Tentang Distorsi Hadits-Hadits …

Graphic1

Ada banyak hal yang bisa menyebabkan terjadinya distorsi dalam penerimaan atau penyampaian pesan-pesan komunikasi (termasuk penerimaan dan penyampaian hadits-hadits, kisah-kisah, dan kabar-kabar). Noise –misalnya- merupakan salah satu di antaranya …

Al-A’masy memilih tak mencatat hadits-hadits dari asy-Sya’bi kecuali sedikit saja, dan itu dikarenakan adanya noise yang tak memungkinkannya untuk menulis secara tepat informasi yang didiktekan oleh asy-Sya’bi. Majelis asy-Sya’bi banyak didatangi manusia, sementara al-A’masy biasa mendapat tempat duduk di ambang pintu majelis yang jauh dari asy-Sya’bi sehingga tak mungkin baginya untuk mendengar secara jelas hadits-hadits dari asy-Sya’bi. Al-A’masy sangatlah bijaksana. Ia tak ingin mencatat informasi yang tak diterimanya secara jelas, dan –tentu saja lantaran itu- ia tak ingin menyampaikan hadits-hadits yang mungkin saja mengalami distorsi karena tak jelas didengar olehnya …

Di kitab Dzamm ats-Tsuqala’, Ibn al-Marzuban berkata (hal 98):

 

حدثنا أبو محمد حدثني محمد بن الحسين حدثنا أحمد بن حرب قال: حدثني إسماعيل بن زيَاد بن الحكم، عن أبيه أو عمّه، قال: قلت للأعمش، ما أراك كتبت عن الشعبِي إلا يسيرا! قال: “ويحك كيفَ كنت أسمع من رجل لم آته قطّ مع إبراهيم النخعِي إلا أقعدني خلف الأسكفة من البَاب، ثم يقعد إبراهيم فِي مجلسه

 

Ayahnya Ziyad bin al-Hakam–atau pamannya Ziyad bin al-Hakam- berkata: Aku berkata kepada al-A’masy, “Aku tak melihatmu menulis hadits dari asy-Sya’bi kecuali sedikit yang mudah-mudah saja!” Al-A’masy menjawab, “Bagaimana mungkin aku mendengar (hadits) dari seseorang yang tidaklah aku mendatanginya bersama Ibrahim an-Nakha’i kecuali ia menyuruhku duduk di ambang pintu majelisnya, kemudian ia meminta Ibrahim agar duduk di depan majelisnya.”

 

Selain noise, penyebab lain terjadinya distorsi adalah ke-dha’if-an (kelemahan) penerima informasi, semisal takhlith, idh-thirab, ingatan yang buruk sehingga membuat redaksi hadits berubah atau bertambah, dan lain-lain. Dalam hal ini -masih juga al-A’masy- berupaya untuk mengurangi kemungkinan terjadinya distorsi pada hadits-hadits yang dihafal dan dijaganya dengan cara tidak menyampaikannya kepada orang yang dha’if (buruk hafalannya, takhlith, idh-thirab, dan sebagainya) semisal al-Hajjaj bin Arthah …

 

Di kitab Dzamm ats-Tsuqala’, Ibn al-Marzuban berkata (hal 68):

 

حدثنا عبد الرحمن بن محمد حدثني محمد بن سعد حدثنا عفان حدثنا عمر بن علي قال جاء الحجاج بن أرطاة إلى الأعمش فاستأذن عليه فقال قولوا له ابن أرطاة على الباب فقال الاعمش أبكي علي أبكي علي. فلم يأذن له ‘

 

Amr bin ‘Ali berkata: Al-Hajjaj bin Arthah datang kepada al-A’masy, lalu meminta izin kepada orang-orang yang berada di rumah al-A’masy seraya mengucapkan, “Katakan kapada al-A’masy bahwa Ibn Arthah ada di depan rumah ingin bertemu.” Maka al-A’masy berkata, “Aku menangisi diriku, aku menagisi diriku,” dan al-A’masy tak memberi izin kepada Arthah untuk menemuinya.

Imam Ahmad berkata tentang al-Hajjaj bin Arthah:

 

لأن في حديثه زيادة على حديث الناس، لا يكاد له حديث إلا فيه زيادة

 

“Karena dalam haditsnya ada tambahan yang tak ada dalam hadits orang lain. Hampir-hampir tak ada haditsnya yang tak ada tambahannya.”

Muhammad bin Nashr al-Marwadzi berkata:

 

وتغيير الألفاظ

 

“Terjadi perubahan pada redaksi haditsnya.”

Ibn ‘Adi berkata:

 

وربما أخطأ في بعض الروايات

 

“Kadang-kadang salah dalam sebagian riwayatnya.”

Ya’qub bin Syaibah berkata:

 

واهي الحديث، في حديثه اضطراب كثير وهو صدوق

 

“Lemah haditsnya, dan di dalam haditsnya banyak terjadi idh-thirab padahal ia jujur.”

Maka alangkah baiknya orang-orang yang teliti dalam menerima atau menyampaikan hadits-hadits, kisah-kisah, kabar-kabar, berita-berita, dan informasi-informasi …

Wallahu a’lamu …

 

Bandung, 19 Oktober 2019

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA—

Pada banyak alinea ia meriwayatkan kita yang kasmaran dan menjadikan kita aksara kesedihannya. Kita menyejarah lewat durja-toreh-penanya yang membekaskan kau dan aku di benak zaman. Kuharap kau tahu, kita memang sejarah atau menjadi sejarah yang ditulis dengan huruf-huruf kecemburuannya …

Pada banyak alinea ia meriwayatkan kita yang kasmaran dan menjadikan kita aksara kesedihannya. Kita menyejarah lewat durja-toreh-penanya yang membekaskan kau dan aku di benak zaman. Kuharap kau tahu, kita memang sejarah atau menjadi sejarah yang ditulis dengan huruf-huruf kecemburuannya …

Bandung, 2 September 2019

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Bersama Doa dalam Sujudnya, Ibn Taimiyah Berucap Bait Syair al-Mutanabbi …

Untitled

Bait-bait Syair al-Mutanabbi yang terkadang dibaca oleh Ibn Taimiyah -rahimahullah- ketika berdoa dalam sujudnya …

link: Syaikh Abu Ja’far ‘Abdillah bin Fahd al-Khulaifi

http://alkulify.blogspot.com/2013/10/blog-post_2839.html

 

قال ابن كثير في البداية والنهاية (11/ 292 ) :”

ومنها قوله- يعني المتنبي – :

يا من ألوذ به فيما أؤمله         *         ومن أعوذ به مما أحاذره

لا يجبر الناس عظما أنت كاسره  *      ولا يهيضون عظما أنت جابره 

وقد بلغني عن شيخنا العلامة شيخ الاسلام أحمد ابن تيمية رحمه الله أنه كان يكره على المتنبي هذه المبالغة في مخلوق ويقول: إنما يصلح هذا لجناب الله سبحانه وتعالى.

وأخبرني العلامة شمس الدين ابن القيم رحمه الله أنه سمع الشيخ تقي الدين المذكور يقول: ربما قلت هذين البيتين في السجود أدعو الله بما تضمناه من الذل والخضوع “

 

Ibn Katsir -rahimahullah- berkata di kitab al-Bidayah wa an-Nihayah (11/292): Dan di antaranya adalah ucapan al-Mutanabbi dalam syairnya:

yaa man aluudzu bihi fiimaa u-ammiluhu; wa man a’uudzu bihi mimmaa uhaadziruhu

laa yajburun naasu ‘azhman anta kaasiruhu; wa laa yahiidhuuna ‘azhman anta jaabiruhu

(wahai dzat yang aku berlari kepada-Nya dan meminta pertolongan-Nya dalam mencapai harapan-harapanku; wahai dzat yang aku berlindung kepada-Nya agar selamat dari ahwal yang menakutkanku … tidaklah manusia bisa memperbaiki tulang belulang yang Kau remukkan; dan tidaklah mereka bisa menghancurkan tulang belulang yang telah kau pulihkan)

Telah sampai kepadaku ucapan dari guru kami, Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah -rahimahullah- bahwasanya beliau membenci ungkapan hiperbol al-Mutanabbi yang ditujukan kepada makhluk tersebut, dan beliau mengatakan, “Ungkapan ini hanya layak ditujukan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.”

Dan Ibn al-Qayyim -rahimahullah- telah pula mengabarkan kepadaku bahwasanya ia mendengar guru kami, Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah, berkata, “Terkadang kulantunkan kedua bait al-Mutanabbi ini dalam sujudku. Aku berdoa kepada Allah dengan mengucapkan kedua bait tersebut lantaran terkandung di dalamnya ungkapan kerendahan diri hamba di hadapan Allah dan ketundukan hamba terhadap-Nya.” -SELESAI …

 

Bandung, 23 Agustus 2019

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–