Ketika Dia Menerima Kebenaran Itu dari Orang yang Tak Dikenal …

kebenaran

Syaikh ‘Ali bin Hasan al-Halabi –hafizhahullah

http://twitmazeed.com/show/31x

 

نقلتُ في كتابي”أحكام الشتاء في السنة المطهّرة”-قبل نحو ربع قرن-هذه القصة النبيلة..ذات الفوائد الجليلة-:
قال القاضي أبو بكر ابن العربي المالكي في كتابه “أحكام القرآن” (١/١٨٢-١٨٣): أخبرني محمد بن قاسم العثماني –غير مرةٍ- قال:

 

Sekitar dua puluh tahun yang lalu, aku telah menukilkan ke dalam kitabku, Ahkam asy-Syita’ fi as-Sunnah al-Muthahharah, kisah yang mulia berikut. Kisah yang sarat dengan faidah-faidah agung di dalamnya:

Al-Qadhi Abu Bakr Ibn al-‘Arabi al-Maliki berkata di dalam kitabnya yang berjudul Ahkam al-Quran (1/182-183): Telah mengabarkan kepada kami –tak hanya sekali- Muhammad bin Qasim al-‘Utsmani, dia mengatakan:

 

وصلت الفُسطاط مرَّةً، فجئت مجلس الشيخ أبي الفضل الجوهري، وحضرت كلامه على الناس، فكان مما قال-في أول مجلس جلست إليه- : إن النبي -صلى الله عليه وسلم- طلَّق، وظاهر، وآلى. فلمَّا خرج تبعتُه، حتى بلغتُ معه إلى منْزله –في جماعة-، فجلس معنا في الدِّهليز، وعرَّفهم أمري؛ فإنه رأى إشارة الغُرْبة، ولم يعرف الشخص قبل ذلك في الواردين عليه.

 

Suatu kali aku sampai di kota Fusthath. Di sana, aku mendatangi majelis Syaikh Abu al-Fadhl al-Jauhari dan menghadiri pengajarannya kepada orang-orang. Di antara hal-hal yang diucapkannya dalam majelis yang pertama kali kuikuti itu adalah, “Bahwasanya Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah mengucapkan talak kepada istrinya, pernah berucap zhihar kepada istrinya, dan pernah juga melakukan ila’ kepada istrinya.” Selesai kajian, Syaikh Abu al-Fadhl al-Jauhari pun keluar (dari majelisnya). Aku mengikutinya hingga sampai di rumahnya bersama beberapa orang lainnya, lalu dia duduk bersama kami di selasar rumahnya. Syaikh memberitahu hadirin akan keberadaanku di situ karena tampaknya dia melihat tanda-tanda keberadaan orang asing yang tak dikenalnya di antara orang-orang yang biasa datang kepadanya sebelum hari itu.

 

فلمَّا انفضَّ عنه أكثرهم ، قال لي: أراك غريباً، هل لك من كلامٍ؟ قلت: نعم. قال لجلسائه: أفرجوا له عن كلامه.

فقاموا ، وبقيت وحدي معه. فقلت له: حضرت المجلس -اليوم-متبركاً بك، وسمعتك تقول: آلى رسول الله -صلى الله عليه وسلم-؛ وصدقت. وطلَّق رسول الله -صلى الله عليه وسلم؛وصدقتَ. وقلتَ: وظاهرَ رسول الله -صلى الله عليه وسلم! وهذا لم يكن! ولا يصح أن يكون ؛لأن الظهار منكرٌ من القول وزور؛ وذلك لا يجوز أن يقع من النبي -صلى الله عليه وسلم-!! فضمَّني إلى نفسه، وقبَّلَ رأسي، وقال: أنا تائب من ذلك ، جزاك الله عني من معلِّمٍ خيراً.

 

Tatkala sebagian besar hadirin telah pulang, Syaikh berkata kepadaku, “Tampaknya kau ini orang asing. Adakah sesuatu yang ingin kausampaikan?” Aku menjawab, “Ya, ada yang ingin kusampaikan kepadamu.” Dia lantas berkata kepada orang-orang yang berada di situ, “Beri dia kelapangan untuk menyampaikan ucapannya!” Maka orang-orang pun pergi dari situ sehingga hanya tinggal kami berdua saja. Aku lalu berkata kepadanya, “Tadi aku menghadiri majelismu untuk mendapatkan keberkahan (ilmu melalui majelismu). Aku mendengarmu mengatakan bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- melakukan ila’ kepada istrinya. Dalam hal ini kau benar. Kau juga mengatakan bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengucapkan talak kepada istrinya. Dalam hal ini pun kau benar. Akan tetapi, kau juga mengatakan bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- berucap zhihar kepada istrinya. Maka hal itu tidak pernah terjadi dan tidak benar untuk terjadi karena ucapan zhihar itu mungkar dan merupakan ucapan dusta sehingga hal itu tidak mungkin diperkenankan terjadi pada Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Setelah mendengar penjelasanku), Syaikh pun memelukku lalu mencium kepalaku seraya berkata, “Aku bertobat dari hal yang kuucapkan itu. Semoga Allah memberimu balasan yang baik atas pengajaranmu terhadapku.”

 

ثم انقلبتُ عنه، وبكَّرتُ إلى مجلسه في اليوم الثاني، فألفيتُه قد سبقني إلى الجامعِ، وجلسَ على المٍنبر .فلمَّا دخلتُ من باب الجامع ورآني ، نادى بأعلى صوته: مرحباً بمعلِّمي، أفسحوا لمعلِّمي، فتطاولتِ الأعناق إِلَيَّ، وحدَّقتِ الأبصار نحوي، وتبادر الناس إليَّ يرفعونني على الأيدي، ويتدافعونني حتى بلَغْتُ المنبر. وأنا –لِعِظَمِ الحياء- لا أعرف في أيِّ بُقعةٍ أنا من الأرض! والجامع غاصُّ بأهله، وأسال الحياءُ بدني عرَقاً، وأقبل الشيخ على الخَلق ، فقال لهم: أنا معلِّمكم ، وهذا معَلِّمي: لَمَّا كان بالأمس قلتُ لكم: آلى رسول الله -صلى الله عليه وسلم-، وطلَّق، وظاهرَ؛ فما كان أحدٌ منكم فقه عني، ولا ردَّ عليَّ !!فاتبعني إلى منْزلي ، وقال لي كذا وكذا –وأعاد ما جرى بيني وبينه- .. وأنا تائبٌ عن قولي بالأمس، وراجعٌ عنه إلى الحق، فمن سمعه ممن حضر فلا يُعَوِّل عليه، ومن غاب فليُبْلِغْهُ من حضرَ، فجزاه الله خيراً، وجعل يَحْفِلُ في الدعاء، والخلق يؤمِّنون.

 

Kemudian aku pergi dari hadapannya, dan pada keesokan harinya, aku bergegas-gegas datang ke majelisnya, tetapi ternyata kudapati dirinya telah lebih dulu berada di sana sambil duduk di atas mimbar. Tatkala aku masuk melalui pintu masjid, dia melihatku. Syaikh pun lantas berseru dengan suara yang keras, “Selamat datang, wahai guruku. Berilah kelapangan untuk guruku!” Maka orang-orang pun menengadahkan kepala mereka seraya memandang tajam ke arahku. Sesaat kemudian, mereka bergegas-gegas mendekatiku, mengangkatku di atas tangan-tangan mereka seraya mendorongku hingga sampai ke depan mimbar. Dan aku, lantaran teramat malu, tak tahu bumi mana yang sedang kupijak saat itu. Masjid dipenuhi manusia saat itu, sementara rasa malu menjadikan badanku bercucuran keringat. Saat itu Syaikh menghadap ke arah orang-orang, lalu berkata kepada mereka, “Aku adalah guru kalian, sedangkan orang ini adalah guruku! Kemarin aku mengatakan kepada kalian bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- melakukan ila’ kepada istrinya, juga mengucapkan talak dan zhihar. Akan tetapi, tidak ada seorang pun dari kalian yang menyadari dan membantahku. Orang ini mengikutiku ke rumahku, lalu berkata kepadaku demikian dan demikian –yakni menceritakan kembali apa yang terjadi kemarin mengenai perbincangan kami- sehingga aku bertobat dari ucapanku kemarin dan kembali kepada kebenaran. Oleh karena itu, siapa pun yang mendengar ucapanku saat menghadiri majelisku kemarin, janganlah menjadikannya sebagai pegangan. Dan siapa yang tak hadir saat ini, hendaklah (pendapat yang benar ini) disampaikan kepadanya oleh yang hadir. Maka, semoga Allah memberi balasan yang baik kepadanya.” Kemudian dia berdoa dengan sungguh-sungguh dan orang-orang sama mengaminkannya.

 

ثم علق القاضي ابن العربي بقوله: “فانظروا -رحمكم الله- إلى هذا الدين المتين، الاعتراف بالعلم لأهله على رؤوس الملأ: مِن رجلٍ ظهرت رياسته، واشْتَهرتْ نفاسته؛ لغريبٍ مجهول العين لا يعرف من؟! ولا من أين؟! فاقتدوا به ترشُدوا”.

 

Kemudian al-Qadhi Ibn al-‘Arabi mengomentari kisah tersebut dengan ucapan, “Maka perhatikanlah agama yang kukuh ini, semoga Allah menyayangi kalian. Perhatikanlah pengakuan (dan penerimaan) akan ilmu terhadap pembawa ilmu di depan khalayak ramai! Pengakuan yang dilakukan oleh seseorang yang telah jelas kedudukannya dan terkenal pula kecemerlangannya terhadap orang asing yang tak diketahui perihal dan asalnya. Oleh karena itu, ikutilah jejak keteladanannya, niscaya kalian beroleh petunjuk.”

 

 

 

 

Bandung, 8 Desember 2015

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

2 comments on “Ketika Dia Menerima Kebenaran Itu dari Orang yang Tak Dikenal …

  1. jampang says:

    terima kasih sharing ilmunya, kang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s