Terpatahkan …

Jiwa meretak di satu malam ketika kau memulai kata dengan terpatah-patah. Tiada hiruk pikuk di sekelilingku selain sunyi yang mengambang bersama pekat, bahkan tiada suara selain suaramu yang terlampir bersama dingin dalam helai-helai angin, sedang malam tak kunjung jenuh merangkum tutur katamu menjadi satu makna yang tak terselubung …

 

Kau terdengar bijak saat berkata dengan mata berkaca-kaca, menyuarakan ujaran-ujaran hati dalam peribahasa seorang puteri yang teramat santun, mengutarakan kata pamit dalam lambang-lambang bunyi yang lugas. Kau bahkan menukas sempurna kewibawaan palsu pada setiap kata di lidah keluku. Melelaikan lengan-lenganku hingga tak kuasa menyeka keringat yang merembah dingin di pelipis …

 

Di bawah candra, kau menikam mayang putih di dada usangku, menorehkan luka terdalam di pematang renjana merahku, seolah aku tersunu lelatu api yang memercik nyala di titik yang tertikam. Jiwa pun melenting oleh bakaran hati, lalu melanting jauh ke langit tanpa warna …

 

Kau akhirnya berlalu di akhir kata-katamu, sementara aku terkelupas di antara rintangan ranting berdaun-daun. Mungkin kau menyelisik belantara malam menuju sekat-sekat ruangmu yang tersembunyi … melangkah menjauh menjadi setitik renik, lalu raib dari sudut-sudut mataku, meninggalkan wangi yang menyelusup pori dan nadi di perjalanan darahku …

 

Aku menerawang hampa ke satu arah di mata angin. Meraung sumbang di sepanjang sisa malamku. Melenguhkan keluh kesah cinta dari sebentuk hati yang terpatahkan. Merentak kaki di atas tanah malam yang berdebu, tertatih terbatuk-batuk. Aku terkulai dengan mata yang ternanarkan. Kosong, teramat kosong … merasa hampa dan tercampakkan hingga letih merambat di semesta sadarku, menghitamkan babak-babak pada mimpi di sepanjang tidur lelahku …

 

Waktu berputaran mengiringi kemelut hati yang berpusingan. Kemarin, hari ini … buana rasaku sedemikian terlantarkan. Sepanjang hari menjadi sepanjang tahun yang menyedihkan. Aku menghitung detik yang berdetak lewat denyut di urat nadiku, sementara bayangmu selalu menyelinap di khayal-khayal semuku, menguntit di angan-angan mayaku. Kau memang tertoreh sempurna di alur-alur fikirku bahkan menjadi cinta yang menyejarah di pustaka benakku …

 

Kekasih … (betapa ingin kusebut kau demikian). Kau mencipta sunyi yang tersunyi pada jiwa kelelakianku. Padahal kaulah keindahan terindah di semesta bentuk dan warna. Betapa rindu aku pada remang cahaya di ruangmu, pada keramahtamahan yang kau tuangkan dalam seduhan teh dan kopi, juga pada gemintang di hitam mata intanmu …

 

Bandung, 6 Juni 2010
–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA— 

Melukai Itu Mewarnai …

Mentari di atas kepala saat kesumat mencipta bara. Pijarnya memancarkan titik-titik api yang membakar sabar. Satu tikaman membunuhmu di jalan setapak, lalu menaruhmu di alam terbuka, di bawah langit yang panas …

 

Wajah tawar itu tak tertawa tak menangis, tidak juga di antara keduanya. Tangan dinginnya teramat keji menorehkan luka di dada kirimu, melukiskan wajah kelam angkara yang murka …

 

Dan … sebilah pisau terpaku di dada lengasmu. Karat-karatnya mencipta nanah dalam luka, meracuni jantung dan melemahkan degup-degupnya. Segala pahitnya menyertai gumpalan darah. Merahnya tak terpahami sebagaimana baunya yang teramat asing. Kau pun begitu pangling pada bunyi nafasmu …

 

Kau terkulai, terduduk ngilu di sudut perih. Tulang belakangmu bersandar pada tunggul yang mati. Tapi kau tak mau bisu. “Perang belum usai,” katamu. Padahal tangan bekumu tak lagi mampu menggenggam gaman, sementara mulutmu meluik warna setetes demi setetes. Warnanya merah tua, bahkan teramat tua, sebagaimana warna kematian …

 

“Rebahkan dirimu, biar mentari mengeringkan lukamu,” kataku. Tapi kau tak mau terlelap sebelum kujanjikan mimpi tentang pijar buana merdeka. Aku bersila menyusun kata, memantapkan hati dari segala gamangnya, tersebab janji adalah ucapan yang nirmala …

 

“Melukai itu mewarnai,” katamu, “tiada beda seperti jeritan elang dan rajawali.” Aku berpaling mengorak sila, tersebab senyummu diliputi selubung warna yang menyedihkan aku. “Kafani aku dengan rumput-rumput izkir,” katamu lagi. Lirih teramat lirih, padahal tak pernah sekali pun kau berbisik. Aku terdiam, berharap angin melelapkanmu …

 

Berembus, angin pun mengelus. Satu daun menamparku bersama suaramu yang sayup sampai di telingaku. “Kuburkan aku bersama dendamku di satu lahad,” katamu. Lalu maut pun menggamitkan jari-jarinya ke jiwamu. Pupuslah hayatmu sementara khayalku mengejarmu ke angkasa, tiada batas kecuali lelah …

 

Dan satu nyala meranggas daun, saat duka cita menginap di dada. Jantung berdetak ngilu di rumah duka …

 

Bandung, 6 Juni 2010

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA—

Cinta Itu Niskala Kekasih …

Bertahun mencari bentuk di belantara bayang, cinta digonggong anjing di perjalanan … aku menempuh jarak di rembang rindu yang berapi-api, merambah misteri warna pada wajah peradabanmu yang teramat pongah …

Aku menduga-duga arah di belukar, berlari timpang melawan angin sambil mengeja letak bintang-bintang … aku menandai jalanku dengan keringat dan tapak kaki, namun tersesat jua di tanah mati, kesangsang di cagak-cagak pohon saat cakrawala menyisakan sedikit warna lembayung … kecewaku terkekeh melawan tangis, berteriak menghempas isak, memandang buana yang mengerut menjadi daun …

Cinta itu niskala, katamu … namun menyentuh benda-benda, melibatkan benda-benda … aku terbuang ke rimba batu saat kau menampik seloroh baraku, melalau seluruh hasratku yang mencoba menjangkaumu … kau menikamku dengan nirasamu yang begitu senyap, teramat dingin hingga di titik yang paling beku …

 

Kau menumpah dingin, setetes … saat terlunta panjangku membisu hampa, saat semua simpul terlepas dari rusuk di dada, juga di saat ruang-ruang akrabku menjadi kosong …

Kau terpakan wangi, seangin … saat api hilang asa dan perkasa, saat kepak juangku terkulai di bawah rembulan, setelah purnama yang sempurna mengecoh aku di satu malam … kebebasan rasa dibelenggu beku di dalam bisu …

Ah, segala cinta yang tak pernah singgah … telah kuhancurkan ruang tempat harapan bermalam. Aku membakar rindu yang bermukim di perapian hitam, membiarkannya mati bersuluh bulan … terkubur ribuan puing dan batu, bersenyawa dengan aroma tanah dan getah …

Nafas … aku menghirup cinta riuh rendah, mengembuskan resah bara dan salju. Aku meruah kemelut merah ke segara terjauh. Merdekalah tanah air hati dari nestapa peperangan panjang … biar kupenuhi wadah udaraku dengan nafas yang merdeka, maka pupuslah merah dari ungu, mengejawantah menjadi lazuardi berbintang-bintang …

Cinta itu niskala, kekasih … namun menjadi tuangan di lembaga rasa, riak-riaknya mencipta kisah-kisah hati, di antara bisik kekasih, di antara dendam, rindu dan kesumat, sedang kisah tentangnya telah teramat tua …

 

 

Bandung, 6 Juni 2010


–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA—