Benarkah al-Bukhari Membuang Uang Seribu Dinar ke Laut?

IMG-20160608-01350

Syaikh ‘Abd as-Salam al-Mubarakfuri –rahimahullah– menulis sebuah kitab dalam bahasa Urdu mengenai perjalanan hidup Imam al-Bukhari –rahimahullah. Kitab tersebut kemudian dialihbahasakan oleh Syaikh ‘Abd al-‘Alim bin ‘Abd al-‘Azhim al-Bastawi ke dalam bahasa Arab dengan judul Sirah al-Imam al-Bukhari. Ada satu kisah dalam kitab tersebut yang menyebutkan bahwa Imam al-Bukhari sengaja membuang uang sebanyak 1.000 (seribu) dinar ke laut untuk menghindari fitnah dari tipu daya salah seorang penumpang kapal. Adapun kisah yang dituturkan oleh Syaikh ‘Abd as-Salam al-Mubarakfuri adalah sebagai berikut (setelah dialihbahasakan dari bahasa Urdu ke bahasa Arab):

 

وقد ذكر العلامة العجلوني قصة تدل على ورع الإمام البخاري وبعده عن مواضع التهم وهي:

أن الإمام البخاري ركب البحر مرة في أيام طلبه وكان معه ألف دينار٬ فجاءه رجل من أصحاب السفينة وأظهر له حبه ومودته وأصبح يقاربه ويجالسه٬ ولما رأى الإمام حبه وولاءه مال اليه وبلغ الأمر أنه بعد المجالسات أخبره عن الدنانير الموجودة عنده .

وذات يوم قام صاحبه من النوم فأصبح يبكي ويُعَوِّل ويُمَزِّقُ ثيابه ويلطم وجهه ورأسه، فلما رأى الناس حالته تلك أخذتهم الدهشة والحيرة وأخذو يسألونه عن السبب وألحوا عليه في السؤال، فقال لهم :كانت عندي صرة فيها ألف دينار وقد ضاعت٬ فأصبح الناس يفتشون ركاب السفينة واحدا واحدا، وحينئذ أخرج البخاري صرة دنانيره خفية وألقاها في البحر، ووصل المفتشون إليه وفتشوه أيضا حتى انتهوا من جميع ركاب السفينة، ولم يجدوا شيئا فرجعوا إليه ولاموه ووبَّخوه أشد توبيخ.

ولما نزل الناس من السفينة جاء الرجل إلى الإمام البخاري وسأله عماذا فعل بصرة الدنانير؟ فقال: ألقيتها في البحر. قال: كيف صبرت على ضياع هذا المال العظيم؟ فقال له الإمام: ياجاهل٬ ألا تدري أنني أفنيت حياتي كلها في جمع حديث رسول الله صلى الله عليه وسلم، وعرف العالم ثقتي، فكيف كان ينبغي لي أن أجعل نفسي عرضة لتهمة السرقة؟ وهل الدرة الثمينة (الثقة والعدالة) التي حصلت عليها في حياتي أضيعها من أجل دنانير معدودة؟

 

Al-‘Allamah al-‘Ajluni menyebutkan sebuah kisah yang menunjukkan sikap wara’ Imam al-Bukhari dan jauhnya Imam al-Bukhari dari tempat-tempat (keadaan-keadaan atau posisi-posisi) yang menimbulkan tuduhan buruk. Adapun kisahnya adalah sebagai berikut:

Bahwasanya Imam al-Bukhari pernah berlayar mengarungi lautan pada masa-masa menuntut ilmu. Saat itu Imam al-Bukhari membawa uang sebanyak 1.000 (seribu) dinar. Lalu datanglah kepada beliau seorang lelaki dari kalangan awak kapal. Lelaki tersebut menampakkan rasa suka dan kecintaan terhadap Imam al-Bukhari, lalu bersikap dekat dan duduk membersamai Imam al-Bukhari. Tatkala Imam al-Bukhari melihat kecintaan dan jiwa persahabatan lelaki tersebut, Imam al-Bukhari pun merasa senang berteman dengan lelaki itu dan setelah beberapa kali duduk berbincang bersama, Imam al-Bukhari pun memberitahukan kepada lelaki itu tentang uang 1.000 (seribu) dinar yang dibawanya.

Pada suatu hari, lelaki awak kapal itu terbangun dari tidurnya. Ia menangis dan meratap seraya merobek-robek pakaiannya dan memukul-mukul wajah dan kepala sendiri. Tatkala orang-orang (yang berada di dalam kapal) melihat keadaan lelaki itu, mereka pun menjadi heran dan bingung, lalu mereka bertanya kepada lelaki itu dengan pertanyaan yang mendesak dan berulang-ulang tentang hal yang menyebabkannya menangis dan meratap seperti itu. Lalu lelaki itu berkata kepada mereka, “Kantongku yang berisi uang seribu dinar hilang!” (Mendengar alasannya), orang-orang pun melakukan penggeledahan satu persatu terhadap para penumpang kapal. Pada saat penggeledahan sedang dilakukan (terhadap penumpang lain), Imam al-Bukhari secara sembunyi-sembunyi mengeluarkan kantongnya yang berisi uang 1.000 (seribu) dinar, lalu melemparkannya ke laut. Setelah itu, orang-orang mulai menggeledah Imam al-Bukhari, lalu berlanjut kepada penumpang lain hingga penumpang terakhir, tetapi mereka tak menemukan barang yang mereka cari. Akhirnya, para pemeriksa itu kembali kepada lelaki awak kapal (yang managis tadi) seraya mencela dan menegurnya dengan teguran yang keras. Ketika (kapal berlabuh) dan orang-orang turun dari kapal, lelaki itu menghampiri Imam al-Bukhari dan bertanya kepada beliau tentang, “Apa yang diperbuat dengan kantong berisi uang dinar itu?” Imam al-Bukhari menjawab, “Aku melemparkannya ke laut.” Lelaki itu berkata, “Bagaimana kau bisa bersabar atas kehilangan uang yang sangat besar ini?” Maka Imam al-Bukhari berkata kepadanya, “Wahai orang bodoh! Tidak tahukah kau bahwa diriku telah menghabiskan seluruh hidupku untuk mengumpulkan hadits Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam? Dunia telah mengenalku sebagai orang yang tsiqah (tepercaya), maka bagaimana mungkin aku membiarkan diriku sebagai sasaran tuduhan atas pencurian? Apakah ad-Durrah ats-Tsaminah (mutiara berharga; yakni ketepercayaan dan keadilan dalam periwayatan hadits) yang telah kucapai dalam hidupku harus kubuang demi mempertahankan dinar-dinar yang bisa dihidung?” Shirah al-Imam al-Bukari (122-123) … SELESAI

 

Setelah membawakan kisah tersebut, Syaikh ‘Abd as-Salam al-Mubarakfuri –rahimahullah– mengomentari kisah tersebut sebagai berikut:

 

تفرد بذكر هذه الرواية العجلوني في الفوائد الدراري …

 

“Syaikh al-‘Ajluni menyendiri dalam meriwayatkan kisah ini di kitab al-Fawa-id ad-Darari.” –SELESAI …

 

Dari ucapan Syaikh ‘Abd as-Salam al-Mubarakfuri, bisa diketahui bahwa beliau tidak menemukan kisah tersebut dituturkan dalam kitab-kitab yang memuat biografi Imam al-Bukhari selain kitab al-Fawa-id ad-Darari karya al-‘Ajluni saja. Sementara, kitab al-Fawaid ad-Darari itu termasuk kitab yang muncul pada kurun waktu yang jauh setelah masa kehidupan Imam al-Bukhari. Komentar Syaikh ‘Abd as-Salam al-Mubarakfuri ini menimbulkan kesan pada diri saya bahwa kisah tersebut tidak sahih …

 

Penerjemah kitab Sirah al-Imam al-Bukhari (dari bahasa Urdu ke bahasa Arab), Syaikh ‘Abd al-‘Alim bin ‘Abd al-‘Azhim al-Bastawi, memberi catatan kaki terhadap kisah tersebut:

 

وهذا السياق للقصة هو ترجمة متطابقة لما ذكره المؤلف رحمه الله في كتابه بالأردية. أما كتاب العجلوني فلم اطلع عليه حتى الآن …

 

“Redaksi kisah ini  merupakan (redaksi Arab) dari hasil penerjemahanku secara letterlijk (harfiah) terhadap kisah yang dituturkan oleh Syaikh ‘Abd as-Salam al-Mubarakfuri dalam kitabnya yang berbahasa Urdu. Adapun kitab al-Ajluni (yang menjadi sumber dari pengambilan kisah tersebut) belum pernah kuperiksa hingga saat ini.” –SELESAI …

 

Dari ucapan Syaikh ‘Abd al-‘Alim al-Bastawi tersebut bisa diketahui bahwa redaksi kisah sebagaimana yang ditampilkan di atas bukanlah redaksi asli sebagaimana yang terdapat dalam kitab al-Fawa-id ad-Darari karya al-‘Ajluni sebagai kitab sumbernya. Hal itu dikarenakan Syaikh ‘Abd al-‘Alim al-Bastawi hanya mengalihbahasakan secara letterlijk (harfiah) saja dari tulisan Syaikh ‘Abd as-Salam al-Mubarakfuri yang menulisnya dalam bahasa Urdu. Pada awalnya, Syaikh ‘Abd as-Salam al-Mubarakfuri mengalihbahasakan redaksi kisah itu dari kitab al-‘Ajluni yang berbahasa Arab ke dalam bahasa Urdu. Setelah itu, kisah yang ditulis oleh Syaikh ‘Abd as-Salam al-Mubarakfuri dalam bahasa Urdu itu dialihbahasakan lagi ke dalam bahasa Arab oleh Syaikh ‘Abd al-‘Alim al-Bastawi tanpa mengacu kepada kitab al-‘Ajluni …

 

Lantas bagaimanakah redaksi kisah di kitab al-Fawa-id ad-Darari karya al-‘Ajluni yang merupakan kitab sumbernya? Bagaimana pula metode penuturannya? Apakah al-‘Ajluni menyebutkan sanad bagi kisah tersebut?

 

Setelah saya cari di kitab al-Fawa-id ad-Darari, maka saya temukan redaksi dan penuturan al-‘Ajluni akan kisah tersebut sebagai berikut:

 

وحُكِيَ عنه –رضي الله عنه-: أنه ركب في سفينة لطلب الحديث٬ ومعه كيس فيه ألف دينار٬ فجعل بعض من في السفينة يخدم الشيخ ويتلطف به حتى ركن الشيخ إليه٬ وأطلعه على ما معه٬ فتناوم الرجل٬ ثم استيقظ٬ فصاح وشق ثيابه٬ فقال له الناس: ويحك ما لك؟ قال: كان معي كيس فيه ألف دينار٬ وقد سرق مني٬ فجعلوا يفتشون السفينة٬ ويفتش بعضهم بعضا٬ فألقى الشيخ الكيس في البحر من غير أن يشعر به أحد٬ فلما فتشوا البخاري٬ ولم يجدوا معه الكيس٬ سبوا ذلك الرجل وضربوه٬ ثم لما خرجوا٬ خلا الرجل بالشيخ٬ وقال له: ما فعلت بالكيس؟ قال: ألقيته في البحر٬ قال: هل سمحت نفسك بذهاب ألف دينار؟ فقال له الشيخ: يا قليل العقل! أنا أذهبت عمري ومالي في طلب الحديث٬ وقد ثبت عند الناس أني ثقة٬ أفلا أنفي عني اسم السرقة؟

 

Dan dihikayatkan dari Imam al-Bukhari –radhiyallahu ‘anu, bahwasanya beliau pernah berlayar dengan kapal untuk mencari hadits, dan beliau membawa kantong yang berisi uang sebanyak 1.000 (seribu) dinar. Lalu salah seorang lelaki yang berada di kapal melayani Imam al-Bukhari dan bersikap ramah kepada beliau sampai-sampai beliau pun memercayainya dan memberitahukan kepadanya tentang kantong berisi uang dinar yang dibawa oleh beliau. Lalu lelaki itu berpura-pura tidur dan kemudian terbangun seraya berteriak dan merobek-robek pakaiannya. Orang-orang pun berkata kepadanya, “Celaka kau! Ada apa denganmu?” Lelaki itu menjawab, “Kantongku yang berisi uang seribu dinar terlah dicuri dariku.” Maka mulailah orang-orang menggeledah kapal dan saling memeriksa satu sama lain. Tanpa sepengetahuan para penumpang kapal, Imam al-Bukhari melemparkan kantong berisi uang 1.000 (seribu) dinar ke laut. Maka tatkala mereka menggeledah Imam al-Bukhari dan tak mendapati kantong berisi uang itu, mereka pun mencerca lelaki tadi dan memukulnya. Setelah itu, ketika mereka turun dari kapal, lelaki itu mendekati Imam al-Bukhari dan berkata kepada Imam al-Bukhari, “Apa yang kau lakukan dengan kantong uangmu?” Imam al-Bukhari menjawab, “Aku melemparkannya ke laut.” Lelaki itu berkata, “Apakah jiwamu bisa merasa lapang dengan kehilangan uang seribu dinar?” Maka Imam al-Bukhari berkata, “Wahai orang yang sedikit akalnya! Aku telah menghabiskan umur dan hartaku untuk mencari hadits. Telah kukuh dalam pandangan manusia bahwa aku ini merupakan orang yang tsiqah (tepercaya). Apakah aku tidak mencegah tuduhan-tuduhan dari diriku sebagai pencuri?”al-Fawa-id ad-Darari (51-52) … SELESAI

 

Ternyata al-‘Ajluni –rahimahullah– tidaklah membawakan sanad bagi kisah tersebut. Bahkan beliau memulai kisah tersebut dengan shighah tamridh (ungkapan yang mengindikasikan bahwa riwayat tersebut lemah), yaitu dengan ungkapan, “Hukiya ‘an (dihikayatkan dari).”

Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa kisah tersebut TIDAK BENAR dan tidak bisa disandarkan kepada Imam al-Bukhari dengan alasan sebagai berikut:

  1. Imam al-‘Ajluni menyendiri dengan riwayat tersebut. Tidak ada kitab-kitab lain yang ada sebelum kitab al-‘Ajluni yang menyebutkan kisah tersebut …
  2. Imam al-‘Ajluni tidak menyertakan sanad bagi kisah tersebut dan tidak pula menyebutkan dari kitab apa beliau mengambil kisah tersebut …
  3. Saat menuturkan kisah tersebut, Imam al-‘Ajluni menggunakan shighah tamridh yang mengindikasikan bahwa kisah yang disebutkannya itu merupakan kisah yang lemah …
  4. Imam al-‘Ajluni itu lahir pada tahun 1087 Hijriyah dan wafat pada tahun1162 Hijriyah sehingga tidak mungkin beliau bisa mengetahui hikayat Imam al-Bukhari yang hidup jauh di masa-masa sebelum beliau kecuali melalui kabar-kabar yang terdapat dalam kitab-kitab sebelum beliau atau melalui kabar-kabar yang bersanad sampai kepada Imam al-Bukhari, sementara tidak terdapat kitab-kitab sebelum beliau yang memuat kisah tersebut dan tidak pula beliau menyebutkan sanadnya …
  5. Seandainya memang Imam al-Bukhari pernah mengalami peristiwa tersebut, maka tentu kisah itu akan disebutkan di dalam kitab-kitab yang memuat tentang manaqib Imam al-Bukhari …

 

 

Bandung, 23 Juni 2016

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

Mabuk …

Untitled

Dulu, Khalifah ‘Umar bin al-Khathab –radhiyallahu ‘anhu– pernah mencambuk putranya sendiri yang bernama ‘Abd ar-Rahman bin ‘Umar lantaran mabuk. Saat itu ‘Umar berada di Madinah sedangkan ‘Abd ar-Rahman berada di Mesir. Gubernur Mesir, yakni ‘Amr bin al-‘Ash –radhiyallahu ‘anhu– telah mencambuk ‘Abd ar-Rahman atas perbuatannya itu, tetapi ‘Umar tetap memerintahkan ‘Amr bin al-‘Ash untuk mengirimkan ‘Abd ar-Rahman ke Madinah agar ‘Umar bisa menghukum putranya itu secara langsung. ‘Abdullah bin ‘Umar, saudara kandung ‘Abd ar-Rahman bin ‘Umar, menceritakan kisah yang dialami oleh saudara kandungnya itu sebagai berikut:

Imam ‘Abd ar-Razzaq berkata di kitab al-Mushannaf (tahqiq: Habib ar-Rahman al-A’zhami; juz 9 halaman 232-233 nomor hadits 17047):

 

أخبرنا معمر، عن الزهري، عن سالم، عن ابن عمر قال: شرب أخي عبد الرحمن بن عمر، وشرب معه أبو سروعة عقبة بن الحارث، وهما بمصر في خلافة عمر، فسكرا، فلما أصبحا انطلقا إلى عمرو بن العاص ـ وهو أمير مصر ـ فقالا: طَهِّرنا فإنا قد سكرنا من شراب شربناه، فقال عبد الله: فذكر لي أخي أنه سكر، فقلت: ادخلِ الدار أطهرك ـ ولم أشعر أنهما أتيا عَمروا ـ فأخبرني أخي أنه قد أخبر الأمير بذلك، فقال عبد الله: لا يحلق القوم على رؤوس الناس، ادخل الدار أحلقك ـ وكانوا إذ ذاك يحلقون مع الحدود ـ فدخل الدار، فقال عبد الله: فحلقت أخي بيدي، ثم جلدهم عمرو، فسمع بذلك عمر، فكتب إلى عمرو: أن ابعث إلي بعبد الرحمن على قَتَب؛ ففعل ذلك، فلما قدم على عمر جلده، وعاقبه لمكانه منه، ثم أرسله، فلبث شهرا صحيحا، ثم أصابه قدره فمات، فيحسب عامة الناس أنما مات من جلد عمر، ولم يمت من جلد عمر

 

Telah berkabar kepada kami Ma’mar, dari az-Zuhri, dari Salim, dari Ibn ‘Umar ia berkata:

Saudaraku, ‘Abd ar-Rahman bin ‘Umar, meminum minuman keras bersama Abu Sirwa’ah ‘Uqbah bin al-Harits. Pada waktu itu mereka berdua berada di negeri Mesir pada masa kekhalifahan ‘Umar. Keduanya minum sampai mabuk. Setelah sadar dari mabuk, mereka berdua menemui ‘Amr bin al-‘Ash yang saat itu menjabat sebagai gubernur Mesir. Keduanya berkata kepada ‘Amr bin al-‘Ash, “Sucikanlah kami berdua (yakni hukumlah kami berdua) karena sesungguhnya kami mabuk lantaran minuman yang kami minum.”  Saudaraku (yakni ‘Abd ar-Rahman) memberitahuku bahwa dirinya mabuk minuman keras, maka aku pun berkata kepadanya, “Masuklah kau ke dalam rumah! Aku akan menyucikanmu!” Saat itu aku belum tahu bahwa saudaraku (‘Abd ar-Rahman) dan Abu Sirwa’ah telah mendatangi ‘Amr bin al-‘Ash, lalu saudaraku memberitahuku bahwa dirinya telah melaporkan perbuatannya kepada ‘Amr bin al-‘Ash. (Maka aku berkata), “Mereka (orang yang bertugas menghukum) tak boleh mencukurmu di hadapan khalayak ramai! Masuklah kau ke dalam rumah! Aku sendiri yang akan mencukur rambutmu!” Biasanya mereka memang mencukur rambut orang yang mabuk selain memberikan hukuman cambuk. Saudaraku masuk ke dalam rumah. Aku pun mencukur rambutnya dengan kedua tanganku. Kemudian ‘Amr bin al-‘Ash menjatuhkan hukuman cambuk kepada mereka berdua. ‘Umar bin al-Khaththab mendengar kabar tersebut, lalu ia pun menulis surat kepada ‘Amr bin al-‘Ash, “Kirimkan kepadaku pasukan yang membawa ‘Abd ar-Rahman di dalam pelana angkutan.” Maka ‘Amr bin al-‘Ash pun menjalankan perintah tersebut. Sesampainya ‘Abd ar-Rahman, ‘Umar bin al-Khaththab pun menjatuhkan hukuman cambuk kepadanya. ‘Umar bin al-Khaththab juga menghukum putranya lantaran kedudukan putranya itu sebagai anak kandungnya. Setelah itu, ‘Umar membebaskannya. Sebulan semenjak hukuman, ‘Abd ar-Rahman hidup dalam keadaan sehat, kemudian ia mendapati takdirnya dan mati. Orang banyak menyangka bahwa ‘Abd ar-Rahman mati lantaran hukuman cambuk yang dijatuhkan ‘Umar, padahal bukanlah lantaran itu ia mati … -SELESAI …

 

Sanad riwayat tersebut sahih

Barangkali cambukan yang dilakukan oleh ‘Umar terhadap anaknya itu bukanlah hukuman had karena hukuman had terhadap putranya itu telah dilaksanakan oleh gubernur ‘Amr bin al-‘Ash. Tidak mungkin hukuman had yang telah dilakukan diulang kembali hingga dua kali. Terbukti bahwa ‘Umar tidak mencambuk lagi Abu Sirwa’ah. Oleh karena itu, bisa jadi cambukan yang dilakukan ‘Umar terhadap putranya itu merupakan hukuman dari ‘Umar sebagai seorang pemimpin sekaligus ayah terhadap anaknya … wallahu a’lamu …

 

Imam al-Baihaqi juga meriwayatkan kisah tersebut di kitab Sunan al-Kubra (tahqiq: Muhammad ‘Abd al-Qadir ‘Atha; juz 8 halaman 543 nomor hadits 17498):

 

أخبرنا أبو سعيد بن أبي عمرو أنبأ أبو محمد المزني أنبأ علي بن محمد بن عيسى ثنا أبو اليمان أخبرني شعيب عن الزهري أخبرني سالم أن عبد الله بن عمر قال شرب أخي عبد الرحمن بن عمر وشرب معه أبو سروعة عقبة بن الحارث ونحن بمصر في خلافة عمر بن الخطاب رضي الله عنه فسكرا فلما صحا انطلقا إلى عمرو بن العاص وهو أمير مصر فقالا طهرنا فأنا قد سكرنا من شراب شربناه قال عبد الله بن عمر فلم أشعر أنهما أتيا عمرو بن العاص قال فذكر لي أخي أنه قد سكر فقلت له ادخل الدار أطهرك قال إنه قد حدث الأمير قال عبد الله فقلت والله لا تحلق اليوم على رؤوس الناس أدخل أحلقك وكانوا ذاك يحلقون مع الحد فدخل معي الدار قال عبد الله فحلقت أخي بيدي ثم جلدهما عمرو بن العاص فسمع عمر بن الخطاب رضي الله عنه بذلك فكتب إلي عمرو أن أبعث إلى عبد الرحمن بن عمر على قتب ففعل ذلك عمرو فلما قدم عبد الرحمن على عمر رضي الله عنه جلده وعاقبه من أجل مكانه منه ثم أرسله فلبث أشهرا صحيحا ثم أصابه قدره فيحسب عامة الناس أنه مات من جلد عمر ولم يمت من جلده

 

Telah berkabar kepada kami Abu Sa’id bin Abi ‘Amr, telah berkabar kepada kami Abu Muhammad al-Muzani, telah berkabar kepada kami ‘Ali bin Muhammad bin ‘Isa, telah bercerita kepada kami Abu al-Yaman, telah berkabar kepadaku Syu’aib, dari az-Zuhri, telah berkabar kepadaku Salim bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar berkata:

Saudaraku, ‘Abd ar-Rahman meminum minuman keras bersama Abu Sirwa’ah ‘Uqbah bin al-Harits. Saat itu kami berada di Mesir pada masa kekhalifahan ‘Umar bin al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhu. ‘Abd ar-Rahman dan Abu Sirwa’ah mabuk minuman keras. Tatkala sadar, keduanya pergi menemui ‘Amr bin al-‘Ash yang menjabat sebagai gubernur Mesir. Keduanya berkata kepada ‘Amr bin al-‘Ash, “Sucikanlah kami. Sesungguhnya kami berdua mabuk lantaran minuman keras yang kami minum.” Aku tak tahu bahwa mereka berdua telah mendatangi ‘Amr bin al-‘Ash, lalu saudaraku (‘Abd ar-Rahman) memberitahuku bahwa ia mabuk minuman keras. Kukatakan kepadanya, “Masuklah kau ke dalam rumah! Aku akan menyucikanmu!” Saudaraku mengatakan kepadaku bahwa ia telah melaporkan perbuatannya kepada gubernur ‘Amr bin al-‘Ash. Kukatakan kepadanya, “Demi Allah, kau tak akan dicukur hari ini di hadapan khalayak ramai! Masuklah kau ke dalam rumah, aku akan mencukur sendiri rambutmu karena telah menjadi kebiasaan bahwa mereka akan mencukur rambut orang hukuman selain menghukum cambuk.” Maka ‘Abd ar-Rahman pun masuk ke dalam rumah bersamaku dan kucukurlah rambutku dengan kedua tanganku sendiri. Kemudian ‘Amr bin al-‘Ash menghukum cambuk mereka berdua. Peristiwa itu terdengar oleh ‘Umar bin al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhu, lalu ‘Umar pun menulis surat kepada ‘Amr bin al-‘Ash, “Kirimkan kepadaku pasukan yang membawa ‘Abd ar-Rahman di dalam pelana angkutan.” ‘Amr bin al-‘Ash pun melaksanakan perintah tersebut. Sesampainya ‘Abd ar-Rahman, ‘Umar bin al-Khaththab pun menjatuhkan hukuman cambuk kepadanya. ‘Umar bin al-Khaththab juga menghukum putranya lantaran kedudukan putranya itu sebagai anak kandungnya. Setelah itu, ‘Umar membebaskannya. Sebulan semenjak hukuman, ‘Abd ar-Rahman hidup dalam keadaan sehat, kemudian ia mendapati takdirnya dan mati. Orang banyak menyangka bahwa ‘Abd ar-Rahman mati lantaran hukuman cambuk yang dijatuhkan ‘Umar, padahal bukanlah lantaran itu ia mati … -SELESAI …

 

 

Bandung, 15 Juni 2016

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–