Mereka Bilang, Bilal –radhiyallahu ‘anhu- pun Mengada-Adakan Bid’ah …

Untitled-

Sebagian orang ada yang berpikir –keliru- dengan mengatakan bahwa Bilal –radhiyallahu ‘anhu– telah mengada-adakan suatu perbuatan bid’ah yang kemudian (perbuatan bid’ahnya itu) disetujui dan ditetapkan oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sebagai suatu amal perbuatan yang baik. Bid’ah yang dilakukan oleh Bilal (dan disetujui oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– itu) adalah shalat sunah dua rakaat setiap kali selesai wudu (dikenal dengan sebutan shalat syukrul wudu). Menurut mereka, perbuatan Bilal tersebut menunjukkan bahwa bid’ah itu tidaklah selalu dhalalah (buruk), tetapi adakalanya malah hasanah (baik). Mereka berdalil dengan hadits berikut ini:

 

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ نَصْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ أَبِي حَيَّانَ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِبِلَالٍ عِنْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ يَا بِلَالُ حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الْإِسْلَامِ فَإِنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ قَالَ مَا عَمِلْتُ عَمَلًا أَرْجَى عِنْدِي أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طَهُورًا فِي سَاعَةِ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلَّا صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّيَ –صحيح البخاري

 Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bertanya kepada Bilal pada waktu shalat subuh, “Wahai Bilal, kabarkan kepadaku tentang amal yang paling kauharapkan (pahalanya) yang telah kau kerjakan di dalam Islam, karena sesungguhnya aku mendengar (dalam mimpiku tadi malam) suara ketukan kedua sandalmu di depanku di dalam surga.” Bilal menjawab, “Tidaklah aku mengerjakan suatu amal yang lebih kuharapkan pahalanya selain bahwa setiap kali aku telah berwudu, baik pada malam hari atau pada siang hari, maka aku pun melaksanakan shalat dengan wuduku itu sesuai yang dituliskan bagiku untuk kulakukan.” (HR. al-Bukhari)

 

Kata mereka, hadits ini menunjukkan bahwa Bilal telah mengada-adakan suatu amal yang baru (bid’ah), yaitu melakukan shalat sunah selepas wudu padahal tidak ada petunjuk dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– mengenai perbuatan tersebut sebelumnya. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sendiri baru mengetahui amalan tersebut setelah beliau bertanya kepada Bilal. Ini menunjukkan bahwa Bilal telah mengada-adakan suatu amal (bid’ah), sementara Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sama sekali tak mengingkarinya. Dengan demikian, bid’ah itu tak selamanya dhalalah, tetapi ada juga yang hasanah. Terbukti hasanah karena Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun menyetujui perbuatan bid’ah yang dilakukan oleh Bilal.

 

Sanggahan:

Benarkah demikian? Apakah Bilal –radhiyallahu ‘anhu– memang mengada-adakan bid’ah dengan melakukan shalat sunah dua rakaat setelah wudu? Apakah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– lantas menetapkan taqrir (menyetujui) perbuatan bid’ah yang dilakukan oleh Bilal tersebut?

Tidak, sama sekali tidak seperti yang mereka katakan …

(1) Apakah Bilal –radhiyallahu ‘anhu– memang mengada-adakan bid’ah dengan melakukan shalat sunah dua rakaat setelah wudu? Tidak. Bilal –radhiyallahu ‘anhu– sama sekali tidak mengada-adakan bid’ah shalat sunah selepas wudu. Hal itu dikarenakan bab shalat mutlak itu luas dan terbuka lebar, kapan saja boleh dilakukan selama berada di luar waktu-waktu yang terlarang. Selain itu, syariat shalat selepas wudu itu secara khusus telah disebutkan oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sebagaimana dalam hadits dari shahabat ‘Utsman bin ‘Affan –radhiyallahu ‘anhu– berikut:

حدّثني أَبُو الطّاهِرِ أَحْمَدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ عَبْدِ اللّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ سَرْحٍ، وَ حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَىَ التّجِيبِيّ. قَالاَ: أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ عَنْ يُونُسَ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ أَنّ عَطَاءَ بْنَ يَزِيدَ اللّيْثِيّ أَخْبَرَهُ أَنّ حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ أَخْبَرَهُ أَنّ عُثْمَانَ بْنَ عَفّانَ رَضِي اللّهُ عنه دَعَا بوَضُوءٍ. فَتَوَضّأَ. فَغَسَلَ كَفّيْهِ ثَلاَثَ مَرّاتٍ. ثُمّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْثَرَ. ثُمّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثَ مَرّاتٍ. ثُمّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْمِرْفَقِ ثَلاَثَ مَرّاتٍ. ثُمّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ. ثُمّ مَسَحَ رَأْسَهُ. ثُمّ غَسَلَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْكَعْبَيْنِ ثَلاَثَ مَرّاتٍ. ثُمّ غَسَلَ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ. ثُمّ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللّهِ صلى الله عليه وسلم تَوَضّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا. ثُمّ قَالَ رَسُولُ اللّهِ صلى الله عليه وسلم: مَنْ تَوَضّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا، ثُمّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ، لاَ يُحَدّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدّمَ مِنْ ذَنْبِهِ –صحيح البخاري

‘Utsman –radhiyallahu ‘anhu– berkata:

Aku melihat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berwudu sebagaimana wudu yang kulakukan ini. Kemudian Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Barangsiapa yang berwudu seperti wuduku ini, kemudian dia shalat sebanyak dua rakaat tanpa membiarkan pikiran jiwanya melayang-layang dalam shalatnya, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. al-Bukhari)

 

Ibn Hajar al-Asqalani berkata di dalam Fath al-Bari:

 قوله: (ثم صلى ركعتين) فيه استحباب صلاة ركعتين عقب الوضوء

Ucapan beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam, “… kemudian dia shalat sebanyak dua rakaat,” di dalamnya terkandung anjuran untuk shalat dua rakaat selepas wudu.

 

Dengan demikian, shalat selepas wudu itu bukanlah bid’ah yang diada-adakan oleh Bilal –radhiyallahu ‘anhu, melainkan Sunnah yang telah ditetapkan oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam

 

(2) Apakah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– lantas menetapkan taqrir (menyetujui) perbuatan bid’ah yang dilakukan oleh Bilal tersebut? Tidak. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– hanya bertanya tentang amal perbuatan yang dilakukan oleh Bilal yang dengan perbuatan tersebut Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– mendengar suara langkah kaki Bilal (yaitu suara sandalnya) di dalam surga. Kemudian Bilal menjawab bahwa dirinya melakukan suatu amal berupa shalat setelah wudu. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tidak mengingkari amalan Bilal tersebut karena memang amalan tersebut pada hakikatnya telah tertera di dalam Sunnah beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam

 

Faidah: Shalat sunnah selepas wudu (atau yang dikenal dengan sebutan shalat syukrul wudu) itu merupakan amalan yang diambil dari Sunnah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dan memiliki ganjaran yang sangat besar berupa dihapuskannya dosa-dosa yang telah dilakukan …

 

Wallahu a’lamu …

 

Bandung, 16 Februari 2016

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Tentang Mengenali Sesuatu Beserta Lawannya …

Untitled

Syaikh Muhammad Nashir ad-Din al-Albani –rahimahullah– berkata di kitab al-Ajwibah an-Nafi’ah (109-115):

 

إن مما يجب العلم به أن معرفة البدع التي أدخلت في الدين أمر هام جدا لأنه لا يتم للمسلم التقرب إلى الله تعالى إلا باجتنابها ولا يمكن ذلك إلا بمعرفة مفرداتها إذا كان لا يعرف قواعدها وأصولها وإلا وقع في البدعة وهو لا يشعر فهي من باب: “ما لا يقوم الواجب إلا به فهو واجب.” كما يقول علماء الأصول رحمهم الله تعالى. ومثل ذلك معرفة الشرك وأنواعه فإن من لا يعرف ذلك وقع فيه كما هو مشاهد من كثير من المسلمين الذين يتقربون إلى الله بما هو شرك كالنذر للأولياء والصالحين والحلف بهم والطواف بقبورهم وبناء المساجد عليها وغير ذلك مما هو معلوم شركه عند أهل العلم ولذلك فلا يكفي في التعبد الاقتصار على معرفة السنة فقط بل لا بد من معرفة ما يناقضها من البدع كما لا يكفي في الإيمان التوحيد دون معرفة ما يناقضه من الشركيات وإلى هذه الحقيقة أشار رسول الله صلى الله عليه وسلم بقوله: “من قال: لا إله إلا الله وكفر بما يعبد من دون الله حرم ماله ودمه وحسابه على الله”. رواه مسلم.

 

Sesungguhnya, di antara perkara yang wajib diketahui, bahwasanya ma’rifah al-bida’ (pengetahuan tentang bid’ah-bid’ah) yang disusupkan ke dalam agama itu merupakan perkara yang sangat penting. Hal itu dikarenakan, tidaklah akan sempurna taqarrub seorang muslim kepada Allah –ta’ala– kecuali dengan menjauhi bid’ah-bid’ah. Dan tidaklah mungkin hal itu terlaksana kecuali dengan mengetahui satu persatu dari bid’ah-bid’ah tersebut –jika memang dia tak mengetahui tentang kaidah-kaidah dan ushul-ushul bid’ah– karena jika tidak, maka bisa terjatuh ke dalam bid’ah tanpa menyadarinya. Maka, pengetahuan tentang bid’ah-bid’ah ini masuk ke dalam bab, “Hal yang apabila suatu kewajiban tak bisa tegak tanpanya, maka hal itu menjadi wajib,” sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama ushulrahimahumullah ta’ala. Perkara lain (yang wajib diketahui) semisal ma’rifah al-bida’ ini adalah ma’rifah asy-syirk (pengetahuan tentang syirik) dan jenis-jenisnya, karena sesungguhnya orang yang tak mengetahui kesyirikan, dimungkinkan dirinya terjerumus ke dalamnya sebagaimana terlihat dari (perbuatan) kebanyakan kaum Muslimin yang ber-taqarrub kepada Allah melalui perkara-perkara syirik semisal nadzar kepada para wali dan orang-orang salih, bersumpah dengan nama-nama mereka, melakukan tawaf di kuburan mereka, membangun masjid di atas kuburan mereka, dan perbuatan-perbuatan lainnya yang telah dimaklumi kesyirikannya oleh ahli ilmu. Oleh karena itu, tidaklah cukup dalam perkara ibadah itu jika hanya membatasi dengan ma’rifah Sunnah saja, melainkan sudah semestinya seseorang itu untuk ma’rifah pula terhadap perkara-perkara yang menjadi lawan dari Sunnah, yaitu bid’ah sebagaimana tidak mencukupinya ma’rifah terhadap iman tauhid tanpa ma’rifah terhadap lawan dari tauhid, yaitu syirik. Terhadap hakikat inilah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berisyarat melalui ucapannya, “Barangsiapa yang mengucapkan laa ilaaha illallaahu seraya mengingkari segala sesuatu yang diibadahi selain Allah, maka haramlah harta dan darahnya, sedangkan perhitungannya terserah Allah.” (HR. Muslim)

 

فلم يكتف عليه السلام بالتوحيد بل ضم إليه الكفر بما سواه وذلك يستلزم معرفة الكفر وإلا وقع وهو لا يشعر وكذلك القول في السنة والبدعة ولا فرق ذلك لأن الإسلام قام على أصلين عظيمين: أن لا نعبد إلا الله وأن لا نعبده إلا بما شرع الله. فمن أخل بأحدهما فقد أخل بالآخر ولم يعبد الله تبارك وتعالى وتحقيق القول في هذين الأصلين تجده مبسوطا في كتب شيخي الإسلام ابن تيمية وابن القيم رحمهما الله تعالى. فثبت مما تقدم أن معرفة البدع أمر لا بد منه لتسلم عبادة المؤمن من البدعة التي تنافي التعبد الخالص لله تعالى فالبدع من الشر الذي يجب معرفته لا لإتيانه بل لاجتنابه على حد قول الشاعر:

عرفت الشر لا للشـ … ـر لكن لتوقيه

ومن لا يعرف الشر … من الخير يقع فيه

 

Maka (dalam sabdanya tersebut), Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tidak mencukupkan dengan tauhid semata, bahkan beliau menggabungkan juga pengingkaran terhadap sesembahan selain-Nya. Tentu saja hal itu mengharuskan ma’rifah al-kufr (pengetahuan tentang kekufuran), karena jika tidak, dia bisa terjerumus ke dalam kekufuran tanpa menyadarinya. Demikian juga, tiada beda dalam masalah Sunnah dan bid’ah, karena Islam itu tegak di atas dua landasan yang agung, yaitu (1) agar kita tidak beribadah kecuali hanya kepada Allah semata, dan (2) agar kita tidak beribadah kepada-Nya kecuali dengan perkara yang disyariatkan oleh Allah bagi kita. Maka, barangsiapa yang menihilkan salah satunya, itu berarti dia telah menihilkan yang lainnya sehingga dirinya belum terhitung beribadah kepada Allah –tabaraka wa ta’ala. Adapun penjabaran mengenai kedua landasan ini bisa didapati secara luas dalam kitab-kitab karya dua Syaikh al-Islam, Ibn Taimiyah dan Ibn al-Qayyim –rahimahumallah ta’ala. Maka, dengan semua penjelasan yang telah lalu tersebut, semakin kukuhlah bahwa ma’rifah al-bida’ itu merupakan suatu kemestian untuk melepaskan ibadah orang beriman dari bid’ah yang berlawanan dengan kemurnian ibadah kepada Allah –ta’ala. Dengan demikian, bid’ah itu merupakan keburukan yang wajib diketahui. Dia harus diketahui oleh seseorang bukan untuk dilakukan, tetapi harus diketahui oleh seseorang agar dirinya menjauh dari bid’ah tersebut dengan batasan sebagaimana yang dikemukakan oleh seorang penyair, “Aku mengenali keburukan bukan untuk melakukan keburukan itu, tetapi untuk menjaga diri darinya. Siapa yang tak mengenali keburukan sehingga tak bisa membedakannya dari kebaikan, maka dia akan terjerumus ke dalamnya.”

 

وهذا المعنى مستقى من السنة فقد قال حذيفة بن اليمان رضي الله عنه: كان الناس يسألون رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الخير وكنت أسأله عن الشر مخافة أن يدركني فقلت: يا رسول الله إنا كنا في جاهلية وشر فجاءنا الله بهذا الخير فهل بعد هذا الخير شر؟ قال: نعم. فقلت: هل بعد ذلك الشر من خير؟ قال: “نعم وفيه دخن” قلت: وما دخنه؟ قال: “قوم يستنون بغير سنتي ويهدون بغير هديي تعرف منهم وتنكر” فقلت: هل بعد ذلك الخير من شر؟ قال: “نعم دعاة على أبواب جهنم من أجابهم إليها قذفوه فيها”. فقلت: يا رسول الله صفهم لنا. قال: “نعم قوم من جلدتنا ويتكلمون بألسنتنا … الحديث.” أخرجه البخاري ومسلم

 

Dan makna syair tersebut disauk dari Sunnah. Dulu, Hudzaifah bin al-Yaman –radhiyallahu ‘anhu– pernah berkata:

Orang-orang bertanya kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tentang kebaikan, sementara aku bertanya kepada beliau mengenai keburukan karena aku merasa takut terjerumus ke dalam keburukan itu. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya dahulu kami berada dalam kejahiliyahan dan keburukan. Lalu Allah mendatangkan kepada kami kebaikan (agama) ini. Lantas, apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan.” Beliau menjawab, “Ya.” Aku berkata, “Apakah setelah keburukan tersebut ada lagi kebaikan?” Beliau menjawab, “Ya. Akan tetapi, di dalam kebaikan itu ada kabut.” Aku berkata, “Kabut apa itu.” Beliau menjawab, “Orang-orang yang mengambil sunnah yang bukan dari sunnahku dan mengambil petunjuk yang bukan dari petunjukku. Kau akan mengenali sebagian dari mereka dan mengingkari mereka.” Aku bertanya lagi, “Apakah setelah kebaikan (yang berkabut) tersebut akan ada lagi keburukan?” Beliau menjawab, “Ya, para da’i yang mengajak ke pintu-pintu jahannam. Siapa yang memenuhi ajakan mereka, maka da’i-da’i itu akan menjerumuskannya ke dalam jahannam.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah, jelaskanlah ciri-ciri mereka kepada kami.” Beliau berkata, “Ya, mereka itu dari kalangan kita juga dan berbicara dengan bahasa kita …,” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

 

قلت: ولهذا كان من الضروري جدا تنبيه المسلمين على البدع التي دخلت في الدين وليس الأمر كما يتوهم البعض: أنه يكفي تعريفهم بالتوحيد والسنة فقط ولا ينبغي التعرض لبيان الشركيات والبدعيات بل يسكت عن ذلك وهذا نظر قاصر ناتج عن قلة المعرفة والعلم بحقيقة التوحيد الذي يباين الشرك والسنة التي تباين البدعة وهو في الوقت نفسه يدل على جهل هذا البعض بأن البدعة قد يقع فيها حتى الرجل العالم وذلك لأن أسباب البدعة كثيرة جدا لا مجال لذكرها الآن ولكن أذكر سببا واحدا منها وأضرب عليه مثلا فمن أسباب الابتداع في الدين الأحاديث الضعيفة والموضوعة فقد يخفى على بعض أهل العلم شيء منها ويظنها من الأحاديث الصحيحة فيعمل بها ويتقرب إلى الله تعالى ثم يقلده في ذلك الطلبة والعامة فتصير سنة متبعة فهذا مثلا الشيخ الفاضل والعلامة المحقق السيد جمال الدين القاسمي ألف كتابه القيم “إصلاح المساجد من البدع والعوائد” وقد انتفعت به كثيرا في المشروع الذي سبقت الإشارة إليه ومع ذلك فقد عقد فصلا في أمور ينبغي التنبه لها ذكر فيه عشرين مسألة ومنها المسألة (١٦- دخول الصبيان للمساجد) قال (ص ٢۰٥): “في الحديث: (وجنبوا مساجدكم صبيانكم ومجانينكم) وذلك لأن الصبي دأبه اللعب فبلعبه يشوش على المصلين وربما اتخذه ملعبا فنافى ذلك موضع المسجد فلذا يجنب عنه.”

 

Aku (Syaikh al-Albani) katakan, dengan demikian merupakan hal yang sangat penting untuk memperingatkan kaum Muslimin dari bid’ah-bid’ah yang disusupkan ke dalam agama (Islam). Dan perkara ini tidaklah sebagaimana pemikiran sebagian orang yang beranggapan, “Cukuplah hanya dengan mengenalkan kaum Muslimin terhadap tauhid dan Sunnah saja, dan tidak selayaknya mengemukakan lawan-lawan dari tauhid dan sunnah untuk menjelaskan kesyirikan-kesyirikan dan bid’ah-bid’ah. Bahkan hendaklah diam (berhenti) dari menjelaskan itu.” Tentu saja ini merupakan pandangan dangkal yang disebabkan oleh sedikitnya ma’rifah dan pengetahuan terhadap hakikat tauhid dan sunnah yang menjadi lawan dari syirik, juga karena sedikitnya ma’rifah dan pengetahuan terhadap hakikat sunnah yang menjadi lawan dari bid’ah. Dan pada saat yang sama, pandangan tersebut menunjukkan pula akan kebodohan orang yang berpendapat demikian, karena –pada kenyataannya- keterjerumusan terhadap bid’ah itu bisa dialami juga oleh orang yang berilmu, dan hal itu dikarenakan penyebab munculnya bid’ah itu sangatlah banyak –tetapi bukan sekarang saat untuk menyebutkannya. Pada kesempatan ini, aku hanya akan menyebutkan salah satu saja (dari sekian banyak penyebab bid’ah) sekaligus saya sebutkan pula contohnya. (salah satu penyebab) timbulnya bid’ah dalam agama adalah hadits-hadits dha’if dan palsu, dan terkadang dari antara hadits-hadits tersebut ada yang (kelemahan atau kepalsuannya) terluput dari pengetahuan sebagian ahli ilmu dan dia menyangka bahwa hadits tersebut termasuk di antara hadits-hadits sahih sehingga dia pun beramal dengannya dan ber-taqarrub kepada Allah –ta’ala, kemudian para penuntut ilmu dan orang-orang awam mengikutinya sehingga menjadi sunnah yang diikuti. Sebagai contohnya adalah (hal yang terjadi pada) Syaikh al-Fadhil, al-‘Allamah, al-Muhaqqiq, as-Sayyid Jamal ad-Din al-Qasimi. Dia menulis kitab yang sangat berharga yang berjudul Ishlah al-Masajid min al-Bida’ wa al-‘Awa-id. Aku sendiri telah banyak mengambil faidah dari kitabnya tersebut dalam hal-hal masyru’ (hal-hal yang sesuai dengan syariat) yang telah kuisyaratkan sebelumnya. Akan tetapi, bersamaan dengan itu, dia telah membuat sebuah pasal di dalam kitabnya tersebut mengenai masalah-masalah yang seyogianya diberi catatan (karena keliru/salah). Dia menyebutkan 20 masalah dalam pasal tersebut, salah satu di antaranya adalah masalah ke-16 dengan judul Dukhul ash-Shibyan li al-Masajid (Masuknya Anak-Anak ke dalam Masjid-Masjid), dan di situ –yakni pada halaman 205, dia mengatakan, “Disebutkan dalam hadits, ‘Jauhkanlah anak-anak kalian dan orang-orang gila kalian dari masjid-masjid kalian.Dan hal itu, karena anak-anak memang melekat pada diri mereka kebiasaan bermain yang akan mengganggu orang-orang yang sedang shalat. Bahkan terkadang anak-anak malah menjadikan masjid sebagai tempat untuk bermain sehingga tentu saja hal itu berlawanan dengan peruntukan masjid (sebagai tempat shalat dan ibadah). Oleh karena itu, seyogianya anak-anak memang dijauhkan dari masjid.”

 

قلت: فهذا الحديث ضعيف لا يحتج به وقد ضعفه جماعة من الأئمة مثل عبد الحق الأشبيلي وابن الجوزي والمنذري والبوصيري والهيثمي والعسقلاني وغيرهم. ومع ذلك خفي حاله على الشيخ القاسمي وبنى عليه حكما شرعيا وهو تجنيب الصبيان عن المسجد تعظيما للمسجد والواقع أنه بدعة لأنه خلاف ما كان عليه الأمر في عهد النبي صلى الله عليه وسلم كما هو مشروح في محله من كتب السنة وانظر كتابنا “صفة صلاة النبي صلى الله عليه وسلم ” (ص ٧٣ – الطبعة الثالثة) ….. وذلك فإن التنبيه على البدع أمر واجب على أهل العلم وقد قام بذلك طائفة منهم ، فألفوا كتبا كثيرة في هذا الباب، بعضها في قواعد البدع وأصولها وبعضها في فروعها، وبعضها جمع بين النوعين، وقد طالعتها جميعا وقرأت معها مئات الكتب الأخرى في الحديث والفقه والأدب وغيرها وجمعت منها مادة عظيمة في البدع ما أظن أن أحدا سبقني إلى مثلها، وهي أصل كتابي المشار إليه آنفا “قاموس البدع” الذي أسأل الله أن ييسر لي تهذيبه وتصنيفه وإخراجه للناس. وهذا الفصل الذي بين يديك هو دليل عليه ونموذج منه. والله سبحانه هو الموفق …

 

Aku (Syaikh al-Albani) katakan, hadits (yang dijadikan dasar oleh Syaikh al-Qasimi) itu dha’if (lemah), tidak bisa dijadikan sebagai dalil. Banyak kalangan pembesar ulama yang melemahkan hadits tersebut, seperti ‘Abd al-Haq al-Isybili, Ibn al-Jauzi, al-Mundziri, al-Bushiri, al-Haitsami, al-Asqalani, dan juga ulama-ulama selain mereka. Bersamaan dengan itu, meskipun para ulama telah melemahkan hadits tersebut, tetap saja hal itu tersembunyi (tidak diketahui) oleh Syaikh al-Qasimi sehingga dia membangun suatu hukum syariat di atas hadits lemah tersebut, yaitu menjauhkan anak-anak dari masjid untuk menjaga kehormatan masjid. Sebetulnya, pada hakikatnya hal itu merupakan bid’ah karena bertentangan dengan perkara yang berlaku pada masa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sebagaimana terdapat penjelasannya di dalam kitab-kitab Sunnah. Lihat pula kitab kami yang berjudul Shifat Shalah an-Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– (halaman 73, cetakan ke-3) ….. demikianlah, sesungguhnya mewaspadakan (memperingatkan manusia) dari bid’ah-bid’ah itu merupakan perkara wajib bagi ahli ilmu. Sebagian di antara ahli ilmu telah melakukan hal tersebut. Mereka menulis banyak kitab dalam masalah ini. Sebagian di antara mereka menulis tentang kaidah-kaidah (untuk memahami) bid’ah dan ushul-nya (pokok-pokoknya), sebagian lagi menulis mengenai furu’ (cabang-cabangnya), sedangkan sebagian lainnya menggabungkan antara kedua jenis tersebut (ushul dan furu’). Aku sendiri telah menelaah semua kitab tersebut, dan bersamaan dengan itu, kubaca pula ratusan kitab lain dalam masalah hadits, fiqh, sastra, dan lain-lain. Dari semua itu, aku mengumpulkan (ke dalam sebuah kitab) sejumlah besar materi mengenai bid’ah, dan menurut dugaanku, tidak ada seorang pun yang mendahuluiku dalam mengumpulkan masalah-masalah bid’ah hingga sebanyak itu, dan semua itu menjadi kandungan pokok dari kitabku yang akan kusebutkan sekarang, yaitu kitab Qamus al-Bida’ yang aku memohon kepada Allah agar memudahkanku dalam menyempurnakan, menulis, dan menyebarkannya kepada manusia. Adapun pasal (yang kukemukakan) ke hadapan kalian ini merupakan salah satu contoh dari kandungan kitabku tersebut. Dan Allah subhanahu, Dialah yang memberi taufiq …

 

Bandung, 7 Februari 2016

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Ketika Mereka Bertakbir Mengitari Hewan Kurban …

rujak

Kitab Silsilah al-Fatwa asy-Syar’iyyah (1/182) …

Syaikh Abu al-Hasan Musthafa as-Sulaimani hafizhahullah …

 

السؤال (١٨٢): هناك عادة في بعض البلاد، وهي: أن يجتمع أهل البيت عند أضحيتهم، وأحيانًا يكبرون ويهللون فوقها، قبل ذبحها، وقد يُغَسِّلها بعضهم أو يوضئها قبل الذبح، أو يطوف حولها مع تكبير وتهليل، فما حكم ذلك؟

 

Syaikh Abu al-Hasan Musthafa as-Sulaimani hafizhahullah ditanya:

Ada kebiasaan yang berlaku di sebagian negeri, yaitu berkumpulnya anggota keluarga di dekat hewan kurban (yang akan disembelih). Terkadang mereka bertakbir dan bertahlil di sekitar hewan kurban sebelum disembelih. Sebagian di antara mereka memandikan atau mencuci terlebih dahulu hewan kurban itu sebelum disembelih. Atau mereka thawaf (berjalan mengitari) hewan kurban itu seraya bertakbir dan bertahlil. Bagaimanakah hukum mengenai hal itu?

 

الجواب: أما الغسل والوضوء، فلا أعلم فيه أثرًا لا صحيحًا ولا ضعيفًا، والظاهر: أنه من البدع التي نشأ عليها العوام لجهلهم بسماحة ويُسْرِ شريعة الإسلام، وهذه الأحوال من آثار الجهل، وتَصَدُّرِ الجهلاء للفتوى , فإنا لله وإنا إليه راجعون.

 

Syaikh Abu al-Hasan Musthafa as-Sulaimani hafizhahullah menjawab:

(Pertama): Adapun perkara memandikan atau mencuci hewan kurban itu sebelum disembelih, maka aku tak mengetahui adanya atsar (hadits) mengenai hal itu, baik yang sahih maupun yang dha’if. Yang tampak, itu termasuk di antara bid’ah-bid’ah yang berkembang di kalangan awam lantaran kejahilan mereka akan kelapangan dan kemudahan syariat Islam. Keadaan ini merupakan dampak dari kejahilan, dampak dari mengemukanya orang-orang bodoh untuk berfatwa, fa inna lillahi wa inna ilaihi raji’un

 

وأما حضور أهل البيت عند الذبح، فرُوي في ذلك حديث علي أن رسول الله – صلى الله عليه وعلى آله وسلم – قال: “يا فاطمة! قومي فاشهدي أضحيتك؛ فإن لك بكل قطرة تقطر من دمها مغفرة لكل ذنب، أما إنها تُجاء بدمها ولحمها، فيوضع في ميزانك سبعين ضعفاً”. فقال أبو سعيد: يا رسول الله، هذا لآل محمد خاصة، فأنت أهل لما اختصوا به من خير، أو للمسلمين عامة؟ فقال – صلى الله عليه وعلى آله وسلم – : “لآل محمد خاصة، والمسلمين عامة ” أخرجه عبد بن حميد في “المنتخب” برقم (٧٨) وغيره، وفي سنده عمرو بن خالد، وهو متروك.

 

(Kedua): Adapun mengenai kehadiran anggota keluarga di dekat hewan sembelihan, maka diriwayatkan mengenai hal itu hadits dari ‘Ali bahwasanya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Wahai Fathimah, pergi dan saksikanlah penyembelihan hewan kurbanmu! Sesungguhnya bagimu, pada setiap tetes darahnya terdapat ampunan bagi tiap-tiap dosamu. Sesungguhnya kelak, hewan kurbanmu itu akan didatangkan bersama darah dan dagingnya, lalu diletakkan di atas timbanganmu sebagai kebaikan yang dilipatgandakan hingga tujuh puluh kali.” (Mendengar itu), berkatalah Abu Sa’id, “Wahai Rasulullah, apakah itu khusus untuk keluarga Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- saja sehingga kau (dan keluargamu) yang berhak mendapatkan kekhususan dari kebaikan ini? Ataukah mencakup juga kaum Muslimin seluruhnya?” Maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun menjawab, “Untuk keluarga Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- secara khusus, dan untuk kaum Muslimin secara umum.”

Hadits tersebut dikeluarkan oleh ‘Abd bin Humaid di kitab al-Muntakhab (78) dan selainnya. Akan tetapi, pada sanadnya ada ‘Amr bin Khalid, seorang perawi yang matruk (ditinggalkan haditsnya) …

 

وروي بنحوه من حديث عمران بن حصين عند الحاكم (٤/٢٢٢) وابن عدي في “الكامل” (٧/٢٤٩٢) والطبراني في “الكبير” برقم (٦۰۰) وغيره. وفي سنده أبو حمزة الثمالي، ضعيف جدًّا.

 

Dan diriwayatkan pula yang senada dengan hadits itu oleh Imam al-Hakim (4/222) dari ‘Imran bin Hushain, juga dikeluarkan oleh Ibn ‘Adi di kitab al-Kamil (7/2492), ath-Thabarani di kitab al-Kabir (600), dan lain-lain. Akan tetapi, pada sanadnya ada Abu Hamzah ats-Tsamali, seorang perawi yang dha’if jiddan (sangat lemah) …

 

فإذا كانت الآثار في ذلك لا تصح؛ فلا نذهب إلى استحباب حضور أهل البيت، والأمر على الإباحة، ما لم يعتقد الناس استحباب ذلك، فيترك الحضور أصلاً، والله أعلم .

 

Oleh karena itu, lantaran hadits-hadits mengenai hal itu tidak sahih, maka kami tak berpendapat bahwa kehadiran anggota keluarga (dalam penyembelihan hewan kurban) itu sebagai sesuatu yang istihbab (anjuran), melainkan hukumnya hanyalah ibahah (boleh) saja selama orang-orang tidak berkeyakinan bahwa hal itu dianjurkan. Maka pada asalnya, anggota keluarga itu tidak hadir dalam acara penyembelihan. Wallahu a’lamu

 

وأما الطواف مع التهليل حول الأضحية قبل ذبحها؛ فمن البدع المنكرة القبيحة، والعلم عند الله تعالى.

 

(Ketiga): Adapun perkara thawaf (berjalan mengitari) hewan kurban seraya bertahlil (dan bertakbir) di sekeliling hewan kurban sebelum disembelih, maka hal itu termasuk di antara bid’ah-bid’ah yang mungkar dan buruk, wa al-‘ilm ‘inda Allah ta’ala … –SELESAI

 

*

**

 

Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah wa al-Maudhu’ah (528):

Syaikh al-Albani –rahimahullah

 

يا فاطمة! قومي إلى أضحيتك فاشهديها، فإنه يغفر لك عند أول قطرة من دمها كل ذنب عملتيه، وقولي: (قل إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين لا شريك له وبذلك أمرت وأنا من المسلمين) . قال عمران بن حصين: قلت: يا رسول الله! هذا لك ولأهل بيتك خاصة وأهل ذاك أنتم – أم للمسلمين عامة؟ قال: لا، بل للمسلمين عامة.”

 

“Wahai Fathimah, pergilah menuju tempat penyembelihan hewan kurbanmu dan saksikanlah! Sesungguhnya setiap dosa yang telah kauperbuat akan diampuni bersamaan dengan awal tetes darah hewan kurbanmu. Dan ucapkanlah olehmu, ‘Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadah kurbanku, juga hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya, dan dengan hal itulah aku diperintahkan, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri.’” (Mendengar itu), berkatalah ‘Imran bin Hushain, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah hal itu hanyalah khusus bagimu dan juga keluargamu ataukah mencakup kaum Muslimin semuanya?’” Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menjawab, “Tidak begitu. Bahkan hal itu umum mencakup semua kaum Muslimin.”

 

Mengenai hadits tersebut, Syaikh al-Albani –rahimahullah– berkata di kitab Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah (528) sebagai berikut:

 

منكر.
أخرجه الحاكم (٤/٢٢٢ ( من طريق النضر بن إسماعيل البجلي: حدثنا أبو حمزة الثمالي عن سعيد بن جبير عن عمران بن حصين مرفوعا. وقال: “صحيح الإسناد”! فرده الذهبي بقوله: ” قلت: بل أبو حمزة ضعيف جدا، و[ابن] إسماعيل ليس بذاك.”

 

Hadits tersebut MUNKAR. Dikeluarkan oleh al-Hakim (4/222) dari jalan an-Nadhr bin Isma’il al-Bajali: telah bercerita kepada kami Abu Hamzah ats-Tsamali, dari Sa’id bin Jubair, dari ‘Imran bin Hushain secara marfu’, dan al-Hakim mengatakan, “Shahih sanadnya.” Lantas Imam adz-Dzahabi membantahnya seraya berucap, “Kukatakan, bahkan Abu Hamzah itu dha’if jiddan (sangat lemah), sementara Ibn Isma’il itu tidak kuat.”

 

ومن طريق أبي حمزة واسمه ثابت بن أبي صفية رواه الطبراني في “الكبير” و”الأوسط” كما في “المجمع” (٤/١٧ (ثم ساق له الحاكم شاهدا من طريق عطية عن أبي سعيد الخدري مرفوعا دون قوله: “وقولي…. ” وجعل: “قلت: يا رسول الله هذا لك… ” من قول فاطمة، ورده الذهبي أيضا بقوله: “قلت: عطية واه “.

 

Dan dari jalan Abu Hamzah –namanya Tsabit bin Abi Shafiyah- ini, Imam ath-Thabarani meriwayatkannya di kitab al-Kabir dan al-Ausath sebagaimana tertera dalam kitab al-Majma’ (4/17). Kemudian al-Hakim menyebutkan syahid dari jalan ‘Athiyyah dari Abu Sa’id al-Khudhri secara marfu’ tanpa redaksi berupa ucapan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berikut, “Dan ucapkanlah olehmu.” Selain itu, redaksi yang dikatakan oleh ‘Imran bin Hushain berikut, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah hal itu hanyalah khusus bagimu dan juga keluargamu ataukah mencakup kaum Muslimin semuanya?’” menjadi redaksi yang diucapkan oleh Fathimah. Dan riwayat al-Hakim tersebut dibantah pula oleh Imam adz-Dzahabi dengan ucapan, “Kukatakan, ‘Athiyyah itu rapuh.’”

 

ومن طريقه رواه البزاز وأبو الشيخ ابن حيان في ” كتاب الضحايا ” كما في ” الترغيب ” (٢/١۰٢ (وقال ابن أبي حاتم في “العلل” (٢/٣٨-٣٩ ( “سمعت أبي يقول: هو حديث منكر “.ورواه أبو قاسم الأصبهاني عن علي نحوه كما في ” الترغيب “. وقال: ” وقد حسن بعض مشايخنا حديث علي هذا، والله أعلم “.

 

Dan dari jalannya, diriwayatkan pula oleh Imam al-Bazzar, begitu juga Abu asy-Syaikh Ibn Hayyan di kitab adh-Dhahaya sebagaimana disebutkan dalam at-Targhib (2/102). Dan Ibn Abi Hatim berkata di kitab al-‘Ilal (2/38-39), “Aku mendengar ayahku mengatakan, dia itu hadits munkar.” Dan diriwayatkan pula oleh Abu Qasim al-Ashbahani, dari ‘Ali seperti itu sebagaimana terdapat dalam at-Targhib, dan dia (al-Mundziri) mengatakan, “Dan sebagian di antara guru-guru kami telah menghasankan hadits ‘Ali ini, wallahu a’lamu.”

 

Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah wa al-Maudhu’ah (6828):

 

(٦٨٢٨) يا فاطمة! قومي إلى أضحيتك فاشهديها، فإن لك بكل قطرة تقطر من دمها أن يغفر لك ما سلف لك من ذنوبك. قالت: يا رسول الله! ألنا خاصة أهل البيت، أو لنا وللمسلمين ]عامة[ ؟ قال: بل لنا وللمسلمين ]عامة[

“Wahai Fathimah, pergilah menuju tempat penyembelihan dan saksikanlah hewan kurbanmu! Sesungguhnya bagimu dari setiap tetes darah hewan kurbanmu terdapat ampunan atas semua dosamu yang telah lalu. Fathimah berkata, “Wahai Rasulullah, apakah hal itu khusus bagi kita, ahli bait, ataukah untuk kita dan kaum Muslimin secara umum?” Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menjawab, “Bahkan hal itu umum bagi kita dan kaum Muslimin secara umum.”

 

Syaikh al-Albani –rahimahullah– berkata di kitab Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah (6828):

 

ضعيف.
أخرجه الحاكم (٤/٢٢٢)، والعقيلي في الضعفاء (٢/٣٧) -والزيادتان لهما-، والبزار في مسنده (٢/٥٩/١٢۰٢) – كشف الأستار، والقاضي أبو يعلى في الخامس من الأمالي (ق ٣۰/١) من طريق داود بن عبد الحميد: ثنا عمرو بن قيس الملائي عن عطية عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه مرفوعاً. وقال البزار: “لا نعلم له طريقاً عن أبي سعيد أحسن من هذا، وعمرو بن قيس كان من عباد أهل الكوفة وأفاضلهم، ممن يجمع حديثه وكلامه .”

 

DHA’IF. Dikeluarkan oleh al-Hakim (4/222), al-‘Uqaili di kitab adh-Dhu’afa’ (2/37) –dan tambahan dalam kurung ini dari keduanya-, al-Bazzar dalam Musnad-nya (2/59/1202) –Kasyf al-Astar, al-Qadhi Abu Ya’la pada bagian kelima dari kitab al-Amali (1/30), dari jalan Dawud bin ‘Abd al-Humaid: telah bercerita kepada kami ‘Amr bin Qais al-Mula-i, dari ‘Athiyah, dari Abu Sa’id al-Khudri –radhiyallahu ‘anhu– secara marfu’. Imam al-Bazzar berkata, “Kami tak mengetahui baginya jalan dari Abu Sa’id yang lebih baik dari ini, dan ‘Amr bin Qais itu termasuk ahli ibadah penduduk Kufah dan orang yang paling utama dari kalangan mereka, orang yang hadits dan ucapannya dikumpulkan (dicari dan diharapkan).”

 

قلت: لكن الشأن فيمن دونه، ومن فوقه؛ فقد أورده العقيلي في ترجمة داود ابن عبد الحميد، وقال: “عن عمرو بن قيس الملائي بأحاديث لا يتابع عليها”. وقال ابن أبي حاتم: “سكت أبي عنه، وعرضت عليه حديثه؟ قال: لا أعرفه، وهو ضعيف الحديث، يدل حديثه على ضعفه.” وقال الأزدي: منكر الحديث.” وعطية – هو: ابن سعد العوفي، وهو -: ضعيف مدلس، ذكره الحاكم شاهداً لحديث عمران بن حصين نحوه وسكت عنه، وتعقبه الذهبي بقوله: قلت: عطية واه.”

 

Aku (Syaikh al-Albani) katakan, akan tetapi permasalahannya terletak pada rawi sebelum dan sesudah ‘Amr bin Qais. Imam al-‘Uqaili menyebutkan dalam tarjamah Dawud bin ‘Abd al-Humaid dengan mengatakan, “Meriwayatkan dari ‘Amr bin Qais al-Mula-i dengan hadits-hadits yang tak memiliki penyerta.” Ibn Abi Hatim berkata, “Ayahku diam tentangnya. Kutunjukkan haditnya kepada ayahku, lalu ayahku mengatakan tak mengenalnya, dia dha’if al-hadits, hadistnya sendiri yang menunjukkan akan kedha’ifannya.” Imam al-Azdi berkata, “Munkar al-Hadits.” Adapun ‘Athiyah, dia adalah Ibn Sa’d al-‘Aufi, seorang yang dha’if lagi mudallis. Imam al-Hakim menyebutkannya sebagai syahid bagi hadits ‘Imran bin Hushain seperti tersebut dan dia diam tak memberi komentar, sedangkan Imam adz-Dzahabi berkomentar dengan ucapan, “’Athiyah itu rapuh.”

وقد التبس على المنذري براو آخر؛ فقال في الترغيب (٢/١۰٢/٣): “رواه البزار، وأبو الشيخ بن حيان في كتاب الضحايا وغيره، وفي إسناده عطية بن قيس: وثق، وفيه كلام.” وهذا وهم عجيب؛ فليس لـ (عطية بن قيس) ذكر في هذا الإسناد – كما ترى -، وأعجب منه أن يقلده الهيثمي فيقول (٤/١٧): رواه البزار، وفيه (عطية بن قيس) ، وفيه كلام كثير، وقد وثق.” وعطية بن قيس – وهو: الكلابي الحمصي، وهو -: ثقة لا كلام فيه؛ فهما يعنيان به عطية بن سعد العوفي ولكنهما وُهِما في اسم أبيه. والمعصوم من عصمه الله تبارك وتعالى. وأما حديث عمران فقد أشار إليه العقيلي بقوله عقب حديث الترجمة: “وله رواية أخرى من غير هذا الوجه، لينة أيضاً.”

 

Imam al-Mundziri mengalami kesamaran dengan rawi lainnya, lalu dia mengatakan di kitab at-Targhib (2/102/3), “Diriwayatkan oleh al-Bazzar dan Abu asy-Syaikh di kitab adh-Dhahaya’ serta yang lainnya, sedangkan di dalam sanadnya ada ‘Athiyah bin Qais yang dianggap tsiqah meskipun ada pembicaraan terhadapnya.” Dan ini merupakan kekeliruan yang mengherankan. Padahal ‘Athiyah bin Qais tidak disebut di dalam sanad ini sebagaimana yang kaulihat. Dan yang lebih mengherankan lagi adalah abhwa al-Haitsami mengikutinya seraya mengatakan (4/17), “Diriwayatkan oleh al-Bazzar, dan pada sanadnya ada ‘Athiyah bin Qais yang banyak dibicarakan tetapi dia dianggap tsiqah.” Padahal ‘Athiyah bin Qais adalah al-Kilabi al-Himshi, seorang yang tsiqah dan tak ada pembicaraan mengenainya. Maka maksud dari al-Mundziri dan al-Haitsami adalah ‘Athiyah bin Sa’d al-‘Aufi, tetapi keduanya keliru dalam menyebut ayahnya. Dan yang ma’shum itu hanyalah orang yang Allah jaga saja. Adapun hadits ‘Imran (bin Hushain), maka al-‘Uqaili telah berisyarat akan kelemahannya melalui ucapannya mengikuti hadits yang disebutkannya, “Dan baginya terdapat riwayat lain selain sanad ini, tetapi lemah juga.”

وقد كنت خرجته قديماً في المجلد الثاني برقم (٥٢٨) من رواية الحاكم بإسناد ضعيف جداً. والآن وقد توفرت عندي مصادر أخرى؛ فقد رأيت أن أذكرها؛ لكي لا يغتر أحد بها أو ببعضها، ويتوهم أنها من طريق أخرى والأمر على خلافه: فأخرجه الطبراني في المعجم الكبير (١٨/٢٨٩/٦۰۰) وفي الأوسط (٣/٢٤٧/٢٥٣۰)، والروياني في مسنده (١/١٣٤/١٣٨)، والخطيب في الموضح (٢/١٣) وفي الأمالي في مسجد دمشق (ق ٤/٢/٢) ، والبيهقي في السنن (٩/٢٨٣)، وفي شعب الإيمان (٥/٤٨٣/٧٣٣٨)؛ كلهم من طريق النضر بن إسماعيل البجلي عن أبي حمزة الثمالي عن سعيد بن جبير عنه. وقال الطبراني: “تفرد به أبو حمزة الثمالي.”

 

Sebelumnya, aku telah mengeluarkan hadits tersebut dalam kitab ini, jilid kedua nomor (528) dari riwayat al-Hakim dengan sanad dha’if jiddan. Dan sekarang telah semakin lengkap padaku rujukan-rujukan lain, dan aku memandang perlu untuk menyebutkannya agar orang tidak tertipu dengannya atau dengan sebagiannya dan menganggap bahwa hadits tersebut berasal dari jalan lain padahal kenyataannya tidaklah begitu. Hadits-hadits tersebut dikeluarkan oleh al-Hakim di kitab al-Mu’jam al-Kabir (18289/7600), juga dalam al-Ausath (3/247/2530), ar-Ruyani dalam Musnad-nya (1/134/138), al-Khathib di kitab al-Muwadhdhih (2/13) dan dalam al-Amali fi Masjid Dimasq (4/2/2), al-baihaqi di kitab Sunan (9/283) dan dalam Syu’ab al-Iman (5/483/7338), semuanya dari jalan an-Nadhr bin Isma’il al-Bajali, dari Abu hamzah ats-Tsamali, dari Sa’id bin Jubair, darinya. Imam ath-Thabarani berkata, “Abu Hamzah ats-Tsamali tafarrud dengan hadits ini.”

 

قلت: وهو ضعيف جداً – كما تقدم هناك. وقد روي الحديث بنحوه من طريق أهل البيت رضي الله عنهم بإسناد أوهى منه، وقد حسنه بعضهم؛ فوجب بيانه، وهو التالي:

 

Aku katakan, hadits tersebut dha’if jiddan sebagaimana telah berlalu penjelasannya di sana. Diriwayatkan pula hadits semisal itu dari jalan Ahl al-bait –radhiyallahu ‘anhum– dengan sanad yang lebih rapuh lagi meskipun sebagian dari mereka menganggapnya hasan, maka wajib untuk menjelaskan kelemahannya sebagai berikut:

 

Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah wa al-Maudhu’ah (6829):

 

(٦٨٢٩( يا فاطمة! قومي فاشهدي أضحيتك، اما إن لك بأول قطرة تقطر من دمها مغفرة لكل ذنب، اما إنه يجاء بها يوم القيامة بلحومها ودمائها سبعين ضعفا حتى توضع في ميزانك. فقال أبو سعيد الخدرى رضى الله عنه: يارسول الله! أهذه لآل محمد خاصة – فهم أهل لما خصوا به من خير – أو لآل محمد والناس عامة؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: بل هي لآل محمد والناس عامة

 

“Wahai Fathimah, pergilah menuju tempat penyembelihan dan saksikanlah hewan kurbanmu! Sesungguhnya bagimu dengan awal tetes darah hewan kurbanmu ampunan atas semua dosa. Dan sesungguhnya dia akan didatangkan pada hari kiamat dengan daging dan darahnya sebanyak tujuh puluh kali lipat hingga diletakkan pada timbanganmu.” Maka berkatalah Abu Sa’id al-Khudri –radhiyallahu ‘anhu, “Wahai Rasulullah, apakah hal itu hanyalah khusus bagi keluargamu saja yang memang mereka itu berhak atas kebaikan yang khusus tersebut ataukah mencakup bagi keluarga Muhammad dan semua manusia?” Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menjawab, “Bahkan hal itu umum bagi keluarga Muhammad dan semua manusia.”

 

Syaikh al-Albani –rahimahullah– berkata di kitab Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah (6829):

 

موضوع.
أخرجه عبد بن حميد في ” المنتخب من المسند (١/١٢٨/٧٨(، والبيهقي في السنن) ٩/٢٨٣(، والأصبهاني في الترغيب (١/٣٤٨/١٧٥( من طريق سعيد بن زيد: ثنا عمرو بن خالد عن محمد بن علي عن أبائه عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه مرفوعاً. وقال البيهقي: ” عمرو بن خالد ضعيف. كذا قال، فتساهل معه؛ فإنه مجمع على تركه، فقد كذبه جماعة منهم ابن معين، وقال إسحاق بن راهويه وأبو زرعة: كان يضع الحديث”. وقال أحمد: “كذاب، يروي عن زيد بن علي عن آبائه أحاديث موضوعة، يكذب”. وقال ابن عدي: ” عامة ما يرويه موضوعات.”

 

PALSU. Dikeluarkan oleh ‘Abd bin Humaid di kitab al-Muntakhab min al-Musnad (1/128/78), al-Baihaqi di kitab Sunan (9/283), dan al-Ashbahani di kitab at-Targhib (1/348/175), dari jalan Sa’id bin Zaid: telah bercerita kepada kami Khalid, dari Muhammad bin ‘Ali, dari ayahnya, dari ‘Ali bin Abi Thalib –radhiyallahu ‘anhu secara marfu’. Dan Imam al-Baihaqi berkata, “‘Amr bin Khalid dha’if.” Demikianlah ucapan al-Baihaqi, dan dia telah bermudah-mudah karena sesungguhnya para ulama telah sepakat meninggalkan ‘Amr bin Khalid (yakni matruk). Sebagian jama’ah, di antaranya Ibn Ma’in, bahkan menganggapnya dusta, sementara Ishaq bin Rahawaih dan Abu Zur’ah mengatakan, “Dia memalsukan hadits.” Imam Ahmad berkata, “Dia pendusta, meriwayatkan dari Zaid bin ‘Ali dari ayahnya hadits-hadits palsu, dia berdusta.” Ibn ‘Adi berkata, “Secara umum, hadits-hadits yang diriwayatkannya palsu.”

 

إذا عرفت أقوال هؤلاء الأئمة الحفاظ؛ فاعجب من ذاك التساهل قول المنذري عقب الحديث (٢/١۰٢/٣(:
“وقد حسّن بعض مشايخنا حديث علي هذا. والله أعلم!” فأقره ولم يرده! بل وأشار إلى تقويته بتصديره إياه تحت حديث أبي سعيد الذي قبله بقوله: ” وعن … “!!

 

Jika kau telah mengetahui ucapan para imam dan huffazh tersebut, maka sungguh mengherankan sikap bermudah-mudah dalam ucapan al-Mundziri dalam mengomentari hadits (2/102/3), ““Dan sebagian di antara guru-guru kami telah menghasankan hadits ‘Ali ini, wallahu a’lamu.” Dia menetapkan hadits tersebut tanpa membantahnya, bahkan mengisyaratkan kepada penguatan hadits tersebut dengan ungkapannya di bawah hadits Abu Sa’id sebelumnya dengan ucapan, “Dan dari ….”

 

 

Bandung, 30 November 2015

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–