Kemudian beliau berkata lagi, “Dan menyandarkan sifat al-bada-u kepada Allah itu tidak diperbolehkan. Al-Hafizh Ibn Hajar pun cenderung kepada pendapat bahwa riwayat yang pertama (yakni riwayat dengan redaksi badaa) berasal dari taghyir (perubahan) salah seorang perawi, dan aku memiliki dugaan bahwa perawi tersebut adalah al-Ghudani sebagaimana yang kuisyaratkan. Akan tetapi, riwayat (dengan redaksi) yang terjaga itu tidak disebutkan berasal dari al-Bukhari oleh al-Hafizh, tetapi hanya disandarkan kepada Muslim saja.” –SELESAI …

 

 

Bandung, 16 Desember 2015

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Khayali; Haikal Sulaiman yang Dikuduskan …

Untitled-

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid –hafizhahullah

https://islamqa.info/ar/230200

 

 

السؤال: قرأت عن المعبد الذي بناه سليمان عليه السلام، وأن اليهود يبحثون الآن عن آثاره ويريدون أن يعيدوا بناءه على أنقاض المسجد الأقصى؟ فما هو هذا المعبد؟ وهل له شيء من القدسية؟

 

PERTANYAAN:

Aku membaca tentang tempat ibadah yang dibangun oleh Sulaiman –‘alaih as-salam, dan bahwasanya saat ini orang-orang Yahudi sedang menggali jejak-jejaknya karena mereka bermaksud untuk membangunnya kembali di atas reruntuhan Masjid al-Aqsha. Sebetulnya, apa yang dimaksud dengan tempat ibadah tersebut? Dan apakah dia memiliki keterkaitan dengan Bait al-Maqdis?

 

الجواب:
الحمد لله

أولا :

هذا المعبد الذي ورد في السؤال هو ما يسميه اليهود: “هيكل سليمان”. و”الهيكل” في اللغة العبرية يعني : ” بيت الإله.” وحسب الرواية اليهودية فإن داود عليه السلام هو الذي أسس لبناء الهيكل، ولكنه مات قبل أن يشرع في بنائه، وأن ابنه سليمان عليه السلام هو الذي قام ببناء الهيكل فوق جبل موريا، المعروف باسم هضبة الحرم، وهو المكان الذي يوجد فوقه المسجد الأقصى ومسجد قبة الصخرة. وللهيكل منزلة خاصة في قلوب وعقول اليهود ، فإنهم يزعمون أنه أهم مكان للعبادة ، وأن سليمان بناه لهم ولديانتهم .

 

JAWABAN:

Alhamdulillah …

Pertama: Tempat ibadah yang disebutkan dalam pertanyaan di atas adalah tempat yang dinamai oleh orang-orang Yahudi dengan sebutan Haikal Sulaiman. Dalam bahasa Ibrani, Haikal itu bermakna Rumah Tuhan. Berdasarkan riwayat-riwayat di kalangan Yahudi, penggagas pembangunan Haikal tersebut adalah Nabi Dawud –‘alaih as-sallam. Akan tetapi, beliau wafat sebelum memulai pembangunannya. Anak beliaulah, yakni Nabi Sulaiman –‘alaih as-salam– yang mengejawantahkan pembangunan Haikal tersebut di atas Gunung Moriah (Moreh) yang juga dikenal dengan nama Hadhbah al-Haram (dataran tinggi suci). Di atas tempat itulah berdiri al-Masjid al-Aqsha dan Qubah ash-Shakhra (Dome of the Rock). Bagi orang-orang Yahudi, Haikal tersebut memiliki kedudukan khusus dalam hati dan pikiran mereka. Mereka menganggap bahwa Haikal Sulaiman itu merupakan tempat terpenting untuk ibadah, dan bahwa Sulaiman membangun Haikal tersebut untuk mereka sebagai tempat peribadahan mereka.

 

ثانيا:

بعد وفاة سليمان عليه السلام اختلف أولاده فانقسمت مملكته إلى مملكتين على كل مملكة أحد أبناء سليمان .

الأولى في الشمال، وتسمى “مملكة إسرائيل” أو “مملكة السامرة” وعاصمتها “نابلس”. والثانية في الجنوب وهي “مملكة يهوذا” وعاصمتها “أورشليم” (القدس) .وقد دمرت وانتهت مملكة الشمال “إسرائيل” ، وذلك في عام ٧٢١ ق. م . وبعد ذلك بحوالي ١٥۰سنة دمرت المملكة الثانية، “مملكة يهوذا”. ويسعى اليهود إلى استعادة مملكتهم وإعادة بناء الهيكل. جاء في “دائرة المعارف البريطانية” طبعة ١٩٢٦ م: “أن اليهود يتطلعون إلى اجتماع الشعب اليهودي في فلسطين واستعادة الدولة اليهودية وإعادة بناء الهيكل وإقامة عرش داود في القدس ثانية وعليه أمير من نسل داود.” انتهى

 

Kedua: (Masih menurut mereka), selepas wafatnya Nabi Sulaiman –‘alaih as-salam, terjadilah perselisihan dan perpecahan di antara keturunan beliau sehingga kerajaan beliau terpecah menjadi dua kerajaan. Pada masing-masing kerajaan terdapat anak Nabi Sulaiman –‘alaih as-salam. Kerajaan pertama berada di utara, namanya Mamlakah Isra-il (Kerajaan Isra-il) atau dikenal juga dengan Mamlakah as-Samirah (Kerajaan Samaritan). Ibu kota Mamlakah Isra-il ini berada di Nablus. Kerajaan kedua berada di selatan, namanya Mamlakah Yahudza. Ibu kota Mamlakah Yahudza ini berada di Yerusalem (al-Quds).

Mamlakah Isra-il telah hancur dan berakhir, dan itu terjadi pada tahun 721 SM. Sekitar 150 tahun kemudian, hancur pulalah kerajaan kedua, yaitu Mamlakah Yahudza. Selanjutnya, orang-orang Yahudi senantiasa berusaha untuk memulihkan kembali keberadaan kerajaan mereka dan membangun kembali Haikal Sulaiman. Disebutkan dalam kitab Da-irah al-Ma’arif al-Barithaniyyah (Encyclopaedia Britannica) terbitan 1926 M, Bahwa orang-orang Yahudi memandang perlu untuk mengumpulkan berbagai suku Yahudi di Palestina untuk memulihkan kembali keberadaan Daulah Yahudi, membangun kembali Haikal Sulaiman, dan menegakkan kembali singgasana Dawud di kota al-Quds kedua, seraya memandang wajib adanya penguasa dari keturunan Dawud.

 

ثالثا:

ليس هناك كتاب تاريخي، أو مصدر موثوق به: يثبت لنا بناء سليمان عليه السلام للهيكل، ولا يثبت لنا تاريخه، ولكننا سنذكر تاريخا مختصرا للهيكل المزعوم، كما ورد في كتب اليهود ، ثم نبين بعد ذلك أن هيكل سليمان ما هو إلا خرافة ، لا وجود لها في حقيقة الأمر!!

– الذي أسس لبناء الهيكل هو داود عليه السلام، والذي بناه بالفعل هو سليمان عليه السلام .

– استغرقت مدة البناء سبع سنوات، وشارك في البناء أكثر من ١٨۰ ألف رجل!!

– دمر الهيكل للمرة الأولى على يد القائد البابلي بختنصر عام ٥٨٦ ق. م .

– بعد ذلك بعشرات السنين سُمح لليهود المأسورين في بابل بالرجوع إلى القدس، فرجعوا إليها وأعادوا بناء الهيكل نحو سنة ٥٢١ ق. م.

– ثم دمر الهيكل مرة أخرى على يد “تيطس” ابن الامبراطور الروماني “سباستيان”. وكان هذا هو التدمير الثاني للهيكل

– وحتى لا ينسى اليهود الهيكل، ويبقى حيا في ذاكرتهم، ابتدع حاخاماتهم طقوسا ومراسم يقوم بها كل يهودي حتى يتذكر الهيكل، عند الميلاد وعند الموت، وعند الزواج، وعند طلاء البيت … إلخ .

– وكان التدمير الثاني للهيكل في التاسع من أغسطس، فصام اليهود هذا اليوم من كل عام تخليدا لهذه الحادثة .

– وفي عام ١٣٥ م (في عهد الامبراطور هارديان) تم تدمير المدينة، وطرد اليهود منها، وأقيمت مكانها مدينة جديدة، سميت بـ “إيليا كابي تولينا”، وبقيت تحمل هذا الاسم حتى دخلها المسلمون في عهد الخليفة الثاني عمر بن الخطاب رضي الله عنه، وصارت تسمى: “القدس” أو “بيت المقدس”.

– وفي عام ٣١٣ م اعتنق الامبراطور قسطنطين المسيحية، وبدأ ببناء الكنائس، فكانت كنيسة القيامة أول الكنائس التي أقيمت في تلك الفترة، وجعل مكان الهيكل مكانا لرمي القمامات نكاية في اليهود .

– تشتت اليهود في جميع بقاع الأرض، بسبب غدرهم، وقتلهم الأنبياء، وعصيانهم لله– كما يقول اليهود أنفسهم– فذهبوا إلى الجزيرة العربية والعراق ومصر وأوروبا – ونسي اليهود القدس، ونسوا الهيكل، إلى أن جاء القرن التاسع عشر الميلادي، فأخذوا يقلبون صفحات التاريخ المطوية للبحث عن أية مزاعم يهودية تبرر لهم الرجوع إلى القدس.

– فصاروا يعقدون المؤتمرات تلو المؤتمرات، وكان أول مؤتمر صهيوني قد عقد في مدينة بازل بسويسرا عام ١٨٩٧ م، بقيادة تيودور هرتزل، بهدف إنشاء وطن قومي لليهود في فلسطين حتى يتمكنوا من إعادة بناء الهيكل .

– يدعي اليهود أن حائط المبكي [يقع في الجهة الغربية من المسجد الأقصى] هو من بقايا هيكل سليمان !!

– يدعي اليهود أن عودة ملكهم لن تكون إلا بالرجوع إلى القدس وإعادة بناء الهيكل، ويدعون أيضا أن المسجد الأقصى بني على أنقاض الهيكل. مما يعني أنه لابد من هدم المسجد الأقصى لإعادة بناء الهيكل، وأن ممكلة اليهود لن تقوم إلا بذلك .

– كما يدعون أن الهيكل هو أقدس مكان على وجه الأرض .

هذه باختصار قصة الهيكل كما يؤمن بها اليهود .

 

Ketiga: (Sebetulnya), tidak terdapat kitab sejarah atau rujukan tepercaya yang menegaskan kepada kita tentang pembangunan Haikal oleh Nabi Sulaiman –‘alaih as-salam. Akan tetapi, kami akan menyebutkan sejarah ringkas tentang Haikal yang diduga ada menurut anggapan orang-orang Yahudi sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab mereka. Setelah itu, barulah akan kami jelaskan bahwa Haikal Sulaiman itu sama sekali tidak ada melainkan hanya khurafat saja. Tidak ada dalam kenyataan.

(Berikut ini adalah anggapan Yahudi tentang Haikal Sulaiman):

  • Penggagas pembangunan Haikal adalah Nabi Dawud –‘alaih as-salam, sedangkan yang mengejawantahkan pembangunannya adalah Nabi Sulaiman –‘alaih as-salam.
  • Pembangunan Haikal menghabiskan waktu tujuh tahun yang dikerjakan oleh lebih dari 180.000 orang.
  • Haikal mengalami kehancurannya yang pertama oleh Bukhtunashshar (Nebuchadnezzar II), Raja Babilonia pada tahun 586 SM.
  • Beberapa puluh tahun kemudian, para tawanan Yahudi di Babilonia diberi kemurahan hati untuk kembali ke al-Quds. Mereka pun kembali ke sana dan membangun kembali Haikal sekitar tahun 521 SM.
  • Kemudian Haikal mengalami kehancuran yang kedua di tangan Titus, putra Sebastian (Vespasian), Kaisar Romawi. Inilah kehancuran kedua Haikal Sulaiman tersebut (yakni pada tahun 70 M –pent).
  • Agar orang-orang Yahudi tidak melupakan Haikal Sulaiman, juga agar Haikal tersebut tetap hidup dalam ingatan mereka, maka para rabi pun mengada-adakan thuqus dan marasim (upacara-upacara keagamaan) yang sedianya dikerjakan oleh setiap orang Yahudi agar senantiasa ingat kepada Haikal. Upacara-upacara itu diselenggarakan pada hari kelahiran, pada hari kematian, pada hari pernikahan, juga saat mengecat rumah … dan lain-lain.
  • Penghancuran kedua terhadap Haikal itu terjadi pada tanggal 9 Agustus, maka orang-orang Yahudi pun berpuasa pada hari tersebut setiap tahunnya untuk mengabadikan kenangan atas peristiwa tersebut.
  • Pada tahun 135 M, yakni pada masa kepemimpinan Kaisar Adrian, sempurnalah kehancuran kota Yahudi dan terusirlah orang-orang Yahudi dari sana. Sebagai gantinya, didirikanlah di tempat itu kota yang baru yang dinamai Aelia Capitolina. Kota baru ini tetap menyandang nama tersebut sampai masuknya kaum Muslimin ke sana pada masa pemerintahan khalifah kedua kaum Muslimin, ‘Umar bin al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhu. Setelah kaum Muslimin datang, berubahlah namanya menjadi al-Quds atau Bait al-Maqdis.
  • Pada tahun 313 M, Kaisar Konstantin memeluk agama Nasrani lalu mulailah dia membangun gereja-gereja. Gereja yang pertama kali dibangun pada masa itu adalah Kanisah al-Qiyamah (Church of the Resurrection atau Church of the Anastasis), dan dia menjadikan tempat yang tadinya menjadi tempat Haikal berdiri sebagai tempat pembuangan sampah untuk membuat jengkel Yahudi (yang menurut mereka telah menyalib Yesus –pent).
  • Orang-orang Yahudi bercerai-berai ke seluruh muka bumi lantaran sikap khianat mereka sendiri, yaitu membunuh para nabi dan kedurhakaan mereka terhadap Allah –sebagaimana dikatakan sendiri oleh Yahudi. Kemudian mereka pun pergi menyebar ke Semenanjung Arab, Irak, Mesir, dan Eropa. Mereka pun lupa akan al-Quds dan lupa pula akan Haikal sampai datanglah abad ke-19 Masehi dan mereka mulai membuka-buka lagi halaman-halaman sejarah yang tertutup untuk mempelajari dalil yang menurut dugaan kaum Yahudi memperkenankan mereka untuk kembali ke al-Quds.
  • Kemudian mereka pun menyelenggarakan muktamar demi muktamar. Muktamar Zionis yang pertama diselenggarakan di Kota Basel, Swiss pada tahun 1897 M di bawah kepemimpinan Theodor Herzl dengan tujuan mendirikan tanah air bagi bangsa Yahudi di Palestina hingga mereka bisa kembali membangun Haikal.
  • Yahudi mengklaim bahwa Tembok Ratapan yang terletak di sisi barat Masjid al-Aqsha merupakan bagian dari Haikal Sulaiman.
  • Yahudi juga menyatakan bahwa kerajaan mereka tidak akan bisa terwujud kembali kecuali jika mereka telah (bermukim) kembali di al-Quds dan membangun kembali Haikal Sulaiman. Selain itu, mereka juga mengklaim bahwa Masjid al-Aqsha itu dibangun di atas puing-puing Haikal Sulaiman. Dengan demikian, mereka harus terlebih dahulu meruntuhkan Masjid al-Aqsha agar bisa membangun Haikal Sulaiman karena kerajaan Yahudi takkan bisa berdiri kecuali setelah hal-hal tersebut tercapai.
  • Mereka menyatakan bahwa Haikal Sulaiman itu merupakan tempat paling suci di muka bumi.

 

Demikianlah, secara ringkas, kisah tentang Haikal Sulaiman yang diyakini oleh Yahudi …

 

رابعا:

هناك أدلة عديدة كلها تدل على بطلان نسبة الهيكل لسليمان عليه السلام، وأن بناء سليمان للهيكل هو مجرد أكذوبة من أكاذيب اليهود، والأدلة على ذلك كثيرة، بعضها يستفاد مما كتبه اليهود أنفسهم عن الهيكل !

من هذه الأدلة :

 

Keempat: Ada banyak dalil yang menunjukkan kebatilan klaim Yahudi mengenai penisbatan Haikal kepada Nabi Sulaiman –‘alaih as-salam, dan bahwasanya kisah mengenai pembangunan Haikal yang dilakukan oleh Nabi Sulaiman tersebut merupakan kedustaan di antara kedustaan-kedustaan yang dibuat oleh Yahudi. Banyak dalil yang menunjukkan kebatilan tersebut, bahkan sebagiannya berasal dari tulisan-tulisan yang dibuat oleh Yahudi sendiri. Di antara dalil-dalil yang dimaksud adalah sebagai berikut:

 

١- أنه لا يوجد مصدر موثوق به يثبت بناء سليمان عليه السلام لهذا الهيكل، فالقرآن الكريم قص علينا قصة داود وسليمان عليهما السلام في عدة مواضع، وذكر قصة سليمان مع بلقيس والهدهد والنملة ومع الجن، وبعض هذه الأحداث تبدو أقل أهمية من الهيكل! فلماذا لم يتكلم القرآن الكريم عن الهيكل؟ إذا كان بهذه القدسية والجلالة التي يذكرها اليهود؟!

 

  1. Bahwasanya tidak terdapat sumber tepercaya yang menegaskan pembangunan Haikal yang dilakukan oleh Nabi Sulaiman –‘alaih as-salam, padahal al-Quran al-Karim menceritakan kepada kita kisah Dawud dan Sulaiman –‘alaihima as-salam– di banyak ayat, juga menyebutkan kisah Sulaiman bersama Balqis, Hudhud, semut, dan jin. Sebagian peristiwa-peristiwa tersebut tampaknya tak lebih penting dari Haikal, lantas kenapakah al-Quran al-Karim tak menuturkan kisah Haikal tersebut jika memang begitu suci dan mulianya hal yang disebutkan oleh orang-orang Yahudi ini?

 

٢- أنه لا وجود لهذا الهيكل إلا في كتب اليهود، وهي كتب لا يوثق بما فيها، حتى الكتاب المقدس نفسه – قد اعترف كثير من علماء اليهود والنصارى والمؤرخين أنه امتدت إليه أيدي التحريف والتلاعب والزيادة والنقصان، مما يعني أنه لم يعد مصدرا تاريخيا موثوقا به. ولا يوجد له إسناد متصل إلى موسى عليه السلام، ولا إلى الأنبياء الذين جاءوا بعده ، وكُتِبَ تاريخُهم في ذلك الكتاب .

وفي سفري الملوك الأول والثاني، وهما اللذان تحدثا عن الهيكل، يقول اليهود إن كاتبهما هو أرميا النبي، وهذا باطل، لأن السفر الثاني تمتد أحداثه إلى ما بعد عصر أرميا، فلا يعقل أن يكون هو كاتبه. انظر: “المدخل إلى الكتاب المقدس” لحبيب سعيد (ص ٩٩). ومن هنا شكك العلماء والمؤرخون في هذين السفرين. وذكر الطبيب الفرنسي موريس بوكاي أن أسفار صموئيل والملوك قد شك العلماء في قيمتها التاريخية، حيث تختلط الأحداث بالأساطير، وأن فيها أخطاء متعددة، وأن الحدث الواحد يكون له روايات مزدوجة وحتى ثلاثية .”دراسة الكتب المقدسة في ضوء المعارف الحديثة” (ص٣٤).

وأيضا: شكك العلماء في سفري أخبار الأيام، الأول والثاني، اللذين جاء فيهما أيضا ذكر بناء سليمان للهيكل.

كما شكك علماء كثيرون من اليهود والنصارى في “العهد القديم” كله كمصدر موثوق به، ومن هؤلاء: “ول ديورانت” صاحب كتاب “قصة الحضارة”، و”باروخ سبينوزا” الفيلسوف اليهودي، و”موريس بوكاي” الطبيب الفرنسي .. وغيرهم. يقول صاحب موسوعة بيت المقدس: “إن بناء الهيكل هو خرافي وخيالي، نسبه اليهود إلى سيدنا سليمان، وقصة بناء الهيكل لا يعترف بها التاريخ، وليس لها مصادر إلا كتب يهود” انتهى.

 

  1. Bahwasanya penjelasan mengenai Haikal tersebut tidak terdapat kecuali di dalam kitab-kitab Yahudi, dan itu bukanlah kitab-kitab yang bisa dipercaya isinya, sampai-sampai kitab suci mereka pun tak bisa dipercaya. Bahkan menurut pengakuan banyak ulama Yahudi, Nasrani, dan sejarawan, kitab suci tersebut melalui tangan-tangan mereka telah mengalami perubahan dan manipulasi, juga tambahan dan pengurangan. Itu berarti, kitab suci tersebut tak bisa dihitung sebagai sumber sejarah yang tepercaya, tidak memiliki sanad yang terhubung kepada Musa –‘alaih as-salam dan tidak pula sampai kepada para nabi yang datang setelahnya dan dituliskan sejarah mereka di dalam kitab tersebut. Memang benar bahwa dalam Kitab Raja-Raja kesatu dan kedua dibicarakan mengenai Haikal tersebut, dan orang Yahudi mengatakan bahwa penulis kedua kitab tersebut adalah Nabi Jeremiah. Tentu saja ucapan tersebut batil karena Kitab Raja-Raja yang kedua itu menceritakan pula peristiwa-peristiwa yang terjadi setelah masa Jeremiah, sehingga tak masuk akal jika penulisnya adalah Jeremiah (lihat kitab: al-Madkhal ila al-Kitab al-Muqaddas karya Habib Sa’id, halaman 99). Dari sini, para ulama dan sejarawan meragukan validitas kedua kitab tersebut. Disebutkan oleh Maurice Bucaille, seorang dokter dari Perancis, bahwa kitab Samuel dan Raja-Raja diragukan oleh para ulama tentang nilai sejarahnya karena bercampur di dalamnya peristiwa-peristiwa sejarah dengan dongeng-dongeng. Selain itu, di dalamnya terkandung banyak kekeliruan, bahkan untuk satu peristiwa terdapat beberapa pengisahan tentangnya hingga bisa mencapai tiga pengisahan (lihat kitab: Dirasah al-Kutub al-Muqaddasah fi Dhau’ al-Ma’arif al-Haditsah, halaman 34). Selain itu juga, para ulama meragukan kitab Tawarikh (Chronicles), baik yang kesatu maupun yang kedua, yang masing-masing menceritakan pula pembangunan Haikal oleh Sulaiman. Sebagaimana itu pula mayoritas ulama Yahudi dan Nasrani meragukan Kitab Perjanjian Lama sebagai sumber tepercaya, di antaranya adalah Will Durant, penulis kitab Qishah al-Hadharah (The Story of Civilization); Baruch Spinoza, seorang filsuf Yahudi; Maurice Bucaille, seorang dokter dari Perancis; dan lain-lain. Penulis Encyclopedia of Jerusalem mengatakan, “Sesungguhnya pembangunan Haikal itu merupakan khurafat dan khayalan. Orang Yahudi menyandarkannya kepada pemimpin kami, Sulaiman, padahal kisah pembangunan Haikal tersebut tak diakui oleh sejarah, dan tidak ada sumber baginya selain kitab-kitab Yahudi.”

 

٣- الأسفار التي تحدثت عن الهيكل مختلفة متناقضة فيما بينها، مما يدل على أنها ليست كتبا مقدسة ولا وحيا من الله، وإنما هي كتابات بشرية نسبت زورا وبهتانا إلى الله.

من هذه الاختلافات: أن سفر الملوك الأول يذكر أن عدد الوكلاء لسليمان (وهم المشرفون على العُمَّال) كان (٣٣۰۰) رجلا. الإصحاح الخامس (١٤-١٦). وفي سفر الأيام الثاني يذكر أن عددهم (٣٦۰۰) . الإصحاح الثاني (٢٢١) .وهم يَدَّعُون أن هذه الأسفار هي وحي من الله على الأنبياء الذين جاؤوا بعد سليمان، فيستحيل أن يكون بينها اختلاف أو تضاد.

 

  1. Al-Asfar (kitab-kitab yang terdapat dalam perjanjian lama dan baru) yang berbicara mengenai Haikal tersebut saling berbeda dan bertentangan satu sama lain. Hal itu menunjukkan bahwa kitab-kitab tersebut bukanlah kitab suci dan wahyu dari Allah. Itu hanyalah kitab-kitab buatan manusia yang disandarkan secara dusta kepada Allah. Di antara perbedaan-perbedaan yang ada di sana, bahwa Kitab Raja-Raja yang kesatu (bab V, halaman 14-16) menyebutkan bahwa orang-orang kepercayaan Sulaiman itu berjumlah 3.300 orang, sedangkan dalam Chronicles kedua (bab II, halaman 221) disebutkan bahwa jumlahnya mencapai 3.600 orang, dan mereka mengklaim bahwa kitab-kitab tersebut merupakan wahyu dari Allah kepada para nabi yang datang setelah Sulaiman. Padahal, jika memang itu merupakan wahyu dari Allah kepada para nabi, akan sangat mustahil jika di dalamnya terdapat perbedaan atau pertentangan.

 

٤- الدارس لنصوص الكتاب المقدس المتعلقة ببناء الهيكل يأخذه العجب والاستنكار، بل يجزم بأن قصة البناء خرافة وأسطورة لا حقيقة لها.

ذلك لأنه سيقف أمام بناء عظيم جدا، قد يكون من أعظم الأبنية التي عرفتها البشرية، فالمواد المستخدمة في البناء وعدد العمال كان خياليا، مبالغا فيه بما يتجاوز حدود المنطق. فالذهب كان مائة ألف وزنة، [والوزنة تعادل ستة عشر جراما تقريبا] أي: ١٬٦ طن من الذهب !والفضة: مليون وزنة أي: ١٦ طن من الفضة! والحديد والنحاس بلا وزن لأنه كثير، والخشب والحجارة تزيد عليها ! وعدد العمال المشاركين في البناء ١٨۰ ألف عامل، منهم ٣۰ ألف عامل أرسلهم سليمان إلى لبنان لقطع الأشجار من هنالك. وعليهم رؤساء عددهم ٣٦۰۰ أو ٣٤۰۰ حسب اختلاف الأسفار في عددهم. وعلى الرغم من كل هذه المواد والعمال كم كان طول وعرض وارتفاع الهيكل؟ يذكر الكتاب المقدس أن طول الهيكل ستون ذراعا (٣۰ مترا تقريبا)، وعرضه عشرون ذراعا (١۰ أمتار)، وارتفاعه ثلاثون ذراعا (١٥ مترا)، والرواق (الفناء) الذي أمامه طوله عشرون ذراعا وعرضه عشرة أذرع . سفر الملوك الأول الإصحاح السادس، سفر أخبار الأيام الثاني الإصحاح الثالث. أي أن حجم الهيكل كان ٣۰ م × ١۰ م × ١٥ م أي: كانت مساحة أرضه ٣۰۰ م ٢ بارتفاع أربع أو خمس طوابق!! فهل يعقل أن تستخدم كل هذه المواد، ويشارك في البناء ١٨۰ ألف عامل لمدة سبع سنوات، من أجل هذا البناء الصغير؟! إن هذه الأكاذيب والمبالغات ليس الهدف منها إلا إضفاء نوع من العظمة والجلالة لهذا الهيكل المزعوم .

 

  1. Penelaahan terhadap teks-teks kitab suci yang berkaitan dengan pembangunan Haikal membawa kepada keanehan dan pengingkaran, bahkan membawa kepada keyakinan bahwa kisah pembangunan tersebut merupakan khurafat dan dongeng yang sama sekali tidak pernah terjadi. Hal itu dikarenakan (jika bangunan itu ada), tentu seseorang akan berdiri di depan bangunan yang sangat besar, bahkan merupakan bangunan terbesar yang pernah dikenal manusia. Material yang digunakan untuk pembangunannya maupun jumlah pekerjanya hanya khayalan semata, sangat berlebihan hingga melampaui batas-batas logika. Emas yang dipakai untuk pembangunan itu mencapai 100.000 waznah atau 1,6 ton (1 waznah sama dengan 16 gram), sedangkan perak mencapai 1.000.000 waznah atau 16 ton. Adapun besi dan tembaga tak terukur saking banyaknya, sementara kayu dan batu lebih banyak lagi. Jumlah pekerja yang ikut serta membangun Haikal mencapai 180.000 orang, 30.000 orang di antaranya dikirim oleh Sulaiman ke Gunung Lubnan untuk menebang pepohonan yang ada di sana bagi pembangunan Haikal. Para pekerja tersebut dikomando oleh 3.600 orang pemimpin atau 3.400 orang pemimpin (berdasarkan perbedaan di dalam al-Asfar mengenai jumlah mereka). Akan tetapi, meskipun jumlah material dan pekerjanya sebanyak yang telah disebutkan di atas, berapakah panjang dan lebar serta tinggi dari Haikal tersebut? Disebutkan dalam kitab suci itu bahwa panjang Haikal itu adalah 60 hasta (sekitar 30 meter), lebarnya 20 hasta (10 meter), dan tingginya 30 hasta (15 meter). Serambi atau selasar di depan bangunan Haikal, panjangnya mencapai 20 hasta, sedangkan lebarnya 10 hasta (Kitab Raja-Raja kesatu, bab VI; Kitab Tawarikh/ Chronicles kedua, bab III). Dengan demikian, berarti ukuran Haikal tersebut adalah 30 m X 10 m X 15 m atau 300 meter persegi dengan sekitar empat atau lima lantai ke atas (bertingkat). Maka, apakah masuk akal bahwa untuk mendirikan bangunan yang kecil seperti itu sampai menghabiskan sekian banyak material yang telah disebutkan dan pekerja yang mencapai 180.000 orang serta waktu tujuh tahun? Sesungguhnya tidak ada maksud lain dari segala kebohongan dan cerita yang berlebihan ini selain penyematan kemuliaan dan keluhuran terhadap Haikal yang mereka klaim.

 

٥- أن اليهود أنفسهم لا يتفقون على هيكل واحد، ومكان واحد، فيهود مملكة السامرة يقولون: إن هيكلهم في مدينة “نابلس”، وليس في “القدس”، وآخرون يقولون: إنه في قرية “بيتين” شمال القدس، ومجموعة ثالثة تقول: إن هيكلها أقيم على تل القاضي “دان”، وهكذا كله مما يؤكد أن قصة الهيكل هي أسطورة، لأن كل هذه الهياكل لا وجود لها ، ولم يعثر لها على أي أثر.

 

  1. Sesungguhnya orang-orang Yahudi sendiri tidak bersepakat atas satu Haikal maupun tempatnya. Orang-orang Yahudi dari Mamlakah as-Samirah (Kerajaan Samaritan) mengatakan, “Sesungguhnya Haikal mereka berada di Kota Nablus dan bukan di al-Quds,” sedangkan orang-orang Yahudi lainnya mengatakan, “Sesungguhnya Haikal itu berada di daerah Beitin, di utara al-Quds.” Kelompok ketiga mengatakan, “Sesungguhnya Haikal itu berdiri di Tel al-Qadhi (Tel Dan).” Demikianlah, semua perbedaan pandangan mengenai hal itu menjadi hal yang menguatkan bahwa kisah Haikal tersebut hanyalah dongeng belaka lantara semua Haikal yang diklaim oleh kelompok-kelompok tersebut tak ada wujudnya dan tak didapati padanya jejak apa pun.

 

٦- أن من ذكر هذه الهياكل أثبت أنها قد دمرت بالكامل، فالقدس قد دمرت عام ٧۰ م وأصبحت خرابا يبابا بما فيها الهيكل، فالبحث عن بناء قد دمر نهائيا منذ ألفي سنة هو عبث في عبث .

 

  1. Bahwa dalam penuturan mengenai Haikal tersebut terdapat penegasan bahwa Haikal tersebut telah hancur secara sempurna. Al-Quds sendiri telah diluluhlantakkan pada tahun 70 M (oleh Titus –pent) sehingga tentu termasuk pula Haikal yang ada di sana. Oleh akrena itu, pencarian bangunan yang benar-benar telah hancur semenjak 2.000 tahun yang lalu hanyalah sia-sia belaka.

 

٧- الدلائل التاريخية تفيد أن الذي بنى المسجد الأقصى هو إبراهيم، أو حفيده يعقوب عليهما السلام، وكان ذلك قبل سليمان بمئات السنين، فليس من المعقول أن يقوم سليمان بهدم مكان بناه نبي مثله لعبادة الله تعالى، من أجل أن يقيم عليه هيكلا.

روى البخاري (٣٣٦٦)، ومسلم (٥٢۰) عَنْ أَبِي ذَرٍّ رضي الله عنه، قَالَ” :قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ: أَيُّ مَسْجِدٍ وُضِعَ فِي الْأَرْضِ أَوَّلُ ؟ قَالَ: (الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ)، قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: (الْمَسْجِدُ الْأَقْصَى) قُلْتُ: كَمْ بَيْنَهُمَا؟ قَالَ: (أَرْبَعُونَ سَنَةً).” انظر: البداية والنهاية (١/٣٧٥)، “التحرير والتنوير” (٤/١٥).

وينظر السؤال رقم (٢٢٤٤۰١)

 

  1. Dalil-dalil sejarah memberikan faidah bahwa yang membangun Masjid al-Aqsha adalah Ibrahim atau cucu lelaki beliau, Ya’qub –‘alaihima as-salam. Dan itu telah dilakukan ratusan tahun sebelum Nabi Sulaiman. Maka sungguh tak masuk akal jika Nabi Sulaiman merobohkan tempat untuk beribadah kepada Allah yang dibangun oleh nabi sepertinya untuk tujuan membangun Haikal di atasnya. Imam al-Bukhari meriwayatkan (3366) dan Muslim (520), dari Abu Dzar –radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Aku berkata, “Wahai Rasulullah, masjid manakah yang pertama kali dibangun di muka bumi?” Beliau menjawab, “Masjid al-Haram.” Aku berkata, “Kemudian masjid mana lagi?” Beliau menjawab, “Masjid al-Aqsha.” Aku berkata, “Berapa lama jarak pembangunan di antara keduanya?” Beliau menjawab, “Empat puluh tahun.” Lihat: al-Bidayah wa an-Nihayah (1/375) dan at-Tahrir wa at-Tanwir (4/15); lihat pula soal-jawab nomor (224401) …

 

٨- تقديس “الهيكل” هو عقيدة وثنية قديمة، كانت موجودة في الدول الوثنية القديمة في العراق وسوريا ومصر، فكانوا يعتقدون أن الآلهة تسكن في السماء، وأنها إذا رغبت النزول إلى الأرض فلا تكون إقامتها إلا في بيوت كبيرة [الهيكل.[ وقد ذهب بعض الباحثين (أحمد سوسة) الذي اعتنق الإسلام بعد اليهودية، إلى التشكيك في فكرة الهيكل كما جاءت في الكتاب المقدس عند اليهود، وذهب إلى أنها فكرة دخيلة على اليهودية، وأنها فكرة كنعانية وثنية .

 

  1. Menganggap kudus Haikal merupakan akidah paganisme kuno. Dulu mereka ada di negara pemuja berhala kuno yang ada di Irak, Suria, dan Mesir. Mereka meyakini bahwa tuhan-tuhan itu berdiam di langit, dan bahwasanya jika mereka ingin turun ke bumi, maka tidaklah mereka tinggal kecuali di rumah-rumah besar (Haikal). Salah seorang peneliti Yahudi yang telah masuk Islam, Ahmed Sousse, meragukan pemikiran tentang Haikal yang tertuang dalam kitab suci Yahudi. Dia berpendapat bahwa hal itu berasal dari pemikiran Kan’aniyah -paganisme kaum Kan’an, yang disisipkan ke dalam kitab-kitab Yahudi.

 

٩- بدأ اليهود عمليات الحفر تحت المسجد الأقصى للبحث عن آثار وبقايا هيكل سليمان سنة ١٩٦٨ م.

وقد ذكر عالم الآثار اليهودي “إسرائيل فلنكشتاين” أن علماء الآثار لم يعثروا على أي شواهد أثرية تدل على أن الهيكل كان موجودا بالفعل، واعتبر أن فكرة وجود الهيكل هي مجرد خرافة لا وجود لها، وأن كَتَبَة التوراة في القرن الثالث: أضافوا قصصا لم تحدث. وذكر هذا أيضا غيره من علماء الآثار الذين شاركوا في الحفريات تحت المسجد الأقصى، فقد صرح عالم الآثار الأمريكي “غوردن فرانز” أنه لا توجد دلائل على وجود الهيكل في هذا المكان (أسفل المسجد الأقصى) ولما سئل: أين موقع الهيكل؟ أجاب: لا أعرف، ولا أحد يعرف . هذا؛ مع أن علماء الآثار عثروا على بعض أشياء سابقة لزمن داود وسليمان، وأخرى لاحقة، وهذا من أقوى الأدلة على أن “هيكل سليمان” ما هو إلا خرافة، سطرتها أيدي كتبة “الكتاب المقدس” ونسبوها إلى الله زورا وبهتانا، وهؤلاء هم الذي قال الله فيهم: (فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَناً قَلِيلاً فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ) البقرة/٧٩.

 

  1. Pada tahun 1968 M, Yahudi memulai kegiatan penggalian di bawah Masjid al-Aqsha untuk menyelidiki jejak-jejak Haikal Sulaiman yang tersisa. Seorang arkeolog Yahudi yang bernama Israel Flankstein menyebutkan bahwa para ahli arkeologi tidak pernah menemukan bukti-bukti peninggalan apa pun yang menunjukkan bahwa Haikal itu pernah ada. Dia menganggap bahwa pemikiran mengenai keberadaan Haikal itu hanyalah khurafat semata, tidak pernah ada wujudnya sama sekali, dan bahwa dalam penulisan Taurat pada abad ketiga, ditambahkan ke dalamnya kisah-kisah yang tak terjadi. Hal ini disebutkan juga oleh para arkeolog lainnya yang ikut serta dalam kegiatan penggalian di bawah Masjid al-Aqsha. Bahkan secara jelas Gordon Franz, seorang arkeolog Amerika, menyatakan bahwa petunjuk-petunjuk mengenai keberadaan Haikal itu sama sekali tak ditemukan di tempat tersebut (di bawah Masjid al-Aqsha). Ketika dia ditanya, “Di manakah letak Haikal itu?” Dia menjawab, “Aku tak tahu. Tak ada seorang pun yang tahu.” Demikianlah pernyataan mereka, bersamaan dengan penemuan-penemuan mereka terhadap peninggalan-peninggalan terdahulu dari zaman Dawud dan Sulaiman, juga penemuan dari zaman setelahnya. Dan ini termasuk sekuat-kuat petunjuk bahwa tidaklah Haikal Sulaiman itu melainkan khurafat semata, yaitu hikayat-hikayat yang dituliskan oleh tangan-tangan para penulis kitab suci mereka yang kemudian disandarkan kepada Allah secara bohong dan dusta. Merekalah orang-orang yang dikatakan oleh Allah (QS. al-Baqarah: 79), Maka kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang menulis al-Kitab dengan tangan-tangan mereka sendiri, lalu mengatakan, Ini dari Allah,’ (dengan maksud) memperoleh keuntungan yang sedikit lewat perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka akibat dari apa yang ditulis oleh tangan-tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka akibat dari apa yang mereka kerjakan.”

 

١۰- يزعم اليهود أن حائط البراق (الذي يسمونه حائط المبكى) هو جزء من هيكلهم المزعوم، وهذا الزعم قد أبطلته وكشفت زيفه الدراسات العلمية الحديثة، فقد أوفدت لجنة دولية للتحقيق في أحداث البراق التي وقعت سنة ١٩٣۰ م، وكان عمل اللجنة علميا تاريخيا ، وقد أثبتت اللجنة في تقريرها أن ملكية حائط البراق تعود للعرب (المسلمين) .

 

  1. Orang-orang Yahudi meyakini bahwa Tembok al-Buraq (Tembok Barat –pent) –yang disebut sebagai Tembok Ratapan oleh Yahudi, merupakan bagian dari Haikal yang mereka angan-angankan, padahal keyakinan mereka itu telah terbukti kebatilannya dan terbongkar pula kepalsuannya melalui penelitian ilmiah modern. Pada tahun 1930 M, sebuah komisi internasional telah diutus untuk melakukan penelitian sejarah secara ilmiah berkaitan dengan al-Buraq, kemudian mereka menetapkan bahwa sejarah kepemilikan (yakni pembangunan) Tembok al-Buraq itu kembali kepada Arab (yakni kaum Muslimin).

 

١١- لم يذكر أحد من المؤرخين أن المسلمين لما دخلوا القدس في عهد عمر بن الخطاب وجدوا بها معبدا من معابد اليهود وهدموه، وأقاموا مكانه مسجدا.

 

  1. Tak ada seorang pun ahli sejarah yang menyatakan bahwa kaum Muslimin, ketika mereka memasuki al-Quds di zaman ‘Umar bin al-Khaththab, menemukan tempat ibadah Yahudi yang kemudian mereka hancurkan untuk membangun masjid di atas tempat tersebut.

 

١٢- البناء الذي ثبت أن سليمان عليه السلام بناه ليكون معبدا هو “المسجد الأقصى”، فقد أعاد عليه السلام بناءه وجدده، وقد أقر ببناء سليمان للمسجد الأقصى المؤرخ النصراني ابن العبري (توفي سنة ١٢٨٦م) فقال: “وفي السنة الرابعة من ملكه، شرع سليمان في بناء بيت المقدس، وهو المعروف بالمسجد الأقصى.” انتهى

 

  1. Bangunan yang benar-benar jelas kepastiannya yang dibangun oleh Nabi Sulaiman –‘alaih as-salam– sebagai tempat ibadah adalah Masjid al-Aqsha, bahkan berulangkali beliau –‘alaih as-salam– membangun dan memperbaruinya. Bahkan seorang sejarawan Nasrani, Ibn al-‘Arabi (Gregory Bar-Hebraeus), wafat pada tahun 1286, menetapkan bahwa pembangunan Masjid al-Aqsha itu dilakukan oleh Nabi Sulaiman. Dia mengatakan, “Dan pada tahun keempat dari masa pemerintahannya, Sulaiman memulai pembangunan Bait al-Maqdis yang dikenal sebagai Masjid al-Aqsha.”

 

١٣- لو سلمنا جدلاً أن هذا الهيكل كان موجودا ، وأن داود عليه السلام هو من أسس لبناء هذا الهيكل، وأن ابنه سليمان هو الذي أتمه، فنحن –المسلمين– أحق بهذا الهيكل من اليهود، لأن هذا الهيكل بناه داود وسليمان ليكون معبدا لمن آمن بهما، وبجميع الأنبياء والرسل، فهو هيكل للموحدين المؤمنين بالأنبياء الذين يعبدون الله تعالى ويوحدونه، وليس هيكلا لقتلة الأنبياء، ولا لمن يكفر بداود وسليمان وينكر نبوتهما، ويدعى أنهما مجرد ملكين، بل ينسب إليهما الشرك وعبادة الأوثان. فنكون ـ نحن المسلمين ـ أحق بهذا الهيكل، إن كان له وجود، لأننا نؤمن بهما نبيين كريمين من أنبياء الله تعالى.

 

  1. Andaipun kita menerima bahwa Haikal tersebut memang ada, juga menerima bahwa Nabi Dawud –‘alaih as-salam– merupakan penggagas pembangunannya yang kemudian diwujudkan dan disempurnakan pembangunannya oleh Nabi Sulaiman –‘alaih as-salam, maka kami –kaum Muslimin- tetap lebih berhak terhadap Haikal ini dibandingkan Yahudi. Hal ini dikarenakan Haikal ini dibangun oleh Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman –‘alaihima as-salam– untuk dijadikan tempat ibadah bagi orang-orang yang beriman kepada mereka berdua, juga mengimani semua nabi dan rasul. Haikal tersebut adalah Haikal untuk kaum muwahhid (orang-orang yang mengesakan Allah), orang-orang yang beriman kepada para nabi, yang menyembah Allah seraya mengesakannya. Sama sekali bukan Haikal bagi para pembunuh nabi. Bukan Haikal untuk orang-orang yang mengingkari Dawud dan Sulaiman beserta kenabian keduanya seraya menyatakan bahwa keduanya hanyalah dua orang raja belaka. Bahkan mereka pun menyandarkan kepada keduanya kemusyrikan dan paganisme. Oleh karena itulah, kami, kaum Muslimin, lebih berhak terhadap Haikal tersebut jika Haikal tersebut memang ada. (Mengapa?) Karena kami beriman terhadap kedua nabi tersebut sebagai dua orang nabi yang mulia di antara nabi-nabi Allah –ta’ala.

 

١٤- المعروف عند اليهود أن “الكتاب المقدس” كتب في فترة الأسر البابلي، وقد ذكرنا أن اليهود سُمح لهم بالعودة إلى فلسطين بعد سنوات من الأسر، فلعل الكتبة قد زادوا بعض الأساطير حول الهيكل، تشجيعا لليهود للرجوع إلى القدس . كل هذه الأدلة والشواهد– وغيرها– تدل على أن قضية الهيكل هي مجرد أكاذيب، كتبها كتبة “الكتاب المقدس”، ونسبوها إلى الله، لربط اليهود بتلك المدينة، وحثهم على الرجوع إليها، باعتبار أن ملكهم لن يتم إلا باستعادة ذلك الهيكل المزعوم . وهناك كتب ورسائل عديدة كتبت حول الهيكل، انظر منها: “الهيكل المزعوم بين الوهم والحقيقة” للدكتور عبد الناصر قاسم الفرا. و”نقض المزاعم الصهيونية في هيكل سليمان” للدكتور صالح حسين الرقب.

والله أعلم .

 

  1. Telah makruf di kalangan yahudi bahwa kitab suci pegangan mereka itu ditulis pada masa penawanan di Babilonia. Kami telah menyebutkan bahwa orang-orang Yahudi diberi kemurahan hati (oleh Raja Babilonia) untuk kembali ke Palestina setelah sekian tahun masa penawanan. Maka bisa jadi para penulis kitab mereka menambahkan sebagian dongeng seputar Haikal dengan tujuan memberi semangat dan keberanian kepada orang-orang Yahudi untuk kembali ke al-Quds. Masing-masing dari bukti-bukti yang telah disebutkan di atas menunjukkan bahwa permasalahan Haikal ini murni kedustaan yang ditulis oleh para penulis kitab suci lalu menyandarkannya kepada Allah agar hati orang-orang Yahudi tertambat ke kota tersebut dan terdorong untuk kembali ke sana seraya memberi penjelasan bahwa kerajaan mereka tidak akan pernah terbangun sempurna sebelum mereka membangun kembali Haikal mereka. Ada banyak kitab dan risalah yang membahas seputar Haikal ini. Silakan mengacu kepada kitab-kitab dan risalah-risalah tersebut, di antaranya kitab yang berjudul al-Haikal al-Maz’um baina al-Wahm wa al-Haqiqah, karangan Dr. ‘Abd an-Nashir Qasim al-Fara dan kitab Naqdh al-Maza’im ash-Shihyauniyyah fi Haikal Sulaiman, karya Dr. Shalih Husain ar-Raqib …

 

wallahu a’lamu

 

 

Bandung, 11 Desember 2015

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–