Tentang Bermudah-Mudah Membunuh Kafir di Negeri Muslim …

Untitled-

Syaikh Abu al-Hasan Musthafa bin Isma’il as-Sulaimany –hafizhahullah

Kitab: Fitnah at-Tafjirat wa al-Ightiyalat: al-Asbab wa al-Atsar wa al‘Ilaj (240-242) …

 

وقد يستدل بعضهم على جواز اغتيال بعض من دخل بلاد المسلمين من الكفار، دون الرجوع إلى وليّ الأمر، بما أخرجه أبو داود والنسائي وغيرهما([1]) من حديث ابن عباس – رضي الله عنهما  – أن أعمى كانت له أم ولد، تشتم النبي – صلى الله عليه وعلى آله وسلم- وتقع فيه، فينهاها؛ فلا تنتهي، ويزجرها؛ فلا تنـزجر، فلما كانت ذات ليلة، جعلتْ تقع فيه – أي: في النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم- وتشتمه، فأخذ – أي: الأعمى- المِغْول، ووضعه في بطنها، واتكأ عليها، فقتلها، فوقع بين رجليها  طفل، فلطخت ما هناك بالدم، فلما أصبح؛ ذُكر ذلك لرسول الله – صلى الله عليه وعلى آله وسلم- فجمع الناس، فقال: ((أُنْشِد الله رجلا، فعل ما  فعل، لي عليه حق؛ إلا قام)) فقام الأعمى يتخطى الناس ، وهو يتزلزل، حتى قعد بين يدي النبي – صلى الله عليه وعلى آله وسلم- فقال: يارسول الله، أنا صاحبها، كانت تشتمك، وتقع فيك، فأنهاها؛ فلا تنتهي، وأزجرها؛ فلا تنـزجر، ولي منها اثنان مثل اللؤلؤتين، وكانت بي رفيقة، فلما كانت البارحة، جعلت تشتمك، وتقع فيك، فأخذتُ المِغْول، فوضَعْتُه في بطنها، واتكأْتُ عليها، حتى قتلتها، فقال النبي – صلى الله عليه وعلى آله وسلم-: ((ألا اشهدوا أن دمها هدر)).اهـ.

 

Sebagian di antara mereka (yakni suatu kelompok –pent) menyatakan kebolehan untuk membunuh orang kafir yang masuk ke negeri kaum Muslimin tanpa menyerahkan urusan tersebut kepada pemerintah berdasarkan dalil yang dikeluarkan oleh Abu Dawud, an-Nasa-i, dan lain-lain [1] yang bersumber dari hadits Ibn ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhu– bahwasanya ada seorang lelaki buta yang memiliki Ummu Walad. Ummu Waladnya itu suka mencaci maki dan mencela Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tentu saja lelaki buta itu senantiasa melarang dan mencegah si Ummu Walad berbuat seperti itu, tetapi tetap saja ia tak mau berhenti dan tak bisa dicegah. Pada suatu malam, Ummu Walad itu kembali mencela dan mencaci maki Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu lelaki buta itu mengambil pedang dan menegakkan pedangnya di atas perut si Ummu Walad. Lelaki buta itu menekan pedang itu hingga terhunjam dan membunuh si Ummu Walad, lalu bayi yang dikandung si Ummu Walad pun terjatuh di antara kedua kakinya sehingga darah pun mengotori tempat tidur. Keesokan paginya, disebutkanlah peristiwa tersebut kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau pun mengumpulkan orang-orang, lalu berkata, “Aku bersumpah dengan nama Allah, hendaklah lelaki yang berbuat apa yang telah diperbuatnya berdiri! Aku mempunyai hak atasnya.” Maka berdirilah lelaki buta itu, lalu berjalan dengan gemetaran melangkahi orang-orang yang ada di sana hingga duduk di hadapan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lelaki buta itu berkata, “Wahai Rasulullah, akulah pemilik Ummu Walad tersebut. Dia selalu mencaci maki dan mencelamu. Aku telah melarang dan mencegahnya berbuat begitu, tetapi dia tak jua mau berhenti dan tak bisa dicegah. Aku memiliki dua orang anak darinya yang keduanya laksana dua buah mutiara. Ummu Walad itu adalah teman hidupku. Kemarin, dia kembali mencaci maki dan mencelamu, maka aku pun mengambil pedang dan kutegakkan di atas perutnya lalu kutekan hingga terhunjam dan membunuhnya.” Lalu Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Kalian saksikanlah bahwa darah perempuan tersebut terbuang dengan sia-sia!” –SELESAI …

قالوا: فهذا الأعمى قتلها لِسَبِّها رسولَ الله – صلى الله عليه وعلى آله وسلم- ولم ينكر عليه رسول الله – صلى الله عليه وعلى آله وسلم- ذلك، ونحن نرى أن كثيرًا ممن دخل بلاد المسلمين من هؤلاء؛ يضرُّ ببلادنا أكثر من ضرر هذه الأَمَة، فلماذا تنكرون علينا قتلهم، وتوجبون علينا إرجاع أمرهم إلى ولاة الأمور ؟!

 

Mereka (kelompok tersebut –pent) mengatakan, “Lelaki buta ini membunuh si Ummu Walad lantaran caci makinya terhadap Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Di sisi lain), Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidak mengingkari perbuatan si lelaki buta tersebut yang membunuh si Ummu Walad. Kami memandang bahwa mayoritas dari orang-orang yang memasuki negeri kaum Muslimin itu lebih membahayakan negeri kami dibandingkan bahaya yang ditimbulkan oleh si Ummu Walad ini. Maka, bagaimana bisa kalian mengingkari kami atas pembunuhan yang kami lakukan terhadap mereka? Bagaimana bisa kalian mewajibkan kami untuk mengembalikan (penanganan) urusan mereka kepada pemerintah?”

 

والجواب على ذلك من وجوه – إن شاء  الله تعالى –:

الأول: من المعلوم أن القاضي لا يقضي إلا بالبينة – لاسيما في الدماء – وفي هذه القصة قَبِلَ النبي – صلى الله عليه وعلى آله وسلم- قول الأعمى – مع كونه قاتلًا – وعمل به، وأهدر دم هذه الأَمَة، فهذا حكم خاص بالنبي – صلى الله عليه وعلى آله وسلم- وأنه يجوز له أن يقضي بعلمه، دون الرجوع إلى البينات – بخلاف القضاة – ولا يكون ذلك إلا بوحْي من الله عز وجل له – صلى الله عليه وعلى آله وسلم-.

وقد قال السندي في تعليقه على ((سنن النسائي))([2]):((ولعله – صلى الله عليه وعلى آله وسلم- علم بالوحي صِدْقَ قوله)).اهـ.

 

Dan jawaban atas pertanyaan mereka tersebut akan kami kemukakan dari beberapa segi, insya Allah –ta’ala:

(Pertama): Telah dimaklumi bahwa hakim tidaklah memutuskan perkara kecuali berdasarkan bayyinah (bukti-bukti yang jelas), terutama dalam masalah darah. Dalam kisah tersebut, Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menerima ucapan lelaki buta tersebut –bersama kenyataan bahwa dia membunuh Ummu Walad tersebut- dan beliau memutuskan sikap berdasarkan ucapan lelaki buta tersebut (bukan berdasarkan bayyinah yang disodorkan –pent). Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun menganggap halal darah Ummu Walad tersebut (darahnya dianggap sia-sia). Maka, (penetapan hukum tanpa bayyinah) ini merupakan hukum yang hanya dikhususkan bagi Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– saja, dan bahwasanya beliau itu diperbolehkan untuk memutuskan hukum berdasarkan ilmunya tanpa harus merujuk kepada bayyinah –dan tentu saja hal ini berbeda dengan hakim (yang harus berdasarkan bayyinah). Tak lain tak bukan, keputusan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– (dalam perkara) tersebut sudah tentu berdasarkan wahyu dari Allah –‘Azza wa Jalla– yang disampaikan kepada beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Imam as-Sindi berkata dalam ta’liq-nya terhadap Sunan an-Nasa-i [2], “Barangkali beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengetahui kejujuran ucapan lelaki buta itu berdasarkan wahyu.”

 

فإن قيل: هذا تخصيص للحديث دون مخصوص.

فالجواب: يُخَصِّص ذلك قول النبي – صلى الله عليه وعلى آله وسلم-: ((لو يُعطَى الناس بدعواهم؛ لادَّعى ناس دماء رجال وأموالهم، ولكن اليمين على المُدَّعَى عليه)) -أخرجه البخاري في ((صحيحه)) برقم (٤٥٥٢) و مسلم في ((صحيحه)) برقم (١٧١١) وانظر  زيادة: ((البينة على المدَّعي)) والكلام عنها في ((إرواء الغليل)) برقم (٤٢٦١). فهذا الحديث يدل على أن العبرة ليست بمجرد الدعوى.

وقد قال – صلى الله عليه وعلى آله وسلم-: ((إنكم تختصمون إلي، ولعل بعضكم  أن يكون ألحن بالحجة من بعض؛ فأقضي له...)) الحديث ([3])

وهذا يدل على أن النبي – صلى الله عليه وعلى آله وسلم-كان يقضي بين الناس بالبينات، وقد يقضي بعلمه أحيانا، وهذا من خصائصه – صلى الله عليه وعلى آله وسلم- وليس ذلك لغيره على الراجح من أقوال أهل العلم.

 

Jika ada yang mengatakan, “Ini (ucapan kalian tersebut) merupakan pembatasan terhadap hadits tanpa adanya (petunjuk) akan pengkhususannya.”

Maka jawabannya: hal itu dikhususkan oleh ucapan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sendiri (dalam hadits) berikut, Seandainya segala sesuatu yang didakwakan oleh manusia itu diberi perkenanan (diterima), niscaya setiap orang akan (seenaknya) menuntut darah dan harta orang lain. Akan tetapi, sumpah itu wajib bagi orang yang dituntut (jika ia mengingkari tuntutan yang dituduhkan kepadanya).” Hadits ini dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Shahih-nya (4552) dan Muslim dalam Shahih-nya (1711). Juga lihat redaksi tambahan, “Akan tetapi, menghadirkan bayyinah itu menjadi kewajiban atas penuntut, sedangkan sumpah itu wajib bagi orang yang dituntut (jika ia mengingkari tuntutan yang diajukan kepadanya).” Silakan untuk meneliti pembicaraan atas redaksi tambahan tersebut di kitab Irwa’ al-Ghalil (4261). Dengan demikian, hadits ini menunjukkan bahwa ibrah (yang diambil oleh Hakim) itu tidak semata berdasarkan tuntutan saja (melainkan berdasarkan bayyinah).

Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– juga berkata, “Sesungguhnya kalian membawa perkara kalian kepadaku, dan barangkali sebagian di antara kalian lebih handal berargumentasi dari sebagian yang lain sehingga aku memutuskan perkara dengan memenangkan (orang yang lebih fasih argumentasi)nya.” [3] Dan ini menunjukkan bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– biasa memutuskan perkara di antara manusia berdasarkan bayyinah. Akan tetapi, terkadang beliau memutuskan perkara berdasarkan ilmunya (wahyu dari Allah), dan ini merupakan kekhususan bagi beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– saja, bukan bagi selain beliau berdasarkan pendapat yang paling kuat dari ucapan ahli ilmu.

 

الثاني: مما يدل على أن النبي – صلى الله عليه وعلى آله وسلم- لم يكن مُرِّخِّصًا لآحاد الناس بقتل من استحق القتل: أن الأعمى قام يتخطى الناس، وهو يتزلزل، أي كان خائفًا من فعله، وفي رواية: ((يتدلدل)) أي يضطرب في مشيه، فلو كان الأعمى يعلم أنه مرَّخص له في فعله  هذا؛ لما خاف من عاقبة ذلك، ولما خشي من سخط النبي – صلى الله عليه وعلى آله وسلم-.

وأيضًا: فالأعمى لم يأت معترفًا بفِعْلِهِ ابتداءً، بل جلس مع من جلس، ولم يقم مُخْبرًا بفعله إلا بعد أن وعظ الرسول- صلى الله عليه وعلى آله وسلم- الناس بقوله: ((أُنْشِدُ اللهَ رجلًا، فَعَل ما فَعَل، لي عليه حق؛ إلا قام)) فهذا يدل على أن الأعمى كان يعلم أنه ليس مرخَّصًا له في ذلك.

 

(Kedua): Di antara hal-hal yang menunjukkan bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tidak memberi rukhshah (keringanan) terhadap siapa pun yang membunuh orang yang berhak untuk dijatuhkan hukuman bunuh, yaitu bahwasanya lelaki buta itu berdiri dan berjalan melangkahi orang-orang dengan tubuh yang gemetaran, yakni dia takut lantaran perbuatannya. Dalam riwayat lain, “Bergoyang-goyang,” yakni berjalan terhuyung-huyung. Seandainya lelaki buta itu memang mengetahui bahwa dirinya merupakan orang yang diberi keringanan atas perbuatannya, niscaya dia tidak akan merasa takut akan akibat dari karena perbuatannya tersebut, dan tidak pula dia akan bercemas akan kemarahan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selain itu, lelaki buta tersebut tidak mendatangi Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sebagai pengaku yang memulai sendiri kedatangannya untuk mengakui perbuatan yang dilakukannya. (kenyataannya), dia ikut duduk bersama orang-orang lainnya di sana bukan sebagai orang yang mengabarkan perbuatannya kecuali setelah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berucap kepada manusia dengan ucapan, “Aku bersumpah dengan nama Allah, hendaklah lelaki yang berbuat apa yang telah diperbuatnya berdiri! Aku mempunyai hak atasnya.” Maka, hal ini menunjukkan bahwa lelaki buta tersebut mengetahui bahwa dirinya bukanlah orang yang diberi keringanan dalam hal tersebut.

 

الثالث: لو سلمنا بضعف ما سبق؛ فالأعمى يرى أن هذه أم ولده، وأن السيد يجوز له – في نظره- أن يقتل جاريته إذا ارتكبتْ ما يوجب الحد، ومع كون هذا مرجوحًا بما سبق؛ فأنتم لستم بولاة أمر، ولا سادة لمن تقتلونه من المسلمين وغيرهم!!

 

(Ketiga): Kalaupun –misalnya- kami menerima bahwa hal-hal yang kami kemukakan di atas lemah, maka (kami memandang bahwa hal itu dilakukan oleh) lelaki buta tersebut karena dia beranggapan bahwa perempuan tersebut adalah Ummu Waladnya, sementara dia sendiri merupakan tuan (pemilik)nya yang boleh –menurut pandangannya- untuk membunuh budaknya jika si budak tersebut melakukan perbuatan yang berkonsekuensi hukuman had. (Akan tetapi), bersamaan dengan kenyataan bahwa pandangan seperti ini merupakan pandangan yang marjuh (tidak kuat) berdasarkan hal-hal yang telah kami kemukakan di atas, maka (kalaupun kalian berdiri di atas pandangan yang lemah ini), tetap saja kalian bukanlah pemerintah, bukan pula kalian itu tuan yang memiliki orang-orang yang kalian bunuh dari kalangan Muslimin dan selain Muslimin.

 

الرابع: لو سلمنا بأن هذا الحكم جائز لآحاد الناس؛ فلا شك أن ذلك يكون كذلك إذا لم يؤدِّ إلى مفسدة أكبر، والواقع بخلاف هذا، فإن قتل المعاهَدين من آحاد الرعية – لو سلمنا جدلا بجوازه – يؤدي إلى مفاسد عظيمة، والواقع أكبر شاهد على أنكم لا تقتصرون على قتل المسلمين وغيرهم، بل تقتلون أنفسكم أيضًا ! فأين الدليل، وأين الدعوى ؟! والله المستعان!!

 

(Keempat): Kalaupun –misalnya- kami menerima bahwa ini merupakan hukum yang boleh dilakukan oleh setiap orang, maka tidak syak lagi bahwa hal itu boleh dilakukan selama tidak mengantarkan kepada mafsadah (bahaya dan kerusakan) yang lebih besar. Sementara realitas yang terjadi sangat berkebalikan dengan hal itu (yakni dalam kenyataannya, hal tersebut justru mengantarkan kepada mafsadah yang lebih besar –pent) karena membunuh orang-orang kafir yang terikat perjanjian dengan anggota masyarakat –kalaupun –misalnya- kami terima bahwa hal tersebut boleh- ternyata malah mengantarkan kepada mafsadah-mafsadah yang sangat besar. Realitaslah yang menjadi sebesar-besar bukti bahwa sesungguhnya kalian bukan hanya sebatas membunuh kaum Muslimin dan selain Muslimin saja, bahkan membunuh diri kalian sendiri juga. Maka di mana dalil kalian? Di mana pula klaim kalian? Wallah al-musta’an

 

(تنبيـه): أصحاب هذه الأفكار إذا عجز الواحد منهم عن تحقيق مراده؛ فإنه يبادر بقتل نفسه، وقتل إخوانه المشاركين معه إن أمكن؛ خشية أن يُقْبض عليهم، ويتعرضَوا لما يفضي إلى إفشاء سرِّهم، فجمعوا في ذلك عددًا من الجرائم، وهذه عاقبة من ترك منهج العلماء، ولقَّط دينه من هنا وهناك، فنعوذ بالله من خاتمة السوء!!

 

(Peringatan): Orang-orang yang berpaham seperti ini, apabila salah seorang di antara mereka tak mampu mewujudkan tujuannya, maka dia pun segera membunuh dirinya sendiri, dan jika memungkinkan, dia pun membunuh juga saudara-saudaranya yang ikut serta dalam tugas bersamanya. Hal itu dilakukan karena khawatir jika sampai tertangkap (oleh musuh) dan mengakibatkan terbongkarnya rahasia mereka. Demikianlah, mereka menggabungkan sejumlah kejahatan dalam aksi mereka, dan ini merupakan akibat dari sikap dan tindakan meninggalkan manhaj ahli ilmu, lalu memungut agamanya dari sana sini. Kami memohon perlindungan Allah dari kesudahan yang buruk …

 

 

Bandung, 23 Desember 2015

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

[1] Dikeluarkan oleh Abu Dawud (4361) dan an-Nasa-i (4070). Lihat pula takhrij di kitabku Kasf al-Ghummah: Bayan Khasha-ish Rasul –shallallahu ‘alaihi wa ‘ala Alihi wa sallam- wa al-Ummah (halaman: 234), dan sanadnya shahih …

[2] (4/108), Penerbit Dar al-Fikr …

[3] Dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Shahih-nya (6967) dan Muslim dalam Shahih-nya (1713) …

Advertisements

2 comments on “Tentang Bermudah-Mudah Membunuh Kafir di Negeri Muslim …

  1. jampang says:

    ngeri banget kang yang punya paham begitu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s