Tentang Bermudah-Mudah Membunuh Kafir di Negeri Muslim …

Untitled-

Syaikh Abu al-Hasan Musthafa bin Isma’il as-Sulaimany –hafizhahullah

Kitab: Fitnah at-Tafjirat wa al-Ightiyalat: al-Asbab wa al-Atsar wa al‘Ilaj (240-242) …

 

وقد يستدل بعضهم على جواز اغتيال بعض من دخل بلاد المسلمين من الكفار، دون الرجوع إلى وليّ الأمر، بما أخرجه أبو داود والنسائي وغيرهما([1]) من حديث ابن عباس – رضي الله عنهما  – أن أعمى كانت له أم ولد، تشتم النبي – صلى الله عليه وعلى آله وسلم- وتقع فيه، فينهاها؛ فلا تنتهي، ويزجرها؛ فلا تنـزجر، فلما كانت ذات ليلة، جعلتْ تقع فيه – أي: في النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم- وتشتمه، فأخذ – أي: الأعمى- المِغْول، ووضعه في بطنها، واتكأ عليها، فقتلها، فوقع بين رجليها  طفل، فلطخت ما هناك بالدم، فلما أصبح؛ ذُكر ذلك لرسول الله – صلى الله عليه وعلى آله وسلم- فجمع الناس، فقال: ((أُنْشِد الله رجلا، فعل ما  فعل، لي عليه حق؛ إلا قام)) فقام الأعمى يتخطى الناس ، وهو يتزلزل، حتى قعد بين يدي النبي – صلى الله عليه وعلى آله وسلم- فقال: يارسول الله، أنا صاحبها، كانت تشتمك، وتقع فيك، فأنهاها؛ فلا تنتهي، وأزجرها؛ فلا تنـزجر، ولي منها اثنان مثل اللؤلؤتين، وكانت بي رفيقة، فلما كانت البارحة، جعلت تشتمك، وتقع فيك، فأخذتُ المِغْول، فوضَعْتُه في بطنها، واتكأْتُ عليها، حتى قتلتها، فقال النبي – صلى الله عليه وعلى آله وسلم-: ((ألا اشهدوا أن دمها هدر)).اهـ.

 

Sebagian di antara mereka (yakni suatu kelompok –pent) menyatakan kebolehan untuk membunuh orang kafir yang masuk ke negeri kaum Muslimin tanpa menyerahkan urusan tersebut kepada pemerintah berdasarkan dalil yang dikeluarkan oleh Abu Dawud, an-Nasa-i, dan lain-lain [1] yang bersumber dari hadits Ibn ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhu– bahwasanya ada seorang lelaki buta yang memiliki Ummu Walad. Ummu Waladnya itu suka mencaci maki dan mencela Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tentu saja lelaki buta itu senantiasa melarang dan mencegah si Ummu Walad berbuat seperti itu, tetapi tetap saja ia tak mau berhenti dan tak bisa dicegah. Pada suatu malam, Ummu Walad itu kembali mencela dan mencaci maki Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu lelaki buta itu mengambil pedang dan menegakkan pedangnya di atas perut si Ummu Walad. Lelaki buta itu menekan pedang itu hingga terhunjam dan membunuh si Ummu Walad, lalu bayi yang dikandung si Ummu Walad pun terjatuh di antara kedua kakinya sehingga darah pun mengotori tempat tidur. Keesokan paginya, disebutkanlah peristiwa tersebut kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau pun mengumpulkan orang-orang, lalu berkata, “Aku bersumpah dengan nama Allah, hendaklah lelaki yang berbuat apa yang telah diperbuatnya berdiri! Aku mempunyai hak atasnya.” Maka berdirilah lelaki buta itu, lalu berjalan dengan gemetaran melangkahi orang-orang yang ada di sana hingga duduk di hadapan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lelaki buta itu berkata, “Wahai Rasulullah, akulah pemilik Ummu Walad tersebut. Dia selalu mencaci maki dan mencelamu. Aku telah melarang dan mencegahnya berbuat begitu, tetapi dia tak jua mau berhenti dan tak bisa dicegah. Aku memiliki dua orang anak darinya yang keduanya laksana dua buah mutiara. Ummu Walad itu adalah teman hidupku. Kemarin, dia kembali mencaci maki dan mencelamu, maka aku pun mengambil pedang dan kutegakkan di atas perutnya lalu kutekan hingga terhunjam dan membunuhnya.” Lalu Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Kalian saksikanlah bahwa darah perempuan tersebut terbuang dengan sia-sia!” –SELESAI …

قالوا: فهذا الأعمى قتلها لِسَبِّها رسولَ الله – صلى الله عليه وعلى آله وسلم- ولم ينكر عليه رسول الله – صلى الله عليه وعلى آله وسلم- ذلك، ونحن نرى أن كثيرًا ممن دخل بلاد المسلمين من هؤلاء؛ يضرُّ ببلادنا أكثر من ضرر هذه الأَمَة، فلماذا تنكرون علينا قتلهم، وتوجبون علينا إرجاع أمرهم إلى ولاة الأمور ؟!

 

Mereka (kelompok tersebut –pent) mengatakan, “Lelaki buta ini membunuh si Ummu Walad lantaran caci makinya terhadap Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Di sisi lain), Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidak mengingkari perbuatan si lelaki buta tersebut yang membunuh si Ummu Walad. Kami memandang bahwa mayoritas dari orang-orang yang memasuki negeri kaum Muslimin itu lebih membahayakan negeri kami dibandingkan bahaya yang ditimbulkan oleh si Ummu Walad ini. Maka, bagaimana bisa kalian mengingkari kami atas pembunuhan yang kami lakukan terhadap mereka? Bagaimana bisa kalian mewajibkan kami untuk mengembalikan (penanganan) urusan mereka kepada pemerintah?”

 

والجواب على ذلك من وجوه – إن شاء  الله تعالى –:

الأول: من المعلوم أن القاضي لا يقضي إلا بالبينة – لاسيما في الدماء – وفي هذه القصة قَبِلَ النبي – صلى الله عليه وعلى آله وسلم- قول الأعمى – مع كونه قاتلًا – وعمل به، وأهدر دم هذه الأَمَة، فهذا حكم خاص بالنبي – صلى الله عليه وعلى آله وسلم- وأنه يجوز له أن يقضي بعلمه، دون الرجوع إلى البينات – بخلاف القضاة – ولا يكون ذلك إلا بوحْي من الله عز وجل له – صلى الله عليه وعلى آله وسلم-.

وقد قال السندي في تعليقه على ((سنن النسائي))([2]):((ولعله – صلى الله عليه وعلى آله وسلم- علم بالوحي صِدْقَ قوله)).اهـ.

 

Dan jawaban atas pertanyaan mereka tersebut akan kami kemukakan dari beberapa segi, insya Allah –ta’ala:

(Pertama): Telah dimaklumi bahwa hakim tidaklah memutuskan perkara kecuali berdasarkan bayyinah (bukti-bukti yang jelas), terutama dalam masalah darah. Dalam kisah tersebut, Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menerima ucapan lelaki buta tersebut –bersama kenyataan bahwa dia membunuh Ummu Walad tersebut- dan beliau memutuskan sikap berdasarkan ucapan lelaki buta tersebut (bukan berdasarkan bayyinah yang disodorkan –pent). Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun menganggap halal darah Ummu Walad tersebut (darahnya dianggap sia-sia). Maka, (penetapan hukum tanpa bayyinah) ini merupakan hukum yang hanya dikhususkan bagi Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– saja, dan bahwasanya beliau itu diperbolehkan untuk memutuskan hukum berdasarkan ilmunya tanpa harus merujuk kepada bayyinah –dan tentu saja hal ini berbeda dengan hakim (yang harus berdasarkan bayyinah). Tak lain tak bukan, keputusan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– (dalam perkara) tersebut sudah tentu berdasarkan wahyu dari Allah –‘Azza wa Jalla– yang disampaikan kepada beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Imam as-Sindi berkata dalam ta’liq-nya terhadap Sunan an-Nasa-i [2], “Barangkali beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengetahui kejujuran ucapan lelaki buta itu berdasarkan wahyu.”

 

فإن قيل: هذا تخصيص للحديث دون مخصوص.

فالجواب: يُخَصِّص ذلك قول النبي – صلى الله عليه وعلى آله وسلم-: ((لو يُعطَى الناس بدعواهم؛ لادَّعى ناس دماء رجال وأموالهم، ولكن اليمين على المُدَّعَى عليه)) -أخرجه البخاري في ((صحيحه)) برقم (٤٥٥٢) و مسلم في ((صحيحه)) برقم (١٧١١) وانظر  زيادة: ((البينة على المدَّعي)) والكلام عنها في ((إرواء الغليل)) برقم (٤٢٦١). فهذا الحديث يدل على أن العبرة ليست بمجرد الدعوى.

وقد قال – صلى الله عليه وعلى آله وسلم-: ((إنكم تختصمون إلي، ولعل بعضكم  أن يكون ألحن بالحجة من بعض؛ فأقضي له...)) الحديث ([3])

وهذا يدل على أن النبي – صلى الله عليه وعلى آله وسلم-كان يقضي بين الناس بالبينات، وقد يقضي بعلمه أحيانا، وهذا من خصائصه – صلى الله عليه وعلى آله وسلم- وليس ذلك لغيره على الراجح من أقوال أهل العلم.

 

Jika ada yang mengatakan, “Ini (ucapan kalian tersebut) merupakan pembatasan terhadap hadits tanpa adanya (petunjuk) akan pengkhususannya.”

Maka jawabannya: hal itu dikhususkan oleh ucapan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sendiri (dalam hadits) berikut, Seandainya segala sesuatu yang didakwakan oleh manusia itu diberi perkenanan (diterima), niscaya setiap orang akan (seenaknya) menuntut darah dan harta orang lain. Akan tetapi, sumpah itu wajib bagi orang yang dituntut (jika ia mengingkari tuntutan yang dituduhkan kepadanya).” Hadits ini dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Shahih-nya (4552) dan Muslim dalam Shahih-nya (1711). Juga lihat redaksi tambahan, “Akan tetapi, menghadirkan bayyinah itu menjadi kewajiban atas penuntut, sedangkan sumpah itu wajib bagi orang yang dituntut (jika ia mengingkari tuntutan yang diajukan kepadanya).” Silakan untuk meneliti pembicaraan atas redaksi tambahan tersebut di kitab Irwa’ al-Ghalil (4261). Dengan demikian, hadits ini menunjukkan bahwa ibrah (yang diambil oleh Hakim) itu tidak semata berdasarkan tuntutan saja (melainkan berdasarkan bayyinah).

Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– juga berkata, “Sesungguhnya kalian membawa perkara kalian kepadaku, dan barangkali sebagian di antara kalian lebih handal berargumentasi dari sebagian yang lain sehingga aku memutuskan perkara dengan memenangkan (orang yang lebih fasih argumentasi)nya.” [3] Dan ini menunjukkan bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– biasa memutuskan perkara di antara manusia berdasarkan bayyinah. Akan tetapi, terkadang beliau memutuskan perkara berdasarkan ilmunya (wahyu dari Allah), dan ini merupakan kekhususan bagi beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– saja, bukan bagi selain beliau berdasarkan pendapat yang paling kuat dari ucapan ahli ilmu.

 

الثاني: مما يدل على أن النبي – صلى الله عليه وعلى آله وسلم- لم يكن مُرِّخِّصًا لآحاد الناس بقتل من استحق القتل: أن الأعمى قام يتخطى الناس، وهو يتزلزل، أي كان خائفًا من فعله، وفي رواية: ((يتدلدل)) أي يضطرب في مشيه، فلو كان الأعمى يعلم أنه مرَّخص له في فعله  هذا؛ لما خاف من عاقبة ذلك، ولما خشي من سخط النبي – صلى الله عليه وعلى آله وسلم-.

وأيضًا: فالأعمى لم يأت معترفًا بفِعْلِهِ ابتداءً، بل جلس مع من جلس، ولم يقم مُخْبرًا بفعله إلا بعد أن وعظ الرسول- صلى الله عليه وعلى آله وسلم- الناس بقوله: ((أُنْشِدُ اللهَ رجلًا، فَعَل ما فَعَل، لي عليه حق؛ إلا قام)) فهذا يدل على أن الأعمى كان يعلم أنه ليس مرخَّصًا له في ذلك.

 

(Kedua): Di antara hal-hal yang menunjukkan bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tidak memberi rukhshah (keringanan) terhadap siapa pun yang membunuh orang yang berhak untuk dijatuhkan hukuman bunuh, yaitu bahwasanya lelaki buta itu berdiri dan berjalan melangkahi orang-orang dengan tubuh yang gemetaran, yakni dia takut lantaran perbuatannya. Dalam riwayat lain, “Bergoyang-goyang,” yakni berjalan terhuyung-huyung. Seandainya lelaki buta itu memang mengetahui bahwa dirinya merupakan orang yang diberi keringanan atas perbuatannya, niscaya dia tidak akan merasa takut akan akibat dari karena perbuatannya tersebut, dan tidak pula dia akan bercemas akan kemarahan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selain itu, lelaki buta tersebut tidak mendatangi Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sebagai pengaku yang memulai sendiri kedatangannya untuk mengakui perbuatan yang dilakukannya. (kenyataannya), dia ikut duduk bersama orang-orang lainnya di sana bukan sebagai orang yang mengabarkan perbuatannya kecuali setelah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berucap kepada manusia dengan ucapan, “Aku bersumpah dengan nama Allah, hendaklah lelaki yang berbuat apa yang telah diperbuatnya berdiri! Aku mempunyai hak atasnya.” Maka, hal ini menunjukkan bahwa lelaki buta tersebut mengetahui bahwa dirinya bukanlah orang yang diberi keringanan dalam hal tersebut.

 

الثالث: لو سلمنا بضعف ما سبق؛ فالأعمى يرى أن هذه أم ولده، وأن السيد يجوز له – في نظره- أن يقتل جاريته إذا ارتكبتْ ما يوجب الحد، ومع كون هذا مرجوحًا بما سبق؛ فأنتم لستم بولاة أمر، ولا سادة لمن تقتلونه من المسلمين وغيرهم!!

 

(Ketiga): Kalaupun –misalnya- kami menerima bahwa hal-hal yang kami kemukakan di atas lemah, maka (kami memandang bahwa hal itu dilakukan oleh) lelaki buta tersebut karena dia beranggapan bahwa perempuan tersebut adalah Ummu Waladnya, sementara dia sendiri merupakan tuan (pemilik)nya yang boleh –menurut pandangannya- untuk membunuh budaknya jika si budak tersebut melakukan perbuatan yang berkonsekuensi hukuman had. (Akan tetapi), bersamaan dengan kenyataan bahwa pandangan seperti ini merupakan pandangan yang marjuh (tidak kuat) berdasarkan hal-hal yang telah kami kemukakan di atas, maka (kalaupun kalian berdiri di atas pandangan yang lemah ini), tetap saja kalian bukanlah pemerintah, bukan pula kalian itu tuan yang memiliki orang-orang yang kalian bunuh dari kalangan Muslimin dan selain Muslimin.

 

الرابع: لو سلمنا بأن هذا الحكم جائز لآحاد الناس؛ فلا شك أن ذلك يكون كذلك إذا لم يؤدِّ إلى مفسدة أكبر، والواقع بخلاف هذا، فإن قتل المعاهَدين من آحاد الرعية – لو سلمنا جدلا بجوازه – يؤدي إلى مفاسد عظيمة، والواقع أكبر شاهد على أنكم لا تقتصرون على قتل المسلمين وغيرهم، بل تقتلون أنفسكم أيضًا ! فأين الدليل، وأين الدعوى ؟! والله المستعان!!

 

(Keempat): Kalaupun –misalnya- kami menerima bahwa ini merupakan hukum yang boleh dilakukan oleh setiap orang, maka tidak syak lagi bahwa hal itu boleh dilakukan selama tidak mengantarkan kepada mafsadah (bahaya dan kerusakan) yang lebih besar. Sementara realitas yang terjadi sangat berkebalikan dengan hal itu (yakni dalam kenyataannya, hal tersebut justru mengantarkan kepada mafsadah yang lebih besar –pent) karena membunuh orang-orang kafir yang terikat perjanjian dengan anggota masyarakat –kalaupun –misalnya- kami terima bahwa hal tersebut boleh- ternyata malah mengantarkan kepada mafsadah-mafsadah yang sangat besar. Realitaslah yang menjadi sebesar-besar bukti bahwa sesungguhnya kalian bukan hanya sebatas membunuh kaum Muslimin dan selain Muslimin saja, bahkan membunuh diri kalian sendiri juga. Maka di mana dalil kalian? Di mana pula klaim kalian? Wallah al-musta’an

 

(تنبيـه): أصحاب هذه الأفكار إذا عجز الواحد منهم عن تحقيق مراده؛ فإنه يبادر بقتل نفسه، وقتل إخوانه المشاركين معه إن أمكن؛ خشية أن يُقْبض عليهم، ويتعرضَوا لما يفضي إلى إفشاء سرِّهم، فجمعوا في ذلك عددًا من الجرائم، وهذه عاقبة من ترك منهج العلماء، ولقَّط دينه من هنا وهناك، فنعوذ بالله من خاتمة السوء!!

 

(Peringatan): Orang-orang yang berpaham seperti ini, apabila salah seorang di antara mereka tak mampu mewujudkan tujuannya, maka dia pun segera membunuh dirinya sendiri, dan jika memungkinkan, dia pun membunuh juga saudara-saudaranya yang ikut serta dalam tugas bersamanya. Hal itu dilakukan karena khawatir jika sampai tertangkap (oleh musuh) dan mengakibatkan terbongkarnya rahasia mereka. Demikianlah, mereka menggabungkan sejumlah kejahatan dalam aksi mereka, dan ini merupakan akibat dari sikap dan tindakan meninggalkan manhaj ahli ilmu, lalu memungut agamanya dari sana sini. Kami memohon perlindungan Allah dari kesudahan yang buruk …

 

 

Bandung, 23 Desember 2015

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

[1] Dikeluarkan oleh Abu Dawud (4361) dan an-Nasa-i (4070). Lihat pula takhrij di kitabku Kasf al-Ghummah: Bayan Khasha-ish Rasul –shallallahu ‘alaihi wa ‘ala Alihi wa sallam- wa al-Ummah (halaman: 234), dan sanadnya shahih …

[2] (4/108), Penerbit Dar al-Fikr …

[3] Dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Shahih-nya (6967) dan Muslim dalam Shahih-nya (1713) …

Bahkan Menjadi Tabir bagi Cahaya …

motor

Kau membunuh nyala untuk melenyapkan bayang-bayang. Kubilang, kau justru meluaskan bayang menjadi seluruh … –bahkan sebagai yang tergelap …

 

*

**

 

http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=48382

 

السؤال: ما نصيحتكم لنا في قراءة تفسير الظلال؟

 

Syaikh ‘Abd Muhsin al-‘Abbad –hafizhahullah– ditanya:

Apa nasihat kalian kepada kami tentang membaca tafsir azh-Zhilal al-Quran?

 

الجواب: تفسير الظلال للشيخ سيد قطب رحمه الله فيه خلط بين الغث والسمين، وهو من الكتاب في الحقيقة وليس من العلماء، والعلم لا يحصل من مثل هذا الكتاب، بل يمكن للإنسان أن يبتلى بشيء مما في الكتاب، أو يحصل له شيء مما فيه خطورة بسبب ما هو موجود في الكتاب من الأمور التي لا تليق ولا تنبغي.

 

Syaikh ‘Abd Muhsin al-‘Abbad –hafizhahullah– menjawab:

Tafsir azh-Zhilal al-Quran karya Sayyid Quthb –rahimahullah– di dalamnya tercampur antara sekam dengan padi. Sayyid Quthb itu –pada hakikatnya- termasuk kalangan penulis saja, bukan termasuk kalangan ulama, sedangkan ilmu itu tidaklah akan diperoleh dari kitab semacam ini. Bahkan sangat mungkin seseorang malah tertimpa suatu musibah atau perkara yang berbahaya dari dalam kitab tersebut berupa hal-hal yang tak pantas dan tak seharusnya.

 

والإنسان لا يتسع عمره لأن يقرأ كل شيء، وهناك كتب سليمة، وفائدتها كبيرة، وهي كتب علمية، وأصحابها من أهل العلم الذين يعول عليهم سواء في المتقدمين أو المتأخرين، فكون الإنسان يقرأ في مثل تفسير ابن جرير، وتفسير ابن كثير، وتفسير الشيخ عبد الرحمن بن سعدي من المعاصرين يجد فيها الخير الكثير، ويجد كلام العلماء، ويجد نفَسَ العلم والعلماء، لا سيما مثل تفسير ابن سعدي رحمه الله، فهو تفسير نفيس مع وجازته، عباراته واضحة سلسة، وفيه استنباطات دقيقة، وهو كتاب يصلح للخواص والعوام، لو قرئ على العوام في المساجد حصلوا منه الفوائد وعرفوا معاني القرآن، ولو اطلع عليه الخواص لوجدوا فيه العلم ودقة الاستنباط، فإن الرجل أعطي فهماً في كتاب الله عز وجل، ووفق للاعتناء به، فمن يقرأ كتبه وتفسيره يجد العلم الغزير، ويجد كلام العالم، ولهجة العالم التي هي واضحة وجلية.

 

Dan seseorang itu, takkan cukup umurnya untuk membaca segala hal, sementara masih terdapat kitab-kitab (lain) yang salimah lagi banyak faidahnya, yaitu kitab-kitab ilmiah yang ditulis oleh orang-orang dari kalangan ahli ilmu yang tepercaya, sama saja baik dari kalangan mutaqaddimin (ulama terdahulu) maupun muta-akhirin (ulama terkemudian). Maka hendaklah seseorang itu membaca (kitab tafsir) semisal Tafsir Ibn Jarir, Tafsir Ibn Katsir, juga Tafsir Syaikh ‘Abd ar-Rahman as-Sa’di –dari kalangan kontemporer- niscaya akan dia dapati di dalam kitab-kitab tersebut kebaikan yang banyak, ucapan-ucapan para ahli ilmu, juga nafas ilmu dan ulama. Apalagi kitab semisal Tafsir Ibn Sa’di –rahimahullah– yang merupakan kitab tafsir yang sangat bagus sekaligus ringkas, begitu jelas dan lembut penjelasan-penjelasannya, juga memuat istinbath-istinbath yang halus. Tafsir as-Sa’di itu baik untuk dibaca oleh kalangan terpelajar maupun awam. Seandainya Tafsir Ibn Sa’di itu dibacakan kepada kalangan awam di masjid-masjid, niscaya mereka akan memperoleh faidah-faidah dari dalamnya serta mengetahui makna-makna al-Quran. Juga seandainya Tafsir Sa’di itu ditelaah oleh orang-orang terpelajar, niscaya akan mereka dapati ilmu di dalamnya beserta istimbath yang halus. Sungguh Syaikh as-Sa’di itu diberi pengertian terhadap kitab Allah ‘Azza wa Jalla dan diberi taufik untuk mencurahkan perhatian terhadapnya. Siapa yang membaca kitab-kitab beliau serta tafsirnya, niscaya kan didapatinya ilmu yang melimpah, kan didapatinya ucapan-ucapan para ulama serta aksen seorang alim yang begitu jelas dan terang.

 

وأما كتاب سيد قطب فإن فيه ما فيه، فعلى الإنسان أن يشتغل بما هو خير، وبما هو مأمون الجانب، وبما يأمن على نفسه العواقب منه من كتب نافعة، وأما مثل هذا الكتاب الذي فيه تخليط، وفيه جموح فكري، وإرخاء القلم بأن يكتب أموراً لا تنبغي ولا تصلح، كالكلام في بعض الأنبياء، بأن يقول عن موسى: إنه عصبي، ويقول عن عثمان رضي الله عنه في بعض كتبه: إن خلافته فجوة، وهذا حط من شأن عثمان، وأنه في خلافته أدركته الشيخوخة، وأنها فجوة.

 

Adapun kitab Sayyid Quthb, maka di dalamnya terdapat apa yang memang terdapat di dalamnya. Maka selayaknya seseorang itu menyibukkan diri saja dengan hal yang baik, menyibukkan diri dengan apa yang aman, juga dengan hal yang akibat-akibatnya tak membahayakan dirinya (dengan membaca) kitab-kitab yang bermanfaat. Adapun kitab semisal kitab ini (yakni az-Zhilal a-Quran), yang campur baur kandungan di dalamnya, berisi pemikiran yang bebas dan begitu lapang mengguratkan pena untuk menuliskan perkara-perkara yang tak layak dan tak seharusnya dituliskan sebagaimana perkataannya mengenai sebagian nabi. Sayyid Quthb mengatakan tentang Nabi Musa, “Sesungguhnya Musa itu seorang yang ta’ashub (fanatik golongan),” juga mengatakan tentang ‘Utsman –radhiyallahu ‘anhu– pada sebagian kitabnya, “Sesungguhnya kekhilafahannya itu merupakan celah (pengisi kekosongan antara ‘Umar dengan ‘Ali),” dan ini merupakan penghinaan (sikap merendahkan) terhadap kedudukan ‘Utsman, dan (juga mengatakan) bahwa ketika ‘Utsman menjabat sebagai khalifah, beliau telah sangat tua dan kekhalifahannya merupakan celah pengisi kekosongan.

 

هذا كلام ساقط لا يصلح ولا يليق، بل أمير المؤمنين عثمان بن عفان رضي الله عنه حصل في زمنه الخير الكثير، وحصلت الفتوحات، وكان إلى نهاية حياته في عقله وفهمه وعلمه، ما حصل عنده شيء يجعل مثل هذا الشخص يقول: إنه أدركته الشيخوخة، وأن خلافته كانت فجوة.

هذا كلام ساقط خدمة لأعداء الإسلام والمسلمين الذين يريدون أن يأخذوا ممن ينتسب إلى السنة شيئاً يستدلون به على أهل السنة.

 

Ini merupakan perkataan yang hina, tidak boleh dan tak seharusnya diucapkan. Bahkan (yang benar), Amir al-Mu’minin ‘Utsman bin ‘Affan –radhiyallahu ‘anhu– itu mencapai kebaikan yang banyak pada masa pemerintahannya, terbuka negeri-negeri (kafir ke tangan kaum Muslimin), dan sampai akhir kehidupannya, ‘Utsman bin ‘Affan senantiasa bersama akal, pemahaman, dan ilmunya. Tidak terdapat sesuatu pun pada diri ‘Utsman bin ‘Affan yang bisa dijadikan alasan oleh orang semisal ini (Sayyid Quthb) untuk mengatakan, “Bahwasanya dia menjabat sebagai khalifah dalam keadaan telah sangat tua, dan kekhalifahannya itu merupakan celah pengisi kekosongan.” Ini merupakan perkataan yang hina, perkataan yang memberi pelayanan terhadap musuh-musuh Islam dan kaum Muslimin yang memang berkeinginan untuk mengambil perkataan-perkatan dari orang yang menisbatkan dirinya kepada Sunnah sebagai argumentasi (untuk menentang) Ahl a-Sunnah.

 

والحاصل: أن مثل هذا الكتاب لا ينبغي أن يشتغل به، وإنما يشتغل بما هو مأمون الجانب، وبما فيه السلامة، وبما فيه العلم، والكتاب الذي يخرج بنتيجة وبسلامة، يخرج الإنسان منه بعلم وبسلامة، أما كتاب سيد قطب فإنه لا يحصل فيه علماً، وقد يخرج منه ببلاء.

 

Sebagai kesimpulan, bahwasanya tidak layak bagi seseorang untuk bersibuk-sibuk dengan kitab semacam ini (azh-Zhilal al-Quran). Seyogianya seseorang itu hanya menyibukkan diri dengan kitab yang aman, kitab yang di dalamnya berisi keselamatan dan ilmu, kitab yang memberikan hasil yang bermanfaat lagi aman, kitab yang seseorang memperoleh dari dalamnya ilmu dan keselamatan. Adapun kitab Sayyid Quthb, sesungguhnya tidaklah seseorang akan memperoleh ilmu dari dalamnya, bahkan dia akan mendapatkan musibah dari dalamnya.

 

وأما طعنه في عمرو بن العاص رضي الله عنه، فهو موجود في كتاب شخصيات إسلامية. تكلم عن عمرو بن العاص ومعاوية قال: إنهم أصحاب غش ونفاق.

 

Adapun celaannya terhadap ‘Amr bin al-‘Ash –radhiyallahu ‘anhu, itu tertera di kitab Syakhsiyat Islamiyah. Dia berbicara mengenai ‘Amr bin al-‘Ash dan Mu’awiyah dengan mengatakan, “Sesungguhnya mereka itu kaum penipu daya sekaligus munafiq.”

 

هذا معاوية بن أبي سفيان كاتب الوحي عنده غش، فمعناه: أنه يدخل في القرآن شيئاً ليس منه، وهو كاتب الوحي، والرسول ائتمنه على كتابة الوحي! نعوذ بالله من الخذلان! وأبو زرعة الرازي يقول: من ينتقص أحداً من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم فإنه زنديق، وذلك أن الرسول حق، والكتاب حق، وإنما أدى إلينا الكتاب والسنة أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم، وهم يريدون أن يجرحوا شهدونا ليبطلوا الكتاب والسنة، والجرح بهم أولى وهم زنادقة.

 

Mu’awiyah bin Abi Sufyan, sang kerani wahyu itu, menurut Sayyid Quthb adalah seorang penipu daya. Pengertiannya, bahwasanya Mu’awiyah memasukkan ke dalam al-Quran sesuatu yang tidak termasuk al-Quran. Padahal beliau adalah seorang kerani wahyu, dan rasul memercayainya untuk menuliskan wahyu –na’udzu billahi min al-khidzlan (kami berlindung kepada Allah dari kehinaan).

Abu Zur’ah ar-Razi berkata, “Siapa yang mencela salah seorang shahabat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia itu seorang zindiq. Hal itu karena rasul itu haq, kitab itu haq, sementara yang menyampaikan al-Kitab dan as-Sunnah itu kepada kita adalah para shahabat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan demikian mereka (yang mencela shahabat) itu bermaksud mencederai saksi-saksi kita (yakni para shahabat) untuk  membatalkan al-Kitab dan as-Sunnah. Para pencela (shahabat) itulah yang sebenarnya lebih layak untuk dicela karena mereka itu kaum yang zindiq.”

 

Bandung, 1 Mei 2013

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Tidaklah ‘Umar Menyingkap Selubung Betis Ummu Kultsum …

singkap

Berikut ini salah satu di antara kisah-kisah yang tidak benar berkaitan dengan ‘Umar bin al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhu … kisah yang rapuh, lemah, tidak tegak di atas pijakan yang kuat …

 

*

**

 

Syaikh ‘Ali Hasyisy al-Mishri –hafizhahullah

Dari kitab: al-Qashash al-Wahiyah halaman 67-71

 

أولا: متن القصة

رُوِيَ عن أبي جعفر قال: “خطب عمر بن الخطاب إلى علي ابنته أم كلثوم فذكر له صغرها، فقيل له إنه ردك فعاوده، فقال له علي: أبعث بها إليك فإن رضيت فهي امرأتك، فأرسل بها إليه، فكشف عن ساقيها فقالت: أرسل، لولا أنك أمير المؤمنين لصككت عينيك” وفي رواية “للطمت عينيك”.

 

Pertama: MATAN (Redaksi Kisah)

 

Diriwayatkan dari Abu Ja’far, dia berkata:

‘Umar bin al-Khaththab mengajukan pinangan kepada ‘Ali (untuk memperistri) putri ‘Ali, Ummu Kultsum. ‘Ali pun menyebutkan bahwa Ummu Kultsum masih kecil, lalu dikatakan kepada ‘Umar, “Sesungguhnya ‘Ali menolak pinanganmu.” Maka ‘Umar pun mengajukan lagi pinangan. ‘Ali berkata kepada ‘Umar, “Aku akan mendatangkannya kepadamu, Jika dia rela, maka dia menjadi istrimu.” Maka ‘Ali pun mendatangkan Ummu Kultsum kepada ‘Umar, lalu ‘Umar menyingkap (pakaian) Ummu Kultsum (untuk melihat) betisnya. Ummu Kultsum pun berkata, “Lepaskan! Kalau saja kamu bukan Amir al-Mukminin, niscaya telah kuhantam kedua matamu!”

 

ثانيا: التخريج

هذه القصة أخرجها سعيد بن منصور في “سننه” (١/١٤۷)، وعبد الرزاق في “المصنف (٦/١٦٣) من طريق سفيان عن عمرو بن دينار عن أبي جعفر قال: فذكره.

 

Kedua: TAKHRIJ (Sumber Pemberitaan Kisah)

Kisah tersebut dikeluarkan oleh Sa’id bin Manshur di kitab Sunan-nya (1/147), juga ‘Abd ar-Razzaq di kitab al-Mushannaf (6/173) dari jalan Sufyan, dari ‘Amr bin Dinar, dari Abu Ja’far, dia berkata: … -lalu menyebutkan kisah di atas.

 

ثالثًا: التحقيق

القصة: واهية وعلتها الانقطاع

 

Ketiga: TAHQIQ (Penelitian atas Validitas Kisah)

Kisah tersebut rapuh, dan yang menjadi penyakitnya adalah al-Inqitha’ (keterputusan sanad).

 

١- أبو جعفر أورده الحافظ ابن حجر في “التهذيب” (۹/٣١١ (قال: محمد بن علي بن الحسين بن علي بن أبي طالب الهاشمي أبو جعفر الباقر أمه بنت الحسن بن علي بن أبي طالب.
ثم نقل عن ابن البرقي قوله: “كان مولده (يعني أبا جعفر) سنة ست وخمسين.

 

(1) Abu Ja’far, dia disebutkan oleh al-Hafizh Ibn Hajar di kitab at-Tahdzib (9/311), “Muhammad bin ‘Ali bin al-Husain bin ‘Ali bin Abu Thalib al-Hasyimi, Abu Jafar al-Baqir. Ibunya adalah putri dari al-Hasan bin ‘Ali bin Abu Thalib,” kemudian Ibn Hajar menukil ucapan Ibn al-Barqi, “Dia dilahirkan –yakni Abu Ja’far- pada tahun lima puluh enam.”

 

۲- قال الحافظ في “التقريب” (۲/٥٤):

“عمر بن الخطاب بن نُفَيل … القرشي أمير المؤمنين مشهور، جم المناقب استشهد في ذي الحجة سنة ثلاث وعشرين.”

 

(2) Al-Hafizh Ibn Hajar berkata di kitab at-Taqrib (2/54), “’Umar bin al-Khaththab bin Nufail … al-Qurasyi Amir al-Mukminin, terkenal, berbudi pekerti agung, mati syahid pada bulan Dzul Hijjah tahun dua puluh tiga.”

 

٣- بالمقارنة بين تاريخ مولد أبي جعفر، وبين تاريخ وفاة عمر رضي الله عنه نجد أن أبا جعفر ولد بعد موت عمر رضي الله عنه بثلاث وثلاثين سنة من هذا الانقطاع يتبين عدم صحة القصة.

 

(3) Dengan memperbandingkan waktu kelahiran Abu Ja’far dengan waktu wafat ‘Umar –radhiyallahu ‘anhu, kita dapati bahwa Abu Ja’far baru dilahirkan tiga puluh tiga tahun kemudian setelah ‘Umar –radhiyallahu ‘anhu– wafat. Keterputusan ini menjelaskan tiadanya sisi kesahihan kisah tersebut.

 

٤- فائدة:

قال الإمام النووي في “التقريب” (۲/٣٤۹ تدريب):

“النوع الستون: التواريخ والوفيات: هو فن مهم به يعرف اتصال الحديث وانقطاعه، وقد ادعى قوم الرواية عن قوم فنُظِرَ في التاريخ فظهر أنهم زعموا الرواية عنهم بعد وفاتهم بسنين”.

 

(4) Faidah: al-Imam an-Nawawi berkata di kitab at-Taqrib (2/349 –Tadrib):

Sisi Keenam puluh: at-Tawarikh al-Wafayat, hal ini merupakan aspek yang penting yang dengannya akan diketahui kebersambungan hadits atau keterputusannya. Suatu kaum telah mengaku meriwayatkan hadits dari kaum lain namun setelah dicermati dalam tarikh ternyata jelas bahwa mereka hanya mengaku-aku saja setelah bertahun-tahun lamanya kaum (yang mereka maksud) itu wafat.

 

٥- وأبو جعفر أورده الإمام ابن أبي حاتم في كتابه “المراسيل” ترجمه (٣٤۰) حيث قال:

“محمد بن علي بن الحسين بن علي بن أبي طالب أبو جعفر”.

أخبرنا محمد بن حمويه بن الحسن قال: سمعت أبا طالب يعنى: أحمد بن حميد يقول: سألت أحمد بن حنبل عن محمد بن علي، سمع من أم سلمة شيئًا؟

قال: لا يصح أنه سمع.

قلت: فسمع من عائشة؟

فقال: لا!! ماتت عائشة قبل أم سلمة”.

ثم قال ابن أبي حاتم: “سمعت أبي يقول: “أبو جعفر محمد بن علي لم يلق أم سلمة” اه.

قلت: وأم سلمة، قال الحافظ ابن حجر في “التقريب” (۲/٦١۷): “هي هند بنت أبي أمية بن المغيرة بن عبد الله بن عمر بن المغيرة بن مخزوم المخزومية، أم سلمة، أم المؤمنين، تزوجها النبي صلى الله عليه وسلم بعد أبي سلمة سنة أربع وقيل ثلاث، وعاشت بعد ذلك ستين سنة، ماتت سنة اثنتين وستين.”

 

(5) Dan Abu Ja’far telah disebutkan oleh al-Imam Ibn Abi Hatim di dalam kitabnya al-Marasil (340) yang mengatakan, “Muhammad bin ‘Ali bin al-Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib, Abu Ja’far.”

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Hammawaih bin al-Hasan, dia berkata: aku mendengar Abu Thalib -yakni  Ahmad bin Humaid- berkata:

Aku bertanya kepada Ahmad bin Hanbal tentang Muhammad bin ‘Ali (yakni Abu Ja’far –pent), “Apakah dia mendengar dari Ummu Salamah?” Ahmad bin Hanbal menjawab, “Tidak benar bahwa dia mendengar dari Ummu Salamah.” Aku bertanya lagi, “Apakah dia mendengar dari ‘Aisyah?” Ahmad bin Hambal menjawab, “Tidak! ‘Aisyah wafat sebelum Ummu Salamah.”

Kemudian Ibn Abi Hatim berkata: Aku mendengar ayahku berkata, “Abu Ja’far Muhammad bin ‘Ali tidaklah bertemu dengan Ummu Salamah.”

 

Aku (Syaikh ‘Ali Hasyisy) katakan, al-Hafizh Ibn Hajar berkata tentang Ummu Salamah di kitab at-Taqrib (2/617), “Dia adalah Hindun binti Abi Umayyah bin al-Mughirah bin ‘Abdullah bin ‘Umar bin al-Mughirah bin Makhzum al-makhzumiyah, Ummu Salamah, bunda kaum Mukminin. Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- menikahinya setelah Abu Salamah wafat pada tahun keempat Hijriyah, dan ada yang mengatakan pada tahun ketiga. Ummu Salamah masih terus hidup selama enam puluh tahun setelah itu, dan wafat pada tahun enam puluh dua Hijriyah.”

 

قلت: ولم يصح له السماع من أم سلمة فكيف بعمر رضي الله عنه الذي مات قبل أم سلمة بتسع وثلاثين سنة. من هذا يتبين أن القصة واهية.

 

Aku katakan, tidak sahih bahwa Abu Ja’far mendengar dari Ummu Salamah. Lantas bagaimana (mungkin dia mendengar) dari ‘Umar –radhiyallahu ‘anhu– yang telah wafat tiga puluh sembilan tahun sebelum Ummu Salamah. Dari sini jelaslah bahwa kisah di atas lemah.

 

رابعا: طريق آخر

أخرجه عبد الرزاق في “المصنف” (٦/١٦٣) من طريق ابن جريج قال: سمعت الأعمش يقول: خطب عمر فذكر القصة.

 

Keempat: Jalur Periwayatan Lain

Dikeluarkan oleh ‘Abd ar-Razzaq di kitab al-Mushannaf (6/163) dari jalan Ibn Juraij, dia berkata: aku mendengar al-A’masy berkata, “’Umar mengajukan pinangan …,” lalu dia menyebutkan kisah tersebut.

 

خامسًا: التحقيق

الأعمش: هو سليمان بن مهران الأسدي الكاهلي. مولاهم أبو محمد الكوفي الأعمش.

نقل الحافظ ابن حجر في “التهذيب” (٤/١۹۷):) عن الخليلي أنه قال: “وقول ابن المنادي الذي سلف أن الأعمش أخذ بركاب أبي بكرة الثقفي غلط فاحش لأن الأعمش ولد إما سنة (٦١) أو سنة (٥۹) على الاختلاف في ذلك وأبو بكرة مات سنة إحدى أو اثنتين وخمسين فكيف يتهيأ أن يأخذ بركاب من مات قبل مولده بعشر سنين أو نحوها”. اه

قلت فكيف بعمر بن الخطاب رضي الله عنه والذي مات سنة ثلاث وعشرين أي قبل مولد الأعمش بثماني وثلاثين سنة.

ولذلك قال الإمام السيوطي في “التدريب” (١/۲۰٥): “مرسلات أبي إسحق الهمداني، والأعمش، والتيمي، ويحيى بن أبي كثير شبه لا شيء”.

قلت: وهذا الانقطاع شر من مجهول العين ومجهول الحال فهو مردود بالاتفاق بين العلماء وذلك للجهل بحال وعين الراوي المحذوف.

 

Kelima: TAHQIQ (Penelitian atas Validitas Kisah)

Al-A’masy adalah Sulaiman bin Mihran al-Asadi al-Kahili, maula mereka Abu Muhammad al-Kufi al-A’masy.

Ibn Hajar menukil di kitab at-Tahdzib (4/197): dari al-Khalili bahwasanya dia berkata, “Dan ucapan Ibn al-Munadi yang telah lalu bahwa al-A’masy memegang tali kekang unta Abu Bakrah ats-Tsaqafi merupakan kekeliruan yang buruk karena al-A’masy itu dilahirkan pada tahun enam puluh satu atau bisa jadi tahun lima puluh sembilan -terdapat perbedaan pendapat mengenai hal itu- sedangkan Abu Bakrah meninggal pada tahun lima puluh satu atau tahun lima puluh dua. Maka bagaimana mungkin al-A’masy memegang tali kekang orang yang telah meninggal sepuluh tahun sebelum dirinya dilahirkan atau sekitar itu.”

Aku katakan, lantas bagaimana pula dengan ‘Umar bin al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhu– yang meninggal pada tahun dua puluh tiga, yakni tiga puluh delapan tahun sebelum al-A’masy dilahirkan.

Terhadap hal itu, al-Imam as-Suyuthi berkata di kitab at-Tadrib (1/205), “Riwayat-riwayat mursal Abu Ishaq al-Hamdani, al-A’masy, at-Taimi, dan Yahya bin Abi Katsir sama-sama tiada apa-apanya (lemah/tidak bisa dijadikan sandaran –pent).”

Aku katakan, dan ini merupakan al-inqitha’ (keterputusan) yang buruk tersebab majhul al-‘ain sekaligus majhul al-hal , dan tentu saja riwayat pun jadi tertolak menurut kesepakatan ulama lantaran tidak diketahui tentang siapa dan bagaimana keadaan si periwayatnya.

 

سادسًا: تراجع الشيخ الألباني رحمه الله

لئلا يتقَوّل علينا متقول أو يتوهم واهم بأن القصة صحيحة مغترًا بأن الشيخ الألباني رحمه الله أوردها في السلسلة “الصحيحة” (١/١٥٦)، (١/١٥۸).

نقول: إن الشيخ الألباني رحمه الله، وجزاه الله عن الإسلام والمسلمين خير الجزاء تراجع عن ذلك في “السلسلة الضعيفة” (٣/٤٣٣-٤٣٤)، حيث قال:

 

Keenam: Syaikh al-Albani –rahimahullah– Mengoreksi Pendapatnya

Supaya orang tidak menuduh kami membuat kebohongan dan menganggap kami membuat-buat keragu-raguan dan teperdaya dengan alasan bahwa kisah tersebut sahih dan telah disebutkan oleh Syaikh al-Albani –rahimahullah– di kitab as-Silsilah ash-Shahihah (1/157-158), maka kami katakan, sesungguhnya Syaikh al-Albani -semoga Allah merahmatinya dan memberikan sebaik-baik balasan atas jasanya terhadap Islam dan kaum Mulsimin- telah mengoreksi sendiri pendapatnya (sebelumnya beliau menganggap sahih hadits tersebut lalu mengoreksinya –pent) dan menjelaskannya di kitab as-Silsilah adh-Dha’ifah (3/433-434) dengan mengatakan:

 

(١) تنبيه: كنت ذكرت في المصدر المذكور يعني “سلسلة الأحاديث الصحيحة” (١/١٥٦) نقلا عن “تلخيص الحبير” لابن حجر العسقلاني (ص۲۹١-۲۹۲) من الطبعة الهندية رواية عبد الرزاق، وسعيد بن  منصور وابن أبي عمر، عن سفيان عن عمرو بن دينار عن محمد بن علي بن الحنفية أن عمر خطب إلى علي ابنته أم كلثوم …  القصة، وفيها أن عمر رضي الله عنه كشف عن ساقِها.

 

(1) Peringatan: dulu aku telah menyebutkan di dalam kitab Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah (1/156) dengan menukil dari  Talkhish al-Habir karya Ibn Hajar al-‘Asqalani (halaman 291-292) terbitan al-Hindiyah, riwayat ‘Abd ar-Razzaq, Sa’id bin Manshur, dan Ibn Abi ‘Umar, dari Sufyan dari ‘Amr bin Dinar dari Muhammad bin ‘Ali bin al-Hanafiyah, “Bahwasanya ‘Umar mengajukan pinangan kepada ‘Ali (untuk memperistri) putrinya, Ummu Kultsum …,” dan di dalamnya disebutkan bahwa ‘Umar –radhiyallahu ‘anhu– menyingkap (pakaian) Ummu Kultsum (untuk melihat) betisnya.

 

(۲) وقد اعتبرتها يومئذ صحيحة الإسناد، اعتمادًا مني على ابن حجر -وهو الحافظ الثقة- وقد أفاد أن راويها هو ابن الحنفية، وهو أخو أم كلثوم، وأدرك عمر ودخل عليه.

 

(2) Pada saat itu aku menganggap sanad riwayat tersebut sahih dengan bersandar kepada (ucapan) Ibn Hajar -yang merupakan al-Hafizh lagi tsiqah– yang memberikan penjelasan bahwa si periwayat (kisah tesebut) adalah Ibn al-Hanafiyah -yang merupakan saudara lelaki dari Ummu Kultsum- yang mendapati masa ‘Umar dan bertemu dengan ‘Umar.

 

(٣) فلما طبع “مصنف عبد الرزاق” بتحقيق حبيب الرحمن الأعظمي، ووقفت على إسنادها فيه (١۰/١۰٣٥۲) تبين لي أن في السند إرسالا وانقطاعا، وأن قوله في “التلخيص”: “… ابن الحنفية” خطأ لا أدري سببه، فإنه فى “المصنف …”: “… عمرو بن دينار عن أبي جعفر قال: …

وكذلك هو عند سعيد بن منصور (٣رقم ٥۲۰) كما ذكر الشيخ الأعظمي.

 

(3) Ketika Mushannaf ‘Abd ar-Razzaq dicetak, dengan tahqiq Habib ar-Rahman al-A’zhami, aku berhenti pada sanad kisah tersebut (10/10352), menjadi jelaslah bagiku bahwa sanadnya mursal dan inqitha’, (dengan demikian) ucapan Ibn Hajar di kitab at-Talkhis yang mengatakan, “… Ibn al-Hanafiyah,” merupakan kekeliruan yang tak kuketahui sebabnya, karena sesungguhnya di dalam kitab al-Mushannaf, sanadnya adalah, “… ‘Amr bin Dinar dari Abu Ja’far, dia berkata ….” Seperti itu juga menurut Sa’id bin Manshur (3/520) sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh al-A’zhami.

 

(٤) وعليه فراوي القصة ليس ابن الحنفية، لأن كنيته أبو القاسم، وإنما هو محمد بن علي بن الحسين بن علي بن أبي طالب كما تقدم؛ لأنه هو الذي يكني بأبي جعفر، وهو الباقر.
وهو من صغار التابعين، روى عن جديه الحسن والحسين وجد أبيه علي بن أبي طالب مرسلا كما في “التهذيب” وغيره.

 

(4) Dengan demikian periwayat kisah tersebut bukanlah Ibn al-Hanafiyah karena nama kun-yah Ibn al-Hanafiyah adalah Abu al-Qasim. Periwayat kisah tersebut adalah Muhammad bin ‘Ali bin al-Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib sebagaimana yang telah lalu, karena Muhammad bin ‘Ali inilah yang memiliki nama kun-yah Abu Ja’far al-Baqir. Dia termasuk kalangan tabi’in shighar dan meriwayatkan dari kedua kakeknya, yaitu al-Hasan dan al-Husain, juga dari kakek ayahnya, yaitu ‘Ali bin Abi Thalib, secara mursal sebagaimana dijelaskan di kitab at-Tahdzib dan kitab lainnya.

 

(٥) فهو لم يدرك عليا بَلْه عمر، كيف وقد ولد بعد وفاته بأكثر من عشرين سنة، فهو لم يدرك القصة يقينا، فيكون الإسناد منقطعا.

 

(5) Abu Ja’far tidaklah mendapati masa kehidupan ‘Ali (bin Abi Thalib), apalagi ‘Umar. Bagaimana tidak, sebab Abu Ja’far dilahirkan lebih dari dua puluh tahun setelah ‘Ali wafat. Oleh karena itu, tidaklah Abu Ja’far mendapatkan kisah secara pasti sehingga sanad kisah tersebut munqathi’.

 

(٦) فرأيت من الواجب علي -أداءً للأمانة العلمية- أن أهتبل هذه الفرصة وأن أبين للقراء ما تبين لي من الانقطاع. والله تعالى هو المسئول أن يغفر لنا ما زلت به أقلامنا، ونَبَت عن الصواب أفكارنا، إنه خير مسئول”. اه.

 

(6) Maka aku memandang, termasuk sebagai hal yang wajib bagi diriku -menyampaikan amanat ilmiyah- pada kesempatan ini untuk menjelaskan kepada para pembaca tentang apa yang telah jelas bagiku mengenai keterputusan sanad kisah ini. Dan Allah ta’ala, Dia-lah yang dimintai untuk mengampuni kekeliruan yang kami tuliskan lewat pena-pena kami, juga pemikiran-pemikiran kami yang tidak sesuai dengan kebenaran. Sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik yang dimintai permohonan … (selesai ucapan Syaikh al-Albani –pent).

 

قلت: هذا هو تراجع الشيخ الألباني رحمه الله سائلا الله المغفرة لأن هذا الأمر عظيم، يحسبه من لا دراية له بهذا العلم هينا. فكيف بالأحداث الذين لا دراية لهم بهذا الفن من قصاص ووعاظ والذين يستخفون العوام بالقصص الواهية التي عندما نبين ضررها ونكشف عوارها يغضبون ويتألمون وإنا لله وإنا إليه راجعون.

 

Aku katakan, inilah sikap rujuk Syaikh al-Albani seraya memohon ampunan kepada Allah lantaran besarnya perkara ini, sementara orang-orang yang tak memiliki ilmu di bidang ini menganggap bahwa perkara (hadits dan kisah) ini hanyalah hal yang remeh. Lantas bagaimana halnya dengan cerita-cerita dari orang-orang yang tak memiliki ilmu pada bidang ini dari kalangan para pendongeng dan para pemberi nasihat, juga kalangan orang-orang yang membodoh-bodohi orang awam dengan kisah-kisah yang lemah yang apabila kami jelaskan dampak buruk dari kisah-kisah lemah itu serta kami singkap kelemahan-kelemahannya, mereka pun lantas marah dan sakit hati, wa inna lillahi wa inna ilaihi raji’un

 

فلماذا لا يرجعون تائبين مستغفرين متأسين بمحدث الديار الشامية رحمه الله وبما أورده الإمام الذهبي رحمه الله في “الميزان” (٤/٩٧) في ترجمة مسروح أبي شهاب نقلا عن ابن أبي حاتم قال: “سألت أبي عن مسروح، وعرضت عليه بعض حديثه فقال:”يحتاج إلى توبة من حديث باطل رواه عن الثوري. قال الذهبي: إي والله، هذا هو الحق، إن كل من روى حديثا يعلم أنه غير صحيح، فعليه التوبة أو يهتكه”. اه.

 

Mengapakah mereka tidak kembali sebagai orang-orang yang menyesali (kesalahan), sebagai orang yang memohon ampun (kepada Allah), serta bersikap rujuk seperti sikap rujuknya muhaddits negeri Syam –rahimahullah, juga bersikap seperti apa yang disebutkan oleh al-Imam adz-Dzahabi –rahimahullah– di kitab al-Mizan (4/97) tentang Masruh Abi Syihab dengan menukil dari Ibn Abi Hatim:

Ibn Abi Hatim berkata, “Aku bertanya kepada ayahku tentang Masruh seraya menunjukkan kepada ayah sebagian hadits Masruh.” Ayahku menjawab, “Ia perlu bertobat dari hadits batil yang dia riwayatkan dari ats-Tsauri.”

Imam adz-Dzahabi berkata, “Demi Allah, ini merupakan kebenaran. Sesungguhnya setiap orang yang telah meriwayatkan hadits, lalu mengetahui bahwa ternyata hadits itu tidak shahih, maka dia wajib untuk bertobat atau menjelaskan kelemahannya.”

 

(يا أيها الذين آمنوا كونوا قوامين بالقسط شهداء لله ولو على أنفسكم أو الوالدين والأقربين) -النساء: ١٣٥

 

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biar pun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. (QS. an-Nisa’: 135)

 

هذا ما وفقني الله إليه وهو وحده من وراء القصد.

 

Inilah yang –semoga Allah memberi taufik kepadaku terhadap tulisan ini, dan Dia-lah satu-satunya yang menjadi tujuan …

 

———————

*Catatan dari saya: kisah di atas tidaklah benar, namun pernikahan ‘Umar bin al-Khaththab dengan Ummu Kultsum binti ‘Ali memang terjadi. Ummu Kultsum binti ‘Ali wafat pada hari yang sama dengan putranya, yaitu Zaid bin ‘Umar bin al-Khaththab … –radhiyallahu ‘anhum

 

Bandung 27 April 2013

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–