Ar-Ruba’i; Empat Shahabat dalam Satu Sanad …

ruba'i

Hadits Pertama:

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ أَخْبَرَنِي السَّائِبُ بْنُ يَزِيدَ ابْنُ أُخْتِ نَمِرٍ أَنَّ حُوَيْطِبَ بْنَ عَبْدِ الْعُزَّى أَخْبَرَهُ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ السَّعْدِيِّ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ قَدِمَ عَلَى عُمَرَ فِي خِلَافَتِهِ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ أَلَمْ أُحَدَّثْ أَنَّكَ تَلِيَ مِنْ أَعْمَالِ النَّاسِ أَعْمَالًا فَإِذَا أُعْطِيتَ الْعُمَالَةَ كَرِهْتَهَا فَقُلْتُ بَلَى فَقَالَ عُمَرُ فَمَا تُرِيدُ إِلَى ذَلِكَ قُلْتُ إِنَّ لِي أَفْرَاسًا وَأَعْبُدًا وَأَنَا بِخَيْرٍ وَأُرِيدُ أَنْ تَكُونَ عُمَالَتِي صَدَقَةً عَلَى الْمُسْلِمِينَ قَالَ عُمَرُ لَا تَفْعَلْ فَإِنِّي كُنْتُ أَرَدْتُ الَّذِي أَرَدْتَ فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْطِينِي الْعَطَاءَ فَأَقُولُ أَعْطِهِ أَفْقَرَ إِلَيْهِ مِنِّي حَتَّى أَعْطَانِي مَرَّةً مَالًا فَقُلْتُ أَعْطِهِ أَفْقَرَ إِلَيْهِ مِنِّي فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُذْهُ فَتَمَوَّلْهُ وَتَصَدَّقْ بِهِ فَمَا جَاءَكَ مِنْ هَذَا الْمَالِ وَأَنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ وَلَا سَائِلٍ فَخُذْهُ وَإِلَّا فَلَا تُتْبِعْهُ نَفْسَكَ

Imam al-Bukhari –rahimahullah– berkata:

Telah bercerita kepada kami Abu al-Yaman, telah berkabar kepada kami Syu’aib, dari az-Zuhri, telah berkabar kepadaku as-Sa-ib bin Yazid, anak saudara perempuan Namir, bahwa Huwaithib bin ‘Abd al-‘Uzza telah mengabarkan kepadanya bahwa ‘Abdullah bin as-Sa’di telah mengabarkan kepadanya bahwasanya dia mendatangi ‘Umar (bin al-Khaththab) pada masa kekhalifahannya, lalu ‘Umar berkata kepadanya, “Benarkah hal yang diberitakan kepadaku bahwa kau menangani urusan-urusan manusia tetapi ketika diberi imbalan untuk itu kau pun menolak untuk menerimanya?” Aku (‘Abdullah bin as-Sa’di) menjawab, “Benar.” ‘Umar berkata, “Apa maksudmu dengan hal itu” Aku menjawab, “Sesungguhnya aku mempunyai beberapa kuda dan beberapa budak. Aku juga berada dalam kehidupan yang baik sehingga aku memaksudkan agar upahku itu menjadi sedekah bagi kaum Muslimin.” ‘Umar berkata, “Jangan kau berbuat seperti itu. Sesungguhnya aku juga dulu memiliki maksud yang sama dengan maksudmu itu. Dulu Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- memberiku suatu pemberian, lalu kukatakan agar pemberian itu diberikan saja kepada orang yang lebih membutuhkannya daripadaku. Hingga suatu waktu, beliau memberiku bagian harta, lalu kukatakan lagi kepada beliau agar memberikannya kepada orang yang lebih membutuhkannya daripadaku. Akan tetapi, kemudian Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkata kepadaku, ‘Terimalah dan kembangkanlah itu, lalu kau bersedekah dengannya! Harta mana pun yang datang kepadamu sementara kau tak menginginkan dan tak memintanya, maka terimalah! Sebaliknya, jika harta itu tak datang kepadamu, maka janganlah kau mengikuti hawa nafsumu untuk memilikinya!’” -SELESAI …

Ada empat orang shahabat dalam sanad hadits tersebut, yaitu: (1) as-Sa’ib bin Yazid, (2) Huwaithib bin ‘Abd al-‘Uzza, (3) ‘Abdullah bin as-Sa’di, dan (4) ‘Umar bin al-Khaththab

Ibn Hajar al-‘Asqalani berkata di kitab Fath al-Bari:

والسائب فمن فوقه صحابة؛ ففيه أربعة من الصحابة في نسق

“Dan as-Sa-ib serta orang-orang di atasnya adalah shahabat, maka di dalam susunan sanad tersebut ada empat orang shahabat.” –SELESAI …

Hadits Kedua:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْمُعَلَّى الدِّمَشْقِيُّ، ثنا سُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، ثنا مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ الأَزْدِيُّ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ حَرْبٍ، عَنْ بَحِيرِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ، عَنْ كَثِيرِ بْنِ مُرَّةَ، عَنْ نُعَيْمِ بْنِ هَمَّارٍ، عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدي كَرِبَ، عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الأَنْصَارِيِّ، عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْهَاجِرَةِ وَهُوَ مَرْعُوبٌ ، فَقَالَ :أَطِيعُونِي مَا كُنْتُ بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ، وَعَلَيْكُمْ بِآيَاتِ اللَّهِ، أَحِلُّوا حَلالَهُ وَحَرِّمُوا حَرَامَهُ

Imam ath-Thabarani –rahimahullah– berkata dalam al-Kabir:

Telah bercerita kepada kami Ahmad bin al-Mu’alla ad-Dimasyqi, telah bercerita kepada kami Sulaiman bin ‘Abd ar-Rahman, telah bercerita kepada kami Mu’awiyah bin Shalih al-Azdi, telah bercerita kepada kami Muhammad bin Harb, dari Bahir bin Sa’d, dari Khalid bin Ma’dan, dari Katsir bin Murrah, dari Nu’aim bin Himyar, dari al-Miqdam bin Ma’di Karib, dari Abu Ayyub al-Anshari, dari ‘Auf bin Malik, dia berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– keluar menemui kami di tengah hari yang panas dengan wajah yang cemas, lalu berkata, “Taatilah aku selama aku masih berada di antara kalian, dan wajib bagi kalian untuk berpegang dengan kitab Allah. Halalkanlah apa yang dihalalkannya dan haramkanlah apa yang diharamkannya.” –SELESAI …

Ada empat orang shahabat dalam sanad hadits tersebut, yaitu: (1) Nu’aim bin Himyar, (2) al-Miqdam bin Ma’di Karib, (3) Abu Ayyub al-Anshari, dan (4) ‘Auf bin Malik

Syaikh al-Albani berkata di kitab Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah (3/459):

ومن لطائف إسناده أنه من رواية أربعة من الصحابة بعضهم عن بعض … رواه الطبراني في الكبير ورواته ثقات

“Di antara kehalusan sanadnya, bahwasanya hadits ini dari riwayat empat orang shahabat yang saling meriwayatkan satu sama lain … diriwayatkan oleh ath-Thabarani di dalam al-Kabir, dan para perawinya tepercaya.” –SELESAI …

Hadits Ketiga:

 حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمَخْزُومِيُّ وَأَبُو بَكْرِ بْنُ نَافِعٍ وَغَيْرُ وَاحِدٍ قَالُوا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ حَبِيبَةَ عَنْ أُمِّ حَبِيبَةَ عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ قَالَتْ اسْتَيْقَظَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ نَوْمٍ مُحْمَرًّا وَجْهُهُ وَهُوَ يَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يُرَدِّدُهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدْ اقْتَرَبَ فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مِثْلُ هَذِهِ وَعَقَدَ عَشْرًا قَالَتْ زَيْنَبُ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ قَالَ نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخُبْثُ

Imam at-Tirmidzi –rahimahullah– berkata di kitab Sunan:

Telah bercerita kepada kami Sa’id bin ‘Abd ar-Rahman al-Makhzumi, Abu Bakr bin Nafi’, dan lain-lain, mereka sama berkata: telah bercerita kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah, dari az-Zuhri, dari ‘Urwah bin az-Zubair, dari Zainab binti Abi Salamah, dari Habibah (binti ‘Ubaidillah bin Jahsy), dari Ummu Habibah (binti Abi Sufyan), dari Zainab binti Jahsy, dia berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– terjaga dari tidurnya dengan wajah yang memerah seraya berkata, “Laa ilaaha illallaahu,” tiga kali diucapkan, “Celakalah orang-orang Arab lantaran keburukan semakin dekat! Hari ini dinding Ya’juj dan Ma’juj telah terbuka seperti ini,” dan beliau membuat lingkaran dengan jari telunjuk dan ibu jarinya. Zainab binti Jahsy berkata, “Aku pun bertanya, ‘Wahai Rasulullah, akankah kita celaka sementara di antara kita ada orang-orang shalih?’” Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menjawab, “Ya, jika keburukan semakin banyak.” –SELESAI …

Imam Muslim mengeluarkan pula hadits ini di dalam Shahih-nya, kitab al-Fitan wa Asy-rath as-Sa’ah, bab Iqtirab al-Fitan wa Fath Radm Ya’juj wa Ma’juj (2880), dari riwayat ash-hab Sufyan bin ‘Uyainah, dari Sufyan bin ‘Uyainah dengan sanad seperti ini. Imam Muslim berkata:

حدّثنا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَ سَعِيدُ بْنُ عَمْرٍو الأَشْعَثِيّ وَ زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَ ابْنُ أَبِي عُمَرَ. قَالُوا: حَدّثَنَا سُفْيَانُ عَنِ الزّهْرِيّ بِهَذَا الإِسْنَادِ. وَزَادُوا فِي الإِسْنَادِ عَنْ سُفْيَانَ، فَقَالُوا: عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ أُمّ سَلَمَةَ، عَنْ حَبِيبَةَ، عَنْ أُمّ حَبِيبَةَ، عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ

Telah bercerita kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah, Sa’id bin ‘Amr al-‘Asy’atsi, Zuhair bin Harb, dan Ibn Abi ‘Umar, mereka sama berkata: telah bercerita kepada kami Sufyan dari az-Zuhri dengan sanad ini, tetapi mereka menambahkan dalam sanadnya dari Sufyan dengan mengatakan: dari Zainab binti Ummu Salamah, dari Habibah, dari Ummu Habibah, dari Zainab binti Jahsy … –SELESAI …

Ada empat orang shahabat dalam sanad hadits tersebut, yaitu: (1) Zainab binti Abi Salamah, (2) Habibah (binti ‘Ubaidillah bin Jahsy), (3) Ummu Habibah (binti Abi Sufyan), dan (4) Zainab binti Jahsy

Dari keempat shahabat itu, dua orang di antaranya merupakan istri-istri Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Ummu Habibah (binti Abi Sufyan) dan Zainab binti Jahsy, sedangkan dua orang lainnya merupakan putri-putri tiri beliaushallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Zainab binti Abi Salamah dan Habibah (binti ‘Ubaidillah bin Jahsy) …

Imam an-Nawawi –rahimahullah– berkata dalam Syarah-nya terhadap Shahih Muslim:

هذا الإسناد اجتمع فيه أربع صحابيات: زوجتان لرسول الله صلى الله عليه وسلم وربيبتان له بعضهن عن بعض

“Pada sanad ini terkumpul empat orang shahabat perempuan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu dua orang istri Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan dua orang putri tiri beliau. Mereka meriwayatkan satu sama lain.” –SELESAI …

Syaikh Abu Muhammad ‘Abd al-Ghani bin Sa’id –rahimahullah– berkata di kitab ar-Ruba’i fi al-Hadits:

اجتمع في هذا الحديث زوجتان من أزواج النبي صلى الله عليه وسلم وهما: أم حبيبة، وزينب بنت جحش وربيبتان من ربائب النبي صلى الله عليه وسلم ، وهما: زينب بنت أم سلمة هي بنت أبي سلمة عبدالله بن عبدالأسد المخزومي، والأخرى حبيبة بنت أم حبيبة وهي بنت عُبَيْدِالله جحش

“Dalam hadits ini terkumpul dua orang istri Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Ummu Habibah dan Zainab binti Jahsy, dan dua orang putri tiri Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Zainab binti Ummu Salamah, yaitu putri dari Abu Salamah ‘Abdullah bin ‘Abd al-Asad al-Makhzumi dan yang lain adalah Habibah binti Ummu Habibah, yaitu putri dari ‘Ubaidillah bin Jahsy.” –SELESAI …

Referensi:

(1) ar-Ruba’i fi al-Hadits karya Abu Muhammad ‘Abd al-Ghani bin Sa’id; tahqiq: Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi al-Atsari …

(2) Fath al-Bari, karya Ibn Hajar al-‘Asqalani …

(3) Mu’jam al-Kabir karya ath-Thabarani …

(4) Shahih Muslim

(5) Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah karya Syaikh al-Albani …

(6) Sunan at-Tirmidzi

(7) Syarh Shahih Muslim karya Imam an-Nawawi …

(8) Tuhfah al-Ahwadzi karya al-Mubarakfuri …

 

Bandung, 16 September 2015

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Advertisements

Kata Mereka tentang Kedalaman Pengetahuan Ibuku –radhiyallahu ‘anha …

ilmu 'aisyah

Syaikh ‘Alawi bin ‘Abd al-Qadir as-Saqqaf –hafizhahullah

Kitab: ‘Aisyah, Umm al-Mu’minin (hal: 177-182) …

)تبوأت أمُّ المؤمنين عائشة رضي الله عنها مكانةً علميةً رفيعةً، جعلتها عالِمة من علماء عصرها، والمرجع العلمي الأصيل الَّذي يرجعون إليه فيما يغمض عليهم، أو يستشكل أمامهم من مسائل في القرآن والحديث والفقه، فيجدون الجواب الشافي لجميع تساؤلاتهم واستفساراتهم (١)

فكان الأكابر من الصحابة إذا أشكل عليهم الأمر في الدين استفتوها، فيجدون علمه عندها، وقد تتابعت النقولات عن كثير من الصحابة والعلماء في بيان مالها من مكانه علمية، منهم:

١- أبو موسى الأشعري )٢) )ت: ٥۰ ه(::

قال رضي الله عنه: (ما أشكل علينا -أصحاب رسول الله صلَّ الله عليه وسلم- حديثٌ قطُّ، فسألنا عائشة إلّا وجدنا عندها منه علمً) (٣).

٢- قَبِيصة بن ذُؤَيب (٤) (ت: ٨٦ ه):

قال رحمه الله: كانت عائشة أعلم الناس، يسألها أكابر الصحابة (٥).

٣- عروة بن الزبير (٦) (ت: ٩٣ ه):

قال رحمه الله: (ما رأيت أحدًا أعلم بكتاب الله ولا بسنةٍ عن رسول الله صلَّ الله عليه وسلم، ولا بشِعرٍ، ولا فريضةٍ من عائشة رضي الله عنها (٧). وفي رواية قال: (لقد صَحِبتُ عائشة رحمها الله حتى قُلْتُ قبل وفاتها بأربع سنين أو خمسٍ: لو تُوفيت اليوم ما ندمت على شيءٍ فاتني منها، فما رأيت أحدًا قطُّ كان أعلم بآيةٍ أُنزلت، ولا بفريضةٍ، ولا بسُنَّةٍ، ولا أعلم بشِعْرٍ، ولا أروى له، ولا بيومٍ من أيام العرب، ولا بنَسبٍ، ولا بكذا ولا بكذا، ولا بقضاءٍ، ولا بطبٍّ منها. فقلت لها: يا أُمَّه، الطِّبُّ من أين علمتيه؟ فقالتْ: كنتُ أَمْرض فيُنعت لي الشيء، ويمرض المريض فيُنعت له، فينتفع، فأسمعُ الناسَ بعضهم لبعضٍ فأحفظه. قال عروة: فلقد ذهب عني عامة علمها لم أُسأل عنه) (٨)

٤- محمود بن لَبيد (٩) )ت: ٩٧ ه(:

قال رضي الله عنه: كان أزواج النَّبي صلَّ الله عليه وسلم يحفظنَ من حديث النَّبي صلَّ الله عليه وسلم كثيرًا، ولا مثلً لعائشة وأُمِّ سلمة، وكانت عائشة تُفتي في عهد عمر وعثمان إلى أن ماتت، يرحمها الله، وكان الأكابر من أصحاب رسول الله صلَّ الله عليه وسلم عمر وعثمان بعده يرسلان إليها فيسألانها عن السُّنن (١۰).

٥- الشَّعبي ) ١١) )ت: ١۰٣ ه):

كان رحمه الله يَذْكرها، فيتعجب من فقهها وعلمها، ثمَّ يقول: (ما ظنُّكم بأدب النبوة؟! (١٢)

٦- أبو سلمة بن عبد الرحمن (١٣) )ت: ١۰٤ ه):

قال رحمه الله: (ما رأيت أحدًا أعلم بسُنن رسول الله صلَّ الله عليه وسلم، ولا أفقه في رأيٍ، إن احتيج إلى رأيه، ولا أعلم بآيةٍ فيما نزلت، ولا فريضةٍ، من عائشة( (١٤)

٧- الزهري (١٥) (ت: ١٢٥ ه):

قال رحمه الله: لو جُمع علم عائشة إلى علم جميع النساء، لكان علم عائشة أفضل). وفي رواية: (لو جُمع علم نساء هذه الأُمَّة فيهنَّ أزواج النَّبي صلَّ الله عليه وسلم كان علم عائشة أكثر من علمهنَّ( (١٦)

٨- ابن عبد البر (١٧) (ت: ٤٦٣ ه):

قال رحمه الله: (أنَّها كانت وحيدة عصرها في ثلاثة علوم: علم الفقه، وعلم الطبِّ، وعلم الشِّعر( (١٨)

۹- الذَّهبي (١۹) (ت: ٧٤٨ ه):

قال رحمه الله: (لا أعلم في أُمَّة محمد صلَّ الله عليه وسلم، بل ولا في النساء مطلقًا، امرأة أعلم منها( (٢۰)

١۰- ابن كثير (٢١) (ت: ٧٧٤ ه):

قال ابن كثير رحمه الله: (ولا يُعرف في سائر النساء في هذه الأُمَّة، بل ولا في غيرها، أعلم منها، ولا أفهم( (٢٢) وقال أيضًا: وقد تفرَّدت أُمُّ المؤمنين عائشة بمسائل عن الصحابة لم توجد إلا عندها، وانفردت باختيارات أيضًا، ورَدَّت أخبارًا بخلافها بنوع من التأويل( (٢٣)

Umm al-Mu’minin ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha– menempati kedudukan ilmiyah yang luhur, dan itu menjadikannya salah seorang ‘alim di jajaran ulama pada masanya, juga menjadikannya sebagai sebagai rujukan ilmiyah yang kukuh akarnya bagi orang-orang yang menemui kesamaran dalam suatu masalah atau perkara-perkara yang dirasakan musykil berkaitan dengan al-Quran, hadits, maupun fiqh, lalu mereka pun mendapati jawaban yang jelas dan pasti dalam keseluruhan persoalan-persoalan dan penjelasan yang mereka minta (1)

Para tokoh shahabat pun, jika mereka menemukan kemusykilan dalam perkara agama, maka mereka pun meminta fatwa kepada ‘Aisyah, lalu mereka pun mendapati pengetahuan tersebut dari ‘Aisyah. Berikut kutipan-kutipan secara berturut-turut dari ucapan-ucapan para shahabat dan para ulama dalam menjelaskan kedudukan ilmiyah yang ditempati ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha:

(Pertama): Abu Musa al-Asy’ari (2); wafat tahun 50 Hijriyah:

Beliau –radhiyallahu ‘anhu– berkata, “Tidaklah suatu ketidakjelasan menghinggapi kami (yakni para shahabat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam) mengenai suatu hadits, lalu kami tanyakan kepada ‘Aisyah melainkan kami dapati di sisinya mengenai hal itu pengetahuan.” (3)

(Kedua): Qabishah bin Dzu-aib (4); wafat tahun 86 Hijriyah:

Beliau –rahimahullah– berkata, “’Aisyah itu orang yang paling berilmu. Para tokoh shahabat pun bertanya kepadanya.” (5)

(Ketiga): ‘Urwah bin az-Zubair (6); wafat tahun 93 Hijriyah:

Beliau –rahimahullah– berkata, “Aku tak mengetahui seseorang yang lebih berpengetahuan dari ‘Aisyah–radhiyallahu ‘anha- terhadap kitab Allah, tidak juga seseorang yang lebih berpengetahuan darinya terhadap Sunnah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak juga seseorang yang lebih berpengetahuan darinya terhadap syair dan ilmu waris.” (7) Dalam riwayat lain, beliau mengatakan: Aku telah membersamai ‘Aisyah –rahimahallah– sampai-sampai kukatakan dari empat atau lima tahun sebelum kematiannya, “Jika ‘Aisyah wafat pada hari ini, tidaklah aku menyesali (akan adanya) ilmu yang aku terluput darinya. Aku benar-benar tak mengetahui ada seseorang yang lebih mengetahui dari ‘Aisyah mengenai ayat yang diturunkan, tidak juga seseorang yang lebih mengetahui tentang ilmu waris, tidak juga seseorang yang lebih mengetahui tentang Sunnah, tidak juga syair, tidak juga yang lebih banyak meriwayatkan, tidak juga seseorang yang lebih berpengetahuan darinya mengenai hari-hari kaum Arab, tidak juga mengenai nasab, mengenai ini dan itu, mengenai peradilan, juga pengobatan.” Lantas aku berkata kepada ‘Aisyah, “Wahai ibu, dari mana kau belajar pengobatan?” ‘Aisyah menjawab, “Dulu aku sakit, lalu tercirikanlah kepadaku gejalanya, dan ketika orang sakit jatuh sakit, tercirikan pula kepadanya gejalanya sehingga bisa mengambil faidah, lalu aku juga mendengar orang-orang saling menceritakan mengenai sakit dan ciri-cirinya lalu kuhafalkan itu.” ‘Urwah juga berkata, “Telah hilang dariku kebanyakan dari ilmunya yang aku tak ditanya mengenai hal tersebut.” (8)

(Keempat): Mahmud bin Labid (9); wafat tahun 97 Hijriyah:

Beliau –radhiyallahu ‘anhu– berkata, “Para istri Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pada menghafal banyak hadits Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi tiada yang semisal dengan ‘Aisyah dan Umm Salamah. Dulu ‘Aisyah memberikan fatwa pada masa pemerintahan ‘Umar dan ‘Utsman hingga meninggal dunia, dan para tokoh shahabat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Umar dan juga ‘Utsman setelahnya, mengutus seseorang kepada ‘Aisyah lalu menayakan kepadanya mengenai sunnah-sunnah.” (10)

(Kelima): Imam asy-Sya’bi (11), wafat tahun 103 Hijriyah:

Asy-Sya’bi –rahimahullah– menyebutkan ‘Aisyah, maka dia merasa kagum dengan kepahaman dan pengetahuan ‘Aisyah. Kemudian asy-Sya’bi berkata, “Bagaimana anggapanmu mengenai pendidikan nubuwwah?” (12)

(Keenam): Abu Salamah bin ‘Abd ar-Rahman (13); wafat tahun 104 Hijriyah:

Beliau –rahimahullah– berkata, “Aku tak mengetahui seseorang yang lebih mengetahui dari ‘Aisyah mengenai sunnah-sunnah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak juga yang lebih faqih darinya dalam pendapat jika memang dibutuhkan, tidak juga seseorang yang lebih mengetahui darinya mengenai ayat dalam hal diturunkannya, begitu juga mengenai ilmu waris.” (14)

(Ketujuh): az-Zuhri (15); wafat tahun 125 Hijriyah:

Beliau –rahimahullah– berkata, “Seandainya ilmu ‘Aisyah dikumpulkan (lalu dibandingkan) dengan ilmu semua perempuan, niscaya ilmu ‘Aisyah lebih utama.” Dan dalam riwayat lain, “Seandainya dikumpulkan ilmu semua perempuan dari umat ini -termasuk juga ilmu para istri Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam, niscaya ilmu ‘Aisyah lebih banyak dari ilmu mereka semua.” (16)

(Kedelapan): Ibn ‘Abd al-Barr (17); wafat tahun 463 Hijriyah:

Beliau –rahimahullah– berkata, “Bahwasanya ‘Aisyah itu dalam tiga bidang ilmu tiada bandingan pada zamannya, yaitu ilmu fiqh, ilmu pengobatan, dan pengetahuan tentang syair.” (18)

(Kesembilan): adz-Dzahabi (19); wafat tahun 748 Hijriyah:

Beliau –rahimahullah– berkata, “Aku tak mengetahui di tubuh ummat Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- ada perempuan yang lebih berilmu dari ‘Aiysah, bahkan tidak pula di kalangan perempuan secara mutlak (yakni pada umat mana pun –pent).” (20)

(Kesepuluh): Ibn Katsir (21); wafat tahun 774 Hijriyah:

Ibn Katsir –rahimahullah– berkata, “Tak diketahui di kalangan semua perempuan umat ini, juga di kalangan umat lain, yang lebih berpengetahuan dari ‘Aisyah. Tidak juga yang lebih cerdas darinya.” (22) Beliau juga mengatakan, “Umm al-Mu’minin ’Aisyah bersendirian dari shahabat lainnya dalam banyak perkara yang tak bisa ditemukan ilmunya selain di sisinya, juga memiliki pendapat-pendapat sendiri dan membantah kabar-kabar yang menyelisihinya dari jenis penakwilan.” (23)

 

*

**

 

وقد تتلمذ على عائشة رضي الله عنها عدد كبير من الصحابة والتابعين، وكانوا يأتونها من أماكن متفرقة؛ كالعراق، والشام، وأنحاء الجزيرة. وممَّن أخذ عنها القاسم وعبد الله ابنا محمد بن أبي بكر الصِّدِّيق وهما ابنا أخيها، وعبد الله وعروة ابنا الزبير بن العوام وهما ابنا أختها أسماء، وعَبَّاد بن حمزة بن عبد الله بن الزبير، ومن الصحابة عمرو بن العاص، وأبو موسى الأشعري، وزيد بن خالد الجهني، وأبو هريرة، وعبد الله بن عمر، وعبد الله بن عباس، وربيعة بن عمرو الجُرَشي، والسائب ابن يزيد، والحارث بن عبد الله بن نوفل، وغيرهم.

ومن أكابر التابعين سعيد بن المسيب، وعبد الله بن عامر بن ربيعة، وعلقمة ابن قيس، وعمرو بن ميمون، ومُطرِّف بن عبد الله بن الشِّخِّير، ومسروق بن الأجدع، وعطاء بن أبي رباح، وغيرهم كثير.

وأخذ عنها أيضًا عدد كبير من النساء؛ منهنَّ: بنت أخيها أسماء بنت عبد الرحمن بن أبي بكر الصِّدِّيق، وبُهّيَّة مولاة أبي بكر الصِّدِّيق، وبنت أخيها حفصة بنت عبد الرحمن بن أبي بكر الصِّدِّيق، وخَيْرة أُمُّ الحسن البصري، وزينب بنت أبي سلمة ربيبة النَّبي صلَّ الله عليه وسلم، وصفية بنت أبي عبيد امرأة عبد الله بن عمر، وعائشة بنت طلحة بن عبيد الله، وعَمْرة بنت عبد الرحمن، وقَمِير امرأة مسروق ابن الأجدع، ومُسَيْكة المكيَّة أُمُّ يوسف بن ماهك، ومُعاذة العدوية، وغيرهنَّ.

Sejumlah tokoh shahabat dan tabi’in juga berguru kepada ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha. Mereka datang kepada ‘Aisyah dari berbagai tempat yang berbeda seperti Irak, Syam, dan dari selulur Jazirah. Di antara yang mengambil riwayat darinya adalah al-Qasim dan ‘Abdullah, yang keduanya merupakan putra dari Muhammad bin Abi Bakr ash-Shiddiq, saudaranya, ‘Abdullah dan ‘Urwah yang keduanya merupakan putra dari az-Zubair bin al-‘Awwam bersama Asma’, saudari ‘Aisyah, dan ‘Abbad bin Hamzah bin ‘Abdillah bin az-Zubair. Sementara dari kalangan shahabat adalah ‘Umr bin al-‘Ash, Abu Musa al-Asy’ari, Zaid bin Khalid al-Juhani, Abu Hurairah, ‘Abdullah bin ‘Umar, ‘Abdullah bin ‘Abbas, Rabi’ah bin ‘Amr al-Jurasyi, as-Sa-ib bin Yazid, al-Harits bin ‘Abdillah bin Naufal, dan lain-lain …

Dari kalangan tokoh tabi’in adalah Sa’id bin al-Musayyab, ‘Abdullah bin ‘Amir bin Rabi’ah, ‘Alqamah bin Qais, ‘Amr bin Maimun, Mutharrif bin ‘Abdillah bin asy-Syakhkhir, Masruq bin al-Ajda’, ‘Atha’ bin Abi Rabah, dan banyak lagi selain mereka …

Sejumlah perempuan pun mengambil ilmu dari ‘Aisyah, di antara mereka adalah putri dari saudara ‘Aisyah, yaitu Asma’ bintu ‘Abd ar-Rahman bin Abi Bakr ash-Shiddiq, Buhayyah maulah Abu Bakr ash-Shiddiq, putra saudaranya, yaitu Hafshah bintu ‘Abd ar-Rahman bin Abi Bakr ash-Shiddiq, Khairah ibunya al-Hasan al-Bashri, Zainab bintu Abi Salamah putri tiri Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam, Shafiyyah bintu Abi ‘Ubaid istri ‘Abdullah bin ‘Umar, ‘Aisyah bintu Thalhah bin ‘Ubaidillah, ‘Amrah bintu ‘Abd ar-Rahman, Qumair istri Masruq bin al-Ajda’, Musaikah al-Makkiyyah ibunya Yusuf bin Mahak, Mu’adzah al-‘Adawiyyah, dan banyak lain-lain …

Catatan Kaki:

 

(١) السيدة عائشة وتوثيقها للسنة لجيهان رفعت فوزي (ص: ٤۰)

(٢) هو عبد الله بن قيس بن سليم، أبو موسى الأشعري رضي الله عنه، الصحابي الجليل، ولَّاه رسول الله صلى الله عليه وسلم على بعض اليمن، وولَّاه عمر البصرة، وكان أحد الحكمين بصفين، وكان من أحسن الناس صوتًا بالقرآن. توفي سنة ٥۰ ه وقيل بعدها … -انظر: الاستيعاب لابن عبد البر (١/٣۰۰)، والإصابة لابن حجر (٤/٢١١) …

(٣) رواه الترمذي (٣٨٨٣) وقال: حسن صحيح، وقال الذهبي في سير أعلام النبلاء (٢/١٧٩) حسن غريب، وصححه الألباني في صحيح سنن الترمذي

(٤) هو قبيصة بن ذؤيب بن حلحلة، أبو سعيد الخزاعي المدني، الإمام الكبير، الفقيه، ولد سنة ٨ ه، وقيل ١ ه، كان ثقة، مأمونًا، كثير الحديث، له رؤية، وكان على الختم والبريد للخليفة عبد الملك، توفي سنة ٨٦ ه، وقيل بعدها … -انظر: سير أعلام النبلاء للذهبي (٤/٢٨٢)٬ وتهذيب التهذيب لابن حجر (٤/٥٣٧)

(٥)الطبقات الكبرى لابن سعد (٢/٣٧٤)

(٦) هو عروة بن الزبير بن العوام، أبو عبد الله القرشي الأسدي، أحد الفقهاء السبعة بالمدينة، ولد سنة ٢٣ ه، وقيل بعدها، كان عالمً كثير الحديث ثبتًا مأمونًا، لم يدخل في شيء من الفتن، توفي سنة ٩٣ ه، وقيل بعدها. انظر: سير أعلام النبلاء للذهبي (٤/٤٢١)٬ تهذيب التهذيب لابن حجر (٤/١١٧)

(٧) رواه ابن أبي شيبة (٨/٥١٧)

(٨) رواه بنحوه أحمد (٦/٦٧( (٢٤٤٢٥)٬ والطبراني (٢٣/١٨٢)٬ والحاكم (٤/٢١٨)٬ وأبو نُعيم في حلية الأولياء (٢/٥۰)٬ قال الحاكم: صحيح الإسناد ولم يخرجاه، وانظر: سير أعلام النبلاء للذهبي (٢/١٨٣)

(٩) هو محمود بن لبيد بن رافع، أبو نعيم الأنصاري، أدرك رسول الله صلى الله عليه وسلم، وله رؤية، أحد العلماء، توفي سنة ٩٦ ه وقيل ٩٧ ه … -انظر: الاستيعاب لابن عبد البر (١/٤٣۰)٬والإصابة لابن حجر (٦/٤٢)

(١۰) رواه ابن سعد في الطبقات الكبرى (٢/٣٧٥(

(١١) هو عامر بن شراحيل بن عبد، أبو عمرو الكوفي، علامة التابعين، ولد سنة ١٧ ه، وقيل بعدها، كان إمامًا حافظًا فقيهًا متفننًا ثبتًا متقنًا، شهد وقعة الجماجم مع ابن الأشعث، ثم نجا من سيف الحجَّاج وعفا عنه، وولي قضاء الكوفة، توفي سنة ١۰٣ ه، وقيل غيرها … -انظر: سير أعلام النبلاء للذهبي (٤/٢٩٤)٬ وتهذيب التهذيب لابن حجر (٥/٥٧)

(١٢) سير أعلام النبلاء للذهبي (٢/١٩٧)

(١٣) هو أبو سلمة بن عبد الرحمن بن عوف، الزهري، قيل اسمه عبد الله، وقيل إسماعيل، وقيل اسمه كنيته، كان طلابة للعلم فقيهًا مجتهدًا كثير الحديث، توفي سنة ۹٤ ه، وقيل ١۰٤ ه … -انظر: سير أعلام النبلاء للذهبي (٥/٨٨)٬ وتهذيب التهذيب لابن حجر (٦/٣٦۹)

(١٤) رواه ابن سعد في الطبقات الكبرى (٢/٣٧٥)

(١٥) هو محمد بن مسلم بن عبيد الله ابن شهاب، أبو بكر الزهري، الإمام العلم، حافظ زمانه، ولد سنة ٥۰ ه، وقيل بعدها، كان من أعلم الحفاظ الذين تدور عليهم غالب الأحاديث الصحاح، وكان من أسخى الناس، توفي سنة ١٢٥ ه، وقيل قبلها … -انظر: سير أعلام النبلاء للذهبي (٥/٣٢٦)٬ وتهذيب التهذيب لابن حجر (٥/٢٨٤)

(١٦) رواه الخلال في السنة (٧٥٣)٬ والطبراني في المعجم الكبير (٢۹۹)٬ والحاكم (٤/١٢) رقم (٦٧٣٤)

(١٧) هو يوسف بن عبد الله بن محمد، أبو عمر القرطبي المالكي، شيخ الإسلام حافظ المغرب، ولد سنة ٣٦٨ ه، طلب الحديث وافتنَّ به وبرع، كان ديِّنًا صيِّنًا ثقة حجة، علَّامة، متبحرًا، صاحب سنَّة واتِّباع، ولي قضاء لشبونة، من مصنفاته التمهيد، توفي سنة ٤٦٣ه … -انظر: سير أعلام النبلاء للذهبي (١٨/١٥٣)٬ وشذرات الذهب لابن العماد (٣/٣١٣)

(١٨) الإجابة للزركشي (ص: ٣٤)

(١۹) هو محمد بن أحمد بن عثمان، أبو عبد الله الذهبي، شمس الدين، الإمام الحافظ، ولد سنة ٦٧٣ ه، مؤرخ الإسلام، ومحدث العصر، وشيخ الجرح والتعديل، من مصنفاته: سير أعلام النبلاء، وميزان الاعتدال، توفي سنة ٧٤٧ ه … -انظر: طبقات الشافعية للسبكي (۹/١۰۰)٬ وشذرات الذهب لابن العماد (٦/١٥٣)

(٢۰) سير أعلام النبلاء للذهبي (٢/١٤۰)

(٢١) هو إسماعيل بن عمر بن كثير، أبو الفداء الدمشقي الشافعي، الإمام العالم الحافظ، ولد سنة ٧۰١ ه، برع في الفقه والتفسير، وأمعن النظر في الرجال والعلل، من أشهر مصنفاته)البداية والنهاية(، و)التفسير(، توفي سنة ٧٧٤ ه … –انظر: إنباء الغمر لابن حجر (١/٣۹)٬ وذيل تذكرة الحفاظ لأبي المحاسن (ص: ٣٨)

(٢٢) البداية والنهاية لابن كثير (٢/٤٣١(

(٢٣) البداية والنهاية لابن كثير (١١/٣٣۹(

(1) kitab as-Sayyidah ‘Aisyah wa Tautsiquha li as-Sunnah karya Jihan Rif’at Fauzi (halaman: 40) …

(2) Dia adalah ‘Abdullah bin Qais bin Sulaim, Abu Musa al-Asy’ari –radhiyallahu ‘anhu, seorang shahabat yang mulia, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- menugasinya ke beberapa kabilah Yaman, dan ‘Umar –pada masa kepemimpinannya- menugasinya untuk mengurus Bashrah, dan dia merupakan slah satu dari dua hakim dalam peristiwa Shiffin. Dia juga termasuk orang yang bersuara paling bagus dalam membaca al-Quran. Wafat pada tahun 50 Hijriyah, tapi ada yang mengatakan setelah tahun itu … -lihat al-Isti’ab karya Ibn ‘Abd al-Barr (1/300) dan al-Ishabah karya Ibn Hajar (4/211) …

(3) Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (3883), dan dia mengatakan, “Hasan Shahih.” Imam adz-Dzahabi berkata di Siyar A’lam an-Nubala’ (2/179), “Hasan gharib,” dan disahihkan oleh al-Albani di kitab Shahih Sunan at-Tirmidzi

(4) Dia adalah Qabishah bin Dzu-aib bin Halhalah, Abu Sa’id al-Khuza’i al-Madani, seorang imam besar lagi faqih. Dilahirkan pada tahun 8 Hijriyah –ada yang mengatakan tahun 1 Hijriyah. Dia seorang yang tsiqah lagi ma’mun (kukuh tepercaya), banyak haditsnya dan pernah melihat Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia mengurus stempel dan pengiriman surat-surat Khalifah ‘Abd al-Malik. Wafat pada tahun 86 Hijriyah –ada yang mengatakan setelah tahun itu … –lihat Siyar A’lam an-Nubala’ karya adz-Dzahabi (4/282) dan Tahdzib at-Tahdzib karya Ibn Hajar (4/537) …

(5) ath-Thabaqat al-Kubra karya Ibn Sa’d (2/374) …

(6) Dia adalah ‘Urwah bin az-Zubair bin al-‘Awwam, Abu ‘Abdillah al-Qurasyi al-Asadi, salah seorang dari tujuh ahli fiqh di Madinah. Lahir di Madinah pada tahun 23 Hijriyah –ada juga yang mengatakan setelah tahun tersebut. Dia seorang yang berilmu, banyak meriwayatkan hadits, kukuh tepercaya, tak sedikit pun ikut dalam kancah fitnah. Wafat pada tahun 93 Hijriyah –ada yang mengatakan setelah tahun tersebut … -lihat Siyar A’lam an-Nubala’ karya adz-Dzahabi (4421) dan Tahdzib at-Tahdzib karya Ibn Hajar (4/117) …

(7) Diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah (8/517) …

(8) Diriwayatkan yang seperti itu oleh oleh Ahmad (6/67) (24425), ath-Thabarani (23/182), al-Hakim (4/218), dan Abu Nu’aim di kitab Hilyah al-Auliya’ (2/50). Imam al-Hakim berkata, “Sahih sanadnya tetapi al-Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya.” –lihat Siyar A’lam an-Nubala’ karya adz-Dzahabi (2/183) …

(9) Dia adalah Mahmud bin Labid bin Rafi’, Abu Nu’aim al-Anshari, mengecap hidup di masa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dan pernah melihat beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia termasuk jajaran para ulama. Wafat pada tahun 96 Hijriyah –ada yang mengatakan tahun 97 Hijriyah … –lihat al-Isti’ab karya Ibn ‘Abd al-Barr (1/430) dan al-Ishabah karya Ibn Hajar (6/42) …

(10) Diriwayatkan oleh Ibn Sa’d di kitab ath-Thabaqat al-Kubra (2/375) …

(11) Dia adalah ‘Amir bin Syarahil bin ‘Abd, Abu ‘Amr al-Kufi, seorang ‘alim kalangan tabi’in. Dilahirkan pada tahun 17 Hijriyah –ada yang mengatakan setelahnya. Dia merupakan Imam yang hafizh lagi faqih, menguasai berbagai bidang ilmu, kukuh lagi mantap hafalannya. Mengikuti perang al-Jamajim bersama Ibn al-Asy’ats kemudian lolos dari pedang al-Hajjaj dan diberi kemaafan, dan selanjutnya dijadikan sebagai hakim di Kufah. Wafat pada tahun 103 Hijriyah –ada yang mengatakan di tahun lainnya … –lihat Siyar A’lam an-Nubala’ karya adz-Dzahabai (4/294) dan Tahdzib at-Tahdzib karya Ibn Hajar (5/57) …

(12) Siyar A’lam an-Nubala’ karya adz-Dzahabi (2/197)

(13) Dia adalah Abu Salamah bin ‘Abd ar-Rahman bin ‘Auf, az-Zuhri. Ada yang mengatakan, namanya adalah ‘Abdullah, ada juga yang mengatakan Isma’il, dan ada juga yang mengatakan bahwa namanya adalah kun-yah-nya tersebut. Seorang pencari ilmu, faqih mujtahid dan banyak haditsnya. Wafat pada tahun 94 Hijriyah tetapi ada yang mengatakan tahun 104 Hijriyah … –lihat Siyar A’lam an-Nubala’ karya adz-Dzahabi (5/88) dan Tahdzib at-Tahdzib karya Ibn Hajar (6/369) …

(14) Diriwayatkan oleh Ibn Sa’d di kitab ath-Thabaqat al-Kubra (2/375) …

(15) Dia adalah Muhammad bin Muslim bin ‘Ubaidillah ibn Syihab, Abu Bakr az-Zuhri, seorang Imam dalam hal ilmu dan seorang hafizh pada zamannya. Dilahirkan pada tahun 50 Hijriyah –ada yang mengatakan setelah tahun itu. Dia termasuk hafizh yang paling berilmu di antara para huffazh yang kebanyakan hadits shahih itu berporos pada mereka. Dia juga termasuk orang yang paling dermawan. Wafat pada tahun 125 Hijriyah –ada yang mengatakan sebelumnya … -lihat Siyar A’lam an-Nubala’ (5326) dan Tahdzib at-Tahdzib karya Ibn Hajar (5/284) …

(16) Diriwayatkan oleh al-Khallal di kitab as-Sunnah (753), ath-Thabarani di kitab al-Mu’jam al-Kabir (299), dan al-Hakim (4/12) nomor (6734) …

(17) Dia adalah Yusuf bin ‘Abdillah bin Muhammad, Abu ‘Umar al-Qurthubi al-Maliki, Syaikh al-Islam, Hafizh negeri al-Maghrib. Dilahirkan pada tahun 368 Hijriyah, penuntut ilmu hadits dan menguasai beragam hal di bidang tersebut, taat lagi menjaga kehormatan diri, tsiqah hujjah, cerdik cendekia, berilmu luas dan mendalam, ahlus sunnah dan meneladan, menjabat sebagai hakim di Lisbon. Di antara karya tulisnya adalah kitab at-Tamhid. Wafat pada tahun 463 Hijriyah … -lihat Siyar A’lam an-Nubala’ karya adz-Dzahabi (18/153) dan Syadzarat adz-Dzahab karya Ibn al-‘Imad (3/313) …

(18) Kitab al-Ijabah karya az-Zarkasyi (halaman: 34) …

(19) Dia adalah Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman, Abu ‘Abdillah adz-Dzahabi, Syams ad-Din, Imam al-Hafizh. Dilahirkan pada tahun 673 Hijriyah. Dia adalah sejarawan Islam, ahli hadits pada masanya sekaligus Syaikh al-Jarh wa at-Ta’dil. Di antara karya tulisnya adalah Siyar A’lam an-Nubala’ dan Mizan al-I’tidal. Wafat pada tahun 747 Hijriyah … -lihat Thabaqat asy-Syafi’iyyah karya as-Subki (9/100) dan Syadzarat adz-Dzahab karya Ibn al-‘Imad (6/153) …

(20) Siyar A’lam an-Nubala’ karya adz-Dzahabi (2/140) …

(21) Dia adalah Isma’il bin ‘Umar bin Katsir, Abu al-Fida’ ad-Dimasyqi asy-Syafi’i, al-Imam al-‘Alim al-Hafizh. Dilahirkan pada tahun 107 Hijriyah. Unggul dalam ilmu fiqh dan tafsir, sangat teliti mengenai perawi dan cacat-cacat hadits. Di antara karya tulisnya yang paling terkenal adalah al-Bidayah wa an-Nihayah juga at-Tafsir. Wafat tahun 774 Hijriyah … -lihat Inba’ al-Ghumar karya Ibn Hajar (1/39) dan Dzail Tadzkirah al-Huffazh oleh Abu al-Mahasin (halaman: 38) …

(22) al-Bidayah wa an-Nihayah karya Ibn Katsir (2/431) …

(23) al-Bidayah wa an-Nihayah karya Ibn Katsir (11/339) …

Bandung, 20 Agustus 2015

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Lantaran Anak-Anak Mereka Belajar Keimanan Sebelum Menghafal Al-Quran …

iman sebelum quran

Syaikh Mahir bin Zhafir al-Qahthanihafizhahullah– berkata:

http://www.al-sunan.org/vb/showthread.php?p=24334

 

بسم الله الرحمن الرحيم

بماذا يبدأ طالب العلم بتعلم العقيدة والتوحيد وهما متعلقان بالإيمان؟ أم بحفظ القرآن؟ بل كما ذكر أنه من هدي الصحابة والسنة تعليم الأولاد” التوحيد” قبل القرآن وليس العكس كما هو مشتهر بين الناس.

 

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang …

Apa yang pertama kali seharusnya dipelajari oleh penuntut ilmu? Apakah dengan terlebih dahulu mempelajari akidah dan tauhid (yang keduanya terkait dengan keimanan) ataukah dengan menghafal al-Quran dulu?

Bahkan sebagaimana yang disebutkan (dalam riwayat), bahwasanya yang termasuk dari petunjuk shahabat dan juga Sunnah adalah mengajarkan tauhid dulu kepada anak-anak sebelum al-Quran, bukan malah sebaliknya (yakni mengajar al-Quran dulu baru tauhid) sebagaimana yang banyak berlaku di antara manusia.

 

قال جندب بن جنادة رضي الله عنه: كنا مع النبي صلى الله عليه وسلم ونحن فتيان حزاورة فتعلمنا الإيمان قبل أن نتعلم القرآن ثم تعلمنا القرآن فازددنا به إيمانا، وأنتم اليوم تعلمون القرآن قبل الإيمان. رواه ابن ماجه وصححه الألباني

 

Jundub bin Junadah –radhiyallahu ‘anhu– berkata, “Kami telah bersama Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- ketika kami masih sangat muda. Kami mempelajari iman sebelum belajar al-Quran, kemudian barulah kami mempelajari al-Quran hingga bertambahlah keimanan kami karenanya.” (HR. Ibn Majah dan disahihkan oleh al-Albani)

 

وعن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما قال: لقد عِشنا بُرهةً من دهرنا وإن أحدنا ليؤتى الإيمان قبل القرآن، وتنزل السورة على محمدٍ صلى الله عليه وسلم فنتعلم حلالها وحرامها، وما ينبغي أن يُوقفَ عنده مِنها، كما تتعلّمون أنتم اليوم القُرآن، ولقد رأيت اليوم رِجالاً يُؤتى أحدهم القرآن قبل الإيمان، فيقرأ ما بين فاتحتِهِ إلى خاتمته، ما يدري ما آمره ولا زاجره ولا ما ينبغي أن يُوقف عنده منه وينثُرُه نثر الدقَلِ. رواه البيهقي والحاكم وصححه

 

Dan dari ‘Abdullah bin ‘Umar –radhiyallahu ‘anhuma– dia berkata, “Kami menjalani hidup dalam jenak waktu yang masing-masing dari kami diberi (pengajaran) iman sebelum (pengajaran) al-Quran. (Bilamana) surah al-Quran diturunkan kepada Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami pun mempelajari perkara halal dan haramnya, juga apa yang seharusnya dipahami daripadanya sebagaimana halnya kalian mempelajari al-Quran saat ini. (Akan tetapi) sungguh pada hari ini aku telah melihat orang-orang yang yang diberikan kepadanya (pengajaran) al-Quran sebelum (pengajaran) iman, lantas dia membaca dari mulai pembukaan hingga penutupnya tanpa mengetahui perintah dan larangan yang terkandung di dalamnya, juga bagaimana seharusnya dia memahami hal itu. Dia (tak ubahnya) orang yang menaburkan kurma yang buruk (tidak mengambil faidah dari dalamnya –pent).” (HR. Al-Baihaqi dan al-Hakim; dan al-Hakim mensahihkannya.)

 

قال ابن القيم: (فإذا كان وقت نطقهم فليُلقنوا لا إله إلا الله محمد رسول الله، وليكن أول ما يقرع مسامعَهم معرفة الله سبحانه وتوحيده وأنه سبحانه فوق عرشه ينظر إليهم ويسمع كلامهم وهو معهم أينما كانوا …) تحفة المولود ص ٢٣١

 

Ibn al-Qayyim berkata, “Apabila mereka (anak-anak) telah mencapai masa berbicara, hendaklah mereka dibimbing untuk mengucapkan La ilaha illallah Muhammad rasulullah, dan jadikan hal pertama yang mengetuk telinga mereka adalah makrifatullah subhanahu wa ta’ala dan keesaan-Nya, juga bahwa Dia yang Maha Suci berada di atas ‘Arsy-Nya melihat mereka dan mendengar perkataan mereka, dan Dia bersama mereka di mana pun mereka berada ….”Tuhfah al-Maulud (231)

 

وللشيخ محمد بن عبد الوهاب رسالة “تعليم الصبيان التوحيد”، قال في مقدمتها: (هذه رسالة نافعة فيما يجب على الإنسان أن يعلم الصبيان قبل تعلمهم القرآن حتى يصير إنساناً كاملاً على فطرة الإسلام وموحداً جيدا.

 

Syaikh Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab memiliki risalah bertajuk Ta’lim ash-Shibyan at-Tauhid. Beliau berkata dalam mukadimahnya, “Ini adalah risalah berfaidah tentang apa yang wajib diajarkan manusia kepada anak-anak sebelum memberikan pelajaran al-Quran kepada mereka sehingga mereka menjadi manusia yang sempurna di atas fitrah Islam dan tauhid yang benar.”

والسؤال الثاني : هل يتعلم ما يجب عليه من فقه الصلاة والصيام والطهارة ؟ أم يبدأ بحفظ القران؟ الجواب: فيما قاله ابن المبارك لما سئل عن ذلك :قال إذا كان معه من القرآن ما يصلح به صلاته فليطلب العلم.

 

Dan pertanyaan selanjutnya, apakah seseorang (memulai) dengan mempelajari hal yang wajib baginya dalam perkara fiqh shalat, shaum, dan thaharah ataukah memulainya dengan mengahafal al-Quran? Maka jawabannya terdapat dalam ucapan Ibn al-Mubarak terhadap pertanyaan seperti itu, “Jika di dalam hafalan al-Quran itu terdapat hal yang bisa memberbaiki shalatnya, maka carilah itu.”

 

أقول: لأن طلبه لذلك واجب وحفظه للقرآن مستحب فلا يقدم الواجب على المستحب .

كتبه: الشيخ أبو عبد الله ماهر بن ظافر القحطاني -حفظه الله

 

(Hal ini) aku katakan, lantaran pencarian terhadap hal itu merupakan perkara yang wajib, sedangkan menghafal al-Quran itu mustahab, maka tidaklah hal yang nustahab itu didahulukan dari yang wajib …

 

*

**

 

Syaikh Abu Yazid bin Shafiyah al-Madani al-Jaza-iri –hafizhahullah- ditanya:

http://kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=15394

 

ما معنى الأثر الذي ورد عن الصحابة: “تعلّمنا الإيمانَ قبل القرآن، فلما قرأنا القرآنَ ازددنا إيمانا“.؟

هل هذا يعني أنّ الإيمان قبل القرآن؟ وأنّ الواحد منا يتعلم الإيمان أولا ثم القرآن…؟

وأنه يفضل للمرأة أن تٌعلمَ وليدَها الإيمان بالله وصفاته ثم تعلمه القرآن ؟ أم ماذا؟

بارك الله فيكم.

 

Apa pengertian (yang terkandung) dalam atsar yang datang dari shahabat, “Kami mempelajari iman sebelum al-Quran. Tatkala kami membaca al-Quran, bertambahlah keimanan kami.” Apakah ini berarti bahwa iman itu sebelum al-Quran, dan bahwa masing-masing kita mempelajari iman terlebih dahulu kemudian barulah al-Quran? Dan (apakah ini berarti) bahwa lebih utama bagi seorang ibu untuk lebih dulu mengajarkan anaknya keimanan kepada Allah dan sifat-sifat-Nya kemudian mengajarkan al-Quran? Atau bagaimana?

فأجاب الشيخُ:

 

Syaikh Abu Yazid bin Shafiyah al-Madani al-Jaza-iri –hafizhahullah– menjawab:

 

أولا: معنى قول الصحابة “تعلمنا الإيمان قبل أن نتعلمَ القرآنَ”يدخل في الأمر عدة معانٍ منها:

 

Pertama: makna ucapan shahabat, “Kami mempelajari iman sebelum al-Quran,” mengandung beberapa pengertian, di antaranya:

 

١-أنهم كانوا يتعلمون الإيمانَ المجمل، الواجب تعلمه على كل مسلم وجوبا عينيا، كما ذكره شيخُ الإسلام ابن تيمية.

والمقصود بذلك أركان الإيمان الستة المشهورة وهي الإيمان بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وبالقدر خيره وشره. فتتعرّف على معانيها إجمالا.

ويشهد لذلك الأثر الصحيح عن جندب البجلي قال:”كنا مع رسول الله صلى الله عليه و سلم و نحن فتيان حزاورة_أي:قاربنا البلوغ-، فتعلّمنا الإيمان قبل أن نتعلم القرآن، ثم تعلمنا القرآن، فازددنا به إيمانا” اخرجه ابن ماجة، والخلال بلفظ: “فيعلمنا الإيمان ثم يعلمنا القرأن، فازددنا به إيمانا”

ولذلك يحسن للأم أن تزرعَ في وليدها منذ نعومة أظافره قواعدَ الإيمان الكلية من وحدانية الله جل وعلا وربوبيته وما يتعلق بذلك من ملك وتدبير وغيرها من معاني الربوبية.

وتزرع فيه معاني الألوهية: من إفراد الرب المنعم الرازق، بالعبادة والذكر وغيرهما، وتزرع فيه ايضا من معاني توحيد الأسماء والصفات الكلية، ببيان بعض الأسماء الحسنى وشيء من معانيها وهكذا … حتى إذا قرأَ سورَ القرآن وحفظها، كان ذلك أدعي لفهمها وأيضا أدعي لتوقيرها وتصديقها.

 

(1) bahwasanya mereka (para shahabat) mempelajari iman secara global, yaitu hal yang wajib dipelajari oleh setiap orang muslim sebagai kewajiban individu sebagaimana disebutkan oleh Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah. Dan yang dimaksud adalah rukun-rukun iman yang enam, yaitu iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan takdir yang baik maupun buruk sehingga kau memahami pengertian-pengertiannya secara umum. Hal itu diperkuat dengan atsar sahih dari Jundab al-Bajali yang mengatakan, “Kami telah bersama Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- ketika kami masih sangat muda –yakni hampir baligh. Maka kami mempelajari iman kemudian mempelajari al-Quran sehingga bertambahlah keimanan kami karenanya.” Oleh karena itu hendaklah seorang ibu untuk bergegas menanamkan kepada anaknya dari sejak kecil kaidah-kaidah iman secara umum menyeluruh tentang keesaan Allah Jalla wa ‘Ala, kerububiyahan-Nya, juga hal yang yang berkaitan dengan hal itu seperti kekuasaan-Nya, pengurusan-Nya, dan lain-lain yang termasuk dalam makna-makna rububiyah. Tanamkan pula pengertian-pengertian uluhiyah, tentang keesaan-Nya dalam pemberian rezeki dan kenikmatan, dalam keesaan-Nya untuk diibadahi, zikir dan hal-hal lainnya. Juga tanamkan kepadanya pengertian-pengertian tentang tauhid al-Asma’ wa ash-Shifat secara umum dengan memberikan penjelasan tentang sebagian dari nama-nama-nya yang baik dan pengertian-pengertian yang terkandung di dalamnya hingga apabila dia telah membaca surah-surah al-Quran dan menghafalnya, hal itu akan mendorongnya untuk memahaminya, mengagungkannya, dan membenarkannya.

 

٢- جاء توضيح معنى ” إتيان الإيمان قبل القرآن” أيضا في الأثر الذي رواه القاسم بن عوف قال: سمعتُ عبد الله بن عمر يقول:” لقد عشنا برهة من دهرنا وأحدنا يُؤتى الإيمان قبل القرآن، وتنزل السورة على محمد صلى الله عليه وسلم فيتعلمَ حلالها وحرامها، ولآمرها وزاجرها، وما ينبغي أن يقف عنده منها. كما تعلمون أنتم اليوم القرآنَ، ثم لقد رأيتُ اليوم رجالا يؤتي أحدهم القرآن قبل الإيمان فيقرأ ما بين فاتحته إلى خاتمته ما يدري ما آمره ولا زاجره ولا ما ينبغي أن يقف عنده منه، فينثره نثر الدقل”(أخرجه الحاكم في المستدرك وهو حديث صحيح على شرط الشيخين

فقوله “يؤتى الإيمان قبل القرآن”، بمعنى أنه يصدق الله تعالى ويصدق النبي صلى الله عليه وسلم، ويعتقد صحة ما جاء به من الإسلام والإيمان، فيطمئن قلبُه بذلك قبل أن يقرأ القرآن، لمعرفته بصدق النبي صلى الله عليه وسلم وبصحة ما جاء به.

و قوله: “و تنزل السورة على محمد صلى الله عليه وسلم فيتعلمَ حلالها وحرامها، ولآمرها وزاجرها، وما ينبغي أن يقف عنده منها. كما تعلمون أنتم اليوم القرآنَ”. يعني أنهم لا يقتصرون على تعلم ألفاظ القرآن، بل يتعلمون ما فيه من الحلال والحرام والأمر والنهي، ويعملون بذلك كما قال عبد الله بن الحبيب رحمه الله:”حدّثنا الذين كانوا يعلموننا القرآن أنهم كانوا إذا تعلموا من النبي صلى الله عليه وسلم عشر آيات لم يتجاوزوها حتى يتعلموا ما فيها. قالوا فتعلمونا القرآن والعلمَ والعمل جميعا” .

وقوله “ثم أجد رجالا يؤتي أحدهم القرآن قبل الايمان”، ينكر على المتأخرين الذين يقرأون القرآن وينثره أحدهم نثر الدقل، ويسرع في قراءته، ولا يتأمل ما فيه، ولا يدري بأوامره و نواهيه، ولا يعمل بما فيه، ولا يحل حلاله ولا يحرم حرامه، ولا يعمل بحكمه ولا يؤمن بمتشابهه، ولا يقف عند عجائبه، وإنما يتعلمه ليأكل به ويقرأ ليحصل على أجره لأجل قراءته، فمثل هؤلاء لا يكونون من أهل القرآن الذين هم أهل الله وخاصته.

 

(2) Dalam atsar yang lain, terdapat penjelasan tentang pengertian, “Memberikan (pengajaran) iman sebelum al-Quran),” melalui riwayat dari al-Qasim bin ‘Auf yang mengatakan: aku mendengar ‘Abdullah bin ‘Umar berkata, “Kami menjalani hidup dalam jenak waktu yang masing-masing dari kami diberi (pengajaran) iman sebelum (pengajaran) al-Quran. (Bilamana) surah al-Quran diturunkan kepada Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami pun mempelajari perkara halal dan haramnya, juga apa yang seharusnya dipahami daripadanya sebagaimana halnya kalian mempelajari al-Quran saat ini. (Akan tetapi) sungguh pada hari ini aku telah melihat orang-orang yang yang diberikan kepadanya (pengajaran) al-Quran sebelum (pengajaran) iman, lantas dia membaca dari mulai pembukaan hingga penutupnya tanpa mengetahui perintah dan larangan yang terkandung di dalamnya, juga bagaimana seharusnya dia memahami hal itu. Dia (tak ubahnya) orang yang menaburkan kurma yang buruk (tidak mengambil faidah dari dalamnya –pent).” –dikeluarkan oleh al-Hakim di kitab al-Mustadrak, dan ini merupakan hadits sahih menurut syarat al-Bukhari dan Muslim.

Ucapannya, “… diberi (pengajaran) iman sebelum (pengajaran) al-Quran,” berpengertian bahwasanya shahabat membenarkan Allah ta’ala dan membenarkan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta berkeyakinan dengan benar tentang Islam dan Iman sehingga hatinya telah mantap untuk mengenal-Nya, membenarkan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan meyakini Islam dan Iman dari sebelum membaca al-Quran.

Dan ucapan, “(Bilamana) surah al-Quran diturunkan kepada Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami pun mempelajari perkara halal dan haramnya, juga apa yang seharusnya dipahami daripadanya sebagaimana halnya kalian mempelajari al-Quran saat ini,” yaitu bahwa mereka (para shahabat) tidak mencukupkan diri dengan hanya mempelajari lafaz-lafaz al-Quran, bahkan mereka mempelajari apa yang terkandung di dalamnya dari perkara-perkara halal dan haram, juga perintah dan larangan. Mereka memahami itu sebagaimana dikatakan oleh ‘abdullah bin al-Habib –rahimahullah, “Telah bercerita kepada kami orang-orang yang mengajarkan kepada kami al-Quran bahwasanya mereka apabila mempelajari sepuluh ayat dari al-Quran, tidaklah mereka menambah sebelum mempelajari apa yang terkandung di dalamnya. Kata mereka, mereka mempelajari al-Quran beserta ilmu dan amal.”

Ucapannya, “… kemudian kudapati orang-orang yang diberi (pengajaran) al-Quran sebelum iman,” merupakan pengingkaran terhadap orang-orang mutaakhirin yang membaca al-Quran (tak ubahnya) membuang kurma yang buruk. Dia tergesa-gesa membacanya tanpa mentadaburi kandungannya dan tidak pula mengetahui perintah-perintah dan larangan-larangan di dalamnya. Dia juga tidak mengamalkan kandungannya, tidak menghalalkan apa yang dihalalkan di dalamnya, tidak mengharamkan apa yang diharamkan di dalamnya, tidak mengamalkan hal yang muhkam di dalamnya, tidak mengimani yang mutasyabihat di dalamnya, dan tidak pula memahami mukjizat-mukjizatnya. Dia hanyalah mempelajarinya untuk bisa makan dengannya dan membacanya untuk mendapatkan upah darinya. Orang-orang seperti itu tidaklah termasuk sebagai ahli al-Quran.

 

٣- ومن المعاني اللائحة أيضا

“الإيمان قبل القرآن” تعني الايمان بالقرآن أولا أنه كتاب معجز وأنه كتاب هداية وتغيير، إذا أمنت بذلك تغيرت معاملتك مع القرآن وتغير حالك وتغير أسلوبك في الأخذ من معين القرآن.

ولهذا نجد أهل السنة والجماعة لما قوي إيمانهم بالقرآن أخذوا نصوصه مأخذ الافتقار فلم يصدروا في أقوالهم وأفعالهم إلا من معينه، بخلاف أهل الأهواء والبدع حكموا عقولهم وصرفوا نصوص الوحي لتوافق هذا الهوى.

وخلاصة الأمر:

على الأم أن تعلم وليدها أولا:

الإيمان بالقرآن وبمنزلته ومكانته، وبواجبنا اتجاهه، وتعلّمه تأمّل آي الكتاب.

وتعلمه أيضا الإيمان بأركانه الستة، والتوحيد بأقسامه الثلاثة حتى يعظم انتفاعه بالقرآن.

وتعلمه أن لا يرفهَ همه في إقامة حروف القرآن، وهو مضيع لحدوده وأحكامه

 

(3) Di antara pengertian yang jelas lainnya dari ungkapan, “Iman sebelum al-Quran,” yaitu pertama-tama iman terhadap al-Quran, bahwasanya itu adalah kitab mukjizat, kitab petunjuk dan perbaikan. Jika kau beriman terhadap hal itu, berubahlah muamalahmu bersama al-Quran, berubah pula keadaanmu dan caramu menerima al-Quran.

Oleh karena itu, kami dapati Ahl as-Sunnah wa al-Jamaah mengambil bimbingan al-Quran untuk menguatkan keimanan mereka, mereka mengambil nash-nash al-Quran sebagai sumber (ilmu dan amal). Tidaklah terbit dari ucapan dan perbuatan mereka kecuali bersumber dari mata air al-Quran, berbeda dengan pengikut hawa nafsu dan ahli bid’ah yang berhukum kepada akal-akal mereka seraya memalingkan nash-nash wahyu untuk mencocoki hawa nafsu mereka.

Dan sebagai kesimpulan, wajib bagi seorang ibu untuk mengajarkan kepada anaknya pertama-tama tentang keimanan akan al-Quran beserta kedudukannya, juga tentang kewajiban untuk mengarahkan diri kepadanya seraya mentadaburi ayat-ayatnya. Juga mengajarkan kepadanya rukun-rukun iman yang enam dan tiga pembagian tauhid hingga dia memandang penting untuk mengambil faidah dari al-Quran. Juga mengajarkan kepadanya agar tidak menyenangkan keinginannya untuk sekadar membaca huruf-huruf al-Quran seraya mengabaikan ketentuan-ketentuan dan hukum-hukumnya …

 

Bandung, 14 April 2014

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–