Tentang Distorsi Hadits-Hadits …

Graphic1

Ada banyak hal yang bisa menyebabkan terjadinya distorsi dalam penerimaan atau penyampaian pesan-pesan komunikasi (termasuk penerimaan dan penyampaian hadits-hadits, kisah-kisah, dan kabar-kabar). Noise –misalnya- merupakan salah satu di antaranya …

Al-A’masy memilih tak mencatat hadits-hadits dari asy-Sya’bi kecuali sedikit saja, dan itu dikarenakan adanya noise yang tak memungkinkannya untuk menulis secara tepat informasi yang didiktekan oleh asy-Sya’bi. Majelis asy-Sya’bi banyak didatangi manusia, sementara al-A’masy biasa mendapat tempat duduk di ambang pintu majelis yang jauh dari asy-Sya’bi sehingga tak mungkin baginya untuk mendengar secara jelas hadits-hadits dari asy-Sya’bi. Al-A’masy sangatlah bijaksana. Ia tak ingin mencatat informasi yang tak diterimanya secara jelas, dan –tentu saja lantaran itu- ia tak ingin menyampaikan hadits-hadits yang mungkin saja mengalami distorsi karena tak jelas didengar olehnya …

Di kitab Dzamm ats-Tsuqala’, Ibn al-Marzuban berkata (hal 98):

 

حدثنا أبو محمد حدثني محمد بن الحسين حدثنا أحمد بن حرب قال: حدثني إسماعيل بن زيَاد بن الحكم، عن أبيه أو عمّه، قال: قلت للأعمش، ما أراك كتبت عن الشعبِي إلا يسيرا! قال: “ويحك كيفَ كنت أسمع من رجل لم آته قطّ مع إبراهيم النخعِي إلا أقعدني خلف الأسكفة من البَاب، ثم يقعد إبراهيم فِي مجلسه

 

Ayahnya Ziyad bin al-Hakam–atau pamannya Ziyad bin al-Hakam- berkata: Aku berkata kepada al-A’masy, “Aku tak melihatmu menulis hadits dari asy-Sya’bi kecuali sedikit yang mudah-mudah saja!” Al-A’masy menjawab, “Bagaimana mungkin aku mendengar (hadits) dari seseorang yang tidaklah aku mendatanginya bersama Ibrahim an-Nakha’i kecuali ia menyuruhku duduk di ambang pintu majelisnya, kemudian ia meminta Ibrahim agar duduk di depan majelisnya.”

 

Selain noise, penyebab lain terjadinya distorsi adalah ke-dha’if-an (kelemahan) penerima informasi, semisal takhlith, idh-thirab, ingatan yang buruk sehingga membuat redaksi hadits berubah atau bertambah, dan lain-lain. Dalam hal ini -masih juga al-A’masy- berupaya untuk mengurangi kemungkinan terjadinya distorsi pada hadits-hadits yang dihafal dan dijaganya dengan cara tidak menyampaikannya kepada orang yang dha’if (buruk hafalannya, takhlith, idh-thirab, dan sebagainya) semisal al-Hajjaj bin Arthah …

 

Di kitab Dzamm ats-Tsuqala’, Ibn al-Marzuban berkata (hal 68):

 

حدثنا عبد الرحمن بن محمد حدثني محمد بن سعد حدثنا عفان حدثنا عمر بن علي قال جاء الحجاج بن أرطاة إلى الأعمش فاستأذن عليه فقال قولوا له ابن أرطاة على الباب فقال الاعمش أبكي علي أبكي علي. فلم يأذن له ‘

 

Amr bin ‘Ali berkata: Al-Hajjaj bin Arthah datang kepada al-A’masy, lalu meminta izin kepada orang-orang yang berada di rumah al-A’masy seraya mengucapkan, “Katakan kapada al-A’masy bahwa Ibn Arthah ada di depan rumah ingin bertemu.” Maka al-A’masy berkata, “Aku menangisi diriku, aku menagisi diriku,” dan al-A’masy tak memberi izin kepada Arthah untuk menemuinya.

Imam Ahmad berkata tentang al-Hajjaj bin Arthah:

 

لأن في حديثه زيادة على حديث الناس، لا يكاد له حديث إلا فيه زيادة

 

“Karena dalam haditsnya ada tambahan yang tak ada dalam hadits orang lain. Hampir-hampir tak ada haditsnya yang tak ada tambahannya.”

Muhammad bin Nashr al-Marwadzi berkata:

 

وتغيير الألفاظ

 

“Terjadi perubahan pada redaksi haditsnya.”

Ibn ‘Adi berkata:

 

وربما أخطأ في بعض الروايات

 

“Kadang-kadang salah dalam sebagian riwayatnya.”

Ya’qub bin Syaibah berkata:

 

واهي الحديث، في حديثه اضطراب كثير وهو صدوق

 

“Lemah haditsnya, dan di dalam haditsnya banyak terjadi idh-thirab padahal ia jujur.”

Maka alangkah baiknya orang-orang yang teliti dalam menerima atau menyampaikan hadits-hadits, kisah-kisah, kabar-kabar, berita-berita, dan informasi-informasi …

Wallahu a’lamu …

 

Bandung, 19 Oktober 2019

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA—

Tentang Hal yang Tak Berkurang dari Bulan Hari Raya …

IMG-20160725-01365

قال النبي صلى الله عليه وسلم: شهران لا ينقصان، شهرا عيد: رمضان وذو الحجة …

 

Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Dua bulan yang tak akan berkurang, yaitu dua bulan hari raya, bulan Ramadhan dan Dzulhijjah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

 

*

**

 

Kitab Fatawa Ibn ‘Aqil (1/83-84) …

 

سائل يسأل عن الأثر المشهور: (شهران عيد لا ينقصان) هل هو حديث مرفوع٬ أو أثر موقوف٬ ومن رواه٬ وما معناه؟

 

Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abd al-‘Aziz bin ‘Aqil rahimahullahditanya:

Seorang penanya bertanya tentang atsar masyhur yang bunyinya, “Dua bulan hari raya yang keduanya tak berkurang.” Apakah itu merupakan hadits yang marfu’ ataukah atsar yang mauquf? Dan siapakah yang meriwayatkannya? Apa pula pengertiannya?

 

Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abd al-‘Aziz bin ‘Aqil rahimahullah menjawab:

 

هذا حديث صحيح مرفوع إلى النبي صلى الله عليه وسلم. رواه البخاري ومسلم عن أبي بكرة٬ وترجم عليه البخاري في صحيحه باب شهرا عيد لا ينقصان. قال أبو عبد الله: قال إسحاق: وإن كان ناقصا فهو تمام. وقال محمد لا يجتمعان كلاهما ناقص. ثم ساق بسنده إلى أبي بكرة عن النبي صلى الله عليه وسلم: (شهران لا ينقصان شهرا عيد رمضان وذو الحجة(.

وقد اختلف العلماء في معنى هذا الحديث:

 

Hadits tersebut sahih marfu’ (sampai kepada) Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Abu Bakrah. Imam al-Bukhari menyebutkan hadits tersebut di kitab Shahih-nya pada bab Dua Bulan Hari Raya yang Tak Berkurang. Abu ‘Abdillah (yakni al-Bukhari –pent) berkata: Ishaq (bin Rahawaih –pent) berkata, “Meskipun bilangan harinya kurang, ia tetaplah (bernilai) sempurna.” Muhammad (yakni al-Bukhari –pent) berkata, “Tidak akan berhimpun pada kedua bulan tersebut kekurangan.” Kemudian Imam al-Bukhari membawakan hadits tersebut dengan sanadnya yang sampai kepada Abu Bakrah dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dengan redaksi, “Dua bulan yang tak berkurang, yaitu dua bulan hari raya, Ramadhan dan Dzulhijjah.” Dalam hal ini, para ulama berbeda pendapat mengenai pengertian yang terkandung dalam hadits tersebut, yaitu:

 

فمنهم من حمله على ظاهره٬ فقال: لا يكون رمضان وذو الحجة إلا تامّين٬ ثلاثين يوما. وهذا قول مردود٬ ومخالف للمشاهد الموجود.

 

Di antara para ulama itu, ada yang memahami pengertiannya secara zahir, lalu ia berpendapat seraya mengatakan, “Tak akan terjadi bilangan hari pada bulan Ramadhan dan Dzulhijjah kecuali sama-sama sempurna, yaitu pastilah masing-masing berjumlah tiga puluh hari.” Dan ini merupakan pendapat yang tertolak lantaran menyelisihi realitas yang terjadi …

 

ومنهم من تأول له معنى آخر٬ وقال: لا ينقصان في الفضيلة إن كانا تسعا وعشرين أو ثلاثين٬ وهو قول إسحاق بن واهوية وغيره.

 

Di antara para ulama itu, ada juga yang berpendapat dengan mengartikannya kepada pengertian lain, dan ia mengatakan, “Keutamaan kedua bulan tersebut tidaklah berkurang meskipun jumlah hari masing-masing bulan tersebut hanya dua puluh sembilan hari saja atau tiga puluh hari,” dan ini merupakan pendapat Ishaq bin Rahawaih dan selainnya …

 

وفي قول ثالث: إنهما لا ينقصان معا في سنة واحدة٬ إن جاء أحدهما تسعا وعشرين جاء الآخر ثلاثين ولا بد. قال أحمد بن حنبل: إن نقص رمضان تم ذو الحجة٬ وإن نقص ذو الحجة تم ىمضان. ونقل عنه أبو داود: لا أدري ما هذا٬ قد رأيناهما ينقصان. فعلى هذا يكون عنه في ذلك روايتان.

 

Pendapat ketiga mengatakan, “Sesungguhnya kedua bulan tersebut tidak akan secara bersamaan dalam tahun yang sama mengalami kekurangan bilangan hari. Jika salah satunya berjumlah dua puluh sembilan pada tahun tersebut, maka yang lainnya akan genap tiga puluh hari, tak bisa tidak.” Imam Ahmad bin Hanbal berkata, Jika bulan Ramadhan berkurang harinya (yakni hanya dua puluh sembilan hari –pent), maka bulan Dzulhijjah akan genap sempurna bilangan harinya (yakni tiga puluh hari –pent). Begitu juga, jika bulan Dzulhijjah berkurang harinya, maka bulan Ramadhan akan genap sempurna bilangan harinya.” (Akan tetapi), Abu Dawud menukil pula satu ucapan dari Imam Ahmad yang mengatakan, “Aku tak tahu apa maksudnya, soalnya kami melihat sendiri kedua bulan itu berkurang jumlah harinya.” Dengan demikian, terdapat dua riwayat berbeda yang menyebutkan tentang ucapan Imam Ahmad mengenai hadits tersebut …

 

وفي قول رابع: إن المراد: لا ينقصان في عام بعينه٬ وهو العام الذي قال فيه النبي صلى الله عليه وسلم تلك مقالة. وقد أنكر الإمام أحمد هذا القول.

 

Adapun menurut pendapat keempat, mereka mengatakan, “Sesungguhnya maksud dari hadits tersebut bahwasanya kedua bulan itu takkan berkurang bilangan harinya pada tahun yang tertentu saja, yakni hanya pada tahun ketika Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengucapkan hadits tersebut saja.” Akan tetapi, pendapat ini diingkari (tidak dianggap benar) oleh Imam Ahmad …

 

وقيل: إنما خصهما بالذكر لفضلهما على سائر الشهور٬ واختصاصهما بالعيدين٬ وتعلُّق أحكام الصوم والحج بهما. فكل ما ورد فيهما من الفضائل والأحكام حاصل٬ سواء كان رمضان تسعا وعشرين أو ثلاثين٬ وسواء وافق الوقوف اليوم التاسع أو غيره. ذكره البيهقي.

 

Dan ada yang mengatakan bahwa dikhususkannya penyebutan kedua bulan itu dalam hadits tersebut lantaran kedua bulan itu memang lebih utama dari bulan-bulan lainnya, dan keduanya dikhususkan dengan adanya hari raya di dalamnya dan keterkaitan dengan hukum-hukum shaum dan haji pada masing-masing dari kedua bulan tersebut. Maka, setiap keutamaan dan hukum-hukum yang terdapat pada kedua bulan tersebut, sudah merupakan sesuatu yang tetap, sama saja apakah jumlah hari pada bulan Ramadhan itu dua puluh sembilan hari maupun tiga puluh hari, dan sama saja apakah wukuf yang dilakukan itu bertepatan dengan hari kesembilan ataukah tidak tepat pada hari itu sebagaimana yang disebutkan oleh al-Baihaqi.

 

وفائدة الحديث: ما قد يقع في القلوب من شك لمن صام تسعا وعشرين، أو وقف في غير يوم عرفة، والله أعلم

 

Dan faidah hadits ini: (berkaitan dengan) keraguan yang menimpa hati orang yang melaksanakan shaum dua puluh sembilan hari saja atau orang yang wukuf pada hari selain hari ‘Arafah (yakni mereka meragukan kesempurnaan dari keutamaan yang mereka raih lantaran hanya mengerjakan shaum sebanyak dua puluh sembilan hari saja, dan mereka juga meragukan kesempurnaan dari keutamaan yang meraka raih lantaran perhitungan hari wuquf mereka di ‘Arafah belum tentu tepat. Maka, hadits tersebut menepis keraguan mereka itu –pent). Wallahu a’lamu … –SELESAI

 

*

**

 

Syaikh ‘Ali bin Hasan al-Halabi al-Atsari –hafizhahullah

http://alhalaby.com/play-2848.html

 

Syaikh ‘Ali bin Hasan al-Halabi al-Atsari –hafizhahullah– berkata:

 

الشرح والبيان لحديث: ((شهرا عيد لا ينقصان)) -الذي رواه الشيخان-

 

Penafsiran dan penjelasan mengenai hadits, “Dua bulan hari raya yang keduanya tak berkurang,” yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim …

 

قال الإمام الطحاوي -رحمه الله-في ((مشكل الآثار)):

«بَابُ بَيَانِ مُشْكِلِ مَا رُوِيَ عَنْهُ -عَلَيْهِ السَّلَامُ- مِنْ قَوْلِهِ: «شَهْرَا عِيدٍ لَا يَنْقُصَانِ رَمَضَانُ وَذُو الْحِجَّةِ».

– حَدَّثَنَا ابْنُ مَرْزُوقٍ، حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ -عَلَيْهِ السَّلَامُ-: «شَهْرَا عِيدٍ لَا يَنْقُصَانِ رَمَضَانُ وَذُو الْحِجَّةِ»…..

 

Imam ath-Thahawi –rahimahullah– berkata di kitab Musykil al-Atsar:

Bab penjelasan tentang kemusykilan dari hal yang diriwayatkan dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berupa ucapan, “Dua bulan hari raya yang tak berkurang, yaitu Ramadhan dan Dzulhijjah.”

Telah bercerita kepada kami Ibn Marzuq, telah bercerita kepada kami ‘Utsman bin ‘Umar, telah bercerita kepada kami Syu’bah, dari Khalid al-Hadza’, dari ‘Abd ar-Rahman bin Abi Bakrah, dari ayahnya ia berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Dua bulan hari raya, keduanya tidaklah berkurang, yaitu Ramadhan dan Dzulhijjah.”

 

فَتَأَمَّلْنَا هَذَا الْحَدِيثَ؛ لِنَقِفَ عَلَى الْمَعْنَى الَّذِي أُرِيدَ بِهِ مَا فِيهِ :

وَهَلْ هُوَ عَلَى نُقْصَانِ الْعَدَدِ -كَمَا قَالَ مَنْ قَالَ ذَلِكَ- ؟

أَوْ: هَلْ هُوَ عَلَى وُجُودِ النُّقْصَانِ مِنَ الْعَدَدِ فِي أَحَدِهِمَا، وَعَلَى انْتِفَائِهِ مِنَ الْآخَرِ -حَتَّى لَا يَكُونَا جَمِيعًا نَاقِصَيْنِ-؟

أَوْ خِلَافُ هَذَيْنِ الْمَعْنَيَيْنِ الْمَذْكُورَيْنِ؟؟

فَوَجَدْنَا مَا قَدْ عَهِدْنَاهُ فِي الْأَزْمِنَةِ: أَنَّ النُّقْصَانَ مِنَ الْعَدَدَيْنِ يَكُونُ فِي أَحَدِهِمَا دُونَ الْآخَرِ.

وَقَدْ يَكُونُ فِيهِمَا -جَمِيعًا- لَا تَنَازُعَ فِي ذَلِكَ.

وَقَدْ حَقَّقَهُ مَا قَدْ رُوِيَ عَنْ رَسُولِ اللهِ -عَلَيْهِ السَّلَامُ- مِمَّا أَمَرَ بِاسْتِعْمَالِهِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ وَفِي أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ:

– كَمَا حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مَعْبَدٍ، وَابْنُ مَرْزُوقٍ قَالَا حَدَّثَنَا رَوْحُ بْنُ عُبَادَةَ، حَدَّثَنَا زَكَرِيَّا بْنُ إِسْحَاقَ، عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ، أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ جُبَيْرٍ، أَخْبَرَهُ أَنَّهُ، سَمِعَ ابْنَ عَبَّاسٍ، يَقُولُ:

إنِّي لَأَعْجَبُ مِنَ الَّذِينَ يَصُومُونَ قَبْلَ رَمَضَانَ، إنَّمَا قَالَ رَسُولُ اللهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: «إذَا رَأَيْتُمُ الْهِلَالَ فَصُومُوا وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَعُدُّوا ثَلَاثِينَ»…

– وَكَمَا حَدَّثَنَا ابْنُ خُزَيْمَةَ، حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْجَعْدِ، أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ، قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ، يَقُولُ: قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ -عَلَيْهِ السَّلَامُ-: «صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ؛ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَعُدُّوا ثَلَاثِينَ».

– وَكَمَا حَدَّثَنَا فَهْدٌ، حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ الرَّبِيعِ، حَدَّثَنَا إبْرَاهِيمُ بْنُ حُمَيْدٍ الرُّؤَاسِيُّ، عَنْ مُجَالِدِ بْنِ سَعِيدٍ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنْ عَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ، قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: «إذَا جَاءَ رَمَضَانُ فَصُمْ ثَلَاثِينَ ؛إلَّا أَنْ تَرَى الْهِلَالَ قَبْلَ ذَلِكَ».

فَعَقِلْنَا بِذَلِكَ أَنَّ شَهْرَ رَمَضَانَ قَدْ يَكُونُ ثَلَاثِينَ ،وَقَدْ يَكُونُ تِسْعًا وَعِشْرِينَ.

فَاحْتَجْنَا إلَى مَعْنَى قَوْلِهِ: «شَهْرَا عِيدٍ لَا يَنْقُصَانِ» مَا هُوَ؟

فَوَجَدْنَا هَذَيْنِ الشَّهْرَيْنِ -وَهُمَا رَمَضَانُ وَذُو الْحِجَّةِ- يَبينانِ عَلَى مَا سِوَاهُمَا مِنَ الشُّهُورِ ; لِأَنَّ فِي أَحَدِهِمَا الصِّيَامَ وَلَيْسَ فِي غَيْرِهِ مِنَ الشُّهُورِ، وَفِي أَحَدِهِمَا الْحَجَّ وَلَيْسَ فِي غَيْرِهِ مِنَ الشُّهُورِ.

فَكَانَ مَوْهُومًا أَنْ يَقَعَ فِي قُلُوبِ قَوْمٍ أَنَّهُمَا إذَا كَانَا (تِسْعًا وَعِشْرِينَ= تِسْعًا وَعِشْرِينَ) نَقَصَ بِذَلِكَ الصَّوْمُ الَّذِي فِي أَحَدِهِمَا، وَالْحَجُّ الَّذِي يَكُونُ فِي الْآخَرِ عَنْ مَا يَكُونَانِ عَلَيْهِ إذَا كَانَا (ثَلَاثِينَ= ثَلَاثِينَ): فَأَعْلَمَهُمْ رَسُولُ اللهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- أَنَّهُمَا لَا يَنْقُصَانِ , وَإِنْ كَانَا (تِسْعًا وَعِشْرِينَ= تِسْعًا وَعِشْرِينَ) عَن مَا يَكُونُ فِيهِمَا مِنْ هَاتَيْنِ الْعِبَادَتَيْنِ , وَأَنَّ هَاتَيْنِ الْعِبَادَتَيْنِ كَامِلَتَانِ فِيهِمَا وَإِنْ كَانَا فِي الْعَدَدِ كَذَلِكَ كَكَمَالِهِمَا فِيهِمَا إذَا كَانَا (ثَلَاثِينَ= ثَلَاثِينَ).

وَقَدْ رَوَى عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِسْحَاقَ الْبَصْرِيُّ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِخِلَافِ هَذَا الْمَعْنَى: – كَمَا حَدَّثَنَا إبْرَاهِيمُ بْنُ أَبِي دَاوُدَ، حَدَّثَنَا فَرْوَةُ بْنُ أَبِي الْمَغْرَاءِ، حَدَّثَنَا الْقَاسِمُ بْنُ مَالِكٍ الْمُزَنِيُّ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ إِسْحَاقَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ رَسُولُ اللهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ: «كُلُّ شَهْرٍ حَرَامٍ ثَلَاثُونَ يَوْمًا وَثَلَاثُونَ لَيْلَةً» !

فَكَانَ هَذَا عِنْدَنَا لَيْسَ بِشَيْءٍ ؛إذْ كَانَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِسْحَاقَ لَا يُقَاوِمُ خَالِدًا الْحَذَّاءَ فِي إِمَامَتِهِ فِي الرِّوَايَةِ، وَلَا فِي ضَبْطِهِ فِيهَا، وَلَا فِي إتْقَانِهِ لَهَا. وَإِذْ كَانَ الْعِيَانُ قَدْ دَفَعَ ذَلِكَ -وَبِاللهِ التَّوْفِيقُ-».

 

Maka kami merenungkan hadits ini untuk memahami pengertian yang dimaksudkan dalam hadits tersebut. Apakah yang dimaksud itu adalah pengurangan jumlah bilangan hari sebagaimana yang dikatakan oleh orang yang berpendapat demikian? Atau apakah maksudnya memang ada jumlah hari yang berkurang pada salah satu dari kedua bulan itu sementara bulan yang satu lagi tidak berkurang jumlah harinya sehingga tidak mungkin terdapat pengurangan jumlah hari secara bersamaan? Ataukah terdapat pengertian lain yang berbeda dari kedua pendapat yang telah disebutkan tersebut?

Lalu –ternyata- kami dapati dalam kenyataan zaman bahwa memang terjadi jumlah hari yang berkurang pada salah satu dari kedua bulan itu sementara bulan yang satu lagi tidak berkurang jumlah harinya. Terkadang pula kami dapati kenyataan bahwa jumlah hari dari kedua bulan itu memang berkurang secara bersamaan, tiada perbedaan di antara keduanya dalam kekurangan jumlah harinya.

Kenyataan yang kami dapati itu dikuatkan pula oleh hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dari hal yang beliau perintahkan untuk untuk dikerjakan pada awal dan akhir bulan Ramadhan. Sebagaimana telah bercerita kepada kami ‘Ali bin Ma’bad dan Ibn Marzuq yang keduanya berkata: telah bercerita kepada kami Rauh bin ‘Ubadah, telah bercerita kepada kami Zakariya bin Ishaq, dari ‘Amr bin Dinar bahwa Muhammad bin Jubair mengabarkan kepadanya bahwasanya ia mendengar Ibn ‘Abbas berkata: Sesungguhnya aku benar-benar heran terhadap orang-orang yang berpuasa sebelum Ramadhan. Hanyalah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– itu bersabda, “Jika kalian melihat hilal, berpuasalah kalian, dan jika kalian melihat hilal, berbukalah kalian! Apabila hilal itu tetrtutup awan, maka genapkanlah menjadi tiga puluh hari!”

Juga sebagaimana telah bercerita kepada kami Ibn Khuzaimah, telah bercerita kepada kami ‘Ali bin al-Ja’d, telah berkabar kepada kami Syu’bah, dari Muhammad bin Ziyad, ia berkata: aku mendengar Abu Hurairah berkata: Abu al-Qasim –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Shaumlah kalian karena melihat hilal dan berbukalah kalian karena melihatnya. Apabila hilal itu terhalang awan dari pandangan kalian, maka genapkanlah menjadi tiga puluh hari!”

Dan sebagaimana telah bercerita kepada kami Fahd, telah bercerita kepada kami al-Hasan bin ar-Rabi’, telah bercerita kepada kami Ibrahim bin Humaid ar-Ru-asiy, dari Mujalid bin Sa’id, dari asy-Sya’bi, dari ‘Adi bin Hatim ia berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata kepadaku, “Jika Ramadhan tiba, maka shaumlah tiga puluh hari kecuali jika kau melihat hilal sebelum itu.”

Dengan itu kami tahu bahwa bulan Ramadhan itu terkadang tiga puluh hari dan terkadang pula dua puluh sembilan hari. Oleh karena itu, kami ingin tahu pengertian dari ucapan beliau, “Dua bulan hari raya yang keduanya tidak berkurang.” Apa sebetulnya makna dari hadits ini?

Maka kami dapati bahwa kedua bulan ini, yaitu Ramadhan dan Dzulhijjah, keduanya berbeda dengan bulan-bulan selain keduanya lantaran di dalam salah satu dari kedua bulan tersebut (yakni bulan Ramadhan), terdapat kewajiban shaum yang tak ada pada bulan-bulan lainnya, sedangkan pada bulan yang satu lagi (yakni Dzulhijjah), terdapat kewajiban Haji yang tak ada pada bulan-bulan lainnya …

Dahulu terjadi kebimbangan di dalam hati orang-orang bahwa kedua bulan tersebut jika jumlah masing-masing harinya hanya dua puluh sembilan hari, maka berkuranglah karenanya nilai shaum dan haji dibandingkan ketika jumlah hari pada masing-masing dari kedua bulan itu tiga puluh hari. Maka kemudian Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– memberitahu mereka bahwa (keutamaan yang diraih dari ibadah yang dilakukan pada) kedua bulan itu tidaklah berkurang meskipun jumlah hari dari masing-masing dari kedua bulan itu sama-sama dua puluh sembilan hari, dan bahwasanya kedua ibadah yang dilaksanakan pada kedua bulan itu tetap sempurna meskipun jumlah harinya dua puluh sembilan, tiada beda dengan ketika jumlah hari dari masing-masing bulan itu tiga puluh hari …

Memang benar bahwa ‘Abd ar-Rahman bin Ishaq al-Bashri telah meriwayatkan hadits ini dari ‘Abd ar-Rahman bin Abi Bakrah dari ayahnya dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– yang berbeda dengan pengertian ini sebagaimana telah bercerita kepada kami Ibrahim bin Abi Dawud, telah bercerita kepada kami Farwah bin Abi al-Maghra’, telah bercerita kepada kami al-Qasim bin Malik al-Muzani, dari ‘Abd ar-Rahman bin Ishaq, dari ‘Abd ar-Rahman bin Abi Bakrah, dari ayahnya, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Semua bulan haram berjumlah tiga puluh hari dan tiga puluh malam.” Akan tetapi, menurut kami hadits tersebut tidaklah teranggap karena kenyataannya ‘Abd ar-Rahman bin Ishaq itu tak sebanding tingkat keimamannya dengan Khalid al-Hadza’ dalam periwayatan, tidak juga dalam kekuatan hafalan dan kesempurnaan penguasaannya terhadap riwayat, dan kenyataan realitas pun menolak hal tersebut …

 

وقال-رحمه الله- في (( شرح معاني الآثار )):

«بَابُ مَعْنَى قَوْلِ رَسُولِ اللهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: «شَهْرَا عِيدٍ لَا يَنْقُصَانِ : رَمَضَانُ وَذُو الْحِجَّةِ»….

فَفِي هَذَا الْحَدِيثِ : أَنَّ هَذَيْنِ الشَّهْرَيْنِ لَا يَنْقُصَانِ ؛ فَتَكَلَّمَ النَّاسُ فِي مَعْنَى ذَلِكَ:

فَقَالَ قَوْمٌ: لَا يَنْقُصَانِ ، أَيْ :لَا يَجْتَمِعُ نُقْصَانُهُمَا فِي عَامٍ وَاحِدٍ، وَقَدْ يَجُوزُ أَنْ يَنْقُصَ أَحَدُهُمَا.

وَهَذَا قَوْلٌ قَدْ دَفَعَهُ الْعِيَانُ ؛ لِأَنَّا قَدْ وَجَدْنَاهُمَا يَنْقُصَانِ فِي أَعْوَامٍ ،

وَقَدْ يُجْمَعُ ذَلِكَ فِي كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا.

فَدَفَعَ ذَلِكَ قَوْمٌ بِهَذَا، وَبِحَدِيثِ النَّبِيِّ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-… أَنَّهُ قَالَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ: «صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَعُدُّوا ثَلَاثِينَ» ، وَبِقَوْلِهِ: «إِنَّ الشَّهْرَ قَدْ يَكُونُ تِسْعًا وَعِشْرِينَ , وَقَدْ يَكُونُ ثَلَاثِينَ» .

فَأَخْبَرَ أَنَّ ذَلِكَ جَائِزٌ فِي كُلِّ شَهْرٍ مِنَ الشُّهُورِ.

وَذَهَبَ آخَرُونَ إِلَى تَصْحِيحِ هَذِهِ الْآثَارِ كُلِّهَا ، وَقَالُوا:

أَمَّا قَوْلُهُ: «صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ»؛ فَإِنَّ الشَّهْرَ قَدْ يَكُونُ تِسْعًا وَعِشْرِينَ , وَقَدْ يَكُونُ ثَلَاثِينَ , فَذَلِكَ كُلُّهُ كَمَا قَالَ , وَهُوَ مَوْجُودٌ فِي الشُّهُورِ كُلِّهَا.

وَأَمَّا قَوْلُهُ: «شَهْرَا عِيدٍ لَا يَنْقُصَانِ : رَمَضَانُ ،وَذُو الْحِجَّةِ»؛ فَلَيْسَ ذَلِكَ-عِنْدَنَا- عَلَى نُقْصَانِ الْعَدَدِ ، وَلَكِنَّهُمَا فِيهِمَا مَا لَيْسَ فِي غَيْرِهِمَا مِنَ الشُّهُورِ؛ فِي أَحَدِهِمَا الصِّيَامُ ، وَفِي الْآخَرِ الْحَجُّ. فَأَخْبَرَهُمْ رَسُولُ اللهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- أَنَّهُمَا لَا يَنْقُصَانِ وَإِنْ كَانَا تِسْعًا وَعِشْرِينَ ، وَهُمَا شَهْرَانِ كَامِلَانِ ، كَانَا (ثَلَاثِينَ =ثَلَاثِينَ)، أَوْ (تِسْعًا وَعِشْرِينَ= تِسْعًا وَعِشْرِينَ) ؛ لِيُعْلَمَ بِذَلِكَ أَنَّ الْأَحْكَامَ فِيهِمَا – وَإِنْ كَانَا (تِسْعًا وَعِشْرِينَ= تِسْعًا وَعِشْرِينَ) مُتَكَامِلَةٌ فِيهِمَا غَيْرُ نَاقِصَةٍ عَنْ حُكْمِهَا إِذَا كَانَا (ثَلَاثِينَ= ثَلَاثِينَ).

فَهَذَا وَجْهُ تَصْحِيحِ هَذِهِ الْآثَارِ الَّتِي ذَكَرْنَاهَا فِي هَذَا الْبَابِ .

وَاللهُ أَعْلَمُ»

 

Dan Imam ath-Thahawi –rahimahullah– juga berkata di kitab Syarh Ma’ani al-Atsar:

Bab makna ucapan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dua bulan hari raya yang keduanya tidak berkurang, yaitu Ramadhan dan Dzulhijjah.”

Maka di dalam hadits ini, bahwasanya kedua bulan tersebut tidaklah berkurang, lalu manusia membicarakan pengertian dari hadits tersebut. Sebagian orang berpendapat, “Keduanya tidak berkurang, yakni kekurangan jumlah hari kedua bulan tersebut tak akan terjadi secara bersamaan dalam satu tahun yang sama, hanya salah satu dari kedua bulan itu sajalah yang berkurang jumlah harinya.” Akan tetapi pendapat ini ditolak oleh kenyataan yang terjadi karena sungguh kami mendapati kedua bulan tersebut berkurang bilangan harinya pada banyak tahun, bahkan kurangnya bilangan hari itu terjadi pada kedua bulan itu secara bersamaan di tahun yang sama. Oleh karena itu, pendapat tersebut ditolak oleh kenyataan tersebut dan oleh hadits Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– yang berkata mengenai bulan Ramadhan, Shaumlah kalian lantaran melihat hilal dan berbukalah kalian lantaran melihatnya. Apabila ia terhalangi awan atas kalian, maka genapkanlah menjadi tiga puluh hari!” Juga oleh ucapan beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya satu bulan itu terkadang dua puluh sembilan hari dan terkadang pula tiga puluh hari.” Maka melalui ucapan ini, beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– mengabarkan bahwa kedua jumlah bilangan hari itu bisa terjadi pada seluruh bulan. Dan sebagian kelompok ulama berpendapat mengenai kesahihan seluruh atsar-atsar tersebut seraya mengatakan, “Adapau ucapan beliau: bershaumlah kalian lantaran melihat hilal dan berbukalah kalian lantaran melihatnya pula,” karena sesungguhnya jumlah hari dalam satu bulan itu terkadang memang dua puluh sembilan hari dan terkadang tiga puluh hari. Maka demikianlah seluruhnya sebagaimana yang beliau katakan, dan itu nyata terjadi pada seluruh bulan …

Adapun ucapan beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dua bulan hari raya yang keduanya tidak berkurang, yaitu Ramadhan dan Dzulhijjah,” maka menurut kami, bukanlah maksudnya (penafian atas) berkurangnya jumlah bilangan hari-harinya. Akan tetapi maksudnya adalah bahwa di dalam kedua bulan hari raya itu terdapat hal yang tidak ditemukan pada bulan-bulan selain keduanya, yaitu ada kewajiban shaum pada salah satunya (yakni pada bulan Ramadhan), dan pada bulan yang satu lagi terdapat kewajiban haji (yakni pada bulan Dzulhijjah), lalu Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– mengabarkan kepada para shahabat bahwa keutamaan kedua bulan hari raya itu tidaklah berkurang meskipun jumlah hari pada masing-masingnya hanya dua puluh sembilan hari saja, bahkan kedua bulan hari raya itu tetap saja merupakan bulan yang sempurna, baik berjumlah tiga puluh hari maupun dua puluh sembilan hari, agar diketahui melalui sabdanya itu bahwa hukum-hukum syariat di dalam kedua bulan hari raya tersebut meskipun keduanya hanya berjumlah dua puluh sembilan hari tetaplah sempurna tanpa berkurang dari keadaan keduanya ketika berjumlah tiga puluh hari. Maka inilah penempatan makna yang benar dari atsar-atsar yang kami telah sebutkan pada bab ini, wallahu a’lamu … –SELESAI

 

Bandung, 25 Juli 2016

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Keganjilan Ibn Hazm –rahimahullah- Menolak Sifat-Sifat Allah …

Untitled-

Imam al-Bukhari –rahimahullah– berkata di kitab Shahih-nya:

 

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنَا عَمْرٌو عَنْ ابْنِ أَبِي هِلَالٍ أَنَّ أَبَا الرِّجَالِ مُحَمَّدَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَدَّثَهُ عَنْ أُمِّهِ عَمْرَةَ بِنْتِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ وَكَانَتْ فِي حَجْرِ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ رَجُلًا عَلَى سَرِيَّةٍ وَكَانَ يَقْرَأُ لِأَصْحَابِهِ فِي صَلَاتِهِمْ فَيَخْتِمُ بِقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ فَلَمَّا رَجَعُوا ذَكَرُوا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ سَلُوهُ لِأَيِّ شَيْءٍ يَصْنَعُ ذَلِكَ فَسَأَلُوهُ فَقَالَ لِأَنَّهَا صِفَةُ الرَّحْمَنِ وَأَنَا أُحِبُّ أَنْ أَقْرَأَ بِهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبِرُوهُ أَنَّ اللَّهَ يُحِبُّهُ

 

Telah bercerita kepada kami Ahmad bin Shalih, telah bercerita kepada kami (‘Abdullah) bin Wahb, telah bercerita kepada kami ‘Amr bin al-Harits, dari (Sa’id) bin Abi Hilal, bahwa Abu ar-Rijal Muhammad bin ‘Abd ar-Rahman telah bercerita kepadanya (hadits) dari ibunya, (yaitu) ‘Amrah binti ‘Abd ar-Rahman yang dulu berada dalam pemeliharaan ‘Aisyah istri Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari ‘Aisyah, bahwasanya Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– mengutus seorang lelaki (untuk memimpin) sebuah ekspedisi militer. Lelaki tersebut setiap kali memimpin shalat jamaah, selalu saja menutup bacaan shalatnya (setelah membaca surah lainnya) dengan surah al-Ikhlash (Qul huwallaahu ahad). Setelah ekspedisi berakhir dan mereka kembali (ke Madinah), orang-orang melaporkan hal itu kepada Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun berkata, “Kalian tanyakanlah kepadanya tentang alasan yang menjadikannya berbuat seperti itu!” Maka mereka pun bertanya kepada lelaki itu, lalu lelaki tersebut menjawab, “Karena surah al-Ikhlas itu (menyatakan) sifat ar-Rahman, dan aku sangat suka untuk membacanya (dalam shalatku).” (Setelah mengetahui alasan lelaki tersebut), Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Kalian kabarkanlah kepadanya bahwa Allah mencintainya.”

 

Hadits tersebut diriwayatkan pula oleh Imam Muslim –rahimahullah– dalam Shahih-nya, yaitu di kitab Shalah al-Musafirin wa Qashriha, bab Fadhl Qira-ah Qul Huwallahu Ahad (hadits no. 813) …

 

*

**

 

Kemarin saya membaca pendapat Ibn Hazm –rahimahullah– dalam masalah sifat-sifat Allah yang dituangkannya dalam kitab al-Fashl wa al-Milal wa al-Ahwa’ wa an-Nihal. Ternyata beliau termasuk orang yang menafikan sifat-sifat Allah –ta’ala. Tentu saja pendapat beliau itu keliru dan sama sekali tidak benar, dan dalam hal ini beliau bertentangan dengan Ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah, tetapi malah mencocoki pendapat Jahmiyyah …

Berikut saya nukilkan ucapan Ibn Hazm tersebut:

 

قال أبو محمد: وأما إطلاق لفظ الصفات لله عز وجل فمحال لا يجوز لأن الله تعالى لم ينص قط في كلامه المنزل على لفظ الصفات، ولا على لفظ الصفة ولا جاء قط عن النبي – صلى الله عليه وسلم – بأن الله صفة أو صفات، نعم ولا جاء قط ذلك عن أحد من الصحابة – رضي الله عنهم – ولا عن أحد من خيار التابعين، ولا عن أحد تابعي التابعين، وما كان هكذا فلا ينبغي لأحد أن ينطق به.

ولو قلنا: إن الإجماع قد تيقن على ترك هذه اللفظة لصدقنا، فلا يجوز القول بلفظ الصفات، ولا إعتقاده بل ذلك بدعة منكرة، قال تعالى : إن هي إلا أسماء سميتموها أنتم وآباؤكم ما أنزل الله بها من سلطان إن يتبعون إلا الظن وما تهوى الأنفس ولقد جاءهم من ربهم الهدى)

قال أبومحمد: وإنما اخترع لفظة الصفات المعتزلة، وسلك سبيلهم قوم من أصحاب الكلام، سلكوا غير مسلك السلف الصالح ، ليس فيهم أسوة ولا قدوة ، وحسبنا الله ونعم الوكيل (( ومن يتعد حدود الله فقد ظلم نفسه))

وربما أطلق هذه اللفظة من المتأخرى الأئمة من الفقهاء من لم يحقق النظر فيها، فهي وهلة من الفاضل، وزلة من العالم، وإنما الحق في الدين ما جاء عن الله تعالى نصا أو عن رسول الله صلى الله عليه وسلم كذلك، أو صح إجماء الأمة كلها عليه، وما عدا هذا فضلال

فإن اعترضوا بالحديث الذي رويناه من طريق عبد الله بن وهب عن عمرو بن الحارث عن سعيد بن أبي هلال عن أبي الرجال محمد بن عبدالرحمن عن أمه عَمره عن عائشة – رضي الله عنها – في الرجل الذي يقرأ: (قل هو الله أحد) في كل ركعة مع سورة أخرى، وأن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أمر أن يسأل عم ذلك فقال: هي صفة الرحمن فأنا أحبها. فأخبره رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أن الله يحبه.

فالجواب وبالله التوفيق: أن هذه اللفظة انفرد بها سعيد بن أبي هلال وليس بالقوي، قد ذكره بالتخليط يحيى واحمد بن حنبل، وأيضا فإن إحتجاج خصومنا بهذا لا يسوغ لهم على أصولهم، لأنه خبر واحد لا يوجب عندهم العلم، وأيضا فلو صح لما كان مخالفا لقولنا، لأننا إنما أنكرنا قول من قال إن أسماء الله تعالى مشتقة من صفات ذاتية فأطلق ذلك على (العلم) و (والقدرة) و (والقوة) و (الكلام) أنها صفات، وعلى من أطلق (إرادة وسمعا وبصرا وحياة) وأطلق انها صفات، فهذا الذي أنكرنا غاية الإنكار، وليس في الحديث المذكور، ولا في غيره شيئ من هذا أصلا، وإنما فيه أن (قل هو الله أحد) خاصة صفة الرحمن، ولم ننكر هذا نحن بل هو خلاف لقولهم لأنهم لا يخصون (قل هو الله أحد) بذلك دون الكلام والعلم وغير ذلك و (قل هو الله أحد) خبر عن الله تعالى بما هو حق، فنحن نقول فيها هي صفة الرحمن، بمعنى انها خبر عنه تعالى حق، فظهر أن هذا الخبر حجة عليهم لنا … وقد قال الله تعالى: (سبحان ربك رب العزة عما يصفون) فأنكر إطلاق الصفات جملة فبطل تمويه من موّه بالحديث المذكور ليستحل بذلك ما لا يحل من إطلاق لفظ الصفات حيث لم يأت بإطلاقها فيه نص ولا إجماع إصلا، ولا أثر عن السلف

 

Ibn Hazm –rahimahullah– berkata di kitab al-Fashl wa al-Milal wa al-Ahwa’ wa an-Nihal (juz 2, halaman 283-285, cetakan Dar al-Jil, Beirut:

Pemutlakkan lafaz “sifat-sifat” yang dikaitkan kepada Allah –‘Azza wa Jalla– (yakni bahwa Allah memiliki sifat-sifat –pent) merupakan hal yang mustahil, dan itu tidak boleh karena Allah –ta’ala– sama sekali tidak menurunkan dalil dalam al-Quran tentang lafaz “sifat-sifat” bagi diri-Nya, baik itu penyebutan dalam bentuk jamak (sifat-sifat) maupun dalam bentuk tunggal (sifat). Dan sama sekali tidak ada pula penetapan yang datang dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– mengenai lafaz “sifat” yang dikaitkan kepada Allah, baik penyebutan dalam bentuk jamak (sifat-sifat) maupun dalam bentuk tunggal (sifat). Ya, sama sekali tidak ada pula penetapan itu datang dari salah seorang shahabat –radhiyallahu ‘anhum– atau dari tabi’in atau dari tabi’ tabi’in. Oleh karena itu, tidaklah patut bagi seseorang untuk mengucapkan perkataan tersebut …

Seandainya kami mengatakan, “Sesungguhnya ijma’ telah memastikan untuk tidak menggunakan lafaz tersebut dan menyandarkannya kepada Allah,” tentulah ucapan kami itu benar adanya. Oleh karena itu, tidak boleh bagi seseorang untuk mengucapakan perkataan, “Sifat Allah atau sifat-sifat Allah,” dan tidak boleh pula dia meyakini hal itu (yakni tidak boleh meyakini bahwa Allah memiliki sifat-sifat). Sesungguhnya (ucapan dan keyakinan) seperti itu merupakan kebid’ahan yang mungkar. Allah –ta’ala– berfirman, “Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kalian dan bapak-bapak kalian ada-adakan; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun mengenai hal itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan-persangkaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Rabb mereka.” (QS. An-Najm: 23) …

Lafaz “sifat-sifat” itu hanyalah merupakan ungkapan yang diada-adakan oleh kelompok Muktazilah yang kemudian jalan tempuh Muktazilah itu diikuti oleh orang-orang dari kalangan ahli kalam. (Sesungguhnya) mereka menempuh jalan selain jalan yang ditempuh oleh Salaf as-Shalih, dan mereka tidak memiliki uswah dan qudwah dari para Salaf dalam penempuhan yang mereka lakukan itu. Cukuplah Allah sebagai penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung. (Allah berfirman), Dan barangsiapa melanggar hukum-hukum Allah, maka sungguh dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.” (QS. ath-Thalaq: 1) …

Terkadang lafaz ini (yakni “sifat” atau “sifat-sifat”) digunakan oleh para imam dan fuqaha belakangan yang tak melakukan penelaahan secara teliti mengenai penggunaan ungkapan tersebut. Dengan demikian, itu merupakan kelalaian dan ketergelinciran orang-orang yang utama dan berilmu. Padahal kebenaran dalam agama itu hanyalah berdasarkan dalil yang datang dari Allah –ta’ala-, atau berdasarkan dalil yang datang dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau berdasarkan ijma’ umat seluruhnya yang sahih mengenai suatu perkara. Apa pun yang tak bersesuaian dengan ini, maka itu merupakan kesesatan …

Apabila mereka (yakni orang-orang yang menetapkan adanya sifat bagi Allah) menyanggah (apa yang kami kemukakan) dengan hadits yang telah kami kemukakan dari jalan ‘Abdullah bin Wahb, dari ‘Amr bin al-Harits, dari Sa’id bin Abi Hilal, dari Abu ar-Rijal Muhammad bin ‘Abd ar-Rahman, dari ibunya, yaitu ‘Amrah binti ‘Abd ar-Rahman, dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha– mengenai seorang lelaki yang membaca surah al-Ikhlas (Qul Huwallahu Ahad) dalam setiap rakaat setelah membaca surah yang lain, dan bahwasanya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menyuruh agar orang-orang menanyakan alasannya, lalu lelaki itu menjawab, “Karena surah al-Ikhlas itu sifat ar-Rahman, dan aku sangat suka untuk membacanya (dalam shalatku).” Setelah mengetahui alasan lelaki tersebut, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun mengabarkan kepada lelaki itu bahwa Allah mencintainya …

Maka jawaban kami (terhadap sanggahan mereka itu) –dengan memohon taufiq Allah- adalah sebagai berikut:

Sesungguhnya lafaz yang disebutkan dalam hadits tersebut adalah infirad (kesendirian dalam periwayatan) Sa’id bin Abi Hilal, sementara Sa’id bin Abi Hilal itu bukanlah perawi yang kuat. Yahya dan Ahmad bin Hanbal telah menyebutkan bahwa Sa’id bin Abi Hilal ini mengalami ikhtilath. Selain itu, sesungguhnya argumentasi mereka dalam membantah kami dengan menggunakan hadits tersebut, telah dilarang oleh pokok-pokok ajaran mereka sendiri karena menurut pokok-pokok ajaran mereka, khabar ahad itu tidaklah mengandung faidah ilmu. Selain itu juga, seandainya memang sahih hadits yang dijadikan hujjah untuk membantah pendapat kami itu, maka sesungguhnya kami hanyalah mengingkari ucapan orang yang mengatakan, “Sesungguhnya nama-nama Allah –ta’ala- itu merupakan musytaqah dari sifat-sifat dzatiyah,” lalu orang tersebut memutlakkan kaidahnya tersebut terhadap al-ilmu, al-qudrah, al-quwwah, dan al-kalam sebagai sifat-sifat Allah, demikian juga dengan iradah, sam’an, basharan, dan hayah bahwasanya semua itu merupakan sifat-sifat Allah. Maka, inilah perkara yang kami ingkari dengan sebenar-benar pengingkaran. Tidak ada dalam hadits yang disebutkan tadi (yakni hadits tentang orang yang membaca surah al-Ikhlas), dan tidak ada pula dalam hadits-hadits lainnya, suatu keterangan yang menetapkan (sifat-sifat Allah) tersebut. Hadits yang tersebut di atas itu hanyalah menjelaskan bahwa khusus Qul Huwallahu Ahad (yakni surah al-Ikhlas) saja yang menyebutkan gambaran sifat ar-Rahman, dan kami tidak mengingkari hal itu, bahkan hadits tersebut telah menyalahi pendapat mereka sendiri karena mereka tidak mengkhususkan Qul Huwallahu Ahad itu dengan hal tersebut dan malah menetapkan al-kalam, al-ilmu, dan lain-lainnya sebagai sifat Allah. Dan Qul Huwallahu Ahad itu merupakan pengabaran tentang Allah –ta’ala– mengenai hakikat-Nya yang benar. Maka kami katakan bahwa surah al-Ikhlas itulah sifat ar-Rahman, dengan pengertian bahwa hal itu merupakan kabar tentang hakikat diri Allah –ta’ala– secara benar. Dengan demikian, maka kabar ini merupakan hujjah yang menguatkan pendapat kami dan menyerang pendapat mereka … dan Allah –ta’ala– telah berfirman (QS. ash-Shaffat: 180), Maha Suci Rabb-mu Yang mempunyai kemuliaan dari apa yang mereka sifatkan,” di sini Allah mengingkari pemutlakan ungkapan “sifat atau sifat-sifat” terhadap diri-Nya lalu membatalkan penyampaian gambaran yang salah dan tak semestinya dari orang yang berbuat semena-mena dengan hadits tersebut untuk menghalalkan lafaz “sifat atau sifat-sifat” dalam hal yang tidak ada dalilnya, tidak ada ijma’ tentangnya, dan atsar dari Salaf mengenai hal itu … SELESAI …

 

*

**

 

Penjelasan atas Kekeliruan Ibn Hazm –rahimahullah

 

Pertama: Ibn Hazm menganggap bahwa tidak ada dalil dari al-Quran maupun dari as-Sunnah yang menyebutkan lafaz “sifat” atau “sifat-sifat” yang ditujukan bagi Allah –ta’ala. Dan beliau keliru karena lafaz tersebut terdapat dalam al-Quran dan hadits. Allah –ta’ala– berfirman:

 

سبحان ربك رب العزة عما يصفون

 

“Maha Suci Rabb-mu Yang mempunyai kemuliaan dari apa yang mereka sifatkan.” (QS. ash-Shaffat: 180)

 

Adapun dari hadits, jelas disebutkan dalam hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim yang telah disebutkan di atas. Dalam hadits itu, disebutkan bahwa shahabat berkata, “Karena surah al-Ikhlas itu (menyatakan) sifat ar-Rahman,” dan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tidak menyalahkannya bahkan menyetujuinya …

 

Kedua: Ibn Hazm menganggap bahwa hadits tersebut tidak sahih karena Sa’id bin Abi Hilal itu dha’if, bukan perawi yang kuat. Tentu saja anggapan beliau ini tidak benar karena para ulama telah menjadikan riwayatnya sebagai hujjah sebagaimana dikatakan oleh Ibn Hajar dalam Fath al-Bari berikut:

 

وسعيد متفق على الاحتجاج به فلا يلتفت إليه في تضعيفه

 

“Dan Sa’id (bin Abi Hilal) ini telah disepakati untuk berhujjah dengan riwayatnya, maka tak perlu mengambil perhatian terhadap pendha’ifan Ibn Hazm terhadapnya.”

 

Ketiga: Ibn Hazm beranggapan bahwa surah ash-Shaffat ayat 180 itu mengandung pengingkaran Allah terhadap lafaz “sifat” atau “sifat-sifat”. Ibn Hazm mengatakan, “… dan Allah –ta’ala- telah berfirman (QS. ash-Shaffat: 180), ‘Maha Suci Rabb-mu Yang mempunyai kemuliaan dari apa yang mereka sifatkan,’ di sini Allah mengingkari pemutlakan ungkapan “sifat atau sifat-sifat” terhadap diri-Nya.”

 

Tentu saja ucapan Ibn Hazm itu tidak benar. Dalam ayat itu, Allah bukanlah mengingkari lafaz “sifat” atau “sifat-sifat” bagi diri-Nya, melainkan Allah mengingkari pemerian sifat yang berkekurangan yang diucapkan manusia tentang diri-Nya. Ibn Hajar telah mengingkari ucapan Ibn Hazm tersebut dengan berkata sebagai berikut:

 

وقد قاله سبحانه وتعالى (سبحان ربك رب العزة عما يصفون) فنزه نفسه عما يصفونه به من صفة النقص، ومفهومه أن وصفه بصفة الكمال مشروع، وقد قسم البيهقي وجماعة من أئمة السنة جميع الأسماء المذكورة في القرآن وفي الأحاديث الصحيحة على قسمين: أحدهما صفات ذاته: وهي ما استحقه فيما لم يزل ولا يزال، والثاني صفات فعله: وهي ما استحقه فيما لا يزال دون الأزل، قال ولا يجوز وصفه إلا بما دل عليه الكتاب والسنة الصحيحة الثابتة أو أجمع عليه …

 

Allah –subhanahu wa ta’ala– berfirman (QS. ash-Shaffat: 180), Maha Suci Rabb-mu Yang mempunyai kemuliaan dari apa yang mereka sifatkan,” maka –di dalam ayat ini- Allah menyucikan diri-Nya dari sifat-sifat kekurangan yang disifatkan kepada-Nya oleh manusia. Bisa dipahami dari ayat ini bahwa sesungguhnya Allah menetapkan sifat-sifat yang sempurna dan layak bagi diri-Nya sendiri. Imam al-Baihaqi dan para Imam dari kalangan ulama Sunnah telah membagi semua nama-nama Allah yang terdapat di dalam al-Quran dan hadits-hadits yang sahih ke dalam dua bagian, salah satunya adalah sifat dzatiyah Allah, yaitu sifat yang layak bagi-Nya dan senantiasa melekat pada diri-Nya. Yang kedua adalah sifat fi’liyah, yaitu sifat yang layak bagi-Nya dan melekat dengan-Nya selain yang azali (yakni terkait dengan kehendak-Nya). Dan tidak boleh mensifati Allah kecuali dengan apa yang ditunjukkan oleh Kitab dan Sunnah yang sahih atau yang disepakati …

 

Keempat: Ibn Hazm mengatakan bahwa kalaupun hadits tentang orang yang membaca surah al-Ikhlas di atas itu shahih, maka hanya khusus Qul Huwallahu Ahad (yakni surah al-Ikhlas) sajalah yang menyebutkan sifat ar-Rahman itu (yakni: kalaupun boleh menyebut lafaz “sifat” atau “sifat-sifat” bagi Allah, maka hanya boleh mengaitkannya dengan surah al-Ikhlas saja, tidak boleh menyifati Allah dengan selain itu seperti sifat al-ilmu, al-qudrah, al-quwwah, dan al-kalam, dan lain-lain –pent).

Ucapan Ibn Hazm itu tentu saja tidak benar dan sangat ganjil. Beliau menyatakan bahwa ungkapan “sifat” bagi Allah itu hanya boleh diterapkan terhadap surah al-Ikhlas saja berdasarkan hadits tersebut. Padahal dalam hadits tersebut, jelas sekali adanya persetujuan dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tentang kebolehan menyebut sifat bagi Allah untuk selain surah al-Ikhlas tersebut. Hal itu karena lelaki dalam hadits tersebut mengatakan, “Karena surah al-Ikhlas itu (menyatakan) sifat ar-Rahman,” lalu Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menyetujuinya dan mengabarkan kepada lelaki itu bahwa Allah mencintainya. Lelaki itu menyebut ungkapan “sifat” karena memang dalam surah al-Ikhlas itu terdapat nama dan sifat Allah, dan bukanlah maksudnya sifat Allah itu hanya khusus terdapat di dalam surah al-Ikhlas saja. Ibn Hajar menukil ucapan Ibn at-Tin sebagai berikut:

 

إنما قال إنها صفة الرحمن؛ لأن فيها أسماءه وصفاته، وأسماؤه مشتقة من صفاته …

 

Hanyalah lelaki itu mengatakan, “Karena surah al-Ikhlas itu (menyatakan) sifat ar-Rahman,” lantaran memang di dalam surah itu terdapat nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya, sementara nama-nama-Nya itu merupakan musytaq dari sifat-sifat-Nya …

 

Ibn Hajar juga berkata sebagai berikut:

 

وكلامه الأخير مردود باتفاق الجميع على إثبات الأسماء الحسنى، قال الله تعالى ولله الأسماء الحسنى فادعوه بها وقال بعد أن ذكر منها عدة أسماء في آخر سورة الحشر له الأسماء الحسنى والأسماء المذكورة فيها بلغة العرب صفات ففي إثبات أسمائه إثبات صفاته ؛ لأنه إذا ثبت أنه حي مثلا فقد وصف بصفة زائدة على الذات وهي صفة الحياة …

 

Dan ucapan Ibn Hazm tersebut tertolak berdasarkan kesepakatan ulama terhadaps penetapan al-Asma’ al-Husna. Allah –ta’ala- berfirman (QS. al-A’raf: 180), Hanya milik Allah al-asma’ al-husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya itu,” dan Allah juga berfirman setelah menyebutkan sejumlah nama di akhir surah al-Hasyr (24), “Dia memiliki al-Asma’ al-Husna,” dan nama-nama-Nya yang disebutkan tersebut menurut lughah Arab adalah sifat-sifat-Nya, maka dalam penetapan nama-nama-Nya terdapat pula penetapan sifat-sifat-Nya karena apabila telah kukuh bahwa –sebagai contoh- Allah itu Hayyu, maka Allah pun disifati dengan sifat tambahan terhadap dzat-Nya, yaitu sifat al-Hayyah …

 

Dengan demikian, boleh memutlakkan “sifat” atau “sifat-sifat” bagi Allah dengan “sifat” atau “sifat-sifat” yang datang atau disebutkan dalam al-Quran dan hadits yang sahih. Adapun menyifati Allah dengan sifat-sifat yang tidak terdapat dalam al-Quran dan hadits yang sahih, maka itu tidak boleh …

 

*

**

 

Demikianlah pendapat Ibn Hazm –rahimahullah– dalam masalah sifat-sifat Allah, dan beliau mencocoki Jahmiyyah dalam hal tersebut sehingga tentu saja menyelisihi Ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah …

Terakhir, saya teringat akan ucapan Syaikh al-Albani –rahimahullah– dalam kitab al-Ayat al-Bayyinat fi Adami Sima’ al-Amwat (91) mengenai Ibn Hazm –rahimahullah:

 

علي بن أحمد بن سعيد بن حزم الأندلسي القرطبي٬ من كبار حفاظ الحديث وأئمة الظاهرية٬ ولكن في الأسماء والصفات جهمي جلد٬ وله أوهام كثيرة في الرواة وتجهيلهم. توفى سنة (٤٥٦) … – الآيات البينات في عدم سماع الأموات (٩١) …

 

‘Ali bin Ahmad bin Sa’id bin Hazm al-Andalusi al-Qurthubi, termasuk kalangan ulama besar hafizh hadits, dabn dia termasuk ulama kalangan zhahiriyah. Akan tetapi dalam masalah Asma dan Shifat, Ibn Hazm itu termasuk Jahmiyyah tulen. Beliau juga banyak melakukan kekeliruan dalam masalah perawi-perawi hadits dan sering menganggap mereka majhul. Beliau wafat pada tahun 456 Hijriyah …

 

Wallahu a’lamu …

 

 

Bandung, 12 Maret 2016

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–