Mabuk …

Untitled

Dulu, Khalifah ‘Umar bin al-Khathab –radhiyallahu ‘anhu– pernah mencambuk putranya sendiri yang bernama ‘Abd ar-Rahman bin ‘Umar lantaran mabuk. Saat itu ‘Umar berada di Madinah sedangkan ‘Abd ar-Rahman berada di Mesir. Gubernur Mesir, yakni ‘Amr bin al-‘Ash –radhiyallahu ‘anhu– telah mencambuk ‘Abd ar-Rahman atas perbuatannya itu, tetapi ‘Umar tetap memerintahkan ‘Amr bin al-‘Ash untuk mengirimkan ‘Abd ar-Rahman ke Madinah agar ‘Umar bisa menghukum putranya itu secara langsung. ‘Abdullah bin ‘Umar, saudara kandung ‘Abd ar-Rahman bin ‘Umar, menceritakan kisah yang dialami oleh saudara kandungnya itu sebagai berikut:

Imam ‘Abd ar-Razzaq berkata di kitab al-Mushannaf (tahqiq: Habib ar-Rahman al-A’zhami; juz 9 halaman 232-233 nomor hadits 17047):

 

أخبرنا معمر، عن الزهري، عن سالم، عن ابن عمر قال: شرب أخي عبد الرحمن بن عمر، وشرب معه أبو سروعة عقبة بن الحارث، وهما بمصر في خلافة عمر، فسكرا، فلما أصبحا انطلقا إلى عمرو بن العاص ـ وهو أمير مصر ـ فقالا: طَهِّرنا فإنا قد سكرنا من شراب شربناه، فقال عبد الله: فذكر لي أخي أنه سكر، فقلت: ادخلِ الدار أطهرك ـ ولم أشعر أنهما أتيا عَمروا ـ فأخبرني أخي أنه قد أخبر الأمير بذلك، فقال عبد الله: لا يحلق القوم على رؤوس الناس، ادخل الدار أحلقك ـ وكانوا إذ ذاك يحلقون مع الحدود ـ فدخل الدار، فقال عبد الله: فحلقت أخي بيدي، ثم جلدهم عمرو، فسمع بذلك عمر، فكتب إلى عمرو: أن ابعث إلي بعبد الرحمن على قَتَب؛ ففعل ذلك، فلما قدم على عمر جلده، وعاقبه لمكانه منه، ثم أرسله، فلبث شهرا صحيحا، ثم أصابه قدره فمات، فيحسب عامة الناس أنما مات من جلد عمر، ولم يمت من جلد عمر

 

Telah berkabar kepada kami Ma’mar, dari az-Zuhri, dari Salim, dari Ibn ‘Umar ia berkata:

Saudaraku, ‘Abd ar-Rahman bin ‘Umar, meminum minuman keras bersama Abu Sirwa’ah ‘Uqbah bin al-Harits. Pada waktu itu mereka berdua berada di negeri Mesir pada masa kekhalifahan ‘Umar. Keduanya minum sampai mabuk. Setelah sadar dari mabuk, mereka berdua menemui ‘Amr bin al-‘Ash yang saat itu menjabat sebagai gubernur Mesir. Keduanya berkata kepada ‘Amr bin al-‘Ash, “Sucikanlah kami berdua (yakni hukumlah kami berdua) karena sesungguhnya kami mabuk lantaran minuman yang kami minum.”  Saudaraku (yakni ‘Abd ar-Rahman) memberitahuku bahwa dirinya mabuk minuman keras, maka aku pun berkata kepadanya, “Masuklah kau ke dalam rumah! Aku akan menyucikanmu!” Saat itu aku belum tahu bahwa saudaraku (‘Abd ar-Rahman) dan Abu Sirwa’ah telah mendatangi ‘Amr bin al-‘Ash, lalu saudaraku memberitahuku bahwa dirinya telah melaporkan perbuatannya kepada ‘Amr bin al-‘Ash. (Maka aku berkata), “Mereka (orang yang bertugas menghukum) tak boleh mencukurmu di hadapan khalayak ramai! Masuklah kau ke dalam rumah! Aku sendiri yang akan mencukur rambutmu!” Biasanya mereka memang mencukur rambut orang yang mabuk selain memberikan hukuman cambuk. Saudaraku masuk ke dalam rumah. Aku pun mencukur rambutnya dengan kedua tanganku. Kemudian ‘Amr bin al-‘Ash menjatuhkan hukuman cambuk kepada mereka berdua. ‘Umar bin al-Khaththab mendengar kabar tersebut, lalu ia pun menulis surat kepada ‘Amr bin al-‘Ash, “Kirimkan kepadaku pasukan yang membawa ‘Abd ar-Rahman di dalam pelana angkutan.” Maka ‘Amr bin al-‘Ash pun menjalankan perintah tersebut. Sesampainya ‘Abd ar-Rahman, ‘Umar bin al-Khaththab pun menjatuhkan hukuman cambuk kepadanya. ‘Umar bin al-Khaththab juga menghukum putranya lantaran kedudukan putranya itu sebagai anak kandungnya. Setelah itu, ‘Umar membebaskannya. Sebulan semenjak hukuman, ‘Abd ar-Rahman hidup dalam keadaan sehat, kemudian ia mendapati takdirnya dan mati. Orang banyak menyangka bahwa ‘Abd ar-Rahman mati lantaran hukuman cambuk yang dijatuhkan ‘Umar, padahal bukanlah lantaran itu ia mati … -SELESAI …

 

Sanad riwayat tersebut sahih

Barangkali cambukan yang dilakukan oleh ‘Umar terhadap anaknya itu bukanlah hukuman had karena hukuman had terhadap putranya itu telah dilaksanakan oleh gubernur ‘Amr bin al-‘Ash. Tidak mungkin hukuman had yang telah dilakukan diulang kembali hingga dua kali. Terbukti bahwa ‘Umar tidak mencambuk lagi Abu Sirwa’ah. Oleh karena itu, bisa jadi cambukan yang dilakukan ‘Umar terhadap putranya itu merupakan hukuman dari ‘Umar sebagai seorang pemimpin sekaligus ayah terhadap anaknya … wallahu a’lamu …

 

Imam al-Baihaqi juga meriwayatkan kisah tersebut di kitab Sunan al-Kubra (tahqiq: Muhammad ‘Abd al-Qadir ‘Atha; juz 8 halaman 543 nomor hadits 17498):

 

أخبرنا أبو سعيد بن أبي عمرو أنبأ أبو محمد المزني أنبأ علي بن محمد بن عيسى ثنا أبو اليمان أخبرني شعيب عن الزهري أخبرني سالم أن عبد الله بن عمر قال شرب أخي عبد الرحمن بن عمر وشرب معه أبو سروعة عقبة بن الحارث ونحن بمصر في خلافة عمر بن الخطاب رضي الله عنه فسكرا فلما صحا انطلقا إلى عمرو بن العاص وهو أمير مصر فقالا طهرنا فأنا قد سكرنا من شراب شربناه قال عبد الله بن عمر فلم أشعر أنهما أتيا عمرو بن العاص قال فذكر لي أخي أنه قد سكر فقلت له ادخل الدار أطهرك قال إنه قد حدث الأمير قال عبد الله فقلت والله لا تحلق اليوم على رؤوس الناس أدخل أحلقك وكانوا ذاك يحلقون مع الحد فدخل معي الدار قال عبد الله فحلقت أخي بيدي ثم جلدهما عمرو بن العاص فسمع عمر بن الخطاب رضي الله عنه بذلك فكتب إلي عمرو أن أبعث إلى عبد الرحمن بن عمر على قتب ففعل ذلك عمرو فلما قدم عبد الرحمن على عمر رضي الله عنه جلده وعاقبه من أجل مكانه منه ثم أرسله فلبث أشهرا صحيحا ثم أصابه قدره فيحسب عامة الناس أنه مات من جلد عمر ولم يمت من جلده

 

Telah berkabar kepada kami Abu Sa’id bin Abi ‘Amr, telah berkabar kepada kami Abu Muhammad al-Muzani, telah berkabar kepada kami ‘Ali bin Muhammad bin ‘Isa, telah bercerita kepada kami Abu al-Yaman, telah berkabar kepadaku Syu’aib, dari az-Zuhri, telah berkabar kepadaku Salim bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar berkata:

Saudaraku, ‘Abd ar-Rahman meminum minuman keras bersama Abu Sirwa’ah ‘Uqbah bin al-Harits. Saat itu kami berada di Mesir pada masa kekhalifahan ‘Umar bin al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhu. ‘Abd ar-Rahman dan Abu Sirwa’ah mabuk minuman keras. Tatkala sadar, keduanya pergi menemui ‘Amr bin al-‘Ash yang menjabat sebagai gubernur Mesir. Keduanya berkata kepada ‘Amr bin al-‘Ash, “Sucikanlah kami. Sesungguhnya kami berdua mabuk lantaran minuman keras yang kami minum.” Aku tak tahu bahwa mereka berdua telah mendatangi ‘Amr bin al-‘Ash, lalu saudaraku (‘Abd ar-Rahman) memberitahuku bahwa ia mabuk minuman keras. Kukatakan kepadanya, “Masuklah kau ke dalam rumah! Aku akan menyucikanmu!” Saudaraku mengatakan kepadaku bahwa ia telah melaporkan perbuatannya kepada gubernur ‘Amr bin al-‘Ash. Kukatakan kepadanya, “Demi Allah, kau tak akan dicukur hari ini di hadapan khalayak ramai! Masuklah kau ke dalam rumah, aku akan mencukur sendiri rambutmu karena telah menjadi kebiasaan bahwa mereka akan mencukur rambut orang hukuman selain menghukum cambuk.” Maka ‘Abd ar-Rahman pun masuk ke dalam rumah bersamaku dan kucukurlah rambutku dengan kedua tanganku sendiri. Kemudian ‘Amr bin al-‘Ash menghukum cambuk mereka berdua. Peristiwa itu terdengar oleh ‘Umar bin al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhu, lalu ‘Umar pun menulis surat kepada ‘Amr bin al-‘Ash, “Kirimkan kepadaku pasukan yang membawa ‘Abd ar-Rahman di dalam pelana angkutan.” ‘Amr bin al-‘Ash pun melaksanakan perintah tersebut. Sesampainya ‘Abd ar-Rahman, ‘Umar bin al-Khaththab pun menjatuhkan hukuman cambuk kepadanya. ‘Umar bin al-Khaththab juga menghukum putranya lantaran kedudukan putranya itu sebagai anak kandungnya. Setelah itu, ‘Umar membebaskannya. Sebulan semenjak hukuman, ‘Abd ar-Rahman hidup dalam keadaan sehat, kemudian ia mendapati takdirnya dan mati. Orang banyak menyangka bahwa ‘Abd ar-Rahman mati lantaran hukuman cambuk yang dijatuhkan ‘Umar, padahal bukanlah lantaran itu ia mati … -SELESAI …

 

 

Bandung, 15 Juni 2016

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

 

Advertisements

Dengan Tangan-Nya Ayah Dicipta, dengan Tangan-Nya pula Taurat Ditulis …

dengan tangan-Nya

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid –hafizhahullah

http://islamqa.info/ar/117279

السؤال :يروي الإمام الذهبي رحمه الله عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما قال :(خلق الله أربعة أشياء بيده: العرش، والقلم، وآدم، وجنة عدن، ثم قال لسائر الخلق: كن فكان) تفسير ابن جابر (23/185)، الدارمي في رد على المريسي (ص90)، الأسماء والصفات للبيهقى (ص233)فأرجو توضيح هذا الأمر .

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid –hafizhahullah– ditanya:

Imam adz-Dzahabi –rahimahullah– mewartakan kabar dari ‘Abdullah bin ‘Umar –radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Allah menciptakan empat hal dengan tangan-Nya, yaitu (1) al-‘Arsy, (2) al-Qalam (pena), (3) Adam, dan (4) surga ‘Adn, kemudian Allah berkata (terhadap penciptaan) seluruh makhluk, “Kun (Jadilah)!” Maka jadilah (makhluk itu).

Aku mengharapkan penjelasan mengenai masalah ini …

الجواب :

الحمد لله

الذي ثبت لنا –بعد الجمع والدراسة– أن الله سبحانه وتعالى قد خص أشياء معينة بأنه خلقها أو عملها بـ “يده” سبحانه وتعالى دون سائر المخلوقات، وهذه الأمور هي :

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid –hafizhahullah– menjawab:

Alhamdulillah …

Perkara yang kukuh bagi kami –setelah mengumpulkan dan mempelajarinya- bahwasanya Allah –subhanahu wa ta’ala– telah mengkhususkan beberapa hal tertentu dengan menciptakan hal-hal tertentu itu atau mengerjakan hal-hal tertentu itu (langsung) dengan tangan-Nya –subhanahu wa ta’ala, sementara terhadap seluruh makhluk lainnya tidaklah seperti itu. Adapun hal-hal tertentu yang Allah khususkan itu adalah sebagai berikut:

أولاً: خلق آدم .

دليل ذلك قوله عز وجل: (قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ)ص/75 .

PERTAMA: Allah menciptakan Adam dengan tangan-Nya, dalilnya adalah ucapan Allah –‘Azza wa Jalla– berikut:

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ

Allah berfirman, “Hai iblis, apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada yang telah Kuciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?” (QS. Shad: 75)

ثانياً: غرس جنة عدن بيده سبحانه.

دليله ما ورد عن المغيرة بن شعبة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال :(أُولَئِكَ الَّذِينَ أَرَدْتُ: غَرَسْتُ كَرَامَتَهُمْ بِيَدِي، وَخَتَمْتُ عَلَيْهَا، فَلَمْ تَرَ عَيْنٌ، وَلَمْ تَسْمَعْ أُذُنٌ، وَلَمْ يَخْطُرْ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ) رواه مسلم برقم (312)

KEDUA: Allah menanam (tanaman) surga ‘Adn dengan tangan-Nyasubhanahu, dalilnya adalah hadits yang berasal dari al-Mughirah bin Syu’bah –radhiyallahu ‘anhu– bahwasanya Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Allah berkata: mereka itulah orang-orang yang Aku berkenan (memilih mereka), Aku menanam kemuliaan mereka (yaitu balasan di surga) dengan tangan-Ku dan menutupinya sehingga tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia.” –Diriwayatkan oleh Muslim (312)

ثالثاً: كتب الألواح لموسى عليه السلام بيده .

دليله ما رواه أبو هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال :(احْتَجَّ آدَمُ وَمُوسَى، فَقَالَ مُوسَى: يَا آدَمُ! أَنْتَ أَبُونَا، خَيَّبْتَنَا وَأَخْرَجْتَنَا مِنْ الْجَنَّةِ.فَقَالَ لَهُ آدَمُ: أَنْتَ مُوسَى، اصْطَفَاكَ اللَّهُ بِكَلَامِهِ، وَخَطَّ لَكَ بِيَدِهِ، أَتَلُومُنِي عَلَى أَمْرٍ قَدَّرَهُ اللَّهُ عَلَيَّ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَنِي بِأَرْبَعِينَ سَنَةً.فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَحَجَّ آدَمُ مُوسَى، فَحَجَّ آدَمُ مُوسَى .

وَفِي حَدِيثِ ابْنِ أَبِي عُمَرَ وَابْنِ عَبْدَةَ قَالَ أَحَدُهُمَا: خَطَّ، وقَالَ الْآخَرُ: كَتَبَ لَكَ التَّوْرَاةَ بِيَدِهِ. رواه مسلم برقم (2652)

KETIGA: Allah menulis (kitab Taurah) untuk Musa –‘alaihi as-salam– dengan tangan-Nya(*), dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu– bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata: Adam dan Musa berdebat. Musa berkata, “Wahai Adam, kaulah ayah kami. Kau telah mengecewakan kami dan mengeluarkan kami dari surga.” Adam pun berkata kepada Musa, “Kau Musa, Allah telah memilihmu untuk berbicara langsung dengan-Nya, dan Allah pun menulisuntukmu dengan tangan-Nya. Apakah kau mencelaku atas perkara yang telah Allah tetapkan bagiku dari semenjak empat puluh tahun sebelum menciptakanku?” Maka Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Maka Adam pun mengalahkan argumentasi Musa.” Dan dalam hadits Ibn Abi ‘Umar dan Ibn ‘Abdah, salah seorang dari keduanya berkata, “Dia menulis,” sedangkan yang seorang lagi mengatakan, “Dia menulis kitab Taurah untukmu dengan tangan-Nya.” –Diriwayatkan oleh Muslim (2652)

(*) disebutkan menulis Taurat, bukan menciptakan Taurat, sebab Taurat adalah kalam Allah bukan makhluk, dan Allah berkenan menuliskan kalam-Nya untuk Musa –‘alaihi as-salam … –HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA …

رابعاً : القلم.

دليله أثر مروي عن ابن عمر رضي الله عنهما من قوله موقوفا عليه – وهو الأثر الوارد في السؤال – قال: (خلق الله أربعة أشياء بيده: العرش، والقلم، وآدم، وجنة عدن، ثم قال لسائر الخلق: كن فكان) رواه الطبري في “جامع البيان” (20/145)، والدارمي في “نقضه على المريسي” (ص/261)، وأبو الشيخ الأصفهاني في “العظمة” (2/579)، والآجري في “الشريعة” (رقم/750)، والحاكم في “المستدرك” (2/349)، والبيهقي في “الأسماء والصفات” (2/126).

جميعهم من طرق عن عُبيد المكْتِب عن مجاهد عن ابن عمر رضي الله عنهما به .

وهذا إسناد صحيح، عبيد هو ابن مهران المكتب الكوفي وثقه النسائي وابن معين، انظر “تهذيب التهذيب” (7/68).

لذلك قال الحاكم بعد إخراجه للأثر: “هذا حديث صحيح الإسناد ولم يخرجاه “انتهى. ووافقه الذهبي .وجاء نحوه أيضا عن ابن عباس رضي الله عنهما، وعن ميسرة ووردان بن خالد وغيرهم من التابعين .انظر “الدر المنثور” للسيوطي (3/549)(7/207) ، فقد جمع كثيراً من هذه الآثار المتعلقة بالموضوع نفسه

KEEMPAT: Allah menciptakan al-Qalam (pena) dengan tangan-Nya, dalilnya adalah atsar yang diriwayatkan dari Ibn ‘Umar –radhiyallahu ‘anhuma– dari perkataannya secara mauquf, yaitu atsar yang disebutkan dalam pertanyaan di atas. Ibn ‘Umar berkata:

Allah menciptakan empat hal dengan tangan-Nya, yaitu (1) al-‘Arsy, (2) al-Qalam (pena), (3) Adam, dan (4) surga ‘Adn. Kemudian Allah berkata (terhadap penciptaan) seluruh makhluk, “Kun (jadilah)!” Maka jadilah (makhluk itu).

Atsar Ibn ‘Umar tersebut diriwayatkan oleh ath-Thabari di kitab Jami’ al-Bayan (20/145), ad-Darimi dalam Naqdh-nya terhadap al-Marisi (halaman 261), Abu asy-Syaikh al-Ashfahani di kitab al-‘Azhamah (2/579), al-Ajurry di kitab asy-Syari’ah (750), al-Hakim di kitab al-Mustadrak (2/349), dan al-Baihaqi di kitab al-Asma’ wa ash-Shifat (2/162); semuanya dari jalan ‘Ubaid al-Muktib, dari Mujahid, dari Ibn ‘Umar –radhiyallahu ‘anhuma– dengan riwayat tersebut. Dan isnad riwayat ini sahih, ‘Ubaid adalah Ibn Mihran al-Muktib al-Kufi. Imam an-Nasa-i dan Ibn Ma’in menganggapnya tsiqah; lihat Tahdzib at-Tahdzib (7/68). Oleh karena itu Imam al-Hakim berkata setelah mengeluarkan atsar tersebut, “Ini hadits yang sahih isnadnya namun al-Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya,” dan adz-Dzahabi menyetujuinya. Terdapat pula riwayat seperti itu dari Ibn ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma, juga dari Maisarah dan Wardan bin Khalid serta selain mereka dari kalangan tabi’in; lihat ad-Durr al-Mantsur karya as-Suyuthi (3/549) (7/207), dia telah mengumpulkan banyak dari atsar-atsar ini yang berkaitan dengan tema yang sama …

 

وقد تلقى أهل السنة هذا الأثر بالقبول وأوردوه في مصنفاتهم، وردوا به على الجهمية في إنكارهم صفة اليد لله سبحانه .قال الإمام عثمان بن سعيد الدارمي رحمه الله، بعد روايته للأثر: “أفلا ترى أيها المريسي كيف ميز ابن عمر وفرق بين آدم وسائر الخلق في خلقه اليد أفأنت أعلم من ابن عمر بتأويل القرآن وقد شهد التنزيل وعاين التأويل وكان بلغات العرب غير جهول.”

“نقض الدارمي على بشر المريسي” (35)

Kalangan Ahl as-Sunnah telah menerima atsar ini dan mengemukakannya dalam kitab-kitab mereka. Dengan atsar ini mereka membantah kelompok al-Jahmiyah atas pengingkarannya terhadap sifat tangan bagi Allah –subhanahu. Imam ‘Utsman bin Sa’id ad-Darimi –rahimahullah– berkata setelah mengemukakan atsar ini, “Tidakkah kau melihat, wahai al-Marisi, bagaimana Ibn ‘Umar membedakan dan memperlainkan antara Adam dengan semua makhluk dalam penciptaannya dengan tangan? Apakah kau lebih tahu dari Ibn ‘Umar mengenai takwil al-Quran padahal dia menyaksikan turunnya al-Quran dan melihat langsung penjelasannya, sementara dia tidaklah bodoh terhadap bahasa Arab.” –kitab Naqdh ad-Darimi ‘ala Bisyr al-Marisi (35) …

وقال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله: “ثبوت ما أثبته الدليل من هذه الصفات لم يوجب حاجة الرب إليها، فإن الله سبحانه قادر أن يخلق ما يخلقه بيديه وقادر أن يخلق ما يخلقه بغير يديه وقد وردت الأثارة من العلم بأنه خلق بعض الأشياء بيديه وخلق بعض الأشياء بغير يديه ….، ثم نقل رحمه الله – أي: شيخ الإسلام – أثر الدارمي ” انتهى .

بيان تلبيس الجهمية” (1/513)

Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah –rahimahullah– berkata, “Kepastian yang ditetapkan oleh dalil dari sifat-sifat ini tidaklah serta-merta mengharuskan bahwa Rabb butuh kepada semua itu karena Allah –subhanahu- itu mampu menciptakan makhluk dengan kedua tangan-Nya maupun menciptakan makhluk tanpa menggunakan kedua tangan-Nya. Terdapat atsar ilmu (peninggalan pengetahuan dari salaf) bahwasanya Allah menciptakan beberapa hal dengan kedua tangan-Nya dan menciptakan hal-hal lainnya bukan dengan kedua tangan-Nya …,” kemudian Syaikh al-Islam –rahimahullah– menukil atsar yang diriwayatkan oleh imam ad-Darimi tersebut … –SELESAI; kitab Bayan Talbis al-Jahmiyah (1/513) …

ومما ينبغي التنبيه عليه ههنا أمران :

1- ورد في ذكر هذه الأشياء التي خلقها الله بيده أحاديث مرفوعة تجمعها في سياق واحد، ولكنها أحاديث ضعيفة ، فلا حاجة لذكرها هنا .

2- المفهوم المتفق عليه من هذا التخصيص أنه لمزيد تكريم وتشريف وتعظيم، لحكمة يعلمها سبحانه وتعالى، خص هذه الأربعة بأنه خلقها بيده ولم يجعل خلقها بكلمة كن كسائر المخلوقات، فلا يجوز الخوض في تفصيل معاني هذا التخصيص، وكيفيته، بل يجب التسليم به، مع تنزيه الله تعالى عن كل نقص وعيب وتشبيه .

Ada dua hal yang seyogianya diberitahukan di sini yaitu:

(1) (Memang) terdapat hadits-hadits marfu’ dalam konteks yang sama yang menyebutkan tentang beberapa hal yang diciptakan oleh Allah dengan tangan-Nya namun semua hadits marfu’ itu lemah sehingga tidak perlu disebutkan di sini.

(2) Telah sama dimaklumi dari pengkhususan ini, yaitu bahwasanya pengkhususan tersebut merupakan bentuk pemuliaan, penghormatan, dan pengagungan lebih (terhadap hal yang dikhususkan). Berdasarkan hikmah yang diketahui oleh Allah –subhanahu wa ta’ala, Dia mengkhususkan keempat hal tersebut dengan menciptakan mereka dengan tangan-Nya dan bukan menciptakan mereka dengan kalimat, “Kun (jadilah),” sebagaimana terhadap semua makhluk selain mereka. Tidaklah boleh menceburkan diri mencari makna-makna yang terperinci dari pengkhususan tersebut, juga mengenai kaifiyah-nya, tetapi hendaklah dia taslim terhadap kabar tersebut seraya menyucikan Allah –ta’ala– dari segala kekurangan dan aib, juga menyucikan-Nya dari keserupaan dengan makhluk.

قال الإمام عثمان بن سعيد الدارمي رحمه الله: “ثم إنا ما عرفنا لآدم من ذريته ابنا أعق ولا أحسد منه؛ إذ ينفي عنه أفضل فضائله وأشرف مناقبه، فيسويه في ذلك بأخس خلق الله لأنه ليس لآدم فضيلة أفضل من أن الله خلقه بيده من بين خلائقه، ففضله بها على جميع الأنبياء والرسل والملائكة؛ ألا ترون موسى حين التقى مع آدم في المحاورة: احتج عليه بأشرف مناقبه فقال: أنت الذي خلقك الله بيده، ولو لم تكن هذه مخصوصة لآدم دون من سواه ما كان يخصه بها فضيلة دون نفسه “انتهى

“نقض الدارمي على بشر المريسي” (1/255)

والله أعلم .

Imam ‘Utsman bin Sa’id ad-Darimi –rahimahullah– berkata:

Kemudian sesungguhnya kami tidak mengetahui dari keturunan Adam orang yang lebih durhaka dan lebih hasad dari al-Marisi, ketika dia menafikan seutama-utamanya keutamaan Adam dan semulia-mulia perihalnya lalu mempersamakannya dalam (masalah penciptaannya) itu dengan serendah-rendah makhluk Allah. Sesungguhnya tidak ada keutamaan yang lebih utama bagi Adam daripada (kenyataan) bahwa Allah menciptakannya dengan tangan-Nya. Maka Allah mengutamakan Adam dengan penciptaan itu atas seluruh nabi, rasul, dan malaikat. Tidakkah kau memerhatikan (perihal) Musa ketika dia berhadapan dengan Adam dalam suatu perdebatan? Musa mendebat Adam seraya mengemukakan kemuliaan Adam yang paling mulia, yaitu dengan mengatakan, “(Wahai Adam), kaulah orang yang Allah menciptakanmu dengan tangan-Nya!” Kalaulah keutamaan ini tidak dikhususkan bagi Adam tanpa selainnya, tidaklah Musa akan mengemukakan pengkhususan ini kepada Adam (dalam perdebatan) tanpa menyertakan dirinya … –SELESAI; Naqdh ad-Darimi ‘ala Bisyr al-Marisi (1/255) …

Wallahu a’lamu

Bandung, 21 Juli 2014

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Helai-Helai Awal Pitawat Lelaki Baghdad …

helai awal-

Setelah membaca pitawat lelaki Baghdad ini, saya semakin kagum kepada para ikhwah yang begitu bersemangat terhadap hadits, menimba ilmu tentang hadits, dan turut menghidupkan sunnah-sunnah yang telah mati di kalangan manusia. Jika pun tak bertemu dengan para ikhwah itu, saya bersyukur bisa meraup ilmu dari tulisan-tulisan mereka … –semoga Allah menjaga mereka …

*

**

 

الجامع لأخلاق الراوي وآداب السامع

Al-Jami’ li Akhlaq ar-Rawi wa Adab as-Sami’

Al-Khathib al-Baghdadi

 

قال الخطيب البغدادي –رحمه الله- في فاتحة كتابه (الجامع لأخلاق الراوي وآداب السامع): ولكل علم طريقة ينبغي لأهله أن يسلكوها، وآلات يجب عليهم أن يأخذوا بها ويستعملوها. وقد رأيت خلقا من أهل هذا الزمان، ينتسبون إلى الحديث، ويعدّون أنفسهم من أهله، المتخصصين بسماعه ونقله، وهم أبعد الناس مما يدّعون، وأقلهم معرفة بما إليه ينتسبون، يرى الواحد منهم -إذا كتب عددا قليلا من الأجزاء، واشتغل بالسماع برهة يسيرة من الدهر- أنه صاحب حديث على الإطلاق، ولـمَّا يجهد نفسه ويتعبها في طلابه، ولا لحقته مشقّة الحفظ لصنوفه وأبوابه.

 

Al-Khathib al-Baghdadi –rahimahullah– berkata di permulaan kitab al-Jami’ li Akhlaq ar-Rawi wa Adab as-Sami’, “Dan pada tiap-tiap ilmu itu ada thariqah yang harus ditempuh oleh orang-orang yang mendalaminya. Perangkat-perangkat (untuk menggapainya) merupakan hal yang wajib mereka lengkapi agar dengannya mereka bisa mengambil (ilmu yang dimaksud) dan juga menerapkannya.Sungguh telah kulihat manusia pada zaman ini, mereka menisbatkan diri kepada hadits dan menganggap diri mereka sebagai ahli hadits yang mengkhususkan dalam penyimakan dan penukilan, namun sebenarnya merupakan manusia yang paling jauh dari anggapan mereka sendiri, juga paling sedikit makrifatnya terhadap apa yang mereka nisbatkan kepada diri mereka. Seseorang di antara mereka –dengan hanya menulis sejumlah kecil saja dari bagian-bagian hadits serta bersibuk-sibuk mendengarkan hadits pada sebagian kecil saja dari waktu- telah memandang bahwa dirinya ahli hadits secara mutlak, padahal belum lagi dia mempersungguhi diri dan berlelah-lelah menuntutnya, tidak pula dia mau berpayah-payah menghafal klasifikasi dan bab-babnya.”

 

وقال –رحمه الله: كما نا أبو حازم عمر بن أحمد بن إبراهيم العبدوي الحافظ إملاء بنيسابوري، أنا أبو محمد عبد الله بن محمد بن زياد: أنا محمد بن إسحاق الثقفي، نا محمد بن سهل بن عسكر، قال: حضرت المأمون بالمصيصة، فقام إليه رجل بيده محبرة، فقال: يا أمير المؤمنين! صاحب حديث منقطع به. قال: فوقف المأمون، فقال له: إيش تحفظ في باب كذا وكذا؟ قال: فسكت الرجل، فقال المأمون: نا ابن علية عن فلان عن فلان عن فلان، وحدثنا حجاج الأعور عن ابن جريج كذا … حتى عدّ فيه كذا حديثاً. ثم قال: إيش تحفظ في باب كذا؟ قال: فسكت، فسرد فيه كذا حديثاً. ثم قال: أحدهم يطلب الحديث ثلاثة أيام يقول: أنا صاحب حديث!! أعطوه ثلاثة دراهم.

 

Beliau –rahimahullah– melanjutkan:

Sebagaimana telah menceritakan kepada kami Abu Hazim, ‘Umar bin Ahmad bin Ibrahim al-‘Abdawi, al-Hafizh yang meng-imla’ di Naisabur: telah mengabarkan kepada kami Abu Muhammad, ‘Abdullah bin Muhammad bin Ziyad: telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ishaq ats-Tsaqafi: telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Sahl bin ‘Asakir, dia berkata:

Aku ada bersama al-Ma’mun di kota al-Mishshishah, lalu berdirilah ke hadapan al-Makmun seorang lelaki sambil memegang wadah tinta. Lelaki itu berkata, “Wahai Amir al-Mu’minin, ahli hadits (maksudnya dirinya -pent) kehabisan tinta.” Maka berdirilah al-Ma’mun, lalu berkata kepada lelaki itu, “Apa yang kau hafal dari bab anu dan anu?” Lelaki itu terdiam, lalu al-Ma’mun berkata, “Telah berkabar kepada kami Ibn ‘Ulayyah dari Fulan dari Fulan dari Fulan, dan telah menceritakan kepada kami Hajjaj al-A’war dari Ibn Juraij demikian …,” hingga al-Ma’mun menyebutkan sekian hadits, lalu berkata lagi, “Apa yang kau hafal dari bab anu?” Lelaki itu terdiam. Al-Ma’mum menyebutkan lagi sekian hadits, lalu berkata, “Seseorang dari kalangan mereka yang baru selama tiga hari saja mencari hadits (begitu lancang) mengatakan: aku ahli hadits!? Berikan tiga dirham kepadanya.”

 

وقال -رحمه الله: نا أبو طالب يحيى بن علي الطيب الدسكري لفظا بحلوان، أنا أبو بكر محمد بن إبراهيم بن علي بن المقرئ بأصبهان، نا غسان بن رضوان بن شعيب أبو الحسن البزاز، ببغداد، نا أحمد بن العباس النسائي، قال: سألت أحمد بن حنبل عن الرجل يكون معه مائة ألف حديث، يقال: إنه صاحب حديث؟ قال: لا، قلت له: عنده مائتا ألف حديث، يقال: إنه صاحب حديث؟ قال: لا، قلت له: ثلاثمائة ألف حديث؟ فقال بيده كذا، يروح يمنة ويسرة، وأومأ غسان بيده كذا وكذا، يقلبها.

 

Beliau –rahimahullah– melanjutkan:

Telah menceritakan kepada kami Abu Thalib Yahya bin ‘Ali ath-Thayyib di Hulwan: telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ibrahim bin ‘Ali bin al-Muqri’ di Asbahan: telah mengabarkan kepada kami Ghassan bin Ridhwan bin Syu’aib Abu al-Hasan al-Bazzaz di Baghdad: telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin al-‘Abbas an-Nasa-i, dia berkata:

Aku bertanya kepada Ahmad bin Hanbal tentang seseorang yang hafal seratus ribu hadits, (apakah) boleh dikatakan bahwa dia ahli hadits? Imam Ahmad menjawab, “Tidak.” Aku berkata lagi, “Dia hafal seratus ribu hadits, (apakah) boleh dikatakan dia ahli hadits?” Imam Ahmad menjawab, “Tidak.” Aku bertanya lagi, “Kalau tiga ratus ribu hadits?” Imam Ahmad berisyarat dengan tangannya demikian –mengibas ke kanan dan ke kiri. Ghassan pun berisyarat dengan tangannya demikian dan demikian, bolak-balik.

 

وقال -رحمه الله: حدثني محمد بن أحمد بن علي الدقاق، نا أحمد بن إسحاق النهاوندي، بالبصرة، نا الحسن بن عبد الرحمن بن خلاد، نا الحسن بن عثمان التستري، نا أبو زرعة الرازي، قال: سمعت أبا بكر بن أبي شيبة، يقول: من لم يكتب عشرين ألف حديث إملاء، لم يعد صاحب حديث.

 

Beliau –rahimahullah– melanjutkan:

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ahmad bin ‘Ali ad-Daqqaq: telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Ishaq an-Nahawandi di Bashrah: telah mengabarkan kepada kami al-Hasan bin ‘Abd ar-Rahman bin Khallad: telah mengabarkan kepada kami al-Hasan bin ‘Utsman at-Tustari: telah mengabarkan kepadaku Abu Zur’ah ar-Razi, dia berkata:

Aku mendengar Abu Bakr bin Abi Syaibah berkata, “Siapa yang belum menulis dua puluh ribu hadits secara imla’, tidaklah dia terhitung sebagai ahli hadits.”

 

 وقال –رحمه الله: وهم –مع قلّة كتبهم له وعدم معرفتهم به- أعظم الناس كبرا، واشد الخلق تيها وعجبا، لا يراعون لشيخ حرمة ولا يوجبون لطالب ذمة، يخرقون بالراوين، ويعنفون على المتعلمين، خلاف ما يقتضيه العلم الذي سمعوه، وضد الواجب مما يلزمهم ان يفعلوه.

 

Beliau –rahimahullah– melanjutkan, “Dan mereka –dengan sedikitnya hal yang mereka tulis tentang hadits, juga tiadanya makrifat terhadap hadits- merupakan sesombong-sombong manusia, secongkak-congkak manusia dan seangkuh-angkuh manusia. Mereka tidak menjaga kehormatan guru dan tidak pula menanamkan kewajiban tanggung jawab kepada pelajar hadits. Mereka pandir (perihal hakikat) para perawi dan bersikap kasar terhadap para pelajar. (Sikap mereka itu) bertolak belakang dengan tuntutan ilmu yang mereka dengar, juga berbanding terbalik dengan kewajiban yang seharusnya mereka perbuat.”

 

وقال –رحمه الله: وقد وصف أمثالهم بعض السلف فيما أخبرني القاضي أبو عبد الله الحسين ابن علي بن محمد الصيمري، نا علي بن الحسن الرازي، نا محمد بن الحسين الزعفراني، نا أحمد بن زهير، أنا محمد بن سلام الجمحي، قال: قال عمرو بن الحارث:

ما رأيت علما أشرف، ولا أهلا أسخف من أصحاب الحديث. [١]

 

Beliau –rahimahullah– melanjutkan:

Sebagian kaum salaf telah memerikan permisalan orang-orang semacam mereka melalui pengabaran yang sampai kepadaku dari al-Qadhi Abu ‘Abdillah al-Husain ibn ‘Ali bin Muhammad ash-Shaimari: telah mengabarkan kepada kami ‘Ali bin al-Hasan ar-Razi: telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin al-Husain az-Za’farani: telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Zuhair: telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Salam al-Jumahi, dia berkata: ‘Amar bin al-Harits berkata, “Aku tidak melihat ilmu yang lebih mulia daripada hadits dan tidak pula (kulihat) kaum yang lebih lemah daripada ahli hadits.” [1]

 

وقال –رحمه الله: وحدثني أبو القاسم الأزهري، أنا عبيد الله بن عثمان بن يحيى، أنا علي بن الحسين الأصبهاني، نا محمد بن خلف وكيع، حدثني محمد بن إسماعيل بن يعقوب، قال: حدثني محمد بن سلام، قال: سمعت حماد بن سلمة، يقول: لا ترى صناعة أشرف، ولا قوما أسخف من الحديث وأصحابه. [۲]

 

Beliau –rahimahullah– melanjutkan:

Dan telah menceritakan kepada kami Abu al-Qasim al-Azhari: telah mengabarkan kepada kami ‘Ubaidullah bin ‘Utsman bin Yahya: telah mengabarkan kepada kami ‘Ali bin al-Husain al-Ashbahani: telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Khalaf -Waki’: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Isma’il bin Ya’qub, dia berkata: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Salam, dia berkata: aku mendengar Hammad bin Salamah berkata, “Takkan kau lihat ilmu yang lebih mulia daripada hadits dan tidak akan pula kau lihat kaum yang lebih lemah daripada ahli hadits.”[2]

 

[1] & [2] Pen-tahqiq kitab ini, yakni Syaikh Mahmud Thahhan mengatakan:

 

هذا القول من عمرو بن الحارث، والقول الذي بعده لحماد بن سلمة، لا يقصدان به الإستخفاف بأصحاب الحديث وأهله وإنما يقصدان به -كما قال الخطيب في صدر هذين الأثرين- الجهلة من كتبة الحديث الذين ليس لهم من الحديث وعلومه إلا رسمه وكتابته في الكراريس والأجزاء، بدون العناية بمعانيه وأحكامه بالإضافة إلى الكبر والعجب الذي يتصفون به

 

Ucapan ‘Amr bin al-Harits ini, juga ucapan setelahnya dari Hammad bin Salamah, bukanlah bermaksud meremehkan (memandang rendah) ahli hadits. Akan tetapi maksud kedua ucapan tersebut hanyalah –sebagaimana kata al-Khathib al-Baghdadi sebelum menyebutkan kedua atsar ini- (yaitu tentang) penuntut ilmu hadits yang tak memiliki kepedulian terhadap para penulis hadits, yakni tidak ada pada diri mereka hadits dan ilmunya kecuali sekadar catatan dan tulisan di atas buku dan helai-helainya tanpa menaruh perhatian terhadap kandungan dan hukum-hukumnya, ditambah lagi adanya sikap takabur dan sombong pada diri mereka.

 

Begitu juga menurut muhaqqiq Syaikh Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib:

 

… فإنما ألئك الذين كانو يطلبون الحديث للاستكثار من طرقه دون العمل به، ويطلبونه للمفاخرة في المجالس، ونحو ذلك …

 

… hanyalah (yang dimaksud itu) mereka yang mencari hadits untuk berbanyak-banyak jalan-jalan riwayat tanpa beramal dengannya, mencari dengan tujuan berbangga diri di majelis ilmu, dan yang semacam itu …

 

وقال –رحمه الله: والواجب أن يكون طلبة الحديث أكمل الناس أدباً، واشدّ الخلق تواضعاً، وأعظمهم نزاهة وتديناً، وأقلهم طيشاً وغضباً، لدوام قرع أسماعهم بالأخبار المشتملة على محاسن أخلاق رسول الله صلى الله عليه وسلم وآدابه، وسيرة السلف الأخيار من أهل بيته وأصحابه، وطرائق المحدثين، ومآثر الماضين، فيأخذوا بأجملها وأحسنها ويصدفوا عن أرذلها وأدونها.

 

Beliau –rahimahullah– melanjutkan, “Dan para penuntut ilmu hadits itu haruslah menjadi manusia dengan sebaik-baik adab (berakhlak mulia), menjadi manusia yang paling tawadhu’ (rendah hati), yang paling membersihkan diri dari keburukan dan paling agamis, paling jauh dari sikap gegabah dan paling sedikit marah, dikarenakan mereka senantiasa mengulang-ulang pendengaran mereka terhadap kabar-kabar yang memuat tentang kemuliaan akhlak Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan budi pekertinya, (juga mendengar) perjalanan kaum salaf yang mulia dari kalangan ahli bait dan para shahabat beliau, jalan-jalan para ahli hadits, dan perbuatan luhur orang-orang terdahulu, lalu mereka berpegang kepada hal itu dengan sebenar-benar dan sebaik-baiknya seraya menjauh dari kerendahan perangai dan kehinaan perilaku.”

 

وقال –رحمه الله: أخبرنا أبو نعيم أحمد بن عبد الله بن أحمد بن إسحاق الحافظ، بأصبهان، نا أبو محمد عبد الله بن محمد بن جعفر بن خربان، قال: سمعت أحمد بن علي بن الجارود، يقول: سمعت محمد بن عيسى الزجاج، يقول: سمعت أبا عاصم، يقول: من طلب هذا الحديث فقد طلب أعلى أمور الدنيا، فيجب أن يكون خير الناس.

 

Beliau –rahimahullah– melanjutkan:

Telah mengabarkan kepada kami Abu Nu’aim Ahmad bin ‘Abdillah bin Ahmad bin Ishaq al-Hafizh di Ashbahan: telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad ‘Abdullah bin Muhammad bin Ja’far bin Khurban, dia berkata: aku mendengar Ahmad bin ‘Ali bin al-Jarud berkata: aku mendengar Muhammad bin ‘Isa az-Zajjaj berkata: aku mendengar Abu ‘Ashim berkata, “Siapa yang mencari hadits, sungguh dia mencari setinggi-tingginya urusan dunia, maka semestinyalah dia menjadi sebaik-baik manusia.”

 

وقال –رحمه الله: أخبرني أبو بكر أحمد بن محمد بن عبد الواحد المروروذي، نا محمد بن عبد الله الضبي، بنيسابور، أنا أبو علي الحسين بن علي الحافظ، نا محمد بن سعيد الرازي، نا محمد بن عبد الله المزني، بعين زربة، نا معن بن عيسى، نا مالك بن أنس، عن ابن شهاب، قال: إن هذا العلم أدب الله الذي أدب به نبيه صلى الله عليه وسلم، وأدب النبي صلى الله عليه وسلم أمته، أمانة الله إلى رسوله ليؤديه على ما أدي إليه، فمن سمع علما فليجعله أمامه حجة فيما بينه وبين الله عز وجل.

 

Beliau –rahimahullah– melanjutkan:

Telah mengabarkan kepadaku Abu Bakr Ahmad bin Muhammad bin ‘Abd al-Wahid al-Marwarudzi: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdillah adh-Dhabbi di Naisabur: telah menceritakan kepada kami Abu ‘Ali al-Husain bin ‘Ali al-Hafizh: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sa’id ar-Razi: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdillah al-Muzani di ‘Ain Zirbah: telah menceritakan kepada kami Ma’n bin ‘Isa: telah menceritakan kepadaku Malik bin Anas, dari Ibn Syihab, dia berkata, “Sesungguhnya ilmu hadits ini merupakan pengajaran Allah yang dengannya Allah mendidik nabi-Nya –shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan dengannya pula Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mendidik umatnya. Ilmu hadits ini merupakan amanah Allah kepada rasul-Nya untuk disampaikan sebagaimana telah disampaikan kepada beliau. Maka barang siapa yang mendengar ilmu ini, hendaklah dia menjadikan ilmu itu (pemandu) di depannya sebagai hujjah di antara dirinya dengan Allah ‘Azza wa Jalla.”

 

وقال –رحمه الله: أخبرني أبو محمد عبد الله بن يحيى بن عبد الجبار السكري، أنا أبو بكر محمد بن عبد الله بن إبراهيم الشافعي، نا جعفر بن محمد بن الأزهر، نا المفضل بن غسان الغلابي، حدثني أبي أو ابن مسعر، عن سفيان بن عيينة، أنه كان يقول: إن رسول الله صلى الله عليه وسلم “هو الميزان الأكبر، فعليه تعرض الأشياء، على خلقه وسيرته وهديه، فما وافقها فهو الحق، وما خالفها فهو الباطل.

 

Beliau –rahimahullah– melanjutkan:

Telah mengabarkan kepadaku Abu Muhammad ‘Abdullah bin Yahya bin ‘Abd al-Jabbar as-Sukkari: telah mengabarkan kepada kami Abu Bakr Muhammad bin ‘Abdillah bin Ibrahim asy-Syafi’i: telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Muhammad bin Azhar: telah menceritakan kepada kami al-Mufadhdhal bin Ghassan al-Ghalabi: telah menceritakan kepadaku ayahku atau Ibn Mis’ar, dari Sufyan bin ‘Uyainah bahwasanya dia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- adalah al-mizan al-akbar (tolok ukur yang agung) yang dengannya segala sesuatu diperbandingkan, baik dengan akhlaknya, dengan sejarah perjalanannya, maupun dengan petunjuknya. Apa yang bersesuaian dengannya, itulah yang haq, sedangkan yang menyelisihinya, itulah kebatilan.”

 

وقال –رحمه الله: وأنا أذكر في كتابي هذا بمشيئة الله ما بنقلة الحديث وحماله حاجة إلى معرفته واستعماله، من الأخذ بالخلائق الزكية، والسلوك للطرائق الرضية، في السماع والحمل والأداء والنقل، وسنن الحديث ورسومه، وتسمية أنواعه وعلومه، على ما ضبطه حفاظ أخلافنا عن الأئمة من شيوخنا وأسلافنا، ليتبعوا في ذلك دليلهم، ويسلكوا بتوفيق الله سبيلهم، ونسأل الله المعونة على ما يرضى، والعصمة من اتباع الباطل والهوى.

 

Beliau –rahimahullah– melanjutkan, “Dan aku akan menyebutkan di dalam kitabku ini -dengan kehendak Allah- apa yang dibutuhkan oleh para penukil hadits dan para pembawanya agar mengetahui dan mengamalkannya, tentang mengambil akhlak-akhlak yang baik dan perilaku menuju jalan-jalan yang diridai, dalam hal menyimak, membawa, menyampaikan, dan menukil, juga tentang sunnah-sunnah (yang terkandung) dalam hadits dan penjelasannya, tentang menamai jenis-jenisnya dan ilmu-ilmunya, atas apa yang orang-orang selepas kita menghafalnya dari para imam dari kalangan guru-guru kita dan para pendahulu kita agar dalam hal itu mereka mengikuti dalil-dalil para salaf dan menempuh –dengan taufiq Allah- jalan mereka. Dan kami memohon pertolongan Allah terhadap hal yang diridai, juga memohon penjagaan dari mengikuti kebatilan dan hawa nafsu.

 

وقال –رحمه الله: أخبرنا أبو بكر أحمد بن محمد بن أحمد بن غالب الخوارزمي، أنا أبو الفضل محمد بن عبد الله بن خميرويه الهروي، أنا الحسين بن إدريس، نا ابن عمار، نا المعافى، عن مالك بن أنس، قال :قال ابن سيرين: كانوا يتعلمون الهدي كما يتعلمون العلم. قال : وبعث ابن سيرين رجلا فنظر كيف هدي القاسم [٣] وحاله.

 

Beliau –rahimahullah– melanjutkan:

Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakr Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Ghalib al-Khuwarizmi: telah mengabarkan kepada kami Abu al-Fadhl Muhammad bin ‘Abdillah bin Khamirawaih al-Harawi: telah mengabarkan kepada kami al-Husain bin Idris: telah menceritakan kepada kami Ibn ‘Ammar: telah menceritakan kepada kami al-Mu’afi, dari Malik bin Anas, dia berkata: Ibn Sirin berkata, “Mereka belajar budi pekerti sebagaimana mereka mempelajari ilmu.” Malik bin Anas juga berkata, “Dan Ibn Sirin mengutus seseorang sehingga dia melihat bagaimana budi pekerti al-Qasim [3] dan perihalnya.”

 

[3] Kata Mahmud Thahhan:

 

القاسم: هو القاسم بن محمد بن أبي بكر الصديق، أحد الفقهاء السبعة، وهو من أكابر التابعين الفضلاء العلماء.

 

Al-Qasim yang dimaksud adalah al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr ash-Shadiq, salah seorang dari ahli fiqh yang tujuh, dan dia termasuk kalangan tabi’in besar, utama dan ulama.

 

وقال –رحمه الله: أخبرني عبد الله بن يحيى السكري، أنا محمد بن عبد الله الشافعي، نا جعفر بن محمد بن الأزهر، نا ابن الغلابي، نا أبي، نا إبراهيم بن حبيب بن الشهيد، قال: قال لي أبي: يا بني ايت الفقهاء والعلماء وتعلم منهم وخذ من أدبهم وأخلاقهم وهديهم فإن ذاك أحب لك من كثير من الحديث.

 

Beliau –rahimahullah– melanjutkan:

Telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah bin Yahya as-Sukkari: telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin ‘Abdillah asy-Syafi’i: telah menceritakan kepadaku Ja’far bin Muhammad bin al-Azhar: telah menceritakan kepada kami Ibn Ghalabi: telah menceritakan kepadaku ayahku: telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Habib bin asy-Syahid, dia berkata: ayahku berkata kepadaku, “Wahai anakku, datangilah fuqaha dan ulama dan belajarlah kau dari mereka. Ambillah budi pekerti, perangai, dan petunjuk mereka. Sungguh hal itu bagimu lebih kusukai daripada berbanyak-banyak hadits.”

 

وقال –رحمه الله: نا الحسن بن أبي بكر نا أبو جعفر أحمد بن يعقوب الأصبهاني، إملاء، نا عبد الله بن صالح البخاري، نا إبراهيم بن سعيد، نا أبو ثوبة، عن ابن المبارك، قال: قال لي مخلد بن الحسين: نحن إلى كثير من الأدب أحوج منا إلى كثير من الحديث.

 

Beliau –rahimahullah– melanjutkan:

Telah menceritakan kepada kami al-Hasan bin Abi Bakr: telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Ahmad bin Ya’qub al-Ashbahani secara imla’: telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Shalih al-Bukhari: telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’id: telah menceritakan kepada kami Abu Tsaubah, dari Ibn al-Mubarak, dia berkata: Makhlad bin al-Husain berkata kepadaku, “Kita lebih butuh kepada budi pekerti daripada berbanyak-banyak hadits.”

 

وقال –رحمه الله: أنا محمد بن أحمد بن يعقوب، أنا محمد بن نعيم الضبي، قال: سمعت أبا زكريا العنبري، يقول: علم بلا أدب كنار بلا حطب، وأدب بلا علم كروح بلا جسم. وإنما شبهت العلم بالنار لما روينا عن سفيان بن عيينة، أنه قال: ما وجدت للعلم شبها إلا النار، نقتبس منها ولا ينتقص عنها.

 

Beliau –rahimahullah– melanjutkan:

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Ya’qub: telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Nu’aim adh-Dhabbi, dia berkata: aku mendengar Abu Zakariya al-‘Anbari mengatakan, “Ilmu tanpa disertai budi pekerti tak ubahnya api tanpa kayu bakar, sedangkan budi pekerti tanpa ilmu, tak ubahnya seperti ruh tanpa jasad. Dan aku hanyalah menyerupakan ilmu dengan api berdasarkan apa yang diriwayatkan kepada kami dari Sufyan bin ‘Uyainah, bahwasanya dia mengatakan: Aku tak mendapati perumpamaan bagi ilmu selain api, kami mengambil sebagian api darinya namun tak ada yang berkurang darinya.”

 

Bandung, 23 Mei 2013

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–