Pitawat Sepuh, Rabi’ Madkhali …

nasihat

http://alamralateeq.blogspot.co.id/2016/04/19-71437.html

 

Syaikhah Hassanah –hafizhahallah-, putri Syaikh Muhammad Nashir ad-Din al-Albani –rahimahullah– berkata:

 

كلمةٌ توجيهيَّةٌ من العلَّامةِ ربيعٍ المدخليِّ -حفظهُ اللهُ- لأهلِ ألْبانيا وغيرِهم الثُّلاثاء: ١٩/٧/١٤٣٧هـ ‍

(تفريغُ كلمةِ العلَّامة الشَّيخ: ربيعٍ المدخليِّ -حفظهُ اللهُ-)

 

Petuah dari Syaikh al-‘Allamah Rabi’ bin Hadi al-Madkhali –hafizhahullah– kepada orang-orang Albania dan selain mereka, pada hari Selasa, 19 Rajab 1437 H (April 2016 M) …

(Salinan petuah al-‘Allamah asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali –hafizhahullah– sebagai berikut):

 

بسمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحيم؛ الحمدُ للهِ، والصَّلَاةُ والسَّلَامُ على رسُولِ اللهِ، وعَلَى آلِهِ وصَحْبِهِ ومنِ اتَّبَعَ هُداهُ، أمَّا بعدُ: فإنِّي أُرحِّبُ بالأحبَّةِ مِنْ (كُوسُوفا) ومنْ (ألْبَانيا)، الأحبَّةِ السَّلَفِيِّينَ مِنْ (كُوسُوفو) ومنْ (ألْبَانيا)، وغَيرِهِمَا.

 

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang; shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, juga kepada keluarga, para shahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti petunjuknya. Syahdan:

Aku menyambut baik kedatangan orang-orang yang kucintai dari negeri Kosovo dan negeri Albania. Para salafi yang kucintai dari Kosovo dan Albania, juga dari negeri-negeri selain keduanya …

 

وأُوْصي نفسِي وإِيَّاهُمْ بـ (تقْوى اللهِ) في كلِّ حَالٍ منَ الأحوالِ، وفي كلِّ شأنٍ منَ الشُّؤونِ: تقْوى اللهِ في العَقيدةِ، في العِبادةِ، والإخْلاصِ كذلكَ؛ يجبُ أنْ تقومَ علاقَتُنا باللهِ -تباركَ وتعالى- عَلَى الأساسِ: (تقْوى اللهِ، والإخْلاصِ للهِ تباركَ وتعالى).

(وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجاً) (وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ)[الطّلاق: ٢-٣[

(اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً)(يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً) [الأحزاب: ٧۰-٧١[

آياتٌ كثيرَةٌ وردَتْ فيها الأوامرُ بتقْوى اللهِ -تباركَ وتعالى-، والإخلاصِ للهِ.

(وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ)[البيّنة: ٥[

تقْوى اللهِ في الأقوالِ والأفْعالِ

والإخلاصُ للهِ في الأقوالِ والأفْعالِ

ومراقبةُ اللهِ في كلِّ حالٍ.

إذا كانَ المرءُ على هذهِ الحالِ، أوِ الجماعةُ على هذِهِ الحالِ؛ فنِعْمَ الحالُ، نِعْمَتِ الحالُ واللهِ! إذا كانُوا حياتُهُم قائمَةً على: (تقْوى اللهِ، والإخلاصِ للهِ -تباركَ وتعالى-، ومراقبتِهِ في كلِّ الشُّؤونِ)؛ صلُحَتْ أحْوالُهمُ الأُخْرى؛ إن شاءَ اللهُ.

 

Aku berwasiat kepada diriku dan kepada mereka (Salafiyun Kosovo dan Albania) untuk bertakwa kepada Allah dalam segala hal dan semua keadaan. Bertakwa kepada Allah dalam akidah, dalam ibadah, dan begitu pula dalam keikhlasan. Wajib bagi kita untuk mengasaskan hubungan kita dengan Allah –tabaraka wa ta’ala– di atas dasar ketakwaan dan keikhlasan terhadap Allah –tabaraka wa ta’ala.

Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tak disangka-sangkanya. (QS. ath-Thalaq: 2-3)

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.(QS. al-Bayyinah: 5)

Bertakwa kepada Allah dalam ucapan dan perbuatan …

Ikhlas memurnikan niat hanya bagi Allah dalam ucapan dan perbuatan …

Senantiasa merasa diawasi oleh Allah dalam segala keadaan …

Apabila seseorang –atau kelompok manusia- berada dalam keadaan demikian, maka ini merupakan sebaik-baik keadaan. Demi Allah, keadaan yang sangat menyenangkan jika kehidupan mereka tegak di atas asas ketakwaan dan keikhlasan terhadap Allah –tabaraka wa ta’ala– seraya senantiasa merasa diawasi Allah dalam setiap keadaan. Akan baiklah ahwal akhirat mereka, insya Allah …

 

وأُوصيهِمْ بـ(الِاعتصامِ بالكتَابِ والسُّنَّةِ)؛ كما أمرَ اللهُ بذَلِكَ: (وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُواْ)[آل عمران: ١۰٣[

فاعْتَصِمُوا بحبلِ اللهِ جميعًا، وابْتَعِدوا عنِ (التَّفَرُّقِ)، وعَنْ كُلِّ أسبابِ الفُرْقَة.[

وكونُوا (كَالجسَدِ الواحِدِ؛ إذا اشْتَكَى منْهُ عُضْوٌ؛ تدَاعَى لَه سَائرُ الجسَدِ بالحُمَّى والسَّهَر).

أنْ تكونَ علَاقَتُكُمْ قائمَةً على: (تقْوى اللهِ، وعلى الإخلاصِ للهِ، وعلى التّمسُّكِ بكتابِ اللهِ وسُنَّةِ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم).

 

Dan aku berwasiat kepada mereka untuk berpegang teguh dengan al-Kitab dan as-Sunnah sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah:

“Dan berpeganglah kamu semua kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS. Ali ‘Imran: 103)

Oleh karena itu, berpegang teguhlah semua kepada tali Allah, hindarilah perpecahan dan semua sebab yang menimbulkan perpecahan …

Dan hendaklah kalian menjadi,  “Seumpama satu tubuh yang apabila salah satu anggota badannya merasa sakit, maka seluruh anggota badan pun saling memanggil satu sama lain dan ikut merasakan demam dan tak bisa tidur,” dan agar menjadikan hubungan kalian itu tegak di atas asas ketakwaan dan keikhlasan terhadap Allah, juga di atas sikap berpegang teguh dengan Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam

 

ومِنْ أهمِّ الأشياءِ: (التَّحآبُّ في اللهِ عزَّ وجلَّ)! هذهِ مرتَبةٌ عظيمةٌ عندَ اللهِ عزَّ وجلَّ، يُحْظَى بها المتحابُّونَ في اللهِ يومَ القيامةِ! يقولُ اللهُ يومَ القيامةِ: (أَيْنَ الْمُتَحَابُّونَ بِجَلَالِي؟ الْيَوْمَ أُظِلُّهُمْ فِي ظِلِّي، يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلِّي)!

يومَ القيامةِ يوجدُ أهوالٌ! ويوجدُ شدائدُ! تدنُو الشَّمسُ حتَّى ما يكونَ بينَ النّاسِ وبينَها إلَّا بمقدارِ ميلٍ! قالَ الرَّاوي: لا أدْري: ميلُ مِكْحَلةٍ، أو ميلُ مسَافَة؟

النَّاسُ في هذهِ الشِّدَّةِ العظيمةِ، والمتحابُّونَ في اللهِ في ظلِّ اللهِ عزَّ وجلَّ!

فاحرصُوا كُلَّ الحرصِ على التَّآخي في اللهِ، والتَّحابِّ في اللهِ، واجتنابِ كُلِّ الأسبابِ التي تؤدِّي إلى ضَعْفِ هذِهِ المحبَّةِ، أو إزالَتِها! وتؤدِّي إلى (التَّفرُّقِ)! التَّفرُّقُ شرٌّ! كما قالَ ابنُ مسْعود: الفُرْقَةُ شرٌّ! ، ويقولُ اللهُ تباركَ وتَعالى:

)إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُواْ دِينَهُمْ وَكَانُواْ شِيَعاً لَّسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ)[الأنعام: ١٥٩[

(وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ}{مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ)[الرُّوم: ٣١-٣٢] فهذهِ حالُ المشركين!

المؤمنونَ (الصَّادقونَ) بعيدونَ جِدًّا عن هذِهِ الحالِ؛ فاجْتنبوا هذهِ الأحوالَ السّيِّئَةَ.

 

Dan di antara perkara yang sangat penting adalah saling mencintai karena Allah –‘Azza wa Jalla, dan ini menempati martabat yang sangat agung di sisi Allah –‘Azza wa Jalla. Dengan hal itulah orang-orang yang saling mencintai karena Allah –‘Azza wa Jalla– akan memperoleh kedudukan mulia pada hari kiamat. Allah akan berkata pada hari kiamat, “Di manakah gerangan orang-orang yang saling mencintai lantaran keagungan-Ku? Pada hari ini aku akan menaungi mereka dengan naungan-Ku pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Ku.” Hari kiamat akan diselimuti oleh ketakutan-ketakutan dan kesulitan-kesulitan. Matahari pun mendekat sampai-sampai tidaklah jarak di antara manusia dan matahari itu kecuali hanya sejauh satu mil saja. Perawi hadits tersebut mengatakan, “Aku tak tahu, apakah yang dimaksud dengan mil itu adalah mil mikhal (pensil celak mata) ataukah mil masafah (jarak satu mil).”

Manusia, pada hari itu berada dalam kesulitan yang besar, sementara orang-orang yang saling mencintai karena Allah berada di dalam naungan allah –‘Azza wa Jalla. Oleh karena itu, bersemangatlah setiap orang yang bersemangat untuk memupuk rasa persaudaraan dan saling mencintai karena Allah seraya menjauh dari setiap sebab yang melemahkan atau menghilangkan rasa cinta yang demikian lagi menimbulkan perpecahan. Perpecahan itu sangatlah buruk! Sebagaimana dikatakan oleh Ibn Mas’ud, “Perpecahan itu merupakan keburukan!” Dan Allah –tabaraka wa ta’ala- berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka.” (QS. al-An’am: 159)

“Dan dirikanlah shalat, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar-Rum: 31-32)

Inilah perihal kaum Musyrikin, sedangkan kaum Mukminin (yang benar keimanannya) sangatlah jauh dari perihal yang demikian; maka jauhilah ahwal (kaum Musyrikin) yang buruk tersebut …

 

ثُمَّ اطْلُبُوا (العلْمَ)! وجِدُّوا في طَلَبِهِ من:

– كتابِ اللهِ، ومن سُنَّةِ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ.

– ومن كُتُبِ التَّفسيرِ السَّلفيِّ

– ومن كُتُبِ أئمَّةِ الدَّعْوةِ؛ كـ(أحمدَ بنِ حنبلَ، وابْنِ تيميةَ، وابنِ القيِّمِ، وابنِ عبدِ الوهّابِ)، وغيرِهِمْ.

لهُم كتبٌ عظيمَةٌ جدًّ! في مجالاتٍ شتَّى: في العَقيدةِ، وفي العبَادةِ، وفي السِّيرَةِ، وفي كُلِّ المجالات!

 

Kemudian tuntutlah ilmu dan bersungguh-sungguhlah menimbanya dari:

  • Kitab Allah dan dari Sunnah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam
  • Kitab-kitab tafsir Salafi …
  • Kitab-kitab para imam da’wah semisal Ahmad bin Hanbal, Ibn taimiyah, Ibn al-Qayyim, Ibn ‘Abd al-Wahhab, dan lain-lain …

Mereka memiliki kitab-kitab yang sangat baik dan penting dalam berbagai bidang, baik itu dalam bidang akidah, bidang ibadah, bidang sejarah, dan bidang-bidang lainnya …

 

تفقَّهُوا في الدِّين! (مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا؛ يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ).

 فعدَمُ التَّفقُّهِ في الدِّين؛ دلَالَةٌ سيِّئَةٌ في عدَمِ التَّفقُّهِ في الدِّين! 

 فاخْرُجُوا من هذهِ الحالِ، واجْعَلُوا همَّكُمُ الأوَّلَ والأخِيرَ: (تحصيلَ العِلْمِ)!

)يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ([المجادلة: ١١]

)هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ([الزُّمَر: ٩]

)إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء([فاطر: ٢٨]

للعلْمِ منزِلَةٌ عظيمَةٌ جِدًّا!

(والْمَلَائِكَةُ تَضَعُ أَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ؛ رِضًا بِمَا يَصْنَعُ).

و(العُلَمَاءُ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ).

فكونُوا -إنْ شاءَ اللهُ- من العُلماءِ الَّذينَ هُمْ وارثونَ للأنبياءِ عليهِمُ الصّلاةُ والسَّلامُ، وعلى الأُسُسِ -التي ذكرْتُها-؛ على أساسِ: (تقْوَى اللهِ، والتَّآخِي فيهِ، والتَّحابِّ فيهِ، والإخلاصِ للهِ عزَّ وجلَّ).

وفَّقَ اللهُ الجميعَ لما يُحِبُّ ويرضَى.

وصلَّى اللهُ عَلى نبيِّنا مُحَمَّدٍ، وعَلى آلِهِ وأصْحابِهِ وسلَّم”.

 

Dalamilah pengetahuan agama! Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan, Allah akan memberikan kepahaman agama kepadanya. Ketiadaan pendalaman ilmu agama itu merupakan suatu indikasi yang buruk, maka keluarlah kalian dari keadaan tersebut, dan jadikanlah tujuan kalian yang mula-mula dan yang terakhir adalah meraup ilmu!

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. al-Mujadilah: 11)

“Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”‌ (QS. az-Zumar: 10)

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” (QS. Fathir: 28)

Ilmu memiliki kedudukan yang sangat agung …

“Dn para malaikat meletakkan sayap-sayapnya terhadap seorang penuntut ilmu lantaran merasa rela atas apa yang diperbuatnya.”

“Para ulama itu mewarisi para nabi.”

Maka jadilah kalian, insya Allah, dari kalangan ulama, yaitu mereka yang mewarisi para nabi –‘alaihim as-shalah wa as-salam, dan di atas asas-asas yang telah kusebutkan tadi; di atas asas ketakwaan kepada Allah, merasa saling bersaudara dan saling mencintai karena Allah, dan di atas keikhlasan terhadap Allah –‘Azza wa Jalla. Semoga Allah memberi kalian taufiq terhadap apa yang dicintai dan diridai-Nya, dan semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam kepada nabi kita Muhammad, juga kepada keluarga dan para shahabatnya … –SELESAI …

 

 

Bandung, 10 Mei 2016

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s