Tentang Cacian Abu Dzarr dan Injakan Kaki Bilal ke Wajahnya …

model

Beberapa kali saya mendengar para penceramah di mimbar-mimbar masjid bertutur -juga saya baca di beberapa blog internet- mengenai kisah berikut:

 

اﺟﺘﻤﻊ اﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﻓﻲ ﻣﺠﻠﺲ٬ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻣﻌﻬﻢ اﻟﺮﺳﻮل ﻋﻠﻴﻪ اﻟﺼﻼة واﻟﺴﻼم٬ ﻓﺠﻠﺲ ﺧﺎﻟﺪ ﺑﻦ اﻟﻮﻟﻴﺪ وﺟﻠﺲ اﺑﻦ ﻋﻮف وﺟﻠﺲ ﺑﻼل وﺟﻠﺲ أﺑﻮ ذر٬ ﻓﺘﻜﻠﻢ اﻟﻨﺎس ﻓﻲ ﻣﻮﺿﻮع ﻣﺎ. ﻓﺘﻜﻠﻢ أﺑﻮ ذر ﺑﻜﻠﻤﺔ اﻗﺘﺮاح: أﻧﺎ أﻗﺘﺮح ﻓﻲ اﻟﺠﻴﺶ أن ﻳﻔﻌﻞ ﺑﻪ ﻛﺬا وﻛﺬا. ﻗﺎل ﺑﻼل: ﻻ٬ ﻫﺬا اﻻﻗﺘﺮاح ﺧﻄﺄ. ﻓﻘﺎل أﺑﻮذر: ﺣﺘﻰ أﻧﺖ ﻳﺎ اﺑﻦ اﻟﺴﻮداء ﺗﺨﻄﺌﻨﻲ؟!!! ﻓﻘﺎم ﺑﻼل ﻣﺪﻫﻮﺷﺎً ﻏﻀﺒﺎن أﺳﻔﺎً وﻗﺎل :واﻟﻠﻪ ﻷرﻓﻌﻨﻚ ﻟﺮﺳﻮل اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ اﻟﺼﻼة واﻟﺴﻼم. وأﻧﺪﻓﻊ ﻣﺎﺿﻴﺎً إﻟﻰ رﺳﻮل اﻟﻠﻪ ﺻﻞ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ وﺳﻠﻢ. وﺻﻞ ﺑﻼل ﻟﻠﺮﺳﻮل ﻋﻠﻴﻪ اﻟﺼﻼة واﻟﺴﻼم وﻗﺎل: ﻳﺎ رﺳﻮل اﻟﻠﻪ أﻣﺎ ﺳﻤﻌﺖ أﺑﺎ ذر ﻣﺎ ذا ﻳﻘﻮل ﻓﻲ؟ ﻗﺎل ﻋﻠﻴﻪ اﻟﺼﻼة واﻟﺴﻼم: ﻣﺎ ذا ﻳﻘﻮل ﻓﻴﻚ؟؟ ﻗﺎل ﺑﻼل: ﻳﻘﻮل ﻛﺬا وﻛﺬا. ﻓﺘﻐﻴﺮ وﺟﻪ اﻟﺮﺳﻮل ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ وﺳﻠﻢ. وأﺗﻰ أﺑﻮ ذر وﻗﺪ ﺳﻤﻊ اﻟﺨﺒﺮ. ﻓﺎﻧﺪﻓﻊ ﻣﺴﺮﻋﺎً إﻟﻰ المسجد ﻓﻘﺎل: ﻳﺎ رﺳﻮل الله٬ اﻟﺴﻼم ﻋﻠﻴﻜﻢ ورﺣﻤﺔ اﻟﻠﻪ وﺑﺮﻛﺎﺗﻪ. ﻗﺎل ﻋﻠﻴﻪ اﻟﺼﻼة واﻟﺴﻼم: ﻳﺎ أﺑﺎ ذر أﻋﻴﺮﺗﻪ ﺑﺄﻣﻪ؟!!! إﻧﻚ اﻣﺮؤ ﻓﻴﻚ ﺟﺎﻫﻠﻴﺔ !!.ﻓﺒﻜﻰ أﺑﻮ ذر وأﺗﻰ اﻟﺮﺳﻮل ﻋﻠﻴﻪ اﻟﺴﻼم وﺟﻠﺲ وﻗﺎل: ﻳﺎ رﺳﻮل اﻟﻠﻪ اﺳﺘﻐﻔﺮ ﻟﻲ٬ ﺳﻞ اﻟﻠﻪ ﻟﻲ اﻟﻤﻐﻔﺮة. ﺛﻢ ﺧﺮج ﺑﺎﻛﻴﺎً ﻣﻦ اﻟﻤﺴﺠﺪ وأﻗﺒﻞ ﺑﻼل ﻣﺎﺷﻴﺎً. ﻓﻄﺮح أﺑﻮ ذر رأﺳﻪ ﻓﻲ ﻃﺮﻳﻖ ﺑﻼل ووﺿﻊ ﺧﺪﻩ ﻋﻠﻰ اﻟﺘﺮاب وقال: واﻟﻠﻪ ﻳﺎ ﺑﻼل ﻻ ارﻓﻊ ﺧﺪي ﻋﻦ اﻟﺘﺮاب ﺣﺘﻰ ﺗﻄﺄﻩ ﺑﺮﺟﻠﻚ٬ أﻧﺖ اﻟﻜﺮﻳﻢ وأﻧﺎ اﻟﻤﻬﺎن!! ﻓﺄﺧﺬ ﺑﻼل ﻳﺒﻜﻲ٬ وأﻗﺘﺮب وﻗﺒﻞ ذﻟﻚ اﻟﺨﺪ وﻗﺎل: واﻟﻠﻪ ﻻ اﻃﺄ وﺟﻬﺎ ﺳﺠﺪ ﻟﻠﻪ ﺳﺠﺪﻩ واﺣﺪﻩ ﺛﻢ ﻗﺎﻣﺎ وﺗﻌﺎﻧﻘﺎ وﺗﺒﺎﻛﻴﺎ !!!

 

Para shahabat berkumpul dalam sebuah majelis. Saat itu, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tidak bersama mereka. Khalid bin al-Walid ikut duduk di majelis itu, juga Ibn ‘Auf, Bilal, dan Abu Dzarr. Orang-orang terlibat dalam suatu pembicaraan, kemudian Abu Dzarr mengutarakan pendapatnya dengan mengatakan, “Menurut pandanganku, semestinya pasukan itu berbuat begini dan begitu!” Bilal menukas, “Tidak, itu merupakan pandangan yang salah!” Abu Dzarr berkata, “Sampai-sampai kau pun berani menganggap pendapatku salah, wahai Ibn as-Sauda’ (wahai anak si perempuan hitam)!?!” Bilal lantas berdiri dengan perasaan bingung dan marah. Ia menyesalkan perkataan Abu Dzarr terhadapnya itu seraya berkata, “Demi Allah, aku benar-benar akan menyampaikan (mengadukan) ucapanmu itu kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam!” Maka Bilal pun berlalu seraya berjalan cepat menemui Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesampainya di hadapan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, Bilal berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah kau mendengar apa yang dikatakan oleh Abu Dzarr tentang diriku?” Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Apa yang diucapkan oleh Abu Dzarr mengenai dirimu?” Bilal berkata, “Ia mengatakan demikian dan demikian (yakni menyebutku sebagai Ibn as-Sauda’!)” (Demi mendengar hal itu), berubahlah rona wajah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Tak lama kemudian), Abu Dzarr menemui Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– setelah ia mendengar kabar bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– marah. Abu Dzarr berjalan cepat menuju masjid dan berkata, “Wahai Rasulullah, assalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh.” Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Wahai Abu Dzarr, apakah kau berbuat ta’yir terhadap Bilal dengan (menjelek-jelekkan dan mencela) ibunya?!? Sungguh kau adalah lelaki yang pada dirimu masih terdapat sifat kejahiliyahan!” Mendadak sontak menangislah Abu Dzarr. Ia pun mendekati Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu duduk dan berkata, “Wahai Rasulullah, mintakanlah ampun kepada Allah untukku. Mohonkanlah kepada Allah ampunan untukku.” Kemudian dalam keadaan masih menangis, Abu Dzarr keluar dari masjid dan menemui Bilal yang sedang berjalan. Di hadapan Bilal, Abu Dzarr membaringkan kepalanya dan menempelkan pipinya di atas tanah jalan yang dilalui Bilal. Ia berkata kepada Bilal, “Demi Allah, wahai Bilal! Aku tak akan mengangkat pipiku dari tanah sampai kau menginjak pipiku ini dengan kakimu! Kaulah orang yang mulia sedangkan aku orang yang hina!” (Melihat hal itu), menangislah Bilal dibuatnya. Ia mendekati Abu Dzarr dan mencium pipinya seraya berkata, “Demi Allah, aku tak akan menginjak wajah yang telah bersujud kepada Allah dengan sujud yang hanya ditujukan kepada-Nya.” Kemudian keduanya berdiri, saling berpelukan dan menangis … -SELESAI …

 

Kisah tersebut, dengan redaksi seperti itu, merupakan kisah yang MUNGKAR yang sama sekali tidak terdapat di dalam kitab-kitab hadits maupun kitab-kitab sejarah meskipun pada dasarnya kisah tersebut –sebetulnya- memiliki ASAL yang sahih. Tampaknya para penceramah itu telah mengembangkan kisah tersebut dengan tambahan-tambahan sedemikian rupa sehingga menyimpang jauh dari kisah asalnya yang sahih.

 

Jika kita merujuk kepada KISAH ASALNYA YANG SAHIH, maka akan kita dapati bahwa kisah tersebut di atas (yang disebutkan oleh para penceramah) itu benar-benar dipenuhi dengan ziyadah (tambahan-tambahan) yang mungkar. Adapun KISAH ASALNYA YANG SAHIH adalah sebagai berikut:

 

Imam al-Bukhari berkata di kitab Shahih:

 

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بنُ حَرْبٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ وَاصِلٍ الأَحْدَبِ، عَنِ المَعْرُورِ بنِ سُوَيْدٍ، قَالَ: لَقِيتُ أَبَا ذَرٍّ بِالرَّبَذَةِ، وَعَلَيْهِ حُلَّةٌ، وَعَلَى غُلاَمِهِ حُلَّةٌ، فَسَأَلْتُهُ عَنْ ذَلِكَ، فَقَالَ: إِنِّي سَابَبْتُ رَجُلًا فَعَيَّرْتُهُ بِأُمِّهِ، فَقَالَ لِي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا أَبَا ذَرٍّ أَعَيَّرْتَهُ بِأُمِّهِ؟ إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ، إِخْوَانُكُمْ خَوَلُكُمْ، جَعَلَهُمُ اللَّهُ تَحْتَ أَيْدِيكُمْ، فَمَنْ كَانَ أَخُوهُ تَحْتَ يَدِهِ، فَلْيُطْعِمْهُ مِمَّا يَأْكُلُ، وَلْيُلْبِسْهُ مِمَّا يَلْبَسُ، وَلاَ تُكَلِّفُوهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ، فَإِنْ كَلَّفْتُمُوهُمْ فَأَعِينُوهُمْ

 

Dari al-Ma’rur bin Suwaid, dia berkata:

Aku bertemu dengan Abu Dzarr di ar-Rabadzah. Saat itu Abu Dzarr mengenakan hullah (sepasang pakaian; pakaian luar dan dalam –pent), demikian juga pelayan (budak)nya memakai hullah. Maka aku pun bertanya mengenai hal itu (yakni mengenai alasan Abu Dzarr memakaikan pakaian yang sama dengan dirinya untuk pelayannya, padahal hal itu menyalahi kebiasaan yang berlaku di masyarakat –pent). Maka Abu Dzarr pun menjawab:

Sesungguhnya aku pernah mencaci seseorang seraya menjelek-jelekkan ibunya, lalu Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata kepadaku, “Wahai Abu Dzarr, apakah kau mencelanya dengan menjelek-jelekkan ibunya? Sungguh kau adalah lelaki yang pada dirimu masih terdapat sifat kejahiliyahan! Saudara-saudara kalian adalah pelayan-pelayan (budak-budak) kalian. Allah menjadikan mereka berada di bawah penguasaan kalian. Maka barangsiapa yang saudaranya berada di bawah penguasaannya, hendaklah ia memberinya makan dari makanan yang ia makan, juga memberinya pakaian dengan pakaian (seperti ) yang ia pakai. Dan jangan kalian membebani mereka dengan perkara yang tak mampu mereka tanggung. Jika kalian membebani mereka dengan beban yang berat, hendaklah kalian membantunya!” (HRS. al-Bukhari)

 

Imam al-Bukhari juga berkata di kitab Shahih:

 

حَدَّثَنِي عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ الْمَعْرُورِ هُوَ ابْنُ سُوَيْدٍ عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ رَأَيْتُ عَلَيْهِ بُرْدًا وَعَلَى غُلَامِهِ بُرْدًا فَقُلْتُ لَوْ أَخَذْتَ هَذَا فَلَبِسْتَهُ كَانَتْ حُلَّةً وَأَعْطَيْتَهُ ثَوْبًا آخَرَ فَقَالَ كَانَ بَيْنِي وَبَيْنَ رَجُلٍ كَلَامٌ وَكَانَتْ أُمُّهُ أَعْجَمِيَّةً فَنِلْتُ مِنْهَا فَذَكَرَنِي إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لِي أَسَابَبْتَ فُلَانًا قُلْتُ نَعَمْ قَالَ أَفَنِلْتَ مِنْ أُمِّهِ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ قُلْتُ عَلَى حِينِ سَاعَتِي هَذِهِ مِنْ كِبَرِ السِّنِّ قَالَ نَعَمْ هُمْ إِخْوَانُكُمْ جَعَلَهُمْ اللَّهُ تَحْتَ أَيْدِيكُمْ فَمَنْ جَعَلَ اللَّهُ أَخَاهُ تَحْتَ يَدِهِ فَلْيُطْعِمْهُ مِمَّا يَأْكُلُ وَلْيُلْبِسْهُ مِمَّا يَلْبَسُ وَلَا يُكَلِّفُهُ مِنْ الْعَمَلِ مَا يَغْلِبُهُ فَإِنْ كَلَّفَهُ مَا يَغْلِبُهُ فَلْيُعِنْهُ عَلَيْهِ

 

Dari al-Ma’rur, yakni Ibn Suwaid, dari Abu Dzarr; (al-Ma’rur ) berkata:

Aku melihat Abu Dzarr mengenakan burdah dan begitu juga pelayan (budak)nya mengenakan burdah, maka kukatakan kepadanya, “Seandainya kau ambil (burdah dari pelayanmu) itu lalu kaupakai sendiri, tentu itu akan jadi hullah (sepasang pakaian) yang kaukenakan sendiri. Kauberikan saja kepada pelayanmu itu pakaian yang lain untuk dikenakannya.” Maka Abu Dzarr pun berkata:

Dulu pernah terjadi pembicaraan antara diriku dengan seseorang yang ibunya adalah orang a’jam (non-Arab), lalu aku mencacinya seraya menjelek-jelekkan ibunya. Orang itu mengadukanku kepada Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun berkata kepadaku, “Apakah kau mencaci si Fulan?” Aku menjawab, “Iya.” Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata lagi, “Apakah kau menjelek-jelekkan ibunya?” Aku menjawab, “Iya.” Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Sungguh kau adalah lelaki yang pada dirimu masih terdapat sifat kejahiliyahan!” Aku bertanya kepada beliau, “Masihkah terdapat (sifat kejahiliyahan) pada diriku saat usiaku telah setua ini?” Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Ya. Mereka (pelayan-pelayanmu) adalah saudara-saudara kalian. Allah menjadikan mereka berada di bawah tangan-tangan (penguasaan) kalian. Maka barangsiapa yang Allah jadikan saudaranya berada di bawah penguasaannya, hendaklah ia memberinya makan dari makanan yang ia makan, juga memberinya pakaian dengan pakaian (seperti ) yang ia pakai. Dan jangan kalian membebani mereka dengan perkara yang tak mampu mereka tanggung. Jika ia membebani (pelayan)nya dengan beban yang berat, hendaklah ia membantunya!” (HRS. al-Bukhari)

 

Dengan melihat kedua hadits riwayat al-Bukhari yang sahih di atas, menjadi jelaslah bagi kita bahwa kisah yang dituturkan oleh para penceramah itu (yakni kisah pertama di atas) telah mengalami banyak ziyadah (tambahan-tambahan) dan bumbu-bumbu cerita yang MUNGKAR. Di antara kemungkaran-kemungkarannya adalah sebagai berikut:

 

  • Menyebutkan bahwa para shahabat berkumpul dan terlibat pembicaraan dalam suatu majelis …
  • Memasukkan nama Bilal ke dalam cerita dan penentangan Bilal terhadap pendapat Abu Dzarr …
  • Memasukkan nama para shabat lain ke dalam cerita, yaitu Khalid bin al-Walid dan (‘Abd ar-Rahman) bin ‘Auf …
  • Menyebutkan permasalahan yang tengah dibicarakan oleh para shahabat termasuk pendapat Abu Dzarr mengenai pasukan …
  • Menyebutkan bahwa Abu Dzarr mengejek Bilal dengan ucapan, “Wahai Ibn as-Sauda’ (wahai anak si perempuan hitam)!
  • Menyebutkan bahwa Abu Dzar menempelkan pipinya ke tanah di hadapan Bilal …
  • Membubuhkan bumbu cerita berupa ucapan Abu Dzarr, “Demi Allah, wahai Bilal! Aku tak akan mengangkat pipiku dari tanah sampai kau menginjak pipiku ini dengan kakimu! Kaulah orang yang mulia sedangkan aku orang yang hina!”
  • Membubuhkan bumbu cerita berupa ucapan Bilal, “Demi Allah, aku tak akan menginjak wajah yang telah bersujud kepada Allah dengan sujud yang hanya ditujukan kepada-Nya.”
  • Masih banyak lagi tambahan-tambahan mungkar lainnya seperti tangis Abu Dzarr dan Bilal, juga bahwa keduanya saling berpelukan di akhir cerita …

 

Betapa jauh perbedaan di antara KISAH ASAL YANG SAHIH itu dengan KISAH REKAAN YANG MUNGKAR tersebut. Jelas sekali bahwa kisah rekaan yang dituturkan oleh para penceramah itu telah mengalami banyak penambahan redaksi dan bumbu-bumbu cerita, dan semua itu merupakan kemungkaran …

 

Mungkin saja beberapa tambahan mungkar dalam kisah itu diambil dari beberapa riwayat DHA’IF (LEMAH) berikut ini:

 

(PERTAMA): Imam al-Baihaqi meriwayatkan di kitab Syu’ab al-Iman sebagai berikut:

 

أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عَبْدَانَ، أنا أَحْمَدُ بْنُ عُبَيْدٍ، ثنا أَبُو شُعَيْبٍ الْحَرَّانِيُّ، حَدَّثَنِي أَحْمَدُ بْنُ أَبِي شُعَيْبٍ، ثنا مُوسَى بْنُ أَعْيَنَ، عَنْ خَالِدِ بْنِ يَزِيدَ، ثنا أَبُو عَبْدِ الْمَلِكِ، عَنِ الْقَاسِمِ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، قَالَ: عَيَّرَ أَبُو ذَرٍّ بِلالا بِأُمِّهِ، فَقَالَ: يَا ابْنَ السَّوْدَاءِ، وَإِنَّ بِلالا أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَخْبَرَهُ فَغَضِبَ، فَجَاءَ أَبُو ذَرٍّ وَلَمْ يَشْعُرْ، فَأَعْرَضَ عَنْهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: مَا أَعْرَضَكَ عَنِّي إِلا شَيْءٌ بَلَغَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: أَنْتَ الَّذِي تُعَيِّرُ بِلالا بِأُمِّهِ؟ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَالَّذِي أَنْزَلَ الْكِتَابَ عَلَى مُحَمَّدٍ، أَوْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَحْلِفَ، مَا لأَحَدٍ عَلَيَّ فَضْلٌ إِلا بِعَمَلٍ، إِنْ أَنْتُمْ إِلا كَطَفِّ الصَّاعِ

 

Dari Abu Umamah, ia berkata:

Abu Dzarr mencela Bilal seraya menjelek-jelekkan ibunya, dan ia mengatakan, “Wahai Ibn as-Sauda’ (wahai anak si perempuan hitam)!” Dan sesungguhnya Bilal mendatangi Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dan mengabarkan (celaan Abu Dzarr) itu kepada beliau. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun marah karenanya. Abu Dzarr datang kepada Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menyadari bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– marah kepadanya. Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berpaling dari Abu Dzarr, lalu Abu Dzarr berkata, “Tidaklah engkau akan berpaling dariku kecuali karena suatu kabar yang sampai kepadamu, wahai Rasulullah.” Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Kaukah yang telah mencela Bilal dengan menjelek-jelekkan ibunya? Demi Allah yang menurunkan kitab kepada Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam (atau beliau bersumpah dengan sumpah yang dikehendaki Allah), tak ada keutamaan bagi seorang pun bagiku kecuali lantaran amalnya. Tidaklah kalian itu melainkan saling berdekatan satu sama lain (sebagai keturunan Adam -pent).” –SELESAI …

 

Riwayat al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman ini tidak bisa dijadikan pegangan karena sangat lemah. Pada sanadnya ada perawi Abu ‘Abd al-Malik ‘Ali bin Yazid bin Abi Hilal al-Hani yang dikatakan matruk oleh Imam an-Nasa-i dan Imam ad-Daraquthni, sementara Imam al-Bukhari mengatakannya sebagai munkar al-hadits. Dengan demikian, dari riwayat yang sangat lemah inilah nama Bilal disebutkan, dan jelaslah bagi kita bahwa penyebutan nama Bilal ini merupakan tambahan yang mungkar dan menyimpang dari kisah asalnya yang sahih …

 

(Kedua): riwayat yang disebutkan oleh Ibn Baththal dalam Syarh Shahih al-Bukhari (1/87; Maktabah ar-Rusyd, tahqiq: Yasir bin Ibrahim dan Ibrahim ash-Shabihi) sebagai berikut:

 

روى الوليد بن مسلم، عن أبي بكر، عن ضمرة بن حبيب، قال: كان بين أبى ذر وبين بلال محاورة، فعيره أبو ذر بسواد أمه، فانطلق بلال إلى رسول الله – صلى الله عليه وسلم -، فشكي إليه تعييره بذلك، فأمره رسول الله -صلى الله عليه وسلم- أن يدعوه، فلما جاءه أبو ذر، قال له رسول الله -صلى الله عليه وسلم: شتمت بلالاً وعيَّرته بسواد أمه؟ قال: نعم، قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم: تمت ما كنت أحسب أنه بقى في صدرك من كبر الجاهلية شيء، فألقى أبو ذر نفسه بالأرض، ثم وضع خده على التراب، وقال: والله لا أرفع خدي من التراب حتى يطأ بلال خدي بقدمه، فوطأ خده بقدمه

 

Al-Walid bin Muslim meriwayatkan dari Abu Bakr dari Dhamrah bin Habib, ia berkata:

Perdebatan terjadi antara Abu Dzarr dengan Bilal, lalu Abu Dzarr mencaci Bilal dengan menyebut-nyebut kulit ibunya yang hitam. Bilal pun menemui Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dan mengadukan ta’yir (perbuatan menjelek-jelekan dan mencela) yang dilakukan oleh Abu Dzarr terhadapnya. (Mendengar itu), Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menyuruh Bilal untuk memanggil Abu Dzarr. Tatkala Abu Dzarr datang, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata kepadanya, “Kau mencaci Bilal dan menghinanya dengan kehitaman kulit ibunya?” Abu Dzarr menjawab, “Iya.” Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Telah pasti dugaanku bahwa di dalam dadamu masih tersisa sesuatu dari kesombongan jahiliyah!” (Mendengar itu), Abu Dzarr lantas menjatuhkan dirinya ke bumi, lalu menempelkan pipinya ke tanah dan berkata, “Demi Allah, aku tak akan mengangkat pipiku ini dari tanah sampai Bilal menginjak pipiku ini dengan kakinya!” Maka Bilal pun menginjakkan kakinya ke pipi Abu Dzarr … -SELESAI …

 

Riwayat yang dibawakan oleh Ibn Baththal ini tidaklah bisa dijadikan pegangan karena haditsnya DHA’IF (LEMAH) dan memuat redaksi-redaksi mungkar yang tidak terdapat di dalam hadits yang sahih. Dhamrah bin Habib adalah seorang tabi’in yang tidak bertemu dengan para pelaku dalam kisah yang disebutkannya sehingga bisa dikatakan bahwa riwayatnya ini mursal. Selain itu, ada perawi al-Walid bin Muslim yang dikenal suka melakukan tadlis taswiyah, sementara dalam riwayat itu ia tidak menyebutkan penyimakan hadits secara jelas sehingga haditsnya dianggap lemah. Ada kelemahan lain bagi hadits tersebut, yaitu perawi Abu Bakr (bin ‘Abdillah) bin Abi Maryam yang dilemahkan oleh para ualama. Abu Zur’ah berkata tentang Abu Bakr bin ‘Abdillah bin Abi maryam ini:

 

ضعيف ، منكر الحديث

 

“Lemah, munkar al-hadits.”

 

Ibn Hajar berkata tentangnya di kitab at-Taqrib:

 

ضعيف وكان قد سرق بيته فاختلط

 

“Lemah. Dulu rumahnya pernah kecurian lalu hafalannya mengalami takhlith (campur aduk).”

 

Dengan demikian, jelaslah bahwa hadits yang disebutkan oleh Ibn Baththal ini merupakan hadits yang mungkar. Jelas pulalah bagi kita bahwa penuturan tentang Abu Dzarr yang menempelkan pipinya di tanah agar diinjak oleh Bilal itu merupakan ziyadah (tambahan-tambahan) yang mungkar dan menyimpang dari kisah asalnya yang sahih. Bahkan semua tambahan yang terdapat dalam kisah pertama di atas (yang dituturkan oleh para penceramah) jelas-jelas merupakan tambahan-tambahan yang mungkar dan menyimpang dari kisah asalnya yang sahih …

 

Di antara orang-orang yang menbawakan kisah mungkar sebagaimana kisah pertama di atas adalah Syaikh Doktor ‘A-idh al-Qarni -sebagaimana saya temukan di link berikut:

 http://islamport.com/w/amm/Web/1539/4610.htm

 

Adapun Syaikh Doktor Yusuf al-Qardhawi, beliau telah pula keliru menisbatkan kisah yang disebutkan di dalamnya nama Bilal kepada Imam al-Bukhari. Doktor Yusuf al-Qardhawi berkata di kitab al-Halal wa al-Haram -sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh al-Albani di kitab Ghayah al-Maram (halaman 188)- sebagai berikut:

 

روى البخاري: أن أبا ذر وبلالاً الحبشي تغاضبا وتسابا، وفي ثورة الغضب قال أبو ذر لبلال: يا ابن السوداء، فشكاه بلال إلى النبي صلى الله عليه وسلم! فقال النبيّ صلى الله عليه وسلم لأبي ذر: أعيرته بأمه، إنك امرؤ فيك جاهلية

 

Imam al-Bukhari meriwayatkan bahwa Abu Dzarr dan Bilal al-Habsyi bertengkar dan saling mencaci. Dalam kemarahannya, Abu Dzarr berkata kepada Bilal, “Wahai Ibn as-Sauda’ (wahai anak si perempuan hitam)!” maka Bilal pun mengadukan Abu Dzarr kepada Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata kepada Abu Dzarr, “Apakah kau mencela ibunya? Sungguh kau adalah lelaki yang pada dirimu masih terdapat sifat kejahiliyahan!” –SELESAI …

 

Penisbatan kisah tersebut oleh Doktor Yusuf al-Qardhawi kepada Imam al-Bukhari –juga dengan redaksi seperti itu- merupakan penisbatan yang keliru karena dalam riwayat al-Bukhari dalam Shahih-nya tidaklah disebutkan nama Bilal di dalamnya dan tidak pula ungkapan, “Wahai Ibn as-Sauda’ (wahai anak si perempuan hitam)!”

 

Adapun jika kita melihat zahir hadits pada riwayat yang sahih, maka sepertinya, orang yang dicela oleh Abu Dzarr –radhiyallahu ‘anhu– itu adalah pelayan (budak)nya sendiri dan bukannya Bilal –radhiyallahu ‘anhu. Hal itu bisa terlihat dari pertanyaan al-Ma’rur bin Suwaid kepada Abu Dzarr saat ia melihat bahwa Abu Dzarr memakaikan pakaian yang sama dengan pakaiannya kepada pelayannya itu. Saat itu al-Ma’rur bin Suwaid berkata kepada Abu Dzarr, “Seandainya kau ambil (burdah dari pelayan/budakmu) itu lalu kaupakai sendiri, tentu itu akan jadi hullah (sepasang pakaian) yang kaukenakan sendiri. Kauberikan saja kepada pelayanmu itu pakaian yang lain untuk dikenakannya.” Oleh karena itulah Imam al-Bukhari meletakkan juga hadits ini di kitab al-‘Itq (kitab memerdekakan budak), pada bab ucapan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Budak-budakmu adalah saudara-saudaramu maka berilah mereka makan dengan makanan yang kau makan.”

 

Wallahu a’lamu

 

Bandung, 14 Juli 2016

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Hampai Sayap dan kecemburuan Hudhud …

HUDHUD

Kau berkata tentang hampai sayap si pencari air,

tentang kepak perjalanan jauhnya dan kabar yang dibawanya …

Katamu, Hudhud punya alasan atas keterlambatannya …

-dia cemburu melihat penduduk semenanjung itu mengabahkan wajah kepada mentari …

 

*

**

 

Di antara perkara menakjubkan yang dikabarkan Allah dalam al-Quran adalah kenyataan tentang adanya makhluk yang tak dibebani taklif (beban syariat) tetapi memiliki kecemburuan yang sangat besar terhadap agama Allah –‘Azza wa Jalla. Makhluk yang dimaksud adalah burung hudhud di masa pemerintahan dan kenabian Sulaiman –‘alaihi as-salam. Hudhud begitu cemburu melihat penyimpangan tauhid kaum Saba’, dan ia pun mengutarakan kecemburuannya terhadap tauhid dan pengingkarannya terhadap perilaku kaum Saba’ itu  kepada Nabi Sulaiman –‘alaihi as-salam

 

Allah –ta’ala– berfirman (QS. an-Naml: 20-26):

 

وَتَفَقَّدَ الطَّيْرَ فَقَالَ مَا لِيَ لا أَرَى الْهُدْهُدَ أَمْ كَانَ مِنَ الْغَائِبِينَ (٢۰) لَأُعَذِّبَنَّه ُ عَذَاباً شَدِيداً أَوْ لَأَذْبَحَنَّهُ أَوْ لَيَأْتِيَنِّي بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ (٢١) فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطْتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَأٍ بِنَبَأٍ يَقِينٍ (٢٢) إِنِّي وَجَدْتُ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ (٢٣) وَجَدْتُهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُونَ لِلشَّمْسِ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لا يَهْتَدُونَ (٢٤) أَلَّا يَسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي يُخْرِجُ الْخَبْءَ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُخْفُونَ وَمَا تُعْلِنُونَ(٢٥( اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (٢٦)

 

Dan dia (Sulaiman) memeriksa burung-burung lalu berkata, “Mengapa aku tidak melihat Hudhud, apakah dia termasuk yang tidak hadir? Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang.” Maka tidak lama kemudian (datanglah Hudhud), lalu ia berkata, “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba’ suatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk agar mereka tidak menyembah Allah yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Allah, tiada yang berhak untuk disembah kecuali Dia, Rabb yang mempunyai ‘Arsy yang besar.”

 

Ayat-ayat tersebut menjelaskan beberapa faidah kepada kita:

  • Bahwa Hudhud mengetahui tentang tauhidullah (keesaan Allah), yaitu hanya Allah sajalah satu-satu-Nya yang berhak untuk diibadahi
  • Hudhud mengetahui bahwa menyembah sesuatu selain Allah adalah perbuatan syirik
  • Hudhud –yang tak dibebani taklif- lebih mengetahui tentang tauhid dan syirik dibandingkan sebagian manusia yang dibebani taklif
  • Hudhud memiliki kecemburuan dan gairah yang tinggi terhadap tauhidullah dan mengingkari perbuatan syirik
  • Hudhud memahami pengertian laa ilaaha illallaah, yaitu tiada yang berhak untuk diibadahi selain Allah

 

 

قال الشيخ عبد الرحمن بن حسن آل الشيخ -رحمه الله- في الدرر السنية (٢/٢٧٧): فحدث الهدهدُ سليمان -عليه السلام بما رآهم يفعلونه من السجود لغير الله؛ والسجود نوع من أنواع العبادة؛ فليت أكثر الناس عرفوا من الشرك ما عرف الهدهد؛ فأنكروه وعرفوا الإخلاص فالتزموه …

 

Syaikh ‘Abd ar-Rahman bin Hasan Alu asy-Syaikh –rahimahullah– di kitab ad-Durar as-Saniyyah (2/277), “Maka Hudhud pun berbicara kepada Sulaiman –‘alaihi as-salam- mengenai hal yang dilihatnya dari perbuatan-perbuatan kaum Saba’ yang bersujud kepada selain Allah, dan (Hudhud mengetahui bahwa) sujud itu merupakan salah satu bentuk dari bentuk-bentuk ibadah. Aduhai kalaulah kiranya kebanyakan manusia itu mengetahui kesyirikan seperti yang diketahui oleh Hudhud lalu mereka mengingkari perbuatan syirik itu. Aduhai, kalaulah kiranya mereka mengetahui akan keikhlasan lalu melazimi jalan tempuh tauhid (keikhlasan).”

 

Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dalam suatu hadits telah melarang manusia untuk membunuh burung Hudhud. Mungkin saja, wallahu a’lamu, di antara alasan dan hikmah dari pelarangan tersebut adalah karena burung Hudhud itu termasuk makhluk yang sangat mengenal tauhid. Imam Ibn Katsir berkata di kitab tafsirnya:

 

ولما كان الهدهد داعيا إلى الخير، وعبادة الله وحده والسجود له، نهي عن قتله

 

“Dan kenyataan bahwa burung Hudhud itu merupakan penyeru kepada kebaikan dan kepada peribadahan terhadap Allah satu-satu-Nya serta untuk bersujud hanya kepada Allah saja, maka dilaranglah manusia untuk membunuh burung Hudhud.”

 

Tauhid adalah inti dakwah para nabi dan rasul. Tidaklah Allah mengutus para nabi dan rasul serta menurunkan kitab-kitab-Nya selain untuk menegakkan tauhid di muka bumi, yakni agar manusia beribadah kepada Allah semata karena tiada yang berhak untuk diibadahi selain Allah …

 

 

Bandung, 26 Mei 2016

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–

Di Surga Menikahi Maryam binti ‘Imran, Asiyah Istri Fir’aun, dan Kultsum Saudari Musa …

Untitled

https://islamqa.info/ar/111279

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid –hafizhahullah– ditanya:

 

نسمع في بعض الأحاديث أن النبي صلى الله عليه وسلم سيتزوج في الحياة الآخرة السيدة مريم أم عيسى عليه السلام، وآسية زوجة فرعون، وكلثوم أخت النبي موسى عليه السلام .ما هو الثابت من هذا في الأحاديث، وما هو غير الثابت؟

 

Kami dengar dalam beberapa hadits bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– di kehidupan akhirat kelak akan memperistri Maryam ibunda ‘Isa –‘alaihi as-salam, Asiyah istri  Fir’aun, dan Kultsum saudari Nabi Musa ‘alaihi as-salam. Hadits manakah yang kukuh mengenai hal itu dan mana pula yang tak kukuh?

 

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid –hafizhahullah– menjawab:

 

الحمد لله

جاء في بعض الأحاديث المروية ما يدل على أن النبي محمدا صلى الله عليه وسلم سيتزوج في الجنة كلا من السيدة مريم البتول أم عيسى عليه السلام، وآسية بنت مزاحم زوجة فرعون، وكلثوم أخت موسى عليه السلام .

ونحن نورد هنا ما ورد من ذلك، مع مناقشتها من حيث القبول أو الرد :

 

Segala puji bagi Allah …

Terdapat beberapa periwayatan hadits yang menunjukkan bahwa di surga kelak, Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– akan memperistri sayyidah Maryam al-Batul ibunda ‘Isa –‘alaihi as-salam, Asiyah binti Muzahim istri Fir’aun, dan Kultsum saudari Musa –‘alaihi as-salam. Dan kami akan mengemukakan hadits-hadits mengenai hal itu beserta penjelasan terhadapnya dari sisi (apakah bisa) diterima atau ditolak …

 

الدليل الأول :

ما جاء في تفسير قوله تعالى: (عَسَى رَبُّهُ إِنْ طَلَّقَكُنَّ أَنْ يُبْدِلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِنْكُنَّ مُسْلِمَاتٍ مُؤْمِنَاتٍ قَانِتَاتٍ تَائِبَاتٍ عَابِدَاتٍ سَائِحَاتٍ ثَيِّبَاتٍ وَأَبْكَارًا (التحريم/٥

فقد روي عن بريدة رضي الله عنه في تفسير هذه الآية قوله :

(وعد الله نبيه صلى الله عليه وسلم في هذه الآية أن يزوجه، فالثيب: آسية امرأة فرعون، وبالأبكار: مريم بنت عمران)

رواه الطبراني في “المعجم الكبير” – نقلا عن تفسير ابن كثير (٨/١٦٦) وإلا فلم أقف عليه في المطبوع بين أيدينا من المعجم الكبير – قال: حدثنا أبو بكر بن صدقة، حدثنا محمد بن محمد بن مرزوق، حدثنا عبد الله بن أمية، حدثنا عبد القدوس، عن صالح بن حَيَّان، عن ابن بُرَيدة، عن أبيه به .

وهذا إسناد ضعيف .

صالح بن حيان: جاء في ترجمته في “تهذيب التهذيب” (٤/٣٨٦) قول ابن معين فيه: ليس بذاك، وقال أبو حاتم: ليس بالقوي، شيخ، وقال النسائي: ليس بثقة. وقال ابن حبان: يروى عن الثقات أشياء لا تشبه حديث الأثبات، لا يعجبنى الاحتجاج به إذا انفرد .

كما جاء عن أبي هريرة رضي الله عنه أنه قال :

(دخل رسول الله صلى الله عليه وسلم بمارية القبطية سريته ببيت حفصة بنت عمر، فوجدتها معه…- فذكر حديثا طويلا، جاء في آخره – :

فوعده من الثيبات آسية بنت مزاحم امرأة فرعون وأخت نوح، ومن الأبكار مريم بنت عمران، وأخت موسى عليهم السلام)

رواه الطبراني في “المعجم الأوسط” (٣/١٣) قال :

حدثنا إبراهيم، قال حدثنا هشام بن إبراهيم أبو الوليد المخزومي إمام مسجد صنعاء، قال أخبرنا موسى بن جعفر بن أبي كثير مولى الأنصار، عن عمه، عن أبي بكر بن عبد الرحمن بن الحارث، عن أبي سلمة بن عبد الرحمن، عن أبي هريرة به.

ثم قال: “لا يروى هذا الحديث عن أبي هريرة إلا بهذا الإسناد، تفرد به هشام بن إبراهيم” انتهى.

وهذا إسناد منكر .موسى بن جعفر جاء في ترجمته في “لسان الميزان” (٦/١١٣) قول الذهبي: “لا يعرف وخبره ساقط” انتهى. ثم قال الحافظ ابن حجر: “ولفظ العقيلي لما ذكره: مجهول بالنقل، لا يتابع على حديثه، ولا يصح. وأظن أن الذهبي حكم عليه بالبطلان لِما في آخره من الخطأ، وأما قصة مارية فلها طرق كثيرة تشعر بأن لها أصلا” انتهى. وضعفه السيوطي في “الدر المنثور” (٨/٢١٦)

 

Dalil Pertama:

Terdapat riwayat yang dikemukakan berkaitan dengan tafsir firman Allah –ta’ala– (QS. At-Tahrim: 5), Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Rabb-nya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri yang lebih baik daripadamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.”

Telah diriwayatkan dari Buraidah –radhiyallahu ‘anhu– mengenai tafsir ayat tersebut, yaitu ucapan Buraidah, “Allah menjanjikan kepada nabi-Nya –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bahwa Allah akan menikahkannya. Maka perempuan janda yang akan dinikahinya adalah Asiyah istri Fir’aun, sedangkan perempuan perawan yang akan dinikahinya adalah Maryam binti ‘Imran.” Ini diriwayatkan oleh ath-Thabarani di kitab al-Mu’jam al-Kabir –menurut keterangan yang kami nukil dari Tafsir Ibn Katsir (8/166), sedangkan kami sendiri tidak menemukan riwayat tersebut di dalam kitab al-Mu’jam al-Kabir yang tercetak yang ada di tangan kami. Dalam nukilan dari Tafsir Ibn Katsir itu, Imam ath-Thabarani berkata: telah bercerita kepada kami Abu Bakr bin Shadaqah, telah bercerita kepada kami Muhammad bin Muhammad bin Marzuq, telah bercerita kepada kami ‘Abdullah bin Umayyah, telah bercerita kepada kami ‘Abd al-Qudus, dari Shalih bin Hayyan, dari Ibn Buraidah, dari ayahnya (Buraidah) dengan ucapan tersebut di atas. Dan isnad riwayat ini dha’if (lemah). Perawi Shalih bin Hayyan disebutkan biografinya di kitab Tahdzib at-Tahdzib (4/386), dan di situ disebutkan ucapan penilaian Ibn Ma’in tentangnya, “Tidak seperti itu (tidak kuat),” dan Abu Hatim menilai, “Bukan perawi yang kuat, ia seorang Syaikh,” Imam an-Nasa-i mengatakan, “Ia tidak tepercaya,” sedangkan Ibn Hibban mengatakan, “Ia meriwayatkan dari orang-orang tepercaya riwayat-riwayat yang tak menyerupai hadits orang-orang yang tepercaya. Aku tak suka berhujjah dengannya jika ia menyendiri dalam periwayatan.”

Sebagaimana pula riwayat yang datang dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– masuk bersama Mariyah al-Qibthiyah, seorang surriyyah beliau, ke rumah Hafshah binti ‘Umar, lalu ketika Hafshah (masuk rumah), ia dapati Mariyyah sedang bersama Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– … –kemudian dikisahkanlah hadits yang panjang, adapun akhir haditsnya adalah, “Maka Allah menjanjikan kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- perempuan yang akan dinikahinya (di surga) dari kalangan janda, yaitu Asiyah binti Muzahim istri Fir’aun dan saudara perempuan Nuh, sedangkan dari kalangan perawan adalah Maryam binti ‘Imran dan saudara perempuan Musa –‘alaihi as-salam.”

Hadits Abu Hurairah tersebut diriwayatkan oleh ath-Thabarani di kitab al-Mu’jam al-Ausath (3/13). Imam ath-Thabarani berkata: telah bercerita kepada kami Ibrahim, ia berkata: telah bercerita kepada kami Hisyam bin Ibrahim Abu al-Walid al-Makhzumi, Imam masjid ash-Shan’a, ia berkata: telah berkabar kepadaku Musa bin Ja’far bin Abi Katsir Maula al-Anshar, dari pamannya, dari Abu Bakr bin ‘Abd ar-Rahman bin al-Harits, dari Abu Salmah bin ‘Abd ar-Rahman, dari Abu Hurairah dengan hadits tersebut. Kemudian Imam ath-Thabarani berkata, “Hadits ini tak diriwayatkan dari Abu Hurairah kecuali dengan sanad ini. Hisyam bin Ibrahim menyendiri dengan riwayat tersebut.”

Dan sanad hadits tersebut mungkar. Musa bin Ja’far, terdapat ucapat Imam adz-Dzahabi mengenai Musa bin Ja’far ini dalam biografinya di kitab Lisan al-Mizan (6/113), “Ia tak dikenal dan haditsnya jatuh tak berharga.”

Kemudian Ibn Hajar berkata, “Dan ungkapan al-‘Uqaili saat menyebutkan Musa bin Ja’far, ‘Tidak dikenal dalam penukilan riwayat, haditsnya tidak memiliki penyerta  dan tidak sahih,’ dan aku menduga bahwa Imam adz-Dzahabi menghukuminya batil lantaran adanya kekeliruan-kekeliruan pada akhir riwayat. Adapun kisah Mariyah sendiri terdapat banyak jalur periwayatan mengenainya sehingga bisa diketahui memiliki asal.”

Imam as-Suyuthi melemahkan hadits tersebut di kitab ad-Durr al-Mantsur (8/216) …

 

الدليل الثاني :

عن ابن عمر رضي الله عنهما قال :

(جاء جبريل إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم بموت خديجة فقال: إن الله يقرئها السلام، ويبشرها ببيت في الجنة من قَصَب، بعيد من اللهب، لا نَصَب فيه ولا صَخَب، من لؤلؤة جوفاء، بين بيت مريم بنت عمران، وبيت آسية بنت مزاحم)

رواه ابن عساكر في “تاريخ دمشق” (٧۰/١١٧) قال: أخبرنا أبو المظفر بن القشيري، وأبو القاسم زاهر بن طاهر، قالا أنا محمد بن عبد الرحمن، أنا أبو سعيد محمد بن بشر بن العباس التميمي، أنا أبو الوليد محمد بن إدريس الشامي السرخسي، نا سويد بن سعيد، نا محمد بن صالح بن عمر، عن الضحاك ومجاهد، عن ابن عمر به .

وهذا إسناد منكر أيضا، فيه عدة علل :

١- محمد بن صالح بن عمر، قال الذهبي في “ميزان الاعتدال” (٣/٥٨١): مجهول.

٢- سويد بن سعيد الحدثاني: ترجمته في “تهذيب التهذيب” (٤/٢٧٥) وفيها تضعيف كثير من أهل العلم له، وأنه كان يقبل التلقين.

٣- أبو سعيد محمد بن بشر بن العباس (٣٧٨هـ): ترجم له الذهبي في “تاريخ الإسلام” (٦٣٣/٢٦) وقال: شيخ صالح مسند.

 

Dalil Kedua:

Dari Ibn ‘Umar –radhiyallahu ‘anhuma– dia berkata:

Jibril datang menemui Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menjelang kematian Khadijah, lalu berkata, “Sesungguhnya Allah menyampaikan salam kepada Khadijah dan memberikan kabar gembira untuknya dengan sebuah rumah di surga dari mutiara, jauh dari gejolak api dan tiada di dalamnya kepayahan dan jerit kengerian. Rumah mutiara berongga yang terletak di antara rumah Maryam binti ‘Imran dan rumah Asiyah binti Muzahim.”

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibn ‘Asakir di kitab Tarikh Dimasyq (70/117). Ibn ‘Asakir berkata: Telah berkabar kepada kami Abu al-Muzhaffar bin al-Qusyairi dan Abu al-Qasim bin Zhahir, keduanya berkata: telah berkabar kepada kami Muhammad bin ‘Abd ar-Rahman, telah berkabar kepada kami Abu Sa’id Muhammad bin Bisyr bin al-‘Abbas at-Tamimi, telah berkabar kepada kami Abu al-Walid Muhammad bin Idris asy-Syami as-Sarkhasi, telah bercerita kepada kami Suwaid bin Sa’id, telah bercerita kepada kami Muhammad bin Shalih bin ‘Umar, dari adh-Dhahhak dan Mujahid, dari Ibn ‘Umar dengan hadits tersebut.

Sanad hadits ini pun mungkar juga, di dalamnya terdapat beberapa penyakit, yaitu:

  1. Muhammad bin Shalih bin ‘Umar, Imam adz-Dzahabi berkata di kitab Mizan al-I’tidal (3/581), “Majhul (tak dikenal).”
  2. Suwaid bin Sa’id al-H Biografinya terdapat di kitab Tahdzib at-Tahdzib (4/275), di situ disebutkan tadh’if (pelemahan) banyak ulama terhadapnya. Dulunya ia biasa menerima talqin (menyimak diktean hadits dari seseorang yang sebetulnya bukanlah haditsnya seraya menganggap bahwa itu adalah riwayatnya lantaran kelemahan dalam hafalannya).”
  3. Abu Sa’id Muhammad bin Bisyr bin al-‘Abbas (378 H). Imam adz-Dzahabi menyebutkan biografinya di kitab Tarikh al-Islam (633/26) seraya mengatakan, “Syaikh, shalih, musnid.”

 

الدليل الثالث :

عن ابن عباس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم دخل على خديجة وهي في الموت فقال:
(يا خديجة! إذا لقيت ضرائرك فأقرئيهن مني السلام. فقالت: يا رسول الله، وهل تزوجت قبلي؟ قال: لا، ولكن الله زوجني مريم بنت عمران، وآسية امرأة فرعون، وكلثم أخت موسى)

رواه ابن عساكر في “تاريخ دمشق” (٧۰/١١٨) قال: أخبرنا أبو غالب محمد بن عمرو بن محمد الشيرازي بأصبهان، أنا أبو عبد الله محمد بن محمد بن عبد الرحمن بن عبد الوهاب المقرئ، نا القاضي أبو بكر أحمد بن عبد الرحمن بن أحمد البردي إملاء، أنا أبو بكر هلال بن محمد بن محمد بالبصرة، نا محمد ابن زكريا الغلابي، نا العباس بن بكار، نا أبو بكر الهذلي، عن عكرمة، عن ابن عباس به .

وهذا إسناد منكر أيضا .

أبو بكر الهذلي: ترجمته في “تهذيب التهذيب” (١٢/٤٦) وفيها اتفاق المحدثين على تضعيفه جدا، وأنه أخباري متروك الحديث .

وقال ابن كثير في “تفسير القرآن العظيم” (٨/١٦٦): ضعيف أيضا .

 

Dalil Ketiga:

Dari Ibn ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma– bahwasanya Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– masuk menemui Khadijah yang sedang menghadapi kematian seraya berkata, “Wahai Khadijah, jika nanti kau bertemu dengan para madumu, maka sampaikanlah salamku kepada mereka.” Khadijah berkata, “Wahai Rasulullah, apakah kau pernah menikah sebelum menikah denganku?” Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Tidak. Akan tetapi Allah telah menikahkanku dengan Maryam binti ‘Imran, Asiyah istri Fir’aun, dan Kultsum saudari Musa.”

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibn ‘Asakir di kitab Tarikh Dimasyq (70/118), ia berkata: telah berkabar kepada kami Abu Ghalib Muhammad bin ‘Amr bin Muhammad asy-Syirazi di kota Ashbahan, telah berkabar kepada kami Abu ‘Abdillah Muhammad bin Muhammad bin ‘Abd ar-Rahman bin ‘Abd al-Wahhab al-Muqri’, telah berkabar kepada kami al-Qadhi Abu Bakr Ahmad bin ‘Abd ar-Rahman bin Ahmad al-Bardi secara imla, telah berkabar kepada kami Abu Bakr Hilal bin Muhammad bin Muhammad di kota Bashrah, telah berkabar kepada kami Muhammad Ibn Zakariya al-Ghalabi, telah berkabar kepada kami al-‘Abbas bin Bakkar, telah berkabar kepada kami Abu Bakr al-Hudzali, dari ‘Ikrimah, dari Ibn ‘Abbas dengan hadits tersebut.

Sanad hadits ini pun mungkar juga. Abu Bakr al-Hudzali, biografinya terdapat di dalam Tahdzib at-Tahdzib (12/46), dan di kitab itu disebutkan bahwa para ahli hadits sepakat bahwa ia dha’if jiddan (sangat lemah), dan dia mengumpulkan kabar-kabar matruk al-hadits.

Ibn Katsir berkata di kitab Tafsir al-Quran al-‘Azhim (8/166), “Dha’if juga.”

 

الدليل الرابع :

عن أبي أمامة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :

(أُعْلِمتُ أن الله زوجني في الجنة مريم بنت عمران، وكلثم أخت موسى، وآسية امرأة فرعون. فقلت: هنيئًا لك يا رسول الله)

رواه أبو يعلى – ومن طريقه ابن عساكر في “تاريخ دمشق” (٧۰/١١٨) – والطبراني في “المعجم الكبير” (٨/٢٥٨)، والعقيلي في “الضعفاء الكبير” (٤/٤٥٩)، وأبو الشيخ في “طبقات المحدثين بأصبهان” (٤/١١٣) وأبو نعيم في “أخبار أصبهان” (رقم/١٤٦۰)، وابن عدي في “الكامل” (٧/١٨۰) جميعهم من طريق :

عبد النور بن عبد الله، حدثنا يونس بن شعيب، عن أبي أمامة به .

وهذا إسناد موضوع .

عبد النور كذاب، قال العقيلي: ” كان غالياً في الرفض، ويضع الحديث خبيثاً” وقال الذهبي: ” كذاب” انتهى. ويونس بن شعيب: قال فيه البخاري: “منكر الحديث”، وقال العقيلي: “حديثه غير محفوظ”، وقال ابن حبان في “المجروحين” (٣/١٣٩): “لست أعرف له من أبي أمامة سماعا، على مناكير ما يرويه في قلتها، كأنه كان المتعمد لذلك، لا يجوز الاحتجاج به بحال”. وانظر “لسان الميزان” (٦/٣٣٢)

قال الشيخ الألباني في “السلسلة الضعيفة” (٧۰٥٣): “وهذا إسناد موضوع “انتهى.

 

Dalil Keempat:

Dari Abu Umamah –radhiyallahu ‘anhu– ia berkata:

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Aku diberi tahu bahwa Allah menikahkanku di surga dengan Maryam binti ‘Imran, Kultsum saudari Musa, dan Asiyah istri Fir’aun.” Aku berkata, “Selamat untukmu, wahai Rasulullah.”

Diriwayatkan oleh Abu Ya’la –dan dari jalan Ibn ‘Asakir di kitab Tarikh Dimasyq (70/118)- dan ath-Thabarani di kitab al-Mu’jam al-Kabir (8/258), dan al-‘Uqaili di kitab adh-Dhu’afa’ al-Kabir (4/459), dan Abu asy-Syaikh di kitab Thabaqat al-Muhadditsin bi Ashbahan (4/113), dan Abu Nu’aim di kitab Akhbar Ashbahan (nomor 1460), dan Ibn ‘Adi di kitab al-Kamil (7/180), yang semuanya dari jalan ‘Abd an-Nur bin ‘Abdillah, telah bercerita kepada kami Yunus bin Syu’aib, dari Umamah dengan hadits tersebut.

Dan sanad hadits tersebut palsu. ‘Abd an-Nur seorang pendusta. Imam al-‘Uqaili berkata, “Rafidhah ekstrim dan memalsukan hadits-hadits secara keji.” Imam adz-Dzahabi berkata, “Dia pendusta.” Adapun perawi Yunus bin Syu’aib, dikatakan oleh Imam al-Bukhari, “Munkar al-Hadits.” Imam al-‘Uqaili berkata, “Haditsnya tidak terpelihara.” Ibn Hibban berkata di kitab al-Majruhin (3/139), “Aku tak mengetahui bahwa ia memiliki penyimakan dari Abu Umamah. Berdasarkan kemungkaran-kemungkaran periwayatannya dan kejelekannya, seakan-akan ia sengaja berbuat demikian. Tidak boleh berhujjah dengannya berdasarkan keadaannya.” Lihat kitab Lisan al-Mizan (6/332).

Syaikh al-Albani berkata di kitab Silsilah adh-Dha’ifah (7053), “Dan sanad hadits ini palsu.”

 

الدليل الخامس :

عن عائشة رضي الله عنها قالت :

(دخل علي رسول الله مسرورا، فقال: يا عائشة! إن الله عز وجل زوجني مريم بنت عمران، وآسية بنت مزاحم في الجنة .

قالت: قلت: بالرفاء والبنين يا رسول الله)

رواه ابن السني في “عمل اليوم والليلة” (٢/٦٨٣-٦٨٤/٦۰٤-عجالة الراغب المتمني) والديلمي في “مسند الفردوس” (٨٦٢۰)، قال ابن السني:

أخبرنا أحمد بن إبراهيم المديني بعمان، حدثنا أبو سعيد الأشج، ثنا حفص بن غياث، عن الأعمش، عن أبي إسحاق، عن عبد خير، عن مسروق، عن عائشة رضي الله عنها به. قال أبو بكر بن السني: كذا كتبته من كتابه .

وهذا إسناد ضعيف؛ فيه تدليس أبي إسحاق السبيعي، وهو من أهل المرتبة الثالثة من المدلسين في تصنيف الحافظ ابن حجر، فلا يقبل حديثه إلا إذا صرح بالتحديث، كما لم نقف على ترجمة لشيخ ابن السني: أحمد بن إبراهيم المديني .

 

Dalil Kelima:

Dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha– ia berkata:

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– masuk menemuiku dengan perasaan senang seraya berkata, “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah –‘Azza wa Jalla- menikahkanku dengan Maryam binti ‘Imran dan Asiyah binti Muzahim di surga.” Aku berkata, “Semoga kalian rukun dan dikaruniai anak-anak, wahai Rasulullah.”

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibn as-Sunni di kitab ‘Amal al-yaum wa al-Lailah (2/683-684/604; lewat kitab ‘Ujalah ar-Raghib al-Mutamanni) dan ad-Dailami di kitab Musnad al-Firdaus (8620). Imam Ibn as-Sunni berkata: Telah berkabar kepada kami Ahmad bin Ibrahim al-Madani di kota ‘Amman, telah bercerita kepada kami Abu Sa’idal-Asyajj, telah bercerita kepada kami Hafsh bin Ghiyats, dari al-A’masy, dari Abu ishaq, dari ‘Abd Khair, dari Masruq, dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha– dengan hadits tersebut. Abu Bakr bin as-Sunni berkata, “Demikian aku menulis hadits ini dari kitabnya.”

Isnad hadits ini dha’if (lemah); di dalam sanadnya terdapat tadlis Abu Ishaq as-Sabi’i, sementara ia adalah perawi dari martabat mudallisin dalam kitab Ibn Hajar. Dengan demikian, haditsnya tidak bisa diterima kecuali apabila secara jelas ia menyatakan tahdits periwayatan. Kami juga tidak menemukan biografi guru Ibn as-Sunni yang bernama Ahmad bin Ibrahim al-Madani …

 

الدليل السادس:

عن سعد بن جنادة قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم:

(إن الله عز وجل قد زوجني في الجنة مريم بنت عمران، وامرأة فرعون، وأخت موسى)

رواه الطبراني في “المعجم الكبير” (٦/٥٢) – ومن طريقه ابن عساكر في “تاريخ دمشق” (٧۰/١١٨) – قال الطبراني:

حدثنا عبدالله بن ناجية، ثنا محمد بن سعد العوفي، ثنا أبي، ثنا عمي، ثنا يونس بن نفيع، عن سعد بن جنادة به .
وهذا إسناد ضعيف جدا.

قال الهيثمي في “مجمع الزوائد” (٩/٢١٨): “رواه الطبراني، وفيه من لم أعرفهم ” انتهى.

وقال الشيخ الألباني في “السلسلة الضعيفة” (٧۰٥٣): “فيه من يعرف بالضعف … محمد بن سعد – هو: ابن محمد بن الحسن بن عطية -: قاضي بغداد، وفيه لين، وأبوه سعد مثل يونس بن نفيع؛ لم أجد لهما ترجمة. وعمه هو: الحسين بن الحسن بن عطية؛ قال الذهبي في “المغني”: “ضعفوه”. انتهى.

 

Dalil Keenam:

Dari Sa’d bin Junadah ia berkata:

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Sesungguhnya Allah –‘Azza wa Jalla- menikahkanku di surga dengan Maryam binti ‘Imran, istri Fir’aun, dan saudari Musa.”

Hadits tersebut diriwayatkan oleh ath-Thabarani di kitab al-Mu’jam al-Kabir (6/52) –dari dari jalan Ibn ‘Asakir di kitab Tarikh Dimasyq (70/118), berkata Imam ath-Thabarani: telah bercerita kepada kami ‘Abdullah bin Najiyah, telah bercerita kepada kami Muhammad bin Sa’d al-Aufi, telah bercerita kepada kami ayahku, telah bercerita kepada kami pamanku, telah bercerita kepada kami Yunus bin Nafi’, dari Sa’d bin Junadah dengan hadits tersebut.

Dan sanad hadits ini dha’if jiddan (sangat lemah). Imam al-Haitsami berkata di kitab Majma’ az-Zawa-id (9/218), “Diriwayatkan oleh ath-Thabarani, dan di dalam sanadnya ada perawi-perawi yang tak kukenal.”

Syaikh al-Albani berkata di kitab Silsilah adh-Dha’ifah (7053), “Di dalam sanadnya ada perawi yang dikenal dha’if (lemah) … Muhammad bin Sa’d adalah putra dari Muhammad bin Hasan bin ‘Athiyah, hakim di kota Bagdad, dan ia memiliki kelemahan, sedangkan ayahnya, Sa’d serupa dengan Yunus bin Nafi’, keduanya tak kutemukan biografinya. Adapun pamannya, ia adalah al-Husain bin al-Hasan bin ‘Athiyah yang dikatakan oleh Imam adz-Dzahabi di kitab al-Mughni dilemahkan oleh para ulama.”

 

الدليل السابع:

عن ابن أبي رواد ، قال:

(دخل رسول الله صلى الله عليه وسلم على خديجة وهي في مرضها الذي توفيت فيه، فقال لها: بالكره مني ما أرى منك يا خديجة، وقد يجعل الله في الكره خيرا كثيرا، أما علمت أن الله قد زوجني معك في الجنة مريم بنت عمران، وكلثم أخت موسى، وآسية امرأة فرعون؟ قالت: وقد فعل الله بك ذلك يا رسول الله؟ قال: نعم. قالت: بالرفاء والبنين)

رواه الطبراني (٢٢/٤٥١)، ومن طريقه ابن عساكر في “تاريخ دمشق” (٧۰/١١٩) وأبو نعيم الأصبهاني في “معجم الصحابة” (رقم/٦٧٣٨)، ورواه ابن الجوزي في “المنتظم في التاريخ” (١/٢٦٧/ ترجمة خديجة) من طريق ثنا الزبير بن بكار، حدثني محمد بن حسن، عن يعلى بن المغيرة، عن بن أبي رواد به .

وهذا سند منقطع معضل.

فإن ابن أبي رواد هو عبد العزيز بن عبد المجيد بن أبي رواد من كبار أتباع التابعين، توفي سنة (١٥٩هـ) وقال الهيثمي في “مجمع الزوائد” (٩/٢١٨): “منقطع الإسناد، وفيه محمد بن الحسن بن زبالة وهو ضعيف “انتهى.

 

Dalil Ketujuh:

Dari Ibn Abi Rawwad, ia berkata:

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– masuk menemui Khadijah. Saat itu Khadijah sedang sakit yang mengantarkan kepada kematiannya. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata kepadanya, “Betapa berat dan sulitnya bagiku melihat kondisimu, wahai Khadijah. Akan tetapi, Allah menjadikan dari hal yang tak kita senangi itu kebaikan yang banyak. Tidakkah kau tahu bahwa Allah telah menikahkan aku denganmu di surga dan memadukanmu dengan Maryam binti ‘Imran, Kultsum saudari Musa, dan Asiyah istri Fir’aun?” Khadijah berkata, “Benarkah Allah telah berbuat begitu, wahai Rasulullah?” Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata, “Iya, benar.” Khadijah berkata, “Semoga Allah menganugerahi kerukunan dan anak keturunan.”

Hadits tersebut diriwayatkan oleh ath-Thabarani (22/451), dan dari jalan Ibn ‘Asakir di kitab Tarikh Dimasyq (70/119) dan Abu Nu’aim al-Ashbahani di kitab Mu’jam ash-Shahabah (nomor 6738). Dan diriwayatkan pula oleh Ibn al-jauzi di kitab al-Muntazham fi at-Tarikh (1/267/ bagian biografi Khadijah) dari jalan: telah bercerita kepada kami az-Zubair bin Bakkar, telah bercerita kepadaku Muhammad Hasan, dari Ya’la bin al-Mughirah, dari Ibn Abi Rawwad dengan hadits tersebut.

Sanad hadits tersebut munqathi’ mu’dhal (terputus bahkan dengan keterputusan berturut-turut) karena Ibn Abi Rawwad adalah ‘Abd al-‘Aziz bin ‘Abd al-majid bin Abi Rawwad, dari kalangan tabi’ut tabi’in besar yang wafat tahun 159 Hijriyah. Imam al-Haitsami berkata di kitab Majma’ az-Zawa-id (9/218), “Sanadnya terputus, dan di dalam sanadnya ada Muhammad bin al-Hasan bin Zubalah yang dha’if (lemah).”

 

والخلاصة أن الأحاديث الواردة في هذا الباب كلها ضعيفة منكرة، لا يصح منها شيء، ولا تجوز نسبتها إلى النبي صلى الله عليه وسلم، كما لا يجوز الخوض بما جاء فيها، فذلك من الغيب الذي لم يطلعنا الله عليه، ويجب أن نكل أمره إلى الله عز وجل.

يقول ابن كثير في “البداية والنهاية” (٢/٧٥) بعد أن ساق مجموعة من أحاديث الباب :

“وكل من هذه الأحاديث في أسانيدها نظر “انتهى.

والله أعلم .

 

Sebagai kesimpulan, bahwa hadits-hadits yang ada mengenai masalah ini semuanya lemah dan mungkar, tidak ada satu pun yang sahih. Tidak boleh menyandarkannya kepada Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sebagaimana tidak pula boleh menyelam lebih dalam dalam berbicara mengenai hal tersebut. Perkara tersebut merupakan permasalahan gaib yang tak diberitahukan oleh Allah kepada kita sehingga wajib bagi kita untuk menyerahkan perkara tersebut kepada Allah –‘Azza wa Jalla.

Imam Ibn Katsir berkata di kitab al-Bidayah wa an-Nihayah (2/75) setelah menyebutkan keseluruhan hadits dalam masalah ini, “Dan semua hadits dalam masalah ini, pada sanadnya ada pandangan.”

Wallahu a’lam

 

 

Bandung, 11 Mei 2016

–HENDRA WIBAWA IBN TATO WANGSA WIDJAJA–