Siapa yang Mencari-Cari Aib, Niscaya Ia Menemukannya …

abu nuwas

 asy-Syi’r wa asy-Syu’ara’ li Ibn Qutaibah;

tahqiq Syaikh Ahmad Muhammad Syakir (hal. 807)

وكان أﺑﻮ ﻧﻮاس وﻣﺴﻠﻢ اﺟﺘﻤﻌﺎ وﺗﻼﺣﻴﺎ، ﻓﻘﺎل ﻟﻪ ﻣﺴﻠﻢ ﺑﻦ اﻟﻮﻟﻴﺪ: ﻣﺎ ﺃﻋﻠﻢ ﻟﻚ ﺑﻴﺘﺎ ﻳﺴﻠﻢ ﻣﻦ ﺳﻘﻂ!

ﻓﻘﺎل ﻟﻪ ﺃﺑﻮ ﻧﻮاس: ﻫﺎت ﻣﻦ ذﻟﻚ ﺑﻴﺘﺎ واﺣﺪا، ﻓﻘﺎل ﻟﻪ ﻣﺴﻠﻢ: أﻧﺸﺪ أﻧﺖ أيّ ﺑﻴﺖ ﺷﻌﺮ ﺷﺌﺖ ﻣﻦ ﺷﻌﺮك، ﻓﺄﻧﺸﺪ أﺑﻮ ﻧﻮاس:

ذﻛﺮ اﻟﺼّﺒﻮح ﺑﺴﺤﺮة ﻓﺎرﺗﺎﺣﺎ … وأﻣﻠّﻪ دﻳﻚ اﻟﺼّﺒﺎح ﺻﻴﺎﺣﺎ

ﻓﻘﺎل ﻟﻪ ﻣﺴﻠﻢ: ﻗﻒ ﻋﻨﺪ ﻫﺬا اﻟﺒﻴﺖ، ﻟﻢ أﻣﻠّﻪ دﻳﻚ اﻟﺼﺒﺎح وﻫﻮ ﻳﺒﺸّﺮﻩ ﺑﺎﻟﺼﺒﻮح اﻟﺬي ارﺗﺎح ﻟﻪ؟

ﻗﺎل ﻟﻪ أﺑﻮ ﻧﻮاس: ﻓﺄﻧﺸﺪﻧﻰ أﻧﺖ ﻓﺄﻧﺸﺪﻩ ﻣﺴﻠﻢ:

ﻋﺎﺻﻰ اﻟﺸّﺒﺎب ﻓﺮاح ﻏﻴﺮ ﻣﻔﻨّﺪ … وأﻗﺎم ﺑﻴﻦ ﻋﺰﻳﻤﺔ وﺗﺠﻠّﺪ

ﻓﻘﺎل ﻟﻪ أﺑﻮ ﻧﻮاس: ﻧﺎﻗﻀﺖ، ذﻛﺮت أﻧﻪ راح، واﻟﺮواح ﻻ ﻳﻜﻮن إﻻ ﺑﺎﻧﺘﻘﺎل ﻣﻦ ﻣﻜﺎن إﻟﻰ ﻣﻜﺎن، ﺛﻢ ﻗﻠﺖ: وأﻗﺎم ﺑﻴﻦ ﻋﺰﻳﻤﺔ وﺗﺠﻠّﺪ، ﻓﺠﻌﻠﺘﻪ ﻣﺘﻨﻘﻼ ﻣﻘﻴﻤﺎ!

وﺗﺸﺎﻏﺒﺎ ﻓﻰ ذﻟﻚ ﺛﻢ اﻓﺘﺮﻗﺎ.

– ﻗﺎل أﺑﻮ ﻣﺤﻤّﺪ (ابن قتيبة):

“واﻟﺒﻴﺘﺎن ﺟﻤﻴﻌﺎ ﺻﺤﻴﺤﺎن ﻻ ﻋﻴﺐ ﻓﻴﻬﻤﺎ، ﻏﻴﺮ أن ﻣﻦ ﻃﻠﺐ ﻋﻴﺒﺎ وﺟﺪﻩ، أو أراد ﺇﻋﻨﺎﺗﺎ ﻗﺪر ﻋﻠﻴﻪ، إذا ﻛﺎن ﻣﺘﺤﺎﻣﻼ ﻣﺘﺤﻴّﻨﺎ، ﻏﻴﺮ ﻗﺎﺻﺪ ﻟﻠﺤﻖّ واﻹﻧﺼﺎفز.”

– قال المحقق الشيخ أحمد محمد شاكر رحمه الله:

“هذا خير ما يقال في النقد، نقد الكلام ونقد الناس. فما يعجز أحدا عن أن يجد عيبا في غيره أو في قول يريد عيبه. بل إن الرجل اللسن الخصم الجدل، يستطيع أن يقلب المحاسن عيوبا، بالمغالطة والتأول، وما هذا من شأن المنصف وﻻ من خلق المسلم الذي يخاف الله .

Dahulu Abu Nuwas dan Muslim bin al-Walid bertemu dan saling mencela satu sama lain, lalu Muslim bin al-Walid berkata kepada Abu Nuwas, “Aku tak melihat satu pun dari puisi-puisimu yang selamat dari kecacatan!” Maka Abu Nuwas berkata kepada Muslim bin al-Walid, “Halah! Coba kautunjukkan satu bait saja kecacatan yang terdapat dalam puisi-puisiku itu!” Muslim bin al-Walid berkata, “Baik! Coba kau deklamasikan kepadaku satu bait saja dari puisi-puisimu! Terserah, bait mana pun yang kau mau!” Maka Abu Nuwas pun mendeklamasikannya …

Dzakara ash-shabuuha bi suhratin fartaahaa; wa amallahu diiku ash-shabaahi shiyaahaa(Ia mengingat –saat untuk- hidangan pagi saat fajar terbuka sehingga gembiralah ia karenanya; dan ayam jantan menjemukannya lewat kokoknya) …

(Mendengar itu), Muslim bin al-Walid berkata kepada Abu Nuwas, “Sudah sudah! Berhentilah kau di bait itu! Bagaimana bisa di saat yang sama ayam jantan membuatnya jemu sementara ayam jantan itulah yang memberinya kabar gembira atas datangnya waktu bagi hidangan pagi yang membuatnya gembira? (Yakni, mungkinkah di saat yang sama ia gembira dan jemu? Ia gembira atas pikiran tentang hidangan pagi dan jemu akan kokok ayam jantan yang mengabarkan terbukanya pagi).” Maka Abu Nuwas berkata kepada Muslim bin al-Walid, “Aaaah! Coba sekarang kau deklamasikan kepadaku bait puisimu!” Maka Muslim bin al-Walid pun mendeklamasikan bait puisinya …

‘Aashaa asy-syabaaba faraaha ghaira mufannad; wa aqaama baina ‘aziimatin wa tajallud(Ia mendurhakai masa muda lalu beranjak di masa senja tanpa berlemah hati; dan ia berdiam diri di antara keteguhan dan kesabaran) …

(Mendengar itu), Abu Nuwas berkata kepada Muslim bin al-Walid, “Kau pun membuat bait yang kontradiktif! Kaubilang ia beranjak, dan beranjak itu tak terjadi kecuali berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Akan tetapi, kemudian kau bilang bahwa ia berdiam diri di antara keteguhan dan kesabaran. Dengan demikian, kau menjadikannya berpindah sekaligus bermukim!”

Selanjutnya keduanya pun terlibat dalam pertengkaran dan kegaduhan mengenai bait-bait puisi mereka berdua hingga akhirnya mereka berpisah …

Abu Muhammad (Ibn Qutaibah, penyusun kitab ini) berkata, “Sebetulnya kedua bait tersebut, yakni bait puisi milik Abu Nuwas dan bait puisi milik Muslim bin al-Walid, sama-sama bagus dan fasih tanpa kekeliruan dan cacat. Hanya saja, siapa yang mencari-cari aib, niscaya ia akan menemukannya. Atau siapa yang ingin memburukkan orang lain, niscaya ia mampu melakukannya jika ia memang mencari-cari kesempatan untuk menyusahkan.”

Syaikh Ahmad Muhammad Syakir –rahimahullah– (pentahqiq kitab ini) berkata mengomentari ucapan Ibn Qutaibah tersebut, “Ini merupakan ucapan yang bagus tentang kritik, baik itu kritik akan ucapan maupun kritik terhadap manusia. Tidaklah seseorang akan payah mendapati aib orang lain atau menemukan ucapan yang ia kehendaki aibnya. Bahkan, seorang seteru yang fasih lisannya lagi pandai berdebat akan mampu untuk menampilkan kebaikan sebagai aib dengan cara memutarbalikkan kata-kata dan memberikan penjelasan yang memalingkan pengertiannya. Dan tentu saja ini bukanlah perihal orang yang inshaf dan bukan pula merupakan akhlak muslim yang takut kepada Allah.”

 

Bandung 14 Agustus 2018

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s