Tentang Penisbatan al-Bada-u kepada Allah –‘Azza wa Jalla …

Untitled

عن أبي هريرة رضي الله عنه أنه سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: إن ثلاثة في بني إسرائيل أبرص وأقرع وأعمى بدا لله عز وجل أن يبتليهم … -البخاري

 

 

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu– behwasanya dia mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Sesungguhnya ada tiga orang dari kalangan Bani Isra-il, yang satu berpenyakit Kusta, yang satu berkepala botak, dan yang satu lagi buta. Tebersitlah ide pada diri Allah –‘Azza wa Jalla- untuk menguji ketiga orang itu.” (HR. al-Bukhari)

 

Pada hadits tersebut terdapat redaksi بدا (badaa) yang secara bahasa artinya adalah sebegai berikut:

 

البَدَاءُ: الظهور والإبانة بعد الخفاء

 

“Al-Bada-u adalah muncul dan tampak setelah sebelumnya tersembunyi.”

 

البَدَاءُ : ظهور الرأي بعد أن لم يكن

 

“Al-Bada-u adalah munculnya ide setelah sebelumnya tak ada.”

 

البَدَاءُ استصواب شيءٍ عُلِمَ بعد أنْ لم يُعْلَمْ

 

“Al-Bada-u adalah pembenaran terhadap sesuatu yang diketahui setelah sebelumnya tak tahu.”

 

Penisbatan sifat al-Bada-u kepada Allah tidaklah dibenarkan. Allah tidak layak untuk disifati dengan sifat tersebut karena sungguh Allah itu Maha Suci dari sifat mengetahui setelah sebelumnya tidak tahu …

 

Ibn al-Atsir berkata di kitab an-Nihayah fi Gharib al-Hadits wa al-Atsar:

 

والبَدَاءُ استصواب شيءٍ عُلِمَ بعد أنْ لم يُعْلَمْ٬ وذلك على اللّه عز وجل غير جائز

 

“Dan al-Bada-u itu adalah pembenaran terhadap sesuatu yang diketahui setelah sebelumnya tak tahu. Dan penyandaran sifat tersebut kepada Allah tidaklah diperbolehkan.”

 

Syaikh Zakariya bin Ghulam Qadir al-Bakistani berkata di kitab al-Ahadits adh-Dhi’af wa al-Maudhu’at fi al-Asma’ wa ash-Shifat (halaman 8):

 

ولفظ (بدا) أخرجها البخاري في صحيحه (٣٤٦٤) في هذا الحديث الطويل من طريق عبد الله بن رجاء الغداني أخبرنا همام عن إسحاق أخبرني عبد الرحمن بن أبي عمرة عن أبي هريرة به٬ وهي خطأ ليست بصواب لأن معنى (بدا) أي ظهور له بعد أن كان خافيا عليه٬ وهذا لا يجوز إطلاقه على الله عز وجل٬ ومما يؤكد خطأ هذه اللفظة أن الحديث أخرجه البخاري نفسه في صحيحه ومسلم بلفظ: (أراد الله). قال الألباني حفظه الله في حاشية مختصر صحيح البخاري (٢/٤٤٦) بعد أن ذكر لفظة (أراد الله): قلت: وهي رواية مسلم٬ وهذا هو المحفوظ٬ ثم قال: ونسبة البداء إلى الله لا يجوز٬ ومال الحافظ إلى أن الرواية الأولى من تغيير الرواة وظني أنه الغداني كما ألمحت إليه٬ والرواية المحفوظة لم يستحضرها الحافظ عند المصنف فعزاها لمسلم وحده …

 

Dan redaksi “badaa” dikeluarkan oleh al-Bukhari di kitab Shahih-nya (3464) dalam hadits yang panjang dari jalan ‘Abdullah bin Raja’ al-Ghudani: telah mengabarkan kepada kami Hammam, dari Ishaq: telah mengabarkan kepadaku ‘Abd ar-Rahman bin Abi ‘Amrah dari Abu Hurairah. Dan redaksi “badaa” tersebut keliru dan tidak benar karena makna “badaa” itu adalah, “Tampak bagi-Nya setelah sebelumnya tersembunyi dari-Nya,” dan ini tidak diperkenankan untuk diucapkan kepada Allah –‘Azza wa Jalla. Dan di antara hal yang menguatkan kekeliruan redaksi tersebut adalah bahwasanya Imam al-Bukhari sendiri mengeluarkan juga hadits tersebut dalam kitab Shahih-nya (pada bab lain yang bukan dari jalan ‘Abdullah bin Raja’ al-Ghudani –pent), juga Imam Muslim dengan redaksi, “Araadallah (Allah berkehendak untuk menguji.” Syaikh al-Albani –hafizhahullah– dalam catatan pinggir Mukhtashar Shahih al-Bukhari (2/446), setelah menyebutkan redaksi, “Araadallah (Allah berkehendak untuk menguji,” mengatakan sebagai berikut, “Aku (Syaikh al-Albani) katakan, ini adalah riwayat Muslim, dan inilah redaksi yang terjaga (benar).” Kemudian beliau berkata lagi, “Dan menyandarkan sifat al-bada-u kepada Allah itu tidak diperbolehkan. Al-Hafizh Ibn Hajar pun cenderung kepada pendapat bahwa riwayat yang pertama (yakni riwayat dengan redaksi badaa) berasal dari taghyir (perubahan) salah seorang perawi, dan aku memiliki dugaan bahwa perawi tersebut adalah al-Ghudani sebagaimana yang kuisyaratkan. Akan tetapi, riwayat (dengan redaksi) yang terjaga itu tidak disebutkan berasal dari al-Bukhari oleh al-Hafizh, tetapi hanya disandarkan kepada Muslim saja.” –SELESAI …

 

 

Bandung, 16 Desember 2015

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

6 comments on “Tentang Penisbatan al-Bada-u kepada Allah –‘Azza wa Jalla …

  1. jampang says:

    tapi haditsnys shahih ya kang? cuma redaksinya yang salah?

    • tipongtuktuk says:

      Haditsnya shahih, Bang …
      Hanya saja redaksi badaa itu tidak mahfuzh. Redaksi yang mahfuzh adalah araadallah …

      Aqidah al-bada-u sendiri merupakan akidah agama Syi’ah. Menurut mereka, Allah itu tidak tahu sesuatu sebelum sesuatu itu terjadi. Allah menjadi tahu setelah sesuatu yang diketahui-Nya itu terjadi …

  2. Novi Kurnia says:

    Apa bedanya catatan pinggir dengan catatan kaki? 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s