Tetapi Selepas Salam Pertama …

salam makmum

Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Abd al-Hamid al-Halabihafizhahullah– ditanya:
http://kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=58059

إذا سلَّم الإمام متى نُتابعه: هل نتابعه بعد التسليمتَين، أم بعد التسليمة الأولى فقط؟

Apabila imam mengucapkan salam (dalam shalat), kapan kita mengikuti salamnya? Apakah kita mengikutinya setelah ucapan salamnya yang kedua ataukah setelah ucapan salamnya yang pertama?

Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Abd al-Hamid al-Halabihafizhahullah– menjawab sebagai berikut:

الصَّواب: أننا نُتابعُه الأوَّل فالأول؛ فإذا سلَّم الأُولى نُسلم الأولى، فإذا سلَّم الثانيةَ نُسلِّم الثانية؛ لأن الاتِّفاق بين الفقهاء أن التسليمة الأُولى حُكمُها يختلف عن حُكم التسليمة الثانية، وأن التسليمة الثانية بعض الفقهاء يقول: سُنَّة، والنبي -عليهِ الصلاةُ والسلامُ- سَلَّمَ تسليمةً واحدة فقط – يقصد الشيخ علي الحلبي أحياناً لأن ثمة أربعة صيغ للتسليم ذكرها الشيخ هناك وهذه أحدها.
فتخيَّل لو أنك تريد أن تنتظر التسليمتَين، والإمام لا يريد أن يسلِّم إلا تسليمة واحدة، فماذا تفعل؟ وماذا تصنع؟
ستبقى تنتظر التسليمة التي لن تأتي! لكن إذا سلَّم الأولى فتسلِّمها، فإذا جاءت الثانية سلَّمتَها، فإذا لم تأتِ؛ فإنك تكون قد أنهيتَ صلاتَك

Yang benar, kita mengikutinya setelah salam pertamanya; apabila imam mengucapkan salam yang pertama, maka kita pun (mengikuti dengan) salam kita yang pertama. Ketika imam mengucapkan salam yang kedua, kita pun (mengikuti dengan) salam kita yang kedua; karena kesepakatan di antara para fuqaha’ bahwa hukum salam yang pertama itu berbeda dengan hukum salam yang kedua. Sebagian fuqaha’ mengatakan bahwa ucapan salam yang kedua itu sunnah. Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun mengucapkan satu kali salam saja (maksud Syaikh ‘Ali al-Halabi: Nabi –shalallallahu ‘alaihi wa sallamTERKADANG hanya mengucapkan satu kali salam saja, karena Syaikh sendiri telah menyebutkan empat macam cara salam, dan yang satu kali salam itu merupakan salah satu di antaranya).
Maka bayangkan olehmu kalau seandainya kau menanti-nanti salam kedua (dari imam), sementara imam tak bermaksud mengucapkan salam kecuali salam yang pertama saja, maka apa yang akan kaulakukan? Apa yang akan kauperbuat? Kau akan menanti ucapan salam yang takkan pernah datang. Maka apabila imam mengucapkan salam yang pertama, kau (ikutilah) salam itu (dengan salammu), lalu jika datang salamnya yang kedua, kau ikuti pula salamnya yang kedua itu. Apabila (kau telah mengikuti salamnya yang pertama) lalu ternyata salamnya yang kedua tak juga datang, maka kau telah menyelesaikan shalatmu …


Bandung, 15 April 2014

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

Tentang Salam dan Tahiyah al-Masjid …

salam

مائة فتوى للشيخ مشهور بن حسن آل سلمان -حفظه الله

السئال (٦٩): أيهما أفضل عند دخول المسجد: السلا على من في المسجد أم الانشغال بالصلاة أولاً؟

 

Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman –hafizhahullah– ditanya:

Mana yang lebih utama ketika memasuki masjid, mengucapkan salam kepada orang yang ada di masjid ataukah mendahulukan shalat (tahiyah al-masjid)?

 

الجواب : بلا شك أن الأفضل عند دخول المسجد أن ينشغل الإنسان أولاً بتحية المسجد ثم بعد أن يصلي تحية المسجد يلقي السلام على من فيه.

وقد استنبط ابن القيم ذلك من حديث المسيء صلاته، فإنه ذهب فصلى ثم رجع إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وقال له : السلام عليكم ، فقال ابن القيم : فيحسن بالمصلي أن يبدأ أولاً بتحية المسجد ثم بعد ذلك يقبل على الناس بالسلام.

لكن إن واجهك أخاك فابدأه بالسلام لكن لا تتقصد أن تبدأ الناس بالسلام قبل تحية المسجد، فإنه الأقرب للسنة ، والله أعلم.

 

Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman –hafizhahullah– menjawab:

Tidak ragu lagi bahwa yang lebih utama ketika memasuki masjid adalah dengan mendahulukan shalat tahiyah al-masjid. Setelah selesai shalat tahiyah al-masjid, barulah mengucapkan salam kepada orang yang ada di dalam masjid.

Imam Ibn al-Qayyim ber-istinbath demikian berdasarkan hadits “orang yang buruk shalatnya”, orang tersebut shalat (dulu) kemudian mendatangi Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dan berkata kepada beliau, “Assalamu ‘alaikum.”

Ibn al-Qayyim berkata, “Maka sebaiknya bagi seseorang untuk memulai dengan shalat tahiyah al-masjid, kemudian setelah itu menghampiri orang-orang (di masjid) sambil berucap salam.”

Akan tetapi jika kau berhadapan muka dengan saudaramu (saat masuk masjid), maka awalilah dengan salam (kepadanya). Hal itu bukan berarti kau bermaksud mendahulukan salam kepada orang-orang (di masjid) sebelum tahiyah al-masjid, namun karena hal itu lebih dekat kepada Sunnah, wallahu a’lamu

 

*

**

 

Catatan dari saya:

[1] hadits “orang yang buruk shalatnya” yang dimaksud oleh Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman adalah hadits berikut:

 

عن أبي هريرة رضي الله عنه: أن رجلاً دخل المسجد، ورسول الله صلى الله عليه وسلم جالس في ناحية المسجد، فصلى ثم جاء فسلم عليه، فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم: (وعليك السلام، ارجع فصل فإنك لم تصل). فرجع فصلى ثم جاء فسلم، فقال: (وعليك السلام، فارجع فصل، فإنك لم تصل). فقال في الثانية، أو في التي بعدها: علمني يا رسول الله، فقال: (إذا قمت إلى الصلاة فأسبغ الوضوء، ثم استقبل القبلة فكبر، ثم اقرأ بما تيسر معك من القرآن، ثم اركع حتى تطمئن راكعاً، ثم ارفع حتى تستوي قائماً، ثم اسجد حتى تطمئن ساجداً، ثم ارفع حتى تطمئن جالساً، ثم اسجد حتى تطمئن ساجداً، ثم ارفع حتى تطمئن جالساً، ثم افعل ذلك في صلاتك كلها).

 

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu– bahwasanya seorang laki-laki memasuki masjid, sementara Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sedang duduk di sudut masjid. Laki-laki itu mengerjakan shalat, lalu (setelah shalat) dia mendatangi Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sambil mengucapkan salam. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata kepadanya, “Wa ‘alaika as- salam. Kembalilah dan ulangi shalatmu karena kamu belum mengerjakan shalat!” Laki-laki itu pun kembali dan mengulangi shalatnya. Setelah shalat, dia datang lagi sambil mengucapkan salam. Beliau bersabda, “Wa ‘alaika as-salam. Kembalilah dan ulangi shalatmu karena kamu belum mengerjakan shalat!” Laki-laki itu berkata pada kali yang kedua atau yang setelahnya, “Beri tahu aku shalat (yang benar), wahai Rasulullah!” Beliau pun bersabda, “Jika kamu hendak mengerjakan shalat, maka sempurnakanlah wudu, lalu menghadaplah ke arah Kiblat, kemudian bertakbirlah. Setelah itu bacalah apa yang mudah bagimu dari al-Quran, kemudian rukuklah hingga kamu tukmaninah. Setelah itu bangkitlah hingga kamu berdiri tegak, lalu sujud hingga kamu tukmaninah. Setelah itu angkatlah kepalamu dari sujud hingga kamu duduk dengan tukmaninah, kemudian sujud hingga kamu tukmaninah dalam sujudmu, lalu angkat kepalamu dari sujud hingga kamu duduk dengan tukmaninah. Lakukanlah semua itu pada semua shalatmu!” (HR. al-Bukhari)

[2] seseorang berkata, “Cukup sering saya melihat orang yang menyepelekan shalat tahiyah al-masjid. Mereka memasuki masjid dan langsung duduk di depan suatu pengajaran (majelis ilmu) tanpa terlebih dulu melakukan shalat tahiyah al-masjid. Tak jarang pula saya melihat orang yang langsung duduk untuk berbincang dengan rekannya yang sudah berada di dalam masjid -atau langsung beristirahat di masjid (duduk/berbaring) tanpa melakukan shalat tahiyah al-masjid.”

 

قال الشيخ مشهور بن حسن آل سلمان: … ومن علامات الساعة ألا تعظم المساجد، فقد أخبر النبي صلى الله عليه وسلم أن من علامات الساعة أن تجعل المساجد طرقات، يدخل من باب ويخرج من آخر توفيراً للمسافات، ومن علامات الساعة أيضاً أن يجلس في المساجد دون صلاة الركعتين …

 

Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman –hafizhahullah– berkata, … dan di antara tanda-tanda kiamat adalah tidak diagungkannya (hak) masjid. Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah mengabarkan bahwa di antara tanda-tanda kiamat adalah menjadikan masjid sebagai jalan perlaluan, orang memasuki masjid dari satu pintu dan keluar dari pintu yang lain untuk menghemat jarak. Dan di antara tanda-tanda kiamat lainnya adalah duduk di masjid tanpa shalat dua rakaat terlebih dahulu ….”

 

Bandung, 24 Maret 2013

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–