Seperti Sehelai Kertas Mushaf …

Seperti Sehelai Kertas Mushaf ...

Syahdan … dia yang menyibak tirai telah lantas bersungging senyum pada wajahnya. Kata mereka, paras rupanya ibarat sehelai kertas mushaf … –dan dia pergi pada hari itu selepas sempurna nikmat Rabb-nya ditunaikan … –shallallahu ‘alaihi wa sallam

Sila kautimbang kesedihan mereka atas kepergiannya … -namun sungguh dia pernah berujar kepada mereka:

إن العين تدمع والقلب يحزن ولا نقول إلا ما يرضى ربنا –رواه البخاري

“Sungguh mata bisa berlinang hati pun bisa bersedih, namun tidaklah kami mengatakan selain yang diridai oleh Rabb kami.” (HR. al-Bukhari)

 *

**

Anas bin Malik –radhiyallahu ‘anhu– berkata:

حتى إذا كان يوم الاثنين وهم صفوف في الصلاة كشف رسول الله صلى الله عليه وسلم ستر الحجرة فنظر إلينا وهو قائم كأن وجهه ورقة مصحف ثم تبسم رسول الله صلى الله عليه وسلم ضاحكا –رواه مسلم

“Hingga pada hari Senin, (ketika itu) para shahabat sedang berbaris dalam shalat, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- menyingkap tirai kamar dan berdiri  memandang kami. Seakan-akan wajah beliau ibarat sehelai kertas mushaf. Kemudian Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pun tersenyum.” (HR. Muslim)

Berkata al-Imam an-Nawawi –rahimahullah:

قوله: (كأن وجهه ورقة مصحف) عبارة عن الجمال البارع وحسن البشرة وصفاء الوجه واستنارته – شرح النووي على مسلم

Ucapan Anas bin Malik, “Seakan-akan wajah beliau itu ibarat sehelai kertas mushaf,” merupakan satu ibarat untuk mengungkapkan keunggulan paras beliau yang elok, keindahan warna kulit beliau, dan kejernihan pancar wajah beliau … –Syarh an-Nawawi ‘ala Muslim

Al-Imam an-Nawawi –rahimahullah– juga mengatakan:

قوله: (ثم تبسم رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ضاحكا) سبب تبسمه – صلى الله عليه وسلم – فرحه بما رأى من اجتماعهم على الصلاة ، واتباعهم لإمامهم ، وإقامتهم شريعته ، واتفاق كلمتهم واجتماع قلوبهم – شرح النووي على مسلم

Ucapan Anas bin Malik, “Kemudian Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pun tersenyum.” Yang menyebabkan beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tersenyum adalah karena beliau merasa senang melihat persatuan mereka dalam shalat, sikap ittiba’ terhadap imam mereka, penegakkan mereka atas syariat, juga kesesuaian kalimat dan kesatuan kalbu-kalbu mereka … –Syarh an-Nawawi ‘ala Muslim

 

Bandung, 7 Desember 2013

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Tentang Gelang Kisra di Lengan Suraqah bin Malik bin Ju’syum …

gelang kisra

(1) http://library.islamweb.net/hadith/display_hbook.php?bk_no=673&pid=332431&hid=12071

Atsar lemah berikut terdapat di Kitab Sunan al-Kubra karya al-Baihaqi –rahimahullah– (nomor 12071)…

Kelemahannya sendiri disebabkan oleh adanya inqitha’ (keterputusan) pada sanadnya, yaitu karena al-Hasan (yakni al-Hasan al-Bashri) tidak bertemu dengan ‘Umar bin al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhu … wallahu a’lamu …

وَأَخْبَرَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ، أنا أَبُو سَعِيدٍ، قَالَ: وَجَدْتُ فِي كِتَابِي بِخَطِّ يَدِي، عَنْ أَبِي دَاوُدَ، قَالَ: ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ، ثنا حَمَّادٌ، ثنا يُونُسُ، عَنِ الْحَسَنِ، أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أُتِيَ بِفَرْوَةِ كِسْرَى فَوُضِعَتْ بَيْنَ يَدَيْهِ، وَفِي الْقَوْمِ سُرَاقَةُ بْنُ مَالِكِ بْنِ جُعْشُمٍ، قَالَ :فَأَلْقَى إِلَيْهِ سُوَارَيْ كِسْرَى بْنِ هُرْمُزَ فَجَعَلَهُمَا فِي يَدِهِ، فَبَلَغَا مَنْكِبَيْهِ، فَلَمَّا رَآهُمَا فِي يَدَيْ سُرَاقَةَ، قَالَ: “الْحَمْدُ لِلَّهِ، سُوَارَيْ كِسْرَى بْنِ هُرْمُزَ فِي يَدِ سُرَاقَةَ بْنِ مَالِكِ بْنِ جُعْشُمٍ أَعْرَابِيٍّ مِنْ بَنِي مُدْلِجٍ.” ثُمَّ قَالَ: “اللَّهُمَّ إِنِّي قَدْ عَلِمْتُ أَنَّ رَسُولَكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُحِبُّ أَنْ يُصِيبَ مَالا فَيُنْفِقَهُ فِي سَبِيلِكَ وَعَلَى عِبَادِكَ، وَزَوَيْتَ ذَلِكَ عَنْهُ نَظَرًا مِنْكَ لَهُ وَخِيَارًا.” ثُمَّ قَالَ: اللَّهُمَ إِنِّي قَدْ عَلِمْتُ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ يُحِبُّ أَنْ يُصِيبَ مَالا فَيُنْفِقَهُ فِي سَبِيلِكَ وَعَلَى عِبَادِكَ، فَزَويْتَ ذَلِكَ عَنْهُ نَظَرًا مِنْكَ لَهُ وَخِيَارًا، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ يَكُونَ هَذَا مَكْرًا مِنْكَ بِعُمَرَ.” ثُمَّ قَالَ تَلى: أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ (٥٥) نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ بَلْ لا يَشْعُرُونَ (٥٦) سورة المؤمنون

Telah mengabarkan kepada kami Abu Muhammad, telah mengabarkan kepada kami Abu Sa’id, dia berkata: kudapati dalam kitabku dengan tulisan tanganku sendiri, dari Abu Dawud, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Ubaid, telah menceritakan kepada kami Hammad, telah menceritakan kepada kami Yunus, dari al-Hasan:

Bahwasanya dibawakan kepada ‘Umar bin al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhu perbendaharaan Kisra yang lantas diletakkan di hadapannya. Di antara orang-orang (yang hadir di situ) terdapat Suraqah bin Malik bin Ju’syum. Kemudian dipakaikanlah gelang-gelang Kisra bin Hurmuz itu kepada Suraqah bin Malik bin Ju’syum hingga mencapai kedua pundaknya.

Tatkala melihat gelang-gelang itu terpasang di kedua tangan Suraqah bin Malik, ‘Umar bin al-Khaththab pun berkata, “Alhamdulillah, gelang-gelang Kisra bin Hurmuz berada di tangan Suraqah bin Malik bin Ju’syum, seorang badui dari kalangan Bani Mudlij.”

Kemudian ‘Umar bin al-Khaththab berkata lagi, “Allahumma, sesungguhnya aku mengetahui bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- senantiasa senang mendapatkan perbendaharaan lalu membelanjakannya di jalan-Mu dan juga memberikannya kepada hamba-hamba-Mu. Engkau memindahkan hal itu darinya sebagai suatu kebijaksanaan dari-Mu dan juga pilihan-Mu.”

Kemudian ‘Umar bin al-Khaththab berkata lagi, “Allahumma, sesungguhnya aku mengetahui bahwa Abu Bakr –radhiyallahu ‘anhu- senantiasa senang mendapatkan perbendaharaan lalu membelanjakannya di jalan-Mu dan juga memberikannya kepada hamba-hamba-Mu. Engkau memindahkan hal itu darinya sebagai suatu kebijaksanaan dari-Mu dan juga pilihan-Mu. Allahumma, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari dijadikannya harta ini sebagai makar darimu terhadap ‘Umar.”

Kemudian ‘Umar bin al-Khaththab membaca ayat, Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa) Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar (QS. al-Mu’minun: 55-56).”

 

(2) http://library.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?flag=1&bk_no=31&ID=2130

Atsar berikut juga lemah, dan ini termaktub di kitab al-Umm al-Imam asy-Syafi’i –rahimahullah– …
Adapun kelemahannya disebabkan oleh ketiadaan banyak perawi di antara Imam asy-Syafi’i dengan ‘Umar bin al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhu, yakni banyak perawi yang semestinya menjadi penghubung di antara Imam asy-Syafi’i dengan ‘Umar bin al-Khaththab yang tidak disebutkan di dalam sanadnya …

أَخْبَرَنَا مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّهُ لَمَّا قَدِمَ عَلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِمَا أُصِيبَ بِالْعِرَاقِ قَالَ لَهُ صَاحِبُ بَيْتِ الْمَالِ، أَلَا أُدْخِلُهُ بَيْتَ الْمَالِ؟ قَالَ لَا وَرَبِّ الْكَعْبَةِ لَا يُؤَدَّى تَحْتَ سَقْفِ بَيْتٍ حَتَّى أَقْسِمَهُ فَأَمَرَ بِهِ فَوُضِعَ فِي الْمَسْجِدِ وَوُضِعَتْ عَلَيْهِ الْأَنْطَاعُ وَحَرَسَهُ رِجَالُ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ فَلَمَّا أَصْبَحَ غَدَا مَعَ الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ أَخَذَ بِيَدِ أَحَدِهِمَا، أَوْ أَحَدُهُمَا أَخَذَ بِيَدِهِ فَلَمَّا رَأَوْهُ كَشَطُوا الْأَنْطَاعَ عَنْ الْأَمْوَالِ فَرَأَى مَنْظَرًا لَمْ يَرَ مِثْلَهُ رَأَى الذَّهَبَ فِيهِ وَالْيَاقُوتَ وَالزَّبَرْجَدَ وَاللُّؤْلُؤَ يَتَلَأْلَأُ فَبَكَى عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فَقَالَ لَهُ أَحَدُهُمَا وَاَللَّهِ مَا هُوَ بِيَوْمِ بُكَاءٍ، وَلَكِنَّهُ يَوْمُ شُكْرٍ وَسُرُورٍ فَقَالَ إنِّي وَاَللَّهِ مَا ذَهَبْت حَيْثُ ذَهَبْت، وَلَكِنَّهُ وَاَللَّهِ مَا كَثُرَ هَذَا فِي قَوْمٍ قَطُّ إلَّا وَقَعَ بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى الْقِبْلَةِ وَرَفَعَ يَدَيْهِ إلَى السَّمَاءِ، وَقَالَ: اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِك أَنْ أَكُونَ مُسْتَدْرَجًا فَإِنِّي أَسْمَعُك تَقُولُ: سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ -الْآيَةَ، ثُمَّ قَالَ: أَيْنَ سُرَاقَةُ بْنُ جَعْشَمٍ؟ فَأُتِيَ بِهِ أَشْعَرَ الذِّرَاعَيْنِ دَقِيقَهُمَا فَأَعْطَاهُ سِوَارَيْ كِسْرَى فَقَالَ: الْبَسْهُمَا فَفَعَلَ فَقَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ ثُمَّ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي سَلَبَهُمَا كِسْرَى بْنَ هُرْمُزَ وَأَلْبَسَهُمَا سُرَاقَةَ بْنَ جَعْشَمٍ أَعْرَابِيًّا مِنْ بَنِي مُدْلِجٍ وَجَعَلَ يُقَلِّبُ بَعْضَ ذَلِكَ بَعْضًا، ثُمَّ قَالَ: إنَّ الَّذِي أَدَّى هَذَا لَأَمِينٌ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: أَنَا أُخْبِرُك أَنْتَ أَمِينُ اللَّهِ وَهُمْ يُؤَدُّونَ إلَيْك مَا أَدَّيْت إلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِذَا رَتَعْتَ رَتَعُوا قَالَ صَدَقْتَ ثُمَّ فَرَّقَهُ

Ahli ilmu telah mengabarkan kepada kami, bahwa tatkala rampasan perang Irak dibawakan kepada ‘Umar bin al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhu, berkatalah pengurus bait al-mal kepadanya, “Tidakkah harta ini kumasukkan saja ke bait al-mal?”

‘Umar bin al-Khaththab berkata, “Tidak, demi Rabb Ka’bah. Tidaklah aku akan meletakkannya di bawah langit-langit bait al-mal. Sebaliknya (semua itu) akan kubagi-bagikan.”

Lalu ‘Umar bin al-Khaththab pun memerintahkan agar harta rampasan perang itu dibawa ke dalam masjid. Selanjutnya harta rampasan perang itu ditutupi oleh permadani kulit di bawah penjagaan para lelaki dari kalangan al-Muhajirin dan al-Anshar.

Tatkala pagi telah terbuka pada keesokan harinya, ‘Umar datang bersama al-‘Abbas bin ‘Abd al-Muthalib dan ‘Abd ar-Rahman bin ‘Auf. ‘Umar memegang tangan salah seorang di antara keduanya –atau salah seorang dari keduanya memegang tangan ‘Umar. Ketika melihat (kedatangan) ‘Umar, mereka pun membuka permadani kulit yang menutupi harta itu. Lantas mereka pun melihat sesuatu yang belum pernah mereka lihat seperti itu sebelumnya berupa emas, yakut, zabarjad, dan juga intan permata yang berkilauan.

Maka menangislah ‘Umar bin al-Khaththab (kala melihat semua itu), lalu berkatalah salah seorang dari keduanya (yakni al-‘Abbas bin ‘Abd al-Muthalib atau ‘Abd ar-Rahman bin ‘Auf) kepada ‘Umar, “Demi Allah, ini bukanlah hari isak tangis, melainkan hari untuk bersyukur dan bergembira.”

‘Umar bin al-Khaththab pun berkata, “Sesungguhnya aku, demi Allah, tidaklah kupergi ke tempat mana kaupergi. Akan tetapi, demi Allah, tidaklah diperbanyak harta ini pada suatu kaum melainkan hanya akan mendatangkan kesusahan di antara mereka.”

Kemudian ‘Umar bin al-Khaththab menghadapkan diri ke arah kiblat seraya mengangkat kedua tangannya ke arah langit dan berdoa, “Allahumma, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari istidraj (pemberian yang memperdaya sehingga membawa kepada kebinasaan) karena aku telah mendengar firmanmu: Kami nanti akan menarik mereka berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dengan cara yang tidak mereka ketahui (QS. al-Qalam: 44).”

Kemudian setelah itu ‘Umar bin al-Khaththab berkata, “Di manakah Suraqah bin Ju’syum?” Maka dihadapkanlah ‘Suraqah bin Ju’syum kepada ‘Umar, lalu ‘Umar memberikan gelang-gelang Kisra kepadanya seraya berkata, “Pakailah olehmu.”

Suraqah bin Ju’syum pun mengenakannya seraya berseru, “Allahu Akbar!”

Kemudian ‘Umar bin al-Khaththab berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah mengambil gelang-gelang itu dari Kisra bin Hurmuz lalu memakaikannya kepada Suraqah bin Ju’syum, seorang badui dari kalangan Bani Mudlij.”

Selanjutnya ‘Umar bin al-Khaththab meneliti harta rampasan perang itu dengan membolak-balik tumpukkannya, dan setelah itu dia berkata, “Sesungguhnya orang yang membawa harta rampasan perang ini kemari benar-benar tepercaya.”

Lalu seseorang berkata kepada ‘Umar bin al-Khaththab, “Kukatakan kepadamu bahwa kamu adalah kepercayaan Allah. Mereka menyampaikan harta rampasan ini kepadamu selama kamu (jujur) menyampaikannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Jika kau (berkhianat) dengan mementingkan diri sendiri akan harta itu, niscaya mereka pun akan mementingkan diri dengan harta itu.”

‘Umar bin al-Khaththab berkata, “Benar sekali ucapanmu.” Kemudian ‘Umar pun membagi-bagikan harta itu.

 

Bandung, 20 September 2013

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Biar Aku Memahaminya …

pemahaman

سُكَينة بنت محمد ناصر الدين الألبانية

Sukainah binti Muhammad Nashir ad-Din al-Albaniyyah

Dari sini: http://tamammennah.blogspot.com/2013/09/blog-post_15.html

 

الحمدُ للهِ وَحْدَه، والصَّلاةُ والسَّلامُ علىٰ مَن لا نبيَّ بعده، وعلىٰ آلِه وصحبه ومَن نهَجَ نهجَه.

أمّا بعد

بوّب العَلَّامةُ مقبل الوادعيُّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَىٰ: مَن أَشْكَلَتْ عَلَيْهِ الْمَسْأَلَةُ الْعِلْمِيَّةُ يَقُولُ:

اللّهُمَّ! فَهِّمْنِيْهَا

 

Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i –rahimahullah ta’ala– membuat bab, “Siapa yang menghadapi kesulitan (dalam memahami) suatu permasalahan ilmiah, hendaklah dia mengatakan: Allahumma, berikan kepadaku pemahaman tentangnya.”

 

ثم قال:

 

Kemudian beliau (Syaikh Muqbil) –rahimahullah– berkata:

 

قال ابن إسحاق كما في “السيرة” لابن هشام ج١ص٤٧٤:

فَحَدّثَنِي نَافِعٌ مَوْلَىٰ عَبْدِ اللّهِ بْنِ عُمَرَ، عَنْ عَبْدِ اللّهِ بْنِ عُمَرَ، عَنْ أَبِيهِ عُمَرَ بْنِ الْخَطّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ:

 

Ibn Ishaq berkata –sebagaimana terdapat di kitab as-Sirah karya Ibn Hisyam juz 1 halaman 474:

Telah menceritakan kepadaku Nafi’ Maula ‘Abdullah bin ‘Umar, dari ‘Abdullah bin ‘Umar, dari ayahnya, ‘Umar bin al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata:

 

اتَّعَدْتُ لَمّا أَرَدْنَا الْهِجْرَةَ إلَى الْمَدِينَةِ أَنَا وَعَيّاشُ بْنُ أَبِي رَبِيعَةَ، وَهِشَامُ بْنُ الْعَاصِي بْنِ وَائِلٍ السّهْمِيّ التَّناضُبَ مِنْ أَضَاةِ بَنِي غِفَارٍ، فَوْقَ سَرِفٍ، وَقُلْنَا: أَيُّنَا لَمْ يُصْبِحْ عِنْدَهَا؛ فَقَدْ حُبِسَ فَلْيَمْضِ صَاحِبَاهُ. قَالَ: فَأَصْبَحْت أَنَا وَعَيّاشُ بْنُ أَبِي رَبِيعَةَ عِنْدَ التّنَاضُبِ، وَحُبِسَ عَنّا هِشَامٌ، وَفُتِنَ فَافْتُتِنَ.

 

Tatkala kami hendak berhijrah ke Madinah, aku bersama ‘Ayyasy bin Abu Rabi’ah dan Hisyam bin al-‘Ash bin Wa-il as-Sahmi saling berjanji (untuk berkumpul) di rumpun perdu perairan Bani Ghifar. Kami berkata, “Siapa pun di antara kita yang tak sampai di sana pada keesokan harinya, berarti dia tertangkap, dan hendaklah yang lainnya tetap melanjutkan perjalanan.” ‘Umar bin al-Khaththab berkata, “Maka pada keesokan harinya aku dan ‘Ayyasy bin Abu Rabi’ah bertemu di rumpun perdu Bani Ghifar, sementara Hisyam bin al-‘Ash bin Wa-il as-Sahmi tertangkap (hingga tak bisa berkumpul) bersama kami, dia mendapat cobaan hingga terfitnah (murtad kembali).”

 

قال ابن إسحاق كما في “السيرة” ج١ص٤٧٥: وَحَدَّثَنِي نَافِعٌ عَنْ عَبْدِ بْنِ عُمَرَ، عَنْ عُمَرَ فِي حَدِيثِهِ قَالَ: فَكُنّا نَقُولُ: مَا اللهُ بِقَابِلٍ مِمَّنْ افْتُتِنَ صَرْفًا وَلَا عَدْلًا وَلَا تَوْبَةً؛ قَوْمٌ عَرَفُوا اللهَ ثُمّ رَجَعُوا إلَى الْكُفْرِ لِبَلَاءٍ أَصَابَهُمْ! قَالَ: وَكَانُوا يَقُولُونَ ذٰلِكَ لِأَنْفُسِهِمْ. فَلَمّا قَدِمَ رَسُولُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ؛ أَنْزَلَ اللهُ تَعَالَىٰ فِيهِمْ وَفِي قَوْلِنَا وَقَوْلِهِمْ لِأَنْفُسِهِمْ:

 

Ibn Ishaq berkata –sebagaimana terdapat di kitab as-Sirah, juz 1 halaman 475: dan telah menceritakan kepadaku Nafi’ dari ‘Abdullah bin ‘Umar, dari ‘Umar dalam haditsnya, dia berkata:

Dulu kami mengatakan, Tidaklah Allah akan menerima kembalinya orang yang terkena fitnah, tidak juga keadilan dan taubatnya, yaitu kaum yang mengenal Allah kemudian mereka kembali kafir karena ujian yang menimpa mereka.” Mereka mengatakan hal itu terhadap diri-diri mereka sendiri. Tatkala Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tiba di Madinah, Allah ta’ala menurunkan ayat tentang mereka dan tentang perkataan kami mengenai mereka:

 

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (٥٣) وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لا تُنصَرُونَ (٥٤) وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ العَذَابُ بَغْتَةً وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ (٥٥) -(سورة الزُّمَر).

 

Katakanlah, Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kalian kepada Rabb kalian, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepada kalian kemudian kalian tidak dapat ditolong (lagi). Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian sebelum datang azab kepada kalian dengan tiba-tiba, sedang kalian tidak menyadarinya.” (Q.S Az-Zumar: 53-55)

 

قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطّابِ: فَكَتَبْتُهَا بِيَدِي فِي صَحِيفَةٍ وَبَعَثْتُ بِهَا إلَىٰ هِشَامِ بْنِ الْعَاصِي. قَالَ: فَقَالَ هِشَامُ بْنُ الْعَاصِي: فَلَمّا أَتَتْنِي جَعَلْتُ أَقْرَؤُهَا بِذِي طُوًى، أُصَعِّدُ بِهَا فِيهِ وَأُصَوِّبُ، وَلَا أَفْهَمُهَا! حَتّىٰ قُلْتُ:

اللّهُمَّ! فَهِّمْنِيْهَا

‘Umar bin al-Khaththab berkata, “Aku lantas menuliskan ayat tersebut dengan tanganku sendiri pada secarik kertas kemudian kukirimkan kepada Hisyam bin al-‘Ash bin Wa-il as-Sahmi.” Selanjutnya Hisyam bin al-‘Ash bin Wa-il as-Sahmi berkata, “Tatkala surat (dari ‘Umar) itu sampai kepadaku, aku pun membacanya di Dzu Thuwa. Kurenungi ayat tersebut namun tak mampu memahaminya sampai akhirnya aku berkata: Allahumma, berikanlah kepadaku pemahaman tentangnya.”

 

قَالَ: فَأَلْقَى اللهُ تَعَالَىٰ فِي قَلْبِي أَنّهَا إنّمَا أُنْزِلَتْ فِينَا، وَفِيمَا كُنَّا نَقُولُ فِي أَنْفُسِنَا وَيُقَالُ فِينَا. قَالَ: فَرَجَعْتُ إلَىٰ بَعِيرِي، فَجَلَسْتُ عَلَيْهِ، فَلَحِقْتُ بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ بِالْمَدِينَةِ.

 

Hisyam bin al-‘Ash bin Wa-il as-Sahmi berkata (lagi), “Maka Allah ta’ala pun memberikan pemahaman ke dalam hatiku bahwa ayat tersebut diturunkan tentang kami, berkaitan dengan ucapan yang kami katakan terhadap diri-diri kami. Maka aku pun beranjak menuju untaku, duduk mengendarainya, lalu menyusul Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang telah berada di Madinah.”

 

هٰذا حديثٌ حسن.

وقد أخرجه البزار كما في “كشف الأستار” (جـ ٢، ص ٣٠٢)، وأخرجه الحاكم (جـ ٢، ص ٤٣٥)، وقال: “صحيح علىٰ شرط مسلم”، كذا قال، ومسلمٌ إنما روىٰ لِابن إسحاق قدرَ خمسة أحاديث في الشواهد والمتابَعات” اﻫ مِن “الجامع الصحيح مما ليس في الصحيحين” (٢/٤٢٦و٤٢٧، ط١، ١٤١٦ﻫ، مكتبة ابن تيمية).

 

Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i –rahimahullah– berkata, “Hadits ini hasan. Dikeluarkan oleh al-Bazzar sebagaimana tercantum di kitab Kasyf al-Astar, juz 2 halaman 302. Juga dikeluarkan oleh al-Hakim, juz 2 halaman 435. Al-Hakim mengatakan hadits ini sahih berdasarkan syarat Muslim. Demikian yang dikatakannya, sedangkan Muslim sendiri hanya meriwayatkan dari Ibn Ishaq sekitar lima hadits sebagai syawahid dan mutabi’at saja.” –Dinukil dari kitab al-Jami’ ash-Shahih mima Laisa fi ash-Shahihain (2/426-427, cetakan pertama, 1416 Hijriyah, Maktabah Ibn Taimiyah).

 

قال الأمير الصنعاني رَحِمَهُ اللهُ: فَمَا الفَهْمُ إلَّا مِن عَطَايَاهُ لا سِوَىٰ * بَلِ الخَيرُ كُلُّ الخَيرِ مِنْهُ يُصَابُ

“ديوانه” (21، ط1، 1384ﻫ، مطبعة المدني).

 

Al-Amir ash-Shan’ani –rahimahullah– berkata, “Tiada kepahaman melainkan dari karunia –Nya, tiada lain itu. Bahkan semua kebaikan itu berasal dari-Nya.”Diwan al-Amir ash-Shan’ani, halaman 21, cetakan pertama, 1384 Hijriyah, Mathba’ah al-Madani …

 

Bandung, 17 September 2013

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–