Siapa yang Mencari-Cari Aib, Niscaya Ia Menemukannya …

abu nuwas

 asy-Syi’r wa asy-Syu’ara’ li Ibn Qutaibah;

tahqiq Syaikh Ahmad Muhammad Syakir (hal. 807)

وكان أﺑﻮ ﻧﻮاس وﻣﺴﻠﻢ اﺟﺘﻤﻌﺎ وﺗﻼﺣﻴﺎ، ﻓﻘﺎل ﻟﻪ ﻣﺴﻠﻢ ﺑﻦ اﻟﻮﻟﻴﺪ: ﻣﺎ ﺃﻋﻠﻢ ﻟﻚ ﺑﻴﺘﺎ ﻳﺴﻠﻢ ﻣﻦ ﺳﻘﻂ!

ﻓﻘﺎل ﻟﻪ ﺃﺑﻮ ﻧﻮاس: ﻫﺎت ﻣﻦ ذﻟﻚ ﺑﻴﺘﺎ واﺣﺪا، ﻓﻘﺎل ﻟﻪ ﻣﺴﻠﻢ: أﻧﺸﺪ أﻧﺖ أيّ ﺑﻴﺖ ﺷﻌﺮ ﺷﺌﺖ ﻣﻦ ﺷﻌﺮك، ﻓﺄﻧﺸﺪ أﺑﻮ ﻧﻮاس:

ذﻛﺮ اﻟﺼّﺒﻮح ﺑﺴﺤﺮة ﻓﺎرﺗﺎﺣﺎ … وأﻣﻠّﻪ دﻳﻚ اﻟﺼّﺒﺎح ﺻﻴﺎﺣﺎ

ﻓﻘﺎل ﻟﻪ ﻣﺴﻠﻢ: ﻗﻒ ﻋﻨﺪ ﻫﺬا اﻟﺒﻴﺖ، ﻟﻢ أﻣﻠّﻪ دﻳﻚ اﻟﺼﺒﺎح وﻫﻮ ﻳﺒﺸّﺮﻩ ﺑﺎﻟﺼﺒﻮح اﻟﺬي ارﺗﺎح ﻟﻪ؟

ﻗﺎل ﻟﻪ أﺑﻮ ﻧﻮاس: ﻓﺄﻧﺸﺪﻧﻰ أﻧﺖ ﻓﺄﻧﺸﺪﻩ ﻣﺴﻠﻢ:

ﻋﺎﺻﻰ اﻟﺸّﺒﺎب ﻓﺮاح ﻏﻴﺮ ﻣﻔﻨّﺪ … وأﻗﺎم ﺑﻴﻦ ﻋﺰﻳﻤﺔ وﺗﺠﻠّﺪ

ﻓﻘﺎل ﻟﻪ أﺑﻮ ﻧﻮاس: ﻧﺎﻗﻀﺖ، ذﻛﺮت أﻧﻪ راح، واﻟﺮواح ﻻ ﻳﻜﻮن إﻻ ﺑﺎﻧﺘﻘﺎل ﻣﻦ ﻣﻜﺎن إﻟﻰ ﻣﻜﺎن، ﺛﻢ ﻗﻠﺖ: وأﻗﺎم ﺑﻴﻦ ﻋﺰﻳﻤﺔ وﺗﺠﻠّﺪ، ﻓﺠﻌﻠﺘﻪ ﻣﺘﻨﻘﻼ ﻣﻘﻴﻤﺎ!

وﺗﺸﺎﻏﺒﺎ ﻓﻰ ذﻟﻚ ﺛﻢ اﻓﺘﺮﻗﺎ.

– ﻗﺎل أﺑﻮ ﻣﺤﻤّﺪ (ابن قتيبة):

“واﻟﺒﻴﺘﺎن ﺟﻤﻴﻌﺎ ﺻﺤﻴﺤﺎن ﻻ ﻋﻴﺐ ﻓﻴﻬﻤﺎ، ﻏﻴﺮ أن ﻣﻦ ﻃﻠﺐ ﻋﻴﺒﺎ وﺟﺪﻩ، أو أراد ﺇﻋﻨﺎﺗﺎ ﻗﺪر ﻋﻠﻴﻪ، إذا ﻛﺎن ﻣﺘﺤﺎﻣﻼ ﻣﺘﺤﻴّﻨﺎ، ﻏﻴﺮ ﻗﺎﺻﺪ ﻟﻠﺤﻖّ واﻹﻧﺼﺎفز.”

– قال المحقق الشيخ أحمد محمد شاكر رحمه الله:

“هذا خير ما يقال في النقد، نقد الكلام ونقد الناس. فما يعجز أحدا عن أن يجد عيبا في غيره أو في قول يريد عيبه. بل إن الرجل اللسن الخصم الجدل، يستطيع أن يقلب المحاسن عيوبا، بالمغالطة والتأول، وما هذا من شأن المنصف وﻻ من خلق المسلم الذي يخاف الله .

Dahulu Abu Nuwas dan Muslim bin al-Walid bertemu dan saling mencela satu sama lain, lalu Muslim bin al-Walid berkata kepada Abu Nuwas, “Aku tak melihat satu pun dari puisi-puisimu yang selamat dari kecacatan!” Maka Abu Nuwas berkata kepada Muslim bin al-Walid, “Halah! Coba kautunjukkan satu bait saja kecacatan yang terdapat dalam puisi-puisiku itu!” Muslim bin al-Walid berkata, “Baik! Coba kau deklamasikan kepadaku satu bait saja dari puisi-puisimu! Terserah, bait mana pun yang kau mau!” Maka Abu Nuwas pun mendeklamasikannya …

Dzakara ash-shabuuha bi suhratin fartaahaa; wa amallahu diiku ash-shabaahi shiyaahaa(Ia mengingat –saat untuk- hidangan pagi saat fajar terbuka sehingga gembiralah ia karenanya; dan ayam jantan menjemukannya lewat kokoknya) …

(Mendengar itu), Muslim bin al-Walid berkata kepada Abu Nuwas, “Sudah sudah! Berhentilah kau di bait itu! Bagaimana bisa di saat yang sama ayam jantan membuatnya jemu sementara ayam jantan itulah yang memberinya kabar gembira atas datangnya waktu bagi hidangan pagi yang membuatnya gembira? (Yakni, mungkinkah di saat yang sama ia gembira dan jemu? Ia gembira atas pikiran tentang hidangan pagi dan jemu akan kokok ayam jantan yang mengabarkan terbukanya pagi).” Maka Abu Nuwas berkata kepada Muslim bin al-Walid, “Aaaah! Coba sekarang kau deklamasikan kepadaku bait puisimu!” Maka Muslim bin al-Walid pun mendeklamasikan bait puisinya …

‘Aashaa asy-syabaaba faraaha ghaira mufannad; wa aqaama baina ‘aziimatin wa tajallud(Ia mendurhakai masa muda lalu beranjak di masa senja tanpa berlemah hati; dan ia berdiam diri di antara keteguhan dan kesabaran) …

(Mendengar itu), Abu Nuwas berkata kepada Muslim bin al-Walid, “Kau pun membuat bait yang kontradiktif! Kaubilang ia beranjak, dan beranjak itu tak terjadi kecuali berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Akan tetapi, kemudian kau bilang bahwa ia berdiam diri di antara keteguhan dan kesabaran. Dengan demikian, kau menjadikannya berpindah sekaligus bermukim!”

Selanjutnya keduanya pun terlibat dalam pertengkaran dan kegaduhan mengenai bait-bait puisi mereka berdua hingga akhirnya mereka berpisah …

Abu Muhammad (Ibn Qutaibah, penyusun kitab ini) berkata, “Sebetulnya kedua bait tersebut, yakni bait puisi milik Abu Nuwas dan bait puisi milik Muslim bin al-Walid, sama-sama bagus dan fasih tanpa kekeliruan dan cacat. Hanya saja, siapa yang mencari-cari aib, niscaya ia akan menemukannya. Atau siapa yang ingin memburukkan orang lain, niscaya ia mampu melakukannya jika ia memang mencari-cari kesempatan untuk menyusahkan.”

Syaikh Ahmad Muhammad Syakir –rahimahullah– (pentahqiq kitab ini) berkata mengomentari ucapan Ibn Qutaibah tersebut, “Ini merupakan ucapan yang bagus tentang kritik, baik itu kritik akan ucapan maupun kritik terhadap manusia. Tidaklah seseorang akan payah mendapati aib orang lain atau menemukan ucapan yang ia kehendaki aibnya. Bahkan, seorang seteru yang fasih lisannya lagi pandai berdebat akan mampu untuk menampilkan kebaikan sebagai aib dengan cara memutarbalikkan kata-kata dan memberikan penjelasan yang memalingkan pengertiannya. Dan tentu saja ini bukanlah perihal orang yang inshaf dan bukan pula merupakan akhlak muslim yang takut kepada Allah.”

 

Bandung 14 Agustus 2018

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

Tidak Sahih: Wahai ‘Umar, Kau Telah Berlaku Adil, Maka Kau pun Aman dan Bisa Tidur …

mahoni

http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=921

Abu Mu’awiyyah al-Beiruti –hafizhahullah– berkata:

جاء في كتاب ” الوطنية ” الذي يدرّس في الصف الخامس الابتدائي في السعودية الرواية التالية :

Terdapat sebuah kisah dalam buku al-Wathaniyyah yang diajarkan di kelas lima sekolah dasar Saudi sebagai berikut:

(عَدَلت فأمِنْت فنِمْت يا عمر)

أرسل ملك الفرس رسولا إلى عمربن الخطاب رضي الله عنه فلما دخل المدينة سأل أهلها :أين ملككم؟ فأجابوه: ليس لدينا ملك بل لنا أمير. وقد ذهب إلى ظاهر المدينة .فذهب الرسول في طلب عمر رضي الله عنه فرآه نائما في الشمس على الأرض فوق الرمل وقد وضع عصاه كالوسادة والعرق يتصبب من جبينه .فلما رآه على هذه الحالة وقع الخشوع في قلبه وقال :رجل تهابه جميع الملوك وتكون هذه حاله!! ولكنك عَدَلت فأمِنْت فنِمْت ياعمر ..وقد أسلم رسول ملك الفرس بعد ذلك…

(Kau telah berlaku adil sehingga kau pun aman dan bisa tidur dengan tenang, wahai ‘Umar)

Raja Persia mengutus seorang utusan kepada ‘Umar bin al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhu. Sesampainya di kota Madinah, utusan itu bertanya kepada penduduk Madinah, “Di mana bisa kutemui raja kalian?” Penduduk Madinah menjawab, “Kami tak punya raja, tetapi kami memiliki pemimpin. Pemimpin kami pergi ke pinggiran kota Madinah.” Utusan Raja Persia itu pun pergi ke pinggiran kota Madinah untuk mencari ‘Umar –radhiyallahu ‘anhu. Di tempat yang dituju, ia melihat ‘Umar sedang tertidur di atas pasir di bawah sengatan matahari. ‘Umar menjadikan tongkatnya sebagai tempat bersandar, sementara keringat mengalir di keningnya. Melihat keadaan ‘Umar yang seperti itu, timbullah perasaan takzim di hati sang utusan, dan ia berkata, “Inilah lelaki yang semua raja merasa takut kepadanya, dan ternyata seperti ini keadaannya. Akan tetapi, karena engkau telah berlaku adil, maka engkau pun aman dan bisa tidur dengan tenang, wahai ‘Umar!” Semenjak saat itu, utusan Raja Persia tersebut masuk Islam …

عثرتُ على ما يشبه القصة، وفي ظنّي أن هذه الرواية صيغت بأسلوب أدبي وليست موافقة لنص الرواية، ونص الرواية هو:

Secara kebetulan, aku (Abu Mu’awiyah al-Beiruti) mendapati riwayat yang mirip dengan kisah di atas. Menurut dugaanku, kisah di atas ditulis dengan gaya bahasa pengajaran dan tidak sama persis dengan riwayat (yang kudapati). Adapun redaksi riwayatnya adalah sebagai berikut:

لما جيء بالهرمزان ملك خوزستان أسيراً إلى عمر رضي الله عنه، لم يزل الموكّل به يقتفي أثر عمر حتى وجده بالمسجد نائماً متوسّداً درّته، فلمّا رآه الهرمزان قال: هذا هو الملك ؟ قيل: نعم. فقال له: عدلت فأمنت فنمت، والله إني قد خدمتُ أربعة من ملوك الأكاسرة أصحاب التيجان فما هبتُ أحداً منهم هيبتي لصاحب هذه الدرّة .

Tatkala Hurmuzan, Raja Khuzastan, dibawa sebagai tawanan kepada ‘Umar, orang yang diberi tugas untuk membawanya pun mencari-cari ‘Umar hingga berhasil menemuinya di masjid. Saat itu ‘Umar sedang tidur berbantalkan cambuknya. Ketika Hurmuzan melihat ‘Umar, ia pun berkata, “Inikah raja kalian?” Ada yang menjawab, “Ya.” Lalu Hurmuzan berkata kepada ‘Umar, “Engkau telah berlaku adil sehingga kau pun aman dan bisa tidur dengan tenang. Demi Allah, sungguh aku pernah melayani empat raja Persia yang masing-masing memiliki mahkota-mahkota, tetapi tidak ada seorang pun dari mereka yang membuatku merasakan takut akan kewibawaan mereka sebagaimana perasaan takutku akan kewibawaan orang yang berbantalkan cambuk ini.”

ذكر هذه الرواية – فيما وقفتُ عليه – الزمخشري ) ت 538 هـ) في “ربيع الأبرار”، وابن حمدون )ت 608 هـ) في “التذكرة الحمدونية”، والنويري )ت 733 ه) في “نهاية الأرب في فنون الأدب”.

Riwayat tersebut disebutkan oleh az-Zamakhsyari (wafat tahun 538 H) di kitab Rabi’ al-Abrar, Ibn Hamdun (wafat 608 H) di kitab at-Tadzkirah al-Hamduniyah, dan an-Nuwairi (wafat tahun 733 H) di kitab Nihayah al-Arib fi Funun al-Adab

فلا عبرة بهذه الرواية لأنه لا إسناد لها فيما وقفتُ عليه، وقد روي مجيء الهرمزان أسيراً في السنة السابعة عشرة إلى عمر رضي الله عنه ومحاورتهما في العديد من كتب التاريخ مثل تاريخ الطبري وتاريخ ابن الأثير وتاريخ الإسلام للذهبي والبداية والنهاية لابن كثير ، ولم يذكروا هذه الرواية ، فإن لم تَرِد بإسنادٍ فهي ممّا لا أصل لها

(Akan tetapi), tidak ada pelajaran yang bisa diambil dari riwayat tersebut karena tidak memiliki sanad –menurut yang kutemukan. Dan telah diriwayatkan di sejumlah kitab bahwa Hurmuzan dibawa sebagai tawanan kepada ‘Umar –radhiyallahu ‘anhu– dan juga percakapan di antara keduanya itu pada tahun 17 Hijriyah, misalnya dalam kitab Tarikh ath-Thabari, Tarikh Ibn al-Atsir, dan Tarikh al-Islam karya adz-Dzahabi, juga di kitab al-Bidayah wa an-Nihayah karya Ibn Katsir. Akan tetapi, mereka tidak menyebutkan riwayat di atas. Apabila suatu riwayat tidak disebutkan dengan sanadnya, maka riwayat tersebut termasuk riwayat yang la ashla laha (tidak memiliki asal dan sumber) …

وروى الواقدي في فتوح الشام (1/ 54 / ط . دار العلم للجميع) ما يشبه تلك القصة فقال :
ولقد بلغني أن هرقل لما بلغه أن عمر بن الخطاب قد ولي الأمر من بعد أبي بكر الصديق رضي الله عنه جمع الملوك والبطارقة وأرباب دولته وقام فيهم خطيباً على منبر قد نصب له في كنيسة القسيسين، وقال: يا بني الأصفر، هذا الذي كنت أحذركم منه فلم تسمعوا مني، وقد اشتد الأمر عليكم بولاية هذا الرجل الأسمر وقد دنا موعد صاحب الفتوح المشبه بنوح، والله ثم والله لا بد أن يملك ما تحت سريري هذا، الحذر ثم الحذر قبل وقوع الأمر ونزول الضرر، وهدم القصور وقتل القسس وتبطيل الناقوس، هذا صاحب الحرب والجالب على الروم والفرس الكرب، هذا الزاهد في دنياه، وهذا الغليظ على من اتبع في غير ملته هواه… ثم استدعى برجل من المتنصرة يقال له طليعة بن ماران وضمن له مالاً، وقال له: انطلق من وقتك هذا إلى يثرب وانظر كيف تقتل عمر بن الخطاب، فقال له طليعة: نعم أيها الملك. ثم تجهز وسار حتى ورد مدينة رسول الله صلى الله عليه وسلم وكمن حولها، وإذا بعمر بن الخطاب رضي الله عنه خرج يشرف على أموال اليتامى ويفتقد حدائقهم فصعد المتنصر إلى شجرة ملتفة الأغصان فاستتر بأوراقها، وإذا بعمر رضي الله عنه قد أقبل إلى أن قرب من الشجرة التي عليها المتنصر ونام على ظهره وتوسد بحجر، فلما نام هم المتنصر أن ينزل إليه ليقتله، وإذا بسبع أقبل من البرية فطاف حوله وأقبل يلحس قدميه، وإذا بهاتف يقول: يا عمر عدلت فأمنت، فلما استيقظ عمر رضي الله عنه ذهب السبع ونزل المتنصر وترامى على عمر رضي الله عنه فقبل يديه، وقال: بأبي أنت وأمي أفدى من الكائنات من السباع تحرسه والملائكة تصفه والجن تعرفه، ثم أعلمه بما كان منه وأسلم على يديه. اهـ

Dan al-Waqidi meriwayatkan di kitab Futuh asy-Syam (1/54; cetakan Dar al-‘Ilm li al-Jami’) sebuah riwayat yang mirip dengan kedua kisah di atas.  Di kitab itu al-Waqidi berkata:

Telah sampai kabar kepadaku bahwa Heraklius ketika sampai kepadanya kabar bahwa ‘Umar bin al-Khaththab telah menjadi pemimpin setelah Abu Bakr ash-Shiddiq –radhiyallahu ‘anhu, maka Heraklius pun mengumpulkan semua pemimpin, para panglima, dan para pembesar di wilayah kedaulatannya. Heraklius berdiri di hadapan mereka dengan berpidato di atas mimbar yang ada di dalam gereja. Heraklius berkata, “Wahai Bani Ashfar (Bangsa Romawi), inilah hal yang telah kuwaspadakan kepada kalian tetapi kalian tak mau mendengarkanku. Kalian menghadapi perkara yang semakin berat dengan berkuasanya ar-rajul al-asmar (lelaki berkulit coklat) ini. Sungguh telah dekat datangnya penaklukan dari Shahib al-Futuh (yakni ‘Umar bin al-Khaththab) yang diserupakan dengan Nabi Nuh ini. Demi Allah kemudian demi Allah, tak bisa tidak ia pun akan menguasai apa yang berada di bawah singgasanaku ini. Waspadalah kalian dan kemudian waspadalah kalian sebelum hal itu terjadi dan sebelum datangnya bahaya, juga sebelum istana-istana dihancurkan, para pendeta dibunuh, dan lonceng-lonceng tak lagi berguna. Sungguh lelaki ini adalah ahli perang dan pembawa kesulitan terhadap Romawi dan Persia. Lelaki ini sangat zuhud terhadap dunianya tetapi sangat keras terhadap orang yang hawa nafsunya mengikuti selain agamanya.” Kemudian Heraklius berkata kepada Thali’ah bin Maran, seorang lelaki Nasrani, seraya memberikan jaminan harta kepadanya, “Pergilah kau sekarang ke Yatsrib (Madinah) dan perhatikanlah bagaimana caranya kau bisa membunuh ‘Umar bin al-Khaththab!” Thali’ah bin Maran berkata, “Baiklah, wahai Raja!” Kemudian Thali’ah bin Maran pun melakukan perjalanan ke Madinah setelah menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkannya dalam perjalanan. Akhirnya ia pun sampai ke Madinah, kota Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika Thali’ah sedang bersembunyi di sekitar (pinggiran) Madinah, tiba-tiba ia menampak ‘Umar bin al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhu– yang sedang melakukan supervisi terhadap harta anak-anak yatim seraya memerhatikan taman-taman di sekitar situ. Maka Thali’ah bin Maran pun memanjat sebuah pohon yang bercabang rimbun dan menyembunyikan dirinya di balik dedaunan. Sesaat kemudian, ‘Umar bin al-Khaththab berjalan ke arah pohon tempat Thali’ah bersembunyi lalu tidur dengan menyandarkan punggungnya ke batu. Melihat ‘Umar bin al-Khaththab tertidur, Thali’ah pun bermaksud turun untuk membunuh ‘Umar. Akan tetapi, belum lagi ia turun dari pohon itu, tiba-tiba datanglah seekor singa yang kemudian berjalan mengelilingi ‘Umar yang sedang tidur lalu mendekati dan menjilati kedua kaki ‘Umar, lalu terdengarlah sebuah suara berkata, “Wahai ‘Umar, kau telah berlaku adil sehingga kau pun aman.” Ketika ‘Umar –radhiyallahu ‘anhu– terjaga, singa itu pun pergi. Thali’ah segera turun dari pohon tempatnya bersembunyi, lalu menjatuhkan dirinya di hadapan ‘Umar –radhiyallahu ‘anhu– dan mencium kedua tangannya seraya berkata, “Ayah dan ibuku menjadi tebusan bagimu! Kutebus diriku dari semua makhluk, dari singa yang menjaga ‘Umar, para malaikat yang menyifati ‘Umar, dan para jin yang mengenal ‘Umar.” Kemudian Thali’ah bin Maran memberitahu ‘Umar tentang diri dan perihalnya, lalu ia pun masuk Islam di tangan ‘Umar …

قلتُ :الواقدي، قال عنه ابن حجر في تقريب التهذيب: متروك مع سعة علمه. اهـ . فرواياته – إذا تفرّد بها – لا يصح الاستشهاد بها، وعلّة أخرى أساس أنه قال: (بلغني)؛ ولم يسق إسناداً، والواقدي توفي 207 هـ، فبينه وبين قصة عمر رجلين أو ثلاثة، فالإسناد معضل ، فلو أورد ثقةٌ هذه الرواية لما صَحَّت لإعضالها، فكيف وقد رواها الواقدي المتروك !! فلا تصح هذه القصة إلا إذا أتت من طرق أخرى يعتبر بها أهل الحديث .

Aku (Abu Mu’awiyyah al-Beiruti) katakan:

Al-Waqidi itu, dikatakan oleh Ibn Hajar mengenainya di kitab Taqrib at-Tahdzib, “Ia seorang yang matruk bersama dengan keluasan ilmunya.” Dengan demikian, riwayat al-Waqidi itu –jika ia menyendiri dengan riwayat tersebut- tidaklah sahih untuk dijadikan acuan. Hal lain yang menjadikan riwayat tersebut cacat (tidak sahih) adalah ucapan al-Waqidi dalam riwayat yang dikemukakannya, “Telah sampai kepadaku kabar,” tanpa menyebutkan sanadnya, sementara al-Waqidi itu wafat pada tahun 207 Hijriyah sehingga di antara dirinya dengan kisah ‘Umar tersebut setidaknya ada dua orang periwayat perantara atau tiga orang periwayat perantara (yang tidak disebutkan). Dengan demikian, isnad riwayat tersebut mu’dhal. Kalau pun sekiranya orang yang membawakan riwayat tersebut adalah orang yang tsiqah, tidaklah hal itu bisa menjadikan riwayat itu sahih karena kenyataannya isnadnya  yang mu’dhal. Lantas, bagaimana pula jika ternyata yang meriwayatkannya adalah al-Waqidi yang jelas-jelas merupakan orang yang matruk? Oleh karena itu, riwayat atau kisah ini tidaklah sahih kecuali jika terdapat jalan-jalan periwayatan lainnya yang bisa diterima oleh ahli hadits.

وللفائدة، وجدتُ هذه الرواية:

قال ابن سعد في الطبقات الكبرى (3/ 293/ ط . دار صادر): أخبرنا عارم بن الفضل قال: أخبرنا حمّاد بن سلمة قال : أخبرنا حميد، عن أنس بن مالك أن الهرمزان رأى عمر بن الخطاب مضطجعاً في مسجد رسول الله ، فقال : هذا واللهِ الملك الهنيء.

وختاماً، الحمد لله، في صحيح الروايات عن فضائل سيّدنا عمر رضي الله عنه – التي تبلغ مجلدات – ما يُغني عن سقيمها وضعيفها، والله أعلم، وصلّى الله على سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه وسلّم

Dan sebagai (tambahan) agar bisa diambil faidahnya, aku (Abu Mu’awiyah al-Beiruti) dapati riwayat berikut:

Ibn Sa’d berkata di kitab ath-Thabaqat al-Kubra (3/293; cetakan Dar Shadir): telah berkabar kepada kami ‘Arim bin al-Fadhl, ia berkata: telah berkabar kepada kami Hammad bin Salamah, ia berkata: telah berkabar kepada kami Humaid, dari Anas bin Malik bahwasanya Hurmuzan melihat ‘Umar bin al-Khaththab sedang berbaring miring di masjid Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Hurmuzan berkata, “Dia ini, demi Allah, adalah raja yang tentram.”

Dan sebagai penutup, alhamdulillah, riwayat-riwayat yang sahih mengenai sayyidina ‘Umar –radhiyallahu ‘anhu– yang jumlahnya mencapai berjilid-jilid, telah mencukupi sehingga tak lagi butuh kepada riwayat-riwayat yang berpenyakit dan lemah, wallahu a’lam. Dan semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepada sayyidina Muhammad dan juga kepada keluarga dan para shahabat beliau …  –SELESAI …

*

**

Tambahan dari saya (Hendra Wibawa Ibn Tato Wangsa Widjaja):

Di kitab Futuh asy-Syam (1/292), al-Waqidi juga menuturkan riwayat lain –yang juga tanpa sanad- sebagai berikut:

… فقام إليه جبلة بن الأيهم وقال: يا عظيم الروم انما قتال هؤلاء العرب بقتل خليفتهم عمر بالمدينة فلو أنت أرسلت إليه رجلا من آل غسان يقتله فيكون سبب فشلهم وانتزاع الشام من أيديهم فقال هرقل: هذا شيء لا يصح امله ولا ينقضي أجله لأن الآجال مقدرة والأنفاس مقررة ولكن هو شيء تطيب النفس عند سماعه فافعل ما أردت قال فأرسل جبلة من قومه رجلا يقال له واثق بن مسافر الغساني وكان جريئا مقداما في الحروب فقال له: انطلق إلى يثرب فلعلك تقتل عمر فإن أنت فعلت ذلك فانا اعطيك ما أردته من الأموال قال فانطلق واثق بن مسافر حتى دخل المدينة ليلا فلما كان الغد صلى عمر بن الخطاب رضي الله عنه بالناس صلاة الصبح ودعا وخرج إلى ظاهر المدينة يتنسم اخبار المجاهدين بالشام قال فسبقه المتنصر وجلس له بأعلى شجرة من حديقة بن الدحداح الأنصاري واستتر بأغصانها ثم أن عمر قام عن ظاهر المدينة حين حميت الرمضاء وعاد وهو وحده فقرب من الحدية ودخلها ونام في ظلها فلما نام هم المتنصر بالنزول من الشجرة وجرد خنجره وإذا هو بأسد أقبل وهو بقدر البقرة الكبيرة وطاف حول عمر وجلس عند قدميه يلحسهما واقام حتى استيقظ فعندها نزل المتنصر وقبل يد عمر قال له: يا عمر قد عدلت فأمنت بأبي والله من الكائنات تحفظه والسباع تحرسه والملائكة تصفه والجن تعرفه ثم حدثه بأمره وأسلم على يديه

… lalu Jabalah bin al-Aiham berdiri dan berkata, “Wahai Pemimpin Agung Romawi, kita hanya bisa melenyapkan orang-orang Arab itu dengan cara membunuh khalifah mereka, ‘Umar, di Madinah. Kalaulah kau mengutus seorang lelaki kepadanya dari kalangan Alu Ghassan untuk membunuhnya, niscaya itu akan menjadi sebab kegagalan mereka (bangsa Arab) sekaligus membuat kita bisa merebut negeri Syam dari tangan mereka.” Maka heraklius berkata, “Pandangan ini merupakan hal yang tak bisa kita harapkan dan kita pastikan keberhasilannya karena semua hal itu telah ditetapkan. Akan tetapi, bagaimana pun, pandangan seperti ini sungguh menentramkan jiwa saat mendengarnya (sehingga memang harus dilakukan). Oleh karena itu, lakukanlah saranmu itu!” Maka Jabalah pun mengutus seseorang dari kaumnya yang bernama Watsiq bin Musafir al-Gahssani yang sangat pemberani dan tak mengenal takut dalam perang. Heraklius berkata kepada Watsiq bin Musafir al-Ghassani, “Pergilah kau ke Yatsrib (Madinah)! Semoga kau bisa membunuh ‘Umar. Jika kau berhasil membunuhnya, aku akan memberikan berapa pun harta yang kau inginkan.” Maka Watsiq bin Musafir pun berangkat hingga memasuki Madinah pada malam hari. Pada pagi harinya, ‘Umar bin al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhu– melaksanakan shalat subuh mengimami manusia. Setelah berdoa, ‘Umar pun pergi ke pinggiran kota Madinah untuk mendapatkan kabar mengenai para mujahidin di negeri Syam. (Melihat hal itu), Watsiq bin Musafir mendahului ‘Umar ke pinggiran kota Madinah dan bersembunyi di atas dahan sebuah pohon yang ada di sebuah taman milik Dahdah al-Anshari. Ketika haris semakin terik, ‘Umar pun beranjak dan memasuki taman itu untuk tidur di bawah naungan pohon (tempat bersembunyi Watsiq bin Musafir). Melihat hal itu, Watsiq bin Musafir pun bermaksud untuk turun dari pohon tempat persembunyiannya seraya menghunus belati yang dibawanya. Akan tetapi, tiba-tiba datanglah ke tempat itu seekor singa sebesar sapi yang besar. Singa itu berjalan mengelilingi ‘Umar, lalu duduk di dekat kaki ‘Umar seraya menjilati kedua kaki ‘Umar sehingga ‘Umar pun terjaga. Pada saat itulah Watsiq bin Musafir turun dari pohon, lalu mencium tangan ‘Umar seraya berkata, “Wahai ‘Umar, sungguh kau telah berlaku adil sehingga kau pun aman. Demi Allah, aku menjadikan ayahku sebagai tebusanmu demi melihat semua makhluk yang menjagamu, binatang-binatang buas yang  melindungimu, para malaikat yang menyifatimu, dan para jin yang mengenalmu.” Selanjutnya, Watsiq bin Musafir menceritakan urusannya, lalu masuk Islam di tangan ‘Umar … -SELESAI …

Sama seperti riwayat al-Waqidi sebelumnya, riwayat ini pun disebutkan tanpa sanad. Oleh karena itu, riwayat atau kisah ini tidaklah sahih dan tidak boleh disandarkan kepada ‘Umar bin al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhu … wallahu a’lam …

Bandung, 30 Juli 2018

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Sunnah yang Ditinggalkan: Shaf Shalat yang Rapat dan Menempel …

Untitled

Syaikh Muhammad bin ‘Umar Bazmul –hafizhahullah …

Kitab: at-Tatimmat li Ba’dhi Masa-il ash-Shalah (hal: 44)

https://www.facebook.com/mohammadbazmool/posts/1713762842075528

Syaikh Muhammad bin ‘Umar Bazmul –hafizhahullah- berkata di kitab at-Tatimmat (hal 44):

فإن قيل: جاء في رواية لحديث النعمان بن بشير أنه قال: [رأيت الرجل يلزق.. ركبته بركبة صاحبه] وهذا غير ممكن، وهو دليل على أن إلصاق المنكب بالمنكب والكعب بالكعب ليس مشروعا!!

Jika ada orang yang mengatakan:

Terdapat sebuah riwayat pada hadist an-Nu’man bin Basyir (tentang meluruskan dan merapatkan shaf ketika shalat berjamaah) bahwasanya an-Nu’man bin Basyir berkata, “Aku melihat seseorang menempelkan lututnya dengan lutut temannya.” Tentu saja menempelkan lutut dengan lutut teman ketika shalat itu tidak mungkin dilakukan, dan hal ini menjadi bukti bahwa sebetulnya menempelkan bahu dengan bahu ketika shalat itu tidaklah disyariatkan. Begitu juga dengan menempelkan mata kaki dengan mata kaki, hal ini tidaklah disyariatkan!

الجواب :
هذه الرواية أخرجها أحمد في المسند (٤/٢٧٦) وأبو داود في (كتاب الصلاة تفريع أبواب الصفوف، حديث رقم ٦٦٢)، والدارقطني في سننه( ٢/٢٨٢_مع التعليق المغني)،وابن خزيمة في صحيحه ( ١/٨٢، حديث رقم ١٣٠) والحديث صححه الألباني في صحيح سنن أبي داود (١/١٣٠)

وعلى كل حال أقول :المقصود سد الخلل، وتعديل الصف، وعدم ترك فرج للشيطان، وذلك في الصلاة جميعها، من قيام، وركوع، وسجود، وجلوس، فلا يترك المسلم خللا بينه وبين أخيه المسلم في الصف.

وأنت إذا تدبرت ذلك، رأيت أن إلزاق الركبة بالركبة ممكنا في حال السجود والجلوس في الصلاة، فتكون الرواية التي فيها : [وركبته بركبة صاحبه] دليل على سنية ذلك في حال السجود والجلوس في الصلاة، حتى لا يترك المسلم فرجة وخللا بينه وبين أخيه المسلم.

فإلزاق المنكب بالمنكب والكعب بالكعب والركبة بالركبة مسنون في جميع الصلاة، في كل حال منها بحسب ما يناسبها، والمقصود أن لا يترك المصلي بينه وبين من يصلي جواره فرجة للشيطان، لا في حال القيام، ولا في حال الركوع، ولا في حال السجود، ولا في حال الجلوس، والله أعلم.

Jawabannya adalah:

Riwayat an-Nu’man bin Basyir tersebut dikeluarkan oleh Ahmad dalam al-Musnad (4/276), Abu Dawud di kitab Shalah, bab Tafri’ Abwab ash-Shufuf (hadits nomor 266), ad-Daraquthni di kitab Sunan (2/282; disertai at-Ta’liq al-Mughni), dan Ibn Khuzaimah di kitab Shahih-nya (1/82; hadits nomor 130). Hadits tersebut disahihkan oleh Syaikh al-Albani di kitab Shahih Sunan Abi Dawud (1/130) …

Bagaimana pun, aku katakan: Maksudnya adalah menutup celah, meluruskan shaf, dan meniadakan celah bagi setan. Dan semua itu dilakukan pada keseluruhan posisi shalat, dari mulai berdiri, rukuk, sujud, dan duduk. Seorang Muslim tidak boleh membiarkan ada celah yang renggang antara dirinya dengan saudaranya dalam shaf shalat (dalam semua keadaan/posisi shalat –pent) …

Kalau saja kau renungkan hal itu, niscaya kamu lihat bahwa menempelkan lutut dengan lutut itu mungkin dilakukan dalam keadaan sujud dan duduk dalam shalat berjamaah. Dengan demikian, riwayat  yang memuat redaksi, “Seseorang menempelkan lututnya dengan lutut temannya,” memang menjadi dalil atas kesunnahan menempelkan lutut dengan lutut dalam keadaan sujud dan duduk dalam shalat, sehingga seorang Muslim tidak membiarkan adanya celah dan kerenggangan di antara dirinya dengan saudaranya (di sepanjang shalat –pent) …

Dengan demikian, menempelkan bahu dengan bahu, mata kaki dengan mata kaki, dan lutut dengan lutut itu memanglah disunnahkan dalam keseluruhan (keadaan/posisi) shalat, pada setiap posisi shalat ada dari hal-hal tersebut yang bisa menempel sesuai dengan keadaan shalat, dan yang dituju adalah agar orang yang shalat tidak membiarkan adanya celah bagi setan di antara dirinya dengan orang yang shalat di sampingnya, baik dalam keadaan berdiri, rukuk, sujud, maupun duduk. Wallahu a’lamu …

Bandung, 1 Juni 2018

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–