Mereka Bilang, Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- Bertobat dari Fatwanya …

Untitled

Berikut ini adalah sebuah kisah yang BATIL –bahkan oleh sebagian kalangan ulama dianggap PALSU, tetapi cukup banyak tersebar di berbagai blog dan situs-situs internet tanpa menyertakan penjelasan mengenai kepalsuan atau kelemahannya -sehingga bisa jadi kisah BATIL ini dianggap benar dan sahih. Kisah ini bertutur tentang Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu– yang bertobat dari fatwanya terhadap perempuan yang melakukan perzinaan lalu membunuh anak hasil zinanya …

*

**

Ibn Quddamah al-Maqdisi –rahimahullah– berkata di Kitab at-Tawwabin (104-105):

وقرأت في تنبيه الغافلين عن أبي هريرة، قال: خرجت ذات ليلة بعد ما صليت العشاء مع رسول الله صلى الله عليه وسلم، فإذا أنا بامرأة متنقبة قائمة على الطريق، فقالت: يا أبا هريرة، إني قد ارتكبت ذنبا عظيما، فهل لي من توبة؟ فقلت: وما ذنبك؟ قالت: إني زنيت، وقتلت ولدي من الزنا، فقلت لها: هلكت، وأهلكت، والله مالك من توبة، فشهقت شهقة خرت مغشيا عليها ومضيت، فقلت في نفسي: أفتي ورسول الله صلى الله عليه وسلم بين أظهرنا، فلما أصبحت غدوت إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، وقلت :يا رسول الله، إن امرأة استفتتني البارحة بكذا وكذا، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إنا لله وإنا إليه راجعون، أنت والله هلكت وأهلكت، أين كنت عن هذه الآية : وَالَّذِينَ لا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ وَلا يَزْنُونَ إلى قوله :فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا سورة الفرقان آية ٦٨-٧٠ قال: فخرجت من عند رسول الله صلى الله عليه وسلم، وأنا أعدو في سكك المدينة، وأقول: من يدلني على امرأة استفتتني البارحة كذا وكذا، والصبيان يقولون: جن أبو هريرة حتى إذا كان الليل لقيتها في ذلك الموطن، فأعلمتها بقول رسول الله صلى الله عليه وسلم، وأن لها التوبة، فشهقت شهقة من السرور، وقالت: إن لي حديقة وهي صدقة للمساكين لذنبي

Aku membaca –sebuah kisah- di kitab Tanbih al-Ghafilin, yang bersumber dari Abu Hurairah, ia berkata:

Pada suatu malam, aku berjalan di luar selepas melaksanakan shalat Isya bersama Rasululllah –shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba aku bertemu dengan seorang perempuan bercadar yang tengah berdiri di jalan. Perempuan itu berkata, “Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya aku telah melakukan suatu dosa besar. Apakah masih terbuka pintu tobat bagiku?” Maka aku pun bertanya, “Memangnya dosa apa yang kauperbuat?” Perempuan itu menjawab, “Aku telah berzina dan membunuh pula anak dari hasil perzinaanku.” Aku berkata kepada perempuan itu, “Kau telah binasa dan membinasakan! Demi Allah, tak terbuka lagi pintu tobat bagimu!” (Segera setelah mendengar ucapanku), perempuan itu menjerit dengan keras, lalu jatuh pingsan. Aku pun berlalu dari situ, lalu berkata-kata sendiri dalam hati, “Aku telah –berani- berfatwa sementara Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- masih ada di tengah-tengah kami.” Maka, pada keesokan paginya, aku segera mendatangi Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dan berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kemarin ada seorang perempuan yang meminta fatwa kepadaku begini dan begitu (lalu aku menjawabnya begini dan begitu).” Maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Engkau, demi Allah, wahai Abu Hurairah, telah binasa dan membinasakan! Di mana posisimu dari ayat ini?” (Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– membacakan ayat berikut), Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (untuk membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barangsiapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat pembalasan (dosa)nya. (Yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal salih, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Furqan:68-70). Aku pun keluar dari tempat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, berlari di lorong-lorong kota Madinah seraya terus bertanya-tanya, “Siapa yang bisa menunjukkan aku kepada perempuan yang kemarin meminta fatwa kepadaku begini dan begitu?” Sementara anak-anak kecil yang melihatku pada berkata, “Abu Hurairah telah gila!” Akhirnya, ketika malam tiba, aku pun mendapati perempuan itu di tempat kemarin. Maka aku pun memberitahukan kepadanya tentang ucapan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bahwa pintu tobat masih terbuka untuknya. Lantas, saking gembiranya, perempuan itu menjerit dengan keras seraya berkata, “Sesungguhnya aku mempunyai sebidang kebun, dan kini kebun itu (menjadi) sedekahku bagi orang-orang miskin untuk menebus dosaku.” … –SELESAI …

Bisa dilihat bahwa Ibn Quddamah al-Maqdisi hanya menyebutkan sumber penukilan kisah tersebut, yakni dari kitab Tanbih al-Ghafilin karya Abu al-Laits as-Samarqandi. Akan tetapi, beliau tidak menyebutkan sanad bagi kisah tersebut. Jika kita membuka kitab Tanbih al-Ghafilin, maka akan kita dapati bahwa Abu al-Laits as-Samarqandi menyebutkan sanadnya sebagai berikut:

حَدَّثَنَا أَبِي رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى، حَدَّثَنَا أَبُو الْحُسَيْنِ الْفَرَّاءُ، عَنْ أَبِي بَكْرٍ بِإِسْنَادِهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ، قَالَ … –وساق القصة …

Telah bercerita kepada kami ayahku –rahimahullah ta’ala, telah bercerita kepada kami Abu al-Husain al-Farra’, dari Abu Bakr dengan sanadnya yang bersumber dari Abu Hurairah … -kemudian beliau menyebutkan kisahnya (yakni kisah sebagaimana yang telah dituliskan di atas) …

Bisa dilihat bahwa sanad tersebut tidaklah tersambung kepada Abu Hurairah, bahkan terdapat keterputusan mata rantai perawi di antara Abu Bakr dengan Abu Hurairah. Tidak diketahui berapa orang perawi yang gugur dalam sanad tersebut. Hanya saja, bisa diperkirakan bahwa jarak di antara masa kehidupan perawi Abu Bakr dengan Abu Hurairah sangatlah jauh, dan ini –tentu saja- mengartikan bahwa di antara keduanya terdapat banyak perawi yang gugur (yakni tidak disebutkan). Dengan demikian, kisah dengan sanad yang demikian tidaklah memiliki validitas dan tentu tidak dapat diterima …

Adakah orang lain yang membawakan (mengeluarkan) kisah ini lengkap dengan sanadnya hingga tersambung kepada Abu Hurairah? Ada, yaitu Imam al-‘Uqaili –rahimahullah– di kitab adh-Dhu’afa al-Kabir (3/380), ketika menyebutkan tarjamah ‘Isa bin Syu’aib bin Tsauban. Imam al-‘Uqaili berkata sebagai berikut:

حدثنا محمد بن إسماعيل، قال: أخبرنا إبراهيم بن المنذر، قال: حدثنا عيسى بن شعيب بن ثوبان، مولى بني الدئل عن فليح، عن عبيد بن أبي عبيد، عن أبي هريرة، قال: صليت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم العتمة، ثم انصرفت فإذا امرأة عند بابي، فسلمت ثم فتحت ودخلت، فبينما أنا في مسجدي أصلي إذ نقرت الباب فأذنت لها فدخلت، فقالت: إني جئت أسألك عن عمل عملته هل له من توبة؟ قالت: إني زنيت وولدته وقتلته، فقلت لها: ولا نعمة عين، ولا كرامة، فقامت وهي تدعو بالحيرة، وتقول: واحسرتاه، أخلق هذا الجسد للنار، قال: ثم صليت مع النبي الله صلى الله عليه وسلم الصبح من تلك الليلة، ثم جلسنا ننتظر الإذن عليه، فأذن لنا، فدخلنا، ثم خرج من كان معي وتخلفت، قال: ما لك يا أبا هريرة؟ ألك حاجة ؟ فقلت: يا رسول الله، صليت معك العتمة ثم انصرفت، فقصصت عليه ما قالت المرأة، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: ما قلت لها؟ قال: قلت لها: ولا نعمة عين ولا كرامة، فقال النبي الله صلى الله عليه وسلم: بئس ما قلت لها، أما كنت تقرأ هذه الآية :والذين لا يدعون مع الله إلها آخر ولا يقتلون النفس التي حرم الله إلا بالحق سورة الفرقان آية ٦٨، قال أبو هريرة: فخرجت فلم أترك بالمدينة خصا ولا دارا إلا وقعت عليها، فقلت : إن يكن منكم المرأة التي جاءت إلى أبي هريرة البارحة فلتأتني ولتستبشر، فلما صليت مع النبي العتمة فإذا هي عند بابي، فقلت لها: أبشري، فإني قد دخلت على رسول الله صلى الله عليه وسلم، فذكرت له ما قلت وما قلت لك، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: بئس ما قلت لها، أما تقرأ هذه الآية، فقرأتها عليها، فخرت ساجدة، وقالت: الحمد لله الذي جعل لي مخرجا وتوبة مما عملت، إن هذه الجارية وابنها حران لوجه الله، وإني قد تبت مما عملت

 

Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Isma’il, ia berkata: telah berkabar kepada kami Ibrahim bin al-Mundzir, ia berkata: telah bercerita kepada kami ‘Isa bin Syu’aib bin Tsauban, Maula Bani ad-Du-il, dari Fulaih, dari ‘Ubaid bin Abi ‘Ubaid, dari Abu Hurairah, ia berkata:

Aku shalat Isya bersama Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian selepas shalat aku beranjak dan mendapati seorang perempuan berada di dekat pintuku. Aku pun berucap salam, membuka pintu, dan masuk ke dalam. Ketika aku sedang shalat di tempatku, perempuan tadi itu mengetuk pintuku. Aku mengizinkannya masuk, dan setelah ia masuk, ia berkata, “Sesungguhnya aku mendatangimu untuk bertanya tentang perbuatan yang telah kulakukan. Apakah pintu tobat masih terbuka untuk hal yang telah kuperbuat itu? Sesungguhnya aku telah berzina dan melahirkan anak dari perzinaanku itu, lalu aku membunuh anak itu. Apakah masih ada pintu tobat untukku?” Aku pun berkata kepadanya, “Tiada kebahagiaan dan kemurahan untukmu!” Perempuan itu pun pergi dari tempatku, berlari penuh kesedihan dan penyesalan seraya berkata, “Aduhai malang nian nasibku. Apakah tubuhku ini memang diciptakan untuk neraka?” Kemudian aku shalat Subuh bersama Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selepas shalat, kami duduk menunggu izin untuk bisa menemui beliau. Tak lama kemudian, kami diizinkan untuk menemui beliau. Setelah orang yang bersamaku selesai dari urusannya dengan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam, tibalah giliranku untuk menemui beliau. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bertanya kepadaku, “Ada apa denganmu, wahai Abu Hurairah? Ada keperluan apa?” Aku berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, tadi malam aku shalat Isya bersamamu, kemudian aku pergi dan …,” lalu kuceritakanlah kepada beliau apa yang dikatakan oleh perempuan itu. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bertanya lagi, “Lantas apa yang kau katakan kepadanya?” Aku menjawab, “Tiada kebahagian dan kemurahan bagimu.” Maka Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Betapa buruk apa yang kau katakan kepadanya itu! Apakah kau tidak membaca ayat ini?” Beliau membacakan ayat, ““Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (untuk membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar.” (QS. al-Furqan:68).  Aku pun keluar dari tempat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak ada satu gubug dan rumah pun di Madinah kecuali kudatangi seraya berkata, “Jika ada di antara kalian perempuan yang kemarin mendatangi Abu Hurairah, hendaklah ia mendatangiku dan bergembira!” Kemudian, tatkala aku telah shalat Isya bersama Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam, kudapati perempuan yang kemarin itu di depan pintuku. Maka aku pun berkata kepadanya, “Bergembiralah kau! Sesungguhnya aku telah mendatangi Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan kuceritakanlah kepada beliau apa yang telah kaukatakan dan juga apa yang telah kukatakan kepadamu. Maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengatakan bahwa ucapan yang kukatakan kepadamu itu sangatlah buruk, dan beliau mengatakan apakah aku tidak membaca ayat ini?” Kubacakanlah kepada perempuan tersebut ayat yang dibaca oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Mendengar itu), perempuan itu lantas menjatuhkan diri dengan bersujud seraya berucap, “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan untukku jalan keluar dan pintu tobat dari perbuatan dosa yang telah kuperbuat. Sesungguhnya hamba sahaya milikku ini beserta anaknya, keduanya telah merdeka. Aku membebaskan keduanya demi wajah Allah. Dan sungguh aku benar-benar bertobat dari dosa yang telah kulakukan.” … -SELESAI …

Demikianlah sanad yang dikeluarkan oleh Imam al-‘Uqaili di kitab adh-Dhu’afa al-Kabir bagi kisah tersebut. Ternyata sanadnya tidaklah sahih. Imam al-‘Uqaili sendiri mengatakan:

عيسى بن شعيب بن ثوبان عن فليح لا يتابع على حديثه هذا، وعبيد بن أبي عبيد مجهول …

‘Isa bin Syu’aib bin Tsauban, dari Fulaih tidak punya penyerta bagi haditsnya ini, sedangkan ‘Ubaid bin Abi ‘Ubaid adalah perawi majhul … -SELESAI …

Imam Ibn al-Jauzi –rahimahullah– turut pula mengeluarkan kisah ini di kitab al-Maudhu’at (1/121) dari jalan Imam al-‘Uqaili tersebut di atas. Beliau (Imam Ibn al-Jauzi) berkomentar mengenai kisah ini sebagai berikut:

هذا حديث لا يصح عن رسول الله صلى الله عليه وسلم. قال العقيلي: عيسى بن شعيب بن ثوبان عن فليح لا يتابع على حديثه هذا، وعبيد بن أبي عبيد مجهول، وقال ابن حبان: عيسى متروك …

Hadits ini tidaklah sahih berasal dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam. Imam al-‘Uqaili berkata, “’Isa bin Syu’aib bin Tsauban dari Fulaih tidak punya penyerta bagi hadits ini, sedangkan ‘Ubaid bin Abi ‘Ubaid adalah perawi majhul.” Adapun Imam Ibn Hibban, beliau berkata, “’Isa itu matruk.” … –SELESAI …

 

Ibn ‘Iraq al-Kinani berkata di kitab Tanzih asy-Syari’ah (1/94) berkata:

عيسى بن شعيب بن ثوبان المدني عن فليح الشماسي لا يعرف روى خبرا باطلا …

‘Isa bin Syu’aib bin Tsauban al-Madani dari Fulaih asy-Syamasi merupakan perawi yang tidak dikenal, ia meriwayatkan kabar yang batil … -SELESAI …

Di tempat lain, pada kitab yang sama (2/283), Ibn ‘Iraq al-Kinani berkata setelah membawakan kisah tersebut di atas:

ليس في هذا ما يقتضي الحكم على الحديث بالوضع وعيسى قال فيه الحافظ ابن حجر في التقريب : فيه لين، واصطلاح الحافظ في التقريب أن يعبر بهذه العبارة فيمن ليس له من الحديث إلا القليل، ولم يثبت فيه ما يترك حديثه من أجله، ولم يتابع على حديثه، وعبيد بن أبي عبيد ذكر الحافظ في لسان الميزان أنه روى عنه عاصم بن عبيد الله، والراوي عنه في هذا الخبر: فليح، فقد زالت جهالة عينه، وبقيت جهالة حاله فيكون مستورا، لكن الذهبي صرح في الميزان بأن الخبر موضوع، والله تعالى أعلم

Tidak ada alasan yang bisa menjadikan hadits ini dihukumi palsu. ‘Isa bin Syu’aib dikatakan oleh al-Hafizh Ibn Hajar di kitab at-Taqrib, “Pada dirinya terdapat kelemahan,” dan ungkapan tersebut digunakan oleh Ibn Hajar di kitab at-Taqrib bagi perawi yang tak memiliki hadits kecuali sedikit dan ia pun tidak memiliki penyerta bagi haditsnya, tetapi tidaklah ada alasan yang kuat bahwa pada dirinya ada sesuatu yang membuat haditsnya ditinggalkan dengan sebab dirinya. Adapun ‘Ubaid bin Abi ‘Ubaid, al-Hadizh menyebutkannya di kitab Lisan al-Mizan bahwasanya  orang yang meriwayatkan darinya adalah ‘Ashim bin ‘Ubaidillah, sedangkan yang meriwayatkan darinya dalam kisah ini adalah Fulaih. Dengan demikian, hilanglah majhul ‘ain dari ‘Ubaid bin Abi ‘Ubaid, tetapi masih tersisa majhul hal pada dirinya sehingga ia pun merupakan perawi yang mastur. Akan tetapi, Imam adz-Dzahabi menegaskan di kitab Mizan al-I’tidal bahwa riwayat ini adalah palsu, wallahu ta’ala a’lam … -SELESAI …

Dengan melihat penjelasan dan penilaian para ulama tersebut, bisa dikatakan bahwa riwayat dengan kisah tersebut merupakan riwayat yang tidak sahih, yakni merupakan riwayat yang BATIL atau paling tidak merupakan riwayat yang SANGAT LEMAH. Akan tetapi, sebagaimana ucapan Ibn al-‘Iraq al-Kinani barusan, Imam adz-Dzahabi –rahimahullah– telah menegaskan bahwa riwayat tersebut merupakan riwayat yang PALSU. Adapun penegasan Imam adz-Dzahabi tersebut dapat kita lihat di kitab Mizan al-I’tidal (5/378), yaitu pada tarjamah ‘Isa bin Syu’aib bin Tsauban al-Madani sebagai berikut:

عيسى بن شعيب بن ثوبان المدني مولى بني الدئل لا يعرف روى عن فليح الشماسى، عن عبيد بن أبي عبيد، عن أبي هريرة، قال: … وهذا خبر موضوع رواه إبراهيم بن المنذر الحزامي، عن عيسى هذا …

‘Isa bin Syu’aib bin Tsauban al-Madani, Maula Bani ad-Du-il, tidaklah dikenal. Ia meriwayatkan dari Fulaih asy-Syamasi, dari ‘Ubaid bin Abi ‘Ubaid, dari Abu Hurairah, ia berkata: … -lalu imam adz-Dzahabi menyebutkan kisah sebagaimana di atas lalu berkata, “Dan ini merupakan riwayat yang PALSU. Ibrahim bin al-Mundzir al-Hizami meriwayatkannya dari ‘Isa bin Syu’aib ini.” … -SELESAI …

Bandung, 20 Juni 2017

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

Benarkah Ini yang Menyebabkan Imam al-Bukhari Menghimpun Kitab Shahih?

Untitled

Ibn Hajar al-‘Asqalani –rahimahullah– berkata di mukadimah Shahih al-Bukhari (Hadyu as-Sari):

 أخبرنا أبو العباس أحمد بن عمر اللؤلؤي عن الحافظ أبي الحجاج المزي أخبرنا يوسف بن يعقوب أخبرنا أبو اليمن الكندي أخبرنا أبو منصور القزاز أخبرنا الحافظ أبو بكر الخطيب أخبرني محمد بن أحمد بن يعقوب أخبرنا محمد بن نعيم سمعت خلف بن محمد البخاري بها يقول سمعت إبراهيم بن معقل النسفي يقول قال أبو عبد الله محمد بن إسماعيل البخاري كنا عند إسحاق بن راهويه فقال لو جمعتم كتابا مختصرا لصحيح سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم قال فوقع ذلك في قلبي فأخذت في جمع الجامع الصحيح

Telah mengabarkan kepadaku Abu al-‘Abbas Ahmad bin ‘Umar al-Lu’lu-I, dari al-Hafizh Abu al-Hajjaj al-Mizzi, telah berkabar kepada kami Yusuf bin Ya’qub, telah berkabar kepada kami Abu al-Yaman al-Kindi, telah berkabar kepada kami Abu Manshur al-Qazzaz, telah berkabar kepada kami al-Hafizh Abu Bakr al-Khathib (Imam al-Khathib al-Baghdadi), telah berkabar kepadaku Muhammad bin Ahmad bin Ya’qub, telah berkabar kepada kami Muhammad bin Nu’aim: aku mendengar Khalaf bin Muhammad al-Bukhari mengatakan: Aku mendengar Ibrahim bin Ma’qil an-Nasfi berkata: Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma’il (Imam al-Bukhari) berkata:

Kami sedang duduk di dekat Ishaq bin Rahawaih, lali ia berkata (kepada kami), “Seandainya saja kalian menghimpun sebuah kitab yang ringkas yang memuat hadits yang sahih saja dari Sunnah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Maka ucapan itu bersemayam di hatiku, lalu aku mulai menghimpun kitab al-Jami’ ash-Shahih (Shahih al-Bukhari) … -SELESAI …

Riwayat yang dikemukakan oleh Ibn Hajar itu berasal dari Imam al-Khathib al-Baghdadi dengan sanadnya yang melalui perawi Khalaf bin Muhammad al-Bukhari. Sementara Khalaf bin Muhammad al-Bukhari itu merupakan perawi yang sangat lemah. Selanjutnya –di bawah ini- saya nukilkan penjelasan mengenai ketidaksahihan riwayat ini dan juga dua riwayat lainnya mengenai Imam al-Bukhari:

*

**

Tiga Kabar yang Masyhur tentang Imam al-Bukhari tetapi Tidak Sahih …

sumber: http://alkulify.blogspot.co.id/2013/11/blog-post_5964.html

Syaikh Abu Ja’far ‘Abdullah bin Fahd al-Khulifi berkata:

فهنا ثلاثة أخبار مشهورة في ترجمة الإمام محمد بن إسماعيل البخاري – رحمه الله – لا تثبت

أولها : الخبر الذي فيه سبب تصنيفه للصحيح

ثانيها : خبر ذهاب بصره ورؤية أمه لنبي الله إبراهيم في المنام

ثالثها : ثناء الخفاف عليه وتفضيله له على أحمد ابن حنبل وإسحاق بن راهوية

Ada tiga riwayat yang sangat masyhur dalam biografi Imam Muhammad bin Isma’il al-Bukhari –rahimahullah– yang tidak sahih …

PERTAMA: riwayat tentang hal yang menyebabkan Imam al-Bukhari menulis kitab Shahih-nya …

KEDUA: riwayat yang menyebutkan bahwa Imam al-Bukhari kehilangan penglihatannya –di waktu kecil, dan ibunya bermimpi melihat Nabi Ibrahim (yang mengabarkan tentang kesembuhan penglihatan Imam al-Bukhari) …

KETIGA: pujian Abu ‘Amr al-Khaffaf terhadap al-Bukhari, dan bahwa Imam al-Bukhari lebih utama dibandingkan Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahawaih …

قال الخطيب في تاريخ بغداد (2/9) أخبرني محمد بن احمد بن يعقوب قال أنبأنا محمد بن نعيم الضبي قال سمعت خلف بن محمد بن إسماعيل البخاري يقول سمعت إبراهيم بن معقل النسفي يقول سمعت أبا عبد الله محمد بن إسماعيل يقول :

كنت عند إسحاق بن راهويه فقال لنا بعض أصحابنا لو جمعتم كتابا مختصرا لسنن النبي صلى الله عليه و سلم فوقع ذلك في قلبي فاخذت في جمع هذا الكتاب يعنى كتاب الجامع .

(UNTUK RIWAYAT PERTAMA) Imam al-Khathib berkata di kitab Tarikh Baghdad (2/9):

Telah berkabar kepadaku Muhammad bin Ahmad bin Ya’qub, ia berkata: telah bertutur kepadaku Muhammad bin Nu’aim adh-Dhabi, ia berkata: Aku mendengar Khalaf bin Muhammad bin Isma’il al-Bukhari berkata: Aku mendengar Ibrahim bin Ma’qil an-Nasfi berkata: Aku mendengar Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma’il berkata:

Aku sedang duduk di dekat Ishaq bin Rahawaih, lalu sebagian di antara sahabat-shabat kami berkata, “Seandainya saja kalian menghimpun sebuah kitab yang ringkas mengenai sunnah-sunnah Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Maka ucapan itu pun bersemayam di hatiku, lalu aku mulai menghimpun kitab ini –yakni kitab Shahih al-Bukhari

وقال أيضاً (2/10) : نبأنا على بن محمد بن الحسين الفقيه قال نبأنا خلف بن محمد بن الخيام قال سمعت أبا محمد المؤذن عبد الله بن محمد بن إسحاق السمسار يقول سمعت شيخى يقول : ذهبت عينا محمد بن إسماعيل في صغره فرأت والدته في المنام إبراهيم الخليل عليه السلام فقال لها يا هذه قد رد الله على ابنك بصره لكثرة بكائك أو لكثرة دعائك قال فأصبح وقد رد الله عليه بصره .

(UNTUK RIWAYAT KEDUA) Imam al-Khathib berkata di kitab Tarikh Baghdad (2/10):

Telah bertutur kepada kami ‘Ali bin Muhammad bin al-Husain al-Faqih, ia berkata: telah bertutur kepada kami Khalaf bin Muhammad bin al-Khayyam, ia berkata: Aku mendengar Abu Muhammad al-Mu-adzdzin ‘Abdullah bin Muhammad bin Ishaq as-Samsar berkata: Aku mendengar guruku berkata:

Muhammad bin Isma’il (Imam al-Bukhari) kehilangan kedua penglihatannya pada waktu kecil, lalu ibunya bermimpi bertemu dengan Nabi Ibrahim al-Khalil –‘alaihi as-salam- yang berkata kepadanya, “Wahai Nyonya, sungguh Allah telah mengembalikan penglihatan anakmu lantaran begitu banyaknya kau menangis atau begitu banyaknya kau berdoa -untuk kesembuhan anakmu.” Maka pada pagi harinya, Allah benar-benar telah memulihkan penglihatan Imam al-Bukhari kecil …

وقال أيضاً (2/27) : أخبرني الحسن بن محمد الأشقر قال أنبأنا محمد بن أبي بكر قال أنبأنا خلف بن محمد قال سمعت أبا عمرو احمد بن نصر الخفاف يقول : محمد بن إسماعيل اعلم في الحديث من إسحاق بن راهويه وأحمد بن حنبل وغيره بعشرين درجة قال أبو عمرو الخفاف ومن قال في محمد بن إسماعيل شيئا فمني عليه ألف لعنة .

(UNTUK RIWAYAT KETIGA) Imam al-Khathib berkata di kitab Tarikh Baghdad (2/27):

Telah berkabar kepadaku al-Hasan bin Muhammad al-Asyqar, ia berkata: telah bertutur kepada kami Muhammad bin Abi Bakr, ia berkata: telah bertutur kepada kami Khalaf bin Muhammad, ia berkata:

Aku mendengar Abu ‘Amr Ahmad bin Nashr al-Khaffaf berkata, “Muhammad bin Isma’il (Imam al-Bukhari) jauh lebih ‘alim hingga dua puluh tingkat dalam bidang hadits dibandingkan dengan Ishaq bin Rahawaih dan Ahmad bin Hanbal.” Dan Abu ‘Amr al-Khaffaf juga berkata, “Siapa yang mengatakan sesuatu yang buruk tentang Muhammad bin Isma’il, maka dariku terhadapnya seribu laknat.”

أقول : وعلة هذه الأخبار الثلاثة واحدة ، وهي أنها من رواية خلف بن محمد بن إسماعيل الخيام البخاري

قال الخليلي في الإرشاد ( ترجمة رقم 901) :” أبو صالح خلف بن محمد بن إسماعيل البخاري كان له حفظ ومعرفة وهو ضعيف جدا روى في الأبواب تراجم لا يتابع عليها وكذلك متونا لا تعرف. سمعت ابن ابي زرعة والحاكم ابا عبد الله الحافظين يقولان كتبنا عنه الكثير ونبرأ من عهدته وإنما كتبنا عنه للاعتبار

حدثني محمد بن عبد الله الحاكم اخبرنا خلف بن محمد بن إسماعيل البخاري حدثنا ابو هارون سهل بن شاذويه حدثنا نصر بن الحسين أخبرنا غنجار حدثنا عبيد الله العتكي ابو منيب المروزي عن ابي الزبير عن جابر قال نهى رسول الله صلى الله عليه و سلم عن المواقعة قبل الملاعبة

سمعت الحاكم بعقب هذا الحديث يقول :  خذل خلف بهذا وبغيره “

Aku (Abu Ja’far ‘Abdullah bin Fahd al-Khulifi) katakan, yang menjadi ‘illat (penyakit) bagi ketiga riwayat tersebut hanyalah satu, yaitu bahwa riwayat-riwayat tersebut berasal dari periwayatan Khalaf bin Muhammad bin Isma’il al-Khayyam al-Bukhari …

Abu Ya’la al-Khalili berkata di kitab al-Irsyad (pada tarjamah no. 901): Abu Shalih Khlaf bin Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, dulunya punya hafalan dan pengetahuan. Dia seorang yang dha’if jiddan (sangat lemah). Ia meriwayatkan dalam banyak bab-bab biografi tanpa memiliki penyerta, demikian juga periwayatannya akan matan-matan yang tak dikenal. Aku mendengar Ibn Abi Zur’ah dan al-Hakim Abu ‘Abdillah sama berkata –dan mereka adalah dua orang hafizh, “Kami memang banyak menulis riwayat darinya, tetapi kami terbebas dari tanggung jawab atas kelemahannya. Hanyalah kami menulis riwayat darinya sebagai i’tibar saja.” Telah bercerita kepada kami Muhammad bin ‘Abdillah al-Hakim, telah berkabar kepada kami Khalaf bin Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, telah bercerita kepada kami Abu Harun Sahl bin Syadzawaih, telah bercerita kepada kami Nashr bin al-Husain, telah berkabar kepada kami Ghunjar, telah bercerita kepada kami ‘Ubaidullah al-‘Ataki Abu Munib al-Marwazi, dari Abu az-Zubair, dari Jabir, ia berkata, “Rasulullah –shallalahu ‘alaihi wa sallam- telah melarang untuk bersetubuh sebelum melakukan pemanasan.” Aku mendengar al-Hakim mengomentari hadits ini, “Khalaf tak didukung dengan hadits ini, juga dengan riwayat lainnya.” –SELESAI …

Bandung, 10 Juni 2017

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Ketidaksahihan Kisah Ahmad bin Hanbal, Ibn Ma’in, dan Si Tukang Cerita …

untitled

Kisah yang akan disebutkan di bawah ini sangatlah terkenal, dan biasa dikemukakan dalam buku-buku yang membahas tentang hadits-hadits palsu. Akan tetapi, sebetulnya, kisah ini sendiri tidaklah sahih …

Imam adz-Dzahabi –rahimahullah– menuturkan kisah tersebut seraya memberikan penilaian tentang ketidaksahihannya di kitab Siyar A’lam an-Nubala’ (11/300) sebagai berikut:

 

البيهقي: أخبرنا أبو عبد الله الحافظ، حدثنا الزبير بن عبد الواحد الحافظ، حدثنا إبراهيم بن عبد الواحد البلدي، سمعت جعفر بن محمد الطيالسي يقول: صلى أحمد بن حنبل ويحيى بن معين في مسجد الرصافة، فقام قاص، فقال: حدثنا أحمد بن حنبل ويحيى بن معين قالا: حدثنا عبد الرزاق، حدثنا معمر، عن قتادة، عن أنس قال: رسول الله – صلى الله عليه وسلم :من قال: لا إله إلا الله، خلق الله من كل كلمة طيرا، منقاره من ذهب، وريشه من مرجان وأخذ في قصة نحوا من عشرين ورقة، وجعل أحمد ينظر إلى يحيى، ويحيى ينظر إلى أحمد، فقال: أنت، حدثته بهذا؟ فيقول: والله ما سمعت به إلا الساعة. فسكتا حتى فرغ، وأخذ قطاعه، فقال له يحيى بيده: أن تعال. فجاء متوهما لنوال. فقال: من حدثك بهذا؟ فقال :أحمد وابن معين. فقال: أنا يحيى، وهذا أحمد، ما سمعنا بهذا قط. فإن كان ولا بد والكذب، فعلى غيرنا. فقال: أنت يحيى بن معين؟ قال: نعم. قال: لم أزل أسمع أن يحيى بن معين أحمق، ما علمت إلا الساعة. كأن ليس في الدنيا يحيى بن معين، وأحمدبن حنبل غيركما. كتبت عن سبعة عشر أحمد بن حنبل، ويحيى بن معين غيركما. فوضع أحمد كمه على وجهه، وقال: دعه يقوم، فقام كالمستهزئ بهما

 

Imam al-Baihaqi berkata: telah berkabar kepada kami Abu ‘Abdillah al-Hafizh: telah bercerita kepada kami az-Zubair bin ‘Abd al-Wahid al-Hafizh: telah bercerita kepada kami Ibrahim bin ‘Abd al-Wahid al-Baladi: aku mendengar Ja’far bin Muhammad ath-Thayalisi berkata:

Imam Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in shalat di Masjid ar-Rushafah. (Seusai shalat), berdirilah seorang tukang cerita, lalu berkata, “Telah bercerita kepada kami Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in. Keduanya mengatakan telah bercerita kepada kami ‘Abd ar-Razzaq, telah bercerita kepada kami Ma’mar, dari Qatadah, dari Anas yang mengatakan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengatakan barangsiapa yang mengucapkan laa ilaaha illallaah, Allah pun menciptakan dari setiap kalimat itu seekor burung yang paruhnya dari emas dan bulunya dari mutiara.” Tukang cerita itu terus bertutur hingga menghabiskan sekitar dua puluh halaman. (Mendengar itu), Ahmad bin Hanbal memandang Yahya bin Ma’in dan Yahya bin Ma’in pun memandang Ahmad bin Hanbal, lalu (salah seorang dari keduanya) berkata, “Kau meriwayatkan hadits ini kepadanya?”  (Yang ditanya) menjawab, “Demi Allah, aku belum pernah mendengar hadits ini kecuali sekarang.” Lalu keduanya terdiam (menyimak) sampai si tukang cerita itu selesai berkisah dan mengambil upah dari para pendengar. (Setelah itu), Yahya bin Ma’in memberi isyarat kepada si tukang cerita itu agar mendekat. Si tukang cerita itu pun mendekati Yahya bin Ma’in seraya menyangka bahwa ia akan diberi upah. Yahya bin Ma’in berkata, “Siapa yang meriwayatkan hadits tadi kepadamu?” Ia pun menjawab, “Ahmad dan Ibn Ma’in.” Maka Yahya bin Ma’in berkata, “Akulah Yahya bin Ma’in dan ini Ahmad bin Hanbal. Kami berdua sama sekali tidak pernah mendengar hadits yang kausebutkan tadi (sehingga tidak mungkin kau mendapatkannya dari kami). Jika memang itu merupakan kedustaan, maka tanggung jawabnya atas selain kami berdua.” Lalu si tukang cerita itu berkata, “Kau ini Yahya bin Ma’in?” Yahya bin Ma’in menjawab, “Iya.” Si tukang cerita itu berkata lagi, “Memang senantiasa kudengar bahwa Yahya bin Ma’in itu seorang yang pandir. Akan tetapi, tidaklah aku mengetahui (kebenaran omongan tentang kepandiranmu itu) kecuali saat ini. Seakan-akan (menurutmu) di dunia ini tak ada Yahya bin Ma’in dan Ahmad bin Hanbal lain selain kalian berdua. Aku telah menulis (hadits) dari tujuh belas orang Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in lain yang bukan kalian berdua.” (Mendengar itu), Ahmad bin Hanbal menutupkan lengan bajunya ke wajah seraya berkata, “Biarkan saja ia pergi.” Lalu si tukang cerita itu beranjak pergi tak ubahnya orang yang mencemooh Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in …

 

Kemudian Imam adz-Dzahabi berkomentar mengenai ketidaksahihan kisah tersebut:

 

هذه الحكاية اشتهرت على ألسنة الجماعة، وهي باطلة . أظن البلدي وضعها وَيعرف بالمعصوب

 

“Kisah ini sangat populer di lisan-lisan banyak orang, dan ini merupakan kisah yang batil. Aku menduga yang mengarang kisah ini (yakni yang memalsukan) adalah Ibrahim bin ‘Abd al-Wahid al-Baladi yang dikenal sebagai al-Ma’shub.”

 

Masih di kitab yang sama (11/86), Imam adz-Dzahabi berkata tentang kisah tersebut dan juga tentang Ibrahim bin ‘Abd al-Wahid al-Baladi al-Bakri, periwayat kisah tersebut:

 

هذه حكاية عجيبة، وراويها البكري لا أعرفه، فأخاف أن يكون وضعها …

 

“Kisah ini menankjubkan, sementara periwayatnya adalah al-Bakri, aku tak mengetahuinya. Aku takut dialah yang mengarang kisah ini (yakni yang memalsukannya).” –SELESAI …

 

Kisah di atas itu bisa dikeluarkan juga oleh Ibn Hibban di mukadimah kitab al-Majruhin (1/85), al-Khathib al-Baghdadi di kitab al-Jami’ li Akhlaq ar-Rawi (2/239-240), Ibn al-Jauzi di mukadimah kitab al-Maudhu’at (1/46) dan kitab al-Qushshosh wa al-Mudzakkirin (303-304; nomor 164), dan juga al-Hakim di kitab al-Madkhal  (142; nomor 49). Akan tetapi, semua pengisahan itu melewati periwayat Ibrahim bin ‘Abd al-Wahid al-Baladi al-Bakri yang telah dijelaskan oleh Imam adz-Dzahabi –rahimahullah

 

Imam adz-Dzahabi juga berkata di kitab Mizan al-I’tidal (1/47) mengenai Ibrahim bin ‘Abd al-Wahid al-Baladi al-Bakri ini :

 

لا أدري من هو ذا، أتى بحكاية منكرة أخاف أن لا تكون (إلا) من وضعه …

 

“Aku tak tahu siapa Ibrahim bin ‘Abd al-Wahid al-Baladi al-Bakri ini. Ia membawa hikayat yang mungkar. Aku takut bahwa tidaklah kisah ini kecuali hasil pemalsuannya.”

 

 

Bandung, 7 Desember 2016

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–