Tentang Ucapan: Tiada Unta Betina dan Tiada Pula Unta Jantan …

Untitled1

Imam ad-Daraquthni berkata setelah menyebutkan sebuah hadits:

هذا حديث ليس لمحمد بن المنكدر فيه ناقة ولا جمل …

“Hadzaa hadiitsun, laisa li Muhammad ibnil Munkadiri fiihi naaqatun walaa jamalun.”

Secara letterlijk, arti dari ucapan ad-Daraquthni itu adalah, “Hadits ini, di dalamnya tiada unta betina bagi Muhammad bin al-Munkadir dan tiada pula unta jantan.”

Sebetulnya apa maksud dari ungkapan tersebut?

Maksudnya, ad-Daraquthni ingin mengatakan bahwa hadits itu bukanlah hadits yang berasal dari periwayatan Muhammad bin al-Munkadir, dan Muhammad bin al-Munkadir berlepas diri dan tidak memiliki keterkaitan atau keterlibatan apa pun dengan hadits itu meskipun orang-orang menyandarkan hadits itu kepada Muhammad bin al-Munkadir.

Sebenarnya, ada kisah tersendiri bagi ungkapan seperti yang diucapkan oleh Imam ad-Daraquthni itu. Kisah mengenai ungkapan itu sendiri bermula di jazirah Arab jauh sebelum masa kenabian Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam, tepatnya pada masa jahiliyah, tahun 494 Masehi. Pada waktu itu, terjadi peperangan panjang antara dua kabilah keturunan Wa-il, yakni kabilah Bakr di bawah pimpinan Jassas bin Murrah dan Kabilah Taghlib di bawah pimpinan Kulaib bin Rabi’ah. Perang itu terjadi karena Kulaib bin Rabi’ah at-Taghlibi membunuh unta betina milik al-Basus, tantenya Jassas bin Murrah. Kemarahan al-Basus dan Jassas atas tindakan Kulaib itu menyulut peperangan panjang antara kedua kabilah itu hingga 40 tahun lamanya. Syahdan, ketika perang masih berlangsung, kaum Bani Bakr alias Kabilah Bakr meminta tolong kepada al-Harits bin ‘Abbad, salah satu putra daerah kabilah Bakr, untuk turun ke medan perang demi kemenangan kabilah Bakr. Di mata kabilah Bakr, al-Harits ini merupakan jagoan perang dan sangat terlatih di medan perang sehingga mereka bersungguh-sungguh memintanya untuk turun ke medan juang. Akan tetapi, al-Harits bin ‘Abbad sama sekali tak mau ikut campur dalam peperangan itu, bahkan ia menjauh dan berlepas diri dari perang saudara yang menurutnya tidaklah bermanfaat. Saat itu al-Harits dengan tegas mengatakan:

لا ناقة لي فيها ولا جمل …

“Laa naaqata lii fiihaa wa laa jamala (tiada unta betina bagiku dalam perang ini dan tiada pula unta jantan.

yakni maksudnya, “Tak ada manfaat yang bisa kuambil dari perang ini dan aku tak mau ikut campur dalam kezaliman perang ini, aku tak punya urusan dengan perang ini, dan aku berlepas diri tanpa mau terlibat di dalamnya.”

Kurang lebih seperti itulah kisahnya. Sekarang, saya beralih ke cerita yang disandarkan kepada Ibn Ma’in sebagai berikut:

Seorang lelaki mencaci Yahya bin Ma’in tetapi Yahya bin Ma’in sama sekali tidak membalasnya. Kemudian orang-orang bertanya kepada Yahya bin Ma’in, “Kenapa kamu tak membalas caciannya?” Maka Yahya bin Ma’in menjawab, Kalau begitu, untuk apa aku mempelajari ilmu?”

Kisah mengenai Yahya bin Ma’in tersebut selalu disebarkan tanpa rujukan yang jelas –dan terkadang disandarkan ke kitab Hilyah al-Auliya, padahal tidak ada kisah itu di sana. Oleh karena itu, boleh saja jika kita katakan:

ليس لإبن معين ناقة فيها ولا جمل …

“Laisa li Ibn Ma’in naaqatun fiihaa wa laa jamalun (tiada unta betina bagi Ibn Ma’in dalam kisah ini dan tiada pula unta jantan.”

Ya, Yahya bin Ma’in sama sekali tak ada kaitannya dengan kisah tersebut …

Bandung, 22 Agustus 2018

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

Mabuk …

Untitled

Dulu, Khalifah ‘Umar bin al-Khathab –radhiyallahu ‘anhu– pernah mencambuk putranya sendiri yang bernama ‘Abd ar-Rahman bin ‘Umar lantaran mabuk. Saat itu ‘Umar berada di Madinah sedangkan ‘Abd ar-Rahman berada di Mesir. Gubernur Mesir, yakni ‘Amr bin al-‘Ash –radhiyallahu ‘anhu– telah mencambuk ‘Abd ar-Rahman atas perbuatannya itu, tetapi ‘Umar tetap memerintahkan ‘Amr bin al-‘Ash untuk mengirimkan ‘Abd ar-Rahman ke Madinah agar ‘Umar bisa menghukum putranya itu secara langsung. ‘Abdullah bin ‘Umar, saudara kandung ‘Abd ar-Rahman bin ‘Umar, menceritakan kisah yang dialami oleh saudara kandungnya itu sebagai berikut:

Imam ‘Abd ar-Razzaq berkata di kitab al-Mushannaf (tahqiq: Habib ar-Rahman al-A’zhami; juz 9 halaman 232-233 nomor hadits 17047):

 

أخبرنا معمر، عن الزهري، عن سالم، عن ابن عمر قال: شرب أخي عبد الرحمن بن عمر، وشرب معه أبو سروعة عقبة بن الحارث، وهما بمصر في خلافة عمر، فسكرا، فلما أصبحا انطلقا إلى عمرو بن العاص ـ وهو أمير مصر ـ فقالا: طَهِّرنا فإنا قد سكرنا من شراب شربناه، فقال عبد الله: فذكر لي أخي أنه سكر، فقلت: ادخلِ الدار أطهرك ـ ولم أشعر أنهما أتيا عَمروا ـ فأخبرني أخي أنه قد أخبر الأمير بذلك، فقال عبد الله: لا يحلق القوم على رؤوس الناس، ادخل الدار أحلقك ـ وكانوا إذ ذاك يحلقون مع الحدود ـ فدخل الدار، فقال عبد الله: فحلقت أخي بيدي، ثم جلدهم عمرو، فسمع بذلك عمر، فكتب إلى عمرو: أن ابعث إلي بعبد الرحمن على قَتَب؛ ففعل ذلك، فلما قدم على عمر جلده، وعاقبه لمكانه منه، ثم أرسله، فلبث شهرا صحيحا، ثم أصابه قدره فمات، فيحسب عامة الناس أنما مات من جلد عمر، ولم يمت من جلد عمر

 

Telah berkabar kepada kami Ma’mar, dari az-Zuhri, dari Salim, dari Ibn ‘Umar ia berkata:

Saudaraku, ‘Abd ar-Rahman bin ‘Umar, meminum minuman keras bersama Abu Sirwa’ah ‘Uqbah bin al-Harits. Pada waktu itu mereka berdua berada di negeri Mesir pada masa kekhalifahan ‘Umar. Keduanya minum sampai mabuk. Setelah sadar dari mabuk, mereka berdua menemui ‘Amr bin al-‘Ash yang saat itu menjabat sebagai gubernur Mesir. Keduanya berkata kepada ‘Amr bin al-‘Ash, “Sucikanlah kami berdua (yakni hukumlah kami berdua) karena sesungguhnya kami mabuk lantaran minuman yang kami minum.”  Saudaraku (yakni ‘Abd ar-Rahman) memberitahuku bahwa dirinya mabuk minuman keras, maka aku pun berkata kepadanya, “Masuklah kau ke dalam rumah! Aku akan menyucikanmu!” Saat itu aku belum tahu bahwa saudaraku (‘Abd ar-Rahman) dan Abu Sirwa’ah telah mendatangi ‘Amr bin al-‘Ash, lalu saudaraku memberitahuku bahwa dirinya telah melaporkan perbuatannya kepada ‘Amr bin al-‘Ash. (Maka aku berkata), “Mereka (orang yang bertugas menghukum) tak boleh mencukurmu di hadapan khalayak ramai! Masuklah kau ke dalam rumah! Aku sendiri yang akan mencukur rambutmu!” Biasanya mereka memang mencukur rambut orang yang mabuk selain memberikan hukuman cambuk. Saudaraku masuk ke dalam rumah. Aku pun mencukur rambutnya dengan kedua tanganku. Kemudian ‘Amr bin al-‘Ash menjatuhkan hukuman cambuk kepada mereka berdua. ‘Umar bin al-Khaththab mendengar kabar tersebut, lalu ia pun menulis surat kepada ‘Amr bin al-‘Ash, “Kirimkan kepadaku pasukan yang membawa ‘Abd ar-Rahman di dalam pelana angkutan.” Maka ‘Amr bin al-‘Ash pun menjalankan perintah tersebut. Sesampainya ‘Abd ar-Rahman, ‘Umar bin al-Khaththab pun menjatuhkan hukuman cambuk kepadanya. ‘Umar bin al-Khaththab juga menghukum putranya lantaran kedudukan putranya itu sebagai anak kandungnya. Setelah itu, ‘Umar membebaskannya. Sebulan semenjak hukuman, ‘Abd ar-Rahman hidup dalam keadaan sehat, kemudian ia mendapati takdirnya dan mati. Orang banyak menyangka bahwa ‘Abd ar-Rahman mati lantaran hukuman cambuk yang dijatuhkan ‘Umar, padahal bukanlah lantaran itu ia mati … -SELESAI …

 

Sanad riwayat tersebut sahih

Barangkali cambukan yang dilakukan oleh ‘Umar terhadap anaknya itu bukanlah hukuman had karena hukuman had terhadap putranya itu telah dilaksanakan oleh gubernur ‘Amr bin al-‘Ash. Tidak mungkin hukuman had yang telah dilakukan diulang kembali hingga dua kali. Terbukti bahwa ‘Umar tidak mencambuk lagi Abu Sirwa’ah. Oleh karena itu, bisa jadi cambukan yang dilakukan ‘Umar terhadap putranya itu merupakan hukuman dari ‘Umar sebagai seorang pemimpin sekaligus ayah terhadap anaknya … wallahu a’lamu …

 

Imam al-Baihaqi juga meriwayatkan kisah tersebut di kitab Sunan al-Kubra (tahqiq: Muhammad ‘Abd al-Qadir ‘Atha; juz 8 halaman 543 nomor hadits 17498):

 

أخبرنا أبو سعيد بن أبي عمرو أنبأ أبو محمد المزني أنبأ علي بن محمد بن عيسى ثنا أبو اليمان أخبرني شعيب عن الزهري أخبرني سالم أن عبد الله بن عمر قال شرب أخي عبد الرحمن بن عمر وشرب معه أبو سروعة عقبة بن الحارث ونحن بمصر في خلافة عمر بن الخطاب رضي الله عنه فسكرا فلما صحا انطلقا إلى عمرو بن العاص وهو أمير مصر فقالا طهرنا فأنا قد سكرنا من شراب شربناه قال عبد الله بن عمر فلم أشعر أنهما أتيا عمرو بن العاص قال فذكر لي أخي أنه قد سكر فقلت له ادخل الدار أطهرك قال إنه قد حدث الأمير قال عبد الله فقلت والله لا تحلق اليوم على رؤوس الناس أدخل أحلقك وكانوا ذاك يحلقون مع الحد فدخل معي الدار قال عبد الله فحلقت أخي بيدي ثم جلدهما عمرو بن العاص فسمع عمر بن الخطاب رضي الله عنه بذلك فكتب إلي عمرو أن أبعث إلى عبد الرحمن بن عمر على قتب ففعل ذلك عمرو فلما قدم عبد الرحمن على عمر رضي الله عنه جلده وعاقبه من أجل مكانه منه ثم أرسله فلبث أشهرا صحيحا ثم أصابه قدره فيحسب عامة الناس أنه مات من جلد عمر ولم يمت من جلده

 

Telah berkabar kepada kami Abu Sa’id bin Abi ‘Amr, telah berkabar kepada kami Abu Muhammad al-Muzani, telah berkabar kepada kami ‘Ali bin Muhammad bin ‘Isa, telah bercerita kepada kami Abu al-Yaman, telah berkabar kepadaku Syu’aib, dari az-Zuhri, telah berkabar kepadaku Salim bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar berkata:

Saudaraku, ‘Abd ar-Rahman meminum minuman keras bersama Abu Sirwa’ah ‘Uqbah bin al-Harits. Saat itu kami berada di Mesir pada masa kekhalifahan ‘Umar bin al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhu. ‘Abd ar-Rahman dan Abu Sirwa’ah mabuk minuman keras. Tatkala sadar, keduanya pergi menemui ‘Amr bin al-‘Ash yang menjabat sebagai gubernur Mesir. Keduanya berkata kepada ‘Amr bin al-‘Ash, “Sucikanlah kami. Sesungguhnya kami berdua mabuk lantaran minuman keras yang kami minum.” Aku tak tahu bahwa mereka berdua telah mendatangi ‘Amr bin al-‘Ash, lalu saudaraku (‘Abd ar-Rahman) memberitahuku bahwa ia mabuk minuman keras. Kukatakan kepadanya, “Masuklah kau ke dalam rumah! Aku akan menyucikanmu!” Saudaraku mengatakan kepadaku bahwa ia telah melaporkan perbuatannya kepada gubernur ‘Amr bin al-‘Ash. Kukatakan kepadanya, “Demi Allah, kau tak akan dicukur hari ini di hadapan khalayak ramai! Masuklah kau ke dalam rumah, aku akan mencukur sendiri rambutmu karena telah menjadi kebiasaan bahwa mereka akan mencukur rambut orang hukuman selain menghukum cambuk.” Maka ‘Abd ar-Rahman pun masuk ke dalam rumah bersamaku dan kucukurlah rambutku dengan kedua tanganku sendiri. Kemudian ‘Amr bin al-‘Ash menghukum cambuk mereka berdua. Peristiwa itu terdengar oleh ‘Umar bin al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhu, lalu ‘Umar pun menulis surat kepada ‘Amr bin al-‘Ash, “Kirimkan kepadaku pasukan yang membawa ‘Abd ar-Rahman di dalam pelana angkutan.” ‘Amr bin al-‘Ash pun melaksanakan perintah tersebut. Sesampainya ‘Abd ar-Rahman, ‘Umar bin al-Khaththab pun menjatuhkan hukuman cambuk kepadanya. ‘Umar bin al-Khaththab juga menghukum putranya lantaran kedudukan putranya itu sebagai anak kandungnya. Setelah itu, ‘Umar membebaskannya. Sebulan semenjak hukuman, ‘Abd ar-Rahman hidup dalam keadaan sehat, kemudian ia mendapati takdirnya dan mati. Orang banyak menyangka bahwa ‘Abd ar-Rahman mati lantaran hukuman cambuk yang dijatuhkan ‘Umar, padahal bukanlah lantaran itu ia mati … -SELESAI …

 

 

Bandung, 15 Juni 2016

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

 

Tentang Bumi yang Membuat Langit Terdiam …

Untitled-

Kemarin, pada hari Jumat, 27 Rajab 1437 Hijriyah (6 Mei 2016 M), saya menghadiri ceramah Jumat bersama salah seorang sahabat saya di sebuah masjid. Saat itu, khatib Jumat menceritakan sebuah kisah mengenai latar belakang atau alasan yang membuat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– di-mi’raj-kan (dinaikkan ke langit). Khatib bertutur bahwa pada awalnya langit dan bumi saling membanggakan diri satu sama lain, dan keduanya terus berdebat tentang kelebihan masing-masing hingga akhirnya bumi membuat langit terdiam dan mengadu kepada Allah –ta’ala– untuk membawa Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– ke langit. Saya menyimak kisah tersebut seraya bertanya-tanya dalam hati tentang keabsahan riwayat tersebut …

Seusai shalat Jumat, saya bertanya kepada sahabat saya, “Kau pernah mendengar kisah tadi? Atau mungkin kau tahu sumber kisah tersebut?”

Sahabat saya menjawab, “Aku baru mendengar kisah itu. Besar dugaanku, itu merupakan kisah-kisah tanpa sanad atau dongeng yang dibuat-buat.”

Siang itu, saat saya dan sahabat saya bekerja menebang pohon dan menyabit rumput, saya berkata kepada sahabat saya, “Insya Allah, nanti akan kucari sumber kisah itu. Aku ingin memastikan keabsahan riwayat itu dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Akhirnya, pada malam hari selepas isya, saya dapatkan juga kisah yang dituturkan oleh khatib itu di kitab Durrah an-Nashihin (halaman 123), karya ‘Utsman bin Hasan al-Khubawi sebagai berikut:

 

وأما سبب المعراج فهو أن الأرض افتخرت على السماء فقالت الأرض: أنا خير منك لأن الله تعالى زينني بالبلاد والبحار والانهار والأشجار والجبال وغيرها. فقالت السماء: انا خير منك لان الشمس والقمر والكواكب والأفلاك والبروج والعرش والكرسي والجنة في. وقالت الأرض: في بيت يزوره ويطوف به الأنبياء والمرسلون والأولياء والمؤمنون عامة. وقالت السماء: في البيت المعمور يطوف به ملائكة السموات وفي الجنة التي هي مأوى أرواح الأنبياء والمرسلين وأرواح الأولياء والصالحين. وقالت الأرض: إن سيد المرسلين وخاتم النبيين وحبيب رب العالمين وأفضل الموجودات عليه أكمل التحيات وطن في وأجرى شريعته علي. فلما سمعت السماء هذا عجزت وسكتت عن الجواب وتوجهت إلى الله تعالى فقالت: إلهي أنت تجيب المضطر إذا دعاك وأنا عجزت عن جواب الأرض فأسألك أن تصعد محمد  إلي فأتشرف به كما تشرفت الأرض بجماله وافتخرت به الأرض فأجاب دعوتها وأوحى الله إلى جبرائيل عليه الصلاة والسلام في الليلة السابعة والعشرين من رجب: لا تسبح هذه الليلة ويا عزرائيل لا تقبض الأرواح هذه الليلة. فقال جبرائيل عليه الصلاة والسلام: أجاءت القيامة؟ قال: لا يا جبريل٬ ولكن اذهب إلى الجنة وخذ البراق واذهب به إلى محمد واعرج به إلى السماء! فذهب جبرائيل ورأى أربعين ألف براق يرتعون في رياض الجنة وعلى جبهتهم اسم محمد ورأى فيهم براقا منكسا رأسه يبكى وتسيل من عينيه الدموع. فقال جبرائيل: ما لك يا براق؟ قال: يا جبرائيل إني سمعت منذ أربعين ألف سنة اسم محمد فوقع في قلبي محبة صاحب هذا الإسم وعشقته وبعد ذلك لم أحتج إلى طعام ولا شراب واحترقت بنار العشق. فقال جبرائيل: أنا أوصلك بمعشوقك٬ ثم أسرجه وألجمه وجاء به إلى النبي عليه الصلاة والسلام …

 

Adapun latar belakang di-mi’raj-kannya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– ke langit, yaitu lantaran bumi membangga-banggakan dirinya terhadap langit.

Bumi berkata kepada langit, “(Wahai langit), aku ini lebih baik daripada dirimu. (Hal itu) karena Allah -ta’ala- telah menghiasiku dengan keberadaan peradaban negeri-negeri, juga dengan keberadaan samudra-samudra, sungai-sungai, pepohonan, gunung-gunung, dan hal-hal lainnya.”

Langit pun berkata, “Akulah yang lebih baik darimu, wahai bumi! Lantaran matahari dan bulan, juga bintang kemintang, orbit-orbit benda langit, galaksi-galaksi, ‘arsy, kursi, dan surga ada pada diriku.”

Bumi berkata, “(Bahkan akulah yang lebih baik karena) di atas permukaanku ada rumah (Baitullah) yang senantiasa dikunjungi oleh para nabi dan para rasul, juga dikunjungi oleh para wali dan umumnya kaum Mukminin. Mereka semua juga bertawaf mengitari rumah tersebut.”

Langit berkata, “Pada diriku juga ada sebuah rumah, yaitu Bait al-Ma’mur. Para Malaikat langit senantiasa bertawaf mengitarinya. Pada diriku juga ada surga yang merupakan tempat persemayaman arwah para nabi dan arwah para rasul, juga arwah para wali dan orang-orang salih.”

Bumi berkata, “Sesungguhnya pemimpin para rasul, penutup para nabi, kekasih Rabb semesta dan sebaik-baik makhluk yang kepadanya ditujukan penghormatan yang sempurna hidup di atas permukaanku, sementara syariatnya pun berlaku di atas permukaanku.”

Mendengar ucapan bumi tersebut, tak berdayalah langit dan ia terdiam tanpa jawaban. Kemudian langit menghadap Allah –ta’ala– seraya berkata, “Wahai tuhanku, Engkau memberi pengabulan kepada orang yang mengalami kesulitan jika ia berdoa kepada-Mu, dan saat ini aku tak berdaya untuk menjawab kebanggaan diri bumi. Oleh karena itu, aku memohon kepada-Mu agar Engkau menaikkan Muhammad kepadaku sehingga aku memperoleh kemuliaan diri dengannya sebagaimana bumi mendapatkan kemuliaan diri dengannya dan bisa berbangga diri karenanya.”

Lalu Allah –ta’ala– memperkenankan permintaan langit itu. Allah –ta’ala– mewahyukan kepada Jibril –‘alaihi ash-shalah wa as-salam– pada malam ke-27 Rajab dengan ucapan, “Wahai Jibril, janganlah kau bertasbih kepada-Ku pada malam ini!”

Lalu Allah –ta’ala– berfirman pula lepada Izra-il, “Wahai Izra-il, janganlah kau mencabut nyawa pada malam ini!”

Jibril –‘alaihi ash-shalah wa as-salam– bertanya, “Apakah kiamat tiba pada malam ini?”

Allah –ta’ala– menjawab, “Tidak, wahai Jibril! Akan tetapi, pergilah kau ke surga dan bawalah Buraq dari sana, lalu pergilah kau dengan Buraq itu untuk mendatangi Muhammad dan membawanya naik ke langit!”

Maka Jibril pun pergi ke surga. Di sana, Jibril melihat empat puluh ribu ekor buraq yang sedang asyik merumput di taman surga. Pada masing-masing kening buraq-buraq itu tertulis nama Muhammad. Saat itu, Jibril melihat seekor buraq yang sedang menundukkan kepalanya sambil menangis. Air mata tampak bercucuran dari kedua mata buraq itu.

Jibril berkata kepada Buraq yang menangis itu, “Ada apa denganmu, wahai Buraq?” Buraq menjawab, “Wahai Jibril, semenjak empat puluh tahun yang lalu aku telah mendengar nama Muhammad, lalu timbullah dalam hatiku rasa cinta terhadap pemilik nama ini. Aku didera oleh perasaan rindu terhadapnya. Semenjak diterpa kerinduan itu, aku tak lagi berselera terhadap makanan dan minuman. Aku terbakar api kerinduan.”

Jibril berkata, “Aku akan menghubungkan rasa rindumu dengan dirinya.”

Lalu Jibril memasang pelana di punggung Buraq dan memasang pula tali kekang di kepalanya. Setelah itu, Jibril mendatangi Nabi –‘alaihi ash-shalah wa as-salam– bersama Buraq … -SELESAI …

 

*

**

 

Demikianlah kisah yang saya temukan di kitab Durrah an-Nashihin, dan itu sama persis dengan kisah yang dituturkan oleh khatib Jumat. Penulis kitab ini sama sekali tidak menyebutkan sanad bagi kisah tersebut dan tidak pula ia menyebutkan sumber pengambilan kisah tersebut. Sementara kitab Durrah an-Nashihin itu merupakan kitab yang tidak dapat dijadikan pegangan karena dipenuhi dengan hadits-hadits palsu dan hadits-hadits dha’if yang tak bisa dijadikan sandaran. Syaikh Ibn Baz –rahimahullah– berkata mengenai kitab Durrah an-Nashihin:

 

هذا الكتاب لا يعتمد عليه ، وهو يشتمل على أحاديث موضوعة وأحاديث ضعيفة لا يعتمد عليها … فلا ينبغي أن يعتمد على هذا الكتاب وما أشبهه من الكتب التي تجمع الغث والسمين والموضوع والضعيف … – فتاوى نور على الدرب (٥٦) …

 

Kitab Durrah an-Nashihin itu tidak bisa dijadikan pegangan, dan kitab ini berisi hadits-hadits palsu dan hadits-hadits dha’if yang tak bisa dijadikan sandaran … maka tak seharusnya untuk berpegang dengan kitab ini dan juga kitab-kitab yang semisal dengannya, yaitu kitab-kitab yang terhimpun di dalamnya hal-hal yang buruk dan baik, juga hadits-hadits palsu dan lemah …Fatawa Nur ‘ala ad-Darb (halaman 56); Syaikh Biz Baz –rahimahullah

 

Melihat keadaan kisah tersebut yang tanpa sanad dan tanpa sumber, juga dikarenakan kedudukan kitab Durrah an-Nashihin yang tidak layak untuk dijadikan pegangan karena banyak memuat kisah-kisah palsu, saya pun meyakini bahwa kisah yang dituturkan oleh khatib Jumat itu (yang mungkin saja ia mengambilnya dari kitab Durrah an-Nashihin) bukanlah kisah yang benar dan sama sekali tidak berasal dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam … wallahu a’lamu …

 

 

Bandung, 7 Mei 2016

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA—