Bukan Lantaran Dirinya yang Berucap, tetapi Lantaran Kebenaran yang Diucapkannya …

IMG-20160608-01348

Imam Ibn ‘Abd al-Barr –rahimahullah– berkata di kitab at-Tamhid:

 

وسمعت غير واحد من شيوخي يذكر أن الغازي بن قيس لما رحل إلى المدينة سمع من مالك وقرأ على نافع القاري فبينما هو في أول دخوله المدينة في مسجد رسول الله صلى الله عليه وسلم إذ دخل ابن أبي ذئب فجلس ولم يركع فقال له الغازي قم يا هذا فاركع ركعتين؛ فإن جلوسك دون أن تحيي المسجد بركعتين جهل أو نحو هذا من جفاء القول فقام ابن أبي ذئب فركع ركعتين وجلس فلما انقضت الصلاة أسند ظهره وتحلق الناس إليه فلما رأى ذلك الغازي بن قيس خجل واستحيا وندم وسأل عنه فقيل له هذا ابن أبي ذئب أحد فقهاء المدينة وأشرافهم فقام يعتذر إليه فقال له ابن أبي ذئب يا أخي لا عليك أمرتنا بخير فأطعناك وبالله التوفيق

 

Aku mendengar bukan hanya dari satu orang guruku saja yang menyebutkan bahwa tatkala al-Ghazi bin Qais berangkat ke Madinah, ia mendengar hadits dari Malik dan membaca di hadapan Nafi’ al-Qari. Pada awal-awal kedatangannya di Madinah, saat ia berada di Masjid Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datanglah Ibn Abi Dzi’b memasuki masjid. Ibn Abi Dzi’b langsung duduk di dalam masjid tanpa melaksanakan shalat dua rakaat (tahiyyah al-masjid) terlebih dahulu. Maka berkatalah al-Ghazi bin Qais kepada Ibn Abi Dzi’b, “Berdirilah, wahai kamu! Shalatlah dua rakaat terlebih dahulu karena sesungguhnya dudukmu di dalam masjid tanpa terlebih dulu menghormati masjid dengan melaksanakan dua rakaat shalat merupakan suatu kebodohan!” Atau al-Ghazi bin Qais mengucapkan perkataan keras lainnya yang semacam itu. Maka berdirilah Ibn Abi Dzi’b, lalu melaksanakan shalat dua rakaat. Selepas shalat, Ibn Abi Dzi’b pun duduk seraya menyandarkan punggungnya (ke dinding), lalu orang-orang pada duduk mengelilinginya (membentuk majelis halqah atau halaqah untuk belajar kepadanya). Melihat hal itu, al-Ghazi bin Qais pun malu hati dan menyesali sikapnya tadi. Ia lantas bertanya (kepada orang-orang) tentang lelaki yang tadi ditegurnya. Maka orang-orang menjawab, “Dia adalah Ibn Abi Dzi’b, salah seorang ahli fiqh Madinah dan yang paling mulia di antara mereka.” (Mendengar itu), al-Ghazi bin Qais pun berdiri dan meminta maaf kepada Ibn Abi Dzi’b. Lantas Ibn Abi Dzi’b berkata kepada al-Ghazi bin Qais, “Wahai saudaraku, tak ada kewajibanmu untuk meminta maaf kepadaku. Kau memerintahkan kami terhadap kebaikan maka kami pun menaatimu!” Wabillah at-taufiq … –SELESAI …

 

Al-Ghazi bin Qais adalah Abu Muhammad al-Andalusi. Ia mengambil ilmu dari Ibn Juraij, Ibn Abi Dzi’b, Imam Malik, dan Nafi’ bin Abi Nu’aim. Dialah orang pertama yang menyebarkan Muwatha’ Malik ke negeri Andalusia …

 

Ibn Abi Dzi’b adalah Muhammad bin ‘Abd ar-Rahman bin al-Mughirah, seorang Imam yang faqih dan dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal bahwa Ibn Abi Dzi’b itu lebih utama daripada Imam Malik –rahimahullah

 

Dalam kisah itu tergambar jiwa tawadhu’, inshaf, dan kelapangan dada Ibn Abi Dzi’b. Ia bersedia menerima kebenaran -dan mengamalkannya- meskipun kebenaran itu datang dari orang yang tak dikenalnya, bahkan orang yang tak dikenalnya itu kemudian menjadi muridnya dan mengambil ilmu darinya …

 

Syaikh ‘Ali bin Hasan al-Halabi –hafizhahullah– berkata tentang kisah tersebut:

 

إنها النفوس العالية، التي تجعل الحقَّ فوق كل شيء … فـ…أين-أين-هي-اليومَ-؟! … وما أبرّئ نفسي-والله-.

 

Sesungguhnya itu adalah jiwa-jiwa yang luhur, jiwa-jiwa yang menjadikan kebenaran di atas segala sesuatu … maka di manakah -ke manakah- jiwa-jiwa yang luhur itu pada hari ini?!? Dan tidaklah aku menganggap suci jiwaku sendiri … -demi Allah … -SELESAI …  

 

Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i –rahimahullah– berkata (kitab: Ijabah as-Sa-il ‘ala Ahamm al-Masa-il, halaman 207-208):

 

يجب عليك أن تقبل الحق ممن أتى به٬ وهو حق٬ يجب أن تقبل الحق ممن أتى به٬ والنبي -صلى الله عليه وسلم- قد قال في شأن الشيطان: صدقك وهو كذوب. وقال أيضاً كما في سنن النسائي بإسناد صحيح عن قتيلة –رضي الله عنها-قالت: جاء اليهود إلى رسول الله -صلى الله عليه وسلم- فقالوا: إنكم  تشركون إنكم تنددون وتقولون ما شاء الله وشاء محمد٬ وتقولون: والكعبة٬ فقال النبي -صلى الله عليه وسلم: إذا حلفتم فقولوا ورب الكعبة وقولوا ما شاء ثم شاء محمد. وهكذا من حديث الطفيل بن عمرو في مسند أحمد وفي سنن ابن ماجة نحو هذا٬ فالنصيحة والحق يقبل ممن جاء به …

 

Wajib atasmu untuk menerima kebenaran dari orang yang datang dengan membawa kebenaran itu. Wajib untuk menerima kebenaran dari orang yang datang membawa kebenaran itu. Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sendiri berkata tentang perkara setan (dalam kisah Abu Hurairah yang menjaga zakat fithri –pent), “Ia (setan) berkata jujur kepadamu padahal ia seorang pendusta.” Beliau juga berkata sebagaimana terdapat dalam Sunan an-Nasa-i dengan sanad yang sahih dari Qutailah –radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Orang Yahudi mendatangi rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– lalu berkata, “Sesungguhnya kalian membuat tandingan-tandingan (bagi Allah), sesungguhnya kalian berlaku syirik karena kalian mengatakan atas kehendak Allah dan atas kehendak Muhammad.Kalian juga mengatakan demi Ka’bah.” Maka Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata (kepada para shahabat), “Jika kalian bersumpah, hendaklah kalian mengatakan Demi Rabb al-Ka’bah, dan hendaklah kalian juga mengatakan atas kehendak Allah kemudian atas kehendak Muhammad!” Demikian juga dalam hadits Thufail bin ‘Amr dalam Musnad Ahmad dan dalam Sunan Ibn Majah seperti itu. Maka nasihat dan kebenaran itu harus diterima dari orang yang datang dengan membawanya … –SELESAI …  

 

Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i –rahimahullah– juga berkata (kitab: Qam’u al-Mu’anid, halaman 30):

 

فأقول لك: تأخذ الحق ممن جاء به، وعند من وجدتموه … فالحق يؤخذ ممن جاء به، وعلماؤنا المتقدمون يأخذون الحق ممن جاء به، بل يرحل اليمني إلى المصري، والمكي إلى البغدادي، والنيسابوري إلى اليمني، يرحلون ويستفيد بعضهم من بعض، ليسوا كعلماء العصر إلا من رحم الله، فقد أصبح العلم حكومياً …

 

Maka aku katakan kepadamu, kau ambillah (terimalah) kebenaran dari orang yang datang dengan membawa kebenaran itu. Terimalah kebenaran itu dari orang yang kalian dapati kebenaran itu bersamanya … maka kebenaran itu harus diterima dari orang yang datang dengan membawanya. Bahkan para ulama kita yang terdahulu pun menerima kebenaran dari orang yang membawanya. Sampai-sampai orang Yaman bersengaja menemui orang Mesir, orang Mekah mendatangi orang Bagdad, orang Naisabur menjumpai orang Yaman. Mereka berangkat dan saling mengambil faidah satu sama lain … -SELESAI …

 

Imam Ibn al-Qayyim –rahimahullah– berkata di kitab I’lam al-Muwaqqi’in (2/194; tahqiq Syaikh Masyhur bin Hasan Salman –hafizhahullah):

 

فعلى المسلم أن يتبع هدى النبي -صلى الله عليه وسلم- في قبول الحق ممن جاء به من ولي وعدو وحبيب وبغيض وبر وفاجر ويرد الباطل على من قاله كائناً من كان  …

 

Maka wajib bagi setiap Muslim untuk mengikuti petunjuk Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dalam hal menerima kebenaran dari orang yang membawanya, baik itu dari teman sendiri maupun dari musuh, baik dari orang yang disukai maupun dari orang yang dibenci, baik dari orang yang baik maupun dari orang yang fajir. Juga wajib menolak kebatilan dari orang yang mengatakannya siapa pun orangnya … -SELESAI …

 

Imam Ibn al-Qayyim –rahimahullah– juga berkata di kitab Madarij as-Salikin pada bagian Manzilah at-Tawadhu’ (juz 3 halaman 2264, Dar ash-Shami’i; tahqiq: Nashir bin Sulaiman as-Sa’awi dkk):

 

وأن لا ترد على عدوك حقا أي لا تصح لك درجة التواضع حتى تقبل الحق ممن تحب وممن تبغض فتقبله من عدوك كما تقبله من وليك … بل حقيقة التواضع أنه إذا جاءك قبلته منه …

 

Dan agar tidak menolak kebenaran dari musuhmu, yakni tidak sahih pada dirimu derajat tawadhu’ sampai kau menerima kebenaran dari orang yang kaucintai dan dari orang yang kaubenci. Maka kau harus menerima kebenaran dari musuhmu sebagaimana kau menerima kebenaran dari kawanmu …  bahkan hakikat tawadhu’ itu adalah jika seseorang datang kepadamu dengan membawa kebenaran, maka kau pun menerima darinya  … -SELESAI …

 

 

Bandung, 12 Juli 2016

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Hampai Sayap dan kecemburuan Hudhud …

HUDHUD

Kau berkata tentang hampai sayap si pencari air,

tentang kepak perjalanan jauhnya dan kabar yang dibawanya …

Katamu, Hudhud punya alasan atas keterlambatannya …

-dia cemburu melihat penduduk semenanjung itu mengabahkan wajah kepada mentari …

 

*

**

 

Di antara perkara menakjubkan yang dikabarkan Allah dalam al-Quran adalah kenyataan tentang adanya makhluk yang tak dibebani taklif (beban syariat) tetapi memiliki kecemburuan yang sangat besar terhadap agama Allah –‘Azza wa Jalla. Makhluk yang dimaksud adalah burung hudhud di masa pemerintahan dan kenabian Sulaiman –‘alaihi as-salam. Hudhud begitu cemburu melihat penyimpangan tauhid kaum Saba’, dan ia pun mengutarakan kecemburuannya terhadap tauhid dan pengingkarannya terhadap perilaku kaum Saba’ itu  kepada Nabi Sulaiman –‘alaihi as-salam

 

Allah –ta’ala– berfirman (QS. an-Naml: 20-26):

 

وَتَفَقَّدَ الطَّيْرَ فَقَالَ مَا لِيَ لا أَرَى الْهُدْهُدَ أَمْ كَانَ مِنَ الْغَائِبِينَ (٢۰) لَأُعَذِّبَنَّه ُ عَذَاباً شَدِيداً أَوْ لَأَذْبَحَنَّهُ أَوْ لَيَأْتِيَنِّي بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ (٢١) فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطْتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَأٍ بِنَبَأٍ يَقِينٍ (٢٢) إِنِّي وَجَدْتُ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ (٢٣) وَجَدْتُهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُونَ لِلشَّمْسِ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لا يَهْتَدُونَ (٢٤) أَلَّا يَسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي يُخْرِجُ الْخَبْءَ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُخْفُونَ وَمَا تُعْلِنُونَ(٢٥( اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (٢٦)

 

Dan dia (Sulaiman) memeriksa burung-burung lalu berkata, “Mengapa aku tidak melihat Hudhud, apakah dia termasuk yang tidak hadir? Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang.” Maka tidak lama kemudian (datanglah Hudhud), lalu ia berkata, “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba’ suatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk agar mereka tidak menyembah Allah yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Allah, tiada yang berhak untuk disembah kecuali Dia, Rabb yang mempunyai ‘Arsy yang besar.”

 

Ayat-ayat tersebut menjelaskan beberapa faidah kepada kita:

  • Bahwa Hudhud mengetahui tentang tauhidullah (keesaan Allah), yaitu hanya Allah sajalah satu-satu-Nya yang berhak untuk diibadahi
  • Hudhud mengetahui bahwa menyembah sesuatu selain Allah adalah perbuatan syirik
  • Hudhud –yang tak dibebani taklif- lebih mengetahui tentang tauhid dan syirik dibandingkan sebagian manusia yang dibebani taklif
  • Hudhud memiliki kecemburuan dan gairah yang tinggi terhadap tauhidullah dan mengingkari perbuatan syirik
  • Hudhud memahami pengertian laa ilaaha illallaah, yaitu tiada yang berhak untuk diibadahi selain Allah

 

 

قال الشيخ عبد الرحمن بن حسن آل الشيخ -رحمه الله- في الدرر السنية (٢/٢٧٧): فحدث الهدهدُ سليمان -عليه السلام بما رآهم يفعلونه من السجود لغير الله؛ والسجود نوع من أنواع العبادة؛ فليت أكثر الناس عرفوا من الشرك ما عرف الهدهد؛ فأنكروه وعرفوا الإخلاص فالتزموه …

 

Syaikh ‘Abd ar-Rahman bin Hasan Alu asy-Syaikh –rahimahullah– di kitab ad-Durar as-Saniyyah (2/277), “Maka Hudhud pun berbicara kepada Sulaiman –‘alaihi as-salam- mengenai hal yang dilihatnya dari perbuatan-perbuatan kaum Saba’ yang bersujud kepada selain Allah, dan (Hudhud mengetahui bahwa) sujud itu merupakan salah satu bentuk dari bentuk-bentuk ibadah. Aduhai kalaulah kiranya kebanyakan manusia itu mengetahui kesyirikan seperti yang diketahui oleh Hudhud lalu mereka mengingkari perbuatan syirik itu. Aduhai, kalaulah kiranya mereka mengetahui akan keikhlasan lalu melazimi jalan tempuh tauhid (keikhlasan).”

 

Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dalam suatu hadits telah melarang manusia untuk membunuh burung Hudhud. Mungkin saja, wallahu a’lamu, di antara alasan dan hikmah dari pelarangan tersebut adalah karena burung Hudhud itu termasuk makhluk yang sangat mengenal tauhid. Imam Ibn Katsir berkata di kitab tafsirnya:

 

ولما كان الهدهد داعيا إلى الخير، وعبادة الله وحده والسجود له، نهي عن قتله

 

“Dan kenyataan bahwa burung Hudhud itu merupakan penyeru kepada kebaikan dan kepada peribadahan terhadap Allah satu-satu-Nya serta untuk bersujud hanya kepada Allah saja, maka dilaranglah manusia untuk membunuh burung Hudhud.”

 

Tauhid adalah inti dakwah para nabi dan rasul. Tidaklah Allah mengutus para nabi dan rasul serta menurunkan kitab-kitab-Nya selain untuk menegakkan tauhid di muka bumi, yakni agar manusia beribadah kepada Allah semata karena tiada yang berhak untuk diibadahi selain Allah …

 

 

Bandung, 26 Mei 2016

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Di Surga Menikahi Maryam binti ‘Imran, Asiyah Istri Fir’aun, dan Kultsum Saudari Musa …

Untitled

https://islamqa.info/ar/111279

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid –hafizhahullah– ditanya:

 

نسمع في بعض الأحاديث أن النبي صلى الله عليه وسلم سيتزوج في الحياة الآخرة السيدة مريم أم عيسى عليه السلام، وآسية زوجة فرعون، وكلثوم أخت النبي موسى عليه السلام .ما هو الثابت من هذا في الأحاديث، وما هو غير الثابت؟

 

Kami dengar dalam beberapa hadits bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– di kehidupan akhirat kelak akan memperistri Maryam ibunda ‘Isa –‘alaihi as-salam, Asiyah istri  Fir’aun, dan Kultsum saudari Nabi Musa ‘alaihi as-salam. Hadits manakah yang kukuh mengenai hal itu dan mana pula yang tak kukuh?

 

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid –hafizhahullah– menjawab:

 

الحمد لله

جاء في بعض الأحاديث المروية ما يدل على أن النبي محمدا صلى الله عليه وسلم سيتزوج في الجنة كلا من السيدة مريم البتول أم عيسى عليه السلام، وآسية بنت مزاحم زوجة فرعون، وكلثوم أخت موسى عليه السلام .

ونحن نورد هنا ما ورد من ذلك، مع مناقشتها من حيث القبول أو الرد :

 

Segala puji bagi Allah …

Terdapat beberapa periwayatan hadits yang menunjukkan bahwa di surga kelak, Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– akan memperistri sayyidah Maryam al-Batul ibunda ‘Isa –‘alaihi as-salam, Asiyah binti Muzahim istri Fir’aun, dan Kultsum saudari Musa –‘alaihi as-salam. Dan kami akan mengemukakan hadits-hadits mengenai hal itu beserta penjelasan terhadapnya dari sisi (apakah bisa) diterima atau ditolak …

 

الدليل الأول :

ما جاء في تفسير قوله تعالى: (عَسَى رَبُّهُ إِنْ طَلَّقَكُنَّ أَنْ يُبْدِلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِنْكُنَّ مُسْلِمَاتٍ مُؤْمِنَاتٍ قَانِتَاتٍ تَائِبَاتٍ عَابِدَاتٍ سَائِحَاتٍ ثَيِّبَاتٍ وَأَبْكَارًا (التحريم/٥

فقد روي عن بريدة رضي الله عنه في تفسير هذه الآية قوله :

(وعد الله نبيه صلى الله عليه وسلم في هذه الآية أن يزوجه، فالثيب: آسية امرأة فرعون، وبالأبكار: مريم بنت عمران)

رواه الطبراني في “المعجم الكبير” – نقلا عن تفسير ابن كثير (٨/١٦٦) وإلا فلم أقف عليه في المطبوع بين أيدينا من المعجم الكبير – قال: حدثنا أبو بكر بن صدقة، حدثنا محمد بن محمد بن مرزوق، حدثنا عبد الله بن أمية، حدثنا عبد القدوس، عن صالح بن حَيَّان، عن ابن بُرَيدة، عن أبيه به .

وهذا إسناد ضعيف .

صالح بن حيان: جاء في ترجمته في “تهذيب التهذيب” (٤/٣٨٦) قول ابن معين فيه: ليس بذاك، وقال أبو حاتم: ليس بالقوي، شيخ، وقال النسائي: ليس بثقة. وقال ابن حبان: يروى عن الثقات أشياء لا تشبه حديث الأثبات، لا يعجبنى الاحتجاج به إذا انفرد .

كما جاء عن أبي هريرة رضي الله عنه أنه قال :

(دخل رسول الله صلى الله عليه وسلم بمارية القبطية سريته ببيت حفصة بنت عمر، فوجدتها معه…- فذكر حديثا طويلا، جاء في آخره – :

فوعده من الثيبات آسية بنت مزاحم امرأة فرعون وأخت نوح، ومن الأبكار مريم بنت عمران، وأخت موسى عليهم السلام)

رواه الطبراني في “المعجم الأوسط” (٣/١٣) قال :

حدثنا إبراهيم، قال حدثنا هشام بن إبراهيم أبو الوليد المخزومي إمام مسجد صنعاء، قال أخبرنا موسى بن جعفر بن أبي كثير مولى الأنصار، عن عمه، عن أبي بكر بن عبد الرحمن بن الحارث، عن أبي سلمة بن عبد الرحمن، عن أبي هريرة به.

ثم قال: “لا يروى هذا الحديث عن أبي هريرة إلا بهذا الإسناد، تفرد به هشام بن إبراهيم” انتهى.

وهذا إسناد منكر .موسى بن جعفر جاء في ترجمته في “لسان الميزان” (٦/١١٣) قول الذهبي: “لا يعرف وخبره ساقط” انتهى. ثم قال الحافظ ابن حجر: “ولفظ العقيلي لما ذكره: مجهول بالنقل، لا يتابع على حديثه، ولا يصح. وأظن أن الذهبي حكم عليه بالبطلان لِما في آخره من الخطأ، وأما قصة مارية فلها طرق كثيرة تشعر بأن لها أصلا” انتهى. وضعفه السيوطي في “الدر المنثور” (٨/٢١٦)

 

Dalil Pertama:

Terdapat riwayat yang dikemukakan berkaitan dengan tafsir firman Allah –ta’ala– (QS. At-Tahrim: 5), Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Rabb-nya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri yang lebih baik daripadamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.”

Telah diriwayatkan dari Buraidah –radhiyallahu ‘anhu– mengenai tafsir ayat tersebut, yaitu ucapan Buraidah, “Allah menjanjikan kepada nabi-Nya –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bahwa Allah akan menikahkannya. Maka perempuan janda yang akan dinikahinya adalah Asiyah istri Fir’aun, sedangkan perempuan perawan yang akan dinikahinya adalah Maryam binti ‘Imran.” Ini diriwayatkan oleh ath-Thabarani di kitab al-Mu’jam al-Kabir –menurut keterangan yang kami nukil dari Tafsir Ibn Katsir (8/166), sedangkan kami sendiri tidak menemukan riwayat tersebut di dalam kitab al-Mu’jam al-Kabir yang tercetak yang ada di tangan kami. Dalam nukilan dari Tafsir Ibn Katsir itu, Imam ath-Thabarani berkata: telah bercerita kepada kami Abu Bakr bin Shadaqah, telah bercerita kepada kami Muhammad bin Muhammad bin Marzuq, telah bercerita kepada kami ‘Abdullah bin Umayyah, telah bercerita kepada kami ‘Abd al-Qudus, dari Shalih bin Hayyan, dari Ibn Buraidah, dari ayahnya (Buraidah) dengan ucapan tersebut di atas. Dan isnad riwayat ini dha’if (lemah). Perawi Shalih bin Hayyan disebutkan biografinya di kitab Tahdzib at-Tahdzib (4/386), dan di situ disebutkan ucapan penilaian Ibn Ma’in tentangnya, “Tidak seperti itu (tidak kuat),” dan Abu Hatim menilai, “Bukan perawi yang kuat, ia seorang Syaikh,” Imam an-Nasa-i mengatakan, “Ia tidak tepercaya,” sedangkan Ibn Hibban mengatakan, “Ia meriwayatkan dari orang-orang tepercaya riwayat-riwayat yang tak menyerupai hadits orang-orang yang tepercaya. Aku tak suka berhujjah dengannya jika ia menyendiri dalam periwayatan.”

Sebagaimana pula riwayat yang datang dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– masuk bersama Mariyah al-Qibthiyah, seorang surriyyah beliau, ke rumah Hafshah binti ‘Umar, lalu ketika Hafshah (masuk rumah), ia dapati Mariyyah sedang bersama Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– … –kemudian dikisahkanlah hadits yang panjang, adapun akhir haditsnya adalah, “Maka Allah menjanjikan kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- perempuan yang akan dinikahinya (di surga) dari kalangan janda, yaitu Asiyah binti Muzahim istri Fir’aun dan saudara perempuan Nuh, sedangkan dari kalangan perawan adalah Maryam binti ‘Imran dan saudara perempuan Musa –‘alaihi as-salam.”

Hadits Abu Hurairah tersebut diriwayatkan oleh ath-Thabarani di kitab al-Mu’jam al-Ausath (3/13). Imam ath-Thabarani berkata: telah bercerita kepada kami Ibrahim, ia berkata: telah bercerita kepada kami Hisyam bin Ibrahim Abu al-Walid al-Makhzumi, Imam masjid ash-Shan’a, ia berkata: telah berkabar kepadaku Musa bin Ja’far bin Abi Katsir Maula al-Anshar, dari pamannya, dari Abu Bakr bin ‘Abd ar-Rahman bin al-Harits, dari Abu Salmah bin ‘Abd ar-Rahman, dari Abu Hurairah dengan hadits tersebut. Kemudian Imam ath-Thabarani berkata, “Hadits ini tak diriwayatkan dari Abu Hurairah kecuali dengan sanad ini. Hisyam bin Ibrahim menyendiri dengan riwayat tersebut.”

Dan sanad hadits tersebut mungkar. Musa bin Ja’far, terdapat ucapat Imam adz-Dzahabi mengenai Musa bin Ja’far ini dalam biografinya di kitab Lisan al-Mizan (6/113), “Ia tak dikenal dan haditsnya jatuh tak berharga.”

Kemudian Ibn Hajar berkata, “Dan ungkapan al-‘Uqaili saat menyebutkan Musa bin Ja’far, ‘Tidak dikenal dalam penukilan riwayat, haditsnya tidak memiliki penyerta  dan tidak sahih,’ dan aku menduga bahwa Imam adz-Dzahabi menghukuminya batil lantaran adanya kekeliruan-kekeliruan pada akhir riwayat. Adapun kisah Mariyah sendiri terdapat banyak jalur periwayatan mengenainya sehingga bisa diketahui memiliki asal.”

Imam as-Suyuthi melemahkan hadits tersebut di kitab ad-Durr al-Mantsur (8/216) …

 

الدليل الثاني :

عن ابن عمر رضي الله عنهما قال :

(جاء جبريل إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم بموت خديجة فقال: إن الله يقرئها السلام، ويبشرها ببيت في الجنة من قَصَب، بعيد من اللهب، لا نَصَب فيه ولا صَخَب، من لؤلؤة جوفاء، بين بيت مريم بنت عمران، وبيت آسية بنت مزاحم)

رواه ابن عساكر في “تاريخ دمشق” (٧۰/١١٧) قال: أخبرنا أبو المظفر بن القشيري، وأبو القاسم زاهر بن طاهر، قالا أنا محمد بن عبد الرحمن، أنا أبو سعيد محمد بن بشر بن العباس التميمي، أنا أبو الوليد محمد بن إدريس الشامي السرخسي، نا سويد بن سعيد، نا محمد بن صالح بن عمر، عن الضحاك ومجاهد، عن ابن عمر به .

وهذا إسناد منكر أيضا، فيه عدة علل :

١- محمد بن صالح بن عمر، قال الذهبي في “ميزان الاعتدال” (٣/٥٨١): مجهول.

٢- سويد بن سعيد الحدثاني: ترجمته في “تهذيب التهذيب” (٤/٢٧٥) وفيها تضعيف كثير من أهل العلم له، وأنه كان يقبل التلقين.

٣- أبو سعيد محمد بن بشر بن العباس (٣٧٨هـ): ترجم له الذهبي في “تاريخ الإسلام” (٦٣٣/٢٦) وقال: شيخ صالح مسند.

 

Dalil Kedua:

Dari Ibn ‘Umar –radhiyallahu ‘anhuma– dia berkata:

Jibril datang menemui Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menjelang kematian Khadijah, lalu berkata, “Sesungguhnya Allah menyampaikan salam kepada Khadijah dan memberikan kabar gembira untuknya dengan sebuah rumah di surga dari mutiara, jauh dari gejolak api dan tiada di dalamnya kepayahan dan jerit kengerian. Rumah mutiara berongga yang terletak di antara rumah Maryam binti ‘Imran dan rumah Asiyah binti Muzahim.”

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibn ‘Asakir di kitab Tarikh Dimasyq (70/117). Ibn ‘Asakir berkata: Telah berkabar kepada kami Abu al-Muzhaffar bin al-Qusyairi dan Abu al-Qasim bin Zhahir, keduanya berkata: telah berkabar kepada kami Muhammad bin ‘Abd ar-Rahman, telah berkabar kepada kami Abu Sa’id Muhammad bin Bisyr bin al-‘Abbas at-Tamimi, telah berkabar kepada kami Abu al-Walid Muhammad bin Idris asy-Syami as-Sarkhasi, telah bercerita kepada kami Suwaid bin Sa’id, telah bercerita kepada kami Muhammad bin Shalih bin ‘Umar, dari adh-Dhahhak dan Mujahid, dari Ibn ‘Umar dengan hadits tersebut.

Sanad hadits ini pun mungkar juga, di dalamnya terdapat beberapa penyakit, yaitu:

  1. Muhammad bin Shalih bin ‘Umar, Imam adz-Dzahabi berkata di kitab Mizan al-I’tidal (3/581), “Majhul (tak dikenal).”
  2. Suwaid bin Sa’id al-H Biografinya terdapat di kitab Tahdzib at-Tahdzib (4/275), di situ disebutkan tadh’if (pelemahan) banyak ulama terhadapnya. Dulunya ia biasa menerima talqin (menyimak diktean hadits dari seseorang yang sebetulnya bukanlah haditsnya seraya menganggap bahwa itu adalah riwayatnya lantaran kelemahan dalam hafalannya).”
  3. Abu Sa’id Muhammad bin Bisyr bin al-‘Abbas (378 H). Imam adz-Dzahabi menyebutkan biografinya di kitab Tarikh al-Islam (633/26) seraya mengatakan, “Syaikh, shalih, musnid.”

 

الدليل الثالث :

عن ابن عباس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم دخل على خديجة وهي في الموت فقال:
(يا خديجة! إذا لقيت ضرائرك فأقرئيهن مني السلام. فقالت: يا رسول الله، وهل تزوجت قبلي؟ قال: لا، ولكن الله زوجني مريم بنت عمران، وآسية امرأة فرعون، وكلثم أخت موسى)

رواه ابن عساكر في “تاريخ دمشق” (٧۰/١١٨) قال: أخبرنا أبو غالب محمد بن عمرو بن محمد الشيرازي بأصبهان، أنا أبو عبد الله محمد بن محمد بن عبد الرحمن بن عبد الوهاب المقرئ، نا القاضي أبو بكر أحمد بن عبد الرحمن بن أحمد البردي إملاء، أنا أبو بكر هلال بن محمد بن محمد بالبصرة، نا محمد ابن زكريا الغلابي، نا العباس بن بكار، نا أبو بكر الهذلي، عن عكرمة، عن ابن عباس به .

وهذا إسناد منكر أيضا .

أبو بكر الهذلي: ترجمته في “تهذيب التهذيب” (١٢/٤٦) وفيها اتفاق المحدثين على تضعيفه جدا، وأنه أخباري متروك الحديث .

وقال ابن كثير في “تفسير القرآن العظيم” (٨/١٦٦): ضعيف أيضا .

 

Dalil Ketiga:

Dari Ibn ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma– bahwasanya Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– masuk menemui Khadijah yang sedang menghadapi kematian seraya berkata, “Wahai Khadijah, jika nanti kau bertemu dengan para madumu, maka sampaikanlah salamku kepada mereka.” Khadijah berkata, “Wahai Rasulullah, apakah kau pernah menikah sebelum menikah denganku?” Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Tidak. Akan tetapi Allah telah menikahkanku dengan Maryam binti ‘Imran, Asiyah istri Fir’aun, dan Kultsum saudari Musa.”

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibn ‘Asakir di kitab Tarikh Dimasyq (70/118), ia berkata: telah berkabar kepada kami Abu Ghalib Muhammad bin ‘Amr bin Muhammad asy-Syirazi di kota Ashbahan, telah berkabar kepada kami Abu ‘Abdillah Muhammad bin Muhammad bin ‘Abd ar-Rahman bin ‘Abd al-Wahhab al-Muqri’, telah berkabar kepada kami al-Qadhi Abu Bakr Ahmad bin ‘Abd ar-Rahman bin Ahmad al-Bardi secara imla, telah berkabar kepada kami Abu Bakr Hilal bin Muhammad bin Muhammad di kota Bashrah, telah berkabar kepada kami Muhammad Ibn Zakariya al-Ghalabi, telah berkabar kepada kami al-‘Abbas bin Bakkar, telah berkabar kepada kami Abu Bakr al-Hudzali, dari ‘Ikrimah, dari Ibn ‘Abbas dengan hadits tersebut.

Sanad hadits ini pun mungkar juga. Abu Bakr al-Hudzali, biografinya terdapat di dalam Tahdzib at-Tahdzib (12/46), dan di kitab itu disebutkan bahwa para ahli hadits sepakat bahwa ia dha’if jiddan (sangat lemah), dan dia mengumpulkan kabar-kabar matruk al-hadits.

Ibn Katsir berkata di kitab Tafsir al-Quran al-‘Azhim (8/166), “Dha’if juga.”

 

الدليل الرابع :

عن أبي أمامة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :

(أُعْلِمتُ أن الله زوجني في الجنة مريم بنت عمران، وكلثم أخت موسى، وآسية امرأة فرعون. فقلت: هنيئًا لك يا رسول الله)

رواه أبو يعلى – ومن طريقه ابن عساكر في “تاريخ دمشق” (٧۰/١١٨) – والطبراني في “المعجم الكبير” (٨/٢٥٨)، والعقيلي في “الضعفاء الكبير” (٤/٤٥٩)، وأبو الشيخ في “طبقات المحدثين بأصبهان” (٤/١١٣) وأبو نعيم في “أخبار أصبهان” (رقم/١٤٦۰)، وابن عدي في “الكامل” (٧/١٨۰) جميعهم من طريق :

عبد النور بن عبد الله، حدثنا يونس بن شعيب، عن أبي أمامة به .

وهذا إسناد موضوع .

عبد النور كذاب، قال العقيلي: ” كان غالياً في الرفض، ويضع الحديث خبيثاً” وقال الذهبي: ” كذاب” انتهى. ويونس بن شعيب: قال فيه البخاري: “منكر الحديث”، وقال العقيلي: “حديثه غير محفوظ”، وقال ابن حبان في “المجروحين” (٣/١٣٩): “لست أعرف له من أبي أمامة سماعا، على مناكير ما يرويه في قلتها، كأنه كان المتعمد لذلك، لا يجوز الاحتجاج به بحال”. وانظر “لسان الميزان” (٦/٣٣٢)

قال الشيخ الألباني في “السلسلة الضعيفة” (٧۰٥٣): “وهذا إسناد موضوع “انتهى.

 

Dalil Keempat:

Dari Abu Umamah –radhiyallahu ‘anhu– ia berkata:

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Aku diberi tahu bahwa Allah menikahkanku di surga dengan Maryam binti ‘Imran, Kultsum saudari Musa, dan Asiyah istri Fir’aun.” Aku berkata, “Selamat untukmu, wahai Rasulullah.”

Diriwayatkan oleh Abu Ya’la –dan dari jalan Ibn ‘Asakir di kitab Tarikh Dimasyq (70/118)- dan ath-Thabarani di kitab al-Mu’jam al-Kabir (8/258), dan al-‘Uqaili di kitab adh-Dhu’afa’ al-Kabir (4/459), dan Abu asy-Syaikh di kitab Thabaqat al-Muhadditsin bi Ashbahan (4/113), dan Abu Nu’aim di kitab Akhbar Ashbahan (nomor 1460), dan Ibn ‘Adi di kitab al-Kamil (7/180), yang semuanya dari jalan ‘Abd an-Nur bin ‘Abdillah, telah bercerita kepada kami Yunus bin Syu’aib, dari Umamah dengan hadits tersebut.

Dan sanad hadits tersebut palsu. ‘Abd an-Nur seorang pendusta. Imam al-‘Uqaili berkata, “Rafidhah ekstrim dan memalsukan hadits-hadits secara keji.” Imam adz-Dzahabi berkata, “Dia pendusta.” Adapun perawi Yunus bin Syu’aib, dikatakan oleh Imam al-Bukhari, “Munkar al-Hadits.” Imam al-‘Uqaili berkata, “Haditsnya tidak terpelihara.” Ibn Hibban berkata di kitab al-Majruhin (3/139), “Aku tak mengetahui bahwa ia memiliki penyimakan dari Abu Umamah. Berdasarkan kemungkaran-kemungkaran periwayatannya dan kejelekannya, seakan-akan ia sengaja berbuat demikian. Tidak boleh berhujjah dengannya berdasarkan keadaannya.” Lihat kitab Lisan al-Mizan (6/332).

Syaikh al-Albani berkata di kitab Silsilah adh-Dha’ifah (7053), “Dan sanad hadits ini palsu.”

 

الدليل الخامس :

عن عائشة رضي الله عنها قالت :

(دخل علي رسول الله مسرورا، فقال: يا عائشة! إن الله عز وجل زوجني مريم بنت عمران، وآسية بنت مزاحم في الجنة .

قالت: قلت: بالرفاء والبنين يا رسول الله)

رواه ابن السني في “عمل اليوم والليلة” (٢/٦٨٣-٦٨٤/٦۰٤-عجالة الراغب المتمني) والديلمي في “مسند الفردوس” (٨٦٢۰)، قال ابن السني:

أخبرنا أحمد بن إبراهيم المديني بعمان، حدثنا أبو سعيد الأشج، ثنا حفص بن غياث، عن الأعمش، عن أبي إسحاق، عن عبد خير، عن مسروق، عن عائشة رضي الله عنها به. قال أبو بكر بن السني: كذا كتبته من كتابه .

وهذا إسناد ضعيف؛ فيه تدليس أبي إسحاق السبيعي، وهو من أهل المرتبة الثالثة من المدلسين في تصنيف الحافظ ابن حجر، فلا يقبل حديثه إلا إذا صرح بالتحديث، كما لم نقف على ترجمة لشيخ ابن السني: أحمد بن إبراهيم المديني .

 

Dalil Kelima:

Dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha– ia berkata:

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– masuk menemuiku dengan perasaan senang seraya berkata, “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah –‘Azza wa Jalla- menikahkanku dengan Maryam binti ‘Imran dan Asiyah binti Muzahim di surga.” Aku berkata, “Semoga kalian rukun dan dikaruniai anak-anak, wahai Rasulullah.”

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibn as-Sunni di kitab ‘Amal al-yaum wa al-Lailah (2/683-684/604; lewat kitab ‘Ujalah ar-Raghib al-Mutamanni) dan ad-Dailami di kitab Musnad al-Firdaus (8620). Imam Ibn as-Sunni berkata: Telah berkabar kepada kami Ahmad bin Ibrahim al-Madani di kota ‘Amman, telah bercerita kepada kami Abu Sa’idal-Asyajj, telah bercerita kepada kami Hafsh bin Ghiyats, dari al-A’masy, dari Abu ishaq, dari ‘Abd Khair, dari Masruq, dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha– dengan hadits tersebut. Abu Bakr bin as-Sunni berkata, “Demikian aku menulis hadits ini dari kitabnya.”

Isnad hadits ini dha’if (lemah); di dalam sanadnya terdapat tadlis Abu Ishaq as-Sabi’i, sementara ia adalah perawi dari martabat mudallisin dalam kitab Ibn Hajar. Dengan demikian, haditsnya tidak bisa diterima kecuali apabila secara jelas ia menyatakan tahdits periwayatan. Kami juga tidak menemukan biografi guru Ibn as-Sunni yang bernama Ahmad bin Ibrahim al-Madani …

 

الدليل السادس:

عن سعد بن جنادة قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم:

(إن الله عز وجل قد زوجني في الجنة مريم بنت عمران، وامرأة فرعون، وأخت موسى)

رواه الطبراني في “المعجم الكبير” (٦/٥٢) – ومن طريقه ابن عساكر في “تاريخ دمشق” (٧۰/١١٨) – قال الطبراني:

حدثنا عبدالله بن ناجية، ثنا محمد بن سعد العوفي، ثنا أبي، ثنا عمي، ثنا يونس بن نفيع، عن سعد بن جنادة به .
وهذا إسناد ضعيف جدا.

قال الهيثمي في “مجمع الزوائد” (٩/٢١٨): “رواه الطبراني، وفيه من لم أعرفهم ” انتهى.

وقال الشيخ الألباني في “السلسلة الضعيفة” (٧۰٥٣): “فيه من يعرف بالضعف … محمد بن سعد – هو: ابن محمد بن الحسن بن عطية -: قاضي بغداد، وفيه لين، وأبوه سعد مثل يونس بن نفيع؛ لم أجد لهما ترجمة. وعمه هو: الحسين بن الحسن بن عطية؛ قال الذهبي في “المغني”: “ضعفوه”. انتهى.

 

Dalil Keenam:

Dari Sa’d bin Junadah ia berkata:

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Sesungguhnya Allah –‘Azza wa Jalla- menikahkanku di surga dengan Maryam binti ‘Imran, istri Fir’aun, dan saudari Musa.”

Hadits tersebut diriwayatkan oleh ath-Thabarani di kitab al-Mu’jam al-Kabir (6/52) –dari dari jalan Ibn ‘Asakir di kitab Tarikh Dimasyq (70/118), berkata Imam ath-Thabarani: telah bercerita kepada kami ‘Abdullah bin Najiyah, telah bercerita kepada kami Muhammad bin Sa’d al-Aufi, telah bercerita kepada kami ayahku, telah bercerita kepada kami pamanku, telah bercerita kepada kami Yunus bin Nafi’, dari Sa’d bin Junadah dengan hadits tersebut.

Dan sanad hadits ini dha’if jiddan (sangat lemah). Imam al-Haitsami berkata di kitab Majma’ az-Zawa-id (9/218), “Diriwayatkan oleh ath-Thabarani, dan di dalam sanadnya ada perawi-perawi yang tak kukenal.”

Syaikh al-Albani berkata di kitab Silsilah adh-Dha’ifah (7053), “Di dalam sanadnya ada perawi yang dikenal dha’if (lemah) … Muhammad bin Sa’d adalah putra dari Muhammad bin Hasan bin ‘Athiyah, hakim di kota Bagdad, dan ia memiliki kelemahan, sedangkan ayahnya, Sa’d serupa dengan Yunus bin Nafi’, keduanya tak kutemukan biografinya. Adapun pamannya, ia adalah al-Husain bin al-Hasan bin ‘Athiyah yang dikatakan oleh Imam adz-Dzahabi di kitab al-Mughni dilemahkan oleh para ulama.”

 

الدليل السابع:

عن ابن أبي رواد ، قال:

(دخل رسول الله صلى الله عليه وسلم على خديجة وهي في مرضها الذي توفيت فيه، فقال لها: بالكره مني ما أرى منك يا خديجة، وقد يجعل الله في الكره خيرا كثيرا، أما علمت أن الله قد زوجني معك في الجنة مريم بنت عمران، وكلثم أخت موسى، وآسية امرأة فرعون؟ قالت: وقد فعل الله بك ذلك يا رسول الله؟ قال: نعم. قالت: بالرفاء والبنين)

رواه الطبراني (٢٢/٤٥١)، ومن طريقه ابن عساكر في “تاريخ دمشق” (٧۰/١١٩) وأبو نعيم الأصبهاني في “معجم الصحابة” (رقم/٦٧٣٨)، ورواه ابن الجوزي في “المنتظم في التاريخ” (١/٢٦٧/ ترجمة خديجة) من طريق ثنا الزبير بن بكار، حدثني محمد بن حسن، عن يعلى بن المغيرة، عن بن أبي رواد به .

وهذا سند منقطع معضل.

فإن ابن أبي رواد هو عبد العزيز بن عبد المجيد بن أبي رواد من كبار أتباع التابعين، توفي سنة (١٥٩هـ) وقال الهيثمي في “مجمع الزوائد” (٩/٢١٨): “منقطع الإسناد، وفيه محمد بن الحسن بن زبالة وهو ضعيف “انتهى.

 

Dalil Ketujuh:

Dari Ibn Abi Rawwad, ia berkata:

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– masuk menemui Khadijah. Saat itu Khadijah sedang sakit yang mengantarkan kepada kematiannya. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata kepadanya, “Betapa berat dan sulitnya bagiku melihat kondisimu, wahai Khadijah. Akan tetapi, Allah menjadikan dari hal yang tak kita senangi itu kebaikan yang banyak. Tidakkah kau tahu bahwa Allah telah menikahkan aku denganmu di surga dan memadukanmu dengan Maryam binti ‘Imran, Kultsum saudari Musa, dan Asiyah istri Fir’aun?” Khadijah berkata, “Benarkah Allah telah berbuat begitu, wahai Rasulullah?” Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Iya, benar.” Khadijah berkata, “Semoga Allah menganugerahi kerukunan dan anak keturunan.”

Hadits tersebut diriwayatkan oleh ath-Thabarani (22/451), dan dari jalan Ibn ‘Asakir di kitab Tarikh Dimasyq (70/119) dan Abu Nu’aim al-Ashbahani di kitab Mu’jam ash-Shahabah (nomor 6738). Dan diriwayatkan pula oleh Ibn al-jauzi di kitab al-Muntazham fi at-Tarikh (1/267/ bagian biografi Khadijah) dari jalan: telah bercerita kepada kami az-Zubair bin Bakkar, telah bercerita kepadaku Muhammad Hasan, dari Ya’la bin al-Mughirah, dari Ibn Abi Rawwad dengan hadits tersebut.

Sanad hadits tersebut munqathi’ mu’dhal (terputus bahkan dengan keterputusan berturut-turut) karena Ibn Abi Rawwad adalah ‘Abd al-‘Aziz bin ‘Abd al-majid bin Abi Rawwad, dari kalangan tabi’ut tabi’in besar yang wafat tahun 159 Hijriyah. Imam al-Haitsami berkata di kitab Majma’ az-Zawa-id (9/218), “Sanadnya terputus, dan di dalam sanadnya ada Muhammad bin al-Hasan bin Zubalah yang dha’if (lemah).”

 

والخلاصة أن الأحاديث الواردة في هذا الباب كلها ضعيفة منكرة، لا يصح منها شيء، ولا تجوز نسبتها إلى النبي صلى الله عليه وسلم، كما لا يجوز الخوض بما جاء فيها، فذلك من الغيب الذي لم يطلعنا الله عليه، ويجب أن نكل أمره إلى الله عز وجل.

يقول ابن كثير في “البداية والنهاية” (٢/٧٥) بعد أن ساق مجموعة من أحاديث الباب :

“وكل من هذه الأحاديث في أسانيدها نظر “انتهى.

والله أعلم .

 

Sebagai kesimpulan, bahwa hadits-hadits yang ada mengenai masalah ini semuanya lemah dan mungkar, tidak ada satu pun yang sahih. Tidak boleh menyandarkannya kepada Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sebagaimana tidak pula boleh menyelam lebih dalam dalam berbicara mengenai hal tersebut. Perkara tersebut merupakan permasalahan gaib yang tak diberitahukan oleh Allah kepada kita sehingga wajib bagi kita untuk menyerahkan perkara tersebut kepada Allah –‘Azza wa Jalla.

Imam Ibn Katsir berkata di kitab al-Bidayah wa an-Nihayah (2/75) setelah menyebutkan keseluruhan hadits dalam masalah ini, “Dan semua hadits dalam masalah ini, pada sanadnya ada pandangan.”

Wallahu a’lam

 

 

Bandung, 11 Mei 2016

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–