Bukan Lantaran Dirinya yang Berucap, tetapi Lantaran Kebenaran yang Diucapkannya …

IMG-20160608-01348

Imam Ibn ‘Abd al-Barr –rahimahullah– berkata di kitab at-Tamhid:

 

وسمعت غير واحد من شيوخي يذكر أن الغازي بن قيس لما رحل إلى المدينة سمع من مالك وقرأ على نافع القاري فبينما هو في أول دخوله المدينة في مسجد رسول الله صلى الله عليه وسلم إذ دخل ابن أبي ذئب فجلس ولم يركع فقال له الغازي قم يا هذا فاركع ركعتين؛ فإن جلوسك دون أن تحيي المسجد بركعتين جهل أو نحو هذا من جفاء القول فقام ابن أبي ذئب فركع ركعتين وجلس فلما انقضت الصلاة أسند ظهره وتحلق الناس إليه فلما رأى ذلك الغازي بن قيس خجل واستحيا وندم وسأل عنه فقيل له هذا ابن أبي ذئب أحد فقهاء المدينة وأشرافهم فقام يعتذر إليه فقال له ابن أبي ذئب يا أخي لا عليك أمرتنا بخير فأطعناك وبالله التوفيق

 

Aku mendengar bukan hanya dari satu orang guruku saja yang menyebutkan bahwa tatkala al-Ghazi bin Qais berangkat ke Madinah, ia mendengar hadits dari Malik dan membaca di hadapan Nafi’ al-Qari. Pada awal-awal kedatangannya di Madinah, saat ia berada di Masjid Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datanglah Ibn Abi Dzi’b memasuki masjid. Ibn Abi Dzi’b langsung duduk di dalam masjid tanpa melaksanakan shalat dua rakaat (tahiyyah al-masjid) terlebih dahulu. Maka berkatalah al-Ghazi bin Qais kepada Ibn Abi Dzi’b, “Berdirilah, wahai kamu! Shalatlah dua rakaat terlebih dahulu karena sesungguhnya dudukmu di dalam masjid tanpa terlebih dulu menghormati masjid dengan melaksanakan dua rakaat shalat merupakan suatu kebodohan!” Atau al-Ghazi bin Qais mengucapkan perkataan keras lainnya yang semacam itu. Maka berdirilah Ibn Abi Dzi’b, lalu melaksanakan shalat dua rakaat. Selepas shalat, Ibn Abi Dzi’b pun duduk seraya menyandarkan punggungnya (ke dinding), lalu orang-orang pada duduk mengelilinginya (membentuk majelis halqah atau halaqah untuk belajar kepadanya). Melihat hal itu, al-Ghazi bin Qais pun malu hati dan menyesali sikapnya tadi. Ia lantas bertanya (kepada orang-orang) tentang lelaki yang tadi ditegurnya. Maka orang-orang menjawab, “Dia adalah Ibn Abi Dzi’b, salah seorang ahli fiqh Madinah dan yang paling mulia di antara mereka.” (Mendengar itu), al-Ghazi bin Qais pun berdiri dan meminta maaf kepada Ibn Abi Dzi’b. Lantas Ibn Abi Dzi’b berkata kepada al-Ghazi bin Qais, “Wahai saudaraku, tak ada kewajibanmu untuk meminta maaf kepadaku. Kau memerintahkan kami terhadap kebaikan maka kami pun menaatimu!” Wabillah at-taufiq … –SELESAI …

 

Al-Ghazi bin Qais adalah Abu Muhammad al-Andalusi. Ia mengambil ilmu dari Ibn Juraij, Ibn Abi Dzi’b, Imam Malik, dan Nafi’ bin Abi Nu’aim. Dialah orang pertama yang menyebarkan Muwatha’ Malik ke negeri Andalusia …

 

Ibn Abi Dzi’b adalah Muhammad bin ‘Abd ar-Rahman bin al-Mughirah, seorang Imam yang faqih dan dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal bahwa Ibn Abi Dzi’b itu lebih utama daripada Imam Malik –rahimahullah

 

Dalam kisah itu tergambar jiwa tawadhu’, inshaf, dan kelapangan dada Ibn Abi Dzi’b. Ia bersedia menerima kebenaran -dan mengamalkannya- meskipun kebenaran itu datang dari orang yang tak dikenalnya, bahkan orang yang tak dikenalnya itu kemudian menjadi muridnya dan mengambil ilmu darinya …

 

Syaikh ‘Ali bin Hasan al-Halabi –hafizhahullah– berkata tentang kisah tersebut:

 

إنها النفوس العالية، التي تجعل الحقَّ فوق كل شيء … فـ…أين-أين-هي-اليومَ-؟! … وما أبرّئ نفسي-والله-.

 

Sesungguhnya itu adalah jiwa-jiwa yang luhur, jiwa-jiwa yang menjadikan kebenaran di atas segala sesuatu … maka di manakah -ke manakah- jiwa-jiwa yang luhur itu pada hari ini?!? Dan tidaklah aku menganggap suci jiwaku sendiri … -demi Allah … -SELESAI …  

 

Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i –rahimahullah– berkata (kitab: Ijabah as-Sa-il ‘ala Ahamm al-Masa-il, halaman 207-208):

 

يجب عليك أن تقبل الحق ممن أتى به٬ وهو حق٬ يجب أن تقبل الحق ممن أتى به٬ والنبي -صلى الله عليه وسلم- قد قال في شأن الشيطان: صدقك وهو كذوب. وقال أيضاً كما في سنن النسائي بإسناد صحيح عن قتيلة –رضي الله عنها-قالت: جاء اليهود إلى رسول الله -صلى الله عليه وسلم- فقالوا: إنكم  تشركون إنكم تنددون وتقولون ما شاء الله وشاء محمد٬ وتقولون: والكعبة٬ فقال النبي -صلى الله عليه وسلم: إذا حلفتم فقولوا ورب الكعبة وقولوا ما شاء ثم شاء محمد. وهكذا من حديث الطفيل بن عمرو في مسند أحمد وفي سنن ابن ماجة نحو هذا٬ فالنصيحة والحق يقبل ممن جاء به …

 

Wajib atasmu untuk menerima kebenaran dari orang yang datang dengan membawa kebenaran itu. Wajib untuk menerima kebenaran dari orang yang datang membawa kebenaran itu. Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sendiri berkata tentang perkara setan (dalam kisah Abu Hurairah yang menjaga zakat fithri –pent), “Ia (setan) berkata jujur kepadamu padahal ia seorang pendusta.” Beliau juga berkata sebagaimana terdapat dalam Sunan an-Nasa-i dengan sanad yang sahih dari Qutailah –radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Orang Yahudi mendatangi rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– lalu berkata, “Sesungguhnya kalian membuat tandingan-tandingan (bagi Allah), sesungguhnya kalian berlaku syirik karena kalian mengatakan atas kehendak Allah dan atas kehendak Muhammad.Kalian juga mengatakan demi Ka’bah.” Maka Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata (kepada para shahabat), “Jika kalian bersumpah, hendaklah kalian mengatakan Demi Rabb al-Ka’bah, dan hendaklah kalian juga mengatakan atas kehendak Allah kemudian atas kehendak Muhammad!” Demikian juga dalam hadits Thufail bin ‘Amr dalam Musnad Ahmad dan dalam Sunan Ibn Majah seperti itu. Maka nasihat dan kebenaran itu harus diterima dari orang yang datang dengan membawanya … –SELESAI …  

 

Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i –rahimahullah– juga berkata (kitab: Qam’u al-Mu’anid, halaman 30):

 

فأقول لك: تأخذ الحق ممن جاء به، وعند من وجدتموه … فالحق يؤخذ ممن جاء به، وعلماؤنا المتقدمون يأخذون الحق ممن جاء به، بل يرحل اليمني إلى المصري، والمكي إلى البغدادي، والنيسابوري إلى اليمني، يرحلون ويستفيد بعضهم من بعض، ليسوا كعلماء العصر إلا من رحم الله، فقد أصبح العلم حكومياً …

 

Maka aku katakan kepadamu, kau ambillah (terimalah) kebenaran dari orang yang datang dengan membawa kebenaran itu. Terimalah kebenaran itu dari orang yang kalian dapati kebenaran itu bersamanya … maka kebenaran itu harus diterima dari orang yang datang dengan membawanya. Bahkan para ulama kita yang terdahulu pun menerima kebenaran dari orang yang membawanya. Sampai-sampai orang Yaman bersengaja menemui orang Mesir, orang Mekah mendatangi orang Bagdad, orang Naisabur menjumpai orang Yaman. Mereka berangkat dan saling mengambil faidah satu sama lain … -SELESAI …

 

Imam Ibn al-Qayyim –rahimahullah– berkata di kitab I’lam al-Muwaqqi’in (2/194; tahqiq Syaikh Masyhur bin Hasan Salman –hafizhahullah):

 

فعلى المسلم أن يتبع هدى النبي -صلى الله عليه وسلم- في قبول الحق ممن جاء به من ولي وعدو وحبيب وبغيض وبر وفاجر ويرد الباطل على من قاله كائناً من كان  …

 

Maka wajib bagi setiap Muslim untuk mengikuti petunjuk Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dalam hal menerima kebenaran dari orang yang membawanya, baik itu dari teman sendiri maupun dari musuh, baik dari orang yang disukai maupun dari orang yang dibenci, baik dari orang yang baik maupun dari orang yang fajir. Juga wajib menolak kebatilan dari orang yang mengatakannya siapa pun orangnya … -SELESAI …

 

Imam Ibn al-Qayyim –rahimahullah– juga berkata di kitab Madarij as-Salikin pada bagian Manzilah at-Tawadhu’ (juz 3 halaman 2264, Dar ash-Shami’i; tahqiq: Nashir bin Sulaiman as-Sa’awi dkk):

 

وأن لا ترد على عدوك حقا أي لا تصح لك درجة التواضع حتى تقبل الحق ممن تحب وممن تبغض فتقبله من عدوك كما تقبله من وليك … بل حقيقة التواضع أنه إذا جاءك قبلته منه …

 

Dan agar tidak menolak kebenaran dari musuhmu, yakni tidak sahih pada dirimu derajat tawadhu’ sampai kau menerima kebenaran dari orang yang kaucintai dan dari orang yang kaubenci. Maka kau harus menerima kebenaran dari musuhmu sebagaimana kau menerima kebenaran dari kawanmu …  bahkan hakikat tawadhu’ itu adalah jika seseorang datang kepadamu dengan membawa kebenaran, maka kau pun menerima darinya  … -SELESAI …

 

 

Bandung, 12 Juli 2016

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s