Mereka Bilang, Bilal –radhiyallahu ‘anhu- pun Mengada-Adakan Bid’ah …

Untitled-

Sebagian orang ada yang berpikir –keliru- dengan mengatakan bahwa Bilal –radhiyallahu ‘anhu– telah mengada-adakan suatu perbuatan bid’ah yang kemudian (perbuatan bid’ahnya itu) disetujui dan ditetapkan oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sebagai suatu amal perbuatan yang baik. Bid’ah yang dilakukan oleh Bilal (dan disetujui oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– itu) adalah shalat sunah dua rakaat setiap kali selesai wudu (dikenal dengan sebutan shalat syukrul wudu). Menurut mereka, perbuatan Bilal tersebut menunjukkan bahwa bid’ah itu tidaklah selalu dhalalah (buruk), tetapi adakalanya malah hasanah (baik). Mereka berdalil dengan hadits berikut ini:

 

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ نَصْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ أَبِي حَيَّانَ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِبِلَالٍ عِنْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ يَا بِلَالُ حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الْإِسْلَامِ فَإِنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ قَالَ مَا عَمِلْتُ عَمَلًا أَرْجَى عِنْدِي أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طَهُورًا فِي سَاعَةِ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلَّا صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّيَ –صحيح البخاري

 Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bertanya kepada Bilal pada waktu shalat subuh, “Wahai Bilal, kabarkan kepadaku tentang amal yang paling kauharapkan (pahalanya) yang telah kau kerjakan di dalam Islam, karena sesungguhnya aku mendengar (dalam mimpiku tadi malam) suara ketukan kedua sandalmu di depanku di dalam surga.” Bilal menjawab, “Tidaklah aku mengerjakan suatu amal yang lebih kuharapkan pahalanya selain bahwa setiap kali aku telah berwudu, baik pada malam hari atau pada siang hari, maka aku pun melaksanakan shalat dengan wuduku itu sesuai yang dituliskan bagiku untuk kulakukan.” (HR. al-Bukhari)

 

Kata mereka, hadits ini menunjukkan bahwa Bilal telah mengada-adakan suatu amal yang baru (bid’ah), yaitu melakukan shalat sunah selepas wudu padahal tidak ada petunjuk dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– mengenai perbuatan tersebut sebelumnya. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sendiri baru mengetahui amalan tersebut setelah beliau bertanya kepada Bilal. Ini menunjukkan bahwa Bilal telah mengada-adakan suatu amal (bid’ah), sementara Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sama sekali tak mengingkarinya. Dengan demikian, bid’ah itu tak selamanya dhalalah, tetapi ada juga yang hasanah. Terbukti hasanah karena Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun menyetujui perbuatan bid’ah yang dilakukan oleh Bilal.

 

Sanggahan:

Benarkah demikian? Apakah Bilal –radhiyallahu ‘anhu– memang mengada-adakan bid’ah dengan melakukan shalat sunah dua rakaat setelah wudu? Apakah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– lantas menetapkan taqrir (menyetujui) perbuatan bid’ah yang dilakukan oleh Bilal tersebut?

Tidak, sama sekali tidak seperti yang mereka katakan …

(1) Apakah Bilal –radhiyallahu ‘anhu– memang mengada-adakan bid’ah dengan melakukan shalat sunah dua rakaat setelah wudu? Tidak. Bilal –radhiyallahu ‘anhu– sama sekali tidak mengada-adakan bid’ah shalat sunah selepas wudu. Hal itu dikarenakan bab shalat mutlak itu luas dan terbuka lebar, kapan saja boleh dilakukan selama berada di luar waktu-waktu yang terlarang. Selain itu, syariat shalat selepas wudu itu secara khusus telah disebutkan oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sebagaimana dalam hadits dari shahabat ‘Utsman bin ‘Affan –radhiyallahu ‘anhu– berikut:

حدّثني أَبُو الطّاهِرِ أَحْمَدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ عَبْدِ اللّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ سَرْحٍ، وَ حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَىَ التّجِيبِيّ. قَالاَ: أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ عَنْ يُونُسَ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ أَنّ عَطَاءَ بْنَ يَزِيدَ اللّيْثِيّ أَخْبَرَهُ أَنّ حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ أَخْبَرَهُ أَنّ عُثْمَانَ بْنَ عَفّانَ رَضِي اللّهُ عنه دَعَا بوَضُوءٍ. فَتَوَضّأَ. فَغَسَلَ كَفّيْهِ ثَلاَثَ مَرّاتٍ. ثُمّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْثَرَ. ثُمّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثَ مَرّاتٍ. ثُمّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْمِرْفَقِ ثَلاَثَ مَرّاتٍ. ثُمّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ. ثُمّ مَسَحَ رَأْسَهُ. ثُمّ غَسَلَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْكَعْبَيْنِ ثَلاَثَ مَرّاتٍ. ثُمّ غَسَلَ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ. ثُمّ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللّهِ صلى الله عليه وسلم تَوَضّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا. ثُمّ قَالَ رَسُولُ اللّهِ صلى الله عليه وسلم: مَنْ تَوَضّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا، ثُمّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ، لاَ يُحَدّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدّمَ مِنْ ذَنْبِهِ –صحيح البخاري

‘Utsman –radhiyallahu ‘anhu– berkata:

Aku melihat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berwudu sebagaimana wudu yang kulakukan ini. Kemudian Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Barangsiapa yang berwudu seperti wuduku ini, kemudian dia shalat sebanyak dua rakaat tanpa membiarkan pikiran jiwanya melayang-layang dalam shalatnya, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. al-Bukhari)

 

Ibn Hajar al-Asqalani berkata di dalam Fath al-Bari:

 قوله: (ثم صلى ركعتين) فيه استحباب صلاة ركعتين عقب الوضوء

Ucapan beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam, “… kemudian dia shalat sebanyak dua rakaat,” di dalamnya terkandung anjuran untuk shalat dua rakaat selepas wudu.

 

Dengan demikian, shalat selepas wudu itu bukanlah bid’ah yang diada-adakan oleh Bilal –radhiyallahu ‘anhu, melainkan Sunnah yang telah ditetapkan oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam

 

(2) Apakah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– lantas menetapkan taqrir (menyetujui) perbuatan bid’ah yang dilakukan oleh Bilal tersebut? Tidak. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– hanya bertanya tentang amal perbuatan yang dilakukan oleh Bilal yang dengan perbuatan tersebut Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– mendengar suara langkah kaki Bilal (yaitu suara sandalnya) di dalam surga. Kemudian Bilal menjawab bahwa dirinya melakukan suatu amal berupa shalat setelah wudu. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tidak mengingkari amalan Bilal tersebut karena memang amalan tersebut pada hakikatnya telah tertera di dalam Sunnah beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam

 

Faidah: Shalat sunnah selepas wudu (atau yang dikenal dengan sebutan shalat syukrul wudu) itu merupakan amalan yang diambil dari Sunnah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dan memiliki ganjaran yang sangat besar berupa dihapuskannya dosa-dosa yang telah dilakukan …

 

Wallahu a’lamu …

 

Bandung, 16 Februari 2016

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

Tentang Mengenali Sesuatu Beserta Lawannya …

Untitled

Syaikh Muhammad Nashir ad-Din al-Albani –rahimahullah– berkata di kitab al-Ajwibah an-Nafi’ah (109-115):

 

إن مما يجب العلم به أن معرفة البدع التي أدخلت في الدين أمر هام جدا لأنه لا يتم للمسلم التقرب إلى الله تعالى إلا باجتنابها ولا يمكن ذلك إلا بمعرفة مفرداتها إذا كان لا يعرف قواعدها وأصولها وإلا وقع في البدعة وهو لا يشعر فهي من باب: “ما لا يقوم الواجب إلا به فهو واجب.” كما يقول علماء الأصول رحمهم الله تعالى. ومثل ذلك معرفة الشرك وأنواعه فإن من لا يعرف ذلك وقع فيه كما هو مشاهد من كثير من المسلمين الذين يتقربون إلى الله بما هو شرك كالنذر للأولياء والصالحين والحلف بهم والطواف بقبورهم وبناء المساجد عليها وغير ذلك مما هو معلوم شركه عند أهل العلم ولذلك فلا يكفي في التعبد الاقتصار على معرفة السنة فقط بل لا بد من معرفة ما يناقضها من البدع كما لا يكفي في الإيمان التوحيد دون معرفة ما يناقضه من الشركيات وإلى هذه الحقيقة أشار رسول الله صلى الله عليه وسلم بقوله: “من قال: لا إله إلا الله وكفر بما يعبد من دون الله حرم ماله ودمه وحسابه على الله”. رواه مسلم.

 

Sesungguhnya, di antara perkara yang wajib diketahui, bahwasanya ma’rifah al-bida’ (pengetahuan tentang bid’ah-bid’ah) yang disusupkan ke dalam agama itu merupakan perkara yang sangat penting. Hal itu dikarenakan, tidaklah akan sempurna taqarrub seorang muslim kepada Allah –ta’ala– kecuali dengan menjauhi bid’ah-bid’ah. Dan tidaklah mungkin hal itu terlaksana kecuali dengan mengetahui satu persatu dari bid’ah-bid’ah tersebut –jika memang dia tak mengetahui tentang kaidah-kaidah dan ushul-ushul bid’ah– karena jika tidak, maka bisa terjatuh ke dalam bid’ah tanpa menyadarinya. Maka, pengetahuan tentang bid’ah-bid’ah ini masuk ke dalam bab, “Hal yang apabila suatu kewajiban tak bisa tegak tanpanya, maka hal itu menjadi wajib,” sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama ushulrahimahumullah ta’ala. Perkara lain (yang wajib diketahui) semisal ma’rifah al-bida’ ini adalah ma’rifah asy-syirk (pengetahuan tentang syirik) dan jenis-jenisnya, karena sesungguhnya orang yang tak mengetahui kesyirikan, dimungkinkan dirinya terjerumus ke dalamnya sebagaimana terlihat dari (perbuatan) kebanyakan kaum Muslimin yang ber-taqarrub kepada Allah melalui perkara-perkara syirik semisal nadzar kepada para wali dan orang-orang salih, bersumpah dengan nama-nama mereka, melakukan tawaf di kuburan mereka, membangun masjid di atas kuburan mereka, dan perbuatan-perbuatan lainnya yang telah dimaklumi kesyirikannya oleh ahli ilmu. Oleh karena itu, tidaklah cukup dalam perkara ibadah itu jika hanya membatasi dengan ma’rifah Sunnah saja, melainkan sudah semestinya seseorang itu untuk ma’rifah pula terhadap perkara-perkara yang menjadi lawan dari Sunnah, yaitu bid’ah sebagaimana tidak mencukupinya ma’rifah terhadap iman tauhid tanpa ma’rifah terhadap lawan dari tauhid, yaitu syirik. Terhadap hakikat inilah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berisyarat melalui ucapannya, “Barangsiapa yang mengucapkan laa ilaaha illallaahu seraya mengingkari segala sesuatu yang diibadahi selain Allah, maka haramlah harta dan darahnya, sedangkan perhitungannya terserah Allah.” (HR. Muslim)

 

فلم يكتف عليه السلام بالتوحيد بل ضم إليه الكفر بما سواه وذلك يستلزم معرفة الكفر وإلا وقع وهو لا يشعر وكذلك القول في السنة والبدعة ولا فرق ذلك لأن الإسلام قام على أصلين عظيمين: أن لا نعبد إلا الله وأن لا نعبده إلا بما شرع الله. فمن أخل بأحدهما فقد أخل بالآخر ولم يعبد الله تبارك وتعالى وتحقيق القول في هذين الأصلين تجده مبسوطا في كتب شيخي الإسلام ابن تيمية وابن القيم رحمهما الله تعالى. فثبت مما تقدم أن معرفة البدع أمر لا بد منه لتسلم عبادة المؤمن من البدعة التي تنافي التعبد الخالص لله تعالى فالبدع من الشر الذي يجب معرفته لا لإتيانه بل لاجتنابه على حد قول الشاعر:

عرفت الشر لا للشـ … ـر لكن لتوقيه

ومن لا يعرف الشر … من الخير يقع فيه

 

Maka (dalam sabdanya tersebut), Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tidak mencukupkan dengan tauhid semata, bahkan beliau menggabungkan juga pengingkaran terhadap sesembahan selain-Nya. Tentu saja hal itu mengharuskan ma’rifah al-kufr (pengetahuan tentang kekufuran), karena jika tidak, dia bisa terjerumus ke dalam kekufuran tanpa menyadarinya. Demikian juga, tiada beda dalam masalah Sunnah dan bid’ah, karena Islam itu tegak di atas dua landasan yang agung, yaitu (1) agar kita tidak beribadah kecuali hanya kepada Allah semata, dan (2) agar kita tidak beribadah kepada-Nya kecuali dengan perkara yang disyariatkan oleh Allah bagi kita. Maka, barangsiapa yang menihilkan salah satunya, itu berarti dia telah menihilkan yang lainnya sehingga dirinya belum terhitung beribadah kepada Allah –tabaraka wa ta’ala. Adapun penjabaran mengenai kedua landasan ini bisa didapati secara luas dalam kitab-kitab karya dua Syaikh al-Islam, Ibn Taimiyah dan Ibn al-Qayyim –rahimahumallah ta’ala. Maka, dengan semua penjelasan yang telah lalu tersebut, semakin kukuhlah bahwa ma’rifah al-bida’ itu merupakan suatu kemestian untuk melepaskan ibadah orang beriman dari bid’ah yang berlawanan dengan kemurnian ibadah kepada Allah –ta’ala. Dengan demikian, bid’ah itu merupakan keburukan yang wajib diketahui. Dia harus diketahui oleh seseorang bukan untuk dilakukan, tetapi harus diketahui oleh seseorang agar dirinya menjauh dari bid’ah tersebut dengan batasan sebagaimana yang dikemukakan oleh seorang penyair, “Aku mengenali keburukan bukan untuk melakukan keburukan itu, tetapi untuk menjaga diri darinya. Siapa yang tak mengenali keburukan sehingga tak bisa membedakannya dari kebaikan, maka dia akan terjerumus ke dalamnya.”

 

وهذا المعنى مستقى من السنة فقد قال حذيفة بن اليمان رضي الله عنه: كان الناس يسألون رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الخير وكنت أسأله عن الشر مخافة أن يدركني فقلت: يا رسول الله إنا كنا في جاهلية وشر فجاءنا الله بهذا الخير فهل بعد هذا الخير شر؟ قال: نعم. فقلت: هل بعد ذلك الشر من خير؟ قال: “نعم وفيه دخن” قلت: وما دخنه؟ قال: “قوم يستنون بغير سنتي ويهدون بغير هديي تعرف منهم وتنكر” فقلت: هل بعد ذلك الخير من شر؟ قال: “نعم دعاة على أبواب جهنم من أجابهم إليها قذفوه فيها”. فقلت: يا رسول الله صفهم لنا. قال: “نعم قوم من جلدتنا ويتكلمون بألسنتنا … الحديث.” أخرجه البخاري ومسلم

 

Dan makna syair tersebut disauk dari Sunnah. Dulu, Hudzaifah bin al-Yaman –radhiyallahu ‘anhu– pernah berkata:

Orang-orang bertanya kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tentang kebaikan, sementara aku bertanya kepada beliau mengenai keburukan karena aku merasa takut terjerumus ke dalam keburukan itu. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya dahulu kami berada dalam kejahiliyahan dan keburukan. Lalu Allah mendatangkan kepada kami kebaikan (agama) ini. Lantas, apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan.” Beliau menjawab, “Ya.” Aku berkata, “Apakah setelah keburukan tersebut ada lagi kebaikan?” Beliau menjawab, “Ya. Akan tetapi, di dalam kebaikan itu ada kabut.” Aku berkata, “Kabut apa itu.” Beliau menjawab, “Orang-orang yang mengambil sunnah yang bukan dari sunnahku dan mengambil petunjuk yang bukan dari petunjukku. Kau akan mengenali sebagian dari mereka dan mengingkari mereka.” Aku bertanya lagi, “Apakah setelah kebaikan (yang berkabut) tersebut akan ada lagi keburukan?” Beliau menjawab, “Ya, para da’i yang mengajak ke pintu-pintu jahannam. Siapa yang memenuhi ajakan mereka, maka da’i-da’i itu akan menjerumuskannya ke dalam jahannam.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah, jelaskanlah ciri-ciri mereka kepada kami.” Beliau berkata, “Ya, mereka itu dari kalangan kita juga dan berbicara dengan bahasa kita …,” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

 

قلت: ولهذا كان من الضروري جدا تنبيه المسلمين على البدع التي دخلت في الدين وليس الأمر كما يتوهم البعض: أنه يكفي تعريفهم بالتوحيد والسنة فقط ولا ينبغي التعرض لبيان الشركيات والبدعيات بل يسكت عن ذلك وهذا نظر قاصر ناتج عن قلة المعرفة والعلم بحقيقة التوحيد الذي يباين الشرك والسنة التي تباين البدعة وهو في الوقت نفسه يدل على جهل هذا البعض بأن البدعة قد يقع فيها حتى الرجل العالم وذلك لأن أسباب البدعة كثيرة جدا لا مجال لذكرها الآن ولكن أذكر سببا واحدا منها وأضرب عليه مثلا فمن أسباب الابتداع في الدين الأحاديث الضعيفة والموضوعة فقد يخفى على بعض أهل العلم شيء منها ويظنها من الأحاديث الصحيحة فيعمل بها ويتقرب إلى الله تعالى ثم يقلده في ذلك الطلبة والعامة فتصير سنة متبعة فهذا مثلا الشيخ الفاضل والعلامة المحقق السيد جمال الدين القاسمي ألف كتابه القيم “إصلاح المساجد من البدع والعوائد” وقد انتفعت به كثيرا في المشروع الذي سبقت الإشارة إليه ومع ذلك فقد عقد فصلا في أمور ينبغي التنبه لها ذكر فيه عشرين مسألة ومنها المسألة (١٦- دخول الصبيان للمساجد) قال (ص ٢۰٥): “في الحديث: (وجنبوا مساجدكم صبيانكم ومجانينكم) وذلك لأن الصبي دأبه اللعب فبلعبه يشوش على المصلين وربما اتخذه ملعبا فنافى ذلك موضع المسجد فلذا يجنب عنه.”

 

Aku (Syaikh al-Albani) katakan, dengan demikian merupakan hal yang sangat penting untuk memperingatkan kaum Muslimin dari bid’ah-bid’ah yang disusupkan ke dalam agama (Islam). Dan perkara ini tidaklah sebagaimana pemikiran sebagian orang yang beranggapan, “Cukuplah hanya dengan mengenalkan kaum Muslimin terhadap tauhid dan Sunnah saja, dan tidak selayaknya mengemukakan lawan-lawan dari tauhid dan sunnah untuk menjelaskan kesyirikan-kesyirikan dan bid’ah-bid’ah. Bahkan hendaklah diam (berhenti) dari menjelaskan itu.” Tentu saja ini merupakan pandangan dangkal yang disebabkan oleh sedikitnya ma’rifah dan pengetahuan terhadap hakikat tauhid dan sunnah yang menjadi lawan dari syirik, juga karena sedikitnya ma’rifah dan pengetahuan terhadap hakikat sunnah yang menjadi lawan dari bid’ah. Dan pada saat yang sama, pandangan tersebut menunjukkan pula akan kebodohan orang yang berpendapat demikian, karena –pada kenyataannya- keterjerumusan terhadap bid’ah itu bisa dialami juga oleh orang yang berilmu, dan hal itu dikarenakan penyebab munculnya bid’ah itu sangatlah banyak –tetapi bukan sekarang saat untuk menyebutkannya. Pada kesempatan ini, aku hanya akan menyebutkan salah satu saja (dari sekian banyak penyebab bid’ah) sekaligus saya sebutkan pula contohnya. (salah satu penyebab) timbulnya bid’ah dalam agama adalah hadits-hadits dha’if dan palsu, dan terkadang dari antara hadits-hadits tersebut ada yang (kelemahan atau kepalsuannya) terluput dari pengetahuan sebagian ahli ilmu dan dia menyangka bahwa hadits tersebut termasuk di antara hadits-hadits sahih sehingga dia pun beramal dengannya dan ber-taqarrub kepada Allah –ta’ala, kemudian para penuntut ilmu dan orang-orang awam mengikutinya sehingga menjadi sunnah yang diikuti. Sebagai contohnya adalah (hal yang terjadi pada) Syaikh al-Fadhil, al-‘Allamah, al-Muhaqqiq, as-Sayyid Jamal ad-Din al-Qasimi. Dia menulis kitab yang sangat berharga yang berjudul Ishlah al-Masajid min al-Bida’ wa al-‘Awa-id. Aku sendiri telah banyak mengambil faidah dari kitabnya tersebut dalam hal-hal masyru’ (hal-hal yang sesuai dengan syariat) yang telah kuisyaratkan sebelumnya. Akan tetapi, bersamaan dengan itu, dia telah membuat sebuah pasal di dalam kitabnya tersebut mengenai masalah-masalah yang seyogianya diberi catatan (karena keliru/salah). Dia menyebutkan 20 masalah dalam pasal tersebut, salah satu di antaranya adalah masalah ke-16 dengan judul Dukhul ash-Shibyan li al-Masajid (Masuknya Anak-Anak ke dalam Masjid-Masjid), dan di situ –yakni pada halaman 205, dia mengatakan, “Disebutkan dalam hadits, ‘Jauhkanlah anak-anak kalian dan orang-orang gila kalian dari masjid-masjid kalian.Dan hal itu, karena anak-anak memang melekat pada diri mereka kebiasaan bermain yang akan mengganggu orang-orang yang sedang shalat. Bahkan terkadang anak-anak malah menjadikan masjid sebagai tempat untuk bermain sehingga tentu saja hal itu berlawanan dengan peruntukan masjid (sebagai tempat shalat dan ibadah). Oleh karena itu, seyogianya anak-anak memang dijauhkan dari masjid.”

 

قلت: فهذا الحديث ضعيف لا يحتج به وقد ضعفه جماعة من الأئمة مثل عبد الحق الأشبيلي وابن الجوزي والمنذري والبوصيري والهيثمي والعسقلاني وغيرهم. ومع ذلك خفي حاله على الشيخ القاسمي وبنى عليه حكما شرعيا وهو تجنيب الصبيان عن المسجد تعظيما للمسجد والواقع أنه بدعة لأنه خلاف ما كان عليه الأمر في عهد النبي صلى الله عليه وسلم كما هو مشروح في محله من كتب السنة وانظر كتابنا “صفة صلاة النبي صلى الله عليه وسلم ” (ص ٧٣ – الطبعة الثالثة) ….. وذلك فإن التنبيه على البدع أمر واجب على أهل العلم وقد قام بذلك طائفة منهم ، فألفوا كتبا كثيرة في هذا الباب، بعضها في قواعد البدع وأصولها وبعضها في فروعها، وبعضها جمع بين النوعين، وقد طالعتها جميعا وقرأت معها مئات الكتب الأخرى في الحديث والفقه والأدب وغيرها وجمعت منها مادة عظيمة في البدع ما أظن أن أحدا سبقني إلى مثلها، وهي أصل كتابي المشار إليه آنفا “قاموس البدع” الذي أسأل الله أن ييسر لي تهذيبه وتصنيفه وإخراجه للناس. وهذا الفصل الذي بين يديك هو دليل عليه ونموذج منه. والله سبحانه هو الموفق …

 

Aku (Syaikh al-Albani) katakan, hadits (yang dijadikan dasar oleh Syaikh al-Qasimi) itu dha’if (lemah), tidak bisa dijadikan sebagai dalil. Banyak kalangan pembesar ulama yang melemahkan hadits tersebut, seperti ‘Abd al-Haq al-Isybili, Ibn al-Jauzi, al-Mundziri, al-Bushiri, al-Haitsami, al-Asqalani, dan juga ulama-ulama selain mereka. Bersamaan dengan itu, meskipun para ulama telah melemahkan hadits tersebut, tetap saja hal itu tersembunyi (tidak diketahui) oleh Syaikh al-Qasimi sehingga dia membangun suatu hukum syariat di atas hadits lemah tersebut, yaitu menjauhkan anak-anak dari masjid untuk menjaga kehormatan masjid. Sebetulnya, pada hakikatnya hal itu merupakan bid’ah karena bertentangan dengan perkara yang berlaku pada masa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sebagaimana terdapat penjelasannya di dalam kitab-kitab Sunnah. Lihat pula kitab kami yang berjudul Shifat Shalah an-Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– (halaman 73, cetakan ke-3) ….. demikianlah, sesungguhnya mewaspadakan (memperingatkan manusia) dari bid’ah-bid’ah itu merupakan perkara wajib bagi ahli ilmu. Sebagian di antara ahli ilmu telah melakukan hal tersebut. Mereka menulis banyak kitab dalam masalah ini. Sebagian di antara mereka menulis tentang kaidah-kaidah (untuk memahami) bid’ah dan ushul-nya (pokok-pokoknya), sebagian lagi menulis mengenai furu’ (cabang-cabangnya), sedangkan sebagian lainnya menggabungkan antara kedua jenis tersebut (ushul dan furu’). Aku sendiri telah menelaah semua kitab tersebut, dan bersamaan dengan itu, kubaca pula ratusan kitab lain dalam masalah hadits, fiqh, sastra, dan lain-lain. Dari semua itu, aku mengumpulkan (ke dalam sebuah kitab) sejumlah besar materi mengenai bid’ah, dan menurut dugaanku, tidak ada seorang pun yang mendahuluiku dalam mengumpulkan masalah-masalah bid’ah hingga sebanyak itu, dan semua itu menjadi kandungan pokok dari kitabku yang akan kusebutkan sekarang, yaitu kitab Qamus al-Bida’ yang aku memohon kepada Allah agar memudahkanku dalam menyempurnakan, menulis, dan menyebarkannya kepada manusia. Adapun pasal (yang kukemukakan) ke hadapan kalian ini merupakan salah satu contoh dari kandungan kitabku tersebut. Dan Allah subhanahu, Dialah yang memberi taufiq …

 

Bandung, 7 Februari 2016

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–