aku berharap kau menyimak diamku yang tak bicara. Sungguh rayuanku yang paling memabukkan adalah diam. Tidakkah kau merasakan kefasihan dan sisi puitis itu terlampir dalam diamku? Tidakkah kau merasakan semua pesona kata-kataku saat aku tak mengatakan apa pun kepadamu? Aku diam saat menyatakan cinta paling puitis kepadamu …

aku berharap kau menyimak diamku yang tak bicara. Sungguh rayuanku yang paling memabukkan adalah diam. Tidakkah kau merasakan kefasihan dan sisi puitis itu terlampir dalam diamku? Tidakkah kau merasakan semua pesona kata-kataku saat aku tak mengatakan apa pun kepadamu? Aku diam saat menyatakan cinta paling puitis kepadamu …

Bandung, 16 Oktober 2020

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

sebagian perasaan tak punya hubungan dengan aksara. Ia lebih indah dari bunga-rampai-huruf dan antologi-kata. Dahulu kau pernah berucap, “Semua aksara yang kita kenal, tak pernah berdaulat atas perasaanmu kepadaku.”

sebagian perasaan tak punya hubungan dengan aksara. Ia lebih indah dari bunga-rampai-huruf dan antologi-kata. Dahulu kau pernah berucap, “Semua aksara yang kita kenal, tak pernah berdaulat atas perasaanmu kepadaku.”

Bandung

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Ayah …

kepadamu yang tak henti menyembunyikan syikayah kefakiran dan kenestapaan hidup selain kepada dia yang meninggikan tujuh petala langit di seberang atas bumi, aku mencintaimu …

kepadamu yang dulu berpulang di akhir-malam-musim-kemarau meninggalkan tubuh bekumu yang membutirkan keringat di pelipis, aku merindukanmu …

Aku bersamamu di belantara kalakanji itu, di belukar perdu-perdu itu, di jalan setapak dan anak-anak tangga batu di bawah pinus dan pohon getah berduri sambil berbagi bekal dan tawa bersahaja. Aku juga bersamamu bahkan bersila di depan mata kakimu kala kau buka helai-helai zaman setebal sejarah sambil bertutur menghikayatkan abjad-abjad kurun dan peristiwa-peristiwa tandun yang tak seluruhnya kupahami …

Kini, hanya tersisa sedikit tinta bagiku untuk melesang pena menuliskan jejal ingatan yang acak berjelaga di dada …

-aku mencintaimu meski tak utuh menuliskanmu …

 

Bandung, 13 Februari 2020

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–