Siapa yang Mencari-Cari Aib, Niscaya Ia Menemukannya …

abu nuwas

 asy-Syi’r wa asy-Syu’ara’ li Ibn Qutaibah;

tahqiq Syaikh Ahmad Muhammad Syakir (hal. 807)

وكان أﺑﻮ ﻧﻮاس وﻣﺴﻠﻢ اﺟﺘﻤﻌﺎ وﺗﻼﺣﻴﺎ، ﻓﻘﺎل ﻟﻪ ﻣﺴﻠﻢ ﺑﻦ اﻟﻮﻟﻴﺪ: ﻣﺎ ﺃﻋﻠﻢ ﻟﻚ ﺑﻴﺘﺎ ﻳﺴﻠﻢ ﻣﻦ ﺳﻘﻂ!

ﻓﻘﺎل ﻟﻪ ﺃﺑﻮ ﻧﻮاس: ﻫﺎت ﻣﻦ ذﻟﻚ ﺑﻴﺘﺎ واﺣﺪا، ﻓﻘﺎل ﻟﻪ ﻣﺴﻠﻢ: أﻧﺸﺪ أﻧﺖ أيّ ﺑﻴﺖ ﺷﻌﺮ ﺷﺌﺖ ﻣﻦ ﺷﻌﺮك، ﻓﺄﻧﺸﺪ أﺑﻮ ﻧﻮاس:

ذﻛﺮ اﻟﺼّﺒﻮح ﺑﺴﺤﺮة ﻓﺎرﺗﺎﺣﺎ … وأﻣﻠّﻪ دﻳﻚ اﻟﺼّﺒﺎح ﺻﻴﺎﺣﺎ

ﻓﻘﺎل ﻟﻪ ﻣﺴﻠﻢ: ﻗﻒ ﻋﻨﺪ ﻫﺬا اﻟﺒﻴﺖ، ﻟﻢ أﻣﻠّﻪ دﻳﻚ اﻟﺼﺒﺎح وﻫﻮ ﻳﺒﺸّﺮﻩ ﺑﺎﻟﺼﺒﻮح اﻟﺬي ارﺗﺎح ﻟﻪ؟

ﻗﺎل ﻟﻪ أﺑﻮ ﻧﻮاس: ﻓﺄﻧﺸﺪﻧﻰ أﻧﺖ ﻓﺄﻧﺸﺪﻩ ﻣﺴﻠﻢ:

ﻋﺎﺻﻰ اﻟﺸّﺒﺎب ﻓﺮاح ﻏﻴﺮ ﻣﻔﻨّﺪ … وأﻗﺎم ﺑﻴﻦ ﻋﺰﻳﻤﺔ وﺗﺠﻠّﺪ

ﻓﻘﺎل ﻟﻪ أﺑﻮ ﻧﻮاس: ﻧﺎﻗﻀﺖ، ذﻛﺮت أﻧﻪ راح، واﻟﺮواح ﻻ ﻳﻜﻮن إﻻ ﺑﺎﻧﺘﻘﺎل ﻣﻦ ﻣﻜﺎن إﻟﻰ ﻣﻜﺎن، ﺛﻢ ﻗﻠﺖ: وأﻗﺎم ﺑﻴﻦ ﻋﺰﻳﻤﺔ وﺗﺠﻠّﺪ، ﻓﺠﻌﻠﺘﻪ ﻣﺘﻨﻘﻼ ﻣﻘﻴﻤﺎ!

وﺗﺸﺎﻏﺒﺎ ﻓﻰ ذﻟﻚ ﺛﻢ اﻓﺘﺮﻗﺎ.

– ﻗﺎل أﺑﻮ ﻣﺤﻤّﺪ (ابن قتيبة):

“واﻟﺒﻴﺘﺎن ﺟﻤﻴﻌﺎ ﺻﺤﻴﺤﺎن ﻻ ﻋﻴﺐ ﻓﻴﻬﻤﺎ، ﻏﻴﺮ أن ﻣﻦ ﻃﻠﺐ ﻋﻴﺒﺎ وﺟﺪﻩ، أو أراد ﺇﻋﻨﺎﺗﺎ ﻗﺪر ﻋﻠﻴﻪ، إذا ﻛﺎن ﻣﺘﺤﺎﻣﻼ ﻣﺘﺤﻴّﻨﺎ، ﻏﻴﺮ ﻗﺎﺻﺪ ﻟﻠﺤﻖّ واﻹﻧﺼﺎفز.”

– قال المحقق الشيخ أحمد محمد شاكر رحمه الله:

“هذا خير ما يقال في النقد، نقد الكلام ونقد الناس. فما يعجز أحدا عن أن يجد عيبا في غيره أو في قول يريد عيبه. بل إن الرجل اللسن الخصم الجدل، يستطيع أن يقلب المحاسن عيوبا، بالمغالطة والتأول، وما هذا من شأن المنصف وﻻ من خلق المسلم الذي يخاف الله .

Dahulu Abu Nuwas dan Muslim bin al-Walid bertemu dan saling mencela satu sama lain, lalu Muslim bin al-Walid berkata kepada Abu Nuwas, “Aku tak melihat satu pun dari puisi-puisimu yang selamat dari kecacatan!” Maka Abu Nuwas berkata kepada Muslim bin al-Walid, “Halah! Coba kautunjukkan satu bait saja kecacatan yang terdapat dalam puisi-puisiku itu!” Muslim bin al-Walid berkata, “Baik! Coba kau deklamasikan kepadaku satu bait saja dari puisi-puisimu! Terserah, bait mana pun yang kau mau!” Maka Abu Nuwas pun mendeklamasikannya …

Dzakara ash-shabuuha bi suhratin fartaahaa; wa amallahu diiku ash-shabaahi shiyaahaa(Ia mengingat –saat untuk- hidangan pagi saat fajar terbuka sehingga gembiralah ia karenanya; dan ayam jantan menjemukannya lewat kokoknya) …

(Mendengar itu), Muslim bin al-Walid berkata kepada Abu Nuwas, “Sudah sudah! Berhentilah kau di bait itu! Bagaimana bisa di saat yang sama ayam jantan membuatnya jemu sementara ayam jantan itulah yang memberinya kabar gembira atas datangnya waktu bagi hidangan pagi yang membuatnya gembira? (Yakni, mungkinkah di saat yang sama ia gembira dan jemu? Ia gembira atas pikiran tentang hidangan pagi dan jemu akan kokok ayam jantan yang mengabarkan terbukanya pagi).” Maka Abu Nuwas berkata kepada Muslim bin al-Walid, “Aaaah! Coba sekarang kau deklamasikan kepadaku bait puisimu!” Maka Muslim bin al-Walid pun mendeklamasikan bait puisinya …

‘Aashaa asy-syabaaba faraaha ghaira mufannad; wa aqaama baina ‘aziimatin wa tajallud(Ia mendurhakai masa muda lalu beranjak di masa senja tanpa berlemah hati; dan ia berdiam diri di antara keteguhan dan kesabaran) …

(Mendengar itu), Abu Nuwas berkata kepada Muslim bin al-Walid, “Kau pun membuat bait yang kontradiktif! Kaubilang ia beranjak, dan beranjak itu tak terjadi kecuali berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Akan tetapi, kemudian kau bilang bahwa ia berdiam diri di antara keteguhan dan kesabaran. Dengan demikian, kau menjadikannya berpindah sekaligus bermukim!”

Selanjutnya keduanya pun terlibat dalam pertengkaran dan kegaduhan mengenai bait-bait puisi mereka berdua hingga akhirnya mereka berpisah …

Abu Muhammad (Ibn Qutaibah, penyusun kitab ini) berkata, “Sebetulnya kedua bait tersebut, yakni bait puisi milik Abu Nuwas dan bait puisi milik Muslim bin al-Walid, sama-sama bagus dan fasih tanpa kekeliruan dan cacat. Hanya saja, siapa yang mencari-cari aib, niscaya ia akan menemukannya. Atau siapa yang ingin memburukkan orang lain, niscaya ia mampu melakukannya jika ia memang mencari-cari kesempatan untuk menyusahkan.”

Syaikh Ahmad Muhammad Syakir –rahimahullah– (pentahqiq kitab ini) berkata mengomentari ucapan Ibn Qutaibah tersebut, “Ini merupakan ucapan yang bagus tentang kritik, baik itu kritik akan ucapan maupun kritik terhadap manusia. Tidaklah seseorang akan payah mendapati aib orang lain atau menemukan ucapan yang ia kehendaki aibnya. Bahkan, seorang seteru yang fasih lisannya lagi pandai berdebat akan mampu untuk menampilkan kebaikan sebagai aib dengan cara memutarbalikkan kata-kata dan memberikan penjelasan yang memalingkan pengertiannya. Dan tentu saja ini bukanlah perihal orang yang inshaf dan bukan pula merupakan akhlak muslim yang takut kepada Allah.”

 

Bandung 14 Agustus 2018

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

Bukan Lantaran Dirinya yang Berucap, tetapi Lantaran Kebenaran yang Diucapkannya …

IMG-20160608-01348

Imam Ibn ‘Abd al-Barr –rahimahullah– berkata di kitab at-Tamhid:

 

وسمعت غير واحد من شيوخي يذكر أن الغازي بن قيس لما رحل إلى المدينة سمع من مالك وقرأ على نافع القاري فبينما هو في أول دخوله المدينة في مسجد رسول الله صلى الله عليه وسلم إذ دخل ابن أبي ذئب فجلس ولم يركع فقال له الغازي قم يا هذا فاركع ركعتين؛ فإن جلوسك دون أن تحيي المسجد بركعتين جهل أو نحو هذا من جفاء القول فقام ابن أبي ذئب فركع ركعتين وجلس فلما انقضت الصلاة أسند ظهره وتحلق الناس إليه فلما رأى ذلك الغازي بن قيس خجل واستحيا وندم وسأل عنه فقيل له هذا ابن أبي ذئب أحد فقهاء المدينة وأشرافهم فقام يعتذر إليه فقال له ابن أبي ذئب يا أخي لا عليك أمرتنا بخير فأطعناك وبالله التوفيق

 

Aku mendengar bukan hanya dari satu orang guruku saja yang menyebutkan bahwa tatkala al-Ghazi bin Qais berangkat ke Madinah, ia mendengar hadits dari Malik dan membaca di hadapan Nafi’ al-Qari. Pada awal-awal kedatangannya di Madinah, saat ia berada di Masjid Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datanglah Ibn Abi Dzi’b memasuki masjid. Ibn Abi Dzi’b langsung duduk di dalam masjid tanpa melaksanakan shalat dua rakaat (tahiyyah al-masjid) terlebih dahulu. Maka berkatalah al-Ghazi bin Qais kepada Ibn Abi Dzi’b, “Berdirilah, wahai kamu! Shalatlah dua rakaat terlebih dahulu karena sesungguhnya dudukmu di dalam masjid tanpa terlebih dulu menghormati masjid dengan melaksanakan dua rakaat shalat merupakan suatu kebodohan!” Atau al-Ghazi bin Qais mengucapkan perkataan keras lainnya yang semacam itu. Maka berdirilah Ibn Abi Dzi’b, lalu melaksanakan shalat dua rakaat. Selepas shalat, Ibn Abi Dzi’b pun duduk seraya menyandarkan punggungnya (ke dinding), lalu orang-orang pada duduk mengelilinginya (membentuk majelis halqah atau halaqah untuk belajar kepadanya). Melihat hal itu, al-Ghazi bin Qais pun malu hati dan menyesali sikapnya tadi. Ia lantas bertanya (kepada orang-orang) tentang lelaki yang tadi ditegurnya. Maka orang-orang menjawab, “Dia adalah Ibn Abi Dzi’b, salah seorang ahli fiqh Madinah dan yang paling mulia di antara mereka.” (Mendengar itu), al-Ghazi bin Qais pun berdiri dan meminta maaf kepada Ibn Abi Dzi’b. Lantas Ibn Abi Dzi’b berkata kepada al-Ghazi bin Qais, “Wahai saudaraku, tak ada kewajibanmu untuk meminta maaf kepadaku. Kau memerintahkan kami terhadap kebaikan maka kami pun menaatimu!” Wabillah at-taufiq … –SELESAI …

 

Al-Ghazi bin Qais adalah Abu Muhammad al-Andalusi. Ia mengambil ilmu dari Ibn Juraij, Ibn Abi Dzi’b, Imam Malik, dan Nafi’ bin Abi Nu’aim. Dialah orang pertama yang menyebarkan Muwatha’ Malik ke negeri Andalusia …

 

Ibn Abi Dzi’b adalah Muhammad bin ‘Abd ar-Rahman bin al-Mughirah, seorang Imam yang faqih dan dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal bahwa Ibn Abi Dzi’b itu lebih utama daripada Imam Malik –rahimahullah

 

Dalam kisah itu tergambar jiwa tawadhu’, inshaf, dan kelapangan dada Ibn Abi Dzi’b. Ia bersedia menerima kebenaran -dan mengamalkannya- meskipun kebenaran itu datang dari orang yang tak dikenalnya, bahkan orang yang tak dikenalnya itu kemudian menjadi muridnya dan mengambil ilmu darinya …

 

Syaikh ‘Ali bin Hasan al-Halabi –hafizhahullah– berkata tentang kisah tersebut:

 

إنها النفوس العالية، التي تجعل الحقَّ فوق كل شيء … فـ…أين-أين-هي-اليومَ-؟! … وما أبرّئ نفسي-والله-.

 

Sesungguhnya itu adalah jiwa-jiwa yang luhur, jiwa-jiwa yang menjadikan kebenaran di atas segala sesuatu … maka di manakah -ke manakah- jiwa-jiwa yang luhur itu pada hari ini?!? Dan tidaklah aku menganggap suci jiwaku sendiri … -demi Allah … -SELESAI …  

 

Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i –rahimahullah– berkata (kitab: Ijabah as-Sa-il ‘ala Ahamm al-Masa-il, halaman 207-208):

 

يجب عليك أن تقبل الحق ممن أتى به٬ وهو حق٬ يجب أن تقبل الحق ممن أتى به٬ والنبي -صلى الله عليه وسلم- قد قال في شأن الشيطان: صدقك وهو كذوب. وقال أيضاً كما في سنن النسائي بإسناد صحيح عن قتيلة –رضي الله عنها-قالت: جاء اليهود إلى رسول الله -صلى الله عليه وسلم- فقالوا: إنكم  تشركون إنكم تنددون وتقولون ما شاء الله وشاء محمد٬ وتقولون: والكعبة٬ فقال النبي -صلى الله عليه وسلم: إذا حلفتم فقولوا ورب الكعبة وقولوا ما شاء ثم شاء محمد. وهكذا من حديث الطفيل بن عمرو في مسند أحمد وفي سنن ابن ماجة نحو هذا٬ فالنصيحة والحق يقبل ممن جاء به …

 

Wajib atasmu untuk menerima kebenaran dari orang yang datang dengan membawa kebenaran itu. Wajib untuk menerima kebenaran dari orang yang datang membawa kebenaran itu. Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sendiri berkata tentang perkara setan (dalam kisah Abu Hurairah yang menjaga zakat fithri –pent), “Ia (setan) berkata jujur kepadamu padahal ia seorang pendusta.” Beliau juga berkata sebagaimana terdapat dalam Sunan an-Nasa-i dengan sanad yang sahih dari Qutailah –radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Orang Yahudi mendatangi rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– lalu berkata, “Sesungguhnya kalian membuat tandingan-tandingan (bagi Allah), sesungguhnya kalian berlaku syirik karena kalian mengatakan atas kehendak Allah dan atas kehendak Muhammad.Kalian juga mengatakan demi Ka’bah.” Maka Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata (kepada para shahabat), “Jika kalian bersumpah, hendaklah kalian mengatakan Demi Rabb al-Ka’bah, dan hendaklah kalian juga mengatakan atas kehendak Allah kemudian atas kehendak Muhammad!” Demikian juga dalam hadits Thufail bin ‘Amr dalam Musnad Ahmad dan dalam Sunan Ibn Majah seperti itu. Maka nasihat dan kebenaran itu harus diterima dari orang yang datang dengan membawanya … –SELESAI …  

 

Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i –rahimahullah– juga berkata (kitab: Qam’u al-Mu’anid, halaman 30):

 

فأقول لك: تأخذ الحق ممن جاء به، وعند من وجدتموه … فالحق يؤخذ ممن جاء به، وعلماؤنا المتقدمون يأخذون الحق ممن جاء به، بل يرحل اليمني إلى المصري، والمكي إلى البغدادي، والنيسابوري إلى اليمني، يرحلون ويستفيد بعضهم من بعض، ليسوا كعلماء العصر إلا من رحم الله، فقد أصبح العلم حكومياً …

 

Maka aku katakan kepadamu, kau ambillah (terimalah) kebenaran dari orang yang datang dengan membawa kebenaran itu. Terimalah kebenaran itu dari orang yang kalian dapati kebenaran itu bersamanya … maka kebenaran itu harus diterima dari orang yang datang dengan membawanya. Bahkan para ulama kita yang terdahulu pun menerima kebenaran dari orang yang membawanya. Sampai-sampai orang Yaman bersengaja menemui orang Mesir, orang Mekah mendatangi orang Bagdad, orang Naisabur menjumpai orang Yaman. Mereka berangkat dan saling mengambil faidah satu sama lain … -SELESAI …

 

Imam Ibn al-Qayyim –rahimahullah– berkata di kitab I’lam al-Muwaqqi’in (2/194; tahqiq Syaikh Masyhur bin Hasan Salman –hafizhahullah):

 

فعلى المسلم أن يتبع هدى النبي -صلى الله عليه وسلم- في قبول الحق ممن جاء به من ولي وعدو وحبيب وبغيض وبر وفاجر ويرد الباطل على من قاله كائناً من كان  …

 

Maka wajib bagi setiap Muslim untuk mengikuti petunjuk Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dalam hal menerima kebenaran dari orang yang membawanya, baik itu dari teman sendiri maupun dari musuh, baik dari orang yang disukai maupun dari orang yang dibenci, baik dari orang yang baik maupun dari orang yang fajir. Juga wajib menolak kebatilan dari orang yang mengatakannya siapa pun orangnya … -SELESAI …

 

Imam Ibn al-Qayyim –rahimahullah– juga berkata di kitab Madarij as-Salikin pada bagian Manzilah at-Tawadhu’ (juz 3 halaman 2264, Dar ash-Shami’i; tahqiq: Nashir bin Sulaiman as-Sa’awi dkk):

 

وأن لا ترد على عدوك حقا أي لا تصح لك درجة التواضع حتى تقبل الحق ممن تحب وممن تبغض فتقبله من عدوك كما تقبله من وليك … بل حقيقة التواضع أنه إذا جاءك قبلته منه …

 

Dan agar tidak menolak kebenaran dari musuhmu, yakni tidak sahih pada dirimu derajat tawadhu’ sampai kau menerima kebenaran dari orang yang kaucintai dan dari orang yang kaubenci. Maka kau harus menerima kebenaran dari musuhmu sebagaimana kau menerima kebenaran dari kawanmu …  bahkan hakikat tawadhu’ itu adalah jika seseorang datang kepadamu dengan membawa kebenaran, maka kau pun menerima darinya  … -SELESAI …

 

 

Bandung, 12 Juli 2016

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Hampai Sayap dan kecemburuan Hudhud …

HUDHUD

Kau berkata tentang hampai sayap si pencari air,

tentang kepak perjalanan jauhnya dan kabar yang dibawanya …

Katamu, Hudhud punya alasan atas keterlambatannya …

-dia cemburu melihat penduduk semenanjung itu mengabahkan wajah kepada mentari …

 

*

**

 

Di antara perkara menakjubkan yang dikabarkan Allah dalam al-Quran adalah kenyataan tentang adanya makhluk yang tak dibebani taklif (beban syariat) tetapi memiliki kecemburuan yang sangat besar terhadap agama Allah –‘Azza wa Jalla. Makhluk yang dimaksud adalah burung hudhud di masa pemerintahan dan kenabian Sulaiman –‘alaihi as-salam. Hudhud begitu cemburu melihat penyimpangan tauhid kaum Saba’, dan ia pun mengutarakan kecemburuannya terhadap tauhid dan pengingkarannya terhadap perilaku kaum Saba’ itu  kepada Nabi Sulaiman –‘alaihi as-salam

 

Allah –ta’ala– berfirman (QS. an-Naml: 20-26):

 

وَتَفَقَّدَ الطَّيْرَ فَقَالَ مَا لِيَ لا أَرَى الْهُدْهُدَ أَمْ كَانَ مِنَ الْغَائِبِينَ (٢۰) لَأُعَذِّبَنَّه ُ عَذَاباً شَدِيداً أَوْ لَأَذْبَحَنَّهُ أَوْ لَيَأْتِيَنِّي بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ (٢١) فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطْتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَأٍ بِنَبَأٍ يَقِينٍ (٢٢) إِنِّي وَجَدْتُ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ (٢٣) وَجَدْتُهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُونَ لِلشَّمْسِ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لا يَهْتَدُونَ (٢٤) أَلَّا يَسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي يُخْرِجُ الْخَبْءَ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُخْفُونَ وَمَا تُعْلِنُونَ(٢٥( اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (٢٦)

 

Dan dia (Sulaiman) memeriksa burung-burung lalu berkata, “Mengapa aku tidak melihat Hudhud, apakah dia termasuk yang tidak hadir? Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang.” Maka tidak lama kemudian (datanglah Hudhud), lalu ia berkata, “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba’ suatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk agar mereka tidak menyembah Allah yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Allah, tiada yang berhak untuk disembah kecuali Dia, Rabb yang mempunyai ‘Arsy yang besar.”

 

Ayat-ayat tersebut menjelaskan beberapa faidah kepada kita:

  • Bahwa Hudhud mengetahui tentang tauhidullah (keesaan Allah), yaitu hanya Allah sajalah satu-satu-Nya yang berhak untuk diibadahi
  • Hudhud mengetahui bahwa menyembah sesuatu selain Allah adalah perbuatan syirik
  • Hudhud –yang tak dibebani taklif- lebih mengetahui tentang tauhid dan syirik dibandingkan sebagian manusia yang dibebani taklif
  • Hudhud memiliki kecemburuan dan gairah yang tinggi terhadap tauhidullah dan mengingkari perbuatan syirik
  • Hudhud memahami pengertian laa ilaaha illallaah, yaitu tiada yang berhak untuk diibadahi selain Allah

 

 

قال الشيخ عبد الرحمن بن حسن آل الشيخ -رحمه الله- في الدرر السنية (٢/٢٧٧): فحدث الهدهدُ سليمان -عليه السلام بما رآهم يفعلونه من السجود لغير الله؛ والسجود نوع من أنواع العبادة؛ فليت أكثر الناس عرفوا من الشرك ما عرف الهدهد؛ فأنكروه وعرفوا الإخلاص فالتزموه …

 

Syaikh ‘Abd ar-Rahman bin Hasan Alu asy-Syaikh –rahimahullah– di kitab ad-Durar as-Saniyyah (2/277), “Maka Hudhud pun berbicara kepada Sulaiman –‘alaihi as-salam- mengenai hal yang dilihatnya dari perbuatan-perbuatan kaum Saba’ yang bersujud kepada selain Allah, dan (Hudhud mengetahui bahwa) sujud itu merupakan salah satu bentuk dari bentuk-bentuk ibadah. Aduhai kalaulah kiranya kebanyakan manusia itu mengetahui kesyirikan seperti yang diketahui oleh Hudhud lalu mereka mengingkari perbuatan syirik itu. Aduhai, kalaulah kiranya mereka mengetahui akan keikhlasan lalu melazimi jalan tempuh tauhid (keikhlasan).”

 

Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dalam suatu hadits telah melarang manusia untuk membunuh burung Hudhud. Mungkin saja, wallahu a’lamu, di antara alasan dan hikmah dari pelarangan tersebut adalah karena burung Hudhud itu termasuk makhluk yang sangat mengenal tauhid. Imam Ibn Katsir berkata di kitab tafsirnya:

 

ولما كان الهدهد داعيا إلى الخير، وعبادة الله وحده والسجود له، نهي عن قتله

 

“Dan kenyataan bahwa burung Hudhud itu merupakan penyeru kepada kebaikan dan kepada peribadahan terhadap Allah satu-satu-Nya serta untuk bersujud hanya kepada Allah saja, maka dilaranglah manusia untuk membunuh burung Hudhud.”

 

Tauhid adalah inti dakwah para nabi dan rasul. Tidaklah Allah mengutus para nabi dan rasul serta menurunkan kitab-kitab-Nya selain untuk menegakkan tauhid di muka bumi, yakni agar manusia beribadah kepada Allah semata karena tiada yang berhak untuk diibadahi selain Allah …

 

 

Bandung, 26 Mei 2016

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–