Tentang Bumi yang Membuat Langit Terdiam …

Untitled-

Kemarin, pada hari Jumat, 27 Rajab 1437 Hijriyah (6 Mei 2016 M), saya menghadiri ceramah Jumat bersama salah seorang sahabat saya di sebuah masjid. Saat itu, khatib Jumat menceritakan sebuah kisah mengenai latar belakang atau alasan yang membuat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– di-mi’raj-kan (dinaikkan ke langit). Khatib bertutur bahwa pada awalnya langit dan bumi saling membanggakan diri satu sama lain, dan keduanya terus berdebat tentang kelebihan masing-masing hingga akhirnya bumi membuat langit terdiam dan mengadu kepada Allah –ta’ala– untuk membawa Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– ke langit. Saya menyimak kisah tersebut seraya bertanya-tanya dalam hati tentang keabsahan riwayat tersebut …

Seusai shalat Jumat, saya bertanya kepada sahabat saya, “Kau pernah mendengar kisah tadi? Atau mungkin kau tahu sumber kisah tersebut?”

Sahabat saya menjawab, “Aku baru mendengar kisah itu. Besar dugaanku, itu merupakan kisah-kisah tanpa sanad atau dongeng yang dibuat-buat.”

Siang itu, saat saya dan sahabat saya bekerja menebang pohon dan menyabit rumput, saya berkata kepada sahabat saya, “Insya Allah, nanti akan kucari sumber kisah itu. Aku ingin memastikan keabsahan riwayat itu dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Akhirnya, pada malam hari selepas isya, saya dapatkan juga kisah yang dituturkan oleh khatib itu di kitab Durrah an-Nashihin (halaman 123), karya ‘Utsman bin Hasan al-Khubawi sebagai berikut:

 

وأما سبب المعراج فهو أن الأرض افتخرت على السماء فقالت الأرض: أنا خير منك لأن الله تعالى زينني بالبلاد والبحار والانهار والأشجار والجبال وغيرها. فقالت السماء: انا خير منك لان الشمس والقمر والكواكب والأفلاك والبروج والعرش والكرسي والجنة في. وقالت الأرض: في بيت يزوره ويطوف به الأنبياء والمرسلون والأولياء والمؤمنون عامة. وقالت السماء: في البيت المعمور يطوف به ملائكة السموات وفي الجنة التي هي مأوى أرواح الأنبياء والمرسلين وأرواح الأولياء والصالحين. وقالت الأرض: إن سيد المرسلين وخاتم النبيين وحبيب رب العالمين وأفضل الموجودات عليه أكمل التحيات وطن في وأجرى شريعته علي. فلما سمعت السماء هذا عجزت وسكتت عن الجواب وتوجهت إلى الله تعالى فقالت: إلهي أنت تجيب المضطر إذا دعاك وأنا عجزت عن جواب الأرض فأسألك أن تصعد محمد  إلي فأتشرف به كما تشرفت الأرض بجماله وافتخرت به الأرض فأجاب دعوتها وأوحى الله إلى جبرائيل عليه الصلاة والسلام في الليلة السابعة والعشرين من رجب: لا تسبح هذه الليلة ويا عزرائيل لا تقبض الأرواح هذه الليلة. فقال جبرائيل عليه الصلاة والسلام: أجاءت القيامة؟ قال: لا يا جبريل٬ ولكن اذهب إلى الجنة وخذ البراق واذهب به إلى محمد واعرج به إلى السماء! فذهب جبرائيل ورأى أربعين ألف براق يرتعون في رياض الجنة وعلى جبهتهم اسم محمد ورأى فيهم براقا منكسا رأسه يبكى وتسيل من عينيه الدموع. فقال جبرائيل: ما لك يا براق؟ قال: يا جبرائيل إني سمعت منذ أربعين ألف سنة اسم محمد فوقع في قلبي محبة صاحب هذا الإسم وعشقته وبعد ذلك لم أحتج إلى طعام ولا شراب واحترقت بنار العشق. فقال جبرائيل: أنا أوصلك بمعشوقك٬ ثم أسرجه وألجمه وجاء به إلى النبي عليه الصلاة والسلام …

 

Adapun latar belakang di-mi’raj-kannya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– ke langit, yaitu lantaran bumi membangga-banggakan dirinya terhadap langit.

Bumi berkata kepada langit, “(Wahai langit), aku ini lebih baik daripada dirimu. (Hal itu) karena Allah -ta’ala- telah menghiasiku dengan keberadaan peradaban negeri-negeri, juga dengan keberadaan samudra-samudra, sungai-sungai, pepohonan, gunung-gunung, dan hal-hal lainnya.”

Langit pun berkata, “Akulah yang lebih baik darimu, wahai bumi! Lantaran matahari dan bulan, juga bintang kemintang, orbit-orbit benda langit, galaksi-galaksi, ‘arsy, kursi, dan surga ada pada diriku.”

Bumi berkata, “(Bahkan akulah yang lebih baik karena) di atas permukaanku ada rumah (Baitullah) yang senantiasa dikunjungi oleh para nabi dan para rasul, juga dikunjungi oleh para wali dan umumnya kaum Mukminin. Mereka semua juga bertawaf mengitari rumah tersebut.”

Langit berkata, “Pada diriku juga ada sebuah rumah, yaitu Bait al-Ma’mur. Para Malaikat langit senantiasa bertawaf mengitarinya. Pada diriku juga ada surga yang merupakan tempat persemayaman arwah para nabi dan arwah para rasul, juga arwah para wali dan orang-orang salih.”

Bumi berkata, “Sesungguhnya pemimpin para rasul, penutup para nabi, kekasih Rabb semesta dan sebaik-baik makhluk yang kepadanya ditujukan penghormatan yang sempurna hidup di atas permukaanku, sementara syariatnya pun berlaku di atas permukaanku.”

Mendengar ucapan bumi tersebut, tak berdayalah langit dan ia terdiam tanpa jawaban. Kemudian langit menghadap Allah –ta’ala– seraya berkata, “Wahai tuhanku, Engkau memberi pengabulan kepada orang yang mengalami kesulitan jika ia berdoa kepada-Mu, dan saat ini aku tak berdaya untuk menjawab kebanggaan diri bumi. Oleh karena itu, aku memohon kepada-Mu agar Engkau menaikkan Muhammad kepadaku sehingga aku memperoleh kemuliaan diri dengannya sebagaimana bumi mendapatkan kemuliaan diri dengannya dan bisa berbangga diri karenanya.”

Lalu Allah –ta’ala– memperkenankan permintaan langit itu. Allah –ta’ala– mewahyukan kepada Jibril –‘alaihi ash-shalah wa as-salam– pada malam ke-27 Rajab dengan ucapan, “Wahai Jibril, janganlah kau bertasbih kepada-Ku pada malam ini!”

Lalu Allah –ta’ala– berfirman pula lepada Izra-il, “Wahai Izra-il, janganlah kau mencabut nyawa pada malam ini!”

Jibril –‘alaihi ash-shalah wa as-salam– bertanya, “Apakah kiamat tiba pada malam ini?”

Allah –ta’ala– menjawab, “Tidak, wahai Jibril! Akan tetapi, pergilah kau ke surga dan bawalah Buraq dari sana, lalu pergilah kau dengan Buraq itu untuk mendatangi Muhammad dan membawanya naik ke langit!”

Maka Jibril pun pergi ke surga. Di sana, Jibril melihat empat puluh ribu ekor buraq yang sedang asyik merumput di taman surga. Pada masing-masing kening buraq-buraq itu tertulis nama Muhammad. Saat itu, Jibril melihat seekor buraq yang sedang menundukkan kepalanya sambil menangis. Air mata tampak bercucuran dari kedua mata buraq itu.

Jibril berkata kepada Buraq yang menangis itu, “Ada apa denganmu, wahai Buraq?” Buraq menjawab, “Wahai Jibril, semenjak empat puluh tahun yang lalu aku telah mendengar nama Muhammad, lalu timbullah dalam hatiku rasa cinta terhadap pemilik nama ini. Aku didera oleh perasaan rindu terhadapnya. Semenjak diterpa kerinduan itu, aku tak lagi berselera terhadap makanan dan minuman. Aku terbakar api kerinduan.”

Jibril berkata, “Aku akan menghubungkan rasa rindumu dengan dirinya.”

Lalu Jibril memasang pelana di punggung Buraq dan memasang pula tali kekang di kepalanya. Setelah itu, Jibril mendatangi Nabi –‘alaihi ash-shalah wa as-salam– bersama Buraq … -SELESAI …

 

*

**

 

Demikianlah kisah yang saya temukan di kitab Durrah an-Nashihin, dan itu sama persis dengan kisah yang dituturkan oleh khatib Jumat. Penulis kitab ini sama sekali tidak menyebutkan sanad bagi kisah tersebut dan tidak pula ia menyebutkan sumber pengambilan kisah tersebut. Sementara kitab Durrah an-Nashihin itu merupakan kitab yang tidak dapat dijadikan pegangan karena dipenuhi dengan hadits-hadits palsu dan hadits-hadits dha’if yang tak bisa dijadikan sandaran. Syaikh Ibn Baz –rahimahullah– berkata mengenai kitab Durrah an-Nashihin:

 

هذا الكتاب لا يعتمد عليه ، وهو يشتمل على أحاديث موضوعة وأحاديث ضعيفة لا يعتمد عليها … فلا ينبغي أن يعتمد على هذا الكتاب وما أشبهه من الكتب التي تجمع الغث والسمين والموضوع والضعيف … – فتاوى نور على الدرب (٥٦) …

 

Kitab Durrah an-Nashihin itu tidak bisa dijadikan pegangan, dan kitab ini berisi hadits-hadits palsu dan hadits-hadits dha’if yang tak bisa dijadikan sandaran … maka tak seharusnya untuk berpegang dengan kitab ini dan juga kitab-kitab yang semisal dengannya, yaitu kitab-kitab yang terhimpun di dalamnya hal-hal yang buruk dan baik, juga hadits-hadits palsu dan lemah …Fatawa Nur ‘ala ad-Darb (halaman 56); Syaikh Biz Baz –rahimahullah

 

Melihat keadaan kisah tersebut yang tanpa sanad dan tanpa sumber, juga dikarenakan kedudukan kitab Durrah an-Nashihin yang tidak layak untuk dijadikan pegangan karena banyak memuat kisah-kisah palsu, saya pun meyakini bahwa kisah yang dituturkan oleh khatib Jumat itu (yang mungkin saja ia mengambilnya dari kitab Durrah an-Nashihin) bukanlah kisah yang benar dan sama sekali tidak berasal dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam … wallahu a’lamu …

 

 

Bandung, 7 Mei 2016

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA—

Advertisements

6 comments on “Tentang Bumi yang Membuat Langit Terdiam …

  1. Makasih share nya kang …. 🙂

    Kisah nya jadi kaya mitologi gitu yaa…

  2. jampang says:

    saya juga pernah denger cerita begitu, kang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s