Tentang Ucapan: Tiada Unta Betina dan Tiada Pula Unta Jantan …

Untitled1

Imam ad-Daraquthni berkata setelah menyebutkan sebuah hadits:

هذا حديث ليس لمحمد بن المنكدر فيه ناقة ولا جمل …

“Hadzaa hadiitsun, laisa li Muhammad ibnil Munkadiri fiihi naaqatun walaa jamalun.”

Secara letterlijk, arti dari ucapan ad-Daraquthni itu adalah, “Hadits ini, di dalamnya tiada unta betina bagi Muhammad bin al-Munkadir dan tiada pula unta jantan.”

Sebetulnya apa maksud dari ungkapan tersebut?

Maksudnya, ad-Daraquthni ingin mengatakan bahwa hadits itu bukanlah hadits yang berasal dari periwayatan Muhammad bin al-Munkadir, dan Muhammad bin al-Munkadir berlepas diri dan tidak memiliki keterkaitan atau keterlibatan apa pun dengan hadits itu meskipun orang-orang menyandarkan hadits itu kepada Muhammad bin al-Munkadir.

Sebenarnya, ada kisah tersendiri bagi ungkapan seperti yang diucapkan oleh Imam ad-Daraquthni itu. Kisah mengenai ungkapan itu sendiri bermula di jazirah Arab jauh sebelum masa kenabian Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam, tepatnya pada masa jahiliyah, tahun 494 Masehi. Pada waktu itu, terjadi peperangan panjang antara dua kabilah keturunan Wa-il, yakni kabilah Bakr di bawah pimpinan Jassas bin Murrah dan Kabilah Taghlib di bawah pimpinan Kulaib bin Rabi’ah. Perang itu terjadi karena Kulaib bin Rabi’ah at-Taghlibi membunuh unta betina milik al-Basus, tantenya Jassas bin Murrah. Kemarahan al-Basus dan Jassas atas tindakan Kulaib itu menyulut peperangan panjang antara kedua kabilah itu hingga 40 tahun lamanya. Syahdan, ketika perang masih berlangsung, kaum Bani Bakr alias Kabilah Bakr meminta tolong kepada al-Harits bin ‘Abbad, salah satu putra daerah kabilah Bakr, untuk turun ke medan perang demi kemenangan kabilah Bakr. Di mata kabilah Bakr, al-Harits ini merupakan jagoan perang dan sangat terlatih di medan perang sehingga mereka bersungguh-sungguh memintanya untuk turun ke medan juang. Akan tetapi, al-Harits bin ‘Abbad sama sekali tak mau ikut campur dalam peperangan itu, bahkan ia menjauh dan berlepas diri dari perang saudara yang menurutnya tidaklah bermanfaat. Saat itu al-Harits dengan tegas mengatakan:

لا ناقة لي فيها ولا جمل …

“Laa naaqata lii fiihaa wa laa jamala (tiada unta betina bagiku dalam perang ini dan tiada pula unta jantan.

yakni maksudnya, “Tak ada manfaat yang bisa kuambil dari perang ini dan aku tak mau ikut campur dalam kezaliman perang ini, aku tak punya urusan dengan perang ini, dan aku berlepas diri tanpa mau terlibat di dalamnya.”

Kurang lebih seperti itulah kisahnya. Sekarang, saya beralih ke cerita yang disandarkan kepada Ibn Ma’in sebagai berikut:

Seorang lelaki mencaci Yahya bin Ma’in tetapi Yahya bin Ma’in sama sekali tidak membalasnya. Kemudian orang-orang bertanya kepada Yahya bin Ma’in, “Kenapa kamu tak membalas caciannya?” Maka Yahya bin Ma’in menjawab, Kalau begitu, untuk apa aku mempelajari ilmu?”

Kisah mengenai Yahya bin Ma’in tersebut selalu disebarkan tanpa rujukan yang jelas –dan terkadang disandarkan ke kitab Hilyah al-Auliya, padahal tidak ada kisah itu di sana. Oleh karena itu, boleh saja jika kita katakan:

ليس لإبن معين ناقة فيها ولا جمل …

“Laisa li Ibn Ma’in naaqatun fiihaa wa laa jamalun (tiada unta betina bagi Ibn Ma’in dalam kisah ini dan tiada pula unta jantan.”

Ya, Yahya bin Ma’in sama sekali tak ada kaitannya dengan kisah tersebut …

Bandung, 22 Agustus 2018

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s