Perempuan yang Cemburu Takkan Melihat Dasar Lembah dari Puncaknya …

kecemburuan perempuan

Abu Syaikh al-Ashbahani –rahimahullah– berkata di kitab al-Amtsal fi al-Hadits:

 

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَارِثِ، ثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عُمَرَ بْنِ شَقِيقٍ، ثَنَا سَلَمَةُ بْنُ الْفَضْلِ، عَنِ ابْنِ إِسْحَاقَ، عَنْ يَحْيَى بْنِ عَبَّادِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ :خَرَجْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ، فَأَخْرَجَ مَعَهُ نِسَاءَهُ، وَكَانَ مَتَاعِي فِيهِ خِفٌّ، فَكُنْتُ عَلَى جَمَلٍ نَاجٍ، وَكَانَ مَتَاعُ صَفِيَّةَ بِنْتِ حُيَيٍّ فِيهِ ثِقَلٌ، وَكَانَتْ عَلَى جَمَلٍ بَطِيءٍ فَتَبَاطَأْنَا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: حَوِّلُوا مَتَاعَ عَائِشَةَ عَلَى جَمَلِ صَفِيَّةَ، وَحَوِّلُوا مَتَاعَ صَفِيَّةَ عَلَى جَمَلِ عَائِشَةَ لِيَمْضِيَ الرَّكْبُ، فَلَمَّا رَأَيْتُ ذَلِكَ، قُلْتُ: يَا لَعِبَادِ اللَّهِ، غَلَبَتْنَا هَذِهِ الْيَهُودِيَّةُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا أُمَّ عَبْدِ اللَّهِ إِنَّ مَتَاعَكِ كَانَ فِيهِ خِفٌّ، وَمَتَاعُ صَفِيَّةَ كَانَ فِيهِ ثِقَلٌ فَبَطَّأَ بِالرَّكْبِ، فَحَوَّلْنَا مَتَاعَكِ عَلَى بَعِيرِهَا، وَحَوَّلْنَا مَتَاعَهَا عَلَى بَعِيرِكِ، قُلْتُ: أَلَسْتَ تَزْعُمُ أَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ؟ قَالَ: فَتَبَسَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: أَفِي شَكٍّ أَنْتِ يَا أُمَّ عَبْدِ اللَّهِ؟ قُلْتُ :أَلَسْتَ تَزْعُمُ إِنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ؟ فَهَلا عَدَلْتَ؟ فَسَمِعَنِي أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَكَانَ فِيهِ ضَرْبٌ مِنْ حِدَّةٍ فَأَقْبَلَ عَلَيَّ يَلْطِمُ وَجْهِي، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَهْلا يَا أَبَا بَكْرٍ، قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَمَا سَمِعْتَ مَا قَالَتْ؟، قَالَ :إِنَّ الْغَيْرَى لا تُبْصِرُ أَسْفَلَ الْوَادِي مِنْ أَعْلاهُ

 

Telah bercerita kepada kami Muhammad bin al-Harits, telah bercerita kepada kami al-Hasan bin ‘Umar bin Syaqiq, telah bercerita kepada kami Salamah bin al-Fadhl, dari Ibn Ishaq, dari Yahya bin ‘Abbad bin ‘Abdillah bin az-Zubair, dari ayahnya, dari kakeknya, dari ‘Aisyah, dia berkata:

Aku keluar bersama Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dalam perjalanan Haji al-Wada’. Ikut keluar juga para istri beliau bersama beliau. Barang-barang bawaanku ringan dan aku berada di atas unta yang kuat, sedangkan barang-barang bawaan Shafiyyah binti Huyay berat, dan dia menunggangi unta yang lemah dan lambat sehingga memperlambat perjalanan kami. Lalu Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Pindahkan barang-barang bawaan ‘Aisyah ke atas unta Shafiyyah dan pindahkan pula barang-barang bawaan Shafiyyah ke atas unta ‘Aisyah agar kafilah bisa melanjutkan perjalanan!” Tatkala aku mengetahui hal itu, aku pun berkata, “Wahai para hamba Allah, perempuan Yahudi ini telah mengalahkan kita atas Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Maka Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Wahai Ummu ‘Abdillah (yakni ‘Aisyah –pent), barang bawaanmu ringan bagi untamu sedangkan barang bawaan Shafiyyah berat bagi untanya sehingga melambatkan laju kafilah. Oleh karena itu, kami memindahkan barang bawaannya ke atas untamu dan memindahkan bawang bawaanmu ke atas untanya.” Maka aku berkata, “Bukankah kau mengaku bahwa kau itu utusan Allah?” Maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun tersenyum (mendengar ucapanku). Beliau berkata, “Apakah kau dalam keraguan, wahai Ummu ‘Abdillah?” Aku berkata, “Bukankah kau mengaku bahwa kau itu utusan Allah? Mengapa tidak berbuat adil?” Dan Abu Bakr –radhiyallahu ‘anhu– mendengar ucapanku. Ada kemarahan pada dirinya, lalu dia mendatangiku dan menampar wajahku. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Tenanglah, wahai Abu Bakr.” Abu Bakr berkata, “Wahai Rasulullah, apakah kau tak mendengar apa yang dikatakannya?” Maka Rsulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Sesungguhnya perempuan yang cemburu takkan melihat dasar lembah dari puncaknya.” –SELESAI …

 

Abu Ya’la al-Maushili –rahimahullah– berkata di kitab Musnad-nya:

 

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عُمَرَ بْنِ شَقِيقِ بْنِ أَسْمَاءَ الْجَرْمِيُّ الْبَصْرِيُّ، حَدَّثَنَا سَلَمَةُ بْنُ الْفَضْلِ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ، عَنْ يَحْيَى بْنِ عَبَّادِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّهَا قَالَتْ: وَكَانَ مَتَاعِي فِيهِ خَفٌّ، وَكَانَ عَلَى جَمَلٍ نَاجٍ، وَكَانَ مَتَاعُ صَفِيَّةَ فِيهِ ثِقَلٌ، وَكَانَ عَلَى جَمَلٍ ثَقَالٍ بَطِيءٍ يَتَبَطَّأُ بِالرَّكْبِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: حَوِّلُوا مَتَاعَ عَائِشَةَ عَلَى جَمَلِ صَفِيَّةَ، وَحَوِّلُوا مَتَاعَ صَفِيَّةَ عَلَى جَمَلِ عَائِشَةَ حَتَّى يَمْضِيَ الرَّكْبُ، قَالَتْ عَائِشَةُ: فَلَمَّا رَأَيْتُ ذَلِكَ، قُلْتُ: يَا لَعِبَادِ اللَّهِ! غَلَبَتْنَا هَذِهِ الْيَهُودِيَّةُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَتْ: فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :يَا أُمَّ عَبْدِ اللَّهِ، إِنَّ مَتَاعَكِ كَانَ فِيهِ خَفٌّ وَكَانَ مَتَاعُ صَفِيَّةَ فِيهِ ثِقَلٌ، فَأَبْطَأَ بِالرَّكْبِ، فَحَوَّلْنَا مَتَاعَهَا عَلَى بَعِيرِكِ، وَحَوَّلْنَا مَتَاعَكِ عَلَى بَعِيرِهَا، قَالَتْ: فَقُلْتُ: أَلَسْتَ تَزْعُمُ أَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ؟ قَالَتْ: فَتَبَسَّمَ، قَالَ: أَوَ فِي شَكٍّ أَنْتِ يَا أُمَّ عَبْدِ اللَّهِ؟، قَالَتْ: قُلْتُ: أَلَسْتَ تَزْعُمُ أَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ؟ أَفَهلا عَدَلْتَ؟ وَسَمِعَنِي أَبُو بَكْرٍ وَكَانَ فِيهِ غَرْبٌ، أَيْ حِدَّةٌ، فَأَقْبَلَ عَلَيَّ فَلَطَمَ وَجْهِي، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَهْلا يَا أَبَا بَكْرٍ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَمَا سَمِعْتَ مَا قَالَتْ؟، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ الْغَيْرَى لا تُبْصِرُ أَسْفَلَ الْوَادِي مِنْ أَعْلاهُ

 

Telah bercerita kepada kami al-Hasan bin ‘Umar bin Syaqiq bin Asma’ al-Jarmi al-Bashri, telah bercerita kepada kami Salamah bin al-Fadhl, dari Muhammad bin Ishaq, dari Yahya bin ‘Abbad bin ‘Abdillah bin az-Zubair, dari ayahnya, dari ‘Aisyah, bahwasanya dia berkata:

Barang-barang bawaanku ringan dan itu berada di atas unta yang kuat, sementara barang-barang bawaan Shafiyyah berat dan itu ada di atas unta yang lemah dan lambat. Maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Pindahkan barang-barang bawaan ‘Aisyah ke atas unta Shafiyyah dan pindahkan pula barang-barang bawaan Shafiyyah ke atas unta ‘Aisyah agar kafilah bisa melanjutkan perjalanan!” Tatkala aku mengetahui hal itu, aku pun berkata, “Wahai para hamba Allah, perempuan Yahudi ini telah mengalahkan kita atas Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Wahai Ummu ‘Abdillah (yakni ‘Aisyah –pent), barang bawaanmu ringan bagi untamu sedangkan barang bawaan Shafiyyah berat bagi untanya sehingga melambatkan laju kafilah. Oleh karena itu, kami memindahkan barang bawaannya ke atas untamu dan memindahkan bawang bawaanmu ke atas untanya.” Maka aku berkata, “Bukankah kau mengaku bahwa kau itu utusan Allah?” Maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun tersenyum (mendengar ucapanku). Beliau berkata, “Apakah kau dalam keraguan, wahai Ummu ‘Abdillah?” Aku berkata, “Bukankah kau mengaku bahwa kau itu utusan Allah? Mengapa tidak berbuat adil?” Dan Abu Bakr mendengar ucapanku. Ada sikap keras pada dirinya, yakni kemarahan, lalu dia mendatangiku dan menampar wajahku. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Tenanglah, wahai Abu Bakr.” Abu Bakr berkata, “Wahai Rasulullah, apakah kau tak mendengar apa yang dikatakannya?” Maka Rsulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Sesungguhnya perempuan yang cemburu takkan melihat dasar lembah dari puncaknya.” –SELESAI …

 

Kedua hadits di atas sebetulnya hanya satu riwayat saja karena sanad Abu Syaikh itu sama dengan sanad Abu Ya’la. Gurunya Abu Syaikh al-Ashbahani menyertai gurunya Abu Ya’la al-Maushili dalam meriwayatkan hadits ini dari al-Hasan bin ‘Amr bin Syaqiq dengan sanadnya …

Hadits tersebut dha’if (lemah) karena pada sanadnya ada Salamah bin al-Fadhl dan Muhammad bin Ishaq …

Syaikh al-Albani –rahimahullah– berkata di kitab Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah (2985):

 

وهذا سند ضعيف؛ وفيه علتان:

الأولى: عنعنة ابن إسحاق؛ فقد كان يدلس.

والأخرى: ضعف سلمة بن الفضل – وهو الأبرش – قال الحافظ في التقريب: صدوق كثير الخطأ

 

Sanad hadits tersebut dha’if (lemah). Ada dua penyakit di dalamnya, yaitu (pertama): ‘an’anah Ibn Ishaq, dan dia adalah seorang perawi mudallis (suka menyamarkan periwayatan hadits), dan (kedua): kelemahan Salamah bin al-Fadhl al-Abrasy. Al-Hafizh Ibn Hajar –rahimahullah– berkata di kitab at-Taqrib, “Dia jujur tetapi sering salah.” –SELESAI …

Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini –hafizhahullah– menyatakan bahwa hadits tersebut mungkar. Beliau berkata di al-Fatwa al-Haditsiyah:

 

حديث منكر … وهذا سند ضعيف، وسلمة بن الفضل ضعّفه النسائي وغيره، وقال البخاري: (في حديثه بعض المناكير)، ومشَّاه غيرهم، وابن إسحاق مدلس، وقد عنعنه، وفي المتن نكارة ظاهرة من جهة قول عائشة: (ألست تزعم أنك رسول اللَّه …)، والحديث ضعفه البوصيري …

 

Hadits mungkar … dan sanad hadits tersebut dha’if (lemah). Salamah bin al-Fadhl dilemahkan oleh an-Nasa-i dan selainnya. Imam al-Bukhari berkata, “Dalam haditsnya ada hal-hal yang diingkari,” sedangkan Ibn Ishaq, dia perawi mudallis (suka menyamarkan periwayatan hadits), dan dalam riwayat ini dia ber-‘an-‘anah. Adapun dalam redaksi hadits, terdapat keganjilan yang jelas dari sisi ucapan ‘Aisyah, “Bukankah kau mengaku bahwa kau itu utusan Allah?” Hadits ini pun dilemahkan juga oleh al-Bushiri … -SELESAI …

Lantaran kedua penyakit itu, jelaslah bahwa hadits di atas dha’if (lemah) dan terdapat kemungkaran yang jelas dalam redaksinya. Adapun ucapan Ibn Hajar di kitab Fath al-Bari:

 

وقد أخرج أبو يعلى بسند لا بأس به عن عائشة مرفوعا أن الغيراء لا تبصر أسفل الوادي من أعلاه

 

Abu Ya’la telah mengeluarkan hadits dengan sanad yang tak ada masalah di dalamnya dari ‘Aisyah secara marfu’ bahwa, “Sesungguhnya perempuan yang cemburu takkan melihat dasar lembah dari puncaknya.” –SELESAI …

Maka dalam hal ini, Ibn Hajar telah keliru karena pada kenyataannya, sanad itu bermasalah. Oleh karena itu, Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini –hafizhahullah– berkata:

 

أما الحافظ ابن حجر فقال في الفتح (٩/٣٢٥): (إسناده لا بأس به)، وقد عرفناك ما فيه من البأس

 

Adapun al-Hafizh Ibn Hajar, dia berkata di kitab al-Fath al-Bari (9/325), “Sanadnya tidak ada masalah,” dan telah kami tunjukkan kepada kalian masalah yang terdapat dalam sanadnya … -SELESAI …

Adapun mengenai perkataan Imam al-Haitsami di kitab Majma’ az-Zaw-id:

 

وقد رواه أبو الشيخ ابن حيان في كتاب الأمثال، وليس فيه غير أسامة ابن زيد الليثي؛ وهو من رجال الصحيح؛ وفيه ضعف، وبقية رجاله ثقات

 

Abu Syaikh bin Hayyan meriwayatkan di kitab al-Amtsal, dan tidaklah di dalamnya melainkan melalui Usamah bin Zaid al-Laitsi, dan dia termasuk para perawi ash-Shahih, dan pada dirinya ada kelemahan, sedangkan para perawi lainnya adalah para perawi tepercaya … -SELESAI …

 

Perkataan al-Haitsami tersebut seolah-olah menunjukkan keberadaan sanad lain bagi riwayat tersebut (yang berbeda dengan sanad yang melalui al-Fadhl bin Salamah dari Muhammad bin Ishaq). Padahal pada kenyataannya, tidak ada dalam kitab al-Amtsal karya Abu Syaikh itu, sanad yang melalui Usamah bin Zaid al-Laitsi bagi hadits tersebut. Dan yang benar, sanad bagi riwayat di atas dalam kitab al-Amtsal itu sama dengan sanad Abu Ya’la di kitab Musnad-nya. Oleh karena itu, Syaikh al-Albani –rahimahullah– pernah berkata dalam kaitannya dengan ucapan al-Haitsami tersebut (al-Ahadits adh-Dha’ifah: 2985:

 

فأنت ترى أن إسناد أبي الشيخ هو عين إسناد أبي يعلى، بل هو رواه بالواسطة عن شيخ أبي يعلى نفسه

 

“Dan kau pun melihat bahwa sanad Abu Syaikh itu adalah sanad yang sama dengan sanad Abu Ya’la. Bahkan Abu Syaikh meriwayatkannya melalui perantaraan (gurunya) dari guru Abu Ya’la sendiri.” –SELESAI …

 

Bandung, 21 Januari 2015

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Tentang Berputar Bersama al-Quran …

poros

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ :خُذُوا الْعَطَاءَ مَا دَامَ عَطَاءً، فَإِذَا صَارَ رِشْوَةً فِي الدِّينِ فَلا تَأْخُذُوهُ، وَلَسْتُمْ بِتَارِكِيهِ، يَمْنَعُكُمُ الْفَقْرَ وَالْحَاجَةَ، أَلا إِنَّ رَحَى الإِسْلامِ دَائِرَةٌ، فَدُورُوا مَعَ الْكِتَابِ حَيْثُ دَارَ، أَلا إِنَّ الْكِتَابَ وَالسُّلْطَانَ سَيَفْتَرِقَانِ، فَلا تُفَارِقُوا الْكِتَابَ، أَلا إِنَّهُ سَيَكُونُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ يَقْضُونَ لأَنْفُسِهِمْ مَا لا يَقْضُونَ لَكُمْ، إِنْ عَصَيْتُمُوهُمْ قَتَلُوكُمْ، وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ أَضَلُّوكُمْ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَيْفَ نَصْنَعُ؟ قَالَ: كَمَا صَنَعَ أَصْحَابُ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ، نُشِرُوا بِالْمَنَاشِيرِ، وَحُمِلُوا عَلَى الْخَشَبِ، مَوْتٌ فِي طَاعَةِ اللَّهِ خَيْرٌ مِنْ حَيَاةٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ

 

Dari Mu’adz bin Jabal, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Ambillah pemberian selama itu memang merupakan pemberian! Akan tetapi jika (sifat pemberian itu) telah menjadi risywah (suap/sogokan) menurut agama, janganlah kalian mengambilnya! Hanya saja dalam kenyataannya, kalian takkan bisa terlepas dari risywah. Kefaqiran dan kebutuhan membuat kalian terhalang untuk meninggalkan risywah. Ketahuilah, sesungguhnya poros Islam itu senantiasa berputar. Maka, berputarlah kalian bersama al-Quran ke arah mana pun dia berputar. Ketahuilah, sesungguhnya al-Quran dan penguasa akan terpisah. Maka, janganlah kalian terpisah dari al-Quran. Ketahuilah, sesungguhnya akan datang kepada kalian para pemimpin yang memutuskan perkara atas dasar kepentingan pribadi, bukan atas kepentingan kalian. Jika kalian tak menaati mereka, mereka akan membunuh kalian. Jika kalian menaati mereka, mereka akan menyesatkan kalian.” Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana kami harus berbuat ketika itu?” Beliau berkata, “Berbuatlah sebagaimana para sahabat ‘Isa bin Maryam berbuat (yakni menaati Allah –pent)! (Lantaran itu), mereka dipotong dengan gergaji dan diusung dengan kayu (salib). Mati dalam keadaan menaati Allah itu lebih baik daripada hidup dalam keadaan bermaksiat kepada Allah.” –SELESAI …

 

Hadits di atas merupakan hadits yang dha’if (lemah)

Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi al-Atsarihafizhahullah– berkata mengenai kelemahan hadits tersebut sebagai berikut:

 

من الأحاديث المشتهرة التي يكثر إيرادها في المواعظ والخطب،وفي المجالس والكتابات حديث: ألا إنّ رحى الإسلام دائرة،فدوروا مع الكتاب حيث دار، ألا إن الكتاب و السلطان سيفترقان،فلا تفارقوا الكتاب؟ فما هي درجة صحته وثبوته؟! فأقول: هذه قطعة من حديث رواه الطبراني (في المعجم الصغير) رقم:749، (والمعجم الكبير)20/90ــ وعنه أبو نعيم في (الحلية) 5/165ــ 166ــ، والخطيب في )تاريخه) 3/397، وأبو العلاء الهماذاني في ذكر الاعتقاد رقم 6 من طريق الوضين ابن عطاء، عن يزيد ابن مرثد، عن معاذ ابن جبل، عن النبيّ صلى الله عليه وسلم… فذكره مطولا وقال الهيثمي في (مجمع الزوائد ) 5/228و238: ويزيد ابن مرثد لم يسمع من معاذ، والوضين ابن عطاء وثقه ابن حبان وغيره، وبقية رجاله ثقات. قلت: يزيد ابن مرثد روى عنه جماعة وثقه ابن حبان،واختار ابن حجر توثيقه. لكنه لم يسمع من معاذ كما جزم به الحافظ العلائي في (جامع التحصيل) ص302 وغيره. أما الوضين ابن عطاء،فقد اختلفت فيه أقوال العلماء كما تراه في (تهذيب التهذيب) 11/120ــ121 واختاره ابن حجر أنه :(صدوق سيئ الحفظ). وإسنــاده ضعيــف

 

Di antara hadits-hadits yang telah dikenal luas dan banyak disampaikan dalam nasihat-nasihat dan ceramah-ceramah, juga disebutkan dalam majelis-majelis dan buku-buku, adalah hadits berikut, “Ketahuilah, sesungguhnya poros Islam itu senantiasa berputar. Maka, berputarlah kalian bersama al-Quran ke arah mana pun dia berputar. Ketahuilah, sesungguhnya al-Quran dan penguasa akan terpisah. Maka, janganlah kalian terpisah dari al-Quran.” Lantas bagaimana sebetulnya derajat kesahihan dan kekukuhan hadits tersebut? Maka kukatakan, ucapan itu merupakan penggalan dari hadits yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani di kitab Mu’jam ash-Shaghir (749) dan Mu’jam al-Kabir (20/90). Melalui jalan ath-Thabrani, Abu Nu’aim juga meriwayatkan hadits tersebut di kitab al-Hilyah (5/165-166). Imam al-Khathib al-Baghdadi pun meriwayatkan hadits tersebut di kitab Tarikh-nya (3/397), juga Abu al-‘Ala’ al-Hamadzani di kitab Futya wa Jawabuha fi Dzikr al-I’tiqad (6), (semua) dari jalan al-Wadhin bin ‘Atha’, dari Yazid bin Martsad, dari Mu’adz bin Jabal, dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam … -lantas disebutkan haditsnya secara panjang. Imam al-Haitsami berkata di kitab Majma’ az-Zawa-id (2/228 dan 2/238), “Yazid bin Martsad tidak mendengar dari Mu’adz bin Jabal. Al-Wadhin bin ‘Atha’ dianggap tsiqah oleh Ibn Hibban dan yang lainnya. Adapun perawi lainnya merupakan perawi yang tsiqah.” Aku (Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi) katakan, “Yazid bin Martsad itu, Jama’ah ahli hadits meriwayatkan hadits darinya, dan Ibn Hibban menganggapnya tsiqah. Ibn Hajar pun memilih untuk menganggapnya tsiqah. Akan tetapi, Yazid bin Martsad tidaklah mendengar dari Mu’adz bin Jabal sebagaimana yang ditetapkan oleh al-Hafizh al-‘Ala-iy di kitab Jami’ at-Tahshil (halaman 302), demikian juga menurut pendapat selainnya. Adapun perawi al-Wadhin bin ‘Atha’, maka para ulama berbeda pendapat mengenai perihalnya sebagaimana bisa kau lihat di kitab Tahdzib at-Tahdzib (11/120-121). Ibn Hajar memilih pendapat bahwa al-Wadhin bin ‘Atha’ itu merupakan perawi yang shaduq sayyi’ al-hifzh (jujur tetapi lemah hafalannya). (Dengan demikian), hadits tersebut LEMAH.” –SELESAI perkataan Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi al-Atsari –hafizhahullah

Dengan demikian, hadits tersebut dha’if (lemah) dikarenakan ada keterputusan di antara Yazid bin Martsad dengan Mu’adz bin Jabal –radhiyallahu ‘anhu. Juga karena adanya perawi al-Wadhin bin ‘Atha’ yang dikatakan oleh Ibn Hajar, “Jujur tetapi lemah hafalannya.”

Hadits tersebut disebutkan pula oleh Ibn Hajar al-Asqalani di kitab beliau al-Muthalib al-‘Aliyah. Beliau mengeluarkannya dari Musnad Ishaq bin Rahawaih sebagai berikut:

 

قَالَ إِسْحَاقُ، أنا سُوَيْدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ الدِّمَشْقِيُّ، ثنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ يَزِيدَ بْنِ جَابِرٍ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ مَرْثَدٍ، عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ :خُذُوا الْعَطَاءَ مَا دَامَ عَطَاءً فَإِذَا صَارَ رِشْوَةً عَلَى الدِّينِ، فَلَا تَأْخُذُوا وَلَسْتُمْ بِتَارِكِيهِ، يَمْنَعُكُمْ مِنْ ذَلِكَ الْمَخَافَةُ وَالْفَقْرُ، أَلَا وَإِنَّ رَحَى الْإِيمَانِ دَائِرَةٌ، فَدُورُوا مَعَ الْكِتَابِ حَيْثُ يَدُورُ، أَلَا وَإِنَّ السُّلْطَانَ وَالْكِتَابَ سَيَفْتَرِقَانِ، فَلَا تُفَارِقُوا الْكِتَابَ. أَلَا إِنَّهُ سَيَكُونُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ، إِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ أَضَلُّوكُمْ، وَإِنْ عَصَيْتُمُوهُمْ قَتَلُوكُمْ. قَالُوا: فَكَيْفَ نَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: كَمَا صَنَعَ أَصْحَابُ عِيسَى بْنِ مَرْيَمَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ حُمِلُوا عَلَى الْخَشَبِ، وَنُشِرُوا بِالْمَنَاشِيرِ، مَوْتٌ فِي طَاعَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، خَيْرٌ مِنْ حَيَاةٍ فِي مَعْصِيَتِهِ

 

Ishaq (bin Rahawaih) berkata: telah berkabar kepada kami Suwaid bin ‘Abd al-‘Aziz ad-Dimasyqi, telah bercerita kepada kami ‘Abd ar-Rahman bin Yazid bin Jabir, dari Yazid bin Martsad, dari Mu’adz bin Jabal –radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata, “Ambillah pemberian selama itu memang merupakan pemberian! Akan tetapi jika (sifat pemberian itu) telah menjadi risywah (suap/sogokan) menurut agama, janganlah kalian mengambilnya! Hanya saja dalam kenyataannya, kalian takkan bisa terlepas dari risywah. Rasa takut akan kefaqiran membuat kalian terhalang untuk meninggalkan risywah. Ketahuilah, sesungguhnya poros iman itu senantiasa berputar. Maka, berputarlah kalian bersama al-Quran ke arah mana pun dia berputar. Ketahuilah, sesungguhnya penguasa dan al-Quran akan terpisah. Maka, janganlah kalian terpisah dari al-Quran. Ketahuilah, sesungguhnya akan datang kepada kalian para pemimpin yang apabila kalian menaati mereka, mereka akan menyesatkan kalian. Sebaliknya jika kalian tak menaati mereka, mereka akan membunuh kalian.” Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana kami harus berbuat ketika itu?” Beliau berkata, “Berbuatlah sebagaimana para sahabat ‘Isa bin Maryam –‘alaihi ash-shalah wa as-salam- berbuat (yakni menaati Allah –pent)! (Lantaran itu), mereka diusung dengan kayu (salib) dan dipotong dengan gergaji. Mati dalam keadaan menaati Allah –‘Azza wa Jalla- itu lebih baik daripada hidup dalam keadaan bermaksiat kepada-Nya.” –SELESAI …

 

Sanad hadits ini tidaklah melalui al-Wadhin bin ‘Atha’ melainkan merupakan riwayat langsung dari ‘Abd ar-Rahman bin Yazid bin Jabir dari Yazid bin Martsad. Akan tetapi, meskipun demikian, hadits ini tetaplah lemah dikarenakan alasan yang sama, yaitu perawi Yazid bin Martsad tidak mendengar dari Mu’adz bin Jabal –radhiyallahu ‘anhu. Selain itu, pada sanadnya ada kelemahan lain, yaitu perawi Suwaid bin ‘Abd al-‘Aziz ad-Dimasyqi. Imam adz-Dzahabi berkata di kitab Mizan al-I’tidal (2/252):

 

وقال البخاري: في بعض حديثه نظر. وقال أحمد وغيره: ضعيف. وعن أحمد أيضا: متروك … قال النسائي: ليس بثقة. وقال أبو حاتم: لين. وقال الدارقطني: يعتبر به

 

Imam al-Bukhari mengatakan, “Pada sebagian haditsnya ada pertimbangan.” Imam Ahmad dan selainnya mengatakan, “Suwaid dha’if,” dan dari Imam Ahmad juga, dia mengatakan, “Suwaid matruk,” … an-Nasa-i mengatakan, “Tidak tsiqah,” Abu Hatim mengatakan, “Layyin (lemah),” dan ad-Daraquthni mengatakan, “Yu’tabar bihi (haditsnya bisa dijadikan i’tibar).” –SELESAI …

 

Bagian awal hadits di atas, senada dengan hadits yang diriwayat oleh Abu Dawud sebagai berikut:

 

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ أَبِي الْحَوَارِيِّ، حَدَّثَنَا سُلَيْمُ بْنُ مُطَيْرٍ شَيْخٌ مِنْ أَهْلِ وَادِي الْقُرَى، قَالَ :حَدَّثَنِي أَبِى مُطَيْرٌ، أَنَّهُ خَرَجَ حَاجًّا حَتَّى إِذَا كَانَ بِالسُّوَيْدَاءِ إِذَا بِرَجُلٍ، قَدْ جَاءَ كَأَنَّهُ يَطْلُبُ دَوَاءً وَحُضُضًا، فَقَالَ :أَخْبَرَنِي مَن سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ وَهُوَ يَعِظُ النَّاسَ وَيَأْمُرُهُمْ وَيَنْهَاهُمْ ؟ فَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ خُذُوا الْعَطَاءَ، مَا كَانَ عَطَاءً فَإِذَا تَجَاحَفَتْ قُرَيْشٌ عَلَى الْمُلْكِ وَكَانَ عَنْ دِينِ أَحَدِكُمْ فَدَعُوهُ

 

Telah bercerita kepada kami Ahmad bin Abi al-Hawari, telah bercerita kepada kami Sulaim bin Muthair, seorang Syaikh dari kalangan penduduk Wadi al-Qura, dia mengatakan: telah bercerita kepadaku ayahku, Muthair (bin Sulaim) bahwasanya dia keluar untuk melaksnakan ibadah haji. Tatkala dia sampai di (suatu tempat bernama) as-Suwaida’, dia bertemu dengan seorang lelaki. Lelaki itu datang seakan-akan mencari obat dan hu-dhudh (sejenis obat). Lelaki itu lantas berkata: telah berkabar kepadaku seseorang yang mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pada saat melaksanakan haji wada’. Saat itu Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sedang memberi nasihat kepada manusia seraya memerintahkan mereka kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Wahai manusia, ambillah pemberian selama itu memang merupakan pemberian! Apabila kaum Quraisy telah saling berebut kekuasaan dan pemberian penguasa itu membuat agamamu (terjual), maka tinggalkanlah pemberian itu.” –SELESAI …

 

Hadits Abu Dawud ini pun tidaklah sahih. Pada sanadnya ada Muthair bin Sulaim, seorang perawi yang majhul al-hal. Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi al-Atsari –hafizhahullah– berkata tentang riwayat Abu Dawud ini ketika membahas hadits Mu’adz bin Jabal di atas:

 

ولأوله شاهد :أخرجه أبوداود 2959 ،والبيهقي 6/359،والبخاري في (التاريخ الكبير)1/235،والطبراني في (الكبير)4239،و22/294وفي سنده ضعف أيضا ،مطير ابن سليم،مجهول الحال. والحديث لا يصح

 

“Dan bagian awal hadits Mu’adz bin Jabal ini mempunyai syahid yang dikeluarkan oleh Abu Dawud (2959), al-Baihaqi (6/359), al-Bukhari di kitab at-Tarikh al-Kabir (1/235), dan ath-Thabrani di kitab Mu’jam al-Kabir (4239) dan (22/294), namun sanadnya lemah juga. Muthair bin Sulaim merupakan perawi yang majhul al-hal. Dengan demikian hadits ini tidak sahih.” –SELESAI perkataan Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi al-Atsari –hafizhahullah

 

Di kitab Taqrib at-Tahdzib, Ibn Hajar berkata sebagai berikut:

 

مطير بالتصغير ابن سليم الوادي مجهول الحال من الثالثة

 

“Muthair –dibaca dengan tashghir- Ibn Sulaim al-Wadiy seorang yang majhul al-hal, termasuk thabaqah ketiga.”

 

Wallahu a’lamu

 

Bandung, 16 Desember 2014

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Logat Arab dan Ahli Kitab, juga Logat Orang-Orang Kasmaran …

LOGAT KASMARAN

Imam ath-Thabrani –rahimahullah– berkata di kitab al-Mu’jam al-Ausath:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَابَانَ، ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مِهْرَانَ الْجَمَّالُ، نَا بَقِيَّةُ بْنُ الْوَلِيدِ، عَنْ حُصَيْنِ بْنِ مَالِكٍ الْفَزَارِيِّ، قَالَ: سَمِعْتُ شَيْخًا وَكَانَ قَدِيمًا يُكْنَى بِأَبِي مُحَمَّدٍ، يُحَدِّثُ عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :(اقْرَءُوا الْقُرْآنَ بِلُحُونِ الْعَرَبِ وأَصْوَاتِها، وَإِيَّاكُمْ وَلُحُونَ أَهْلِ الْكِتَابَيْنِ، وَأَهْلِ الْفسقِ، فَإِنَّهُ سَيَجِيءُ بَعْدِي قَوْمٌ يُرَجِّعُونَ بِالْقُرْآنِ تَرْجِيعَ الْغِنَاءِ وَالرَّهْبَانِيَّةِ وَالنَّوْحِ، لا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، مفتونةٌ قُلُوبُهُمْ، وقلوبُ مَنْ يُعْجِبُهُمْ شَأْنُهُمْ). لا يُرْوَى هَذَا الْحَدِيثُ عَنْ حُذَيْفَةَ إِلا بِهَذَا الإِسْنَادِ، تَفَرَّدَ بِهِ: بَقِيَّةُ

Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Jabban, telah bercerita kepada kami Muhammad bin Mihran al-Jammal, telah bercerita kepada kami Baqiyyah bin al-Walid, dari Hushain bin Malik al-Fazari, dia berkata: aku mendengar Syaikh dengan nama kun-yah Abu Muhammad menceritakan hadits dari Hudzaifah bin al-Yaman yang mengatakan:
Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Bacalah al-Quran dengan logat dan suara orang Arab. Janganlah kalian (membacanya) dengan logat dua ahli kitab (Yahudi dan Nasrani), juga dengan logat orang-orang fasiq. Sesungguhnya sepeninggalku akan muncul suatu kaum yang mendendangkan bacaan al-Quran sebagaimana lagu yang disenandungkan oleh para rahib dan para peratap. Tidaklah bacaan mereka itu mencapai kerongkongan mereka. Hati mereka terfitnah, demikian juga hati orang-orang mengagumi keadaan mereka.”
Imam ath-Thabrani berkata, “Tidaklah hadits ini diriwayatkan dari Hudzaifah kecuali dengan sanad ini. Baqiyyah menyendiri dengan hadits ini.”

-dalam riwayat al-Hakim at-Tirmidzi di kitab Nawadir al-Ushul, disebutkan, “Ahl al-‘Isq (logat orang-orang kasmaran),” sebagai ganti dari, “Ahl al-Fisq (logat orang-orang fasik).”

Hadits ini sangat lemah …
Abu Muhammad yang meriwayatkan dari Hudzaifah adalah seorang perawi majhul
Hushain bin Malik al-Fazari juga majhul
Baqiyyah bin al-Walid banyak melakukan tadlis dari perawi-perawi lemah dan majhul – juga dikenal pula sebagai pelaku tadlis taswiyah– sementara gurunya, Hushain bin Malik al-Fazari termasuk di antara perawi-perawi yang majhul

Imam adz-Dzahabi –rahimahullah– berkata mengenai hadits ini di kitab Mizan al-I’tidal:

حصين بن مالك الفزاري عن رجل، عن حذيفة: (اقرءوا القرآن بلحون العرب وأصواتها (تفرد عنه بقية، ليس بمعتمد. والخبر منكر

Hushain bin Malik al-Fazari dari seseorang dari Hudzaifah, “Bacalah al-Quran dengan logat dan suara Arab.” Baqiyyah menyendiri darinya, tidak bisa dijadikan pegangan, dan kabar ini mungkar.
*lihat juga kitab an-Nafilah fi al-Ahadits adh-Dha’ifah wa al-Bathilah (hadits no. 1, halaman 19) karya Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini –rahimahullah

Bandung, 17 November 2014

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–