Ayah …

kepadamu yang tak henti menyembunyikan syikayah kefakiran dan kenestapaan hidup selain kepada dia yang meninggikan tujuh petala langit di seberang atas bumi, aku mencintaimu …

kepadamu yang dulu berpulang di akhir-malam-musim-kemarau meninggalkan tubuh bekumu yang membutirkan keringat di pelipis, aku merindukanmu …

Aku bersamamu di belantara kalakanji itu, di belukar perdu-perdu itu, di jalan setapak dan anak-anak tangga batu di bawah pinus dan pohon getah berduri sambil berbagi bekal dan tawa bersahaja. Aku juga bersamamu bahkan bersila di depan mata kakimu kala kau buka helai-helai zaman setebal sejarah sambil bertutur menghikayatkan abjad-abjad kurun dan peristiwa-peristiwa tandun yang tak seluruhnya kupahami …

Kini, hanya tersisa sedikit tinta bagiku untuk melesang pena menuliskan jejal ingatan yang acak berjelaga di dada …

-aku mencintaimu meski tak utuh menuliskanmu …

 

Bandung, 13 Februari 2020

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

aku telah terbiasa dengan segala bait-baitmu, juga alinea-alinea rasailmu meski tak pernah kulihat caramu melingkarkan lentik tanganmu yang bergenggam pena. Aku terbiasa melazimkan diri dengan sisi-sisi pandangmu dan tilas-tilas kehadiranmu di beranda coret-moretku. Namun, aku begitu asing dengan sikap diammu yang begitu kuasa mengasingkanku ke setandus-tandus kata …

aku telah terbiasa dengan segala bait-baitmu, juga alinea-alinea rasailmu meski tak pernah kulihat caramu melingkarkan lentik tanganmu yang bergenggam pena. Aku terbiasa melazimkan diri dengan sisi-sisi pandangmu dan tilas-tilas kehadiranmu di beranda coret-moretku. Namun, aku begitu asing dengan sikap diammu yang begitu kuasa mengasingkanku ke setandus-tandus kata …

Bandung, 9 Februari 2019

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–