Hampai Sayap dan kecemburuan Hudhud …

HUDHUD

Kau berkata tentang hampai sayap si pencari air,

tentang kepak perjalanan jauhnya dan kabar yang dibawanya …

Katamu, Hudhud punya alasan atas keterlambatannya …

-dia cemburu melihat penduduk semenanjung itu mengabahkan wajah kepada mentari …

 

*

**

 

Di antara perkara menakjubkan yang dikabarkan Allah dalam al-Quran adalah kenyataan tentang adanya makhluk yang tak dibebani taklif (beban syariat) tetapi memiliki kecemburuan yang sangat besar terhadap agama Allah –‘Azza wa Jalla. Makhluk yang dimaksud adalah burung hudhud di masa pemerintahan dan kenabian Sulaiman –‘alaihi as-salam. Hudhud begitu cemburu melihat penyimpangan tauhid kaum Saba’, dan ia pun mengutarakan kecemburuannya terhadap tauhid dan pengingkarannya terhadap perilaku kaum Saba’ itu  kepada Nabi Sulaiman –‘alaihi as-salam

 

Allah –ta’ala– berfirman (QS. an-Naml: 20-26):

 

وَتَفَقَّدَ الطَّيْرَ فَقَالَ مَا لِيَ لا أَرَى الْهُدْهُدَ أَمْ كَانَ مِنَ الْغَائِبِينَ (٢۰) لَأُعَذِّبَنَّه ُ عَذَاباً شَدِيداً أَوْ لَأَذْبَحَنَّهُ أَوْ لَيَأْتِيَنِّي بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ (٢١) فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطْتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَأٍ بِنَبَأٍ يَقِينٍ (٢٢) إِنِّي وَجَدْتُ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ (٢٣) وَجَدْتُهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُونَ لِلشَّمْسِ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لا يَهْتَدُونَ (٢٤) أَلَّا يَسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي يُخْرِجُ الْخَبْءَ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُخْفُونَ وَمَا تُعْلِنُونَ(٢٥( اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (٢٦)

 

Dan dia (Sulaiman) memeriksa burung-burung lalu berkata, “Mengapa aku tidak melihat Hudhud, apakah dia termasuk yang tidak hadir? Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang.” Maka tidak lama kemudian (datanglah Hudhud), lalu ia berkata, “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba’ suatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk agar mereka tidak menyembah Allah yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Allah, tiada yang berhak untuk disembah kecuali Dia, Rabb yang mempunyai ‘Arsy yang besar.”

 

Ayat-ayat tersebut menjelaskan beberapa faidah kepada kita:

  • Bahwa Hudhud mengetahui tentang tauhidullah (keesaan Allah), yaitu hanya Allah sajalah satu-satu-Nya yang berhak untuk diibadahi
  • Hudhud mengetahui bahwa menyembah sesuatu selain Allah adalah perbuatan syirik
  • Hudhud –yang tak dibebani taklif- lebih mengetahui tentang tauhid dan syirik dibandingkan sebagian manusia yang dibebani taklif
  • Hudhud memiliki kecemburuan dan gairah yang tinggi terhadap tauhidullah dan mengingkari perbuatan syirik
  • Hudhud memahami pengertian laa ilaaha illallaah, yaitu tiada yang berhak untuk diibadahi selain Allah

 

 

قال الشيخ عبد الرحمن بن حسن آل الشيخ -رحمه الله- في الدرر السنية (٢/٢٧٧): فحدث الهدهدُ سليمان -عليه السلام بما رآهم يفعلونه من السجود لغير الله؛ والسجود نوع من أنواع العبادة؛ فليت أكثر الناس عرفوا من الشرك ما عرف الهدهد؛ فأنكروه وعرفوا الإخلاص فالتزموه …

 

Syaikh ‘Abd ar-Rahman bin Hasan Alu asy-Syaikh –rahimahullah– di kitab ad-Durar as-Saniyyah (2/277), “Maka Hudhud pun berbicara kepada Sulaiman –‘alaihi as-salam- mengenai hal yang dilihatnya dari perbuatan-perbuatan kaum Saba’ yang bersujud kepada selain Allah, dan (Hudhud mengetahui bahwa) sujud itu merupakan salah satu bentuk dari bentuk-bentuk ibadah. Aduhai kalaulah kiranya kebanyakan manusia itu mengetahui kesyirikan seperti yang diketahui oleh Hudhud lalu mereka mengingkari perbuatan syirik itu. Aduhai, kalaulah kiranya mereka mengetahui akan keikhlasan lalu melazimi jalan tempuh tauhid (keikhlasan).”

 

Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dalam suatu hadits telah melarang manusia untuk membunuh burung Hudhud. Mungkin saja, wallahu a’lamu, di antara alasan dan hikmah dari pelarangan tersebut adalah karena burung Hudhud itu termasuk makhluk yang sangat mengenal tauhid. Imam Ibn Katsir berkata di kitab tafsirnya:

 

ولما كان الهدهد داعيا إلى الخير، وعبادة الله وحده والسجود له، نهي عن قتله

 

“Dan kenyataan bahwa burung Hudhud itu merupakan penyeru kepada kebaikan dan kepada peribadahan terhadap Allah satu-satu-Nya serta untuk bersujud hanya kepada Allah saja, maka dilaranglah manusia untuk membunuh burung Hudhud.”

 

Tauhid adalah inti dakwah para nabi dan rasul. Tidaklah Allah mengutus para nabi dan rasul serta menurunkan kitab-kitab-Nya selain untuk menegakkan tauhid di muka bumi, yakni agar manusia beribadah kepada Allah semata karena tiada yang berhak untuk diibadahi selain Allah …

 

 

Bandung, 26 Mei 2016

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

2 comments on “Hampai Sayap dan kecemburuan Hudhud …

  1. jampang says:

    pernah denger kalau hudhud nanti bakal menjadi penghuni surga, betul nggak, kang?

    • tipongtuktuk says:

      tidak ada hadits sahih yang menjelaskan hal itu, bang …
      yang banyak tersebar mengenai hal itu adalah hadits yang la ashla lahu (tidak ada asalnya) … 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s